Impossible
By : kiddynoona
Cast : Oh Se Hun a.k.a Sehun
Lu Han a.k.a Luhan
Kim Jong In a.k.a Kai
Rate : T
Warning : Typo(s), (very) OOC, Genderswitch
A HunHan fanfiction
Disclaimer : They belong to God, their family, SM, and (hopefully) each other~
.
.
.
.
"Sehun?"
"Jadi nona, siapa dia?"
Luhan menggigit bibirnya. Apartemen ini penjagaannya sangat ketat. Apalagi ia perempuan, Luhan pasti ditanyai macam-macam jika membawa seorang lelaki.
"O-oh dia sepupuku, tenang saja." Luhan ingin muntah
(Ia memang ingin muntah, tbh)
"Hmm baiklah, aku akan mengangkatnya" kata satpam itu sambil menggendong Sehun, membawanya masuk.
"Saya permisi, nona" kata satpam itu, lalu menutup pintunya.
"Menyusahkan" Luhan memandangi wajah Sehun.
Tampan, memang. Jika saja Sehun bukan targetnya, mungkin Luhan sudah jatuh cinta padanya. Yah, walaupun ia sekarang memang jatuh cinta padanya.
Eh?
Tunggu.
Luhan menepuk pipinya. "Apa sih yang kupikirkan?" katanya sambil mengerjapkan matanya imut. "Ish…" Luhan memukul kepalanya sendiri.
"Idiot…"
"Eh?"
"Mana mungkin aku jatuh cinta, pada orang idiot yang ada di sebelahku ini" aroma alkohol keluar dari mulut Sehun.
Luhan terdiam "Kau selalu muncul di mimpiku, memberikan sejuta rasa yang berbeda. Pahit, namun manis. Aku bahkan tidak mengerti." Sehun terkekeh.
"Sudahlah, kau mabuk." kata Luhan, lalu masuk kamarnya, mengambil selimut.
Luhan kembali, lalu menyelimuti tubuh Sehun "Tidurlah" Luhan beranjak dari tempatnya, namun langkahnya menjadi tidak seimbang karena ada tangan yang menariknya,
Lalu memeluknya.
Sekali lagi, memeluknya.
Luhan kaget. Ia tak dapat menyembunyikan suara detak jantungnya. Darahnya berdesir, sejuta kupu-kupu terbang di perutnya.
"Kau menarik perhatianku, memberikan rasa yang berbeda dalam hidupku, yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Tapi kau malah menusukku dengan kejam. Kau dekat dengan Kai, sangat dekat. Kau tau, itu memubuatku sakit. Sangat sakit. Kau jahat, Luhan" Sehun menjatuhkan beratus-ratus milliliter air mata.
Luhan hanya diam, tak tau harus berbuat apa. Ia hanya dapat mendengar isakan tangisan Sehun, dan… simfoni yang keluar dari dada Sehun. Detak jantungnya sangat indah, menurut Luhan.
Tak lama kemudian, dengan pasti, Sehun menyatukan bibir mereka. Mereka, Sehun dan Luhan, hanya berdua, tidak kurang dan tidak lebih.
Luhan – lagi-lagi – terkejut, terdiam sebentar, meresapi rasa cinta yang diberikan Sehun. Luhan terhanyut, ia tak dapat memikirkan apapun. Namun, ia sadar bahwa ini salah.
Luhan mendorong Sehun "Apa maksudmu huh? Kau mabuk, aku juga mabuk. Tidurlah" Luhan memasuki kamarnya, meninggalkan Sehun yang masih mengeluarkan bulir-bulir kristal yang indah. Luhan menyenderkan tubuhnya ke pintu.
Ia menangis.
Mereka menangis bersama.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sinar matahari, tanpa merasa bosan, kembali muncul dan menerangi dunia, memaksa semua orang untuk bangun dan memulai aktivitas masing-masing. Luhan yang merasa risih karena dibangunkan oleh sinar itu, akhirnya dengan terpaksa menyadarkan dirinya dari alam bawah sadarnya.
Kepalanya pusing. Ia memang mabuk semalam. Tubuhnya benar-benar tidak bisa menerima alkohol. Ia memijat keningnya.
Sehun.
Entah kenapa, tiba-tiba ia ingat Sehun. Kemudian ingatan-ingatan kejadian tadi malam kembali tersusun di kepalanya. Luhan bangun dari posisinya, kemudian berjalan keluar dengan hati-hati.
"Semoga kejadian tadi malam hanya mimpi"
Ternyata Tuhan belum mengabulkan permintaan Luhan. Luhan melihat Sehun tidur dengan sangat pulas, di sofanya. Ia menghela nafasnya, mencoba berpura-pura tidak ingat kejadian semalam.
Luhan berjalan ke dapur. Ia terlalu malas untuk memasak. Mungkin semangkuk sereal cukup. Ia menatap Sehun lagi. Haruskah ia membangunkannya?
"Eung…" Luhan membulatkan mata rusanya, kemudian memalingkan wajahnya, menatap mangkuk yang belum terisi sama sekali.
Sehun mencoba mengumpulkan nyawanya, kemudian ia langsung duduk ketika melihat sesosok siluet Luhan. Sehun mengusap wajahnya, melangkahkan kakinya mendekati Luhan sambil menguap sesekali.
"Pagi" ucap Sehun
"Hm" Luhan menyibukkan dirinya dengan menuangkan susu ke mangkuknya.
Sehun kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu, ia kembali menghampiri Luhan.
"Apa yang terjadi semalam?" seolah tidak mengingat apapun, Sehun bertanya.
Luhan membeku sesaat. Jadi ia tidak ingat? Jadi semalam ia memang mabuk? Jadi ciuman semalam–
"Entahlah" Luhan menjawab seadanya, tidak memperdulikan hati mereka yang sama-sama meraung kesakitan.
Lantai menjadi pemandangan favorit Sehun untuk saat ini. Ia nyaris menjatuhkan air matanya.
"Duduklah. Makan sarapanmu" entah sejak kapan Luhan sudah berada di meja makan.
Sehun pun duduk di salah satu kursi, lalu menyantap sarapannya. Sesekali ia melirik kea rah Luhan yang seolah tidak merasa risih karena ditatap Sehun.
Mata, hidung, rambut, dahi, pipi, bibir. Ingin rasanya Sehun menjadi pemilik semua yang ada dalam diri Luhan. Menjadi pangeran dalam hidup Luhan, tak terpisahkan oleh jarak dan waktu.
"Jika sudah selesai, pulanglah. Istirahatkan dirimu" Luhan menatap sendok yang dipegangnya.
Sehun menatap Luhan lirih, kemudian kembali menyantap makanannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini hari minggu, hari yang dibenci Luhan nomor 2 setelah hari Senin. Daritadi Luhan hanya bermalas-malasan di kasurnya. Suho juga belum mengunjunginya.
"Ting… Tong…"
Hah? Tidak biasanya Suho datang lewat pintu depan. Biasanya ia akan muncul secara tiba-tiba.
Dengan langkah malas, Luhan berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Ia kaget, hampir terjungkal.
Untuk apa Kai mengunjunginya?
Kai tersenyum kaku, menggaruk tengkuknya yang menurut Luhan pasti tidak gatal. Kai menjilat bibirnya beberapa kali.
"Ada apa?" Luhan berinisiatif untuk memulai pembicaraan.
"Eumm…. Kau sedang free kan? Aku…. Aku ingin mengajakmu…" Kai menggantungkan kata-katanya, menggigit bibirnya lagi.
Luhan terkekeh – sangat kecil – kemudian menatap Kai "Kencan? Hm?"
Bingo.
Kai menelan air liurnya "Eummm ya…" Kai menggaruk kepalanya. Takut jika Luhan menolaknya.
"Tunggu sebentar"
Jawaban yang sangat tidak diduga Kai. Jantungnya berhenti sesaat ketika melhat Luhan berlari ke kamarnya, meninggalkan Kai mematung sendiri di ambang pintu.
Tak lama kemudian, Luhan keluar dengan pakaian lengkap
(Terserah kalian mau membayangkan Luhan memakai pakaian apa, silahkan tentukan sendiri. Dandani Luhan secantik mungkin xixi)
Sempurna, dimata Kai.
"Astaga… benarkah aku sedang bersama Luhan?" Kai memandangi Luhan yang sibuk dengan sepatunya tanpa berkedip.
"Kenapa melamun?" Luhan menyadarkan Kai dari fantasi-fantasinya.
Kai tersenyum lebar "Ayo!" kemudian menggenggam tangan halus Luhan.
Luhan menatap tangan mereka yang beratutan. Tangannya terasa lebih besar dari yang ia kira. Atau tangannya yang terlalu kecil? Apakah tangan Sehun sebesar ini juga?
Lagi-lagi Luhan memukul kepalanya pelan sambil mengerucutkan bibirnya yang imut.
Sehun lagi, lagi-lagi Sehun. Kenapa harus dia yang hinggap di pikirannya?
Kai yang memperhatikan Luhan daritadi, hanya tersenyum kecil.
"Hei kenapa melamun? Naiklah" entah sejak kapan mereka sudah sampai di tempat parkiran. Luhan memasuki mobil itu, dan sama sekali tidak sadar bahwa ada yang memperhatikannya.
Bukan, ini bukan Kai.
Tatapannya bosan namun dingin, memandang Kai dan Luhan yang terlihat seperti pasangan yang baru menikah.
Kai menyalakan mesin mobilnya, namja aneh tadi juga ikut menghidupkan mesin mobilnya.
"Oppa kita mau kemana?" ucap yeoja yang sedang bersama namja tadi.
"Yang pasti kita akan bersenang-senang, Hyewon" ucap Sehun santai, dengan api yang berkobar di hatinya.
Tak lama kemudian, mereka sama-sama sampai di suatu tempat.
Luhan turun dari mobil, lalu menatap tempat itu dengan tatapan berbinar.
"Ini…"
Everland. Taman bermain yang sangat inigin Luhan kunjungi ketika ia masih kecil.
.
.
.
.
.
.
.
Mereka bermain hingga matahari mulai menenggelamkan dirinya, seperti anak kecil yang baru diajak orang tuanya untuk bermain disini. Kenyataannya, yea, Luhan lah anak kecilnya.
Baru kali ini, Kai melihat Luhan tertawa lepas. Kalau saja ia bisa, Kai ingin memotret wajah Luhan yang sedang tertawa menggunakan kamera yang lensanya bahkan bisa dijadikan barbel. Hiperbola sekali.
Kai menatap Luhan, sepertinya Luhan kelelahan. Kai menarik Luhan ke tempat duduk di taman itu.
"Duduklah, aku akan membelikan minuman. Tunggu ya" setelah itu Kai melesat entah kemana.
Luhan hanya duduk sambil memandangi apa yang bisa ia lihat sekarang. Luhan merasa hidup kembali, walau faktanya ia hanyalah sebuah arwah. Untuk sesaat, Luhan melupakan fakta itu dan melupakan misinya.
Bruk!
Luhan kaget lalu melihat orang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. "Oppa ayo sini! Aku lelah hufftt…" kata yeoja itu setengah berteriak.
Luhan kaget lagi, entah sudah berapa kali ia kaget hari ini. Sehun. Orang yang tidak ingin ia temui hari ini. Dan… ia bersama yeoja. Oke. Cukup. Fakta yang lumayan menyakitkan.
"Luhan?" Sehun bertanya seolah-olah tidak tahu. Luhan menatapnya sekilas.
Bahkan Luhan baru sadar, ketika ia naik di sebuah wahana, pasti ada yeoja itu – yang Luhan tidak tau namanya, tidak penting – jadi, Sehun selalu di sampingnya?
Hyewon menatap kedua insan itu bergantian. "Kalian saling kenal? Kurasa daritadi kami naik wahana bersamamu. Aku Hyewon, yeojachingu baru Sehun." Yeoja itu – lebih tepatnya Hyewon – berkata dengan ceria.
Kembali, fakta menyakitkan untuk Luhan datang lagi. Baru? Berarti setelah Luhan mengusir Sehun, ia langsung menembak Hyewon? Lalu perasaan yang dikatakan Sehun semalam itu apa?
Luhan baru ingat kalau Sehun itu… yea playboy. Mungkin saja, hati Sehun tetap untuk Luhan walaupun raganya milik orang lain. Kenapa Luhan jadi berandai-andai seperti ini.
"Lu Han imnida. Teman sekelas Sehun" kata Luhan santai, seolah-olah tidak sakit dengan pernyataan Hyewon tadi.
"Wah namamu seperti orang China! Kau pindahan? Aku harap kita bisa berteman dengan baik" yea, kau harap. Tidak dengan Luhan
Baru saja Luhan ingin menjawab pertanyaan Hyewon, Sehun memotongnya "Kau sendirian?" sandiwara yang bagus, Tuan Oh.
"Aku…" baru saja Luhan akan menjawab, sebuah teriakan lagi-lagi menginterupsi kegiatan mereka.
"Luhan! Maaf aku lama! Eh… Sehun?" kata Kai, lalu duduk di samping Luhan dan memberikannya minuman.
"Jangan mendekati milikku bodoh" Sehun menggeram di dalam hati. Oops, kurasa aku harus mengubah kalimat tadi. Bahkan Luhan dan Sehun tidak bisa berteman dengan baik.
"Yah aku berkencan. Kalian juga?" kata Sehun, tersenyum miring.
"Ya kami juga berkencan" kali ini Luhan yang menjawab, dengan sangat cepat, menorehkan luka yang ke sekian kalinya di hati Sehun.
"Hei, bagaimana jika kita double date?" Tanya Hyewon bersemangat.
Oh tidak. Jangan. Luhan tidak mau. Entah kenapa ia tidak mau. Hatinya melarang. Entah kenapa.
"Sebaiknya tidak usah, kami tidak ingin mengganggu pasangan yang baru saja pacaran hehe. Selamat bersenang-senang!" kata Kai sambil menarik Luhan untuk menjauh.
Wajah Hyewon memerah, Sehun mengepalkan tangannya. Luhan ingin menoleh ke belakang, tapi ia takut. Takut akan sakit di hatinya lagi.
"Eum lebih baik kita pulang. Sudah hampir malam. Kau juga lelah kan?" kata Kai.
"Ya…"
"Sangat lelah"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kai…"
Kai mematung di tempatnya "Y-ya?"
"Terima kasih untuk hari ini" Luhan. Tersenyum. Untuk. Kai. Sangat. Manis.
Kai yang melihat itu, rasanya ingin pingsan. Ia merasa seperti laki-laki paling beruntung di dunia. Melihat Luhan tersenyum berkali-kali, rasanya ia ingin terbang sekarang.
Baru saja Luhan akan menutup pintunya, tiba-tiba Kai memanggilnya "Luhan!"
Luhan keluar lagi "Ya?"
Secara tiba-tiba, Kai mencium pipinya sekilas. Hanya sekilas. Ingat, hanya sekilas. Tidak lebih.
Luhan menatap Kai kaget sambil memegangi pipinya. Rasanya… beda. Tidak seperti Sehun ketika menciumnya.
Lagi-lagi Sehun. Uughh…
Wajah Kai memerah – walau tidak terlihat karena, ya, kau tau, kulitnya gelap – dan menggaruk tengkuknya lagi. "M-maaf. S-sudahlah, lebih baik kau tidur sekarang. S-selamat malam" kemudian Kai pergi entah kemana.
Luhan menghela nafasnya "Selamat malam juga"
TBC
Akhirnya saya sempat ngelanjutinnya *nangis*
Maaf ya buat reader yang nunggu lama. Yang nggak nunggu, gapapa kok. Saya tidak peduli dan tak mau peduli.
Dan, taadaaa… Inilah hasilnya! Semoga kalian suka!
ohristi95: Makasih atas pujiannya (walaupun menurutku berlebihan, karena ff ini gaje hehe ;D) Eummm siapa ya…. Rahasia deh ;D
ohristi95: Eh ketemu lagi XD ini baca aja kelanjutannya. Gapapa kok, yang penting kamu sudi(?) membaca ff ini. Makasih atas dukungannya ;D
luluna99: yah, terserah kamu sih mau bayangin Luhan namja atau yeoja, semerdeka kamu deh(?) ._. okay, makasih sarannya ;D
lisnana1: gapapa kok ;D makasih atas dukungannya! ^^
JUXIC4NT1K(?): ini udah panjang belom mba? *lempar pisau*
ayuluhannie: ini udah panjang belum? Semoga suka ya~
xixihanhan: beneran? Ada ya cerita yang kayak gini? O.O duh saya gatau sumpah T^T jujur, saya gak plagiat. Karena ide cerita ff ini tiba-tiba dateng pas lagi nonton 49 Days T^T saya minta maaf kalau begitu *bow*
pandaqt: mau ngapain yaaaa ;D baca aja nih xixi
HUNHANBABY: sebenernya saya lebih suka SeKai dibanding KaiLu ;3 iya nanti tunggu aja ya ;D makasih atas dukungannya bbuing bbuing~
Yea, terakhir seperti biasa, saya minta kalian untuk review kembali.
So, review please? *bbuing bbuing with Luhan*
