Chrysanthemum

Author's Note : Don't Like, Don't Read. P3 X P4, AU, OOC

Rated : T

Genre : Drama / Tragedy

Disclaimer : Persona 3 & Persona 4 © Atlus, Curse Of The Golden Flower © Zhang Yimou & Sony Pictures


BAB 1

BACK TO THE PAST

.

.

Suatu hari di bulan September, di kota Iwatodai, pada akhir bulan kedelapan tahun 1406 Masehi, bulan kedelapan perhitungan Lunar, tahun kedelapan ratus delapan puluh delapan Takijo, pada zaman Dinasti Kirijo yang agung. Musim gugur datang terlambat, dan angin selatan berhembus sehangat angin musim panas. Angin itu membawa serta helaian kelopak bunga sakura pegunungan ke atap-atap rumah. Kelopak bertiup ke jalan-jalan, lalu berputar-putar dalam pusaran dan menyudut ke balik pintu dan jendela sebelum akhirnya mengendap di sudut-sudut, di atas meja kursi, dan celah-celah pakaian. Tak jarang pula beberapa di antaranya melekat di wajah anak-anak jika mereka menangis dan di wajah orang-orang tua yang telah dimakan zaman.

Iwatodai memang seperti apa yang dilukiskan oleh banyak orang. Sejak didirikan pada zaman pertengahan dinasti Shirogane, kota itu selalu memancarkan pesonanya yang tidak biasa. Wilayahnya membentang dari utara ke selatan, barat ke timur melewati sungai Samegawa hingga Laut Jepang. Ia adalah sebuah kota yang makmur karena perdagangannya yang maju dengan Arab, India dan Tiongkok. Rakyatnya makmur karena perdagangan maju dan keamanannya yang terjaga. Pedagang asing dari barat dan selatan banyak berdatangan seperti semut mengerumuni gula. Sebuah kota yang sempurna memang sehingga tidak mengherankan jika kota ini kemudian ditetapkan sebagai ibukota bahkan hingga 1000 tahun kemudian setelah Dinasti Shirogane tumbang, digantikan oleh Dinasti Arisato sebelum akhirnya dikuasai oleh Dinasti Kirijo.

Tetapi sesungguhnya, apakah itu yang membuat kota itu mempesona?

Apakah karena tingkat kemakmurannya yang tinggi?

Atau karena keamanannya yang sedemikian rupa?

Tidak.

Kesempurnaan hakiki dari kota tersebut tidak terletak pada semua hal itu.

Melainkan pada satu hal yang jauh lebih sederhana.

Keindahan dan kemegahan.

Hanya itu.

Keindahan dimana segalanya serba teratur dan keindahan dimana semuanya tertata dengan serba menawan dan rapi dalam sebuah sistem. Di kota yang terlindung oleh dinding setinggi tiga puluh tombak itu, kau tidak akan pernah mendapatkan suatu bentuk struktur bangunan yang retak, tidak simetris, tidak terurus lagi tidak artistik dan harmonis. Cobalah kau berjalan menyusuri setiap sudut kota, maka kau akan menemukan dirimu senantiasa menapak jalan besar berlantai batu yang mulus tanpa kerikil serta lubang sementara ketika kau merasa lelah, kau telah mendapati dirimu berada di tengah taman maple yang indah dengan sesekali diiringi alunan musik klasik bercampur puisi yang memanjakan telinga tanpa pernah berkesudahan. Menyambung...menyambung dan terus menyambung. Terus demikian sehingga tak jarang kesadarannmu telah melayang, memasuki dunia khayal dimana sebuah kota adalah bukan kota. Sebuah pemandangan bukanlah pemandangan. Itu adalah sebuah lukisan...dan kau adalah salah satu unsur di dalamnya.

Indah memang.

Apalagi jika kau mendapatinya saat malam dimana seluruh kota akan bermandikan cahaya ratusan lampion berlambang kekaisaran di dalamnya seperti sekarang ini. Bukan di pinggir kota, bukan pula di pelabuhan dan bukan pula di paviliun hutan sakura yang terletak pada kaki pegunungan Tartarus. Melainkan pada pusat kota, di dalam sebuah gedung megah dengan papan nama bertuliskan 'Istana Kemurnian Surgawi' yang merupakan tempat keluarga kaisar tinggal dalam kemewahan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian dunia luar.

Semua keluarga kaisar….

Termasuk di dalamnya Mitsuru Kirijo, sang permaisuri yang sedang sibuk merias diri di depan sebuah meja rias antik hitam berhiaskan ukiran emas naga dan burung phoenix pada bingkainya. Dengan hati-hati kedua tangannya bekerja untuk memoles wajahnya agar tampak sempurna. Dari memasang make up hingga memilih perhiasan emas yang kiranya cocok jika dipadukan dengan jubah sutra emasnya. Matanya memancarkan keanggunan namun pada saat yang sama juga memancarkan ketakutan. Apalagi ketika salah seorang kasim istana datang dan memberinya kabar.

"Rombongan Sri Baginda Kaisar telah sampai di gerbang kota! Harap Yang Mulia Permaisuri untuk segera bersiap melakukan penyambutan!"

Jujur saja secara pribadi Mitsuru tidak pernah menyukai saat-saat seperti ini. Baginya kegiatan upacara penyambutan atas kedatangan suaminya itu lebih menyerupai siksaan daripada tanda kesukacitaan.

"Bagaimana dengan yang lain?" tanyanya, berusaha menyembunyikan kegugupannya yang muncul bersamaan dengan rasa takut yang sedang bergejolak.

"Semua sudah siap Yang Mulia. Para selir, tentara dan semua pembesar sudah menunggu di lapangan..." jawab sang kasim.

.

Bertemu lagi dengan pria itu...

.

Mitsuru menghela nafas. Ketika tangannya memutuskan untuk mengambil sebuah tusuk rambut berkepala ukir - ukiran, ia kembali menghadapkan matanya ke arah kaca. Bukan ke arah bayangan sang kasim, melainkan pada sosok bocah sepuluh tahun yang sedang asyik mengamati kumbang peliharaannya di pojok ruangan.

Ia lalu kembali berkata.

"Kalau begitu, mungkin juga sudah waktunya bagimu untuk untuk bergegas, Ken. Jangan buat ayahmu menunggu."

"Baik, bu..."

Bocah itu menurut. Ia tidak mempertanyakan kehendak ibunya. Ucapan ibu adalah perintah, bukan ajakan untuk berdiskusi. Ia hanya mengangguk patuh dan segera berjalan keluar. Meninggalkan sang ibu dalam kesendirian setelah sebelumnya sempat sedikit meramaikan tempat itu dengan kepolosan anak seusianya. Suatu hal yang sebenarnya cukup mengganggu, akan tetapi pada saat yang sama juga satu-satunya hal yang sanggup membuatnya tersenyum.

Atau mungkin lebih tepatnya disebut sebagai satu-satunya hal selain 'hal itu'.

Tapi adakah satu dua orang yang mengetahuinya?

Maka jawabannya adalah , "Kuharap tidak!"

.

TBC