Aoryuu: Ok! Kembali lagi ke cerita ini \^o^/ hua.. tidak disangka.. ternyata ada yang suka juga ya? Hahahaha... (author kepedean-brisik langsung di tendang keluar)
Ok2.. sebelum na ak akan sedikit membahas mengenai repew... akaya, tolong aku ya~ (ambil kertas)
Akaya2: hmm.. yang pertama, kenapa cepat banget update na? Ga biasa...*lirik curiga*
Aoryuu: ... (pertanyaan pribadi ne?) ah, itu karena ak gak mau nombok. Lalu?
Akaya: yang kedua... ada yang setuju kalo Jackal dengan... yukimura (?)
Aoryuu: ah, itu ya. Maaf ya ^^ ini cerita na tentang jackal-marui jadi ya.. lanjut!
Akaya: ... *swt* ini tema cinta segi pa? (matematika-kah?) *miring kepala*
Aoryuu: hmm.. segi empat apa segitiga ya? Apa menurutmu, akaya?
Akaya: tidak tau...
Aoryuu: grr... yang lainnya?
Akaya: hm.. *blush*
Aoryuu: kenapa, akaya?
Akaya: ah... i-ini...*makin merah* ada yang marah, soal sanada fukubuchou n yukimura buchou.. kata na.. kenapa mereka nggak...
Aoryuu: ah ^^*nod2* aku mengerti... itu karena... err... mereka kan masih di sekolah, jadi rasa na juga.. kayak na gak sanada banget degh..
Sanada: Apaan Aoryuu?
Aoryuu: gak ada apa2 kok.. (kenapa bisa muncul tiba2?)
Akaya: sisanya sih pada setuju dan tidak sabar menunggu pernyataan cinta marui-senpai dengan jackal-senpai..
Aoryuu: hahaha.. baiklah ^^ kalo gitu, mari kita mulai saja ya ^^
Hmmm... sedikit bocoran (ato curhat?) pas adegan sanayuki, ak sempat mikir soal kane n masu... lama2 mereka cocok juga ya ^^ pa lagi masu lebih terlihat tegas dan galak dr pd ouji. Bagaimana menurut kalian? Sanayuki di sini ak membayangkan kane-masu yang.. d lempar keluar sama fans ouji-kane-masu
Ah~ gara2 denger lagu DL 7th yang ver Rikkai ... haisha.. ok2.. aku akan segera pergi.. (sebelum di rajam dengan hal lainnya)
-00000start00000-
Title: just u
Charact: Jackal_marui
Desc: Konomi – sensei
Rat: T
Pov: Jackal
-00000part 200000-
Untuk kesekian kalinya aku menggerutu dan beragumen pada diriku sendiri.
'Menjauhi seseorang yang sudah mencampakan atau menghianati kita adalah hal yang wajar. Tapi, bagaimana jika orang tersebut tidak bermaksud untuk menghianati kita? Hanya dari pemikiran kita saja yang beranggapan bahwa ia sudah menghianati kita?'
Aku kembali menulis diatas kertas bergaris ini dan kembali melanjutkan, 'Haruskah kita marah? Haruskah kita menghindar? Apa jalan terbaik bagi kita agar hubungan seperti dulu tetap berjalan dengan baik?'
Setelah selesai merangkai kata, aku kembali memeriksa kata-kataku kembali, menulis namaku dipojok kanan atas, lalu meletakan kertas tersebut dimeja paling depan. Bertanda bahwa aku sudah menyelesaikan ulangan mengarang hari ini.
Setelah jam pelajarang berakhir, seluruh penghuni kelas langsung berteriak untuk melepaskan rasa jenuh mereka. Akupun demikian, ikut bergabung dengan keributan tersebut. Setelah seluruh kertas dikumpulkan, Yukimura yang duduk didepanku membalikan badannya. "Jackal , bagaimana dengan karanganmu? Berapa banyak?"
"Hanya setengah halaman. Kamu sendiri?"
"Ya... kurang lebih segitu juga" keluhnya dan menyandarkan kepalanya pada lengannya yang diletakan diatas mejaku. "Jackal, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Detak jantungku berdetak cepat. Yukimura yang menatapku dengan lembut itu membuat perasaanku kembali kacau. Aku memalingkan mukaku dengan berpura-pura sibuk merapikan bukuku untuk menutupi itu semua. "Ada apa, Yukimura? Tidak biasanya..."
"Ya..." Yukimura menghela nafas panjang. "Jackal..." panggilnya sesaat. "...apa kamu pernah mengalami kegagalan?"
"Hah?" Yukimura kembali mengatakan pertanyaannya. "Kegagalan? Tentu saja. Tidak mungkin seseorang akan sukses jika dia tidak pernah mengalami kegagalan..."
"...namun, jika berhubungan dengan... masadepanmu?"
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, Yukimura"
Yukimura diam sejenak dan kali ini dia menyadarkan kepalanya sambil menatap keluar jendela. "Bagaimana kalau kegagalan itu membawa hal buruk bagi masadepanmu?"
Aku mulai mencerna perkataannya. Temanku yang satu ini setiap kali berbicara selalu menggunakan kata-kata yang sulit aku mengerti. "Yukimura, aku masih belum bisa menangkap maksudmu. Tapi ada satu hal yang aku yakini..." Yukimura mengangkat kepalanya. "kegagalan yang aku alami itu akan aku jadikan suatu pelajaran. Aku tidak takut dengan kegagalan itu sendiri. Jika aku jatuh, aku percaya bahwa suatu hari nanti aku akan segera bangkit..."
"Begitu, ya?" dia kembali menadahkan kepalanya. Aku mengangguk dengan pasti bahwa apa yang aku katakan itu adalah hal yang serius. "Terima kasih, Jackal..."
"Yukimura, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Yukimura tersenyum. "Kenapa tiba-tiba saja bertanya hal itu padaku? Tidak biasanya...". Wajah Yukimura terlihat lemas. Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan dan tidak ingin dia ceritakan. "Yukimura, kalau kamu tidak mau..."
"Tidak apa" jawabnya singkat. "Jackal, aku mau kalau kamu merahasiakan hal ini..." tatapannya kali ini serius. "Sebenarnya... sudah beberapa hari ini aku merasa lelah sekali..."
"Itu tandanya kamu terlalu banyak aktivitas, Yukimura..."
Yukimura menggeleng. "Aku tahu bagaimana keadaan tubuhku. Tubuhku memang lelah... tapi..." dia menunjukan telapak tangannya didepan wajahku. "Jari-jari ini terasa lemas... terkadang hanya untuk memegang pensil saja, aku tidak bisa...Lihat..."
Kulihat jari-jari kecilnya yang bergetar. Tanpa berfikir panjang, kuraih tangannya dan mengelusnya dengan lembut. "Jarimu terlalu lelah menulis proposal, ulangan dan memegang raket... biarkan mereka istirahat sejenak juga..."
Mendengar penjelasan dariku, dia kembali tertawa. "Terima Kasih, Jackal..." melihat senyumnya saja sudah membuatku merasa senang sekali. Ketika dia membalikan badan, mengambil dompet dari tasnya, tiba-tiba saja pegangannya langsung melemas sehingga dompetnya yang berwarna hitam itu terjatuh. Refleks, aku membantu mengambilkannya.
"Terima kasih" ucapnya lagi.
"Sama-sam-" tidak sengaja aku melihat foto yang berada dibagian dalam sebelah kanan dompetnya. Foto Yukimura bersama dengan Sanada! Sepertinya itu foto baru mereka, karena seragam Sanada dan Yukimura yang masih terlihat lusuh.
"Ah, bagaimana menurutmu?" tanyanya yang membuat nafasku terasa sesak. "Aku meminta berfoto dengannya setelah latihan minggu lalu..." ternyata dugaanku benar. "Jarang sekali dia langsung setuju" wajah Yukimura terlihat senang.
"Yukimura!" panggil seseorang dengan suara tegas. Ternyata sang emperor datang menemui sang child of god. "Mau ke kantin?"
"Ung!" jawabnya sambil tersenyum. "Jackal, kamu mau ikut?" aku menggeleng pelan. Yukimurapun segera berjalan mendekati Sanada dan kembali terlihat raut Sanada yang mulai memerah.
Rasanya hatiku benar-benar sakit. Aku menenggelamkan wajahku pada lengan tanganku yang aku luruskan dan dijadikan bantal. Disaat keadaanku yang kacau ini, ada seseorang yang menepukku. "Ah, Marui. Ada apa?"
"Kamu terlihat lemas sekali" Marui duduk dibangku Yukimura. "Ada apa denganmu? Ada masalah dengannya?"
"Bukan urusanmu" jawabku singkat. "Dan... kenapa kamu kesini?"
"Apakah ada larangan bahwa aku tidak boleh memasuki kelas ini?" aku terdiam. "Jackal, apa pulang sekolah nanti kamu ada acara?"
"Memangnya kenapa?" aku bingung. "Bukankah kita ada latihan?"
"Aku tahu..." Marui melipat kedua tangannya. "Maksudku setelah latihan. Aku, Niou dan Akaya berencana untuk makan diluar bersama-sama. Ya...merayakan kemenangan kita kemarin. Jarang-jarangkan kita bisa makan bersama-sama seperti ini..."
"Oh... Siapa saja yang ikut?" aku tidak bisa membayangkan kalau seluruh anggota ikut makan bersama yang jumlahnya melebihi 100 orang itu.
"Hanya angota regular. Bagaimana? Kamu mau ikut?"
"Yang lain sudah setuju?"
Marui diam sejenak. "Seharusnya sih sudah. Karena yang merencanakan adalah aku, Niou dan Akaya, berarti tinggal sisanya..." Marui berhenti sejenak. "...Niou mengajak Yagyuu, Akaya karena dilantai tiga, tidak mungkin... lalu aku sudah mengajak Yanagi dan sudah setuju. Tinggal Sanada dan Yukimura saja"
'Ternyata Sanada turut serta dalam acara makan-makan ini' pikirku. Ah! Mengapa aku jadi kepikiran masalah ini? Seperti bukan diriku saja. "Memangnya mau makan dimana?"
"Bagaimana toko ramen yang terletak di dekat stasiun? Akaya yang menyarankan kalau ramen disana enak dan murah. Jadi...sekalian,kan?
"Baiklah..." jawabku. "Lalu, Marui..." Marui menatapku. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu... soal masalah...kamu tahu..."
"Ah..." Marui tersenyum dan membuka permennya. "Ma-masalah itu... Ah.. Hahahaha..." sikap Marui sedikit aneh. Tiba-tiba saja dia langsung mengganti topik pembicaraan. "Jackal, setelah ini kamu pelajaran apa?"
"Biologi. Ada apa?"
"Boleh aku pinjam kalkulatormu? Maaf... aku lupa bawa" katanya sambil menyatukan kedua telapak tangannya didepan wajahnya.
"Boleh saja" jawabku sambil mengambil kalkulator dari dalam tasku.
Setelah itu, Marui meninggalkan kelas ini karena bel masuk sudah berbunyi.
Selama latihan, aku dipasangkan dengan Marui melawan Niou dan Yagyuu. Pertandingan berlangsung dengan cepat karena aku sendiri yang kurang konsen dan kekuatan Niou-Yagyuu yang semakin meningkat. Aku sedikit iri dengan Niou, dia bisa bersama dengan orang yang dia sukai itu. sedangkan aku sendiri...
Kulihat dari kejauhan tiga orang yang ditakuti di Rikkai ini sedang berada dipinggir lapangan. Yanagi sibuk mencatat data seluruh anggota, Sanada yang memberikan instruksi kepada kelas satu dan Yukimura sendiri yang melatih anak kelas dua dan tiga. Setelah latihan berlangsung satu jam, kami diberi istirahat selama 10 menit, lalu dilanjutkan dengan latihan berikutnya.
"Jackal!" Marui sedikit berlari menghampiriku. "Mau temani aku ambil minum? Botol minumku ketinggalan dikelas..."
"Di kelas?" padahal gedung sekolah dengan lapangan jaraknya cukup memakan waktu 5 menit. "Apa kamu sudah izin dengan Yanagi?"
"Sudah. Makanya, ayo temani aku..."
Aku akhinya meletakan raketku didekat raket milik Yagyuu, dan berjalan mengikutinya. Suasana rikkai yang semakin sore ternyata semakin menakutkan saja. Gedung tinggi berlantai 6 ini semakin lama semakin gelap saja, walaupun kelas kami berada dilantai 4.
"Ah! Untung saja masih ada..." ucap Marui senang.
Aku baru menyadari kalau dari kelas Marui bisa melihat kearah lapangan dengan jelas. Dari atas sini, aku bisa melihat Yukimura yang dekat sekali dengan Sanada, walaupun gerak-gerik Sanada yang masih kaku. Melihat itu, aku kembali merasa sedih.
"Jackal..." Marui menepuk pundakku.
Aku membalikan badanku dan tiba-tiba saja Marui mendekati wajahnya... dia menciumku! "Marui! Apa yang kamu-"
"Jackal... tidakkah kamu sadar bahwa AKU selalu memperhatikan kamu? Aku yang selalu ada padamu disaat kamu sedang sedih, sedang senang... bahkan aku tahu bagaimana jalan pikiranmu itu? Tapi mengapa kamu selalu saja...selalu saja dengan DIA!"
"Marui, aku sedang tidak ingin debat saat ini..." tanpa disadari aku mulai berjalan meninggalkan dia.
"Jackal!" Marui memelukku dari belakang. "Jackal, orang yang yang mengerti dan menyayangimu lebih dari Yukimura itu... aku... Aku menyukaimu, Jackal..."
Dadaku tiba-tiba terasa sesak dan pikiranku terasa kacau. Terdengar olehku isak tangisnya yang mulai memecah dan membasahi bajuku. Marui yang biasanya ceria tiba-tiba saja terlihat lemah seperti ini. Aku membalikan badanku dan memeluknya. Kubelai rambut merahnya dan kuraih wajahnya yang sudah hampir sama dengan warna rambutnya itu.
"Jackal..." kali ini dia menenggelamkan wajahnya pada dadaku dan memelukku dengan erat.
Benarkah bahwa dia menyukaiku? Aku kembali memeluknya seperti anak kecil yang baru saja terbangun dari mimpi buruknya. "Marui..." Marui mengangkat wajahnya dan menatapku. "Maaf... bisakah kita bicarakan ini... nanti? Bisakah kamu memberikan waktu untukku berfikir?"
Marui hanya diam tertunduk. "Sampai berapa lama?"
Kali ini aku yang terdiam. "Aku tidak tahu... tapi aku janji tidak akan lama..."
Marui mengangguk pelan dan kami kembali menuju ruang klub.
Saat kami kembali, ternyata kegiatan latihan sudah berakhir. Untung saja kami berdua tidak terkena hukuman ataupun latihan tambahan lainnya. Sesuai dengan rencana, kamipun berjalan bersama-sama menuju kedai ramen yang dibicarakan oleh Akaya.
Sepanjang perjalanan, aku dan Marui hanya diam saja. Dia sibuk bermain dengan Akaya sedangkan aku berjalan dibelakang mereka. Kulihat Yukimura yang asik mengobrol dengan Sanada. Melihat itu sungguh-sungguh membuatku kesal, namun tidak ada yang bisa aku lakukan.
Tidak hanya disepanjang jalan. Saat makan-pun demikian. Akhirnya aku berbincang-bincang dengan Yagyuu dan Yanagi. Kami membahas beberapa pelajaran dan juga hal lainnya hingga tiba-tiba saja Yanagi memulai topik yang cukup membuatku sesak. "Apa kalian sadar kalau Genichirou mulai berubah?"
"Apa maksudmu, Yanagi-kun?" tanya Yagyuu dengan tenang.
"Sejak dia bersama dengan Seiichi, dia mulai terlihat sedikit manusiawi... walaupun perhatiannya sekarang hanya tertuju pada Seiichi..." kami semua tertawa, tetapi tidak dalam hatiku.
Tidak seharusnya aku seperti ini. Rasa cemburuku yang begitu besar membuatku semakin membenci Sanada. Aku hanya merasa bahwa dia tidak pantas bersama dengan Yukimura. Tapi...
"Ayo kita pulang" ajak Yukimura sambil menggendong tasnya kepundaknya. Lalu semuanya ikut mengambil tas masing-masing dan berjalan menuju stasiun kereta yang cukup memakan waktu 5 menit.
Sambil menunggu kereta yang biasa kami gunakan, masing-masing dari kami masih saling bercanda satu sama lain. Tapi ada hal yang membuatku curiga. Dia hanya diam saja dan tidak ikut bergabung dengan yang lainnya. Yanagi masih sibuk dengan catatannya, Sanada dan Yagyuu sedang mengentikan pertengkaran antara Niou-Akaya-Marui. "Jackal, bantu kami" pinta Yagyuu sambil memegangin Niou. "Kamu pegangin Marui" aku langsung saja menurut dan menahan tubuh kecilnya.
"Lepaskan!" ronta Marui.
"Dia duluan!" seru Akaya sambil menunjuk Niou.
"Aku? Aku tidak merasa kok" kata Niou cuek sambil membuang muka.
"Niou... minta maaflah... kamu juga sudah salah" Yagyuu mencoba membujuk Niou.
"Akaya! Tenang!" seru Sanada sambil menahan leher Akaya. "Kalau kamu tidak bisa tenang, akan ak-" perkataan Sanada terhenti seiiring dengan pandangannya yang berubah menjadi serius. "YUKIMURA!"
Pandangan kami langsung tertuju pada seseorang yang sudah berbaring dilantai stasiun. Tasnya sudah terlepas dari genggamannya dan tangan kanannya memegang dadanya.
"Yukimura!" kami semua langsung mengelilinginya dan Sanada dengan sigap mengangkat tubuhnya sebagian. Nafasnya mulai tidak teratur.
"Maaf. Aku sedikit pusing..." katanya terbatah-batah.
"Yukimura, kamu tidak apa-apa?" tanya Sanada yang masih menahan tubuh Yukimura dengan lengan besarnya itu. "Yagyuu, cepat telepon rumah sakit. Renji, tolong kamu hubungi keluarganya" semuanya langsung menuruti perintah Sanada. Akaya dan Nioupun membantu membawa tas mereka, sedangkan Sanada mengangkat Yukimura kepinggir untuk tidak menghalangi jalan dan mempermudah pertolongan.
"Sanada... maaf merepotkanmu..."
"Tidak apa-apa, Yukimura... bertahanlah..." baru kali ini Sanada terlihat gelisah. Yukimura sendiri dengan tangan satunya memegang baju Sanada yang dia lingkarkan keleher Sanada dan menenggelamkan wajahnya. "Kenapa lama sekali...!" geramnya sambil memeluk tubuh kecil Yukimura.
"Sa-Sanada... aku... tidak apa-apa" katanya terbatah-batah.
"Diamlah, Yukimura. Aku tidak mau kalau terjadi sesuatu yang lebih parah dari pada ini" jawab Sanada tegas.
"Yukimura-buchou..." Akaya yang berada didepan Sanada dan Yukimura mulai terisak.
"Akaya!" seru Sanada dan langsung Akaya menjadi diam.
"Akaya, aku tidak apa-apa" senyum Yukimura. "Jangan menangis seperti aku akan mati saja.. hahahaha..."
"Buchou..." Akaya mengelap wajahnya dengan lengan seragamnya.
Melihat ini, akhirnya aku menyadari bahwa yang dibutuhkan Yukimura adalah Sanada... bukan aku...
Sesampainya dirumah sakit, aku langsung berpamitan karena hari sudah semakin malam. Kulihat Sanada masih saja menunggu didalam sana. Aku hanya tertunduk dan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit besar ini. "Jackal" panggil Marui dari belakang dan berjalan menghampiriku.
"Marui..." aku tertawa miris. "Aku ini... bodoh ya..."
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah tahu kalau orang yang aku sukai itu...menyukai orang lain. namun aku-"
Marui menarik tanganku menuju taman rumah sakit ini, mendorongku ke pinggir pohon dan menciumku. "Jackal... tidak bisakah aku? Tidak adakah ruang dihatimu untuk diriku?" isak tangisnya mulai memecah. "Apa benar tidak ada perasaan sama sekali kepadaku?"
Aku tersenyum dan memeluknya dengan erat. Harusnya aku sadari bahwa masih ada yang menyayangiku. Hanya saja mengapa aku tidak menyadarinya dari dulu. "Marui..." dia mengangkat kepalanya. "Maafkan aku kalau aku sudah membuatmu menangis seperti ini untukku..." kubelai rambutnya yang halus itu. "Maaf kalau aku terlambat. Jadi, kamu mau... selalu bersama denganku?". Raut wajah Marui yang mulai terlihat ceria. Senyum dan tawa kembali menghiasi wajahnya, namun..."Marui, kenapa menangis? Apakah ada yang sakit?" tanyaku panik.
Marui menggeleng. "Aku merasa senang... kalau aku dan kamu..." aku langsung saja menciumnya. "Jac-Jackal..." dia kembali tersipu malu.
"Marui..." kami saling bertatapan dan akupun kembali menciumnya dengan lembut. Terasa olehku nafasnya yang hangat dan genggaman erat tubuhnya yang memelukku.
"Jackal... terima kasih" ucap Marui sambil menyandarkan kepalanya didadaku.
"Tidak. Justru aku yang harusnya berterima kasih padamu..."
-0000000000end000000000-
Aoryuu: Hua.. ^^ akhirnya kelar juga! Hahahaha... ^^ pertama-tama maaf ya kepanjangan.. bis mau sekalian di bablasin ja.. biar cepet kelar n ga ada tunggakan... jadi tinggal sedikit yang harus di kerjakan ^^ (liat tumpukan tugas)
All: ... (bagus lah)
Yuki: Aoryuu! Kok waktunya kembali ke masa itu? Itu kan kenangan buruk!
Sana: ...
Yuki: sanada! Kenapa kamu diam saja...
Sana: ah! (baru sadar) Aoryuu! Kamu ini!
Aoryuu: apa lagi, gen_niichan...? –cuek krn dagh bosan- tapi kan bagus jadinya kalau kamu semakin deket sama yukimura...
Sana: ...
Yagyuu-niou-renji: Aoryuu! Peranku kok dikit?
Aoryuu: maaf...
Niou: ak malah kebagian berantem doank...
Renji-yagyuu: ...
Akaya: aoryuu, memang na aku secengeng itu...?
Aoryuu: ah.. sudahlah... tokoh utamanya ja diem ja...(tunjuk)
Marui-jackal: WOI! Ngapain pada liatin ke sini?
Marui: ganggu aja..
Aoryuu: ok2... sekian dulu ya ^^/ ja ne...
All: ... (pergi kau jauh2)
Please ur comment n review
