Chrysanthemum
Author's Note : Don't Like, Don't Read. P3 X P4, AU, OOC
Rated : T
Genre : Drama / Tragedy
Disclaimer : Persona 3 & Persona 4 © Atlus, Curse Of The Golden Flower © Zhang Yimou & Sony Pictures
BAB 4
ENTER THE DRAGON
.
Malam mengisi pelataran. Warnai langit dengan gulita hitam bernuansa kelam selagi awan-awan merasa malu tinggalkan angkasa untuk bersembunyi menyimpan diri bersiap di lain hari. Cerah, tetapi sedikit berangin. Berhembus dari deret pegunungan menuju perkotaan yang telah terbenam dalam semarak cahaya lampion malam tanda kesukacitaan penyambutan, kibarkan seluruh panji berlambang kaisar di seluruh negeri seolah menunjukkan kedigdayaan sang raja kala waktu terus berputar.
"Silahkan diminum obatnya, Yang mulia." Ujar kasim istana ketika rombongan permaisuri telah tinggal setapak lagi meninggalkan gerbang utama istana kekaisaran. Menapak marmer putih terakhir dekat pintu besar berlapis kuningan berdiri tinggi menjulang, kaitkan lantai dengan langit eboni selagi gagang kirin kedua sisi terbuka lebar. Memperlihatkan keadaan lapangan yang terhampar meriah penuh kebanggaan. Tampilkan definisi ulang keindahan dalam caranya sendiri ketika kekuatan bercampur keanggunan berbaur dengan kemewahan secara konkrit. Dimana sekarang, laksaan prajurit berjubah emas telah berbaris rapi dalam satuannya masing-masing, menyisir rapi lapangan gelap berlantai granit hitam dalam keteraturan yang kokoh. Para pembesar bersiaga tegap di bawah dinding istana sementara selir-selir kaisar berbaris rapi pada pinggiran jalan lebar belapis permadani merah yang membelah dua lapangan secara vertikal sama besar. Diawali dari gerbang megah tempat sang permaisuri berada, tembus hingga gerbang singa pada baris terluar istana lengkap dengan hiasan nyala kuning lampu kertas dan panji-panji besar bermandikan cahaya. Buka lautan cahaya kecil bak mencemooh gugusan rasi bintang di atas sana.
Tetapi segala sesuatu itu sama sekali enggan menggiring Mitsuru Kirijo untuk perubahan suasana hati ketika sepasang penglihatan mengamati jelas sekelilingnya. Penuh sudah relung jiwa dengan kombinasi kekesalan-kekecewaan dalam hati. Mengangkat amarah penambah parah suasana. Persetan Akihiko adalah suara hati dan ia harus berusaha menekannya. Jelas, Ia tentu tidak mau suaminya tahu apa sesungguhnya yang terjadi antara dirinya dengan sang anak sulung. Wanita itu sama sekali tawar akan kerinduan kepada sang suami. Lagipula, bukankah alasan ia setuju akan ikhwal pernikahannya dulu itu lebih karena tekanan sang ayah. Wajarlah jikalau hal ini terjadi. Langit berkehendak tetapi apa daya kuasa bukan di tangan. Alhasil pemikiran ini lantas membawa Mitsuru untuk melangkahkan kaki menuju kekosongan antara posisi anak sulung dengan anak bungsu. Lengkapi sebuah deret baris seusai kibasan lengan jubahnya perintahkan kaum kebirinya untuk mengerahkan tiga dayang obat mendekati guna serahkan ramuan sesuai urutan : obat, air dan kain. Mencegah sang Suzaku untuk bertindak lancang terhadap kombinasi : reguk, bersih dan rapikan.
Persis seperti apa yang dilakukan permaisuri saat ini. Sebelum keringat dingin menyesah dan gemetar sesak kembali tega mendera. Merusak kondisi pertahanan.
"Apakah bisa kita mulai sekarang?" Usai menghabiskan kebutuhan medik. Akhirnya dia betul-betul siap.
"Kapanpun Yang Mulia...Paduka Kaisar pasti telah tidak sabar untuk bertemu dengan anda."
.
Tidak sabar?
Jangan membuatku tertawa.
.
Malam terus larut, purnama berpendar terang. Bulir kemilau gemintang dalam remang semakin menujukkan diri secara gemilang. Memanggil deru angin musim gugur dengan lantang.
Kasim istana membungkukkan badan. Berikan kondisi sadar baginda permaisuri jika semua tinggal menunggu titahnya. Mitsuru Kirijo kembali berjalan pelan. Lengkapi penuh bujur formasi keluarga diikuti para dayang di belakangnya, yang memecah barisan secara teratur menyebar. Bergerak mengitari sebuah bendera raksasa berlambang Kouryuu di belakang ketiga anggota keluarga saat posisi mereka telah penuh seutuhnya. Menurunkan bendera Suzaku, Genbu dan Seiryuu (dalam bentuk koi) pada pasak yang tersedia. Lantas menghormat dalam, lalu berlutut sampai kepala menyentuh ujung permadani merah.
Suasana sontak tenggelam dalam keheningan.
Sunyi...
Senyap...sehingga suara belaian angin bisa terdengar melintasi apapun yang dilaluinya. Setiap orang bungkam tertuju menatap burung Phoenix, tak terkecuali Genbu dan Seiryuu kecil di sebelahnya. Menanti sebuah jawaban saat puluhan obor dinyalakan di atas bangunan masuk areal istana.
Tapi perintah belum juga datang.
.
Bersabarlah
Sebentar lagi, Mitsuru...
kau akan bebas
.
Sesaat, keraguan menuntun pandangan dari karpet tempatnya berpijak. Naik menerawang jauh menerobos pintu berlambang singa, tempat puluhan pelita merah berkobar panas cerminkan semangat. Bertanya-taya perihal kesanggupan hati. Terus begitu sampai seluruhnya berlalu waktu keteguhan hati akhirnya ada dalam diri untuk berkata.
"Lakukanlah..."
Yang dibalas dengan seruan. "Daulat!" kasimnya untuk segera tertunduk. Bersujud dengan sungguh-sungguh lalu segera mohon diri memberi instruksi pada seluruh pengurus istana bahwa upacara penyambutan dapat dijalankan sesuai dengan tata cara yang serupa sejak perayaan ini pertama kali dilakukan oleh Permaisuri Kujikawa pada zaman Kaisar Ichijou guna melepas renjana istri pada suaminya sekembali dari peperangan. Diawali dengan para pengurus mohon diri, bersujud lalu berjalan masuk ke dalam bangunan istana seraya berseru-seru.
.
Kala sang naga memasuki istana.
Kedamaian menyelimuti bumi.
Yin dan Yang kehilangan arti.
Keseimbangan mengisi dunia.
.
Sambil diiringi bunyi dentang suara gong dari kuningan secara terus-menerus. Berulang sampai seruan menjelma jadi rapalan doa. Isyaratkan penabuh genderang pada menara delapan mata angin untuk mulai memukul. Suarakan taiko besar secara bertalu-talu ke segala penjuru, menyuruh sepasang penjaga zirah lengkap 'tuk membuka gerbang singa yang semula tertutup rapat. Perlihatkan bagaimana dunia luar istana telah terpesona melantunkan puisi kebijaksanaan tiada henti diiringi alunan koto yang memperkaya suara istana via kelembutannya manakala dari kejauhan. Suara derap tapal kuda bergesek dengan permukaan. Menunjukkan sesosok jendral gagah bersenjatakan Guan Dao besar dengan ukiran naga di tongkatnya berlari memacu kuda putihnya seraya membawa panji kerajaan Kirijo yang berkibar kencang tampilkan seekor naga melingkar dengan tatapan garang di tangannya. Berteriak lantang mengguncang udara.
"YANG MULIA KAISAR TELAH TIBA!"
Secara terus berulang-ulang. Dari semula samar hingga begitu jelas, terlalu jelas malah hingga seluruh orang dapat melihat sosoknya saat itu. Buat siapapun kecuali Mitsuru dan kedua anaknya berlutut sujud menundukkan kepala sementara jendral perang itu terus menyisir maju sepanjang karpet utama, langsung mengarah ketiga anggota keluarga kekaisaran di muka sebelum akhirnya berhenti lalu turun dari pelana kudanya guna menghaturkan hormat dengan penuh kebanggaan. Menandakan keberhasilan di tangan. Sekaligus pada tempo yang sama, menjadi pertanda bahwa sudah waktunya lagu puji-pujian dikumandangkan secara serempak oleh para penyanyi istana dengan nyaring bersama luncuran kembang api warna-warni penghias cakrawala luas. Ciptakan pelbagai cahaya pengusir roh jahat di dunia.
Penuh rasa khidmat, penghayatan juga penghormatan. Meskipun dilakukan secara meriah dan besar-besaran, kekagumannya urung diekspresikan secara terang-terangan—begitu juga dengan warga di seantero kota yang telah berada di luar. Terutama saat perayaan mencapai puncaknya beberapa menit kemudian. Sewaktu sang kaisar berkuasa saat itu, Kanji Tatsumi Kirijo berjalan perlahan penuh keagungan dalam zirah kebesarannya. Yang berpendar terang, cerminan emas terbaik seluruh negeri sebagai bahan utamanya pembentuk helm kepala naga, sebagaimana layaknya baju besi kaya ukiran pemberi lindungan lengkap sehingga konon, begitu digdaya sampai penggunanya bahkan bisa memenangkan pertempuran tanpa harus perang bersimbah darah. Begitu pula pada kuda tunggangan bewarna merah menyala miliknya.
Ia, sang Kouryuu tidak berbicara apa-apa melainkan wajah keras berbonus tatapan tajam ke sekitarnya. Mengamati bagaimana seluruh perangkat kerajaannya secara mendetail. Pastikan bahwa perayaan akbar ini bebas noda kotor kelalaian di balik raut enggan berekspresi kecuali mengangkat sebuah tangan selagi tentara bawaannya mulai memasuki lapangan dengan kepala tegak. Memancarkan wibawa tanda kelayakan pantas disebut demikian.
Langkah berat kuda raksasanya kemudian terhenti di muka ketiga anggota keluarganya. Dan sebuah pengamatan tajam sarat intimidasi pria itu mulai mengamati mereka satu persatu. Seolah menerka apakah ada keanehan selama ia pergi. Terutama sekali pada sosok wanita angkuh berambut merah yang telah mendampinginya sejak puluhan tahun silam dengan alasan "cinta".
"Selamat datang, Yang Mulia Kaisar." ujar Mitsuru Kirijo seraya bersujud dibarengi oleh kedua anaknya. "Suatu kehormatan bahwa Anda masih berkenan menemui hamba dalam upacara ini."
Kanji Tatsumi Kirijo tidak menjawab tetapi pada saat yang sama haram melepaskan pandangannya dari wanita berbalut jubah sutra di depannya itu hiraukan kembang api dan lantunan ode selaku latar belakang. Bak seekor ular ganas siap memangsa tikus di pelupuk mata.
"Hamba harap, perjalanan anda sesuai dengan rencana Yang Mulia."
Mitsuru kembali melanjutkan ucapannya sementara tentara bawaan kaisar telah tiba dan bersujud di belakang sang penguasa itu. Menciptakan aura sepi di tengah gegap gempita keramaian. Dan terus memaksa mereka semua untuk bersujud hingga sang Suzaku (dan juga Genbu) sendiri mulai berkeringat dingin. Coba menerka kemungkinan terburuk.
.
Apakah...?
.
Yang jauh dari dugaan sebab seketika waktu berselang, Kanji Tatsumi Kirijo—sang kaisar mengatakan sesuatu hal yang membuat Mitsuru (sebenarnya Akihiko juga) merasa lega.
"Bangunlah kalian..."
Untuk selanjutnya memberikan sebuah lanjutan kumpulan aksara lisan pada seorang Jendral di belakang yang sebelumnya berlari mengumumkan kedatangan raja beberapa saat lalu.
"Souji, bukalah helm-mu dan beri salam pada ibumu..."
Jendral itu menurut. Masih dengan posisi bersujud ia menegakkan badan, menyerahkan panji kerajaan pada kaum kebiri istana, lalu melepas helmnya secara perlahan. Menujukkan wajah aslinya—seorang pria muda, berambut abu-abu dengan wajah tampan yang sangat tenang namun dalam juga kalem. Matanya berona cerah sementara guratan senyum terlukis di bibirnya. Ia kemudian berdiri, menghampiri ketiga orang anggota keluarganya lalu bersujud di kaki ibunya penuh rasa hormat.
"Hormat ananda Seta pada ibunda."
Yang menciptakan kekaguman luar biasa pada air muka Ken, Akihiko juga Mitsuru. Souji Seta Kirijo, anak madya dari tiga bersaudara Kirijo kini bukanlah Souji Seta masa silam. Hilang sudah sosok bocah berambut mangkok yang dulu senantiasa memeluk lengan sang bunda, menangis manakala harus terpisah dari Suzaku selama beberapa hari guna menekuni kebijaksanaan di gunung Pencerahan. Bocah itu telah mati, pergi dan tak kembali. Tinggalkan raga dewasa badani bersifat berani lagi berbudi sontakkan hati.
"Bangunlah Souji..." pinta Mitsuru. Merentangkan kedua tangannya lebar sambut lelaki bertutur kata halus di hadapannya. Memendam rasa kagum dalam kedataran ekspresi tanda kekerasan hati. Lalu memeluknya sejenak sembari terus menatap sang suami tanpa pernah menghilangan pesonanya yang angkuh.
"Kau tentunya terkejut melihat putramu kembali dari tugasnya di perbatasan." Ujar kaisar dalam nada diplomatis akan tetapi penuh dengan nada mutlak kekuasaan. "Apa kau sudah meminum obatmu?"
Permaisuri mengangguk lemah. Membalas via gerak gemulai tetapi sarat keanggunan untuk pertahanan atas intimidasi penguasa di depan mata. Abaikan anak kedua di belakangnya yang tengah menyapa saudara-saudaranya.
"Bagus...setidaknya jangan sampai kau pergi di penghujung jalanku."
Sang pimpinan akhirnya tersenyum. Menapak kaki turun dari wahananya lalu berdiri tepat di hadapan istrinya. Kedua mata mereka bertatapan tetapi tidak sampai sepersekian detik tangan besar naga penguasa itu merenggut dagu sang wanita dengan cepat. Amati pupil pasangannya secara seksama. Menghela nafas, lalu mencium bibir Mitsuru Kirijo dengan kasar. Reguk segala hasrat guna dicampakkan saat berkesudahan.
Hanya untuk sebuah pesan.
.
"Bagaimanapun juga, aku tidak ingin kehilanganmu..."
.
Karena sang naga sebenarnya tahu...bunga krisan akan segera merekah. Ia menikah bukan karena asmara. Ia menikah karena kepintarannya. Sebab bunga krisan cuma akan menyertai siapa yang pantas mendapatkannya.
Omong kosong cinta sebab cinta tidak butuh alasan.
Tetapi fakta bahwa ia menyayanginya takkan pernah berubah.
Sekalipun makna berbeda.
Untuk keberadaannya sebagai penopang separuh langit jiwa penggapai mimpi.
.
TBC
.
Review silahkan...flame silahkan...bingkisan sangat dipersilahkan. Ok^^
.
.
.
V
