Title : I'M a prisoner of Love

Author: Micky_Milky
Genre: Romance/ Drama

Rate : T++

Disclaimer: YunJae saling memiliki, DBSK milik orang tua, tuhan, dan Cassiopeia

Pairing: YunXJae… YooSuMin

Length: Chaptered

Warning : Typo, Yaoi, Ooc, Oc, alur kecepatan. Dll

.

.

.

Chap 2

Enjoy reading

"Yunho-shi… ah mian maksudku Yunnie, apa aku harus memakai gaun."

Yunho mengacak rambut JaeJoong gemas, dia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan JaeJoong.

"Ani, kau akan pakai Jas, walau ku akui kau lebih pantas memakai gaun, tapi bagiku kau tetaplah pria, Jae."

JaeJoong bernapas legah, dia bersyukur, setidaknya Yunho masih bisa membuatnya terlihat manly 'Mungkin'.

.

.

Mr Kim tercengah saat calon menantunya mendatangi rumahnya dengan sekoper uang dan mobil mewah yang terpakir rapi di depan rumahnya.

"Saya harap appa mau menerima pemberian ini, ini bukan sogokan atau apa, hanya sebuah hadiah dari calon menantu kepada mertua."

Senyum manis bertengger di wajah Mrs Lee yang hari ini juga ikut bersama Yunho dan Mr Lee, sedangkan Mrs Kim sama sekali tak percaya akan diberikan sekoper uang seperti ini.

Mr Kim mencoba mendorong kembali koper yang sudah disodorkan padanya, dia menghela napas berat lalu menatap Yunho dengan wajah datar.

"Aku tak butuh hartamu, Tuan muda. Tapi aku hanya ingin kau membahagiakan JaeJoong karena hanya dia anak kami satu-satunya."

Yunho yang duduk tepat berhadapan dengan Mr Kim terlihat mengatur posisi duduknya dengan nyama, kaki kirinya diangkat dan disilangkan ke kaki kanan.

"Anda tak usah khawatir, aku akan jaga JaeJoong dengan nyawaku. Ambilah appa, ini hanya hadiah."

Yunho kembali menyodorkan koper itu pada Mr Kim, dan akhirnya di terima dengan senang hati oleh orang tua JaeJoong itu, dia yakin untuk biaya hidup se tahun saja belum tentu habis uang di dalam koper itu. Hah~ sebenarnya seberapa kaya calon menantunya itu.

"Saya Mrs Lee, pengasuh Tuan Yunho, dan ini suami saya Mr Lee."

Mrs Lee mulai mencairkan suasana, aurah keibuannya membuat suasana yang semula tegang menjadi sedikit lebih santai.

"Saya Mrs Kim, dan ini suami saya… senang sekali bisa berkenalan dengan anda Mrs Lee."

Kedua perempuan di ruang tamu itu terlihat sudah mulai bisa mengakrabkan diri, Mrs Lee melirik-lirik suasana rumah JaeJoong, dari tadi dia tak melihat pria cantik itu disana.

"Mian, Mrs Kim, dimana JaeJoong? Aku tak melihatnya."
Mrs Kim meminum tehnya seteguk lalu merapikan cara duduknya.

"Dia sedang kuliah, katanya dia ada ujian semester, mian dia tak bisa hadir dalam pertemuan keluarga ini."

"Kapan dia pulang, Umma?"

Mata Mrs Kim langsung tertuju pada Yunho yang baru saja berbicara padanya. Bagi Mrs Kim, Yunho adalah seorang pria yang tampan dan sopan serta terlihat gagah, dia yakin Yunho bisa menjaga sang putra dengan baik, selain itu jika dilihat cara Yunho memperhatikan JaeJoong dia dapat menilai kalau Yunho tak akan pernah selingkuh, saat melihat Yunho pertama kali Mrs Kim menyukai pria tampan itu terbesit rasa iri pada Mrs Lee sebagai pengasuh Yunho, andai JaeJoong setampan dan segagah Yunho serta sepatuh Yunho pasti dia sangat senang. JaeJoong itu sedikit bandel, sering sekali dia memergoki JaeJoong berkelahi, tapi pasti JaeJoong yang kalah, belum lagi sifat JaeJoong yang kadang sedikit manja dan kekanak-kanakan, dan juga tak jarang JaeJoong sering membantah perintahnya, ada rasa kesal pada anak itu, kadang Mrs Kim sering sekali meneriaki JaeJoong supaya menuruti kata-katanya, tapi tetap saja anak itu bandel. Tak seperti Yunho yang terlihat penurut dan bertutur kata sopan.

"Umma…"

Suara berat Yunho membuat alam sadar Mrs Kim kembali, perempuan paruh baya itu tersenyum lembut, sepertinya dia harus belajar menerima Yunho menjadi anaknya juga.

"Mungkin sebentar lagi."

"Aku pulang…"

Tak lama setelah Mrs Kim berbicara, kemunculan JaeJoong di ambang pintu menarik perhatian ke 5 manusia yang masih asik berbincang hangat.

"Cih…"

Wajah JaeJoong berubah muram saat melihat wajah Yunho yang tersenyum lembut padanya, dia sudah tahu kalau Yunho sedang berada dirumahnya saat melihat mobil limosin yang mengantarnya dua hari yang lalu terpakir rapi, belum lagi 5 bodyguard yang berjejer rapi di teras rumahnya. Huh menyebalkan…

"Joonggie, beri salam pada Mr dan Mrs Lee."

JaeJoong menunduk hormat, Mrs Lee membalas salam JaeJoong dengan ikut menunduk, di lihatnya wajah cantik JaeJoong, walau sekarang JaeJoong terlihat aut-autan, dengan kemeja kotak-kota yang asal pakai serta kaos dalam berwarna putih dan celana Jins serta beberapa bekas luka lebam yang masih terlihat di wajahnya akibat pukulan dari bodyguar Yunho malam itu tak mengurangi kecantikan wajah JaeJoong. Mrs Lee bersyukur, Yunho tak begitu jeli melihat lebam-lebam itu.

"Ada apa kau kesini? Pernikahan kita masih 5 hari lagi, jika kau ingin kita menikah sekarang maaf saja, aku masih harus focus pada ujian semesterku."

Ujar JaeJoong sewot, dia sangat kesal pada Yunho, bukan hanya kesal tapi juga membenci pria itu. Walau dia tahu Yunho lah yang berjasa membantu keluarganya.

"Aku merindukanmu dan ingin melihat wajahmu."

JaeJoong ingin muntah mendengar perkataan Yunho, dengan kesal pria cantik itu pergi begitu saja menaiki lantai 2 rumahnya untuk masuk ke dalam kamar tercinta.

"Pergilah temui dia, kurasa kalian harus bicara berdua terlebih dahulu."
Mrs Kim memberi saran. Dia tahu sang putra masih tak bisa menerima kalau sebentar lagi dia akan dinikahkan dengan seorang pria juga.

"Ne, Umma."

Yunho menuruti perintah Mrs Kim, dengan cepat dia berdiri dari duduknya dan menyusul JaeJoong ke lantas atas rumah keluarga Kim.

.

.

TOK

TOK

JaeJoong yang sedang asik mengetik sesuatu di ponselnya tersadar saat seseorang mengedor pintu kamarnya, dengan malas pria cantik itu bangkit lalu membuka pintu kayu itu, matanya melebar kala melihat Yunho berdiri dengan gagahnya di sana, sambil memberi senyuman termanisnya. Pria berperawakan cantik itu merengut sebal menerima tamu tak di undang yang berdiri di pintu kamarnya.

"Kenapa kau disini?"

"Umma yang menyuruhku menyusulmu."

JaeJoong bungkam, ck… kelihatannya sang umma sudah termakan tipu daya pria tampan berhati iblis itu (Menurut JaeJoong).

"Mau apa kau kekamarku?"

Tanpa di komando Yunho berjalan santai masuk ke dalam kamar JaeJoong, wajahnya terlihat sangat senang berada di dalam kamar orang yang di cintainya itu.

"Untuk pria sepertimu, kamar ini rapi juga."

Yunho mulai berkomentar, kamar JaeJoong memang terlihat rapi, seluruh peralatan tersusun rapi di sana, dia juga bisa melihat sebuah piano di sudut kamar dan sebuah bola basket yang juga tergeletak di dekat lemari berukuran sedang.

"Jangan mengejekku, cepat katakan! Mau apa kau kesini?"

JaeJoong mulai geram, entah darimana datangnya keberanian JaeJoong untuk membentak pria tampan didepannya, hanya saja JaeJoong sudah mulai kesal dengan sikap Yunho yang seolah-olah menjadi dictator untuknya.

"Setelah menikah aku ingin kau tinggal bersamaku."

JaeJoong semakin cemberut, dia melempar tatapan mematikan pada Yunho yang menyeringai didepannya.

"Aku tidak mau, lagi pula aku masih harus kuliah, jarak kampus dan rumah ini masih tergolong dekat di bandingkan jarak kampus dan rumahmu. Aku masih harus tinggal disini sampai tamat."

JaeJoong bersorak dalam hati, akhirnya dia mendapatkan ide untuk menolak ajakan Yunho dengan berani.

"Aku akan mengurus kuliahmu, aku akan meminta rektormu untuk meluluskan mu lebih awal, setelah kita menikah kau akan sepenuhnya jadi milikku, Joongie."

Napas JaeJoong memburu, apa-apa an itu, dia masih ingin menikmati masa-masa mudanya dengan berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Dia benci di kekang, bagaimana pun dia itu pria bebas, walau nanti dia akan menikah tapi dia tak suka dikekang.

"Kau sudah berjanji untuk membiarkanku menerusi kuliahku, kenapa kau mengingkarinya."

Yunho berjalan kearah ranjang JaeJoong, lalu mendudukkan diri di sana dengan nyaman.

"Aku Cuma ingin satu, kau selalu ada di sampingku, dan aku tak suka kau menjauh, ingat itu."

JaeJoong meradang, dia tak perduli siapa yang sekarang dia hadapi, mau kepala mafia atau kepala polisi sekaligus dia tak perduli, ini kehidupannya, kenapa pria itu mengaturnya?

"Aku menolak."

Rahang Yunho mengeras, tangannya mengepal, di tatapnya JaeJoong dengan tajam. JaeJoong yang melihat itu hanya menyeringai senang.

"Aku menolaknya, jika kau berniat untuk meminta uangmu kembali akan aku kembalikan, lebih baik aku dan keluargaku tidur di jalan daripada harus mengikuti peraturan bodohmu. Aku punya kehidupan sendiri, dan kau tak berhak melarangku dan mengekangku."

Entah kapan, tapi JaeJoong tak pernah menyadari pergerakan Yunho, yang dia tahu tiba-tiba saja pria bertubuh kekar itu sudah berada di depannya dengan jarak yang bisa di bilang sangat dekat, hembusan napas hangat Yunho terasa mengenai wajahnya, jemari Yunho menyentuh dagu JaeJoong dan membawa wajahnya menghadap pria itu.

"Kau tak kan mungkin menolaknya Jae, kau tahu aku tak akan membiarkanmu jauh dariku, karena kau sangat berarti untukku, Jae."

Wajah JaeJoong mengeras, wajahnya terasa terbakar karena menahan amarahnya.

"Kau tak bisa mengekangku."

Yunho menyeringai, di tariknya wajah JaeJoong semakin dekat.

"Bagaimana kalau kukatakan, jika kau menolak akan kuhabisi keluargamu."

Mata JaeJoong melotot, dia terlihat shock dengan perkataan Yunho barusan, apa-apan pria itu, dia mengancam JaeJoong.

"Kurasa kau tau siapa aku. Aku bisa saja menghabisi keluargamu dengan mudah, dan setelah itu kau akan menangis dan berlutut di bawahku untuk ku pungut, jadi jangan coba melawan, my princess."

Gigi-gigi JaeJoong bergemetak, napasnya sangat sesak menahan amarahnya, percuma dia melawan, Yunho benar, dia tak bisa apa-apa, hanya diam dan pasrah.

Yunho tersenyum evil melihat raut wajah JaeJoong yang berubah total.

"A-aku setujuh."

Dan satu kata itu sukses membuat cengkraman Yunho di dagu JaeJoong melepas.

"Good Boy, aku akan kebawah untuk memberitahu ini pada orangtuamu."

Yunho membelai wajah JaeJoong lembut, kembali jemari Yunho mengangkat dagu JaeJoong yang menunduk dalam, di kecupnya sekali bibir cherry JaeJoong dengan sayang.

"Aku mencintaimu, Joongie."

Dan setelah itu Yunho berjalan meninggalkan JaeJoong yang berdiri dengan tatapan kosong di kamarnya.

"Brengsek…"

.

.

Sudah beberapa kali JaeJoong menghela napas berat hari ini, kejadian 2 hari yang lalu saat pembicaraanya bersama Yunho masih sangat membekas, membuat pria cantik itu tak bisa tidur nyenyak.

"Kau tak apa, Hyung?"

JaeJoong menoleh pada sosok pria imut yang asik menghirup Jus Jeruknya.

"Aku hanya kurang tidur, Junsu-ya."

Kim Junsu, pria imut dengan suara khas yang hanya dimilikinya seorang, pria yang menjadi teman baik JaeJoong di kampus itu mengerutkan keningnya bertanda ada banyak hal yang masih membuatnya bingung.

"Jinjjai? Kau terlihat kurang sehat? Apa masalah hutang ayahmu?"

JaeJoong menggeleng lemah, dia memang sering menceritakan banyak hal pada Junsu, karena dari sekian banyak temanya hanya Junsu yang manjadi orang kepercayaannya.

"Ani."

"Masalah tuan muda itu kah?"

Pipi JaeJoong menggembung imut, dia kesal Junsu membawa nama pria yang sudah membuat tidurnya tak enak 2 malam ini.

"Jangan bawa namanya, kau tahu, kau membuatku tak berselerah."

Junsu tertawa geli, dia tahu tentang semuanya, tentang JaeJoong yang akan menikah dengan seorang pria tampan super kaya, Junsu mengenal Yunho, walau pria tampan itu jarang muncul di media, tapi sepak terjang Yunho sangat terkenal.

"Mian, Hyung… aku tak bisa membantumu."

Junsu menunduk sedih, gemas melihat kelakuan Junsu, JaeJoong mengacak rambut pria yang sudah seperti adiknya sendiri itu dengan lembut.

"Aku tahu kondisi keuanganmu juga sama dengan keluargaku, mana bisa aku memintamu membantu hutangku yang sangat banyak itu."

JaeJoong mengerti, Junsu anak yang baik, pria imut itu sudah terlalu banyak membantunya, tapi kalau urusan keuangan, dia tahu seberapa peliknya kehidupan Junsu.

" 2 hari lagi pernihakanku, walau Yunho tak mengundangmu, aku ingin kau datang, ingat jangan beri tahu siapapun kalau aku menikah dengan seorang pria, di kampus ini Cuma kau yang ku undang."

Junsu menegakkan kepalanya menatap JaeJoong dengan binar kebahagiaan, dia sangat senang di undang ke acara pernikahan YunJae, dan ingat… hanya dia yang di undang dari seluruh sahabat JaeJoong saat ini.

"Ne, Hyung, jangan khawatir, aku janji… terimakasih Hyung, aku senang sekali kau mengundangku."

"Kau itu sudah seperti adikku, Junsu-ya."

.

.

Kepala JaeJoong terasa sangat berat saat melewati satu persatu tamu yang datang keacara pernikahannya, tak ada yang dia kenal, hanya ibu, ayahnya, Mr dan Mr Lee dan Junsu saja manusia yang dia kenal di ruangan sebesar lapangan sepak bola ini, gedung pernikahanya. Suasana khimat sangat terasa saat pria berparas cantik itu berjalan menuju altar di damping sang ayah, texudo putih dengan kemeja biru di dalamnya membuat penampilan pria cantik itu terlihat sempurna, dilihatanya Yunho yang asik tersenyum cerah ke semua penjuru ruangan, bertanda betapa bahagianya ketua mafia kelas atas Korsel itu atas pernikahannya.

Berpuluh-puluh bawahan Yunho sudah berjejer rapi di depan pintu gedung tempat pernikahan YunJae Berlangsung, belum lagi di beberapa titik di gedung itu, itu membuktikan betapa Yunho benar-benar ingin pernikahan ini berjalan lancar, dia tak mau lawan-lawannya di dunia hitam mengganggu acara yang paling berarti di hidupnya.

JaeJoong dan Mr Kim berhenti tepat di depan Yunho berada, Yunho terlihat kagum atas ke sempurnaan pengantinnya. Pria tampan itu menjulurkan tanganya untuk menyambut tangan JaeJoong, kedua pria itu berdiri tepat di depan pendeta.

" Jung Yunho, apakah kau bersedia menjadi pendamping hidup Kim JaeJoong, menemaninya saat suka dan duka. Sampai maut memisahkan kalian?"

Pendeta mulai mengucapkan janji suci didepan kedua pria itu, dengan smirk yang sangat di andalkannya, Yunho memandang JaeJoong yang menunduk dalam berdiri di sampingnya.

"Saya bersedia."

Sang pendeta sekarang berpaling ke JaeJoong, melihat air muka JaeJoong yang terlihat pucat, sang pendeta mengambil satu tarikan napas sesaat.

"Kim JaeJoong apa kau bersedia menjadi pengantin dari Jung Yunho, dan menemaninya dalam suka dan duka, sampai maut memisahkan kalian?"

JaeJoong memandang satu persatu keluarganya, melihat Mr Kim dengan wajah menyesal, mungkin menyesali perbuatannya yang membuat sang putra harus ikut andil untuk menyelamatkan harta mereka, lalu ibunya dengan wajah sedih yang mungkin saja memikirkan nasib sang putra yang seharusnya menikahi seorang wanita cantik, memiliki anak, malah menjadi pengantin untuk seorang pemuda tampan, kaya, dan seorang kepala mafia yang sangat di segani di Korsel. Mata bulatnya beralih ke Kim Junsu, sahabat yang sudah di anggap adik kandungnya sendiri. Pria itu terlihat tersenyum, walau sebenarnya dia tahu kalau Junsu sangat menghawatirkannya, dan Mr dan Mrs Lee yang tersenyum lembut memandangnya.

Satu tarikan napas dan pemikiran panjang Akhirnya JaeJoong memutuskan…

"Saya bersedia."

Senyum kebahagiaan terkembang di bibir Yunho, akhirnya JaeJoong resmi menjadi Mrs Jung. Pria tampan itu langsung menarik JaeJoong untuk menghadapnya.

"Baiklah, sekarang kalian resmi menjadi pasangan suami-istri, kalian boleh saling berciuman."

Ucapan pendeta tadi membuat tubuh JaeJoong menegang, pusing di kepalanya semakin bertambah, kepalanya mendongak melihat wajah Yunho yang hampir beberapa senti dari wajahnya, pandanganya semakin memudar lalu menggelap.

"JOONGIE…"

Teriakan itulah yang terakhir dia dengar dari Yunho dan kedua orang tuanya.

.

.

Aroma Rose dan Lavender merasuki indra penciuman JaeJoong, pria cantik itu membuka matanya yang masih terasa berat, dilihatnya sekeliling, merasakan keanehan pada ruangan yang di tempati, JaeJoong langsung bangkit mendapatkan dirinya tidur di ranjang yang tak sama sekali dikenalnya, dengan kemeja biru yang di pakainya siang tadi di acara pernikahanya.

"Sudah bangun? Aku bawakan kau bubur, Makan lah…!"

JaeJoong terkejut saat menyadari keberadaan seseorang di ruangan itu selain dirinya. Jung Yunho, pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu terlihat khawatir duduk dengan tenang di samping ranjang, pria itu menyodorkan nampan berisi semangkuk bubur, air mineral dan obat. JaeJoong kembali melirik ruangan serbah putih yang terlihat sangat luas, ada lemari yang mungkin berukuran 3 meter lebih di dekat jendela, belum lagi meja rias, bupet, 2 sofa putih dan meja didepannya, karpet yang terlihat lembut di bawahnya, serta ranjang ukuran big yang dia tempati, ruangan ini terlihat sangat besar, mewah, berkelas dan hmmm putih…?

"Aku di mana?"

"Kamar kita."

"Kita?"

Yunho tersenyum lembut, lalu mengacak rambut JaeJoong dengan sayang.

"Jangan kau pikirkan, lebih baik makan bubur itu dan minumlah obat yang sudah aku bawakan."

Awalnya JaeJoong merasa ragu untuk memasukkan makanan itu kemulutnya, melihat hal itu membuat Yunho geli.

"Tak ada racun di sana, kau jangan takut. Aku tak mungkin meracuni mu."

"Bukan racun yang aku takutkan."

Alis mata Yunho berkerut mendapatkan jawaban itu dari JaeJoong, kalau bukan racun apa? Pria tampan itu akhirnya menyeringai saat menerkah apa yang ada di pikiran pria cantik itu tentang apa yang akan Yunho masukan pada bubur itu.

"Kau tenang saja, tak ada obat perangsang atau bius di dalamnya, aku jamin, aku bukan orang bejad yang akan memperkosa orang yang kucintai saat dia sakit."

Wajah JaeJoong bersemu merah menahan malu saat ketahuan memikirkan hal sampai sejauh itu. Tapi dia juga merasa kesal saat Yunho mengucapkan kata-kata 'Orang yang kucintai' tadi, dia tak suka kata-kata itu.

"Kenapa aku bisa di rumahmu?"
"Kau sekarang pendamping hidupku, wajar kalau aku membawamu ke rumahku buka, ini juga rumahmu, Jung JaeJoong."

Wajah JaeJoong mengkerut lucu, dia sedikit risih saat nama keluarganya diganti dengan nama keluarga Yunho.

"Jung?"

"Ya, Jung JaeJoong, mulai hari ini kau resmi menyandang nama itu."

"Yak, kenapa bukan kau saja yang menyandang nama keluarga ku, bukankah kita sama-sama pria, jadi kau bisa saja menyandang nama keluargaku."

Yunho beranjak dari tempatnya, pria tampan itu berjalan menuju jendela lalu memperhatikan gerak-gerik anak buahnya yang berjaga di luar dari jendela kamarnya.

"Kim Yunho, bukankah sedikit aneh, kau tahu sendiri hubungan ini siapa yang akan menjadi top dan bottom nya?"

JaeJoong bungkam, dalam hati dia mendumel kesal, kenapa dia di lahirkan dengan wajah secantik wanita, dan tubuh yang lebih kecil dari yunho, mau tak mau dia memang harus menjadi pihak yang 'dimasukkan'.

"Cih… Brengsek."

Yunho hanya melirik JaeJoong sekilas, hatinya sangat senang saat ini, akhirnya dia bisa bersama JaeJoong, memeluk dan melihat pria yang di cintainya itu setiap hari, saat dia bangun tidur sampai dia tertidur, Yunho bersumpah tak akan melepaskan JaeJoong walaupun dia harus menyerahkan nyawanya, atau harus bersembah sujut pada pria cantik itu, JaeJoong tetap miliknya. Seberapapun pria cantik itu membencinya.

"Dimana Eomma dan Appa?"

"Mereka langsung pulang kerumah…"

"… dan meninggalkanku?"

Yunho tersenyum lembut, dia tahu JaeJoong sedikit khawatir dengan dirinya sendiri saat ini. Siapa yang tak khawatir dengan dirinya sendiri kalau kau di tinggal di rumah seorang ketua mafia kelas kakap, yang sedikit pysico dan sangat tergila-gila padamu, kalau bukan karena ancaman Yunho beberapa hari yang lalu, JaeJoong pasti sudah kabur ke luar kota saat ini.

"Hanya untuk mengambil barang-barang, Eomma dan appa Kim ingin mengambil barang-barang yang akan mereka bawa kemari."

"Kemari?"

"Aku meminta mereka untuk tinggal di sini, tapi appa Kim menolak, jadi aku membujuk mereka untuk menginap beberapa hari di sini, dan mereka menyetujuinya."

JaeJoong terdiam, pria cantik itu melirik bubur yang masih berada didalam nampan dengan pandangan kosong.

"Kenapa? Apa makanannya tidak enak?"
JaeJoong menggeleng, dahi Yunho mengkerut dia tak tahu apa yang dipikirkan JaeJoong saat ini.

"Bicara lah kalau kau ingin bicara."

"Apa kau akan tidur di sini bersamaku?"

Awalnya Yunho hanya terdiam menanggapi perkataan JaeJoong, sampai pria tampan itu akhirnya mengerti, di elusnya surai hitam JaeJoong, tapi langsung di tepis dengan kasar oleh pria cantik itu.

"Aku dan kau sekarang sudah resmi menjadi pasangan hidup, jadi sudah pasti kita akan tidur seranjang."

Jemari JaeJoong mengepal, pria berkulit putih pucat itu meletakan nampan yang sedari di pangkunya ke meja nakas, lalu menatap Yunho tajam.

"Maaf Jung Yunho-shi, lebih baik aku tidur di teras dari pada tidur seranjang denganmu."

Perkataan dan tatapan JaeJoong yang tajam itu membuat Yunho gemetar, bukan karena takut, tapi dia merasa sangat sakit saat mendengar perkataan itu, sebegitu bencinya kah JaeJoong padanya.

"Kalau kau tersinggung dengan perkataanku, kau bisa mengusirku, aku sangat senang keluar dari rumah ini, atau kalau memang kau ingin aku tinggal di sini, aku akan tidur di kamar lain, bagaimana? Kau mau?"

"Joongie… kenapa kau harus tidur di teras atau kamar lain, ini kamarmu sayang, kamar kita."

Tatapan JaeJoong semakin tajam, aurah kebencian benar-benar berkeliling di sekitar tubuhnya. Yunho sama sekali tidak takut, dia bisa saja mengancam JaeJoong, hanya saja dia tak bisa, mengacam JaeJoong dengan kata-katanya tempo hari saja sudah cukup membuatnya merasa bersalah pada pemuda itu, apa lagi dia harus selalu mengancam JaeJoong dengan kata-kata mengerikan, dia tak ingin terlalu menekan JaeJoong, dia tahu menikah dengannya saja sudah membuat tekanan batin untuk pemuda yang sangat dicintainya itu. Dan dia tak ingin membuat JaeJoong tersiksa hidup denganya, dia ingin membahagiakan JaeJoong.

"Apa kau tak sadar, aku membencimu…"

Yunho menarik napas dalam lalu membuangnya, tak bisa lagi bicara apa-apa, kembali jemari Yunho terangkat untuk membelai surai hitam milik JaeJoong dan lagi-lagi ditepis dengan kasar oleh JaeJoong. Yunho menatap nanar ke tangannya yang di tepis, baru kali ini dia merasa sangat sakit di hatinya tapi tak bisa dia lampiaskan, biasanya kalau dia sakit hati, dia akan menghabisi manusia-manusia yang sok hebat yang membuatnya sakit hati, tapi kelihatanya itu tak berlaku untuk JaeJoong, mana mungkin dia menghabisi JaeJoong, yang ada jika dia melakukannya setelah itu dia pasti akan gila, atau bahkan ikut bunuh diri.

"Aku yang akan keluar dari kamar ini, aku mohon kau jangan kemana-mana, kondisimu sedang lemah."

Yunho berujar pelan, ini malam pertamanya, kelihatanya harapannya untuk bermesraan dengan JaeJoong pupus sudah, malam ini dia akan tidur di kamar kerjanya atau mungkin malam-malam berikutnya sampai JaeJoong mau untuk seranjang denganya.

"Ok, jadi kau yang keluar bukan?"

Yunho mengangguk setujuh, JaeJoong menyeringai, awalnya dia sangat takut untuk berkata seperti tadi, dia tahu jika Yunho marah padanya pria tampan itu bisa saja melalukan sesuatu yang menyeramkan padanya atau mungkin pada keluarganya, dia tak menyangkah Yunho malah menuruti perintahnya. Oh god, ini di luar perkiraan JaeJoong, apa Yunho sebegitu cinta padanya, sampai pria tampan itu mau beranjak dari kamar utama yang selalu di tempatinya itu dan membaginya untuk JaeJoong?

"Dan satu lagi, aku tak suka kau sentuh, dan jangan pernah menyentuhku sedikitpun. Kalau kau melakukannya, aku tak segan-segan untuk keluar dari rumah ini, atau kalau kau mau, kau bisa menceraikanku, dan aku akan senang hati menerim…"

"Yak…! Jangan bicara sembarangan, aku tak akan menceraikanmu dan membiarkanmu keluar dari rumah ini, JaeJoongie, ingat Joongie… rumah ini rumah mu juga, kau istriku sekarang, jadi seluruh yang kupunya juga punyamu, jika kau ingin aku tak seranjang dengamu akan aku ikuti, dan jika kau ingin aku tak menyentuhmu akan aku penuhi, tapi jangan pernah memintaku menceraikanmu, walau aku harus bersujud di kakimu atau ayahmu, bahkan harus mengorbankan nyawaku atau mengorbankan nyawa orang lain serta seluruh hartaku, jangan harap aku akan melepaskanmu…!"
JaeJoong terdiam, dia tak menyangka Yunho bisa berbicara seperti itu. Di lihatnya tangan Yunho yang mengepal erat menandakan pria itu menahan luapan emosinya saat ini. Yunho menegakan kepalanya, lalu memandang JaeJoong tepat di mata hitam pria berwajah cantik itu.

"Aku mohon, Jung JaeJoong, seberapapun kau membenciku, aku mohon jangan pernah tinggalkan aku. Hanya kau yang kupunya saat ini, aku sangat mencintaimu. Saranghae."

Napas JaeJoong tercekak di tenggorokan saat melihat setetes air mata mengalir di pipi kiri Yunho. What? Apa dia tak salah lihat, Jung Yunho, ketua mafia kelas kakap, pria yang 2 minggu kemarin di temuinya dan membunuh 2 orang bawahanya sekaligus dalam satu malam, pria yang selalu menggunakan senjata-senjata mengerikan, dan di kelilingin dengan hal-hal yang mengerikan juga serta tatapan mengerikan menangis di depannya, menangisi perkataan JaeJoong yang ingin pergi darinya? Hah, dunia memang sudah gila, pria itu bahkan tak menangis saat terbangun dari tidurnya dan mengetahui kedua orangtuanya meninggal.

Percaya atau tidak Yunho hanya diam saat tahu kedua orangtuanya meninggal, memang, Yunho yang masih bocah kecil yang ceria dan periang itu akhirnya menjadi bocah dingin tanpa air mata dan tawa, Yunho tumbuh menjadi pria tanpa perasaan. Itulah kenapa saat Yunho mengatakan mencintai JaeJoong kepada Mr Lee, pria yang sudah menganggap Yunho anaknya sendiri itu berusaha mati-matian membantu Yunho untuk mendapatkan pria cantik itu. Belum lagi kebiasaan Yunho yang selalu membawa wanita-wanita dengan dandanan menor dan berpakaian seksi dari club malam miliknya ke rumah bak istana milik Yunho itu membuat pria setengah baya itu risih, walau dia tahu Yunho hanya menjadikan mereka tempat pelampiasan, tapi dia ingin melihat tuan muda yang di sayanginya itu hidup dengan orang yang di cintainya dan merubah semua tabiat buruknya, walau awalnya dia sedikit tak percaya kalau ternyata orientasi sang tuan muda patut di pertanyakan, tapi itu tak masalah, toh JaeJoong pria yang baik, walau dia tahu pria itu tak sedikitpun menyukai tuan mudanya.

"JaeJoongie?"

JaeJoong kembali kealam sadarnya walau sempat terlihat shock, Yunho tersenyum tulus, lalu menghapus setitik air mata itu dengan jari telunjuknya.

"Istirahatlah, aku akan keluar, kumohon jangan lupa minum obatmu, aku tak ingin kau sakit." Dan setelah itu Yunho berjalan keluar diikuti dengan debaman pintu yang terdengar di telinga JaeJoong.

"Orang aneh."

.

.

TBC

A/N…

Milky kembali...^^ kangen kalian, makasih buat teman" yg sdh setia nungguin nih ff #mang_ada.

Milky minta maaf kalau typo na banyak sekali di chap ini, milky ngetik na ngebut… maaf milky gak bisa balas repyu teman-teman satu-satu, tapi milky senang banget baca repyu kalian untuk ff ini, milky gak bisa balas karena milky gak tau harus ngetik apa. semoga apa yg kalian tanyakan di chp sebelumnya terjawab di chap ini.

BIG THANKS TO…

TaeriparkYunHolicDhea Kimjaena | Hana - KaraJungJaemaClein cassieGuest | mimi2608 | Aaliya Shimifa. Dennis Parkvherakimgwansim84ChwangKyuh EviLBerrykim anna shinotsukeredbean9ShinJiWoo920202jae sekundesirengiovanny | Jung JaehyunboojoongieYunJae Kid | MRSPARK6002 | yoon HyunWoonakiramia44nickeYJcassieMPREG Loversimelriyantisanaki chanNee-chan CassieBigeastdwi yuliani | Jeong DaisukeDee chan - tikNin | dan yang gak kesebut namanya…

Repyu lagi ne…

Micky-Milky^^