Impossible
By : kiddynoona
Cast : Oh Se Hun a.k.a Sehun
Lu Han a.k.a Luhan
Kim Jong In a.k.a Kai
Rate : T
Warning : Typo(s), (very) OOC, Genderswitch
A HunHan fanfiction
Disclaimer : They belong to God, their family, SM, and (hopefully) each other~
.
.
.
"Hiks…"
"Kenapa kau menangis?" tanya Luhan.
"Ceritamu sangat menyentuh…"
Terlalu mendramatisir, begitu menurut Luhan. Beberapa saat yang lalu, Kai meminta Luhan untuk menceritakan kisah tentangnya. Tentu saja, Luhan tak mau. Tapi Kai adalah Kai, ia terus memaksa Luhan hingga akhirnya Luhan menyerah dan menceritakan kisah hidupnya – yang sebenarnya memang menyedihkan.
(Dan tentu saja dengan sedikit perubahan)
(Mana mungkin Luhan menceritakan kisah kematiannya juga)
Luhan menyadari sebuah hal yang ganjal "Kenapa kita lewat sini?"
"Oh? Aku lupa memberitahumu. Kemarin Sehun pulang telat, jadi mobilnya disita selama satu minggu"
Itu semua karenanya, Luhan tau itu. Perasaan bersalah mulai menggerogoti hatinya. Kalau saja Luhan tak terluka, mungkin…
Tunggu.
"Kenapa aku harus merasa bersalah?" batin Luhan
"Ini semua salahnya, jika ia tak keras kepala untuk mengantarku ke rumah sakit dan mengantarku pulang ke rumah, mobilnya pasti selamat. Untuk apa aku merasa bersalah?" Luhan membatin lagi.
"Kenapa melamun, Nona manis?" suara Kai mengembalikan Luhan ke alam sadarnya.
"Maaf, tapi bisakah kau pindah ke bangku di belakang? Sehun tak suka duduk di belakang." ucap Kai
"Tak masalah." Luhan pun membuka pintu mobil.
Ketika Luhan keluar dari mobil, seketika waktu seakan terhenti.
Mata mereka bertemu. Lebih tepatnya, mata Sehun dan Luhan bertemu. Terdiam beberapa saat sambil tetap saling memandang satu sama lain, seolah hanya mata itulah satu-satunya pemandangan yang dapat dilihat.
Tapi Luhan dengan cepat kembali tersadar. Kemudian Luhan masuk ke mobil, meninggalkan Sehun dengan pikiran kosongnya sendiri.
Dan Sehun masih berada di posisi yang sama. "Manis" batin Sehun
"Tunggu, seharusnya aku berpikir 'Kenapa dia ada disini?'. Lagipula, kenapa aku harus menganggapnya manis?" Sehun berperang di dalam pikirannya
"Aku baru tau bahwa seorang Oh Sehun mengubah profesinya menjadi sebuah patung" lagi-lagi, suara Kai menjadi penyadar alam bawah sadar.
"Naiklah." Sehun pun menaiki mobil itu
.
.
.
.
.
.
Luhan sedang berada di perpustakaan. Akhirnya, suasana canggung di mobil tadi dapat dipecahkan dengan sampainya mereka di sekolah.
Dan tentu saja, seperti di cerita film, Luhan mendapatkan tatapan sinis dari beberapa yeoja. Kurasa, kalian pun tahu apa alasannya.
(Terlalu mainstream bagi Luhan)
Sebuah tangan halus menghalangi pandangan Luhan "Aku tau itu kau, Suho"
Suho cemberut "Bagaimana kau bisa tau?"
"Mana mungkin ada yang mau mendekatiku" Luhan tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya di dunia, Luhan tertawa. Sekali lagi kutekankan, tertawa. Walaupun kecil, tetap saja ia tertawa.
"Bagaimana, Manis? Ada kemajuan?"
"Belum ada. Setitik pun"
Suho tersenyum. Luhan khawatir, bagaimana jika suatu saat otot pipinya putus? "Kau harus berusaha, Manis. Waktu terus berjalan, ingat?" Suho kembali menghilang bersamaan dengan terdengarnya bunyi bel.
Luhan menghela nafasnya.
.
.
.
.
Kai mendekati Luhan "Kenapa kau dikelas? Lebih baik ikut aku ke kantin. Tidak baik di kelas saat istirahat, kau bisa dirasuki hantu kelas hahaha"
"Lucu?" tapi Kai sudah kebal dengan sifat Luhan yang dingin. Setelah mendengar cerita Luhan tadi pagi, ia tau bahwa sebenarnya Luhan bukanlah orang yang dingin. Sejak itulah, Kai semakin ingin menjadi lebih dekat dengan Luhan.
"Sudahlah, ayo" Kai langsung menarik tangan Luhan.
Hangat. Jantung Kai seakan ingin pecah, berdetak sangat kencang. Seperti air terjun, darahnya berdesir sangat deras. Ribuan kpu-kupu terbang di perutnya.
Kai bukanlah anak kecil yang harus diajari berhitung lagi. Ia tau apa artinya.
Kim Jongin yang dikenal dengan panggilan Kai, jatuh di dalam pesona tersembunyi Luhan.
Kai jatuh cinta.
Tapi,
"Bukankah ini terlalu cepat?" batin Kai.
Mereka pun duduk di bangku yang kosong. "Kau tunggu saja disini, biar aku pesankan untukmu. Kau mau apa?" tanya Kai
"Apapun yang kau pesan"
"Baiklah. Biar aku yang bayar ya" kata Kai
"Terserah."
Dengan perginya Kai dari hadapan Luhan, sebuah tangan besar – yang diikuti dengan suara deritan kursi, merangkul pundak Luhan.
"Keliahatannya kalian sangat dekat?" tanya orang itu dengan suara berat.
Luhan hanya diam.
"Oh, aku lupa memperkenalkan diriku. Aku Park Chanyeol, teman kecilnya Kai dan Sehun." Chanyeol tersenyum, tangannya masih betah berada di pundak Luhan.
"Lu Han imnida" Luhan sedikit menundukkan kepalanya, kemudian menegakkannya kembali.
"Aku tau itu. Semua orang membicarakanmu" Luhan tau itu. Bahkan ia sangat tau.
"Semua orang bilang kalau kau seperti hantu. Selalu menyendiri dan bersikap dingin. Tapi kurasa tidak, buktinya kau dekat dengan Kai" yah, semua orang benar. Ia memang hantu.
"Hoi Sehun! Sini!" teriak Chanyeol. Sehun menghampiri Chanyeol, kemudian tertegun. "Wanita ini lagi?" kata Sehun dalam hati.
Kai juga datang bersamaan dengan Sehun. "Ya, Park Chanyeol! Singkirkan tanganmu!"
Chanyeol mengangkat tangannya "Whoops, santai Kai. Aku tidak akan mengambil kepunyaanmu"
Wajah Kai memerah, Sehun meremas rotinya. "A-apa maksudmu Chanyeol?!" kata Kai sambil duduk di bangkunya.
"Hahaha!" Chanyeol menyeret Sehun, menjauh dari tempat itu.
"Y-ya! Apa yang kau lakukan?!" Sehun melepaskan dirinya dari Chanyeol dan mendekati Kai.
"Dasar" kata Sehun.
Wajah Kai masih merah, Luhan hanya memakan makanannya dengan tenang.
Tapi pandangan Sehun hanya mengarah pada Luhan.
"Sebenarnya kau ini siapa sih?" batin Sehun, tersenyum di dalam hatinya.
.
.
.
.
.
.
Luhan menghela nafasnya. Untuk pertama kali di dalam hidupnya – lagi – Luhan datang ke tempat karaoke.
(Lebih parahnya, ia datang bersama lelaki, tidak ada satu pun wanita kecuali dirinya)
"Hey, bagaimana jika kalian berdua adu dance?" kata Chanyeol pada Kai dan Sehun.
Diam. Kemudian – secara bersamaan, Sehun dan Kai memandangi Luhan. "Baiklah" kata mereka.
"Baiklah, aku dan Luhan akan menyanyikan lagunya." Luhan kaget. Akhirnya, mau tak mau Luhan pun harus bernyanyi.
Chanyeol memilih lagu SHINee – Lucifer. Saat Luhan dan Chanyeol mulai bernyanyi, Kai mulai meliukkan badannya.
Mata Luhan terus memandangi Kai, tanpa berkedip sedetik pun. Kai merasa senang. Sehun mendecih di dalam hatinya "Cih, apa bagusnya dia, sampai Luhan terus memandanginya"
Lagu habis, giliran Kai pun selesai. Selanjutnya, Sehun.
Chanyeol memilih lagu B2ST – Fiction.
Sehun mulai meliukkan badannya. Luhan terpaku.
Tanpa sadar, wajah Luhan memerah.
Tidak, ia tidak boleh jatuh cinta.
Luhan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Sehun.
Sehun kesal, apakah memang Kai lebih baik darinya?
.
.
.
.
.
.
Luhan berjalan dengan sedikit terhuyung. Chanyeol memaksanya minum vodka. Setelah dipaksa, Luhan meminum satu teguk. Dan isi perutnya nyaris keluar semua.
Tadi Sehun pulang duluan setelah menghabiskan beberapa botol minuman keras. "Ada apa dengannya?" batin Luhan.
"Emmm nona?" Tanya satpam penjaga apartemen.
"N-ne?"
"Begini, ada namja mabuk yang menunggu di depan pintu kamarmu."
"Huh?"
Satpam itu menunjuk ke arah seorang namja yang duduk di depan pintu apartemennya.
Dia…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sehun?"
TBC
Bastardo Corner:
Maaf ya lanjutnya lama T^T
Sudah lama saya lanjutnya, tapi belum bisa di post kara masalah tertentu.
Kalian tau? Wifi di rumah saya meledak gara-gara kesamber petir. Makanya belum bisa di post -_-
Pokoknya saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena kelanjutan cerita yang sangat lama ini *deep bow*
Teleportbabies : Makasih atas dukungannya ;D ini udah lanjut ^^~
GGJUX : Kai gak bakal jahat kok juxie ;D ini udah lanjut ^^~
Arraa : Iya Luhan yeoja, soalnya kalo namja feel nya gak dapet ._.v maaf kalo gak suka T^T udah lanjut ^^~
Maaf kalo masih ada salah atau typo disana-sini ;D saya juga manusia yang tak luput dari kesalahan ;D
Last word, review please? *bbuing bbuing with Luhan*
