Berhubung chapter lalu aku lupa mencet tombol 'Complete' & reader sekalian terlanjur menganggap ini multi chapter, so aku lanjutin aja nih fic jadi twoshoot, gak ada yang protes kan?
Okay langsung aja!
Disclaimer: Naruto bukan punya saya, tapi punya Om saya Masashi Kishimoto, kalo punya saya, tokoh utamanya bukan Naruto lagi, tapi Itachi hehehe...
Meskipun chapter lalu endingnya ItaIno udah gede, tapi chap ini kita balik lagi ke masa kecil mereka, berhubung ada yang nagih first kiss mereka, di sini aku kasih deh hehehe...
Chapter 2
=Barbie first kiss=
TAK!
TAK!
TAK!
Itachi menebas nebaskan pedang kayu pada target latihannya.
"Lebih keras lagi Itachi! Kau terlalu lemah!"
Seru Fugaku yang kini berperan menjadi guru latihannya, Itachi pun memperkuat hentakannya, sehingga suara yang ditimbulkan pun semakin keras.
Sejak kejadian pembantaian Klan Yamanaka, Itachi memutuskan untuk mulai berlatih bela diri, dia ingin melindungi seseorang yang penting baginya yang tak lain adalah sang putri Yamanaka.
"Apa hanya segitu saja kekuatanmu Itachi? Hentakkan lebih kuat! Apa kau pikir bisa menjatuhkan lawan jika kekuatanmu hanya segitu hah? Tunjukkan kemampuanmu sebagai seorang Uchiha!" Bentak Fugaku, dia memang akan sangat keras jika menyangkut kekuatan, ini lah seorang Fugaku Uchiha yang disegani dan ditakuti kawan maupun lawan di dunia hitam.
Sreek!
Suara pintu geser mengalihkan perhatian kedua orang Uchiha itu, dari balik pintu muncullah seorang gadis kecil berumur 7 tahun, rambut pirang pendeknya diikat dua, pakaiannya tak seperti biasanya yang selalu bergaya lolita, gadis itu saat ini hanya memakai T-shirt orange dengan celana pendek 10cm di atas lutut.
Itachi tak juga berkedip saat melihat penampilan gadis itu yang lain dari biasanya, Fugaku hanya menatap dalam diam.
"Ada apa Ino? Adakah yang kau inginkan?" Tanya Fugaku pada gadis kecil bernama Ino itu.
Ino mendekat ke arah Itachi dan Fugaku dengan langkah mantab, dan setelah jaraknya hanya tinggal beberapa langkah dari Fugaku, Ino berlutut dan merendahkan kepalanya di depan pria paruh baya itu, membuat Fugaku dan Itachi terkesiap.
"A...apa yang kau lakukan Ino?" Fugaku bermaksud membantu Ino berdiri kembali.
"Tolong bantu saya paman! Tolong, ajari saya cara bertarung! Tolong ajari saya agar saya bisa menjadi kuat!" Mohon Ino sambil menundukkan kepalanya lebih rendah.
Klotak!
Itu bukan jawaban, tapi suara pedang kayu Itachi yang terjatuh begitu saja, dan membentur lantai dengan pasrahnya.
Fugaku terdiam, meskipun mulutnya komat-kamit seperti ingin mengucapkan sesuatu namun tak juga dia katakan.
Itachi membatu seketika, jadi untuk apa selama ini dia berjuang agar jadi lebih kuat, sampai tangannya harus memar dan kemerahan, untuk Ino kan? Tapi barusan gadis itu bilang ingin jadi lebih kuat? Sia-sia kah usahanya selama ini? Jika Ino sudah menjadi lebih kuat, apakah dia masih dibutuhkan?
Itachi berspekulasi sendiri tentang nasibnya, di usianya yang baru 10 tahun itu dia sudah berpikir ingin lenyap saja jika sudah tidak dibutuhkan oleh Ino, bagaimanapun juga Ino adalah gadis pertama yang membuatnya berkorban dan bersusah payah seperti ini, jika semua usahanya sia-sia, mau disembunyikan dimana wajahnya itu? Padahal dia sudah berkoar-koar akan melindungi gadis itu di depan makam ayah Ino.
"Apa kau yakin Ino? Latihannya akan sangat berat lho" Fugaku tak yakin akan keputusan Ino, gadis itu menggeleng pelan.
"Tak apa paman, seberat apapun paman melatihku, akan kulakukan sekuat tenaga asalkan aku bisa menjadi lebih kuat!" Kata Ino mantab, Itachi dan Fugaku terhenyak, mereka tak menyangka jika Ino benar-benar serius akan permintaannya.
"Ehm, kalau boleh aku tahu Ino, kenapa kau begitu ingin menjadi kuat, bukankah sudah ada Itachi yang akan melindungimu, kau tidak perlu bersusah payah untuk berlatih, jadilah gadis yang lembut seperti yang telah ayahmu tanamkan kepadamu!" Kata Fugaku, dia mungkin tak akan tega untuk menyiksa Ino dengan banyaknya menu latihan yang tidak bisa dibilang ringan, bahkan untuk ukuran orang dewasa sekalipun, jika tak punya tekat yang kuat, mungkin akan menyerah di tengah jalan, apa lagi seorang gadis kecil yang baru berumur 7 tahun, dia bahkan lebih muda dari putranya.
"Aku ingin bisa melindungi orang-orang yang kusayangi, aku juga tak ingin merepotkan orang-orang di sekitarku, jika aku tetap lemah aku hanya akan mencelakai mereka, aku ingin suatu saat bisa melindungi Paman, Bibi dan...Itachi, atau mungkin adik Itachi nantinya dengan tanganku sendiri, aku ingin selalu bisa diandalkan!" Ino mengutarakan semua yang ada dalam pikirannya.
Fugaku mengangguk mengerti.
"Baiklah, kau akan jadi teman latihan Itachi mulai hari ini!" Kata Fugaku mantab.
"A-a-apa?" Wajah Itachi langsung memerah mengingat mulai hari ini dia akan berlatih dengan Ino.
"Bagaimana aku bisa berkonsentrasi latihan jika Ino ada bersamaku?" Seru inner Itachi, sedangkan Ino tersenyum puas karena permintaannya dikabulkan.
*My Barbie Babe*
Ino melangkah mantab menuju kelasnya, hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah setelah satu minggu absen pasca pembantaian klannya, dia merasa keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Ino-chaaan, kami kangen sama kamu, kamu baik-baik saja kan Ino-chan?" Ino langsung disambut oleh teman-temannya saat dia baru mencapai pintu.
Berita tentang kematian ayahnya memang sudah tersebar di seluruh sekolah, tapi tentu saja identitasnya tetap jadi rahasia.
"Aku sudah baikan kok, kalian tidak perlu khawatir, ada seseorang yang sudah menghiburku setiap harinya." Kata Ino lengkap dengan senyum manisnya.
Seseorang?
Kalian tahu siapa kan?
Tentu saja dia Itachi, anak itu selalu datang kekamar Ino setiap pulang sekolah dan langsung menyeret gadis itu keluar rumah, berbuat apapun supaya dia bisa mengembalikan senyuman Ino, dan nyatanya, usahanya sangat sukses, sekarang Ino sudah kembali menjadi gadis yang ceria.
Ino masih dikerubungi teman-temannya yang masih juga melemparinya pertanyaan, karena bingung mau menjawab pertanyaan yang mana, gadis itu malah mengalihkan perhatiannya dan tanpa sengaja tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang menekuni sesuatu di meja belakang.
"Kalau tidak salah dia itu namanya Sai kan? Kenapa dia tak pernah bermain dengan yang lain ya?" Batin Ino yang masih melirik anak laki-laki itu, dan saat pandangan Ino beralih, anak laki-laki bernama Sai itu diam-diam melirik Ino.
Istirahat siang
Tak biasanya Ino menolak ajakan teman-temannya pergi ke kantin, teman-temannya pun tak keberatan dengan keputusan Ino, karena mereka pikir Ino masih perlu waktu untuk sendiri.
Ino beranjak dari duduknya, kemudian berjalan keluar kelas dengan tergesa.
BRUK!
Ino menabrak seseorang saat sampai di depan pintu, dia terduduk di lantai dan meringis merasakan sakit di pantatnya.
"Ma...maafkan aku!" Seru seseorang yang baru saja ditabrak oleh Ino, gadis itu mendongak dan mendapati Sai yang tengah membereskan kertas-keras yang berserakan di lantai, Ino mengambil selembar kertas yang terjatuh di dekatnya.
"Uwaaaah gambar ini bagus sekali, ini kau yang membuatnya Sai-kun?" Decak Ino kagum, Sai yang tersadar langsung menyambar kertas di tangan Ino dengan kasar, wajahnya merona merah, mungkin karena malu.
"Ja...jangan dilihat! A...aku..."
"Jadi selama ini kau menggambar ya?" Ino memotong ucapan Sai, anak laki-laki itu menatap Ino bingung.
"Aku sering memperhatikanmu, kau selalu duduk di bangkumu sabil mengerjakan sesuatu, kau terlihat begitu fokus menatap kertas di atas meja, jadi ternyata kau sedang menggambar?" Ino tersenyum lembut ke arah Sai yang wajahnya lebih merah dari yang tadi.
"Bolehkah aku melihat apa saja yang sudah kau gambar Sai-kun?" Tanya Ino dengan melancarkan puppy eyes-nya yang memang terbukti ampuh pada siapa saja yang terkena jurus itu, tak terkecuali dengan Sai yang langsung menyanggupi permintaannya.
"Ba...baiklah, ta...tapi...jangan di sini! Masa kau mau melihatnya sambil duduk di lantai begini?" Kata Sai yang entah kenapa tiba-tiba terkena penyakit gagap.
"Yay...terimakasih Sai-kun!" Seru Ino riang, senyum lebar menghiasi wajah manisnya.
=oooooo=
Itachi berjalan melewati koridor sekolahnya, seperti biasa, dia ingin menemui Ino di jam jam seperti ini, mata onyxnya melihat dua orang anak kelas satu yang biasanya bersama Ino, tapi kali ini mereka hanya berdua? Lalu kemana ino?
Itachi memutuskan untuk menghampiri mereka.
"Ehm! Kalian teman Ino kan?" Kedua teman Ino itu tersentak saat mendengar nada dingin yang begitu familiar, mereka pun menoleh dengan ragu, siapa tahu mereka salah dengar, tapi saat mereka melihat sendiri seseorang yang tengah berdiri di belakang mereka, keduanya langsung mundur beberapa langkah.
"U...U...Uchiha S...Senpai?" Sebut mereka gugup, mereka benar-benar tidak menyangka akan diajak bicara oleh sang idola sekolah.
"Aku bukan penjahat, kenapa kalian ketakutan seperti itu?" Tanya Itachi masih dengan nada dinginnya, mata onyxnya menyipit, merasa tersinggung karena dianggap menakutkan oleh dua anak perempuan di depannya.
"Bu...bu...bukan begitu U...Uchiha Senpai, ka...ka...kami hanya...gugup..." Kata Matsuri.
"Aku hanya ingin tanya, Ino di mana? Bukankah dia selalu bersama kalian?" Tanya Itachi lagi.
"Em...dia tadi, tidak mau ikut dengan kami, ka...katanya sedang tidak mau pergi." Itachi mengerutkan keningnya.
"Apa dia ingat paman Inoichi lagi dan mau menyendiri lagi?" Batin Itachi yang kemudian meninggalkan kedua teman Ino begitu saja.
"Harus kupastikan! Aku sudah bersusah payah menghiburnya selama seminggu ini, masa dia mau murung lagi?" Batin Itachi tak terima.
Di kelas Ino
"Uwaaaa ini indah sekali Sai-kun, kau benar-benar hebat, kau pasti bisa jadi pelukis besar nantinya!" Ino menatap takjub pada kertas-kertas gabar Sai.
"Ini bagus, ini lucu, wah ini cantik sekali!" Ino mengamati satu persatu koleksi gambar Sai, sedangkan pemiliknya hanya terkikik geli melihat ekspresi Ino saat melihat setiap gambar yang berbeda.
"Kau lucu sekali Yamanaka-san." Kata Sai sambil masih terkikik geli, Ino mendongak melihat wajah Sai, gadis itu tersenyum manis.
"Sai-kun bisa tertawa juga rupanya, bukankah lebih baik begitu daripada hanya duduk tanpa ekspresi dan menyendiri di pojok ruangan? Ah ya, mulai sekarang kau cukup memanggilku Ino saja ya!" Ino kembali mengalihkan perhatiannya ke tumpukan kertas di depannya.
"A...ano...I...In...no, kau juga panggil aku Sai saja!" Sai berusaha mati-matian untuk menyebut nama Ino, gadis itu mendongak lagi dan kembali tersenyum pada Sai.
"Baiklah Sai!"
DEG!
Jantung Sai hampir melompat keluar saat mendengar namanya disebut dengan sangat lancar oleh Ino.
Srak!
"Ino?"
Seru Itachi kini telah berdiri di depan pintu kelas, mata Onyxnya langsung tertuju pada Ino dan Sai yang memang penghuni terakhir di kelas itu, yang lain memang lebih memilih keluar kelas saat jam istirahat.
"Ah Itachi! Sini deh, lihat koleksi gambar Sai bagus-bagus lho!" Ino mengundang Itachi dengan polosnya, tanpa tahu kalau tensi Itachi langsung naik saat melihat Ino dekat dengan anak laki-laki lain.
Itachi menghampiri Ino dengan langkah menghentak, menandakan seberapa kesal dirinya saat ini.
Grep!
"Eh?"
Ino terkejut saat Itachi mencengkram lengannya dengan sangat kuat, aquamarinenya menatap onyx Itachi.
"Ikut aku!" Perintah Itachi dengan nada super dingin, kemudian langsung menyeret Ino dari tempat itu.
"Tu...Itachi, sakit! Tunggu! Kau ini kenapa?" Ino mencoba melepaskan diri dari Itachi, tapi bagaimanapun usahanya tetap sia-sia, dia tak mampu membebaskan diri dari cengkraman anak laki-laki yang lebih tua 3 tahun darinya itu.
Sedangkan Sai hanya mampu berdiam diri melihat Ino diseret paksa oleh sang idola sekolah.
Di taman sekolah.
Bruk!
"Aduh!"
Ino mengaduh kesakitan saat dirinya terjatuh setelah tersandung batu kecil yang menghalangi jalannya, Itachi menghentikan langkahnya dan terkesiap saat melihat Ino meringis kesakitan.
"I...I...Ino, maaf...maafkan aku!" Itachi berjongkok di depan Ino yang terduduk, Ino mendongak dan menatap kesal pada Itachi.
PLAK!
Itachi terbelalak saat merasakan pipi kirinya terasa panas karena tamparan Ino barusan, anak itu mengelus pipinya yang memerah, Onixnya menatap tak percaya pada Ino yang masih menyorot tajam padanya.
"Sakit Itachi Sakit! Sudah kubilang berapa kali dan kau tetap tak memperdulikan aku!" Seru Ino di depan wajah Itachi, tangan mungilnya mengusap-usap lengannya yang terasa sakit, dan ada bekas cengkraman di sana.
"Ma...maafkan aku! A...aku hanya..." Itachi tak melanjutkan ucapannya dan hanya menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah karena telah menyakiti Ino.
Ino berdiri dari posisi duduknya, lututnya sedikit lecet dengan darah yang merembes dari sela-sela lukanya, Itachi yang melihatnya merasa benar-benar bersalah saat ini.
"Ugh, sakit..." Lirih Ino sambil meraba permukaan lututnya yang terluka.
"Bi...biar kubantu!"
"TIDAK USAH!"
Ino menepis tangan Itachi yang akan menyentuhnya, Itachi terkesiap dengan penolakan Ino.
"I...Ino-chan?"
"Aku tidak mau dekat-dekat dengan orang kasar sepertimu!" Sentak Ino yang kemudian berjalan tertatih meninggalkan Itachi, membuat dunia Itachi runtuh seketika begitu sadar bahwa saat ini Ino sedang marah besar padanya.
=oooooo=
TAK!
TUK!
TAK!
Ino memukul-mukul target latihan dangan pedang kayunya, dalam benaknya, target di depannya adalah Itachi, gadis itu kesal dengan kelakuan Itachi tadi siang, dia tidak mengerti kenapa Itachi bisa menyeretnya dengan begitu kasar seperti tadi siang, bahkan tidak memperdulikan seruan kesakitan darinya.
"Huh, DASAR BODOH!"
PRAK! TRAK! TRAK!
Ino memukul targatnya semakin kasar, melampiaskan kekesalannya pada sebatang kayu tak berdaya di depannya.
Sreek!
Pintu geser terbuka, Ino mengalihkan perhatiannya ke arah pintu, tapi kemudian membuang muka ke arah lain saat melihat orang yang berada di depan pintu adalah Itachi.
Ino kembali memukul mukul target, sama sekali tak memperdulikan keberadaan Itachi di ruangan itu.
Itachi melangkah perlahan mendekati Ino, bermaksud menyapa gadis kecil itu, sikapnya masih sedikit canggung, dia ingat betul bagaimana kelakuannya tadi siang yang telah membuat Ino marah besar padanya.
"Ng…..Ino…."
PRAK!
Ino membanting pedang kayunya ke lantai sebelum Itachi menyelesaikan ucapannya.
"…-chan"
Itachi berdiri terpaku melihat Ino yang meninggalkannya tanpa memperdulikan panggilannya.
"Dia benar-benar maraaaaaah!" Seru Inner Itachi yang mulai frustasi.
*My Barbie Babe*
Sudah tiga hari Ino mendiamkan Itachi, dia selalu menghindari Itachi saat mereka hampir berpapasan, di dalam mobil pun Ino tak pernah bicara dan menjaga jarak dengan Itachi, saat pulang sekolah Ino langsung menuju kamarnya, atau kalau tidak dia akan pergi ke dojo untuk latihan.
Itachi benar-benar merasa seperti patung berjalan saat ini, karena dia sama sekali tak diperdulikan oleh Ino.
Siang itu Ino sedang ngobrol dengan teman-temannya di dalam kelas, gadis itu tak memperdulikan Itachi yang sejak tadi memperhatikannya dari sela pintu kelas yang sedikit terbuka.
"Ino-chan, kau tidak pergi dengan Uchiha senpai?"
"Tidak!" Jawab Ino langsung.
"Um….kalian sedang bertegkar ya? Kulihat akhir-akhir ini kalian tidak pernah jalan berdua?"
"Aku tidak mau jalan berdua dengan orang kasar seperti dia!" Kata Ino ketus, aquamarinenya melirik tajam ke arah Itachi memperhatikannya dengan ekspresi datarnya, yah diluarnya sih datar-datar saja, tapi innernya Itachi sudah mencakar-cakar tembok terdekat sebagai pelampiasan kekesalannya.
Ino mengalihkan perhatiannya ke pojok ruangan, dia melihat Sai sedang mencorat-coret kertas gambar.
"Eh, kita lihat Sai yang sedang menggambar yuk! Dia pintar sekali menggambar lho." Ajak Ino pada teman-temannya dengan senyum ceria yang dibuat-buat.
"Oh ya? Memangnya kau pernah bicara dengannya?"
"Tentu saja, aku bahkan sempat melihat koleksi gambarnya." Kata Ino sambil berjalan menuju meja Sai.
"Hai Sai, hari ini kau mengambar apa?" Ino duduk di kursi depan bangku Sai, anak laki-laki itu mendongak dan mendapati Ino tengah mengamati gambarnya dengan antusias.
"A….aku sedang menggambar burung phoenix" Kata Sai tersipu.
"Wah cantik ya? Aku baru tahu kau pintar menggambar Sai-kun!" Seru teman Ino.
"Benar kan? Dia pintar menggambar!" Kata Ino dengan senyum lebarnya.
Kali ini bukan hanya Inner, tapi kenyataannya saat ini Itachi sedang menggigit gigit ujung daun pintu sambil menatap tajam anak laki-laki di depan Ino.
"Ano…..Ino, apa tidak apa-apa membiarkan Itachi-san seperti itu?" Tanya Sai dengan menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap langsung mata Itachi yang menyorot tajam padanya, Ino melirik ke arah pintu, dan mendapati sosok Itachi dengan posisi yang tak layak untuk diperlihatkan.
"Ck, biarkan saja!" Kata Ino ketus, kemudian membuang muka dari Itachi.
=oooooo=
Mobil sedan hitam telah terparkir rapi di halaman Uchiha Mansion, Ino buru-buru turun dari mobil dan segera berlari untuk menuju kamarnya, Itachi mengejar Ino dan menagkap pergelangan tangannya, gadis kecil itu menoleh ke arah Itachi.
"Ada apa? Kau mau membuat lenganku memar lagi?" Tanya Ino ketus, Itachi menggeleng lemah, Ino melebarkan matanya saat melihat sikap Itachi barusan.
"Bolehkah….aku bicara sebentar?" Pinta Itachi, Ino mengangguk ragu, dia sedikit terkejut dengan sikap Itachi yang menjadi begitu lembut.
Itachi menggandeng Ino menuju taman belakang, Ino hanya menurut saja kemana Itachi membawanya.
Itachi berhenti di dekat air mancur mini di tengah taman, kemudian berbalik menghadap Ino.
"Ng...Ino-chan..." Itachi berucap ragu, sementara Ino menunggu kelanjutan ucapan Itachi dengan menatap anak laki-laki itu penuh tanya.
"Ada apa?" Tanya Ino pada Itachi yang belum juga melanjutkan kata-katanya.
"I...itu...soal yang waktu itu, maafkan aku!" Kata Itachi dengan menundukkan kepalanya, Ino melebarkan mata aquamarinenya, tapi kemudian kembali datar.
"Jadi kau baru merasa bersalah sekarang?" Tanya Ino ketus, Itachi mendongakkan kepalanya, menatap Ino.
"A...aku...sebenarnya aku ingin minta maaf padamu hari itu juga, tapi...kau menghindariku." Itachi memelankan suaranya di kalimat terakhir, dan kembali menundukkan kepalanya hingga poninya yang sedikit panjang menutupi sebagian wajahnya, Ino tersenyum tipis.
"Kau sudah tahu kan rasanya diabaikan?" Tanya Ino, tangan mungilnya menyingkap poni Itachi, memperlihatkan wajah terkejut pemiliknya.
"Waktu itu kau mengabaikanku, tidak memperdulikan panggilanku, aku kesal padamu, aku ingin kau tahu rasanya diabaikan, makanya aku menghukummu dengan cara seperi kemarin!" Kata Ino dengan mengembungkan pipinya pura-pura kesal pada Itachi.
"Ma...maafkan aku, aku hanya...aku..."
"Aku sudah memaafkanmu kok! Jadi tidak usah menangis ya!" Kata Ino dengan polosnya sambil mengelus kepala Itachi, karena dia pikir Itachi akan menangis, tapi ternyata bukannya menangis tapi wajah Itachi berubah warna menjadi semerah tomat matang.
"Are? Kau sakit ya? Wajahmu merah sekali Ita..."
"Aku tidak apa-apa!" Ino terkesiap saat Itachi memotong ucapannya tiba-tiba.
"Kau...tidak mau tahu alasan kenapa aku...menarikmu waktu itu?" Wajah Itachi semakin merah, sedangkan Ino hanya menelengkan kepalanya saja, dia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Itachi.
"Um...memangnya kenapa?" Tanya Ino dengan polosnya, membuat Itachi semakin salah tingkah.
"I...itu...ka...karena...aku...tak ingin melihatmu dekat dengan anak laki-laki lain!" Kata Itachi dengan intonasi yang semakin dipercepat, matanya terpejam, wajahnya setingkat lebih merah, jika berikutnya akan meningkat lagi tingkat kemerahannya, mungkin kepala Itachi akan meletus seperti balon kelebihan udara.
"Um...kenapa begitu?" Ino semakin bingung, Itachi tak berani menatap gadis kecil di depannya.
"Ka...karena...aku...suka...aku suka kamu!" Kata Itachi dengan penuh perjuangan melawan gengsi, harga diri dan rasa malu.
Itachi melirik Ino dengan membuka sedikit sebelah matanya, tapi kemudian melebar saat melihat Ino tersenyum padanya.
"Aku juga suka Itachi kok" Kata Ino dengan polosnya (Suka versi Ino untuk saat ini masih berbeda dengan suka versi Itachi)
Itachi melebarkan matanya, dia terlihat sangat senang saat ini, merasa perasaannya terbalas oleh Ino, merasa kalau 'suka' yang dikatakan gadis itu sama artinya dengan 'suka' yang dia maksud.
"Be...benarkah? Kau suka aku?" Tanya Itachi penasaran, Ino hanya mengangguk mantab, dan tanpa peringatan apapun, entah siapa yang mengajari Itachi tentang ini, anak laki-laki itu langsung mendekap Ino dan mencium bibirnya.
Cukup lama mereka dalam posisi itu, mungkin karena Itachi baru tahu bagaimana rasanya berciuman, anak itu tak juga melepas bibirnya, dia sudah lupa akan kodratnya sebagai manusia yang butuh bernafas, hingga lengan kecil Ino meronta ingin lepas, Itachi baru memisahkan diri dari Ino.
Itachi mengelus pipi Ino yang lembut seperti pualam, tak ada kata yang terucap dari bibirnya yang baru saja merebut ciuman pertama gadis di depannya, yang ada hanyalah senyuman kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.
"Ano..." Ino mulai bersuara, Itachi memberi perhatian penuh padanya.
"Yang tadi itu salam untuk apa?" Tanya Ino dengan wajah kelewat polos, dunia Itachi yang awalnya begitu indah kini runtuh seketika setelah mendengar pertanyaan Ino.
"Sa-sa-salam?" Tanya Itachi yang entah kenapa saat ini melupakan Undang Undang Klan Uchiha yang mengharuskan para keturunannya memiliki otak genius, kini Itachi menatap Ino dengan tampang bloon nan bego yang pernah dia perlihatkan.
"Um, yang tadi ciuman salam untuk apa?" Ino melah menegaskan pertanyaannya, dan membuat dunia Itachi semakin hancur, tapi berkat itulah Itachi sadar akan suatu fakta yang dengan berat hati harus dia akui kebenarannya.
Itachi baru ingat, selain Ino itu baru berumur 7 tahun, gadis itu juga baru pulang dari LA, dia menghabiskan seumur hidupnya di tempat yang seluruh penduduknya menganggap kalau ciuman itu adalah hal biasa.
OWA...
"TUNGGU DULUUUUUU!"
Ruru: Nengok ke belakang, ada Itachi lagi melotot horor ke arah author "Ada apa Ita-kun?"
Ita: "Enak aja lu maen owari owari! Lanjutin dulu kek, kapan Ino bener-bener suka sama aku? Kapaaaaan?"
Ruru: "Um...jadi kamu nggak puas?"
Ita: "Nggak!"
Ruru: "Okay okay, kita balik lagi ke cerita!"
Ino baru tahu maksud ciuman Itachi di umurnya yang ke 10, saat itu dia terlibat pembicaraan dengan teman-teman perempuannya yang sedang membahas tentang cowok yang disuka.
Gini nih ceritanya.
Hari minggu siang di taman kota.
Sekelompok anak perempuan berusia sekitar 10 tahun sedang berbincang di dekat ayunan.
"Uwaaa, jadi Matsuri-chan suka sama Sora-kun?" Pekik seorang gadis berambut ikal, sedangkan gadis yang dimaksud hanya tersipu malu.
"Apa kau sudah menyatakan perasaanmu?" Buru gadis satunya yang berambut hitam panjang, Matsuri hanya menggeleng pelan, wajahnya setingkat lebih merah dari yang tadi.
"Ah jadi belum ya?" Sesal gadis berambut ikal yang memekik girang tadi.
"Ah ngomong-ngomong soal suka, Ino-chan kamu punya seseorang yang kamu suka nggak? Pasti ada dong?" Tanya gadis berambut ikal penuh selidik, Ino tersentak saat mendengar pertanyaan temannya itu.
"Maksudmu suka yang bagaimana?" Ino melirik curiga pada temannya itu.
"Ah Ino-chan, tak usah pura-pura lah! Tentu kau tahu maksudku suka dengan lawan jenis, saat kau merasa menyukai seseorang, kau akan merasa nyaman jika berada di dekatnya, jantungmu akan berdetak lebih cepat dari keadaan normal, wajahmu terasa panas saat berada di dekatnya, atau saat kau sedang memikirkannya, masa tidak ada orang yang membuatmu merasa begitu sih?" (ini anak kecil baru 10 taon udah ngerti sama yang begituan, ckckck anak-anak jaman sekarang...*geleng-geleng prihatin*)Lanjut!
Wajah Ino sontak memerah saat mendengar penjelasan temannya.
"Ti...tidak ada!" Jawab Ino ragu.
"Bohong, wajahmu tidak mengatakan itu!" Sangkal Matsuri, Ino menatap Matsuri tak mengerti, ternyata dia tidak sadar kalau wajahnya sudah memerah.
"Kenapa?" Tanya Ino dengan mengembungkan pipinya.
"Wajahmu merah lho, hayo siapa yang sedang kau pikirkan?" Goda teman-teman Ino.
"Ti-ti-tidak ada!" Sangkal Ino, wajahnya kembali memerah, jujur saja sebenarnya saat ini yang terpikir dalam benak Ino adalah wajah Itachi.
"Jangan-jangan...Uchiha senpai ya?"
"B...bukan!" Ino masih mengelak, padahal wajahnya sudah seperti balon merah yang kelebihan udara.
"Masa siiiih?" Matsuri dan yang lainnya tak gentar untuk mendesak Ino, sedangkan si gadis pirang mulai berkeringat dingin.
"KYAAAAAAA!"
Sebuah suara teriakan dengan sukses mengalihkan perhatian sekumpulan gadis cilik itu, Ino merasa bersyukur dan sangat berterimakasih sekali pada si pemilik suara, karena telah membebaskannya dari situasi tersulit dalam hidupnya.
Semuanya menoleh ke arah seorang gadis yang sedang berlari ke arah sekumpulan gadis kecil itu.
"Ada apa mayu-chan?" Tanya para gadis itu pada teman mereka yang baru datang.
"Ta-ta-tadi aku lihat a-ada yang sedang ciuman di sana!" Kata gadis bernama Mayu itu sambil menunjuk arah dari mana dia datang tadi, wajah gadis itu memerah seperti kepiting rebus dan tubuh mungilnya gemetaran.
"Oh ya?" Yang lain tampak antusias dengan berita dari Mayu, minus Ino yang sampai sekarang masih menganggap ciuman itu hal biasa.
"Apa perlu seheboh itu? Ciuman kan hal yang biasa dilakukan orang sebagai salam pertemuan?" Kata Ino dengan polosnya, membuat teman-temannya melotot horor pada gadis pirang itu.
"Kau ini bicara apa Ino-chan? Kau itu hidup di mana sampai menganggap hal sakral seperti itu adalah hal biasa?" Tanya gadis berambut ikal, Ino bengong tak mengerti, selama ini dia selalu menganggap ciuman itu hal biasa karena bawaan dari tempat tinggalnya semula di LA.
"Memangnya ada arti lain?" Tanya Ino, lagi-lagi dengan tampang polos, membuat teman-temannya semakin melebarkan matanya.
"Begini ya Ino-chan, di sini yang namanya ciuman itu hanya diakukan dengan orang yang disukai, dan mencium seseorang itu artinya suka, cinta dan semacamnya masa kau tidak tahu?" Teman-teman Ino melirik gadis pirang itu dengan ekspresi tak percaya, sedangkan Ino mulai memutar ulang memorinya.
Dalam memori otaknya teringat saat Itachi menciumnya 3 tahun lalu, wajah Ino sontak memerah mengingat hal itu.
"Ma-ma-mana mungkin artinya begitu kan?" Sangkal Ino dengan wajahnya yang semakin merah.
Teman-temannya melirik curiga pada gadis itu.
"Jangan-jangan...Ino-chan...kau pernah..."
"INO!"
Terdengar suara seseorang memanggil Ino dari luar taman, dan semua mata tertuju pada sumber suara, sekali lagi Ino bersyukur dan sangat berterimakasih sekali pada si pemilik suara yang telah membebaskannya dari situasi sulit, tapi kemudian ekspresi lega Ino berubah pucat saat melihat orang yang memanggilnya adalah Itachi.
"Kita kan mau pergi hari ini, kau lupa ya?" Seru Itachi masih berada di luar taman dengan menunggangi sepeda.
Teman-teman Ino langsung menatap Ino dengan tatapan menggoda.
"Pangeranmu datang menjemput tuh Ino-chan~" Goda Matsuri, tak mau berlama-lama dengan ejekan teman-temannya Ino langsung melesat meninggalkan kelompoknya itu menuju tempat Itachi menunggunya.
"Besok cerita-cerita lagi ya Ino-chan!" Seru teman-teman Ino saat melihat Ino meninggalkan mereka dengan wajah yang semerah tomat matang, seolah tak memperdulikan godaan teman-temannya, Ino tetap berlari menjauh dari mereka.
Di depan pintu masuk taman.
"Kalian lagi ngobrol apaansih?" Tanya Itachi saat Ino sudah berada di dekatnya.
"Bu-bukan apa-apa!" Kata Ino dengan menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Apa benar Itachi melakukan itu karena dia suka aku?" Batin Ino ragu.
"Ino?" Itachi menelengkan kepalanya demi melihat wajah Ino yang tertunduk.
"Ada yang salah?" Tangan kanan Itachi menyibakkan poni Ino yang menutupi wajah manisnya, Ino tersentak saat merasakan sentuhan lembut itu, tiba-tiba jantungnya berdegup lebih kencang dari yang tadi.
"Ng...a..aku tidak apa-apa kok." Kata Ino, Itachi melirik Ino curiga, tapi dia tak mau ambil pusing soal itu.
"Ya sudah lah, ayo naik!" Itachi bersiap dengan posisinya, Ino mendongak dan menatap sepeda yang digunakan Itachi dari depan hingga belakang, tak ada tempat untuk membonceng di sana, sedangkan pijakan di roda belakang yang biasanya dipakai untuk membonceng dengan cara berdiri, sepertinya terlalu tinggi untuk Ino.
"Ano...aku naik di mana?" Tanya Ino dengan polosnya, Itachi menyerigai tipis, tapi tak sempat di lihat oleh Ino.
"Di sini." Itachi menunjuk besi yang melintang lurus dari tempat duduknya hingga stang sepeda, Ino menatap horor tempat itu.
"apa nggak sakit kalau duduk di situ?" Ino meletakkan telunjuknya di bibir mungilnya, membuat Itachi tergoda sesaat, kemudian menggeleng cepat, menyadarkan dirinya akan fantasi yang berkelebat di dalam pikirannya barusan.
"Nggak akan sakit kok, aku janji nggak akan lewat di jalanan yang rusak." Kata Itachi meyakinkan Ino.
"Sini, kubantu naik!" Itachi mengulurkan tangannya untuk membantu Ino, gadis itu menyambut tangan Itachi kemudian naik ke tempat yang ditunjuk Itachi tadi.
"Aku pegangan di mana?" Tanya Ino setelah berhasil naik, Itachi hanya tersenyum dan menuntun tangan Ino melingkar di pinggangnya, wajah gadis kecil itu kembali memerah.
"Kau suka posisi ini Ino-chan?" Seringai tipis tersungging di bibir Itachi, Ino tak menjawab apapun, hanya menenggelamkan wajahnya di dada pemuda yang lebih tua 3 tahun darinya itu.
"Kalau aku sih suka sekali hehehe..." Itachi mulai mengayuh sepedanya, menjauh dari area taman.
"Suka?" Tanya Ino dalam hati sambil mengeratkan pegangannya di pinggang Itachi, membuat Itachi menyunggingkan senyum kemenangan.
"Khufufu..."
Dan sejak saat itulah Itachi mulai suka menjahili Ino, karena menurutnya wajah Ino saat memerah itu sangat-sangat manis.
Kali ini beneran OWARI
Ruru: "Gimana Ita-kun udah puas?"
Ita: "Khufufu...Ino-chan..." Ngayal yang nggak nggak.
Ruru: "Lupakan soal Itachi yang lagi kasmaran! Nah readers mind to RnR?"
*Salam Cute*
