Ok.. ^^ kembali lagi dengan aoryuu (ala reporter) hahahaha.. –d tendang keluar-

Maaf.. sebenarnya Cuma mau 2 chapter doank, cuma ada permintaan untuk omake mengenai keadaan sanayuki, jadi ya~ kebetulan degh ^^ (dah lama pengen buat cerita yang ini... namun baru ada kesempatan author bodoh)

Ngomong-ngomong, terima kasih untuk komentarnya dan yang sudah mengikuti cerita ini aku cukup terharu bahwa ada yang suka juga dengan cerita jackal ToT ( mbil ngupas bawang)

Ok.. dari pada panjang lebar, silahkan dibaca ^^ maaf.. ini tentang sanayuki tapi dari POV na Jackal.. jadi di sini memang tidak terlalu dibahas mengenai kisah Jackal-marui dan seperti na ga ada yang 'greget' githu.. gomen ne...

-00000start00000-

Title: just u

Charact: Jackal_marui

Desc: Konomi – sensei

Rat: T

Pov: Jackal

-00000omakestart00000-

Sejak aku menjalin hubungan dengan Marui, keseharianku sedikit demi sedikit mulai berubah. Dari tingkat permainan dan kekompakan kami semakin bertambah. Tidak jarang kami saling bertukar pikiran mengenai pelajaran yang kami tidak mengerti. Hanya saja, disetiap latihan banyak perubahan yang terjadi. Tepatnya dikarenakan kejadian yang menimpa teman kecilku sekaligus kekasih Sanada Genichirou. Yukimura Seiichi.

Sudah tiga hari Yukimura tidak masuk sekolah. Selama itu, banyak siswa-siswi bahkan guru-gurupun datang menjemput. Yukimura memang dikenal dan disayang oleh seluruh penghuni sekolah ini. Jadi wajar saja jika jam besuk datang, ruang Yukimura yang berkelas VIP itu menjadi ramai. Terkadang rasa cemburu Sanada tidak dapat dia tutupi, karena tidak jarang dia mengeluh kepada Yanagi disetiap latihan. Akupun mengetahuinya dari Niou dan Marui.

Sore ini Marui dan aku memutuskan untuk menjenguk Yukimura dan setelah itu kami akan makan malam bersama. Secara kebetulan, kami sedang mencari tempat kos yang dekat dengan SMA Rikkai yang letaknya dengan Universitas Rikkai tersebut. Saat sesampainya dirumah sakit, aku melihat Sanada sudah datang lebih dahulu dengan membawa seikat bunga.

"Marui, kita balik saja. Sanada sudah datang..." ajakku. Aku tahu kalau Sanada lebih suka bertemu dengan Yukimura hanya berdua saja.

"Biarkan saja!" ucap Marui antusias. "Kita ikuti dan kita lihat apa yang mereka lakukan..."

"Tapi kalau ketahuan Sanada bisa panjang ceritanya..." walaupun aku tidak menyukai Sanada, aku tidak ingin mencari masalah dengannya.

"Tenang saja. Aku kan genius!" tawanya dan langsung menarik tanganku.

Sambil mengendap-endap, kami berjalan perlahan menuju kamar Yukimura yang sedikit memojok dilantai ini. "Yukimura, aku masuk" ucap Sanada sambil membuka pintu kamar tersebut.

"Marui, sudahlah... Ayo kita pulang saja..."

"Tidak mau. Aku penasaran..." paksanya dan tidak lama kemudian Sanada keluar bersama dengan Yukimura menuju atap rumah sakit ini.

"Segarnya..." Yukimura merebahkan tangannya dan menatap awan sore yang mulai mengganti warnanya.

Sanada melepaskan blazernya dan menggantungkannya pada pundak Yukimura. "Pakai ini..." Yukimura terlihat bingung. "Aku tidak mau kalau kamu sampai masuk angin..." dibalas senyuman oleh Yukimura.

"Sanada..." dibalas gumaman. "Apa kamu percaya dengan takdir?" Raut muka Sanada terlihat bingung.

"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Sanada mengajak Yukimura duduk ditembok kecil. "Tidak biasanya kamu seperti ini..."

Yukimura tertawa miris. "Sanada... kalau..." Yukimura sedikit mengecilkan suaranya. "...kalau aku mati, bagaimana?"

Tiba-tiba saja Sanada langsung bangkit dari duduknya. "Pemikiran dari mana itu! Kenapa kamu bisa berkata demikian?"

"Sanada..." Yukimura yang masih duduk meraih pinggang Sanada dan memeluknya. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Ini... hanya pemikiranku belaka... hanya saja..."

"Yukimura!" Yukimura, sang chil of god terhentak. Sang emperor menundukan tubuhnya dan menarik wajah pucat itu lalu menciumnya.

"Sanada..." terdengar gumaman Yukimura dan dibalas dengan pelukan oleh Sanada.

"Yukimura, tidak bisakah kamu menghilangkan pemikiran burukmu itu? Aku tidak ingin kehilangan kamu..." Sanada masih memeluk Yukimura dengan erat.

Yukimura tersenyum dan tiba-tiba matanya mulai memerah. "Maaf, Sanada... maaf untuk pemikiran bodoh ini..."

"Yukimura, ingatlah. Aku akan selalu berada disisimu. Yakinlah bahwa operasi ini akan berjalan dengan lancar. Setelah itu kita bisa melakukan banyak hal bersama lagi. Berjanjilah, Yukimura..."

Yukimura mulai terisak dan menenggelamkan wajahnya pada dada Sanada. "Ya... aku berjanji, Sanada..."

"dan..." Yukimura mendongakkan kepalanya. Sanada mengelus rambut biru ikalnya tertiup angin sore yang menutupi wajahnya. "...aku berjanji akan berada disisimu saat hari itu datang..."

"Sungguh...?"

Sanada mengangguk. "Ya, aku berjanji. Aku sudah berjanji padamu untuk membawa nama Rikkai maju dipertandingan Kantou... dan kali ini aku berjanji padamu akan menemani hari dimana operasimu akan dijalankan..."

"Sanada..."

Mereka kembali saling bertatapan dan kembali berciuman sambil memeluk satu sama lain. Aku berada dibelakang tembok besar ini segera menarik Marui untuk meninggalkan tempat ini. "Marui, cukup" bisikku. "Sudah cukup kan? Ayo kita pulang..."

Marui mengiyakan ajakanku dan kamipun berjalan perlahan meninggalkan mereka yang masih berada didunia mereka sendiri.

Keesokan harinya kami baru diberitahu kalau Yukimura mengalami Guillain barre syndrome. Selama satu bulan lebih latihan yang diberikan oleh Sanada semakin keras, namun semakin lama kami semakin terbiasa dengan kerasnya latihan dan arahan dari Sanada. Tidak jarang Yukimura datang mengunjungi klub dan ikut turun tangan jika keadaan sudah mulai tidak terkendali, seperti mendiamkan Niou dan Akaya. Mau tidak mau, buchou yang mempunyai aura 'kedamaian' itu bisa menenangkan mereka berdua.

Hasil dari kerja keras yang dilakukan berbulan-bulan sangat memuaskan seluruh anggota dan sekolah. Seluruh pertandingan didepan mata, dapat dilewati dengan mudah. Dampak dari itu semua membuat sekolah kami menjadi naik daun dan tidak jarang banyak anak baru masuk sekolah ini untuk bergabung dengan klub ini.

Tidak terasa waktu yang terus berlanjut sudah mencapai tahap menuju pertandingan kantou. Namun ada hal yang membuat kami sedih, jadwal pertandingan bersamaan dengan hari dimana Yukimura akan dioperasi. Seminggu sebelum pertandingan, kami semua menjenguk Yukimura yang sudah harus berada dirumah sakit karena penyakitnya yang semakin parah.

Seigaku, lawan yang cukup tangguh. Terlebih lagi mereka mempunyai anggota yang benar-benar tidak disangka sama sekali. Sebelumnya Akaya pernah bertanding dengan salah satu dari mereka hingga kehabisan tenaga. Hingga dihari pertandingan, kami semua merasa gugup. Bukan karena lawan yang kita hadapi, tetapi dengan waktu. Kami semua sudah berjanji akan datang sebelum Yukimura memasuki ruang operasi. Hingga kurang dari satu jam, kami masih saja berada dilapangan dan hasil dari pertandinganpun masih tidak jelas.

"Bagaimana ini..." keluh Marui yang mulai tidak disabaran disela pertandingan antara Yanagi-Inui. "Tinggal satu jam lagi..."

"Tenang saja!" seru Sanada yang tiba-tiba muncul dari belakang kami. "Kita akan selesai tepat pada waktunya..." Itulah harapan kami...

Namun pupus sudah...

Pertandingan antara Yanagi dan Inui berakhir atas kemenangan Inui. Begitu juga dengan pertandingan antara Akaya dan Fuji yang berakhir dengan kemenangan atas Seigaku. "Maafkan aku" pinta Akaya sambil membungkukan tubuhnya dalam-dalam dan siap untuk menerima hukuman dari Sanada.

"Sanada..." panggilku sejenak. "Sudah waktunya..."

Sanada masih berdiri dengan gagah sambil menatap langit yang mulai berubah warna. Tiba-tiba saja Sanada melepaskan jaketnya dan memberikannya padaku. "Kalian pergilah duluan... berikan ini pada Yukimura dan katakan bahwa aku akan datang dengan piala kemenangan kita..."

Sesaat dadaku berdegup kencang dan tubuhku terasa panas. Aku mengangguk dengan mantap dan meminta izin kepada wasit untuk kepergian seluruh anggota regular, terkecuali Sanada. Untung saja wasit bisa mengerti dan akhirnya kami segera melesat menuju rumah sakit.

Tepat saat kami sampai, Yukimura sudah dibawa keluar oleh dua orang petugas yang memakai baju putih. "Yukimura!" panggil kami bersamaan.

Kereta yang dibawa berhenti dan kami langsung mendekatinya. "Yukimura..." kami semua mengelilinginya.

Yukimura tersenyum dan pandangannya mulai mencari sosok yang dia harapkan. "Dimana Sanada?"

Kami semua diam. Aku menelan ludahku sejenak, "Sanada menitipkan ini padaku..." Yukimura menerimanya dengan sedikit terhentak. "...dia juga berpesan bahwa dia akan datang menemuimu dengan membawa piala kemenangan Rikkai"

Yukimura tersenyum. "Memang khas Sanada..."

Dua petugas itu meminta kami untuk segera meninggalkan Yukimura karena dia harus segera memasuki ruang operasi.

"Yukimura..." masing-masing dari kami hanya bisa bergumam namanya sambil berharap bahwa operasinya dapat berjalan dengan sukses.

Kami semua berkumpul didepan ruang tunggu operasi. Yagyuu duduk dengan tenang sambil menemani Niou yang mulai gelisah. Yanagi menenangkan Akaya, sang anak, untuk bisa tenang karena Akaya mulai terisak dan panik sendiri. Sedangkan aku dan Marui duduk bersebelahan sambil mendengarkan berita pertandingan.

"Akankah berjalan dengan baik?" gumamku tiba-tiba.

"Jackal?" Marui menundukan kepalanya sambil menatapku.

"Aku takut..." ucapku sambil melihat lampu berwana merah itu.

"Tenanglah Jackal..." Marui melingkarkan tangannya pada bahuku. "Pasti berhasil. Yakinlah..." aku mengangguk.

Rasa sedih, kesal dan lega bercampur jadi satu. Pertama, aku merasa lega karena ada Marui yang berada disisiku sehingga aku bisa merasa tenang menunggu pertandingan sekaligus operasi yang sedang dihadapi oleh Yukimura. Namun... memang benar. Apa yang kita rencanakan belum tentu akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tepat lampu merah itu mati, terdengar suara sorakan dari radio yang membuatku diam membatu.

"Kita..." gumamku yang tidak percaya dengan apa yang sudah aku dengar sendiri.

"Ada apa, Jackal?" Marui menyadari keanehanku.

"Jackal?"

"Jackal-senpai?"

Semuanya mengelilingiku. Aku hanya menunduk dan berkata, "Kita... kalah...". Tidak hanya aku,semuanya terlihat syok dan terdengar suara Akaya yang mulai terisak.

"Lalu...bagaimana caranya kita memberitahu Yukimura?" ucap Yagyuu ditengah keheningan diantara kami sambil menunggu pintu besar itu dibuka.

-0000000000omakeend00000000-

Aoryuu: Akhirnya kelar ^^

Yuki: aoryuu, kenapa cerita na pas kejadian ini !

Sana: benar! Ini mimpi buruk!

Jackal-marui: aoryuu!

Marui: aoryuu, tokoh utama na siapa sih? Kok malahan jadi sanada yukimura?

Aoryuu: lah aku kan udah bilang sebelum na -_- bagaimana sih...

Marui: ...

Jackal: ya sudah... tak apa lah...

Akaya: aoryuu, aku kan ga cengeng..*emo cocon*

Yagyuu: ...

Yanagi: ii deta...

Aoryuu: yanagi, kenapa kamu jadi kayak inui?

Yanagi: ... *tunjuk belakang*

Ternyata semua na pada asik sendiri...

Aoryuu: ... *emo cocon*

Niou: ok.. dari pada gak ada yang nutup, mending ak ja degh.. (bis ga dapet apa2 juga) ok.. sekian dulu dari kami ya ^^

Please ur comment n review