Impossible
By : kiddynoona
Cast : Oh Se Hun a.k.a Sehun
Lu Han a.k.a Luhan
Kim Jong In a.k.a Kai
Rate : T
Warning : Typo(s), (very) OOC, Genderswitch
A HunHan fanfiction
Disclaimer : They belong to God, their family, SM, and (hopefully) each other~
.
.
.
"Bukankah itu yeoja aneh tadi?" batin Kai
"Baiklah Luhan, kau boleh duduk disamping Kim Jongin. Jongin, angkat tanganmu" ucap Kwon sonsaengnim
"Mati aku" Kai pun mengangkat tangannya. Luhan mendekatinya dan duduk di bangku sebelah Kai yang kosong.
"Annyeong, Kim Jongin imnida. Kau bisa memanggilku Kai" Kai mencoba mendapatkan first impression yang baik dari Luhan. Tetapi Luhan hanya meliriknya sekilas "Kau sudah tau namaku"
Demi semua video porno yang Kai punya, baru kali inilah Kai merasa diacuhkan oleh seorang yeoja. Bila perlu, Kai ingin mem bold, italic, underline, dan memberi highlight pada kata acuh dan yeoja.
Kai mengigit bibirnya. Luhan melihat ke arah jendela. Sehun mengahadap ke belakang untuk melihat Luhan. "Gayanya sangat polos. Bukan tipeku" batin Sehun. Kwon sonsaengnim sudah menjelaskan pelajaran, namun mereka tetap berada di posisi yang sama
.
.
.
.
.
.
Biasanya, murid yang baru akan mencoba berbaur dengan teman-teman di kelasnya. Tetapi tidak dengan Luhan. Ia selalu bersikap dingin kepada siapapun yang mendekatinya. Banyak orang yang membicarakan tentang dirinya yang dingin, tetapi Luhan tidak peduli.
Inilah dirinya.
Tidak ada satupun orang yang bisa mengubahnya.
Luhan memasuki lift dan menekan angka 3. Sepanjang perjalanan ia terus menggerutu. "Apa-apaan ini. Padahal aku murid baru, tapi sudah disuruh-suruh begini. Dasar peralatan UKS sialan."
Lift pun sudah berada di lantai 3, Luhan keluar sambil terus menggerutu.
"Uuuuh….. Aaannggghhh" terdengar suara desahan yeoja ketika Luhan baru saja bertemu dengan pintu UKS. "Siapa itu?" batin Luhan. Namun dengan santainya, ia memasuki UKS itu. Luhan terkejut –tanpa ekspresi– ketika melihat pemandangan yang tersaji dihadapannya.
Disana, Sehun sedang mencumbu seorang yeoja –yang entah siapa namanya, Luhan juga tidak peduli–. Sehun kaget ketika mengetahui keberadaan Luhan. Dengan cepat ia berdiri, membuat yeoja itu kebingungan. "Wae, honey? Lanjutkan saja, jangan pedulikan dia" yeoja itu sedikit memaksa.
"Jiyeon nuna, kau pergi duluan. Kutunggu kau di mobilku 30 menit lagi." Sehun takut. Ya, dia takut jika Luhan melaporkan hal ini kepada guru. Karena, appanya sudah berpesan pada semua guru agar melaporkan semua ulah Sehun kepadanya. Ia tidak ingin mobilnya disita.
Jiyeon –yeoja tadi– mengerucutkan bibirnya dan mengucapkan sumpah serapahnya. Jiyeon –dengan sengaja– menyenggol bahu Luhan yang sedang menaruh peralatan UKS pada tempatnya. Setelah itu, Sehun mendekati Luhan.
"Hey kau, eumm, Luhan!" Luhan berbalik dan menatap Sehun dengan tatapan datar. Sehun pun mendorong Luhan ke arah dinding dan menaruh kedua tangannya di sisi kanan dan kiri kepala Luhan
"Kau…. Jangan bilang pada siapapun tentang ini" ucap Sehun dengan nada mengancam. Luhan menatap Sehun remeh, kemudian mendecih "Jika aku beritahu, bagaimana?"
Sehun tertegun. Baru kali ini dia bertemu yeoja sedingin ini. Sehun menatap Luhan intens, lalu mendekatkan wajahnya "Aku akan men-"
"Menciumku? Hah, basi" tebakan Luhan berhasil membuat Sehun tertegun lagi
Tiba-tiba…..
Sebuah benda yang hangat dan kenyal menyentuh permukaan bibir Sehun. Hanya sebentar. Sehun membelakkan matanya, kemudian Luhan mendorongnya. "Ini kan yang kau inginkan? Aku permisi"
Sehun mematung. Kemudian ia mengeluarkan smirk nya. "Menarik. Ternyata yeoja ini menarik" batin Sehun.
Luhan baru saja keluar dari UKS, tiba-tiba Sehun berteriak "Kau benar-benar menarik. Kuharap kita bisa melakukannya lagi lain kali. Oh Sehun imnida"
Tubuh Luhan membeku.
Oh Sehun…..
Adalah targetnya.
.
.
.
.
.
Sehun mengendarai mobilnya sambil bersenandung kecil. Hari sudah mulai gelap, ia harus cepat sampai dirumah jika tidak ingin diomeli lagi. Ia melihat ke arah jalan kecil, dan menemukan sesosok siluet yang baru saja ia kenal tadi pagi.
"Itu Luhan kan? Kenapa ia berjalan seperti itu?" Tanya Sehun pada dirinya sendiri. Sehun menepikan mobilnya, kemudian turun dan berlari mendekati Luhan. Ia terkejut ketika melihat lutut Luhan yang mengeluarkan banyak darah. Ia juga menggendong seekor kucing. Apakah ia menyelamatkan seekor kucing lagi?
"Ya! Kakimu berdarah!" ucap Sehun. "Aku tahu. Kau pikir aku tidak punya mata." Ucap Luhan ketus. "Ikut aku ke mobilku. Kuantar kau ke rumah sakit"
"Tidak perlu. Tidak sakit kok." Pembohong. Mana ada luka yang tidak sakit?
Luhan tetap berjalan terseok-seok, menjauhi Sehun. Sehun mendenguskan nafasnya kesal. Secara tiba-tiba, Sehun langsung menggendong Luhan dan membawanya ke arah mobilnya.
"Ya! Apa-apaan kau?!" Luhan ingin memberontak, tapi ia takut kucing yang ada di gendongannya terjatuh.
"Diam, dasar keras kepala." Sehun pun mendudukkan Luhan di kursi belakang mobilnya. Luhan hanya terdiam dan menatap ke jendela mobil. Kucing itu tertidur di pangkuannya. Mobil pun kembali berjalan.
Beberapa saat kemudian, Sehun menolehkan kepalanya untuk melihat Luhan. Ternyata Luhan tertidur. Wajahnya sangat polos dan manis, seperti malaikat yang terjatuh dan mendarat di mobilnya. Sehun tersenyum kecil. "Lu Han, sebenarnya kau siapa sih, bisa membuatku aneh seperti ini?"
.
.
.
.
.
Luhan membaringkan tubuhnya di kasur empuknya, kemudian memeluk boneka rusa pemberian Suho. Ia baru saja sampai di apartemennya. Awalnya Luhan ingin pulang sendiri, namun Sehun bersikeras untuk mengantarnya.
"Huft, kurasa ini akan menjadi sulit. Bagaimana caranya aku bisa mengubah si mesum itu jadi anak yang baik?"
Kemudian, muncul cahaya putih di dekat pintu kamarnya. Luhan bangun dari tempat tidurnya. Itu Suho, guardian angel yang ketampanannya tidak diragukan lagi.
"Bagaimana hari pertamamu?" Suho tersenyum manis. Luhan merengut "Menyebalkan."
Suho tertawa kecil, kemudian duduk disamping Luhan "Ini baru mulai, manis. Masa sudah mau menyerah?" ia mengusap rambut Luhan. "Kau pasti bisa melakukannya, manis. Kau orang yang kuat."
"Entahlah, kurasa ini akan begitu sulit" Luhan memejamkan matanya, meresapi rasa kasih sayang di kepalanya yang disalurkan oleh Suho. Ia belum pernah merasakan hal seperti ini.
"Kau bisa melakukannya, sesulit apapun itu. Taklukanlah badai es itu" Suho mencubit pipi Luhan pelan, kemudian menghilang bersamaan dengan berhembusnya angin.
Luhan menghela nafasnya, menatap boneka rusanya
.
.
.
.
.
.
Luhan baru saja ingin menekan tombol lift, tiba-tiba ia melihat Kai. "Whoa, kau tinggal disini juga Luhan? Nomor berapa?" Kai tersenyum cerah. Sejak insiden kemarin, Kai jadi tertarik dengan Luhan dan ingin mendekatinya.
"Bukankah harusnya kau mengucapkan selamat pagi?" kata Luhan acuh. Kai terdiam. Ia menggaruk tengkuknya –yang tidak gatal– "Ah iya, sel-"
"Sudahlah, tidak perlu." Kata Luhan dengan nada final. Kai kembali terdiam. "304" ucap Luhan. "Hah?" Kai merasa idiot kali ini. "Kamarku" kata Luhan sambil memasuki lift, lalu menutupnya. Secara refleks, Kai langsung memasuki lift –yang pintunya nyaris tertutup–
Kai tersenyum kecil, rasa ketertarikannya pada Luhan bertambah begitu saja. "Hey, lebih baik kita berangkat bersama. Aku membawa mobil, kok." ucap Kai.
Luhan hanya menganggukkan kepalanya. Kai tersenyum penuh kemenangan.
Dan awal dari konflik di pagi hari ini akan dimulai
TBC
Food Corner(?):
Hai semua! *lambai tangan bareng Kai*
Saya kembali dengan FF gaje ini ;D
Walaupun gaje, semoga kalian gak muntah waktu bacanya hihihi~
Maaf kalo gak sesuai harapan kalian :(
LD : Iya, Luhan yeoja. Soalnya kalo dia namja feel nya gak dapet ._.v maaf kalo gak suka ^^~
luluna99 : Pasti ada dong, saya juga KaiLu shipper ;D mungkin nanti moment KaiLu lebih romantis dibanding HunHan muehehe *dipancung Sehun*
lisnana1 : Iya, ini udah update ;D semoga suka ya *cium terbang*
ohristi95 : Baca aja kalo mau tau ;D mungkin nati bukan cinta segitiga, tapi cinta segi empat /wht. Udah lanjut, semoga suka ^^~
Setelah baca, jangan lupa review ya. FF saya tidak berarti tanpa review kalian *nangis di bawah shower*
So, review please? *bbuing bbuing with Luhan*
