Chrysanthemum

Author's Note : Don't Like, Don't Read. P3 X P4, AU, OOC

Rated : T

Genre : Drama/Tragedy

Disclaimer : Persona 3 & Persona 4 © Atlus, Curse Of The Golden Flower © Zhang Yimou & Sony Pictures


BAB 3

FORBIDDEN AFFAIR

.

Laksana gemuruh guntur yang menyambar tanah kala siang tiada berawan, menghanguskan semesta makhluk angkasa yang beterbangan di kaki cakrawala.

Itulah kiranya perumpamaan yang tepat untuk menjelaskan suasana ruangan Akihiko Sanada Kirijo pada saat kejadian itu berlangsung tepat di muka pelupuk mata setiap orang yang ada di dalamnya. Tak peduli siapapun itu. Baik para pengawal, hulu balang, dayang hingga kaum kebiri istana (kasim)...semuanya mendapatkan penampakan rasa kejut yang sama di dada. Apa gerangan salah sang pangeran? Hanya kenihilan sebab yang menyelimuti tanpa jawaban yang memadai.

Sang ibu terdiam kaku..

Sang anak tertunduk malu, memegangi pipinya dengan gerakan kikuk seolah hendak menghapus rona pedas bekas menyambut pukulan. Hatinya yang gusar semakin menjadi dan wajah pucatnya mempertegas kebimbangan, memaksa kulit untuk mengucurkan keringat dingin dari balik celah-celah sempitnya. Membuat dirinya tampak begitu kecil apabila dihadapkan dengan ibu suri yang berdiri tegak bertahtakan keagungan abstrak di sekujur tubuhnya.

Apa yang harus kulakukan? Tanyanya dalam hati tanpa kuasa untuk menahan bibirnya yang bergetar ragu harus bersuara apa. Dipacunya segenap keberanian, dipaksanya pula seluruh isi kepala untuk berpikir secara cepat. Tetapi semakin seluruh panca inderanya menerima tekanan...makin sulit pula jawaban yang diharapkan muncul dari balik relung kebijaksanaan.

Kekalahan total...

Kemenangan mutlak.

Sadar atau tidak, keadaan yang demikian sudah tidak dapat dihindari lagi. Menjadi fakta bersifat umum. Genbu tetaplah seekor genbu, tidak akan pernah bisa sedigdaya Kouryuu dalam menanggulangi Suzaku berbentuk phoenix abadi.

Bingung...dan begitu bingung.

Hingga...

Beberapa saat kemudian sebuah lambaian tangan minim tenaga namun begitu tegas Mitsuru mencairkan suasana dengan menyingkirkan seluruh orang di tempat itu. Membuat mereka menunggu diluar dalam bisu, menyisakan sepasang ibu (tiri) dan anak (tiri) dalam kesendirian ruangan berlantai marmer hitam berhiaskan lukisan kaligrafi pada kiri kanan dinding kayu cendana tua yang harum semerbak mewangi. Serasa berpadu dengan keindahan perabot meranti dalam simfoni seni keindahan serasi.

Seharusnya begitu...

Hanya saja apalah daya jika nightingale floor terlanjur bergetar hebat, membuat selaksa bangau terbang meninggalkan telaga tak berbekas. Hambar pasti menjadi sisa, segalanya lantas menjadi sia-sia. Tak ada yang namanya Thian kecuali manusia berwatak angkara berbungkus emosi sarat definisi penuh isi.

"Apakah kau masih ragu untuk itu?" Tanya sang ibu pada sang anak dengan geram sementara langkah kakinya telah menempatkan dirinya dengan jarak hanya sebatas beberapa senti dari lawan bicaranya. Memojokkan Akihiko dengan memaksa kedua pasang mata bertatapan.

"..."

"Jawab!...Apakah setelah semua hal ini kau masih belum bisa menentukan tujuanmu! Sadarlah!"

"T-Tapi...bukankah segalanya-pun sekarang telah berubah? Apakah kamu pikir hubungan kita dapat terus berlangsung seperti dulu? Kumohon, Mitsuru...segalanya sudah berubah!" Terus di desak akhirnya membuat Akihiko Sanada Kirijo terpaksa menjawab dengan hanya berbekal pada logika-logika sederhana keadaan, "Kau kini adalah ibuku, istri dari ayahku dan aku adalah kakak bagi kedua anakmu..."

"Lantas kenapa?" Mitsuru menjawab dengan ketus, "Peduli setan dengan semua itu Akihiko! Haruskah kita tunduk pada gelar yang kita sandang? Lihat aku!"

Akihiko enggan menjawab, ia hanya menggeleng heran. Untuk sesaat dirinya bertanya-tanya dalam hati, "Benarkah ini sosok wanita yang dulu kukenal hatinya?" Sosok yang dulu ia anggap begitu sempurna hingga kaisar terdahulu menikahkannya dengan sang ayah. Memang benar jika ia dulu sangat mencintainya, tetapi sejak kejadian itu. Ia telah memutuskan untuk merubah segalanya. Bohong jika ia telah melupakan segalanya tentang berapa banyak puisi yang ditulis untuk dirinya, berapa banyak peluk dan cium yang mereka lakukan bersama, juga berapa malam yang mereka habiskan berdua.

Akan tetapi sekali kukatakan padamu, itu dulu. Rasa cintanya sekarang hanyalah sebatas hubungan ibu dan anak. Tidak kurang tidak lebih.

Kenapa? Kenapa harus jadi seperti ini?

Sampai kapankah ia terjebak dalam nostalgia yang mustahil diulang kembali?

Gila! Sungguh gila!

Dan kegilaan itu akhirnya menunjukkan taringnya saat mendadak kedua tangan sang ratu telah mencengkram kedua tangan sang pangeran dengan kuat, membuatnya serasa terbelenggu dalam sebuah kuncian sementara kepala mendesak ke dalam. Berusaha merampas sebuah kecupan dengan paksa.

"M-Mitsuru, k-kau!" Sadar akan niat dari sang ibu tak ayal membuat tubuh Akihiko memberontak. Ia meronta dengan kuat, mendorong Mitsuru guna membatalkan niat tercelanya itu.

"Tahukah kau Akihiko! Berapa lama harus kusimpan semua lara ini?" Cengkraman tangan sang permaisuri semakin menjadi.

"Tidak! Lepaskan aku! Kau gila Mitsuru!"

"Tapi Akihiko..."

"LEPASKAN!"

Sebuah teriakan terdengar keras, membuat seisi ruangan seakan menyambut dengan gema ke segala penjuru. Mengejutkan sang ibunda dengan iringan pantulan bunyi yang keras. Keseimbangannya sontak goyah sehingga ia terhuyung, melepaskan pegangannya yang mulai mencakar tangan sang anak untuk sesaat sebelum pada kesudahannya dimanfaatkan Akihiko untuk mendorongnya jatuh terduduk pada sebuah kursi hitam eboni berukiran oriental di sebelah kanan ruangan yang konon merupakan pemberian kaisar Dinasti Tang dari seberang lautan.

Alhasil, permaisuri berambut merah itupun akhirnya termangu.

"Kau kira aku ini seorang amoral yang buta norma miskin etika?" bentak Akihiko dengan kesal, "Apa kata orang jika mereka tahu kalau permaisuri kekaisaran Kirijo jatuh hati pada buah hatinya sendiri? Bagaimana pula reaksi ayah dan anak-anakmu jika mereka mengetahui hal ini?"

Ganti Mitsuru bungkam tanpa kuasa berkata-kata kecuali memendam duka di balik topeng wajahnya yang kaku berekspresi kosong.

"Sekarang lebih baik kau keluar, ibu...Aku, sebagai anakmu tidak ingin membahas semua kekurangajaran ini lebih lanjut."

"Aki-..."

"Ayah tinggal beberapa hari lagi akan pensiun dan kini ia telah menunggu di luar gerbang istana. Lebih baik sekarang kita bergegas...memberi yang terbaik di penghujung tugasnya."

Keadaan lalu kembali tenang. Sang anak sulung itupun kemudian memunggungi Mitsuru. Melanjutkan persiapannya yang semula tertatih di depan kaca besar bertepi perunggu tanpa banyak bicara lagi. Sebisa mungkin menyingkirkan pancaran sisa keraguan dari hati sebelum akhirnya pergi keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu usai memperbaiki kopiah emas yang menempel di kepalanya. Menegaskan isi suasana hatinya yang telah tercemar emosi ke semua hal di sekitarnya secara sumir untuk kemudian hengkang bersama seluruh hulu balangnya menuju tempat upacara digelar sementara kelompok pengiring permaisuri kebingungan akan perubahan situasi yang serba fluktuatif.

"Yang Mulia...anda tidak apa-apa?" lalu menjadi pertanyaan bersifat wajar saat sang kasim pertama kali masuk dan menemukan salah satu junjungannya duduk mematung di atas sebuah kursi panjang. Terpuruk dengan tangan menahan kepala yang serasa hampir pecah berserak akibat sakit yang menjangkit.

"Tidak...tidak apa-apa...aku tidak apa-apa..." jawab Mitsuru.

"Apakah anda malam ini sudah minum obat?"

Sang permaisuri menggeleng, "Jika sudah siap...bawa kemari..."

.

Brengsek kau Akihiko.

Inikah jawabmu?

Berani benar kamu meminta lebih padaku

Setelah kubantu kau menjadi kaisar kelak

Apa lagi yang kau minta agar aku bisa memenangkan hatimu?

.

Lantas selimut keanggunannya itu kembali ia kenakan, menyamarkan luapan hasrat di dada tanda murka berlumur emosi kekecewaan mendalam di saat obat yang dijanjikan datang bak sebuah iring-iringan parade kecil dayang-dayang penyambut umur panjang. Yang berbaris menyuguhkan sebuah ramuan hitam dalam cawan keramik putih bergagang permata merah. Bertutupkan kelopak bunga krisan perlambang kehidupan di atasnya selaku pemanis semangat hidup untuk bangkit.

Bagi Mitsuru, perilaku pujaan hati lamanya itu adalah sebuah penghinaan akan dirinya. Penyangkalan fakta yang begitu keji sebagai buah nikmat dunia yang membusuk dalam keindahan raga kasar bernama kehidupan. Ia sudah berubah. Seindah apapun rupa sang anak, ia sama saja dengan pria lain dalam hidupnya. Begitu diliputi hasrat berkuasa, haus akan kekuatan...dan selalu mengejar kedigdayaan. Segalanya hanyalah sebatas kedok beratas namakan cinta.

Akan tetapi benarkah demikian?

Atau ini adalah kutukan yang diberikan Dewata untuk dirinya?

Pikirannya menutup seiring setiap tegukan ramuan yang membasahi kerongkongannya. Panggung penyambutan secara perlahan tampil di kejauhan dari balik sela tirai bambu yang berkibar terkena angin malam yang dingin. Panji-panji berlambang kaisar telah terpasang gagah menyelimuti kota dengan kekuasaan raja. Menyamarkan setiap nyala obor dengan kilau sutranya yang kuat tanda kedatangan yang dijanjikan semakin dekat.

Sementara dalam koridor bangau, Nightingale Floor kembali berderit. Ciptakan getar pada patung penjaga ketika pemiliknya melintas dengan hati dongkol bersama dengan pengiringnya.

.

Harusnya aku lebih berhati-hati dengan ucapanku tadi

Sekalipun hati sudah muak 'tuk diam dijadikan barang

Aku tetap harus bertahan

Demi dirinya...

.

Saat beberapa meter dari tempat itu. Seorang pria menatap benci terhadap segala hal yang disaksikannya dari lantai atas menara yang gelap. Seakan mustahil bagi dirinya untuk mempercayai seluruh kenyataan di depan mata.

Geram..

Jijik...

Ironis...

Akan tetapi ia terdiam seperti hendak memikirkan sesuatu bersama beberapa orang di belakangnya ketika pikiran Akihiko masih bergumul dalam perjalanan. Membayangkan satu hal yang sangat ingin dihindari...sebelum mengakhirinya dengan satu kesimpulan.

.

Pokoknya jangan sampai Mitsuru tahu akan hubungan ini

.

Seraya terus berlalu...

.

TBC

.

.


Sedikit Komentaar :

menjawab pertanyaan Neeta : Well sampai sejauh ini...demi kepentingan kejutan...nama yang memerankan kaisar harus saya sembunyikan terlebih dahulu...tapi pasti ketauwan kok ntar^^

Sakit apa ratunya? Entahlah saia ndiri juga kurang gitu taw...jadi kali ini mungkin saia buat versi saia ndiri

Dan terakhir saia ucapkan maaf jika tulisan ini sangat membosankan m(_ _)m

.

.

.

V