Impossible

By : kiddynoona

Cast : Oh Se Hun a.k.a Sehun

Lu Han a.k.a Luhan

Kim Jong In a.k.a Kai

Rate : T

Warning : Typo(s), (very) OOC, Genderswitch

A HunHan fanfiction

Disclaimer : They belong to God, their family, SM, and (hopefully) each other~

.

.

.

.

Hari senin. Uugh. Hari neraka bagi setiap pelajar di dunia. Luhan dengan langkah malas berjalan ke kamar mandi. Luhan melihat pantulan dirinya di cermin.

Wajahnya terlihat lelah, walau tidak mengurangi kecantikannya. Oke. Ini lebay. Baru kali ini Luhan memuji dirinya sendiri.

Dengan malas ia meraih sikat giginya, kemudian mengoleskannya dengan pasta gigi. Ia kembali terdiam, melihat ke cermin lagi.

Suho. Astaga. Apakah tidak bisa ia menunggu, setidaknya sampai Luhan selesai mandi?

"Jangan sekarang, Suho. Keluarlah" Luhan mendorong Suho keluar.

"Ya! Uugghh baiklah. Kutunggu kau 25 menit lagi"

Luhan langsung menyikat giginya. Setelah selesai, Luhan menguncir rambutnya, lalu ia melepaskan semua pakaiannya. If you know what I mean.

Air shower yang hangat mulai membasahi tubuhnya. Menghanyutkan semua beban yang ada di tubuh Luhan. Luhan menghela nafas, dan mulai menyabuni tubuhnya.

Luhan mematikan shower, kemudian mengeringkan tubuhnya. Ia bergegas ke kamarnya, takut jika tiba-tiba Suho datang. Luhan memakai seragamnya dengan cepat. Setelah itu, ia keluar dari kamarnya.

Aman. Suho belum datang. Padahal sudah 25 menit, menurut perhitungan Luhan. Akhirnya, Luhan mengambil segelas susu dari kulkas. Luhan sedang tidak ingin sarapan. Ia merasa tidak bersemangat hari ini.

Luhan meneguk susu itu perlahan-lahan, hingga tetes terakhir. Ia menaruh gelasnya di counter dekat kulkas. Dan, hey, kenapa Suho belum datang?

Kesal, akhirnya Luhan menyambar tasnya dan memakai sepatunya.

"Hey, dasar tidak sabaran. Aku hanya terlambat sebentar" suara angelic Suho memenuhi rongga telinga Luhan.

"Kau tau, aku tidak suka menunggu." Ucap Luhan, masih tetap fokus pada sepatunya.

"Yah, aku hanya ingin melihat keadaanmu. Kulihat, Sehun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan" Suho mendekati Luhan.

"Yea, seperti yang kau lihat" Luhan menatap Suho.

Suho kembali tersenyum. "Bagus, kau melakukannya dengan baik. Aku harap kau bisa melakukannya." Lalu Suho kembali mengelus kepala Luhan lembut.

Dan menghilang bagaikan semilir angin.

Luhan menghembuskan nafasnya, dan membuka pintu apartemennya.

Mood nya semakin berantakan. Ia berjalan menuju halte bus dengan langkah yang sedikit dihentakkan.

Luhan duduk di bangku halte itu, menatap tali sepatunya yang sudah diikat rapi.

"Pagi" suara ini, suarayangsangatluhankenal

Luhan hanya meliriknya "Pagi."

"Tumben kau sendiri. Biasanya kau berangkat bersama pacarmu, Kai" kata Sehun dengan penekanan pada kata pacarmu dan Kai.

Luhan hanya tersenyum remeh "Kau juga, padahal rumahmu bukan di sekitar sini. Kenapa harus repot-repot ke halte bus ini? Bukankah disana juga ada? Dan, hey, mana pacarmu?"

Kali ini, Sehun yang tersenyum remeh "Aku hanya ingin berangkat bersamamu. Dan soal Hyewon, kami sudah putus"

Bus pun mendekati halte itu, bersamaan dengan memerahnya wajah Luhan.

"T-terserah" Luhan langsung memasuki bus itu, diikuti oleh Sehun.

Luhan duduk di bangku yang terletak di pojok bus, Sehun tetap setia mengikutinya. Merasa risih, Luhan memasang earphone lalu memutar lagu kesukaannya,

The Band Perry – If I Die Young

Luhan menutup matanya, menghayati setiap lirik yang dilantunkan oleh sang penyanyi. Tanpa sadar, bibir cerinya mengeluarkan suara, Luhan bernyanyi. Sehun terpaku ketika mendengar suara Luhan. Suaranya seperti malaikat.

Bahkan – menurut Sehun – suara Luhan lebih indah dibanding suara ibunya. Tanpa sadar, Sehun menganga, menunjukan sisi idiotnya.

Luhan melirik Sehun, kemudian menutup mulutnya, menahan tawa. "Ya, air liurmu menetes" kata Luhan sambil tersenyum.

Sehun berharap pengelihatannya belum rusak. Apakah ia salah lihat?

Seorang seperti Luhan, tersenyum? Sehun tak percaya. Bukan berarti senyumannya tidak manis, tetapi… ya…. Ia harap ini bukan mimpi.

Sebuah saputangan menyerap air liur di pinggir bibirnya. Sehun membelakkan matanya.

KALIAN PERCAYA? LUHAN MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU UNTUK SEHUN?

Oh astaga Sehun merasa dirinya terbang ke langit. Sayangnya, hanya sesaat. Bus sudah sampai di tempat tujuan.

Lagi, Luhan berjalan mendahulului Sehun, meninggalkan Sehun yang masih berusaha menyadarkan dirinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Luhan!" suara manis khas yeoja, menyebut namanya. Terdengar seperti…

Tidak. Jangan sekarang. Jangan hari ini. Setidaknya, jangan dia.

"Astaga Luhan! Tak kusangka akhirnya kita bertemu lagi!" yeoja itu dengan cepat memeluk Luhan.

Luhan menelan air liurnya, membalas pelukan yeoja yang sedikit lebih pendek darinya itu sambil mengelus rambutnya.

"K-Kyungsoo…"

Luhan lupa, bahwa sedingin apapun dia, semisterius apapun dia, dia masih memiliki teman, Kyungsoo. Untunglah, berita tentang kematiannya belum tersebar di telinga orang lain, termasuk neneknya.

"K-kau tau? Aku merindukanmu bodoh! Sudah berhari-hari kau tidak masuk sekolah. Bahkan ada berita bahwa kau meninggal…"

Astaga.

"…Tapi aku tak percaya. Aku mencari informasi tentangmu. Aku dengar bahwa kau bersekolah di sekolah ini. Jadi, aku p-pindah ke sekolah ini hiks…" bahu Luhan terasa basah.

Luhan menghela nafas lega. Tapi tunggu dulu… pindah? Kesini?

Luhan melepas pelukan mereka "K-kau bersungguh-sungguh? Kau benar-benar pergi dari China?"

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya "Apakah wajahku terlihat seperti orang yang tak pernah serius?"

Luhan terkekeh sangat kecil, melangkahkan kakinya sedikit untuk memberi jarak antara mereka berdua. "Indeed" Luhan mencubit pipi Kyungsoo pelan.

"Huh kau ini. Sudah ya, aku mau ke ruang kepala sekolah dulu."

Luhan menahan tangan Kyungsoo "Kau tau tempatnya?"

Kyungsoo tersenyum "Aku tau, tenang saja. Aku datang sangat pagi, jadi aku berkeliling di sekitar sekolah ini. Bye!" Kyungsoo melepaskan tangan Luhan lau berlari.

Luhan memijat tengkuknya. Kyungsoo tidak pernah berubah, tetap seceria dulu. Kyungsoo selalu sabar dengan sifat dinginnya. Inilah yang membuat mereka jadi dekat.

Tiba-tiba, sebuah tangan merangkul bahu sempit Luhan. "Kau jahat sekali meninggalkanku sendirian" Sehun menarik – lebih tepatnya menyeret – tubuh Luhan menuju kelas mereka.

Luhan merasa risih. Bukan karena tindakan Sehun, tapi lirikan para – ehm – fans Sehun. Ia takut ataupun merasa senang, hanya saja… ia tidak suka.

"Lepaskan idiot" Luhan mencoba menjauhkan tangan Sehun. Tapi – tentu saja – Sehun jauh lebih kuat dibanding Luhan.

"Hey hey hey, sekitar 10 menit yang lalu kau bersikap manis padaku. Tapi sekarang kau kembali lagi. Dasar labil"

"Apa katamu?!"

"Labil" lalu Sehun berlari ketika merasakan tangan Luhan memukul dadanya.

"Ya! Awas kau!" Luhan mengejar Sehun.

Sehun berlari ke atap sekolah, disusul oleh Luhan. Sehun bersembunyi, sedangkan Luhan masih mencari Sehun.

Sejak kapan mereka jadi sedekat ini?

Ketika Luhan lengah, Sehun memeluknya dari belakang. Luhan kaget lalu mencoba melepaskan pelukan Sehun. Tapi tentu kalian ingat, tenaga Sehun lebih kuat dibanding Luhan.

Menyerah. Luhan mulai berhenti memberontak. Ia lebih memilih menikmati hangatnya tubuh Sehun.

Darah Luhan mendidih, ketika Sehun mencium puncak kepalanya. Jantungnya berdetak tak karuan. Pelukan Sehun terasa lebih lembut.

"Tetaplah seperti ini. Aku lebih suka dirimu yang seperti ini." Sehun tersenyum.

Ini kesempatan bagi Luhan!

"Kau ingin aku tetap seperti ini? Ubahlah dulu sifatmu. Hilangkan sifat playboymu"

Sehun tertegun, kemudian tersenyum miring "Kau cemburu"

Ya, aku cemburu "Apa maksudmu? Tentu saja tidak, idiot. Aku hanya merasa kasihan dengan dirimu dan para yeoja yang telah kau sakiti. Ingat, karma does exist"

Sehun melonggarkan pelukannya. Apakah… apakah karma itu sudah terjadi padanya?

Kenyataannya, ya. Sehun merasakan sakit yang sama, seperti para yeoja yang sudah disakitinya.

Bel berbunyi. Luhan melepaskan tangan Sehun, kemudian bergegas ke kelasnya.

Sehun menitikkan air matanya.

"Luhan, saranghae"

Ia berharap, angin menyampaikan perasaannya pada Luhan.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Annyeong haseyo, Do Kyungsoo imnida. Bangapta" Kyungsoo membungkukkan tubuhnya sopan. Kyungsoo tersenyum manis, ketika melihat Luhan diujung sana.

"Kyungsoo, silahkan duduk di samping Oh Sehun. Sehun, angkat tanganmu"

Sehun mengangkat tangannya malas. Kyungsoo mendekatinya lalu duduk di bangku sebelah Sehun.

"Baiklah anak-anak, buka buku kalian halaman…"

(Skip aja okey. Saya bukanlah guru yang bisa mengajar dengan baik. Kalau saya jadi guru, mungkin saya akan ajarkan kalian cara tidur yang baik dan benar *slapped*)

Bel pun berbunyi. "Pelajaran saya akhiri sampai disini. Selamat siang semua"

Setelah guru itu keluar, suasana kelas jadi, ya kau tau. Semua kelas pasti melakukannya. Jangan bertingkah seolah-olah kau anak anti sosial dan tidak mengetahuinya.

Sebenarnya ada rapat guru, tapi mereka tidak diizinkan untuk pulang. Dan mereka tidak boleh pergi ke kantin sebelum bel istirahat berbunyi. Aneh. Sangat.

"Kyaaa Luhan! Tak kusangka kita sekelas!" Kyungsoo, tanpa memperdulikan Kai, langsung memeluk Luhan.

Luhan pasti terjungkal bila tidak ditahan Kai. Bahkan Luhan belum siap dengan pelukan super hiperaktifnya Kyungsoo.

"Kalian pernah kenal sebelumnya?" Tanya Kai.

"Eum! Aku temannya di China!" jawab Kyungsoo bersemangat

"Oh begitu… Luhan tidak pernah bercerita tentangmu" Kai menggaruk kepalanya.

Kyungsoo menatap Luhan horror (re: imut). Ia sedikit kesal mendengarnya. Tapi hanya sedikit.

"Oh iya, Kim Jongin imnida. Aku biasa dipanggil Kai"

"Oh, baiklah Kai!" Kyungsoo tersenyum.

Mereka sama sekali tidak ingat keberadaan Sehun, kecuali Luhan tentunya.

"Hey Kyungsoo, kemari!" panggil Krystal, teman sekelas mereka.

"Baiklah" Kyungsoo mendekati Krystal, kemudian ia dikerubungi para siswa lainnya. Sepertinya Kyungsoo menarik perhatian mereka.

Kai lebih memilih untuk tidur. Luhan berjalan mendekati Kyungsoo, tapi tiba-tiba tangannya ditarik Sehun. Sehun menarik Luhan keluar dari kelas secara diam-diam.

Mereka tidak sadar, jika Kyungsoo melihat aksi mereka.

Sehun membawa Luhan ke atap. Lalu Sehun duduk di lantai dan bersandar pada pagar yang ada disana.

"Hey, kemarilah" Sehun menepuk-nepuk lantai.

Luhan hanya menurut, ia duduk di sebelah Sehun. Ketika Luhan duduk, tiba- tiba Sehun membaringkan tubuhnya, menggunakan paha Luhan sebagai bantalnya.

"Ya!"

Sehun menutup bibir ceri Luhan dengan jari telunjuknya "Diamlah, cerewet. Hanya sebentar saja."

Luhan hanya menghela nafasnya, kemudian menatap langit. Sehun juga demikian.

Musim semi yang sangat indah, matahari bersinar cerah, secerah hati Sehun pada saat ini.

Luhan memandangi langit berjam-jam tanpa merasa bosan. Sehun juga demikian, ia memandangi keindahan langit yang ada di dekatnya ini.

"Kau tau, kau terlihat lebih manis jika diterangi sinar matahari"

Wajah Luhan memerah. Dia memalingkan wajahnya.

"Kau harus tau, hatiku selalu bermekaran seperti bunga yang tumbuh di musim semi. Kau membuat hatiku tenang…"

Luhan tertegun. Apakah Sehun akan–

"…Saranghae" – menyatakan perasaanya.

Jantung Luhan berhenti sesaat. Kaget? Tentu. Panik? Pasti. Bahagia? Sangat.

Perasaan Luhan mendadak bercampur. Ia tak tau harus bagaimana. Jika saja ia bisa, Luhan akan mengatakan satu kata yang sangat keramat itu. Hanya saja, jika.

"Jadi?" ucap Sehun.

"Jadi?" Luhan balik bertanya, terdengar dari nada bicaranya bahwa ia kebingungan.

Sehun menghela nafasnya. "Apakah kau juga…"

"Mencintaiku?" Tanya Sehun berhati-hati.

Pikiran Luhan berkabut, ia benar-benar ingi mengubur tubuhnya hidup-hidup sekarang.

Sehun bangkit dari posisinya, duduk di hadapan Luhan dan menggenggam kedua tangan halus itu. Wajah Sehun terlihat sangat serius sekarang.

Luhan sangat pusing. Ia bingung. Otaknya berkata 'ya', namun hatinya berkata 'tidak'.

Bel istirahat berbunyi.

"Sehun…"

"Apakah menurutmu tidak terlalu cepat?"

"Aku… masih bingung dengan perasaanku sendiri"

Luhan dengan terpaksa melepas tangan Sehun, berjalan menjauhinya.

"Kai?"

Luhan yang baru memegang knop pintu, mematung disana.

"Apakah karena Kai? Kau menyukainya"

Tidak, Sehun. Tidak "Sudah kukatakan, aku masih bingung" Luhan membuka pintu itu.

"LU HAN!"

Luhan terkejut.

"HARI INI AKU BERSUMPAH, AKU TIDAK AKAN MENYERAH! AKU TAK AKAN MELEPASKANMU UNTUK SIAPAPUN, BAHKAN KAI!" Sehun berteriak tanpa memandang wajah Luhan. Pertahanannya runtuh, ia menangis.

Luhan yang menyaksikan itu, mulai menangis. Ia langsung menuruni tangga dengan cepat, lalu berlari ke toilet.

Luhan menangis di dekat wastafel. Dia bukannya bingung, tapi ia memang tidak boleh.

Ia tidak boleh memiliki perasaan terkutuk yang dinamakan 'cinta' kepada Sehun.

Ia tidak bisa, dan tidak boleh. Ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke cermin yang ada dihadapannya, untuk menghilangkan masalahnya.

Ia tak sanggup dengan semua ini.

Tiba-tiba, handphone Luhan berbunyi. Luhan mengambilnya. Ada sms, from unkown number.

From: XXX-XXX-XXX (sorry ._.v)

Ya! Ini aku Kyungsoo! Kau dimana? Aku sudah menunggu di kantin.

Luhan kaget, dari mana Kyungsoo mengetahui nomor handphonenya?

Luhan langsung menyimpan nomor Kyungsoo di handphonenya, kemudian membalas sms Kyungsoo.

To: Kyungsoo-eomma

Tunggu, aku segera kesana. Kau dapat nomorku darimana?

Send.

Luhan mencuci wajahnya, lalu melihat pantulan dirinya di cermin itu.

Tiba-tiba handphonenya berbunyi lagi. Sepertinya Kyungsoo sudah tidak sabar.

From: Kyungsoo-eomma

Aku bertanya ke kepala sekolah sebelumnya. Kai tadi meminta nomormu juga, jadi ku berikan hehe ^^ bila ada yang iseng, itu Kai oke? Cepat kesini!

"Sepertinya aku harus pergi sekarang" ucap Luhan pada dirinya sendiri. Ia menggenggam handphonenya, lalu keluar dari toilet.

Ia terus berjalan dengan tenang, sampai ia melihat Sehun. Panik, Luhan sangat panic tanpa ekspresi.

Luhan memutuskan untuk tetap berjalan. Untungnya, koridor sekolah sedang sepi. Ketika tubuh Luhan melewati Sehun, Sehun menahan tangan Luhan.

Lalu memeluk Luhan "Tetap ingat, Lu Han. Aku mencintaimu. Aku tidak akan melepasknmu, apapun yang terjadi. Aku akan mengubah sifatku, seperti yang kau mau." Sehun mengecup dahi Luhan lembut.

Kau harus melepaskanku, Sehun. Takdir tidak mengizinkan kita untuk bersatu "Sehun…"

Sehun merebut handphone yang ada di tangan Luhan, mengetik sesuatu di layar tipis itu.

Sehun mengembalikannya ke Luhan, kemudian mengelus kepalanya "Nomorku"

Lalu Sehun berlalu begitu saja.

'Sehunnie nae sarang'

Astaga apakah ia gila? Bahkan Luhan belum menyetujui nomor Sehun untuk menetap di kontak handphonenya.

Sudahlah, masa bodoh. Luhan hampir melupakan Kyungsoo. Ia bergegas ke kantin sebelum emosi Kyungsoo meledak, membuat Luhan mendengar ocehannya hingga kupingnya panas.

Luhan celingak-celinguk mencari keberadaan Kyungsoo. "Luhan! Disini!" Luhan langsung menoleh ke sumber suara, lalu mendekatinya.

"Maaf aku terlambat"

"Tidak apa-apa kok. Ini aku belikan samgyeopsal! Kau suka kan?" kata Kyungsoo dengan wajah bahagia.

"Sudah lama aku tidak makan ini. Gomawo" Luhan mencubit pipi Kyungsoo.

Luhan memakan samgyeopsalnya, kemudian melirik Kyungsoo. Dia kelihatan sangat bahagia.

"Ada apa?" seakan dapat menebak Kyungsoo, Luhan bertanya.

Kyungsoo tersenyum semakin lebar " Itu, kau tau kan namja dengan wajah yang super dingin itu?"

Luhan memiringkan kepalanya "Sehun?"

"Sepertinya aku jatuh cinta padanya!"

TBC

Huahahaha *evil laugh*

Saya suka sekali meggantungkan ending

Oh ya, buat yang minta panjangin ceritanya, eummm….. akan saya panjangkan di chapter akhir. Biar greget yea kkk~

Kym Rin -SehunOhSeorinKim: balasan review kamu saya jadiin satu ya ;3 salam kenal juga *cipok terbang* maaf ya kalau – menurut kamu – ceritanya terlalu OOC u,u dan yaa mereka mulai saling suka XD Suho udah muncul disini '3' Ini udah dilanjutin, semoga suka ya!

lisnana1: saya paling suka part itu muehehe XD yah, Sehun kan playboy. Maklumin ya(?) semoga suka ya!

ohristi95: kamu…. Jahat ;-; Hyewon itu member F-ve Dolls, cantik loh! Awalnya Sehun mau manas-manasin si Luhan dengan cara ngenalin Hyewon gitu, eeh si Kai ganggu *slapped* semoga suka ya!

ohsrh: ini Sehun udah mulai memanas *ikutan ketawa* semoga suka ya!

Earthlings: makasih pujiannya '3' dan tadaaa, sesuai keinginan kamu, saya munculin Kyungsoo! Semoga suka ya!

luhanods: udah lanjut bebskeeh, semoga suka ya! XD

HyunRa: saya jadi malu *ngumpet* Luhan udah bertindak kok, tapi dengan caranya, diam-diam menghanyutkan(?) udah dijelasin kan di chapter satu? '3' batinnya tersiksa~ semoga suka ya!

VirXiaoLu: udah lanjut nih, semoga suka ya '3'

Yea, mungkin hanya itu saja *benerin kerah*

Terakhir, seperti biasa

Review please? *bbuing bbuing with Luhan*