Comatose

.

ChanBaek/BL/Romance/Tragedy/T-rated

.

Disclaimer : semua karakter yang terdapat dalam fanfiction ini hanya dipinjam namanya saja dan kesemuanya milik diri mereka sendiri. Cerita ini hanya fiksi dan tidak benar-benar berhubungan dengan pihak-pihak yang bersangkutan.

.

Happy reading guys


Chapter 1 – Coma Boy (Si Bocah yang Koma)

Coma (koma) adalah keadaan tidak sadarkan diri selama lebih dari enam jam dimana seseorang tidak dapat dibangunkan; tidak dapat menerima rangsangan berupa rasa sakit, cahaya, atau suara secara normal; tidak adanya siklus tidur-bangun; dan tidak ada tanda-tanda aktivitas yang dilakukan secara sengaja. Seseorang yang berada dalam kondisi koma dikatakan sedang mengalami comatose.

Koma dapat timbul karena berbagai kondisi, termasuk keracunan, keabnormalan metabolik, penyakit sistem saraf pusat, serta luka neurologis akut seperti stroke dan hipoksia. Atau dalam hal ini, karena kecelakaan berat yang berdampak pada kepala sehingga terjadi pendarahan dalam tempurung kepala.

Baekhyun baru saja menyelesaikan kelas menyanyinya di sore hari hujan ketika tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhnya yang sedang berjalan di trotoar. Mobil tersebut dikendarai oleh dua orang pencuri mobil yang tidak dapat mengendalikan laju mobil karena pengaruh alkohol dan narkoba. Tubuh Baekhyun terpental jauh dan ia beberapa kali mengantam aspal karena terpelanting. Ia tergeletak tak berdaya enam puluh meter dari tempatnya tertabrak. Dua orang pencuri yang menabraknya meninggalkan tubuh Baekhyun dan melarikan diri. Sementara tubuh Baekhyun yang berlumuran darah ditinggalkan di tengah jalan.

Orang-orang berlarian menghampiri Baekhyun yang tidak sadarkan diri. Hujan turun semakin deras dan darah mulai menggenang terbawa air hujan. Orang-orang semakin panik, mereka melakukan panggilan darurat untuk meminta ambulans. Salah seorang diantara orang-orang tersebut melepas jaketnya dan melilitkannya ke kepala Baekhyun yang banyak mengeluarkan darah. Ia meletakkan dua jarinya di bawah lobus telinga Baekhyun dan menghitung denyut jantungnya.

"Jangan pindahkan tubuhnya. Ia bisa saja mengalami patah tulang, lebih baik kita tunggu bantuan medis datang agar kondisinya tidak semakin buruk karena kesalahan penanganan dari orang awam seperti kita. Denyut jantungnya tidak teratur, aliran darah ke otaknya tidak lancar karena shock."

Kerumunan orang-orang yang sudah bersiap untuk memindahkan tubuh Baekhyun segera berhenti. Mereka mengikuti saran yang dikatakan dan menjauh dari tubuh Baekhyun. Dua orang diantaranya membuka payung mereka dan berdiri di samping tubuh Baekhyun agar hujan tidak menerpa tubuh Baekhyun yang sudah basah kuyup.

Ambulans datang dengan cepat. Orang-orang berbaju putih segera keluar dari dalam ambulans. Dalam waktu singkat Baekhyun sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk pertolongan gawat darurat.

Dua hari kemudian Baekhyun dinyatakan koma setelah dirawat di unit perawatan intensif dan menjalani bedah saraf pada sistem saraf otaknya. Ia tidak akan dipindahkan dari unit perawatan intensif sampai kondisinya stabil. Kedua orang tua Baekhyun amat terkejut ketika mendengar anak bungsunya berada dalam kondisi darurat dan harus segera menjalani bedah saraf di kepalanya. Mereka meminta tim dokter untuk melakukan segala hal yang dibutuhkan untuk mengembalikan hidup Baekhyun dan tidak membiarkannya meninggal.

Setelah tujuh hari dalam kondisi naik turun, Baekhyun berhasil melewati masa kritisnya. Namun ia masih belum sadarkan diri. Ibu Baekhyun memutuskan untuk mengambil cuti selama tiga puluh hari untuk menemani Baekhyun di rumah sakit. Perusahaan tempat ibu Baekhyun bekerja bisa maklum dan memberi ijin untuk ibu Baekhyun. Sementara ayah Baekhyun tetap bekerja agar ia bisa membayar seluruh biaya perawatan Baekhyun. Ia akan ke rumah sakit sepulang bekerja dan menemani istrinya dan Baekhyun sampai pukul delapan malam. Setelah itu ia akan pulang ke rumah dan ibu Baekhyun akan tinggal di rumah sakit untuk menemani Baekhyun sepanjang malam.

Di akhir pekan kakak Baekhyun akan datang dan menemani Baekhyun seharian. Ia memberi kesempatan pada ayah dan ibunya agar bisa beristirahat di rumah. Dua puluh tiga hari dan Baekhyun masih belum sadarkan diri. Keluarga dan tim dokter rumah sakit tidak dapat berbuat banyak dan hanya menunggu sampai Baekhyun terbangun dengan sendirinya. Secara berkelanjutan pernapasan dan aktivitas otak Baekhyun dipantau melalui CT scans. Semenjak dinyatakan koma, Baekhyun sudah tidak bernapas dengan sistem pernapasannya sendiri, sejauh ini ia bernapas dengan bantuan alat.

Baekhyun tidak menderita patah tulang apapun. Luka yang diperolehnya adalah luka luar yang dapat sembuh dengan segera. Namun cedera traumatis pada kepalanya membuat Baekhyun tidak segera pulih. Para perawat memindahkan posisi tidur Baekhyun tiap dua jam sekali untuk mencegah tubuhnya cedera karena terlalu lama dalam posisi tidur yang sama. Baekhyun sempat menderita infeksi pneumonia, terdapat peradangan pada paru-parunya karena respon terhadap organisme patogen dalam jaringannya. Namun para dokter dapat mengatasi infeksi tersebut dengan sejumlah vaksin sehingga infeksi itu tidak semakin parah.

Di hari keduapuluh sembilan Baekhyun menunjukkan respon terhadap rangsangan cahaya pada pupil matanya. Dokter mengatakan jika itu adalah pertanda yang baik. Jika Baekhyun terus mengalami peningkatan respon, bukan tidak mungkin jika ia akan segera tersadar dari komanya. Orangtua dan kakak Baekhyun amat senang mendapat kabar itu. Di hari ketigapuluh satu, Baekhyun menggerakkan telapak tangannya. Gerakannya begitu kecil, namun gelombang otaknya begitu baik. Dua jam kemudian Baekhyun membuka matanya untuk pertama kali setelah tiga puluh hari koma. Hal pertama yang dilihatnya saat itu adalah ibunya yang menangis di samping tubuhnya. Baekhyun samar-samar mendengar suara derap langkah setelah ia melihat kakaknya menekan tombol darurat di kamar rawatnya. Ia melihat orang-orang berbaju putih masuk ke kamarnya dan kemudian ia jatuh tertidur.

Baekhyun terbangun keesokan paginya. Saat itu sudah hampir pukul sebelas pagi. Ia melihat sekelilingnya dengan pandangan linglung. Antara sadar dan tidak sadar, Baekhyun menoleh ke sebelah kanannya dan ia melihat kakaknya sedang tidur bersandar pada ranjangnya. Ia ingin memanggil kakaknya, tapi ia kesulitan mengeluarkan suaranya. Lidah dan mulutnya tidak menerima respon dari otaknya untuk berbicara. Baekhyun mengerat giginya, denyut jantungnya mendadak meningkat karena dirinya terlalu shock dengan yang terjadi pada tubuhnya.

Suara alat pemantau dentak jantung Baekhyun membangunkan kakak Baekhyun. Ia terkejut melihat grafik yang meningkat dan ia segera menekan tombol darurat untuk memanggil perawat dan dokter. Kakak Baekhyun melihat kondisi adiknya dan ia melihat kedua mata Baekhyun terbuka lebar. Napasnya tak beraturan dan matanya membelalak tidak wajar. Kakak Baekhyun segera memegang bahu Baekhyun dan menenangkannya. Tak lama kemudian beberapa perawat dan dokter masuk ke kamar rawat Baekhyun dan kakak Baekhyun segera didorong untuk keluar dari ruangan.

"Mohon anda tunggu di luar sementara kami menangani adik anda," salah seorang perawat meminta kakak Baekhyun untuk keluar ruang rawat dan menunggu di luar. Setelah itu pintu ditutup dan kakak Baekhyun tidak dapat lagi melihat apa yang terjadi pada Baekhyun. Kakak Baekhyun menunggu dengan cemas kondisi adiknya.

Dini hari tadi Baekhyun dinyatakan sadar dari komanya oleh para dokter setelah secara tak sengaja ibunya melihat Baekhyun membuka matanya perlahan. Saat itu ibu Baekhyun terkejut bukan main dan ia segera membangunkan kakak Baekhyun untuk memanggil perawat dan dokter untuk melihat kondisi Baekhyun. Setelah beberapa waktu keduanya diminta untuk menunggu diluar, dokter membawa kabar baik jika Byun Baekhyun telah sadar dari komanya dan saat ini sedang tertidur. Ibu dan kakak Baekhyun amat bersyukur mendengar kabar itu. Meskipun menurut dokter kondisi Baekhyun belum sepenuhnya stabil, tapi setidaknya ia sudah tidak dalam kondisi koma.

Setelah tersadar untuk kedua kalinya, dokter memeriksa Baekhyun lebih dari satu jam. Kakak Baekhyun menunggu di depan kamar rawat adiknya dengan sabar. Beberapa saat setelah dokter dan perawat memeriksa Baekhyun ia segera menelepon kedua orang tuanya dan memberitahu apa yang terjadi. Orang tuanya akan datang ke rumah sakit setelah jam kerja mereka selesai. Hari itu adalah hari Rabu dan orang tuanya bekerja seperti biasa. Cuti yang diambil ibunya baru saja berakhir kemarin, hari ini adalah hari pertamanya bekerja setelah cuti selama tigapuluh hari. Tidak ada yang mengira akan ada keajaiban di pagi buta. Baekhyun tersadar dari komanya.

"Tuan Byun, anda sudah bisa menemui adik anda," seorang dokter yang tadi menangani Baekhyun memanggil kakak Baekhyun. Dokter itu membuka pintu lebih lebar dan mengucapkan beberapa kalimat kepada kakak Baekhyun sebelum meninggalkan kamar Baekhyun. "Pastikan ia tidak terlalu lelah. Jangan diajak bicara dahulu, ia masih belum sepenuhnya sadar dari shock. Mungkin karena cedera di kepalanya, beberapa syarafnya tidak merespon rangsangan dengan baik. Kami belum bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena ia baru saja sadar dari koma yang cukup lama. Tapi kami akan segera memeriksanya setelah ia kami anggap sudah cukup kuat untuk kembali menjalani serangkaian pemeriksaan mendalam pada kepalanya. Semoga ia menunjukkan perkembangan ke arah yang semakin baik. Sekarang kami akan membiarkannya beristirahat terlebih dulu. Kami akan memantau kondisinya tiap tiga jam sekali."

Kakak Baekhyun menundukkan kepalanya setelah dokter tersebut meninggalkan kamar rawat Baekhyun, ia mengucapkan terima kasih dan segera masuk ke kamar rawat adiknya. Disana ia melihat Baekhyun sedang menatap kosong ke langit-langit kamarnya. Baekhyun menyadari ada seseorang yang berjalan mendekatinya.

"Baekhyun?"

Bola mata Baekhyun berkedut pelan. Ia ingin merespon panggilan itu tapi tubuhnya tidak mau mengikuti keinginannya. Ia ingin melihat siapa itu yang datang menghampirinya.

"Bagaimana kabarmu? Kau tidak melupakanku kan? Aku kakakmu, Baekbeom," kakak Baehyun mendekati ranjang Baekhyun dan mengusap pahanya pelan. Kepala, dada, dan lengan Baekhyun dipenuhi alat-alat yang menyangga hidupnya, kakak Baekhyun tidak berani menyentuh adiknya di tempat-tempat itu karena bisa saja membahayakan nyawa adiknya. Namun tidak ada respon apapun dari Baekhyun. Baekhyun terdiam kaku di tempat tidurnya, tidak bergerak sama sekali. Bola matanya bergerak-gerak kecil, namun ia tidak dapat merasakan usapan kakaknya pada pahanya.

Kakak Baekhyun tidak memaksakan adiknya untuk merespon, ia tersenyum dan menarik kursi mendekat ke samping adiknya. "Tidak apa-apa kalau belum bisa menjawab panggilan hyung, pastikan besok kau bisa menjawab panggilanku ya."

Hari ketiga setelah sadar dari koma. Kepala Baekhyun terasa nyeri. Bagian kepala sampai lehernya terasa berdenyut-denyut. Sakit kepala itu baru hilang setelah beberapa menit. Baekhyun bernapas lega, ia sedikit tak nyaman dengan alat bantu pernapasannya, tapi ia bingung akan melakukan apa. Kemarin ia tidak terlalu banyak tidur, meskipun ia baru sadar dari koma, ia menunjukkan perkembangan luar biasa untuk seseorang yang telah tak sadarkan diri dalam waktu yang lama. Pasien lain baru akan terbangun lagi setelah beberapa jam tertidur, lalu tertidur lagi untuk beberapa jam dan bangun lagi begitu seterusnya. Pola itu menunjukkan seseorang mulai benar-benar lepas dari kondisi koma. Namun Baekhyun tidak bisa tidur lagi, ia terus-terusan membuka kedua matanya.

Siang harinya seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa keadaan Baekhyun. Dokter menyenter kedua pupil mata Baekhyun dan semuanya merespon cahaya dengan baik. Namun saat dokter memeriksa reflek kelopak matanya, tidak ada respon apapun. Seharusnya dua otot yang mempengaruhi membuka tutupnya kelopak mata akan refleks bereaksi terhadap rangsangan yang mengarah pada mata dalam jarak tertentu. Namun kedua kelopak mata Baekhyun tidak berfungsi seperti sebagaimana mestinya. Dokter mengarahkan telapak tangannya ke mata Baekhyun dan menggerakkannya ke atas dan ke bawah untuk memberi rangsangan pada kelopak mata.

Di hari ketujuh, Baekhyun sudah bisa duduk dengan dibantu dan refleks pada kedua kelopak matanya sudah jauh lebih baik. Refleks kelopak matanya belum sempurna seperti yang seharusnya dimiliki manusia, tapi respon yang sedikit lambat itu jauh lebih baik dibandingkan tidak merespon sama sekali. Namun masalah lain pada tubuhnya diketahui ketika Baekhyun sudah diijinkan untuk mengonsumsi makanan dan minuman dengan mulutnya sendiri dan bukan dari suntikan. Ia tersedak hebat karena ia tidak dapat menelan air yang diminumnya. Lidah dan mulutnya tidak bisa sinkron satu sama lain. Air keluar dari hidungnya dan Baekhyun terbatuk-batuk sampai menangis. Kelenjar air matanya secara tak sengaja ikut bereaksi ketika Baekhyun tersedak.

Di hari kedelapan dan kesembilan Baekhyun mencoba belajar menggerakkan lidahnya. Ia juga belajar mengunyah dan menelan makanannya. Kerusakan pada kepalanya membuat syarafnya tidak berfungsi dengan baik. Itu artinya ada banyak hal yang dulunya mudah dilakukan tubuhnya dan menjadi begitu sulit dilakukan sekarang ini. Menelan makanan atau minuman juga harus dilakukan dengan hati-hati agar ia tidak tersedak. Sampai hari kedelapan Baekhyun belum bisa berbicara. Ia mencoba membuka mulutnya dan mengeluarkan suaranya, tapi yang terdengar hanyalah suara-suara yang tidak jelas.

Baekhyun mengalami kesulitan mengartikulasikan kata-kata. Dysarthria dalam bahasa kedokteran. Kondisi itu timbul karena kerusakan pada sistem syaraf akibat cedera traumatis di kepala. Dysarthria menyebabkan kesulitan dalam mengucapkan kata-kata karena otot yang membantu dalam memproduksi kata-kata tidak dapat saling berkoordinasi dengan baik. Baekhyun sering kali ingin mengucapkan sesuatu, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah ucapan-ucapan tidak jelas yang tidak dapat disebut kata-kata.

Setelah tersadar dari koma, Baekhyun kehilangan kendali atas tubuhnya. Ia kesulitan bergerak dan berbicara. Tubuhnya merespon amat lambat jika dibandingkan dengan orang lain yang sehat. Orang tua dan kakaknya mulai belajar memahami apa yang ingin dikatakan Baekhyun dengan melihat bahasa tubuhnya. Jika ingin mengatakan iya, maka Baekhyun akan mengangguk atau berkedip satu kali. Jika ingin mengatakan tidak maka Baekhyun akan menggeleng atau berkedip dua kali. Di satu hari Baekhyun akan mudah mengangguk atau menggelengkan kepalanya, tapi di hari lain untuk menggerakkan kepalanya terkadang bisa menjadi begitu sulit. Baekhyun perlahan-lahan mencoba memahami tubuhnya dan mengingat kembali apa-apa saja yang bisa dilakukan tubuhnya dahulu.

Suatu hari dokter datang dengan membawa sebuah bolpoin. Dokter meminta Baekhyun menggenggam bolpoin tanpa menjatuhkannya. Baekhyun bisa melakukannya. Namun saat dokter memintanya untuk membuka tutup bolpoin itu, Baekhyun tidak bisa membuat gerakan menarik tutup bolpoin. Sekuat apapun ia memerintahkan tangannya untuk membuka tutup bolpoin, jari-jemarinya tidak bisa merespon itu. Dokter menenangkan Baekhyun, tidak apa jika otak dan inderanya belum bisa berkoordinasi dengan baik. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya berlatih maka Baekhyun akan mendapatkan kembali kendali syarafnya. Baekhyun sedikit tenang mendengarnya.

Di hari kesebelas, saat itu hari Minggu, Baekhyun bisa menggenggam gelas berisi air tanpa menjatuhkannya. Ia bisa meminum sendiri air yang ada di gelas dan mengembalikannya ke meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Sedikit-sedikit Baekhyun mulai bisa makan dan minum sendiri tanpa dibantu perawat atau keluarganya. Meskipun ia makan dalam waktu yang amat lama, namun Baekhyun amat bersemangat dalam menghabiskan sendiri makanannya. Kadang-kadang ia akan menjatuhkan sendoknya karena jari-jarinya kehilangan respon, tapi Baekhyun tidak putus asa. Ia akan mengambil sendok lain yang sudah disediakan oleh perawat dan kembali melanjutkan makannya perlahan-lahan. Ibunya sering kali diam-diam menangis melihat Baekhyun yang berusaha keras untuk makan dengan tangannya sendiri. Meskipun ada banyak nasi dan lauk yang jatuh berceceran, tapi itu adalah perkembangan yang sangat menggembirakan.

Selama proses pemulihan, Baekhyun hanya duduk di atas ranjangnya. Terkadang ia akan berbaring jika punggung dan lehernya terasa lelah. Setiap hari ia belajar menggerak-gerakkan tubuhnya. Ia akan duduk meluruskan kakinya dan mengetuk-ngetuk kakinya. Indera perasa di ujung-ujung kakinya masih belum sepenuhnya kembali, tapi ia bisa sedikit-sedikit menggerakkan-gerakkan jari-jari kakinya dengan gerakan menggaruk atau mencengkeram.

Dua hari kemudian Baekhyun dipindahkan ke kamar lain. Ia dipindahkan ke kamar rawat biasa. Baekhyun senang mendengarnya. Itu artinya ia sudah boleh dijenguk dan ia bisa bertemu dengan kerabat dan teman-temannya. Hatinya berdebar saat ia menuju kamar yang akan menjadi kamar rawatnya. Kakaknya mendorong kursi rodanya perlahan. Baekhyun memandang dinding-dinding rumah sakit dan ia senang bisa melihat hal-hal yang tidak bisa ia lihat selama ia masih dalam perawatan intensif.

Baekhyun berkata jika ia amat senang dengan kepindahannya, namun kakaknya tidak bisa mendengarnya. Baekhyun belum bisa berbicara, tapi ia sering memikirkan kata-kata dalam otaknya. Jika ada yang berbicara padanya, ia akan mencoba menjawabnya. Kata-kata yang akan diucapkannya sudah begitu jelas, tapi ia tak bisa mengartikulasikannya dengan baik. Baekhyun biasanya akan tersenyum saja dan menggerak-gerakkan mulutnya agar orang yang mengajaknya berbicara mengetahui jika ia merespon perkataan mereka.

"Selamat datang di kamar barumu, Baekhyunie," kakak Baekhyun berhenti di sebuah kamar di bangsal perawatan pasien. Kamar itu kelas VIP, satu kamarnya hanya dihuni satu pasien. "Ayah dan ibu memutuskan untuk merawatmu di kamar VIP agar kau tidak terganggu dengan pasien lain. Ruangannya cukup luas, kau bisa menerima teman-temanmu yang datang menjenguk dan kau juga bisa berlatih menggerakkan tubuhmu dengan leluasa di dalam."

Baekhyun mengangguk, ia ingin mengucapkan terima kasih meskipun kakaknya tidak bisa mendengarnya. Kakaknya lalu membuka pintu kamarnya dan mendorong kursi roda Baekhyun masuk ke dalam. Saat masuk ke dalam kamarnya yang luas, ia bisa melihat teman-temannya sedang sibuk dengan beberapa kotak hadiah di sofa kamarnya. Ketika suara pintu dibuka terdengar, semua orang yang berada dalam ruangan menolehkan kepalanya dan berteriak senang saat melihat Baekhyun.

"BAEKHYUN!"

Baekhyun tertawa-tawa dalam hatinya saat teman-temannya berlari mendekati kursi rodanya. Nampak sekali jika mereka menjaga jarak karena takut melukai tubuh Baekhyun. Kakak Baekhyun lalu meninggalkan Baekhyun di dalam kamar bersama teman-temannya untuk mengurus beberapa berkas kepindahan kamar rawat. Teman-teman Baekhyun sudah diberitahu kondisi yang terjadi pada Baekhyun setelah sadar dari komanya. Kesemua temannya paham dan akan berusaha untuk tidak memperburuk fisik maupun psikis Baekhyun dan berhati-hati dalam menyikapi Baekhyun.

Baekhyun didorong mendekat ke sofa. Di dalam kamar barunya terdapat dua buah sofa memanjang dan meja kaca yang disediakan bagi anggota keluarga atau kerabat yang datang menjenguk. Satu per satu teman-temannya memperkenalkan diri masing-masing. Ada banyak sekali hadiah berceceran di sofa dan satu persatu hadiah tersebut dipindahkan ke meja yang terletak di ujung kamar. Teman-temannya menceritakan banyak sekali hal dan apa-apa saja yang biasa mereka lakukan bersama Baekhyun. Dengan begitu Baekhyun akan mengingat mereka satu persatu.

'Aku masih mengingat kalian semua teman-teman. Terima kasih, dan maaf karena bisa saja aku melupakan kalian setelah kecelakaan itu.'

Baekhyun hanya tersenyum, ia mendengarkan dengan baik semua yang diceritakan teman-temannya. Salah seorang temannya menceritakan lawakan yang amat lucu, Baekhyun ingin tertawa, tapi syarafnya belum bisa merespon tawa. Seluruh temannya tertawa terbahak-bahak, namun hanya ia sendiri yang diam. Hatinya tiba-tiba terasa nyeri. Jika Baekhyun yang dulu pasti akan tertawa sambil berguling-guling di lantai. Tapi sekarang ia tidak bisa tertawa.

Salah seorang temannya yang bernama Kyungsoo mendekat ke arah Baekhyun, ia menepuk bahunya pelan. "Jangan dipaksakan tertawa kalau belum bisa tertawa. Wajahmu menyeramkan sekali tadi. Pelan-pelan saja, kau pasti segera sembuh." Kyungsoo tersenyum, ia memijat tengkuk Baekhyun pelan dan ia menyadari sesuatu. Dulu Baekhyun amat sensitif jika ada yang menyentuh tengkuknya, ia akan merinding dan kabur melarikan diri dari teman-temannya yang sering kali iseng menyentuh tengkuknya. Tapi sekarang Baekhyun hanya tersenyum tanpa merasakan apa-apa.

Di jam makan siang teman-temannya memutuskan untuk pulang agar Baekhyun bisa beristirahat. Esok harinya beberapa akan menjenguk Baekhyun sesuai dengan jadwal yang sudah mereka tetapkan sendiri agar Baekhyun tidak kesepian. Orang tua Baekhyun bekerja dari pagi sampai petang. Kakaknya kuliah di universitas yang ada di provinsi lain dan baru akan mengunjungi Baekhyun di akhir pekan. Seharian Baekhyun akan sendirian dan menjalani terapi agar bisa kembali bergerak dengan normal.

Setelah sore, Baekhyun duduk sendirian di ranjangnya menunggu ayah atau ibunya datang. Sembari menunggu ia mencoba menggerakkan tangannya. Ia membuat batu gunting kertas dengan kedua telapak tangannya. Ia bisa melakukan kertas dan batu dengan mudah, namun ia tidak bisa membuat gunting. Jari manis dan kelingkingnya sulit dilipat, sementara ibu jarinya bergetar saat dilipat. Latihan yang dilakukan Baekhyun amat lambat, jari-jarinya masih sering bergetar, tapi ia berusaha keras seperti saat ia berusaha menggenggam gelas agar tidak terjatuh.

Baekhyun belum bisa duduk sendiri, ia belum bisa memerintahkan tubuhnya untuk duduk. Ia sering dibantu oleh perawat yang datang tiga jam sekali untuk melihat kondisinya. Di tangannya sekarang ada boneka yang penuh dengan restliting dan tali-tali. Hadiah itu dari temannya yang bernama Tao agar ia bisa melatih gerak jari-jarinya. Baekhyun sudah mencobanya tadi, ia belum bisa menarik restliting dan menarik tali-tali yang dibentuk menjadi simpul. Tapi ia mendengar dari dokter jika latihan dengan boneka itu bisa membantunya memperoleh kembali kendali tangannya. Tidak boleh menyerah dan terus berlatih. Baekhyun terus berusaha untuk melatih tangan dan jarinya.

"Aku juga mendapat boneka yang serupa saat pertama kali sampai di rumah sakit ini." Baekhyun menghentikan jari-jarinya yang masih sibuk dengan boneka. Ia menolehkan kepalanya dengan gerakan kaku saat ada suara yang didengarnya. Ia melihat seseorang dengan kursi roda sedang mendekat ke ranjangnya.

"Hai, aku Chanyeol. Aku pasien yang dirawat di seberang kamarmu. Senang berkenalan denganmu, Baekhyun."

Baekhyun menatap bingung laki-laki yang sekarang berada di hadapannya ini. Ia ingin menanyakan siapa gerangan laki-laki asing itu. Ia tak merasa mengenal atau pernah mengenalnya. Baekhyun ingin berbicara, tapi ia tidak bisa.

"Kita belum saling mengenal. Aku mengetahui namamu dari plat nama yang ada di depan pintu kamarmu. Pagi tadi aku sempat berbincang dengan kakakmu. Dan omong-omong, kau terbangun dari koma di hari ulang tahunku."

'...'

"Ayo berteman, Baekhyun!"

Baekhyun hanya memandang bingung sosok Chanyeol yang saat ini sedang mengacungkan jempol dan tersenyum lebar. Dia diajak berteman, tapi meskipun Baekhyun belum mengenal orang itu Baekhyun menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

'Tentu.'

"Bagus! Mulai besok sepertinya kita akan banyak bertemu, kita bertemu lagi besok ya. Jangan lupa, namaku Chanyeol. Bye." Sosok berkursi roda itu memutar kursi rodanya cepat dan menghilang di balik pintu. Sepertinya dia amat senang dan bersemangat.

Baekhyun memandangi pintu kamarnya. Ia masih menggenggam boneka pemberian Tao di tangannya. Tapi sekarang sepertinya boneka itu sudah tak menarik minatnya lagi.

'Sampai bertemu besok, orang asing.'

.

TBC


Halo, Nascatti disini. Itu chapter satunya. Masih sedikit slow karena Baekhyun baru sadar dari koma dan dia masih berusaha untuk bergerak. Buat chapter depan si Chanyeolnya udah mulai eksis. Makasih buat yang udah baca prolog kemaren :D

Sip, ketemu lagi di chapter dua ya. Semoga kalian semua sehat. Bubaaaaaaaaai :D