Ryeowook menatap namja di depannya dengan tatapan sulit di artikan, namja di depannya ini baru saja menyatakan perasaanya yang tentu saja membuat gadis mungil itu agak shok, di tatapnya namja tampan itu lekat-lekat mencari mencari kebohongan dari ucapannya, yah mana tahu namja di depannya hanya main-main atau sedang bercanda, tapi sepertinya namja di depannya benar-benar serius saat mengucapkannya.

"A-aku..." gagapnya, bingung antara menjawab iya atau tidak.

'Jika kau sudah merasa nyaman dengan kehadiran seseorang, kau boleh percaya padanya.'

'Oppa, aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, bolehkah aku mencoba menerimanya.' Batin Ryeowook ketika dirinya teringat perkataan seseorang yang sangat berarti di hidupnya, entah sadar atau tidak gadis mungil itu menganggukan kepalanya dan langsung di hadiahi sebuah pelukan hangat dari namja di depannya.

"Gomawo, saranghaeyo Kim Ryeowook." Bisiknya seduktif di telinga Ryeowook.

"Na..do.." jawab gadis itu gugup, ya ini yang pertama kalinya Ryeowook membuka hatinya untuk oranglain.

Title : Blood and Destiny

Disclameir : semua cast yang ada di sini bukan punya kimi^^

Pair : Kyuwook, slight... , Haehyuk, Kangteuk, Sichul dll.

Warning : Vamfic, wolf:kyu, vamf:wook, crack pair, OOC, GS, aneh,gaje, typo (pasti ada), alur gaje, berantakan dll.

Rated : T (ganti rating).

Genre : Romance / hurt (mungkin) / fantasy/ supranatural.

Ini Cuma cerita fiksi semata dan semua yang ada di dalamnya adalah karangan author dan tidak ada dalam dunia nyata.. oke...

Tidak suka jangan di paksakan membaca KLIK BACK aja, warning berlaku jadi NO BASH.

Chapter 6

Malam hari yang masih di terangi cahaya bulan, dua orang berbeda gender dan juga merupakan sepasang kekasih baru sedang berjalan-jalan di pertengahan kota Seoul , tengah malam hampir menjelang namun keramaian di tengah kota masih berlangsung seakan tidak ada jeda-nya, Kyuhyun dan Ryeowook dua insan yang di maksud sebelumnya berjalan bersisian sambil bergandengan tangan, senyum cerah di bibir tebal namja wolf itu melambangkan jika ia sedang berbahagia lain halnya dengan gadis cantik di sebelahnya walau hanya memasang wajah datar namun pancaran kebahagiaan tak luput di matanya.

"Kau lihat love, walaupun sudah menjelang dini hari tapi keadaan kota seakan tak pernah sunyi, banyak manusia-manusia yang masih berkeliaran." Celetuk namja tampan itu.

"Mungkin mereka ada yang bekerja di malam hari." Ucap Ryeowook seadanya.

"Apa kau tidak merasa 'haus'?" tanya Kyuhyun, keduanya menoleh bersamaan tapi tetap meneruskan langkahnya.

Sapphire dan caramel bertemu.

"Tidak." Jawab gadis itu singkat, Kyuhyun menatap heran kekasihnya, dia merasa aneh karena Ryeowook seprti tidak menyukai darah manusia.

"Kau tidak suka darah mereka?" Kyuhyun bertanya dengan hati-hati takut menyinggung perasaan sang kekasih.

"Aku.. terbiasa meminum darah Appa atau Umma." Jawabnya agak malu, mungkin karena takut di sangka anak manja oleh namja tinggi itu.

"Jinja? Uhmm bolehkah aku memberimu penawaran love?" pertanyaan Kyuhyun kali ini sukses membuatnya berhenti tepat di dekat tiang lampu yang di depannya terdapat jembatan penyebrangan atau zebra cros.

"Penawaran?" kedua alis gadis cantik itu bertaut, bingung dengan ucapan kekasihnya.

"Kau boleh meminum darahku kalau kau mau." Katanya yang sukseas membuat gadis cantik itu terbelalak dengan mulut yang menganga.

"Kau sudah gila, mana mungkin aku meminum darahmu." Sergahnya.

"Aku takan mati hanya karena darahku dihisap olehmu love, tapi..." Kyuhyun menggantung kalimatnya atau mungkin tidak akan lagi meneruskannya.

"Tapi apa? memang jika aku meminum darahmu akan ada apa?" tanya Ryeowook bertubi-tubi, Kyuhyun menatap ragu kekasihnya.

"Lupakan, kajja kita ketempat yang lebih indah dan tenang." Kyuhyun menyeret Ryeowook menyebrangi jalan, Ryeowook memandang curiga kekasihnya dengan tanda tanya yang besar di kepalanya, entah hatinya merasa sedikit gelisah dengan ucapan kekasihnya barusan.

'Apa maumu sebenarnya.' Batin Ryeowook menatap lekat wajah kekasihnya.

.

.

Pemandangan kota Seoul di malam hari sungguh bagaikan batu permata yang berserakan jika di lihat dari atas gedung, Ryeowook memandang kagum pemandangan kota di bawahnya, dirinya kini berdiri tepat di sisi atap gedung pencakar langit yang lumayan tinggi, kedua lengan kurusnya bertumpu pada pembatas yang ada di sisi atap sedangkan di belakangnya sang kekasih kini tengah memeluknya.

"Kau suka melihat pemandangan di bawah sana?" tanya Kyuhyun sambil menghirup aroma apel di antara perpotongan bahu Ryeowook.

"Enghh.. i-iya." Desahnya, mendengar itu Kyuhyun semakin bergairah di kecupnya bahu kekasihnya, menjilat lalu menghisapnya hingga meninggalkan sebuah jejak merah di antara bahu dan lehernya.

"You are mine, love." Bisiknya, Ryeowook semakin gelisah dan tak tenang, dirinya bukan tidak senang jika di perlakukan se-istimewa ini oleh kekasihnya, dirinya hanya takut, ya takut, takut hal yang dulu pernah di alaminya terulang kembali, meskipun ingatannya tentang kenangan itu masih samar namun tetap terasa melekat dalam benaknya.

"Berjanjilah.."lirihnya, bahu gadis itu sedikit bergetar, Kyuhyun menghentikan kecupannya yang masih berlangsung.

"..."

"Berjanjilah jika kau tidak akan pernah meninggalkanku." Lanjutnya.

Kyuhyun tersenyum lembut, dibalikknya tubuh kekasihnya agar menghadap kearahnya lalu mencium gadis itu tepat di bibirnya, menyalurkan rasa cinta dan ketulusannya pada gadis itu lewat ciumannya.

"Aku berjanji percayalah..." Kyuhyun memeluk kekasihnya, "jangan pernah takut..." Kyuhyun mendekatkan bibirnya tepat di telinga Ryeowook, "Soba ni iru kara*" bisiknya, entah darimana Kyuhyun bisa menemukan kalimat itu walau bukan berasal dari negaranya tapi Ryeowook sangat mengerti arti dari ucapannya.

Perlahan lengan kurus Ryeowook terangkat membalas pelukan kekasihnya, "Aku percaya," lirihnya, Ryeowook tidak pernah menangis sungguh walau dia sedang bersedih sekalipun bahkan saat seseorang pergi untuk selamanya dalam hidupnya Ryeowook tidak mengeluarkan airmata, bukankah vampire tidak bisa menangis, namun percaya atau tidak saat ini gadis itu tengah mengluarkan setitik airmata karena perasaan bahagia yang terlalu membuncah di hatinya.

.

.

Tepat pukul 1 dini hari Ryeowook sudah berada di depan rumahnya, sang kekasih masih setia menunggu Ryeowook sampai masuk kedalam rumahnya dari jarak jauh.

Cklek

Ryeowook masuk kedalam rumahnya.

"Darimana saja kamu?" tanya sosok berbadan tegap dan kekar dari arah sofa ruang tamu, Ryeowook berhenti lalu menoleh dan mendapati sang Appa tengah duduk di sofa sambil belipat kedua tangannya, tatapan matanya tajam penuh intimidasi pada putri satu-satunya.

"Hanya bermain." Jawabnya singkat, Kangin mengeram.

"Jangan bohong pada Appa-mu, Wookie." Ujar sang Appa.

"Aku tidak berbohong." Elak gadis mungil itu, ia berusaha untuk bersikap tenang.

"Lalu apa yang ada di lehermu itu?" Tanya Kangin telak, sontak tangan Ryeowook menutup kissmark pemberian kekasihnya.

"I-ini.. a-aku." Gugupnya, bingung harus menjawab apa pada Appa-nya sekarang, bola matanya bergerak gelisah.

"Katakan pada Appa, siapa namja itu, katakan!"

"..." Ryeowook bungkam seribu bahasa, berusaha setenang mungkin dengan menampilkan ekspresi datarnya.

"Kim Ryeowook!" bentak sang Appa sekali lagi, berharap agar kali ini anaknya mau menjawab, namun seolah terkunci Ryeowook tetap tidak mau membuka mulut.

"Ada apa ini, Wookie kamu sudah pulang nak?" Leeteuk menghampiri putrinya, Ryeowook masih mengangguk namun tatapan matanya masih tertuju pada sang Appa yang kini masih menatap tajam dirinya.

"Dengarkan Appa-mu baik-baik Wookie, siapapun namja yang sedang dekat denganmu saat ini jauhi dia, karena kamu sudah Appa jodohkan dengan Yesung." baik Ryeowook maupun Leeteuk sama terkejut mendengar kalimat mutlak dari sosok kepala keluarga di depannya.

"Kanginnie, apa maksud ucapanmu?" tanya Leeteuk tak paham.

"Sudah jelaskan, bukankah kita sudah sepakat untuk menjodohkan Ryeowook dengan Yesung." tegas sang kepala keluarga.

"Sirheo," lirihnya pelan, nafasnya memburu menahan segenap amarah yang bertumpu, kenapa Appanya tega sekali menjodohkannya dengan sosok yang tak pernah di cintainya, pikir gadis mungil itu.

Ryeowook menghentakan kakinya menuju kearah kamarnya, "Aku tidak mau."

Cklek brakk

Pintu di buka lalu di banting dengan keras oleh sang pemilik kamar hingga menimbulkan debaman yang cukup keras.

"Lihat apa yang kau lakukan, anak kita jadi seperti itu lagi." Marah Leeteuk pada suaminya.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Sahut Kangin enteng, Leeteuk memandang sedih sekaligus kecewa pada suaminya.

"Padahal kupikir setelah kita pindah kemari akan memperbaiki hubungan kita dan Wookie, tapi sepertinya dia malah semakin menjauh dari kita, apa salahnya membiarkan dia memilih, Kanginnie. Jangan membuatnya semakin menjauh." Tangis Leeteuk akhirnya pecah, Kangin yang melihat itu menghampiri istrinya lalu memeluknya.

"Aku sendiri tak tahu apalagi yang harus kulakukan untuk membuatnya kembali seperti dulu, putri kita jadi seperti itu sejak..."

"Cukup, jangan di teruskan, jangan sampai dia mengingatnya." Leeteuk berjalan setengah berlari menuju kamarnya, ia ingin menumpahkan semua airmatanya tanpa harus di dengar oleh putri satu-satunya.

Kangin diam mematung di tempatnya berdiri, ia menatap nanar sosok istrinya yang kini sudah berada di balik pintu kamarnya.

.

.

Ryeowook bergerak gelisah di tempat tidurnya, matanya enggan terpejam walau sudah berusaha untuk terlelap kealam mimpi namun sesuatu seperti menahannya untuk tetap terjaga, Ryeowook mencoba mengubah posisinya yang terlentang menjadi menyamping namun usahanya untuk terlelap makin sulit, insomnia eoh.

"Aishh, kenapa aku malah makin sulit tidur." Di gerakan telapak tangannya untuk menyentuh kepalanya.

Cring

Bunyi gelang yang masih melekat di pergelangan lengan gadis itu sontak mengalihkan perhatiannya, di tatapnya lekat-lekat gelang yang 2 hari lalu sempat di carinya dengan panik, kening Ryeowook mengerut begitu merasa ada yang ganjil dengan huruf di gelang itu.

"Kyu~wook?" gumamnya, ya tulisan yang dulu berhurufkan Ryeowook kini berganti menjadi Kyuwook dengan liontin berbentuk hati yang berada di antara Kyu dan Wook.

Seulas senyum hangat dan manis yang jarang di keluarkannya akhirnya muncul, seandainya orang-orang yang dekat dengannya melihat hal yang langka ini tentu mereka semua pasti akan terlonjak dan senang di saat yang bersamaan.

"Kyu," lirihnya menyebut nama pria yang kini menjadi kekasihnya, "Jal..jayo." tepat setelah ucapan itu berakhir Ryeowook tertidur dengan lelapnya.

.

.

Seorang namja tampan bertubuh tinggi dengan balutan piyama yaang mewah tengah berdiri di sisi jendela yang terbuka menikmati cahaya rembulan yang menerpa dirinya.

"Bulan yang semakin cerah," ujarnya pelan, sekilas raut wajah datar kekasihnya muncul dalam bayangnya, "Jaljayo, love." Gumamnya.

.

.

Esok hari yang begitu terasa tenang dan damai, beberapa penduduk ada yang sudah beraktivitas ada pula yang masih bergelung di balik selimut mereka yang tebal dan hangat, yah mengingat ini adalah hari minggu jadi setiap orang bebas beraktivitas atau tidak di dalam rumah masing-masing.

Ting tong

Terdengar bunyi bel di depan pintu masuk keluarga Kim, Leeteuk yang sedang menyiapkan sarapan pagi di temani oleh suaminya buru-buru keluar dari dapur dan berjalan menuju pintu masuk.

cklek

"Ne, nuguya?" tanya Leeteuk sambil membuka pintu, di depannya berdiri sosok gadis cantik dengan rambut ikal panjang sepunggung berwarna hitam, pipinya yang bulat mirip kue mochi terlihat semakin bulat kala tersenyum manis di depan Leeteuk.

"Annyeong, ahjumma perkenalkan nama saya Henry." Sapanya seraya memperkenalkan diri.

"Annyeong, kamu siapa?" tanya Leeteuk penasaran, 'senyum itu, rasanya aku seperti pernah melihatnya.' Batinnya.

"Saya teman Ryeowook, ahjumma." Jawabnya riang yang alhasil membuat Leeteuk mengerutkan keningnya.

"Teman?" Henry mengangguk semangat.

"Siapa yang datang Umma?" nada dingin seorang gadis cantik yang merupakan putri satu-satunya keluarga Kim terdengar di belakang sang Umma.

"Ini katanya dia.."

"Oh my bestfriend Wookie." Henry nyelonong masuk begitu saja sambil merentangkan kedua tangannya bermaksud memeluk Ryeowook.

'Bestfriend?' inner sang Umma, pasalnya setau Leeteuk Ryeowook bukan orang yang suka bergaul dengan siapapun, ingat siapapun...

"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Ryeowook dingin.

"Tentu saja untuk menemuimu, kitakan teman." Jawab Henry polos atau sengaja di buat-buat.

Ryeowook memutar bola matanya, "Aku sedang malas di kunjungi, kau pulang saja." Usirnya secara terang-terangan.

"Ah bagaimana kalau kita berbicara di kamarmu Wookie, kajja tunjukan padamu." Henry menyeret Ryeowook.

"Yaaakkk!" pekik Ryeowook keras.

Leeteuk yang masih di depan pintu keluar memandang nanar putrinya, 'Seandainya pada kami pun dia seperti itu. Wookie mianhae' batin sang Umma sedih.

.

.

"Jadi apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Ryeowook langsung tanpa basa-basi.

Henry tersenyum manis, "Mungkin tidak akan percaya jika aku datang kesini atas nama seseorang."

Ryeowook mengernyit, "Maksudmu?"

"Kim Kibum."

Deg

"Kau tahu sesuatu tentangnya? Katakan padaku." Ryeowook mencengkram bahu Henry.

"Tentu saja." Ryeowook menurunkan cengramannya lalu berjalan cepat menuju gantungan baju yang terdapat beberapa mantel yang tergantung, raihnya sebuah mantel, topi dan juga sebuah kacamata hitam yang biasa di pakainya.

"Ikut aku, kita bicara di tempat lain, palli." Kini giliran Ryeowook yang menyeret lengan Henry.

Tbc

Fiuhhh selesai juga...

Gimana readers kyuwooknya udah lumayankah? Hehehehe

oh ya di chap ini kimi sempet nyelipin kalimat sobani iru kara itu sama artinya dengan becouse i'm here.. hehehe terinfirasi dari lagu amadori yang judulnya sobani iru kara, kalau gaje harap di maklum...

thank's to

santysomnia, ryeoyun, dhia bintang, wook wook, ryeosun, ghaldabalqies, key yoshi, ryeofa2125, ryeong9yu, cloudsomnia88, ryeowhyun09, nishaRyeosomnia, ratu kyuhae, dhafaryeosomnia, lailalala istri ryeowook (kimi istrinya kyuhyun, hehe), khai ria, kim ryokie, guest 1, guest2, guest3, meidi96, kimparkshi1, byun hyerin, dheek enha1, sushimakipark, hanazawa kay, wookiepoopz, MyryeongKU.

Sampai ketemu lagi semuanya paipai

Review please^^