Orang-orang berkata aku adalah orang yang tegar…

Tidak pernah setitik air matapun kutunjukkan didepan orang lain…

Bahkan ketika ibu meninggal,

Mungkin hanya aku yang tidak menangis…

Orang bilang aku tidak memiliki hati,

Tetapi satu hal yang tidak mereka ketahui, bahkan mungkin aku sendiri tidak mengetahuinya adalah…

Mungkin hatiku sudah menangis…

Tetapi, walau bagaimanapun aku tidak ingin menangis…

Aku hanya menganggap air mata itu tidak ada gunanya,

Tangisan tidak akan mengubah apapun juga…

Dan pada saat aku sadar,

Aku mengerti…

Aku tidak akan bisa berada disini lebih lama lagi…

.

Title : Tears in Heaven (Remake Version of He's My Son)

Rated : T

Genre : Angst/Family

Main Character : Naruto Uzumaki, Minato Namikaze, Sasuke Uchiha

Disclaimed :

Tears in Heaven © Me

Naruto © Masashi Kishimoto

Tears in Heaven (Song) © Eric Clapton

Warning : Gaje, OOC, AU Story

.

Chapter 3, I'm Not Belong

.

Kampus Konoha tampak sangat ramai dengan lalu lalang mahasiswa yang sedang mengerjakan aktifitas mereka masing-masing. Beberapa dari mereka tampak sedang berbicang-bincang dilorong kampus, beberapa dari mereka juga tampak sedang membaca buku dan bermain di halaman kampus. Tampak dosen muda—bahkan termuda di kampus itu sedang berjalan sambil memegang sebuah catatan dan juga pulpen.

Naruto tampak dengan seriusnya mencatat sesuatu sambil menggumamkan sesuatu. Beberapa mahasiswi tampak tersipu malu melihat wajah sang dosen—yang hanya dalam waktu 3 hari mengajarnya sudah menjadi idola para mahasiswi itu yang biasanya ceria dan rebut menjadi sangat serius ditambah dengan kacamata yang menghiasi wajahnya.

"Selamat siang sensei…"

"Ya," walau seserius apapun Naruto mengerjakan sesuatu, ia tampak tetap menyapa semua mahasiswi yang menyapanya dengan senyuman yang menurut para muridnya mampu melelehkan mereka, "selamat siang semuanya…"

Sementara Naruto yang tidak menghilangkan senyumannya ketika bertemu dengan para mahasiswi berjalan ditepi lapangan, disana tampak Sasuke dan juga yang lainnya sedang bermain basket disana. Sasuke menatap kearah Naruto, dan merasakan perasaan aneh yang berkecamuk didalam dirinya.

'Kenapa aku selalu merasa seperti ini ketika melihat Dobe tersenyum kearah yang lain…'

"Oi Sasuke, pass bolanya!" Kiba tampak menunggu Sasuke yang membawa bola untuk melemparkannya ketempatnya. Tetapi yang bersangkutan malah tidak mendengar dan terus melihat kearah sang dosen. Dan ketika sekali lagi Naruto membalas sapaan para mahasiswi ditambah dengan senyumannya itu, Sasuke bukannya melempar kearah Kiba malah dengan kesal melempar bola itu kearah Naruto.

"Oi dobe, hati-hati!"

"Eh?" Naruto yang tentu saja tidak ada persiapan dan menoleh kearah suara teriakan Sasuke bahkan tidak sempat terkejut ketika bola itu menghantam wajahnya.

BUGH!

Semua yang melihat hanya bisa terdiam dan beberapa diantara mereka menghampiri Naruto yang langsung ambruk ditempat, begitu juga dengan Sasuke—yang tumben-tumbenan khawatir dengan keadaan seseorang.

"Naruto-sensei, kau tidak apa-apa?"

"Sensei?"

Tidak ada jawaban dari yang bersangkutan membuat semuanya tampak cemas dan panik—terutama sang pelaku yang tidak lain adalah Uchiha Sasuke.

"Oi dobe, kau tidak apa-apa?"

"Kalian…" Naruto perlahan berdiri dan memegangi wajahnya yang sepertinya merah karena bola itu, "beraninya kalian melempar bola kearah dosen kalian!" tanpa aba-aba dari sang korban, Naruto langsung berdiri dan melempar bola basket itu kearah Sasuke yang menjadi pelaku utama. Awalnya semua mengira Naruto akan marah dan memberikan hukuman pada mereka. Tetapi ternyata mereka malah berakhir bermain bersama-sama dengan sang dosen. Tampak notes yang ada diatas lantai karena terjatuh ketika Naruto terkena bola itu terbuka disatu halaman. Sebuah kalimat dari sebuah lagu yang masih tertulis dalam satu kalimat.

"I'm not belong"

"Baiklah, ini adalah hukumanmu karena melempar bola kearahku dan juga membuatku kehilangan notes yang berisi catatan-catatanku…" yak, dan ternyata bukan hanya bermain dengan mereka, Naruto memberikan 'bonus' berupa hukuman bagi Sasuke—sang pelaku utama dari pemukulan itu.

"Hn," Sasuke hanya menghela nafas dan tampak sangat malas mendapatkan hukuman itu, "kau ini, hanya sebuah notes saja kau sudah rebut setengah mati…"

"Memang begitu caramu berbicara dengan senseimu ya, Teme?"Naruto menaikkan sebelah alisnya, menatap Sasuke dengan tatapan meremehkan.

"Hn, dobe sensei…" Sasuke tampak tidak mendengarkan dengan serius yang dikatakan oleh Naruto. Ia menatap kearah kertas yang menjadi tugas hukumannya. Hanya tugas membuat literatur tentang seseorang yang tentu saja Sasuke kenal.

'Namikaze Minato'

"Kau menyuruhku membunuhnya?" bercanda dengan omongannya, ia menunjuk kearah foto sang ayah angkat dan menatap kearah Naruto.

"Dasar bodoh," Naruto tampak kesal dengan kata-kata sang teme dan hanya berdecak kecil.

"Bercanda," Sasuke tampak tersenyum penuh arti dan mengibaskan kertas tugas itu keatas. Berbalik dan akan meninggalkan Naruto disana, "Aku akan mengumpulkannya secepatnya…"

"Kau harus mencari tentang dia selengkap-lengkapnya, atau aku akan memberikan C untuk mata kuliahku!" Naruto mengancam Sasuke yang sepertinya tidak berguna karena Sasuke tampak acuh tak acuh dan berjalan keluar dari ruangan itu. Naruto hanya bisa menghela nafas dan menyenderkan tubuhnya dikursi.

"Maaf teme, aku memang memerlukan informasi tentang orang itu…"

Sementara Sasuke yang tampak baru keluar dari ruangan Naruto juga menghela nafas dan menatap kearah kertas tugas yang memajang foto ayahnya. Menyeringai penuh arti, Sasuke tampak berjalan dan melipat kertas yang ada ditangannya itu.

"Yah, dobe itu memang tidak tahu kalau Minato adalah ayah angkatku bukan?"

Terhenti sejenak, dan menatap kearah kertas yang ada ditangannya lagi. Sasuke hanya bisa mengerutkan dahinya heran dengan tugas yang ia dapat.

"Tetapi kenapa si dobe itu benar-benar ingin tahu tentang ayah…?" melihat kearah foto yang juga ada disana, Sasuke menyadari sesuatu, "wajah ayah sedikit mirip dengan Naruto, tetapi tentu saja itu tidak mungkin…"

DRAP…DRAP…DRAP…

Tampak suara langkah kaki yang berlari dilorong sebuah bangunan yang sangat tinggi itu. Naruto, yang baru saja pulang dari kampusnya tampak terburu-buru pergi menuju kesebuah ruangan dilantai 5. Waktu menunjukkan pukul 2 siang, dan saatnya bagi Naruto untuk kembali kepada pekerjaannya sebagai seorang penggubah lagu dan juga pemain musik.

"Hinata-chan, maaf terlambat!" Membuka pintu yang ada didepannya dengan sangat keras, ia bisa melihat semua orang baik yang ada didalam ruangan maupun diluar ruangan menatapnya dengan tatapan bingung.

"Naruto-kun, kau terlambat 15 menit…" Hinata yang sudah berpakaian rapi dengan blazernya berwarna hitam dan juga kemeja berwarna putih itu tampak menghampirinya, "hampir saja penyanyinya pulang karena tidak sabar…"

"Memang siapa sih yang menjadi penyanyinya, hanya menunggu 15 menit saja sampai tidak sabar…" Naruto tampak berdecak kesal sambil mengancing kemejanya yang berwarna hitam—yang dibawakan oleh Hinata lengkap dengan jasnya yang berwarna putih.

"Apa yang kau lakukan disini Dobe…" mendengar nama panggilan yang hanya ada satu orang pemanggilnya itu, membuat Naruto memutar kepalanya sampai-sampai tampak berputar 180 derajat.

"Teme—!"

"J-jadi begitulah Naruto-kun," Hinata yang terkejut melihat kalau mereka berdua sudah saling mengenal, dan terlebih lagi hubungan mereka tidak cukup baik hanya bisa gugup berada diantara mereka. Aura disekitar Sasuke dan Naruto memang benar-benar tidak enak, "Uchiha-san—"

"Panggil saja Sasuke…"

"Sa—Sasuke-san yang sekarang ini akan menjadi penyanyi yang berada dibawah pengawasanmu…" Naruto hanya bisa membelalakkan matanya menatap kearah Sasuke, begitu juga dengan sebaliknya.

"Jangan bercanda, aku bahkan ragu kalau ia bisa menyanyi."

TWICH

"Pasti suaranya sumbang—"

"Kau mau dengar?" Sasuke yang tampaknya kesal mendengar ejekan dari Naruto berdiri dan seakan-akan menantang Naruto yang ada didepannya, "bahkan seharusnya aku yang sanksi apakah kau bisa membuat lagu yang sesuai dengan keinginanku…"

TWICH

"Baiklah, coba kau dengarkan aku bermain piano, dan apakah ini cocok untukmu atau tidak, teme—!" dengan cepat, Naruto menuju kesebuah piano klasik berwarna hitam dengan catatan partitur musik yang ia bawa ditangannya. Memainkan lagu yang ia gubah sendiri, dan mencoba untuk menyanyikan lagu yang memang ia buat untuk 'penyanyi' yang sebelumnya tidak ia ketahui.

Sasuke hanya terdiam—

Ia memang menyukai bernyanyi, dan sangat senang ketika ayahnya memintanya untuk bernyanyi. Tetapi, sampai sekarang tidak ada pencipta lagu yang pas dengan keinginannya. Tidak, sampai ia mendengar suara dan juga permainan dari Naruto saat itu. Semua orang tampak menikmatinya, dan terdiam. Suasana yang tadinya ramai menjadi tenang dan hanya suara dari alunan music dan suara Narutolah yang terdengar. Semuanya sangat terpesona—

—termasuk sang calon penyanyi—Sasuke Uchiha.

Tetapi ia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa kagumnya. Egonya mengalahkan perasaan kagumnya pada sang musisi. Ia mencoba untuk tidak menunjukkan emosi apapun dan tetap dingin, menyilangkan tangannya didepan dada, dan menutup matanya.

"Bagaimana?"

"Hn…" Sasuke hanya bisa menggumam khas dia dan menutup matanya seakan-akan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh sang musisi.

"Oi teme, kau i—" kata-kata dari Naruto langsung terhenti ketika ia lagi-lagi merasa pusing dan juga mual. Ia menutup mulutnya, mencoba untuk menyembunyikan darah yang mulai keluar dari hidungnya, dan juga mencoba untuk mengurangi rasa mual yang ia derita.

"Dobe?"

"Naruto-kun?"

Tidak mendengar apapun yang dikatakan oleh Sasuke dan Hinata, Naruto mencoba untuk berlari dan tidak melihat kearah mereka. Ia takut, Sasuke dan Hinata akan melihat darah yang keluar dari hidungnya sekarang ini.

"Naruto!"

"Naruto-kun!"

"Apakah kau yakin kali ini ia akan menerima orang yang kau tunjuk sebagai pencipta lagu yang akan dimainkannya Itachi?" lelaki blonde kuning bermata biru itu tampak berjalan bersama dengan anak angkatnya. Ia sedang berada digedung yang sama dengan tempat Sasuke dan Naruto karena memang ia datang kesana untuk menemui Sasuke.

"Yah, walaupun tidak pasti sepertinya persentase Sasuke akan menerimanya tinggi. Mengingat ia adalah dosen disekolahnya dan juga nama Naruto sudah cukup terkenal pada saat di Paris…" Itachi menatap kearah ayahnya itu dan mengangguk pelan.

"Sasuke akan langsung menolaknya ketika ia tidak suka dengan satu lagu," Minato menghela nafas, menatap kearah Itachi yang hanya mengangguk, dan menghela nafas juga. Tetapi, pandangannya langsung tertuju pada ayahnya lagi. Itachi masih terfikirkan tentang foto yang ada ditempat Naruto. Kalau memang benar Naruto adalah anak dari ayah angkatnya, kenapa ayahnya itu tidak mengatakan kalau anaknya masih hidup?

'Aku tidak mengerti, apakah ayah memang tahu dan hanya berpura-pura pada kami, atau memang ia tidak tahu apapun…?'

"Ada apa Itachi?"

"Tidak, ayo kita segera—"

BUGH!

Seseorang menabrak Minato dan berlalu begitu saja setelah mengatakan maaf yang nyaris tidak terdengar. Naruto, yang berlari kearah kamar mandi terdekatlah yang menabrak Minato, dan beralu begitu saja tanpa mengetahui orang yang menabraknya—ayah kandungnya sendiri.

"Huh, dia…"

"Naruto!" Sasuke dan juga Hinata mengejar dari belakang dan mencoba untuk melihat Naruto yang berlari kearah kamar mandi.

"Ada apa Sasuke?"

"Entahlah, setelah memainkan lagunya tiba-tiba Naruto memegangi kepalanya dan menutupi mulutnya," Sasuke berlari dan mencoba untuk menyusul Naruto. Itachi juga langsung mengikuti mereka dan menyusul kearah kamar mandi. Minato sendiri akan menyusul, tetapi ia terhenti ketika melihat sesuatu dilengan bajunya.

Darah—

Sepertinya ketika Naruto menabrak Minato, darah dari hidungnya mengenai lengan baju dan membuat darah itu membekas disana. Minato yang menyadari ada yang aneh dengan Naruto langsung berlari menyusul semua yang sudah pergi dari sana.

"Uhuk, uhuk!" Setelah sempat mengunci pintu kamar mandi yang ia tempati sekarang, Naruto menuju kewastafel kamar mandi itu dan memuntahkan semua isi perutnya. Mencoba untuk menghilangkan rasa mual yang ia rasakan sekarang. Darah bercampur dengan semua cairan perut yang keluar dari mulutnya itu. Rasa pusing dan mual masih dirasakan oleh Naruto saat ini.

"Oi dobe, buka pintunya!"

Suara Sasuke tampak terdengar bersamaan dengan gedoran pintu yang ada disampingnya.

"Oi kau tidak apa-apa kan?" lagi-lagi suara Sasuke yang didengar oleh Naruto. Naruto sendiri terlalu sibuk untuk mempertahankan kesadarannya. Kalau ia tetap disana tanpa ada pertolongan—sementara ia sendiri bahkan untuk mempertahankan kesadarannya sangat sulit—ia bisa mati disana dengan penyakitnya itu. Disisi lain, ia tidak ingin Sasuke dan juga yang lainnya tahu tentang apa yang terjadi, terutama Hinata, teman kecilnya.

"Tidak, aku tidak apa-ap—UHUK!" lagi-lagi Naruto terbatuk dan menumpahkan semua isi perutnya dan sedikit darah yang entah dari hidungnya, atau dari isi perutnya. Sungguh, saat ini ia bahkan tidak sanggup untuk menggerakkan tubuhnya untuk membuka pintu itu.

"Pandanganku…aku tidak bisa—"

BRUGH!

BRUGH!

Suara benda—atau seseorang yang jatuh itu langsung membuat Sasuke dan Hinata bertambah panik dan juga khawatir. Sasuke mencoba untuk menggedor lebih keras lagi, mencoba menemukan suara seseorang yang seharusnya bisa menjawab.

"Oi dobe, kau tidak apa-apa? Jawab aku!"

Minato tampak terdiam dan juga tidak bisa mengatakan apapun. Melebarkan pupil matanya, entah kenapa ia benar-benar sangat khawatir—melebihi kekhawatiran Hinata dan juga Sasuke yang sedari tadi terus menggedor pintu kamar mandi itu.

Rasa cemas itu, ia benar-benar tidak tahu kenapa ia secemas itu. Ia bahkan tidak mengenal dengan jelas anak itu—dan ia tidak tahu apapun tentang Naruto.

"Minggir Sasuke…" Minato berjalan dan memegang kenop pintu yang ada didepannya. Mendorong dengan kekuatan dan sedikit paksaan, akhirnya pintu terbuka dan menampilkan penampilan didalam kamar mandi. Naruto yang pingsan dengan darah keluar dari hidungnya dan juga beberapa darah yang masih menempel di wastafel.

"Naruto-kun!"

"Dobe, oi dobe!" Sasuke yang pertama kali bergerak mendekati Naruto. Mengangkat kepalanya dengan sebelah tangan, Sasuke mencoba untuk melihat keadaan Naruto yang tidak sadarkan diri.

"Tunggu apa lagi, cepat panggil ambulance!" Itachi menyuruh orang-orang yang melihat kejadian itu—selain dia, sasuke, Hinata, dan Minato untuk memanggilkan ambulance dan segera dibalas dengan anggukan dari orang-orang itu.

Piiip…piiip…piiip

"Saat ini keadaannya sudah stabil," Tsunade, yang lagi-lagi menjadi dokter yang menangani Naruto menghela nafas panjang. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Naruto yang sering kali berubah-ubah. Melihat kearah Naruto yang tengah terbaring dan dikelilingi oleh alat-alat yang membantunya untuk kembali stabil.

"Untung saja…" Hinata menghela nafas panjang—lega mendengar Naruto yang sudah baik-baik saja. Iris abu-abunya langsung menatap kearah mata Tsunade dengan kekhawatiran yang belum hilang sepenuhnya, "sebenarnya apa yang terjadi dengan Naruto-kun, Tsunade-sama…?"

"…" ingin sekali Tsunade mengatakan yang sebenarnya tentang penyakit Naruto. Tetapi, ia tidak ingin membuat kepercayaan Naruto padanya menghilang dan hanya bisa menyembunyikannya saja, "Tenang saja, Naruto hanya kelelahan…"

"Kelelahan tidak mungkin sampai mimisan bukan?" Sasuke yang ada disana juga tampak kesal dan mencoba untuk mendapatkan penjelasan tentang itu semua.

"Kau—"

"Ah, dia adalah Sasuke-kun…" Hinata menjawab setelah melihat kearah Sasuke yang akan menjawabnya, "dia murid dan juga penyanyi yang akan ada dibawah bimbingan Naruto…"

"Sasuke…?"

Rasa sakit dikepalanya belum menghilang sepenuhnya. Tetapi Naruto berusaha untuk mendapatkan kesadarannya kembali, dan ketika ia sadar, yang ia lihat hanyalah cat putih dari langit-langit rumah sakit. Tidak heran memang, ia sudah menduga, kalau ia tidak mati pasti akan berakhir ditempat ini.

"Aku di…."

"Kau sudah sadar?" suara yang asing terdengar itu membuat Naruto langsung menolehkan kepalanya kearah asal suara. Laki-laki berambut blonde yang mirip dengannya, dengan mata berwarna biru langit—yang juga sama dengannya itu sedang duduk disofa sambil menulis sesuatu yang ada diatas meja itu.

Terkejut—

Hanya ekspresi itu yang ia tunjukkan ketika melihat orang itu, orang yang selama ini ia cari, orang yang membuatnya rela meninggalkan tempat tinggalnya selama 10 tahun hanya untuk mencarinya, orang yang selalu ia bayangkan ketika ia kesepian, orang yang ia rindukan—

—sekaligus orang yang paling ia benci saat ini.

'Minato…Namikaze…'

Angin berhembus pelan meniup kertas-kertas yang ada diatas meja itu. Sebuah kertas yang menutupi kertas lainnya tampak terbang dan menampakkan kertas lain yang ia tutupi. Kertas yang bertuliskan satu bait paragraf seperti lirik lagu.

'Sampai sekarang aku tidak bisa mengingat apapun tentang dirinya…'

'Setiap kali aku mencoba mengingatnya, hanya ada air mata yang turun dari mataku…'

'Aku tidak pernah bisa berhenti menyesal diri atas apa yang tidak bisa aku ingat tentangnya…'

'Tetapi aku tidak akan mencoba untuk menahan tangis ini,'

'Karena ketika aku pergi dari dunia ini…'

'Aku ingin bertemu dengan orang itu disurga…'

'Dan aku berharap, tidak akan ada lagi tangisan disurga…'

Kayaknya lagi-lagi ane telat deh Updatenya TT^TT

Reader : tuh tau!

Iya deh, soalnya ane lagi pewe sama fandom sebelah (lagi) tapi disempetin update, dan lagi-lagi ide diotak tertutup sesuatu bernama Yaoi OAO saya ga bisa mikir lain selain itu! dan yang terakhir, mood angst saya ilang TAT gara-gara mainan RPan KHR sama anak-anak di twitter yang membangunkan imajinasi humor ane OAO

Reader : ga usah banyak bacot! Cepet bales review!

i-iya…

Pojok Tanya Jawab!

Q : Upadetnya kapan lagi? Ga sabar nih liat Naru ketemu Minato (from : delizz)

A : ini udah di update ^^ dan Mina n Naru udah ketemu kok OwOb walaupun pas di cliff hangernya~

Q : sip tlg up-date y q tnggu senpai (from : Kyuubi uzumaki naruto)

A : makasih :) dan ini update-annya xD

Q : gyaaaaaaaaaaaaah…. Seruuuu! Aku penasaran! Kutunggu terus kelanjutannya lho… jangan lama2 ya! (from : bryella)

A : makasih ya ^^ ini udah update~ maaf lama /pundung/

Q : uwaaaaah… Mkin keren aja nich critax… 4 jempol utk mue… Aq suka bgt dech pkox… Hohohoho… next chap, updatex jgn lma lgi y…. (from : Luce stellare of Hyuzura)

A : makasih banyak xD maaf ternyata updatenya lama T^T

Q : Ceritanya bagus! Saya suka! Please apdet kilat senpai. Pleaseee~ (From : Chizuka Arahime)

A : makasih banyak Chizu-chii (?) dan maaf kalau ternyata updatenya lama TT^TT