Impossible

By : kiddynoona

Cast : Oh Se Hun a.k.a Sehun

Lu Han a.k.a Luhan

Kim Jong In a.k.a Kai

Rate : T

Warning : Typo(s), (very) OOC, Genderswitch

A HunHan fanfiction

Disclaimer : They belong to God, their family, SM, and (hopefully) each other~

.

.

.

.

"H-huh?" Luhan memucat. Ia meremas roknya yang tak bersalah itu.

Kyungsoo tersenyum malu, dapat terlihat semburat merah membakar pipinya "Entahlah~ Ketika pertama kali aku melihatnya jantungku berdetak dengan cepat. Walaupun sifatnya dingin, aku merasa nyaman bersamanya."

Luhan meneguk air liurnya. Bagaimana bisa sahabatnya itu-

"Makanya, Luhan!" nada suara Kyungsoo terdengar sangat serius saat itu.

"E-eh? Apa?"

"Kau harus membantuku!"

Jleb.

Haruskah?

"K-kenapa harus aku?" kata Luhan terbata-bata.

Kyungsoo memiringkan kepalanya sedikit "Karena, tadi aku lihat Sehun menarikmu ke suatu tempat. Sepertinya kalian dekat sekali. Makanya aku mau minta bantuan darimu. Kumohon Luhan jebal~" Kyungsoo membulatkan mata bulatnya, memohon bantuan dari yeoja bermata rusa itu.

Luhan meneguk air liurnya lagi "Aku tidak dekat dengannya. Dan kenapa harus Sehun? Oh ayolah Kyungsoo masih banyak namja yang lebih tampan darinya" kata Luhan dengan wajah serius.

"Kenapa kau berkata seperti itu? Atau jangan-jangan…" Kyungsoo menggantungkan kalimatnya.

"Kau juga menyukainya?" Kyungsoo menatap Luhan dengan polos.

"A-apa maksudmu? T-tentu saja tidak!" Luhan gelagapan. Luhan meneguk air liurnya lagi. Mari berharap semoga perut Luhan tidak kembung karena dipenuhi air liur.

Oke, lupakan.

Kyungsoo menghela nafasnya "Syukurlah, aku pikir kau menyukainya! Tapi kenapa kau berkata seperti itu?"

"Dia seorang playboy, kau tau" Luhan memutar bola matanya, berpura-pura cuek.

Kyungsoo mengercutkan bibirnya "Aku tidak percaya, wajah sedingin itu playboy? Melihatnya saja mungkin orang merinding."

"Jadi kau juga merinding?"

"Tidak, aku menyukainya" kata Kyungsoo tegas.

"Do Kyungsoo kumohon, setidaknya jangan Sehun. Carilah namja yang lain, misalnya… Kai! Yah, menurutku kalian cocok" kata Luhan asal.

Kyungsoo kesal "Aku tidak mau! Aku maunya Sehun!"

Luhan tertegun "Kyung…"

"Jadi kau mau membantuku atau tidak?!" Kata Kyungsoo sedikit membentak.

"Kyung, dengarkan aku"

"Oke, jika kau tidak mau, terserah. Aku tidak peduli." Kyungsoo meninggalkan meja itu.

Kyungsoo marah? Pada Luhan? Ada apa dengan yeoja itu,? Biasanya ia tidak mudah marah.

Luhan bangkit dari tempat duduknya "Kyungsoo tunggu!"

Luhan mengejar Kyungsoo yang mulai menjauh, kemudian menahan tangannya.

"Kyung, kumohon jangan marah padaku… Aku hanya takut kau dipermainkan olehnya" dan takut apabila kau menjadi miliknya.

"Luhan…"

"Jika kau memang ingin menahan perasaanmu, baiklah. Aku tidak memaksa. Yang pasti aku sudah memberi peringatan padamu." Kata Luhan dengan suara lembut. Tidak biasanya.

"Hannie… Maaf tadi aku membentakmu hiks…" Kyungsoo terisak. Luhan memeluknya "Sudahlah jangan menangis. Aku mengerti perasaanmu."

Kyungsoo melepas pelukannya. "Terima kasih Luhan. Eum… aku mau jalan-jalan sebentar ya"

"Baiklah, hati-hati"

Kyungsoo berjalan menyusuri koridor, memasuki lift, setelah itu menaiki tangga (ribet? Sorry)

Kemudian, ia tiba di atap sekolah.

Kyungsoo mendekati pagar pembatas, kemudian mengirup udara sebanyak-banyaknya "Hufft…"

"Kyung?" terdengar suara berat yang pernah Kyungsoo dengar sebelumnya.

Kyungsoo berbalik menghadap sumber suara "Kai?"

Kai mendekati Kyungsoo "Kenapa kau kesini?"

Kyungsoo melihat Kai yang ada di sampingnya, kemudian tersenyum manis "Tidak apa, hanya mencari udara segar"

Hembusan angin menerpa wajah merek berdua, menerbangkan rambut indah Kyungsoo

"Kau sendiri?" Tanya Kyungsoo

"Dulu aku sering kesini. Tapi dulu. Aku hanya merindukan tempat ini."

"Pasti kau kesini untuk bolos eoh? Atau mungkin… tidur. Ya kan?" Kyungsoo menjulurkan lidahnya ke arah Kai.

"Y-ya aku sudah berubah kau tau!"

"Masa?"

"Iya!"

"Serius?"

"Serius!"

"Aku tak percaya"

Kai mengacak rambut Kyungsoo dengan gemas. Kyungsoo berusaha melarikan diri, tetap gagal karena tubuhnya ditahan dengan tangan Kai yang sebelahnya.

"Kyaaa! Ampun Kai! Aku hanya bercanda!" Kyungsoo berteriak

Kai menyudahi kegiatannya, kemudian menatap Kyungsoo dan tertawa keras.

"Hahahahaha! Kau harus melihat wajahmu Kyungsoo hahahahaha!" Kai menunjuk rambut Kyungsoo yang sangat sangat sangat berantakan karena ulahnya.

"Ish, dasar jahat! Huaaaa rambutkuuuuuuuuuuuuu" Kyungsoo memukul dada Kai tanpa ampun.

"Ya! Hentikan! Sakit tau!" Kai berusaha menghentikan aksi anarkis Kyungsoo.

Kyungsoo menggembungkan pipinya, lalu melipat tangannya di depan dadanya "Harusnya kau meminta maaf" katanya sambil merapikan rambutnya.

"Yayaya, aku minta maaf nona Do Kyungsoo yang galak. Sini biar kubantu." Kai menyisiri rambut Kyungsoo dengan jari-jarinya.

"Mwo?! Galak?! Kau mau dipukul lagi?"

"Diam, atau kuacak lagi rambutmu" Kai memberikan death glare andalannya.

Kyungsoo diam, menggembungkan pipinya lagi dan membiarkan rambutnya dimainkan oleh Kai.

Aroma vanilla khas Kyungsoo tercium. Sangat memabukkan. Kai menikmatinya.

Kemudian, Kai mencium rambut Kyungsoo. Kyungsoo terkejut "Y-ya! Apa yang kau lakukan!" Kyungsoo merebut rambutnya dari tangan Kai.

Wajah Kyungsoo memerah. Kai terkekeh kecil "Aku menyukai aromamu. Maaf jika aku lancang" Kai menepuk kepala Kyungsoo lembut, kemudian berjalan meninggalkan Kyungsoo seiring dengan berbunyinya bel.

Kyungsoo terdiam, meraba pipinya yang memanas. "Hufft… Tenanglah Kyungsoo, ia hanya menyukai aromamu. Do Kyungsoo hanya mencinta Sehun. Ya, Oh Se Hun."

Kyungsoo memukul dadanya pelan.

.

.

.

.

.

Luhan merebahkan tubuhnya di surga dunianya, kasur. Ia kembali memeluk boneka rusa kesayangannya.

"Haruskah aku membantu Kyungsoo?" Luhan berbicara pada bonekanya, seakan boneka itu telah ia beri nyawa untuk mendengarkan segala yang diucapkannya.

"Arrrrgghhh!" Luhan meremas rambutnya, kemudian terdengar bunyi bel.

Luhan bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke pintu untuk membukakannya.

Sehun. Lagi.

Sehun lagi? Tidakkah Sehun bosan melihat wajahnya?

"Hei" Sehun tersenyum kecil.

Luhan diam, menatap Sehun dengan tatapan menusuknya.

"Seperti itukah caramu menyambut tamu? Sungguh tidak menyenangkan, Luhan" Kata Sehun.

Luhan memutar bola matanya malas, kemudian menghela nafasnya "Masuklah"

Sehun tersenyum, Luhan berjalan mendahului Sehun lalu duduk sofa dan menghidupkan tv. Sehun menyusulnya dan duduk di samping Luhan.

Lama mereka terdiam, menikmati tontonan yang disajikan televisi yang ada di hadapan mereka.

"Ada apa?" Luhan memecah keheningan yang terjadi di antara mereka berdua.

"Aku mau menginap disini"

"Memangnya kau tidak punya tempat menginap yang lain selain disini?"

"Memang"

"Terserah"

Luhan memasuki kamarnya. Sehun menatap pintu kamar Luhan yang menutup perlahan.

Tak lama kemudian, Luhan keluar "Masuklah, taruh ranselmu di dalam. Malam ini aku akan tidur di sofa"

Sehun membelakkan matanya "Mwo? Apa maksudmu? Kau membiarkanku tidur di kamarmu?"

"Tidak baik membiarkan tamu tidur diluar"

"Tidak, tidak. Aku yang akan tidur di sofa."

"Aku saja"

"Aku"

"Aku"

"Aku"

"Yasudah, kita tidur bersama"

Sehun terdiam. Otaknya mulai bekerja untuk mencerna maksud dari kata-kata Luhan tadi.

APAAAAAAAAAAAAAAA?!

"KAU GILA?!"

"Aku masih cukup waras karena membiarkanmu tidur disini, Tuan Oh"

"T-tapi… M-maksudku… Apakah kau tidak merasa keberatan atau setidaknya… berpikir jika aku akan macam-macam denganmu?"

Luhan menyenderkan tubuhnya di dinding dan melipat tangannya, menatap Sehun remeh "Kenapa? Memangnya kau akan melakukan apa?"

Sehun sweatdrop "T-tidak"

"Sudahlah, ayo tidur. Sudah malam"

Sehun mengikuti Luhan, menaruh ranselnya dan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

Sehun keluar. Kamar itu gelap, namun ia masih dapat melihat dengan jelas karena gorden kamar Luhan terbuka lebar, mengizinkan cahaya bulan untuk masuk. Ia melihat Luhan sudah membaringkan tubuhnya di kasur.

Dengan ragu, Sehun ikut membaringkan tubuhnya. Ia menatap tubuh Luhan yang sedang berbaring berlawanan arah dengannya.

Sehun sedikit mendekatkan tubuhnya ke tubuh Luhan. Jari telunjuknya mengelus rambut Luhan pelan, lalu mengikuti alur tulang punggung Luhan.

Sehun menjelajahi dunia imajinasinya. Ia tersenyum sendiri, seperti orang gila. Berulang kali Sehun menelusuri alur tulang punggung Luhan dengan telunjuknya. Ia melakukannya perlahan, takut jika tidur Luhan terganggu.

Sehun membalikkan tubuhnya "Jalja, Luhan. Saranghae"

Luhan menghela nafas lega. Ia belum tidur. Ia dapat merasakan sentuhan jari Sehun yang lembut tadi.

Oh ayolah, siapa yang bisa tidur dengan tenang ketika ada namja disampingmu?

Mengingat perbuatan Sehun tadi, Luhan tersenyum manis. Dadanya terasa seperti akan meledak dalam waktu singkat "Jalja, Sehun. Nado saranghae" kata Luhan berbisik.

Kemudian, Luhan menjelajahi alam bawah sadarnya.

Tanpa Luhan sadari, Sehun juga belum tidur.

Sehun dapat mendengar semuanya, dengan jelas, tanpa ketinggalan titik ataupun komanya.

Wajah Sehun memerah.

Suara detak jantung mereka memecah heningnya malam yang dingin itu.

.

.

.

.

.

.

Luhan baru saja tiba di kelasnya dan duduk dengan tenang, tiba-tiba ia dihadiahi teriakan yang menggelegar.

"Luhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!" suara cempreng khas Kyungsoo memenuhi indra pendengaran setiap orang disana.

Luhan merasa malu dengan tingkah sahabatnya itu. Ia menggelengkan kepalanya.

"Luhan Luhan Luhan Luhan Luhan kau harus tau astagaaaaaaaa…. Tadi Sehun… hah... hah… Sehun…"

"Ya! Duduklah dulu! Tubuhmu berkeringat!"

Kyungsoo duduk di bangku sebelah Luhan, mengatur nafasnya sebentar.

"Kau tau? Tadi Sehun… Kyaaaaaa~" Kyungsoo memekik tertahan.

Luhan menghembuskan nafasnya "Ada apa dengan Sehun?" kata Luhan ketus.

"Dia tersenyum padaku astaga… Aku tak menyangka!"

Luhan ingin sekali menggetok kepala indah Kyungsoo menggunakan ensiklopedi tua di perpustakaan yang beratnya 10kg. Hiperbola sekali.

"Hanya itu? Aku kira dia menciummu" kata Luhan sedikit sebal

Sebenarnyaiatakrelajikasenyumansehundilihatoranglain.

"Setidaknya ada kemajuan" Kyungsoo menggembungkan pipinya.

Bel pun berbunyi.

"Oh! Pelajaran pertama olahraga kan? Ayo ganti baju, Luhan!"

Mereka pergi ke ruang ganti pakaian wanita, kemudian bergegas pergi ke lapangan.

"Sebelum kita mulai, mari kita melakukan pemanasan terlebih dahulu" kata Lee seonsaengnim.

(Gausah dijelasin ya. Saya benci olahraga, fyi)

"Untuk materi hari ini, kita akan mendribble basket dulu. Semuanya, ambil bola basket yang ada di dekat ring basket itu, satu orang satu bola."

Dengan malas, semua murid mengambil bola basket disana.

"Sehun! Tolong ambilkan untukku!" teriak Kai.

Sehun pun mengambil satu bola lagi, lalu melemparnya dengan kuat.

Luhan membelakkan matanya.

"LUHAN AWAS!" Kyungsoo berteriak.

Kai dan Sehun berlari untuk menyelamatkan Luhan.

Terlambat, bola itu mendarat dengan indahnya di atas kepala Luhan. Sangat kuat, bahkan terlalu kuat, karena fisik Luhan memang lemah.

Pandangannya kabur, keseimbangannya mulai terganggu.

Luhan pingsan.

TBC

yooo: ini udah lanjut ;3

ohristi95: saya juga suka part itu XD makasih dukungannya ^^

luhanods: ya bisa jadi XD makasih dukungannya ^^

lisnana1: tenang, endingnya kaisoo sama hunhan kok ;D

VirXiaoLU: udah lanjut nih ^^

Earthlings: iya, tapi mungkin agak lama ^^ makasih dukungannya ^^

ohsrh: tenang aja, kaisoo kok ;D udah lanjut ^^

kyeoptafdila: annyeong ;D muncul nih ^^ semoga suka ya ^^

wonkyuhae: hehe makasih ^^ semoga suka ya ^^

HyunRa: hunhan kok suho Cuma jadi cameo disini /digampar/ udah lanjut nih ^^

WinterHeaven: nado bangapta ;) kkk udah lanjut nih makasih dukungannya ^^

Kym Rin –SehunOhSeorinKim: endingnya masih diperdebatkan (?) udah lanjut ^^

Entah kenapa…. Rasanya seiring bertambahnya chapter(?) cerita ini semakin gaje ;-;

Maaf ya kalo kalian ga suka *bow*

Tapi, suka gak suka harus tetep review ya!

Review please? *bbuing bbuing with Luhan*