Comatose

.

ChanBaek/BL/Romance/Tragedy/T-rated

.

Disclaimer : semua karakter yang terdapat dalam fanfiction ini hanya dipinjam namanya saja dan kesemuanya milik diri mereka sendiri. Cerita ini hanya fiksi dan tidak benar-benar berhubungan dengan pihak-pihak yang bersangkutan.

.

Happy reading guys


Chapter 2 – Iridescent Boy (Si Bocah Warna-warni)

Hari keempat belas Baekhyun mulai belajar mengambil kelereng dengan jari-jarinya. Terapisnya memberikan keranjang kecil berisi lima belas kelereng warna-warni. Baekhyun harus memindahkan kelereng-kelereng itu ke keranjang lain yang ada di sampingnya dengan jari-jarinya tanpa menjatuhkannya. Terapisnya menunggui Baekhyun dengan sabar. Ia duduk di samping ranjang Baekhyun dan menyemangatinya ketika kelereng yang digenggam Baekhyun jatuh dari jarinya. Baekhyun tidak diijinkan menggunakan dua tangan seperti saat ia berlatih menggenggam gelas. Ia diperintahkan mencoba dengan tangan kanannya dulu.

"Sepertinya sulit ya. Coba pindahkan kelereng-kelereng itu ke telapak tanganmu. Lakukan cara apapun dan setidaknya pindahkan lima kelereng," kata nuna terapis. Baekhyun mengangguk, sudah satu jam lebih ia mencoba memindahkan kelereng-kelereng itu dengan jarinya namun ia selalu menjatuhkannya. Sepertinya nuna terapis ingin mencoba metode lain pada Baekhhyun. Sekarang Baekhyun meletakkan telapak tangannya di atas kelereng-kelereng itu dan berusaha menggenggamnya. Baekhyun sedikit-sedikit bisa merasakan kelereng itu di telapak tangannya, namun ia belum bisa mengangkatnya sekaligus. Ia kemudian menggunakan tangannya yang lain untuk menggenggam dan berhasil mengangkat enam buah kelereng. Nuna terapis tersenyum melihat enam buah kelereng sudah berpindah ke dua telapak tangan Baekhyun. Meskipun harus bersusah payah.

"Kau tidak kesulitan menggenggam benda-benda yang seukuran telapak tanganmu, tapi kau kesulitan dalam menggenggam benda berukuran kecil yang membutuhkan konsentrasi pada syaraf dan otot di ujung-ujung jari. Aku akan meninggalkan keranjang ini agar kau bisa berlatih. Besok kita akan coba dengan objek yang berbeda lagi." Baekhyun menganggukkan kepalanya pelan. Ia mencoba tersenyum dan berkata iya. Nuna terapis kemudian mengambil dokumen-dokumennya lalu meninggalkan Baekhyun untuk beristirahat, ia tersenyum sambil menutup pintu. "Sampai bertemu besok, Baekhyun. Beristirahatlah. Jangan sampai kelelahan."

Setiap harinya Baekhyun dijadwalkan untuk berlatih bersama terapis. Ia akan mulai berlatih dari jam sepuluh sampai jam makan siang. Seusai jam makan siang Baekhyun tidak memiliki jadwal apa-apa sampai esok paginya. Baekhyun menggunakan waktu itu untuk berlatih sesuai dengan jadwal yang disarankan terapisnya di pagi hari. Sekarang di pangkuannya masih ada keranjang berisi lima belas kelereng yang tadi diberikan nuna terapis. Ada satu yang berwarna merah. Baekhyun meletakkan ujung jarinya di atas kelereng itu dan mulai berusaha mengangkatnya. Tapi sekeras apapun ia mencoba mengangkatnya jari-jarinya seperti tidak merespon.

Besok nuna terapis akan membawakan balok-balok kayu berukuran segenggaman tangan untuknya. Nuna terapis sangat pengertian. Ia tidak memaksakan Baekhyun menggenggam benda-benda berukuran kecil lagi setelah melihat kemampuan yang saat ini dimiliki Baekhyun. Untuk manusia biasa tanpa kerusakan pada sistem syaraf tidak akan ada masalah, tapi Baekhyun memiliki cedera di tempurung kepala dan ia baru saja sadar setelah koma selama satu bulan. Terapi untuknya belum boleh terlalu sulit dan akan menyesuaikan kondisinya.

Jam makan siang masih lima belas menit lagi. Baekhyun berdiam diri menunggu perawat datang membawakan makan siang lalu meminta tolong agar memindahkan keranjang di pangkuannya. Ia merasa capek. Baekhyun bisa menggeser keranjang kecil itu, tapi ia tidak bisa meletakkannya dengan benar. Ia pasti menjatuhkan kelereng-kelereng yang ada di dalamnya dan ia akan merasa sangat sungkan jika meminta tolong perawat untuk mengambilkan kelereng-kelereng yang berceceran di lantai karenanya.

Perawat-perawat yang bertugas memeriksa dan memantau kondisi Baekhyun kesemuanya sangat baik dan perhatian. Mereka sudah mendengar apa yang terjadi pada Baekhyun dan bagaimana kondisinya saat ini. Kesemuanya paham dan maklum. Baekhyun yang terus bersemangat dan selalu tersenyum setiap hari membuat orang-orang kagum. Meskipun Baekhyun berada dalam masa-masa sulit yang bagi sebagian orang terasa seperti siksaan hidup.

"Yo. Boleh aku masuk?" Terlihat sepasang mata mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Baekhyun menoleh pelan-pelan, ia melihat laki-laki yang kemarin sore dilihatnya sedang mendekat ke ranjangnya. Laki-laki itu tersenyum lebar. "Belum lupa padaku kan?" tanyanya. Baekhyun berpikir sebentar, lalu ia menggeleng.

"Memangnya kau ingat siapa namaku?" tanyanya lagi. Ia sekarang berada di samping ranjang Baekhyun. Baekhyun mencoba mengingat siapa namanya. Rasa-rasanya baru kemarin sore ia berkenalan namun ia seperti tidak mempunyai ingatan apapun tentang kejadian kemarin. Ia ingin bilang kalau ia tidak ingat, tapi ia sungkan dan ia tidak bisa bicara.

"Tidak ingat ya? Namaku Chanyeol. Aku dirawat di depan kamar rawatmu, aku tidak bisa berjalan dan kau bangun dari koma di hari ulang tahunku."

'Aah, iya benar,' Baekhyun mengingat siapa laki-laki itu, 'Maaf aku tidak ingat.'

"Tidak usah minta maaf," kata Chanyeol. "Omong-omong, kau keberatan kalau aku makan siang di sini bersamamu? Aku bosan makan di kamar atau di koridor." Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Bagus. Oh ya, kau tidak capek memangku keranjang itu terus? Mau aku pindahkan?" Chanyeol menunjuk keranjang berisi kelereng warna warni yang ada di pangkuan Baekhyun. Baekhyun ingin bilang iya. Baru saja ia berniat menganggukkan kepalanya Chanyeol sudah lebih dulu memindahkan keranjang itu dari pangkuannya ke sisi ranjangnya.

"Aku sempat berbincang dengan kakakmu dan aku tahu apa yang terjadi padamu. Kau masuk koran bulan lalu lho."

'Eh? Masa?'

"Tapi aku tidak membaca beritanya, aku mendengarnya dari bibi perawat," kata Chanyeol. Baekhyun mengangguk-angguk. Ia tidak ingat dengan apa yang terjadi padanya. Ingatan Baekhyun terputus di hari kecelakaannya dan ia hanya bisa mengingat hari-hari setelah ia terbangun dari koma. Kakaknya pernah bercerita padanya kalau ia mengalami kecelakaan sebelum ia koma, tapi apa saja yang dilaluinya di hari kecelakaan sama sekali tidak tersisa di ingatannya.

Baekhyun mengalami penurunan ingatan namun ia tidak kehilangan seluruhnya. Ia masih mengingat keluarga dan teman-temannya meskipun beberapa ia lupakan namanya. Baekhyun juga tidak kehilangan intelijensinya. Ia masih bisa menghitung satu sampai seratus dengan benar tanpa kebingungan. Meskipun begitu Baekhyun kehilangan kendali syarafnya, maka dari itu sampai beberapa waktu ke depan Baekhyun akan belajar untuk bisa bergerak dan berbicara normal lagi.

Baekhyun dan Chanyeol diam menunggu perawat membawakan makan siang. Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang berputar-putar dengan kursi rodanya. Chanyeol terlihat begitu ahli mengendalikan kursi rodanya. Baekhyun jadi ingin tahu sejak kapan Chanyeol menggunakan kursi roda dan apa yang menyebabkannya tidak bisa berjalan dengan kakinya sendiri. Tapi menanyakan hal seperti itu akan membuat Chanyeol tidak nyaman, lagipula Baekhyun belum bisa berbicara dan bertanya.

Jam makan siang para pasien adalah jam duabelas siang. Para perawat akan mengantarkan satu persatu makan siang para pasien dan akan kembali untuk mengambil kembali nampan kosong satu jam kemudian. Beberapa pasien menyelesaikan makan siangnya dalam tiga puluh menit, tapi Baekhyun menghabiskan dua jam lebih untuk makan. Para perawat yang mengetahui kondisi Baekhyun bisa memaklumi itu. Baekhyun diberi peralatan makan yang terbuat dari melamin agar ia tak terluka jika ia tak sengaja menjatuhkannya saat tangannya kehilangan respon.

Perawat datang jam dua belas lebih tiga menit. Perawat itu masuk membawa sebuah nampan di tangannya. Ia meletakkan meja kecil di atas paha Baekhyun dan menata makan siang Baekhyun di atasnya. Baekhyun menganggukkan kepalanya dan tersenyum, perawat itu lalu keluar kamar Baekhyun untuk melanjutkan tugasnya dan berkata kalau ia akan mengambil nampannya nanti.

Baekhyun sudah bersiap memakan makan siang di hadapannya, tapi ia tak melihat Chanyeol di kamarnya. Baekhyun kebingungan, sepertinya hanya beberapa menit tadi ia mengalihkan perhatiannya dari Chanyeol, namun laki-laki itu menghilang secepat angin.

Tiba-tiba pintu kamar Baekhyun kembali terbuka dan Chanyeol masuk dengan nampan makan siang di pangkuannya. Ia mendekati Baekhyun dan melihat menu makan siang Baekhyun. "Aah, aku sudah pernah makan yang itu. Bosan deh," katanya. Baekhyun sedikit bingung, makanan yang diberikan kepadanya selalu berbeda beberapa hari ini. Baekhyun jadi semakin ingin tahu seberapa lama Chanyeol berada di rumah sakit sampai-sampai ia merasa bosan dengan makanan yang diberikan.

Satu jam lebih sudah berlalu. Chanyeol sudah menghabiskan makan siangnya empat puluh lima menit yang lalu. Tapi Baekhyun masih belum selesai sama sekali. Di nampannya masih banyak makanan yang belum dimakan. Makannya begitu lambat, untuk mengunyah dan menelan Baekhyun menghabiskan sepuluh menit lebih. Caranya menyendok dan memasukkan makanan ke mulutnya juga sangat kaku dan lambat. Gelas melamin yang ada di samping mangkuknya juga baru diminum sedikit. Tadi Chanyeol sempat melihat cara Baekhyun minum dan ia seperti melihat balita yang baru belajar minum dengan gelasnya sendiri. Kelihatan sulit sekali saat Baekhyun mengangkat gelas dengan kedua tangannya lalu meminum air di dalamnya.

Baekhyun menyadari jika Chanyeol memperhatikannya. Ia berhenti mengunyah sebentar, 'Kenapa dia melihatku seperti itu?'

"Tidak apa-apa. Lanjutkan saja makanmu. Aku mau mengembalikan nampanku dulu. Aku keluar sebentar."

Chanyeol keluar ruangan dan meninggalkan Baekhyun sendirian. Baekhyun melanjutkan makannya namun ia merasakan sedikit aneh saat bersama Chanyeol. Sedari bertemu Chanyeol ia sudah merasakan sesuatu, tapi ia tidak tahu apa itu. Ketimbang memikirkan hal-hal sulit, Baekhyun melanjutkan makannya dengan tenang. Lima belas menit kemudian Chanyeol datang kembali ke kamarnya. Baekhyun masih makan. Chanyeol lalu mendekat ke jendela dan melihat pemandangan di luar. Tidak ada yang menarik, di luar kelihatannya dingin. Salju akan turun karena sudah memasuki bulan Desember.

Selama tiga puluh menit Chanyeol duduk diam di kursi rodanya dan memandangi pantulan Baekhyun dari kaca. Baekhyun sedikit tidak nyaman saat dipandangi terus-terusan, meskipun ia tidak begitu mempedulikan sekitarnya. Chanyeol lalu mendekati Baekhyun. Nampannya sudah kosong.

"Waah, sudah habis. Mau kupanggilkan perawat? " tawar Chanyeol. Baekhyun ingin bilang kalau Chanyeol tidak perlu repot-repot, tunggu saja sampai perawat datang dan membersihkan nampannya, mungkin lima belas menit lagi. "Ya sudah kita tunggu saja perawatnya," kata Chanyeol cepat. Ia lalu mengangkat nampan Baekhyun dan meletakkannya di meja kecil yang ada di samping ranjang Baekhyun.

Setelah menyelesaikan makan biasanya Baekhyun akan diam saja di atas ranjangnya. Setelah tiga puluh menit baru ia akan melatih gerak tubuhnya. Namun jika ia merasa lelah maka ia akan berbaring dengan dibantu perawat. Tapi karena sekarang ada pasien lain di kamarnya, ia jadi bingung mau melakukan apa. Baekhyun jadi ikut-ikutan melihat ke jendela seperti Chanyeol.

"Kapan ya salju pertama turun? Dari kemarin terus-terusan seperti itu di luar," kata Chanyeol. Karena perkataan Chanyeol Baekhyun jadi penasaran sekarang sudah bulan apa. Ia jadi buta hari karena terlalu lama di rumah sakit dalam kondisi sadar tidak sadar, bahkan ia lupa kapan ia mengalami kecelakaan.

"Sekarang bulan Desember, minggu ke dua. Kalau hari apanya aku tidak tahu."

'Ooh, ternyata sudah bulan Desember. Pantas saja langit di luar seperti itu,' kata Baekhyun dalam hati.

"Di sekitar sini tidak ada kalender. Kalau nunaku datang menjenguk, aku akan minta dibawakan kalender agar bisa tahu hari." Chanyeol menunjuk-nunjuk langit di luar dengan jari telunjuknya. "Sebentar lagi pasti turun salju."

Baekhyun mengangguk-angguk. Setelah sadar dari koma ada beberapa waktu yang dilewatinya. Ia bersyukur ia tidak ketinggalan salju pertamanya di tahun ini. Meskipun harus dilewati di rumah sakit, tapi Baekhyun senang.

'Aku ingin berlatih dengan kelereng yang diberikan nuna terapis,' Baekhyun memandangi keranjang yang ada di ujung ranjangnya. Keranjang itu ada di sisi ranjang yang jauh dari jangkauan tangannya, ia tidak bisa meraihnya. Lagipula ia juga tidak bisa mengangkat keranjang itu karena tangannya sulit bergerak.

Chanyeol yang ada di dekat jendela lalu mendekati ranjang Baekhyun. Ia memutar kursi rodanya dan mengambil keranjang berisi kelereng milik Baekhyun dan meletakkannya di atas pangkuan Baekhyun. "Ini, kalau mau latihan. Aku tidak menganggu kok, lakukan saja seperti biasanya." Chanyeol lalu tersenyum, gigi-giginya nampak rapih saat ia tersenyum seperti itu. Baekhyun lalu mengulang kembali apa yang tadi diperintahkan nuna terapis sementara Chanyeol sibuk berputar-putar dengan kursi rodanya.

Chanyeol nampak begitu bersemangat dan ia beberapa kali berteriak yehey yehey. Rambutnya sampai berantakan karena ia berputar terlalu cepat. Ia lalu berhenti bermain dengan kursi rodanya dan melihat Baekhyun. Baekhyun terlihat serius mencoba menggenggam kelereng dengan ujung jarinya. Cedera di kepalanya sepertinya cukup parah karena gerak-geriknya tidak sinkron satu sama lain. Untuk mengambil kelereng terlihat sulit sekali.

Baekhyun melihat kelereng berwarna merah. Sedari tadi ia mencoba meraih kelereng itu. Baekhyun bernapas pelan-pelan. Ia ingat perkataan dokter yang mewanti-wantinya agar bernapas perlahan dan teratur agar ia tidak terbatuk-batuk. Jika ia sampai kehilangan kendali pernapasannya, lehernya akan dilubangi dan ia akan bernapas melalui selang udara yang dimasukkan ke tenggorokannya. Sebisa mungkin Baekhyun tidak mau bernapas dengan bantuan alat.

Chanyeol mendekati ranjang Baekhyun. Ia melongokkan kepalanya dan memperhatikan bagaimana Baekhyun mencoba mengambil satu kelereng. "Kau suka warna merah?" tanyanya. Baekhyun ingin menjawab tidak.

"Lalu kenapa dari tadi mengincar kelereng merah?" Chanyeol memperhatikan kelereng merah yang kembali menggelinding jatuh di dalam keranjang. Baekhyun belum berhasil mengambilnya.

'Karena warna merah itu menarik.'

"Ooh."

Baekhyun kembali melanjutkan latihannya. Chanyeol memperhatikan Baekhyun. Ia baru menyadari jika kelopak mata Baekhyun tidak berkedip secara bersamaan. Mata kanannya lebih lambat dibandingkan mata kirinya. Tapi secara keseluruhan kelopak matanya memang lambat berkedip.

Dua jam kemudian Baekhyun dan Chanyeol menjadi akrab dengan keberadaan satu sama lain. Chanyeol bilang saat melihat Baekhyun ia sudah seperti teman sendiri, meskipun belum kenal tapi rasanya sudah akrab. Ini rekor dalam pertemanannya yang pertama karena ia bisa berteman dalam satu hari tanpa merasa canggung. Meskipun Baekhyun yang baru dikenalnya masih terlihat kikuk padanya.

Chanyeol lalu menekan tombol pengunci pada kursi rodanya. Kursi rodanya sedari tadi bergerak-gerak terus karena ia tidak bisa diam. Jika kursi rodanya dikunci, maka kursi roda itu tidak akan bergerak. Chanyeol lalu duduk diam. Ia memandangi dinding kamar Baekhyun. Sementara Baekhyun masih sibuk dengan kelereng-kelerengnya.

Chanyeol sepertinya bukan tipe orang yang pendiam. Baru sepuluh menit berdiam diri ia sudah tidak tahan. Ia ingin berinteraksi dengan Baekhyun, tapi Baekhyun sedang serius dengan latihannya. Chanyeol mengusap-usap lututnya yang tertutupi piyama rumah sakit. Tidak terasa apa-apa. Ia lalu menghembuskan napasnya. Ternyata masih belum kembali ya, pikirnya.

Keheningan selama beberapa menit di kamar Baekhyun tiba-tiba menjadi penuh suara saat terdengar suara kelereng-kelereng jatuh ke lantai. Suara kelereng yang memantul-mantul terdengar ramai sekali. Chanyeol melihat keranjang di pangkuan Baekhyun terguling dan kelereng yang ada di dalamnya berjatuhan ke lantai. Baekhyun terlihat terdiam kaku kebingungan.

Chanyeol lalu menekan tombol kunci kursi rodanya. Ia mendekati ranjang Baekhyun dan mengembalikan keranjangnya ke atas pangkuan Baekhyun. Di dalamnya ada empat buah kelereng yang masih tersisa. Chanyeol lalu memutar kursi rodanya dan mendekati kelereng-kelereng yang berceceran di lantai. Tangannya cukup panjang untuk meraih kelereng di lantai dari posisi duduknya. Satu persatu ia mengambil kelereng yang ada di lantai. Baekhyun memandangi Chanyeol dari atas ranjangnya.

Chanyeol meletakkan kembali sepuluh kelereng yang berhasil diambilnya ke dalam keranjang. Ia menghitung total kelereng yang sekarang ada di dalam keranjang. Sepertinya semua kelereng sudah kembali. "Kelerengnya ada berapa tadi?" tanyanya. Ia melihat wajah Baekhyun. Baekhyun ingin menjawab kalau kelereng merahnya mungkin masih tercecer di lantai. Tapi lidahnya tidak bisa diajak berbicara. Baekhyun lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

"Yang warna merah belum ada ya? Sebentar coba kulihat lagi di lantai," Chanyeol lalu memutar kursi rodanya dan melihat ke tiap-tiap lantai. Ia melihat sebuah benda berkilat di bawah meja. Chanyeol mendekatinya dan menunduk untuk mengambilnya. Ia lalu tersenyum dan memperlihatkan kelereng merah ke hadapan Baekhyun. "Ini dia."

Baekhyun tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya, 'Terima kasih.'

"Sama-sama, ini kukembalikan padamu," Chanyeol meletakkan kelereng itu di atas telapak tangannya. Ia mengulurkan tangannya ke depan Baekhyun. Baekhyun menggerakkan tangan kanannya pelan, ia menyentuh kelereng itu dengan ujung-ujung jarinya.

"Oh lihat! Turun salju!" Chanyeol menunjuk jendela dengan tangannya yang lain. Di luar salju mulai turun sedikit demi sedikit. Baekhyun menoleh pelan-pelan dan melihat ke jendela. Salju pertama yang dilihatnya, yang dilaluinya di rumah sakit. Belum terlalu lebat, tapi salju itu turun perlahan-lahan seperti bulu yang lembut. Baekhyun tersenyum, entah mengapa ia merasa senang saat itu. Jari-jarinya tanpa sadar bergetar kecil.

"Baekhyun coba lihat! Kau tidak menjatuhkan kelerengnya," Chanyeol mengagetkan Baekhyun. Baekhyun menoleh dan melihat tangannya. Ia berhasil memegang kelereng merah dengan jarinya. Baekhyun membuka mulutnya dan tersenyum lebar. Ia memandang Chanyeol senang. Chanyeol mengacungkan jempolnya dan berkata jika Baekhyun pasti bisa kalau berusaha.

"Bisa kan? Sedikit-sedikit pasti bisa. Jangan menyerah, pasti nanti kau bisa bergerak normal lagi."

'Iya.'

Chanyeol lalu memutar kursi rodanya, "Hari ini sampai sini dulu. Aku mau kembali ke kamarku. Besok aku akan main lagi kesini saat jam makan siang. Bye."

Baekhyun menganggukkan kepalanya, 'Sampai jumpa,' katanya.

"Sampai ketemu besok, Baek," Chanyeol menghilang di balik pintu, ia tersenyum lebar. Baekhyun seorang diri lagi di kamarnya. Ia kembali melihat ke jendela dan memandangi salju yang turun. Di tangannya masih ada kelereng warna merah. Ia lalu menyadari sesuatu yang aneh tentang Chanyeol. Baekhyun lalu menggenggam kelereng merahnya dan melihat ke pintu kamarnya yang tertutup.

Sedari tadi ia tidak berbicara sama sekali, tapi Chanyeol bisa mengetahui apa yang ingin dikatakannya hanya dengan memandangi wajahnya.

'Chanyeol ya..'

Semoga ia tidak lupa dengan Chanyeol esok hari.

.

TBC


Wuhuu, ketemu lagi di chapter dua. Chanyeol udah muncul tuh. Baekhyun juga udah rada lumayan. Apa pendapat kalian tentang chapter ini? Masih terlalu slow ga?

Btw, ini sudah hampir masuk pancaroba. Banyak bakteri yang mulai aktif di waktu-waktu begini, jaga kesehatan kalian ya. Belakangan ini banyak bencana terjadi, dalam keadaan seperti ini, semoga kalian semua tetap diberi kesehatan :D