Chrysanthemum

Author's Note : Don't Like, Don't Read. P3 X P4, AU, OOC

Rated : T

Genre : Drama/Tragedy

Disclaimer : Persona 3 & Persona 4 © Atlus, Curse Of The Golden Flower © Zhang Yimou & Sony Pictures


.

BAB 2

GENBU

.

TENG! TENG! TENG!

Gema suara lonceng penunjuk waktu terdengar ke seluruh pelosok istana. Menandakan jika malam semakin larut.

Sang permaisuri telah meninggalkan kamarnya. Dengan segala persiapan yang telah dilakukannya, ia kini tengah berjalan menyusuri lorong-lorong istana. Melewati setiap langkah karpet merah yang terbentang dan lantai marmer yang dilapisinya.

Adapun ucapan kasimnya itu benar adanya, segalanya telah siap. Sejauh matanya memandang ia bisa menyaksikan bagaimana rangkaian lampion yang tergantung di langit-langit berpadu dengan tiang-tiang emas dan kusen-kusen eboninya yang kaya ornamen. Sesekalinya ia menemukan sebuah jendela, jendela itu telah berhiaskan kaca patri berlambang bunga krisan pada porosnya sedangkan jika ia menemukan sebuah pintu, pintu itu tentunya telah berhiaskan berbagai macam hal. Sebut saja pintu kamarnya yang berhiaskan lempeng plat berlapis emas berbentuk burung phoenix, kamar anak ketiganya (Ken) yang berbentuk ikan koi dan anak keduanya yang berbentuk macan. Segalanya tampak begitu sempurna, terlebih tak jarang di beberapa bagian lorong kerap kali dijumpai untaian kain sutra yang membentang pada langit-langit tangga.

Eksotis memang.

Sekaligus lambang perihal bagaimana kekaisaran ini dibangun...dan bagaimana pula tingkat kemakmurannya yang konon merupakan alasan utama Kerajaan Iori untuk menyerang negara itu ratusan tahun silam.

Tetapi sungguh...bukan itu fokus yang dimiliki Mitsuru sekarang. Wajahnya ketika itu memang tidak menunjukkan suatu perubahan ekspresi yang berarti akan tetapi manakala organ penglihatannya itu menangkap bayangan rembulan di langit, ia terdiam sejenak. Memandanginya seolah menatap sesuatu yang lebih tinggi darinya dan lebih abstrak ketimbang rangkaian bintang-bintang di langit.

Selalu begitu...

Hingga...

Secara tiba-tiba, tubuhnya kembali tergetar. Membuat jantungnya serasa berteriak dan darahnya meronta. Ingin rasa bibirnya untuk berucap manakala rahangnya serasa diikat sementara peluh mulai keluar secara tidak normal.

.

Tidak, kumohon

Jangan sekarang!

.

"Yang Mulia!"

Dengan sigap, sang kasim istana mencoba untuk menolong. Hanya saja pada saat ia hendak membantu, yang bersangkutan keburu mencegah dengan sebuah tampikan.

"Tak apa..."

Begitulah kiranya ekspresi wajah Mitsuru ketika menggeleng dalam sunyi, membuat kasimnya bingung sebagaimana halnya kelima hulu balang di kiri kanannya yang merasakan hal serupa. Seolah tiada merasakan apapun sebelumnya, wanita berbalut kimono sutra itu dengan perlahan kembali mencoba untuk berdiri. Berusaha menggapai kembali keseimbangan tubuhnya dan kemudian memerintahkan seorang hulu balang wanita berambut bob di sebelah kirinya untuk membawakan sebuah sapu tangan guna menyeka setiap butir bilur keringat yang mengganggu kecantikan paras eloknya kala itu.

Aneh memang melihat kelakuan seorang Mitsuru Kirijo. Tetapi memang itulah dia. Seorang yang keras hati, angkuh tetapi selalu nampak elegan dan kuat. Terlahir sebagai satu-satunya anak Kaisar Kirijo yang sah tidak membuatnya tumbuh lemah sebagai seorang wanita rumahan. Ia adalah seorang yang pandai lagi cantik. Ilmu sastra-nya dapat dibandingkan dengan ilmu para sastrawan yang mengikuti ujian negara setiap tahunnya karena ia dididik oleh kakeknya semasa beliau masih hidup. Semua kitab-kitab kebijaksanaan mulai dari Tripitaka, Daodejing hingga Gathas dapat dihapalnya luar kepala oleh otaknya yang cerdas. Dalam bidang seni diplomasi juga ia tampil begitu brilian dalam mengatasi setiap permasalahan terkait sengketa-sengketa internasional dengan pihak utara. Tak salah memang jika kemudian banyak orang kemudian menjulukinya sebagai 'permata dari timur' karena kemampuannya yang demikian. Sehingga bukan suatu hal yang mengherankan apabila pada usianya yang kelimabelas, berbondong-bondong pria dari seluruh dunia datang untuk melamarnya. Ada Pangeran Teddie dari Persia yang terkenal tampan. Adapula pangeran Junpei dari Formosa yang terkenal tangguh di medan laga. Singkatnya kecerdasan dan paras elok merupakan suatu kesempurnaan yang melekat padanya.

Hingga kemudian ayahnya membuat sebuah keputusan besar dengan menikahkan dirinya pada seorang jendral perangnya yang handal. Seorang jendral yang kelak menggantikannya sebagai kaisar sekaligus suaminya.

Seorang pria yang akan ditemuinya beberapa saat lagi.

Sekaligus sebuah sosok yang misterius.

Sebuah sosok yang membuatnya terus menanyakan perasaannya pada diri sendiri yang tiada mengerti, tiada memahami.

Sesuatu yang membuatnya harus melakukan 'ini'.

"Bagaimana dengan anak sulungku?"

"Oh, sayangnya putra sulung anda masih berada di dalam kamarnya, Yang Mulia. Mungkin tak lama lagi ia akan siap..."

"Kalau begitu antarkan dulu aku ke sana..."

.

Bagus...

Setidaknya aku masih bisa memastikannya

.

"Tapi Yang Mulia. Bukankah lebih baik jika Yang Mulia tetap menunggu di sana? Upacara akan segera dilakukan..." Sang Kasim menukas, mencoba mengingatkan sosok wanita berambut merah di hadapannya itu dengan hati-hati.

"Lantas kenapa?" jawab Mitsuru, "Salahkah jika seorang ibu menjenguk anaknya? Memastikan kesiapannya dengan baik?"

Sang kasim enggan menjawab, akan tetapi melihat tindak tanduknya jelas tampak jika ia mulai tercekam oleh ketakutan. Ia tahu jelas kemana arah pembicaraan ini akan bermuara.

"Atau kau merasa lebih tinggi dariku untuk berkata demikian?"

Benar, pilihlah satu jawaban yang salah dan keadaannya semakin jelas...kau pulang dengan lidah terpotong tanpa jabatan.

Jadi...saat itulah permintaan maaf menunjukkan kemampuannya. Seperti yang dilakukan oleh sang kasim yang tengah gugup akibat tekanan tersebut. Ia bersujud, memohonkan maaf sambil menundukkan kepala meminta ampunan. Ampunan yang untungnya saat itu segera diberikan oleh junjungan yang bersangkutan. Baginya saat itu tidak penting bagaimana respon bawahan-bawahan di sekitarnya Fokusnya hanya satu.

Hanya satu.

Dan itulah yang lantas mengubah arah perjalanan mereka yang semula menuju keluar...menjadi ke salah satu bagian dalam istana dimana kepala Genbu pada bagian tengah langit-langit berlapis kaca tipis menanti bak penjaga berhiaskan tujuh permata yang membentuk rasi bintang biduk pada dahinya.

Pada tempat itu terbentang sebuah hiasan bangau yang tertata rapi, terentang dari pintu ke pintu. Mengelilingi lapisan pembungkus rumah secara teratur membentuk sebuah formasi yang mengelilingi sebuah tiang besar bertuliskan huruf kanji Thian (Tuhan) menggantikan kepala Shen Long (Kouryuu) yang biasanya lazim terlihat pada bangunan utama. Membuat seluruhnya seakan masuk ke dalam Primum Mobile dan menyatu dengan alam beserta segala kemakmurannya secara menyeluruh. Terkesan megah, tetapi bukan mencerminkan kemewahan...apalagi dengan kesombongan akan hasrat berkuasa.

Begitu filosofis...

Damai...

Tentram...

Tenang..

Sesuai dengan sifat penghuninya yang lepas, bebas tetapi begitu menyatu. Tanpa hasrat tetapi begitu bergairah. Seakan berisi tetapi sesungguhnya kosong dan kosong tetapi pada saat yang sama begitu berisi.

Ketika kedua kaki berbalut tabi-nya melangkah. Dapat Mitsuru rasakan bagaimana ruangan itu seolah menerimanya dengan tangan terbuka—seperti pemiliknya yang selalu meluangkan waktunya demi mengutarakan senyum di sela baris-baris soneta yang puitis dalam keseharian. Sosoknya yang dianggap oleh sebagian orang keras juga selalu begitu tercermin secara vulgar pada setiap nyala pelita lampion yang menerangi dirinya menjadi bermandikan cahaya yang terang, namun bukan bermaksud untuk menunjukkan kuasa…bukan pula untuk menyiksa.

Akankah semua ini bercacat?

Tentunya iya. Seperti yang dikatakan jika pada bagian istana berlambang Genbu itu, karakteristik serta sifatnya mencerminkan pemiliknya. Maka pastilah tempat yang sekilas begitu mencerminkan kesempurnaan itu juga bercacat.

Dan seperti layaknya suatu cacat pada yang bersangkutan. Suatu ketidaksempurnaan itu juga berperan besar dalam mengekspresikan suatu kekesalan yang mendalam. Suatu hal yang bukan untuk kali pertamanya dirasakan oleh sang ratu manakala berkunjung ke tempat dimana patung katak uang raksasa berperak selaku penjaga di beberapa sudut kiri dan kanannya.

Adalah Nightingale Floor objek kekesalan itu. Suatu rangkaian lantai kayu yang (sebenarnya) mahal, anggun dan menawan tetapi tidak pernah bisa untuk tidak mengeluarkan bunyi manakala seseorang melangkah menyusurinya seringan apapun tubuhnya dan juga sekeras apapun ia berusaha. Lantai itu akan senantiasa berbunyi, membuat takut setiap makhluk yang ada di atasnya. Selalu waspada dan juga mencerminkan suatu keragu-raguan seolah lantai itu tidak pernah tahu jika andaikata riasan bangau disekitarnya hidup…..mereka akan dengan penuh ketakutan terbang tinggi meninggalkannya akibat terlalu berhati-hati.

Persis seperti dirinya.

Dirinya yang tengah dilanda kegusaran akibat ketakutan pada suatu hal yang tiada perlu dicemaskan.

"Buka pintunya..." pinta sang ratu pada seorang penjaga di penghujung ruangan yang seperti biasa, selalu dipenuhi tanpa hambatan. Membuat pintu besar berlambang rasi bintang utara yang berada tepat di belakang tiang bertuliskan huruf kanji Thian terbuka, menunjukkan sosok di dalamnya yang tengah berdiri dalam situasi gundah gulana terhadap segala yang ada di sekitarnya. Seakan habis ditimpa kemalangan besar.

.

Ternyata benar dugaanku

Bocah ini...

.

Tak ada sekumpulan dayang-dayang istana yang sibuk membawa perlengkapan, juga tidak kasat pula para kehadiran pegawai istana yang menanti. Dari perawakan yang ditangkap oleh retina mata Mitsuru kelihatan jelas jika yang dibutuhkan oleh pemilik ruang di depannya itu hanyalah keluar ikut menyambut di posisinya. Kopiah emas telah terpasang, cincin kumala juga telah terpasang di jarinya sebagaimana halnya jubah sutra berbordir lambang kerajaan yang melindungi pakaian kebesarannya. Semuanya telah nampak siap dan sempurna. Tapi perlukah kiranya untuk bersikap muram seperti ini?

Kemanakah gerangan dirinya yang begitu cerdik, pandai dan juga santai?

Sebegitu curigakah ia akan perasaan orang lain perihal hubungan ibu dan anak ini?

Konyol! Sungguh konyol!

"Akihiko...anakku..." Suara Mitsuru memanggil sosok itu. Sosok pemilik ruangan yang sebenarnya tak lain dan tidak bukan merupakan anak pertamanya. Bukan seorang anak kandung, melainkan anak tiri yang dibawa oleh suaminya saat menggabungkan diri dalam keluarga Kirijo.

"Ah..i...iya..." jawabnya dengan tergagap dengan pandangan mata dan kepala yang tertunduk menatap lantai. Kelihatan jelas jika ia tampak kikuk, tetapi tetap mencoba untuk memberi hormat, "h-hormat ananda kepada ibunda..."

PLAKK!

Sebuah tamparan melayang keras tanpa alasan sebagai jawaban.

.

.

TBC

.


Note :

Daodejing : Kitab suci agama Taoisme

Gathas : Kitab suci agama Zoroaster

Primum Mobile : tempat surga tertinggi dimana malaikat besar berada bersama dengan Tuhan (Dante Alligieri, Paradiso)

Tabi : kaus kaki yang biasanya digunakan bersama dengan kimono

Nightingale Floor : sejenis lantai yang tersusun atas kayu yang dibuat khusus untuk menghasilkan suara sekecil apapun langkah yang dihasilkan. Merupakan jenis lantai yang paling langka dalam arsitektur Jepang. (cek wikipedia untuk info lebih lanjut)