Comatose

.

ChanBaek/BL/Romance/Tragedy/T-rated

.

Disclaimer : semua karakter yang terdapat dalam fanfiction ini hanya dipinjam namanya saja dan kesemuanya milik diri mereka sendiri. Cerita ini hanya fiksi dan tidak benar-benar berhubungan dengan pihak-pihak yang bersangkutan.

.

Happy reading guys


Chapter 3 – Lethargic Boy (Si Bocah yang Lesu)

Sudah dua bulan Baekhyun menjalani terapi di rumah sakit. Sekarang memasuki bulan ketiga, sudah di bulan Februari. Tahun baru dilalui Baekhyun di rumah sakit, ia tidur di malam tahun baru. Perawat mewanti-wantinya agar ia tidak begadang atau terjaga semalaman. Baekhyun menurut. Semenjak bulan Januari Baekhyun menunjukkan perkembangan yang signifikan. Otot-otot lengan dan tangannya sudah dapat digerakkan. Otot wajahnya juga sudah lebih baik, ia bisa tersenyum lebih lebar.

Kakak Baekhyun sudah memasuki semester akhir perkuliahan, ia sangat sibuk. Baekbeom tidak bisa sering-sering mengunjungi Baekhyun seperti dulu. Baekhyun bisa maklum. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk menjalani terapi dengan terapis-terapisnya agar tidak cepat merasa bosan.

Hari ketujuhpuluh delapan Baekhyun sudah bisa duduk sendiri. Meskipun bersusah payah, namun ia sudah bisa mengangkat tubuhnya yang dari posisi berbaring menjadi ke posisi duduk. Suatu hari dokternya pernah bertanya padanya. Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai ia bisa bergerak normal kembali. Baekhyun tidak menjawab apa-apa saat itu. Namun ia ingin segera pulih dalam enam bulan. Ia mulai bisa mengendalikan tubuh atasnya, yang tersisa adalah tubuh bawahnya. Ia belum bisa berbicara. Enam bulan terdengar mustahil, tapi ia ingin mencoba jangka waktu itu.

Baekhyun dijadwalkan untuk menjalani terapi dengan terapis kemampuan berbicaranya. Kesulitan berbicara dan menelannya akan disikapi lebih jauh karena setelah dua bulan berlalu Baekhyun masih belum bisa berbicara dan menelan dengan benar. Setiap kali ingin berbicara, yang keluar dari mulutnya adalah suara-suara yang belum bisa dikatakan kata-kata. Karena syarafnya belum berfungsi dengan baik, perubahan rongga dan ruang dalam saluran suaranya tidak bisa menghasilkan bunyi bahasa. Fonem-fonem tidak bisa terbentuk hanya dengan getaran pada pita suaranya. Baekhyun membutuhkan lidahnya untuk bisa berbicara.

Setelah satu kali menjalani terapi berbicara dan menelan, Baekhyun memahami beberapa hal. Berbicara ternyata begitu rumit. Ia membutuhkan artikulasi untuk memproduksi bunyi dengan membuat resonansi, intonasi, variasi nada, dan untuk menghasilkan suara ia harus memahami bagaimana komponen aeromekanis dalam pernapasannya bisa membuatnya bersuara dengan jelas.

Baekhyun belum lelah dengan semua terapinya. Ia memasang standar enam bulan sampai ia bisa pulih kembali agar ia tetap bersemangat. Dokternya beberapa kali berganti karena perkembangan yang diraihnya. Baekhyun selalu merasa bersemangat karena dokter mengatakan hal baik tentang perkembangan tubuhnya. Ingatannya juga menjadi lebih baik. Satu bulan setelah terbangun dari koma Baekhyun belum mendapat kemampuan mengingatnya secara penuh. Ia sering kali lupa di suatu waktu, lalu ingat kembali di waktu yang lain. Namun sekarang Baekhyun sudah dapat mengingat kembali dengan baik.

Di hari kedelapanpuluh Baekhyun mendadak kehilangan seluruh kendali syarafnya. Ia tidak bisa bergerak sama sekali dan ia kesulitan bernapas. Alat bantu pernapasan dipasang pada tubuhnya agar ia tetap bisa bernapas. Baekhyun ketakutan setengah mati. Lalu ia jatuh tak sadarkan diri dalam penanganan dokter. Esok harinya ia bangun dan tubuhnya sudah dapat bergerak kembali seperti tidak ada kejadian kemarin.

Kata dokter sistem syaraf di tubuh Baekhyun masih dalam proses penyembuhan sendiri. Selain bantuan dari obat-obatan, tubuh juga menyembuhkan dirinya sendiri. Karena itu kemarin sistem syaraf Baekhyun mendadak berhenti berfungsi seperti sebagaimana mestinya. Seperti saat Baekhyun jatuh koma, tubuhnya menghentikan aktivitasnya dan masuk ke dalam periode tidur lelap atau koma karena berusaha menyembuhkan kerusakan yang ada dengan caranya sendiri. Baekhyun merasa lega karena menurut dokter itu tidak apa-apa. Turuti saja kemauan tubuhnya dan jangan menyerah untuk bisa pulih.

Hari berikutnya, di akhir pekan teman-teman Baekhyun datang mengunjunginya. Hanya ada tiga orang yang menjenguk, tidak terlalu banyak orang, namun kamar Baekhyun sudah terdengar begitu ramai. Salah seorang temannya yang bernama Chen berkata jika ia ingin menyanyi sebuah lagu bersama Baekhyun saat Baekhyun sudah pulih. Baekhyun mengambil cuti kuliah selama satu semester untuk menjalani proses penyembuhan. Baekhyun juga cuti kelas menyanyi yang diambilnya bersama Chen di sebuah sekolah menyanyi. Chen lalu memberikan sebuah iPod. Persis seperti yang dimiliki Baekhyun dulu, tapi bukan.

"Kami bertiga membeli ini untukmu. Milikmu sudah hancur di hari kau kecelakaan. Kami sudah mengisinya dengan lagu-lagu yang kau sukai. Ada banyak lagu baru yang bisa kau dengarkan," kata Chen. Ia menyerahkan iPod di tangannya ke pangkuan Baekhyun. Baekhyun menatap ketiga temannya, ia ingin mengucapkan terima kasih.

Di jam makan siang ketiga teman Baekhyun memutuskan untuk pulang. Baekhyun sudah terhibur meskipun kunjungan teman-temannya hanya tiga puluh menit. Baekhyun baru saja menyelesaikan jadwal terapinya saat ketiga temannya datang menjenguk. "Sampai jumpa Baekhyun," kata ketiganya bersamaan. Mereka menutup pintu perlahan dan Baekhyun menjadi sendirian di dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian ia mendengar suara pintu dibuka, Chanyeol melongokkan kepalanya dan saat melihat Baekhyun hanya sendirian di dalam kamarnya ia segera masuk dengan kursi rodanya.

"Hai Baek, sudah sehat? Kudengar kemarin keadaanmu cukup gawat. Ada apa? Aku sampai tidak diijinkan main kesini."

'Aku tidak tahu, tapi dokter bisa menanganinya dengan baik. Sekarang aku sudah tidak apa-apa,' Baekhyun menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah. Ia memperlihatkan pada Chanyeol kalau tubuhnya sudah sehat lagi.

"Sudah mulai bisa berbicara belum?" tanya Chanyeol. Baekhyun menggeleng, ia membuka mulutnya dan mencoba mengeluarkan kata-kata.

'Belum bisa..'

"Ya sudah, lagipula meskipun kau tidak berbicara aku bisa paham maksudmu kok."

Chanyeol lalu mendekati ranjang Baekhyun. Ia membawa sebuah topi berbulu di pangkuannya. Tangan Chanyeol yang panjang meraih kepala Baekhyun dan memasangkan topi itu. Chanyeol tersenyum lebar dan mengelus-elus kepala Baekhyun. "Tuh kan, ternyata benar. Baekhyun kan mungil, pakai topi begitu kelihatan manis sekali."

Baekhyun memegang kepalanya, kepalanya terasa hangat karena topi itu. Baekhyun baru sadar kalau Chanyeol juga memakai topi yang serupa. Baekhyun jadi ingin tahu darimana Chanyeol dapat topi bulu lucu begitu.

"Nunaku kemarin datang dari luar negeri. Dia bilang ini hadiah natal dan tahun baru. Meskipun terlambat sekali dia memberi hadiahnya, tapi aku senang. Aku sudah lama tidak bertemu nunaku." Baekhyun mengangguk-angguk. Chanyeol pernah bercerita kalau nunanya bekerja menjadi reporter tivi di luar negeri.

"Itu untukmu. Oh iya, ada satu barang lagi yang ingin kuberikan padamu," Chanyeol memutar kursi rodanya dan menghilang di balik pintu dalam sekejab. Dalam dua menit Chanyeol sudah muncul kembali dengan membawa sebuah kalender meja di tangannya. Ia menyerahkan kalender itu dan memamerkannya tepat di depan hidung Baekhyun. "Lihat, bagus kan? Ini untukmu, agar tidak buta hari." Baekhyun meraih kalender itu dengan tangannya. Kalender itu kalender meja dengan spiral berwarna merah.

"Aku minta nunaku untuk membelikan dua kalender, satu untukku dan satu untukmu."

'Wah, terima kasih.'

"Sama-sama, Baek."

Baekhyun dan Chanyeol lalu menunggu perawat datang membawakan makan siang mereka. Sejak Baekhyun dipindahkan ke kamarnya yang sekarang Chanyeol setiap hari makan siang di kamar Baekhyun. Para perawat sudah hapal dengan kebiasaan baru Chanyeol. Perawat akan membawakan makan siang Baekhyun dan Chanyeol sekaligus. Saat melihat dua orang tersebut biasanya para perawat akan tersenyum melihat Chanyeol yang mengajak bicara Baekhyun seolah-olah Baekhyun sudah bisa berbicara. Tapi para perawat tidak tahu jika Baekhyun dan Chanyeol benar-benar berkomunikasi dengan cara mereka sendiri.

"Supnya panas sekali, biasanya tidak sepanas ini." Chanyeol melihat mangkuk berisi sup yang mengeluarkan asap mengepul. Ia melihat milik Baekhyun yang juga sama panasnya. Chanyeol lalu mengaduk-aduk supnya dan meniup-niupnya agar panasnya sedikit berkurang. Beberapa sayuran di dalamnya jadi sedikit hancur berantakan karena diaduk-aduk dengan sendok. Chanyeol lalu mengambil mangkuk sup yang ada di meja Baekhyun dan menukarnya dengan miliknya. "Punyaku sudah tidak terlalu panas, makan saja pelan-pelan," katanya.

Baekhyun melihat mangkuk sup yang ada di depannya. Sayurnya sudah berantakan, tapi karena sudah sedikit didinginkan panasnya jadi banyak berkurang. Baekhyun lalu makan siang dengan tenang. Chanyeol menyelesaikan makannya dengan cepat, ia meletakkan nampan makan siangnya di meja kamar Baekhyun dan menunggu Baekhyun menghabiskan makannya. Tangan Baekhyun sudah jauh lebih baik. Ia bisa menggenggam sendok tanpa kesulitan. Makannya jauh lebih bersih jika dibandingkan di saat ia awal tersadar dari koma. Sudah tidak ada nasi atau lauk yang berceceran lagi. Tapi tiba-tiba Baekhyun terbatuk-batuk. Ia tersedak. Chanyeol mengusap-usap tengkuk Baekhyun dan memberikan segelas air padanya, tapi Baekhyun terbatuk semakin keras dan ia seperti tercekik. Chanyeol segera menekan tombol darurat dan menyingkirkan nampan makanan yang ada di pangkuan Baekhyun.

Dokter dan perawat segera datang dan menangani Baekhyun. Chanyeol yang melihat dari ujung ruangan lalu keluar dari kamar Baekhyun agar tidak menghalangi. Beberapa perawat lain datang dengan setengah berlari dan masuk ke kamar Baekhyun. Baekhyun tak sadarkan diri.

Malam harinya Baekhyun demam. Chanyeol tidak sengaja mendengar dokter dan perawat yang membicarakan kondisi Baekhyun ketika ia sedang berada di koridor. Kondisi Baekhyun sepertinya sedang menurun belakangan ini. Menurut dokter mungkin karena perubahan cuaca. Baekhyun sudah diberi banyak obat-obatan dan vitamin selama dirawat di rumah sakit. Dokter tidak bisa memberikan obat lebih banyak lagi karena bisa berdampak pada kreatinin Baekhyun. Kerusakan pada kreatinin karena konsumsi terlalu banyak obat sama saja akan membuat Baekhyun terkena gagal ginjal. Dokter berusaha meminimalisir obat yang harus dikonsumsi Baekhyun.

Setelah makan malam, para pasien diharuskan beristirahat. Bangsal perawatan tempat Baekhyun dan Chanyeol dirawat amat sepi setelah malam hari. Tak banyak pasien yang dirawat di kamar rawat VIP. Koridor yang memanjang sepanjang beberapa kamar pasien sudah tidak ada siapa-siapa. Setelah jam malam pasien di pukul sepuluh, Chanyeol diam-diam mengendap keluar dari kamarnya. Ia mengayuh kursi rodanya dengan tangannya agar tidak ada suara yang ditimbulkan. Ia membuka pintu kamar Baekhyun dan menyelinap masuk ke dalamnya. Setelah menutup pintu Chanyeol lalu menekan tombol kursi rodanya dan suara halus mesin terdengar. Ia mendekat ke ranjang Baekhyun. Baekhyun masih membuka matanya.

"Lho? Kenapa belum tidur, Baek?"

'Tidak bisa tidur.'

"Sama. Aku khawatir padamu. Kau tiba-tiba tersedak lalu tak sadarkan diri."

Chanyeol lalu membuka tirai jendela. Di luar langit kelihatan bersih, ada beberapa bintang yang berkelip. Baekhyun memandangi langit dari posisi tidurnya. Ia baru tahu jika langit yang dipandangi dari dalam rumah sakit bisa kelihatan bagus. Selama ini ia selalu tidur dengan tirai tertutup rapat. "Bagus kan?" kata Chanyeol. Baekhyun mengangguk.

"Jendela kamarmu ada di posisi timur, ada beberapa bintang yang hanya terlihat di langit timur saat fajar lho. Dulu aku mengincar kamar di sisi timur, tapi saat itu semua kamar di sisi ini penuh. Akhirnya aku ditempatkan di kamarku yang sekarang."

'Apa jendela di kamarmu ada di sisi sebaliknya?' Baekhyun memandangi Chanyeol.

"Jendelaku di sisi barat. Karena kamar kita berseberangan, kalau milikmu di posisi timur maka posisiku di barat," Chanyeol menunjuk pintu kamar Baekhyun. Ia bermaksud menunjuk kamarnya yang ada di seberang kamar Baekhyun. "Bagus ya, disini matahari terbit, tapi di kamarku matahari terbenam."

Satu jam kemudian Baekhyun jatuh tertidur. Chanyeol menutup kembali tirai jendela dan mendekati Baekhyun. Baekhyun masih memakai topi yang ia berikan tadi siang. ia bernapas dengan tenang saat tidur. Chanyeol lalu keluar kamar Baekhyun pelan-pelan. Ia mengayuh kursi rodanya dengan tangan agar tidak berisik. Setelah menutup pintu kamar Baekhyun dan memastikan tidak ada perawat yang berjaga, Chanyeol segera menyelinap masuk ke kamarnya sendiri dan tidur dengan tirai jendela terbuka.

Hari kesembilanpuluh satu Baekhyun diajarkan untuk bersuara dengan keras. Selama ini ia hanya bisa mengeluarkan suara-suara kecil, namun terapisnya ingin mengetahui seberapa keras Baekhyun bisa mengeluarkan suaranya. "Pernapasan juga mempengaruhi seseorang dalam berbicara. Selebihnya adalah bantuan pita suara, kerongkongan, mulut dan lidah. Coba teriak yang keras, kalau pernapasanmu sudah bagus berarti kita akan berfokus pada organ lainnya."

Baekhyun mengangguk, ia membuka mulutnya dan berteriak sekuat yang ia bisa. Suaranya tidak terdengar begitu keras, tapi terapisnya cukup puas dengan yang dilakukan Baekhyun. Dua jam kemudian Baekhyun sudah diijinkan kembali ke kamarnya. Terapi akan dilanjutkan esok hari. Seorang perawat sudah menunggu Baekhyun dan segera mendorong Baekhyun kembali ke kamarnya. Baekhyun menggunakan kursi roda saat harus berpindah dari kamarnya menuju ruang terapi.

Saat sampai di kamarnya Baekhyun melirik pintu yang ada di depan pintu kamarnya. Itu pintu kamar Chanyeol. Chanyeol pernah bercerita padanya kalau di dalam kamarnya sudah seperti kamar sendiri karena ada begitu banyak barang yang dibawanya dari rumah. Yang paling sering diceritakan Chanyeol adalah gitarnya. Di rumah sakit tidak diijinkan membawa benda-benda yang bisa membuat kegaduhan, tapi Chanyeol berjanji kalau ia tidak akan memainkan gitarnya saat di dalam rumah sakit. Ia sering memainkannya di taman. Dimana letak taman itu Baekhyun tidak tahu. Baekhyun tidak pernah pergi ke tempat lain selain kamar, koridor dan ruang terapinya.

Baekhyun dibantu perawat untuk duduk di ranjangnya. Kursi rodanya dibawa lagi oleh perawat. Setelah pintu kamarnya ditutup Baekhyun mulai mengira-ira. Ia memandang ke luar jendela. 'Seperti apa rasanya udara di luar rumah sakit ya?' pikirnya. Semenjak dirawat Baekhyun tidak bisa kemana-mana sendiri. Ia selalu ditemani setidaknya oleh seorang perawat. Terkadang ia ingin melihat tempat-tempat yang ada di rumah sakit, namun perawat tidak mengijinkannya.

Tak berapa lama Chanyeol muncul dari balik pintu. Ada yang berbeda dengannya, tapi Baekhyun tidak tahu apa itu. "Model rambut baru. Nunaku yang memotong, bagus tidak?" tanya Chanyeol. Ia memamerkan kepalanya dengan mengibas-ibaskannya ke kanan dan ke kiri. Baekhyun mengangguk, ia memperhatikan kepala Chanyeol, 'Bagus kok.' Chanyeol nampak lebih segar dengan rambutnya yang dipotong pendek. Poninya yang dulu hampir selalu menutupi matanya sudah dipendekkan. Bagian belakang rambutnya juga sudah lebih tipis karena dipangkas oleh nunanya.

"Nunaku sedang keluar sebentar untuk makan siang, sebentar lagi kembali. Kau mau rambutmu dirapikan juga?" Chanyeol menarik ujung rambut Baekhyun yang ada di dahinya. Sudah tiga bulan lebih rambut Baekhyun tidak dipotong, rambutnya sudah tumbuh kembali sesuai warna aslinya yang hitam. "Kalau rambutmu dirapikan nanti tidak akan kelihatan belang lagi. Rambutmu cepat sekali tumbuh sih. Mumpung nunaku ada di Seoul."

Baekhyun mengangguk, 'Boleh.' Chanyeol lalu memutar kursi rodanya dan keluar kamar Baekhyun. Tak beberapa lama ia kembali dengan nunanya. Chanyeol lalu mendekat ke jendela dan memperhatikan pemandangan di luar sementara nunanya memotong rambut Baekhyun. Nunanya sudah beberapa kali bertemu dengan Baekhyun. Chanyeol banyak bercerita tentang Baekhyun dan menurut nunanya Baekhyun amat manis meskipun ia tidak berbicara dan hanya tersenyum.

Tak berapa lama rambut Baekhyun sudah selesai dipotong. Rambutnya sudah pendek dan seluruhnya berwarna hitam. Selama ini rambut Baekhyun kelihatan belang karena rambut yang tumbuh berwarna hitam sementara bagian bawahnya berwarna cokelat terang karena dicat. Chanyeol mendekati ranjang Baekhyun, ia mengelus-elus kepala Baekhyun dengan tangannya. Nuna Chanyeol hanya tertawa melihatnya.

Hari keseratus Baekhyun merasa pusing. Ia amat sehat kemarin, namun entah mengapa saat bangun di pagi hari ia merasa tidak enak badan. Saat merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk terasa amat nyeri di kepalanya. Baekhyun memutuskan untuk kembali berbaring dan menunggu perawat yang bertugas memantau kondisinya datang. Mungkin karena perubahan musim, di bulan Februari sampai Maret musim dingin akan segera berganti menjadi musim semi. Di saat perubahan cuaca seperti itu ada banyak organisme yang berkembang. Beberapa diantaranya kemungkinan menyerang Baekhyun yang daya tahan tubuhnya lemah.

Siang harinya teman Baekhyun datang menjenguk. Temannya datang seorang diri dan ia sering dipanggil Suho ketimbang nama aslinya. Suho adalah senior Baekhyun di universitasnya, mereka mengikuti kegiatan kemahasiswaan yang sama meskipun berbeda jurusan. Setiap kali datang menjenguk Suho selalu membawa vitamin dalam jumlah cukup banyak. Ia memaksa Baekhyun untuk menghabiskan semuanya dan tidak menyisakan satupun. Dulu Baekhyun akan minum dengan enggan karena rasanya yang tidak enak, namun sekarang Baekhyun meminumnya tanpa pikir panjang karena tubuhnya memang tidak sehat.

Suho melihat Baekhyun dengan tatapan aneh. Selama ini ia selalu memberikan jeli manis untuk menetralisir rasa vitamin yang diminum Baekhyun. Untuk satu teguk vitamin Baekhyun akan memakan dua sampai tiga jeli, tapi sekarang Baekhyun tidak meminta jeli seperti biasanya. Tapi tidak biasanya Baekhyun mau menghabiskan vitaminnya dalam sekali tenggak. "Kau sudah besar ternyata," kata Suho sambil menepuk-nepuk bahu Baekhyun dan tertawa.

Baekhyun menjulurkan lidahnya. Ia meminum air putih yang disediakan di meja di samping ranjangnya. Baekhyun menyesal menghabiskan vitamin itu sekaligus setelah menyadari rasanya tetap saja pahit. Baekhyun menunjuk plastik berisi jeli yang ada di tangan Suho. Suho tertawa-tawa melihat Baekhyun mengerjabkan kedua matanya karena rasa pahit vitamin yang diberikannya. Baekhyun makan beberapa jeli sekaligus. Tak berapa lama rasa pahit di lidahnya jadi banyak berkurang.

"Tao menitipkan ini untukmu, katanya semoga cepat sembuh. Maaf tidak bisa sering-sering datang menjenguk." Suho menyerahkan sebuket bunga kepada Baekhyun. Baekhyun menerima bunga itu dan mengangguk. "Kris juga titip ini untukmu, maaf tidak bisa ikut menjenguk juga, sedang sibuk mengurus negara katanya," Suho menyerahkan kertas dengan gambar sebuket bunga dan tulisan semoga cepat sembuh, "Entah negara macam apa yang dia urusi," tambah Suho setengah bercanda.

Tak berapa lama Suho pamit pulang kepada Baekhyun. Baekhyun kembali sendirian di dalam kamarnya. Ia berbaring dan memandangi langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Baekhyun merasa bosan, setiap hari ia selalu memandangi langit-langit itu setiap kali ia merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Dinding dan lantai rumah sakit menjadi sahabat baru Baekhyun, sekarang ia bisa mengingat seluruh bagiannya karena hanya benda-benda itu yang bisa selalu ia lihat dan perhatikan tiap harinya.

Baekhyun mengantuk, kedua matanya terasa berat. Ingin rasanya beristirahat sejenak dan berharap jika saat bangun nanti ia sudah tidak sakit lagi. Dalam dua detik Baekhyun kehilangan kesadarannya. Chanyeol yang mengintip dari celah pintu lalu masuk ke dalam kamar Baekhyun, ia memandangi jendela sejenak lalu menyelimuti Baekhyun.

"Jangan sakit terus Baek, cepatlah sembuh."

Ornamen jam pasir yang berada di meja kecil di samping ranjang Baekhyun mulai turun perlahan. Baekhyun semakin lelap tertidur.

.

TBC


Oke ini telalu lamaaa. Chapter ini sebenernya udah jadi agak lama, tapi aku bingung sama part TBCnya. Yah gitu lah, namanya juga lagi banyak cobaan hidup belakangan ini. Hohoho :3

Aku baca beberapa pertanyaan yang disampein lewat review, aku balesnya secara umum aja gapapa yeee

Q : Chanbaek kecelakaan? Chanyeol lumpuh?

A : Yaah, Baekhyun emang kecelakaan. Tapi kalo Chanyeol belom bisa kujelasin sekarang. Iye dia lumpuh, maap ye, entah kenapa aku jadi agak jahat sama mereka berdua karena ngebikin mereka sakit gitu. Tapi yah, namanya juga demi FF *kabur*

Q : FF ini panjang ga?

A : Gak akan panjang banget kaya sinetron Indonesia kok. Ni FF simpel dan gak terlalu belibet soalnya. Yaa kecuali kalo ada ide yang tiba-tiba muncul bisa aje jadi Comatose season 7. Tapi secara keseluruhan emang gak akan terlalu panjang kok

Q : Authornya dokter yaa?

A : Uum uum jawab ga yaaa. Hayoh tebak aku ini apa

Q : Chanyeol bisa baca pikiran?

A : Bukan sodara-sodara, itu juga bukan kemampuan mistis. Itu chemistry (?). Aku juga bingung ngejelasinnya *angkat bahu*

Siip, sekarang udah masuk musim panas. Gak ada ujan dan panasnya menyengat. Jangan lupa minum air setidaknya dua liter sehari. Tubuh kita itu isinya air semua, kalau tubuh kepanasan dan butuh air, tubuh akan menyerap air dari bagian dalam tubuh dan kalian akan dehidrasi kalo gak banyak minum air. Kulit yang kering itu bisa jadi indikasi kalau tubuh kekurangan air. Minum air juga bisa bantu ngebuang racun dalam tubuh lewat ekskresi lhoo.

Dua sampai tiga jam sekali minum air, tapi jangan minum banyak air sekaligus karena gak baik untuk tubuh. Minum secara proporsional tapi terbagi waktunya secara teratur. Sip, semoga sehat di musim panas iniii :D