Don't hurt my heart

Anyeong Chingu...

Min datang lagi membawa chapter 2nya nih...

Buat semuanya yang udah baca ataupun ngereview,,,

Okelah, tanpa basa – basi lagi langsung aja nikmati ceritanya chingu...

Cast:

Kim Ryeowook = 20 th (GS)

Kim Jong Woon a.k.a Yesung = 21 th

Choi Yuri = 19 th

Choi Siwon = 45 th

Choi Kibum = 44 th (GS)

Kim Jaejoong = 38 th (GS)

Cerita ini Fiktif belaka aja ya... jika ada kesamaan cerita Min minta maaf deh, maklum min Cuma manusia... tapi suer dah 100% cerita ini asli berasal dari pemikiran Min sendiri... kalo pemainnya udah pasti milik Tuhan, kelurga masing – masing dan juga fans – fansnya. Min Cuma minjem namanya doang kok...! hehehehehe...

Rate : T+

Summary : Tak pernah sekalipun terbesit dalam benakku untuk mengambil milik adikku, sekalipun dia dan ibunya telah merebut apa yang seharusnya juga menjadi hakku. Tapi semua berubah ketika dia datang kehidupanku yang menyedihkan ini.

Chapter 2

Ryeowook POV

Seperti biasanya, setelah Insome bar tutup pukul 04.00 pagi akupun pulang kembali ke Mansion Choi. Letaknya tidak terlalu jauh dari bar hanya butuh 30 menit berkendara ketika jalanan sedang ramai. Tapi jika jalanan sedang lengan seperti saat ini, aku bahkan bisa sampai kurang dari 15 menit. Tentu saja dengan kecepatan rata – rata diatas 80km/jam.

Setelah meletakkan mobil yang kugunakan ke garasi akupun melangkahkan kakiku dengan perlahan menuju pintu kediaman keluarga Choi ini. Tidak, aku bukanlah seperti remaja belasan tahun yang takut kepergok karena pulang dini hari. Aku berjalan perlahan karena aku sebenarnya malas untuk pulang ketempat ini. Yeah, sekalipun malas, tetap saja aku memaksa diriku untuk kembali kesini. Pernah sekali aku memutuskan untuk kabur dari rumah ini untuk tinggal bersama dengan oemma. Kejadian itu berlangsung katika aku berusia 14 tahun.

Flashback..

Aku yang merasa kecewa karena tidak ada yang datang ataupun memberikan selamat pada hari kelulusannku, jadi bukannya langsung pulang kerumah aku malah berlari kerumah oemma dan memohon pada oemma untuk membiarkanku tinggal bersamanya. Aku mematikan Handphone pemberian appa karena aku takut dia akan menelponku lalu meneriakiku dan menyuruhku pulang.

Sekitar pukul 11 malam pintu rumah oemma didobrak secara tiba – tiba. Setelah itu aku mendengar suara appa menggelegar memanggil namaku. Setelah itu terdengar suara berbagai macam benda yang dibanting dan sebuah suara langkah tegap menuju kamar tempat aku dan oemma berada.

Braakk..

Pintu kamar oemma didobrak dan menampilkan sosok tubuh Appaku dengan aura kemarahannya yang berada di level tertinggi.

" KAU... CHOI RYEOWOOK... " Appa berteriak dengan emosi yang kentara bercampur dalam setiap kata yang dilontarkannya. Tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya

" Berani benar kau kabur dari rumah... " Suaranya masih saja meninggi.

" Kau pikir selama ini siapa yang telah memberikanmu kehidupan yang layak? " Tanyanya sembari mengarahkan telunjuknya kewajahku.

" Pulang sekarang CHOI RYEOWOOk atau kau akan menyesal! " Ancam Appa. Aku masih saja bergeming di tempatku yang berada di belakang tubuh Oemma.

" Ryeowook, berani – beraninya kau mela~ "

" Cukup Siwon. " Oemma memotong perkataan Appa. "Wookie juga anakku. Jadi aku berhak membawa Wookie tinggal dirumahku. " Lanjut Oemma tanpa gentar melihat emosi Appa.

" Hak? Berani benar kau membicarakan hak denganku Jae? " Desis Appa " Kau lupa? Aku memegang hak asuh penuh atas Wookie. " Kata Appa penuh kemenangan.

" Dan kau lupa? Aku lah yang telah MENGANDUNG dan MELAHIRKAN Wookie! " balas Oemma penuh penekanan.

" Aku bisa menyeretmu kepenjara jika kau tidak menyerahkan Wookie sekarang juga Jae. " Ancam Appa

" Aku tak pernah takut terhadap ancamanmu Choi Siwon. " Tantang Oemma.

" Serakan Wookie padaku sekarang juga. "

" Tidak. " Oemma berkeras mempertahanku.

" Jangan memaksaku untuk menyakitimu Jae. "

" Silakhan saja, tapi jangan harap aku mau menyerahkan Wookie lagi padamu. "

" Cukup sudah! Kau menghabiskan kesabaranku jae. " Appa bertambah murka.

" Jika begitu, silahkan langkahi dulu mayatku jika kau ingin membawa Wookie. "

" Oemma. " Bisikku lirih sambil mengeratkan pelukanku diperutnya. Aku memang tidak menangis tapi tubuhku bergetar hebat mendengar pertengkaran orangtuaku. Aku tau pasti Oemma mendengarkan bisikanku dan merasakan ketakutan di sekujur tubuhku. Ketika aku menengadahkan kepalaku dapat kulihat Oemma yang tersenyum menatapku dan mengeratkan tangannya pada tanganku seolah dia mengatakan 'tenanglah Oemma melindungimu'.

Ketika kurahkan pandanganku ke arah Appa yang masih berdiri di ambang pintu kamar bisa kulihat perangainya yang mengeras, tangannya kembali terkepal erat di kedua sisi tubuhnya, dan matanya memerah nyalang memandang kami berdua.

" Jae! " Desis Appa dengan seringaian yang meakutkan

" Tidak. " Jawab Oemma tegas tak ada sedikitpun ketakutan tersirat diwajahnya.

" Baiklah jika itu mau mu. "

Dengan cepat Appa melangkah kakinya menuju kami. Kami tak sempat berkelit menghindari Appa. Dalam sekejap mata aku merasakan tubuhku tertarik kedepan sehingga pelukanku di tubuh Oemma terlepas. Appa meletakkanku di bahunya dan menahanku dengan sebelah tangannya. Aku berusaha memberontak dalam gendongannya, namun apalah artinya semua usahaku melawan kekuatan Appa yang memiliki tubuh kekar. Oemma juga tidak tingga diam, sekuat mungkin ia berusaha melepaskanku dari Appa. Tapi sekali lagi semuanya sia – sia.

Mudah bagi Appa menghadapi kami berdua. Dengan gampangnya Appa berjalan menuruni tangga dan menuju keluar rumah. Saat melintasi ruang tamu kudapati ruangan tersebut sudah luluh lantak karena amukan Appa tadi. Begitu sampai dihalaman rumah, Appa menyerahkanku kepada bodyguardnya " Bawa dia pulang. " Perintahnya. Oemma masih bersusah payah untuk menggapaiku, semuanya terasa semakin menyesakkanku ketika melihat Appa mencengkram lengan Oemma dengan keras dan menyeretnya masuk kembali kedalam rumah itu.

Karena kejadian tersebut aku bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak lagi melakukan hal bodoh yang dapat menyakiti Oemma. Apapun yang terjadi padaku, seberapapun beratnya aku bersumpah untuk tetap pulang kerumah ini.

Keesokan harinya aku mendapatkan hukuman dari Appa. Selama libur hingga hari pertamaku kuliah aku dikurung dirumah, selangkahpun tidak diperbolehkan. Selama 2 tahun itu juga aku tidak dapat bertemu dengan Oemma karena Appa membayar orang untuk mengawasiku. Pulang kuliah aku diwajibkan untuk langsung pulang. Aku tidak bisa menelpon Oemma karena selama itu Handphone ku disita. Aku pun tak pernah mengetahui apa yang terjadi pada Oemma malam itu. Oemma tak pernah mau menceritakannya.

End Of Flashback..

Aku menghela nafas panjang ketika sampai didepan pintu rumah. Inilah mansion Choi, sebuah hunian megah bak istana negeri dongeng. Rumah nyang dari luar terlihat nyaman untuk dihunu dan menjanjikan sejuta kebahagiaan dan limpahan harta kekayaan. Setiap orang diluar sana pastilah bermimpi untuk dapat tinggal dirumah ini. Tapi tidak sama halnya denganku, bagiku rumah ini lebih dingin dari pada es bahkan udara didalamnya terasa menyesakkan paru – paruku. Setiap detik berada dirumah ini terasa menusukku.

Clekk...

Kubuka pintu dengan perlahan setelah sebelumnya kumasukkan passwordnya yang telah kuhapal di luar kepala. Setelah menutup pintu yang terkunci secara otomatis aku langsung melangkahkan kakiku menuju kamarku di lantai 3. Jangan bertanya kemana orang – orang dirumah ini. Karena sudah pasti mereka telah terlelap. Hei! ini sudah jam 4 lewat, jadi wajar saja kan?

Dan inilah kamarku tidak ada yang istimewa, hanya sebuah kamar dengan ukuran 4X6m dengan sebuah balkon yang menghadap tanman belakang dan kolam renang. Kamar ini merupakan satu – satunya tempat yang bisa membuatku nyaman di rumah ini. Karena jarang ada penghuni lainnya yang mau masuk kedalam kamar ini. Karena memang letaknya berada di lantai teratas. Coba bayangkan, siap yang mau bersusah payah naik kesini.

Selain kamarku, di lantai ini ini juga terdapat sebuah perpustakaan pribadi yang menyimpan koleksi – koleksi buku milikku. Selain itu ada mini kitchen dan sebuah ruangan yang diubah menjadi lemari untuk menyimpan baju, sepatu, tas, dan berbagai macam accesories milikku yang terkoneksi langsung dengan kamrku. Jadi secara keseluruhan lantai 3 merupakan daerah kekuasaanku.

Kembali kekamarku, ruangannya didominasi dengan warna ungu muda, warna favoritku. Tidak ada Tv di kamar ini karena memang aku tak terlalu suka menonton, aku lebih suka membaca. Dikamar ini hanya terdapat sebuah ranjang berukuran King Size yang berlapiskan Bed Cover ungu yang senada dengan dindingnya. Diseberangnya terdapat sofa berwarna putih. Ditengah ruangan dilapisi karpet berbulu putih pula. Selain itu juga terdapat sebuah meja belajar dan sebuah meja rias yang hanya dihiasi oleh beberapa benda untuk perawatan kulit seperti lotion, sunblock, masker, pelembab dan yang lainnya. Walaupun aku tidak suka menggunakan make up atau melakukan perawatan yang menjenukan disalon tapi tidak ada salahnya kalau aku tetap merawat diriku bukan? Aku tetaplah seorang wanita.

Aku melepaskan jaket yang melindungi tubuhku dari dinginnya udara malam. Setelah itu kuletakkan rasnselku di atas meja belajar. Sesaat kulirik arloji jang melingkar manis di lengan kananku. 04.20 KST.

" Humm,, tidak ada salahnya jika pagi ini aku berendam air hangat dulu sebelum tidur. " Gumamku kepada diriku sendiri. Sudah menjadi kebiasaanku untuk mandi terlebih dahulu sebelum tidur selarut apapun aku pulang.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi yang memang tersedia di kamarku. Tak perlu repot – repot untukku menutup pintu kamar mandi, karena takkan ada yang melihat. Ku isi bath up dengan air hangat dan mencampurkan sedikit wewangian aromatic yang kusukai. Sambil menunggu terisi aku melepaskan satu per satu pakaian yang melekat ditubuhku dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor.

Setelah menurutku cukup, aku mematikan kerannya dan memasukkan tubuhku. Hangatnya air merilexkan otot – otot tubuhku yang kaku dan wewangian yang menguar mampu membuat fikiranku tenang dan menghilangkan rasa penatku. " Ahh.. Ini menyengkan. " desahku. Dua puluh menit, kurasa cukup bagiku untuk berendam.

Aku melangkah keluar dan kemudian menarik sumbatnya untuk mengeringkan isi bath up. Aku membawa tubuhku menuju shower secepat mungkin aku membasuh tubuhku, menyabuni dan kemudian memakai shampo. Tubuhku benar – benar butuh untuk diistirahatkan. Selesai mandi lansung saja kusambar bathrobe biru dan sebuah handuk yang tergantung. Setelah keluar kamar mandi dan menutup pintunya, aku melintasi ruang kamarku dan membuka pintu ruangan baju.

Langsung saja kuambil sebuah piama berwarna pink dan kemudian memakainya begitu saja. Aku tidak begitu suka mengenakan pakaian dalam ketika tidur, hanya akan menganggu keesehatan. Aku meletakkan kembali handuk di pundakku agar rambutku tak membasahi piama yang kukenakan.

Aku kembali ke kamar mandi dan melerakkan bathrobe yang tadi kugunakan. Setelah selesai mengeringkan rambutku ku merebahkan tubuhku diranjang sambil memeluk kiki, boneka jerapahku dan mulai terbang menuju alam mimpiku.

06.30 KST

" Onnie! " Shit sebuah teriakan memekakkan telinga mengganggu tidurku yang nyaman. Aku tau benar siapa pemilik suara itu. Choi Yuri, dongsaeng tiriku

" Onnie! " Ulangnya sambil mengoyangkan tubuhku.

" Hemm,, " Aku hanya menjawabnya dengan gumaman. Ayolah, aku masih sangat mengantuk.

" Yak...! Palli irona Kim Ryeowook Onnie." Rengeknya dengan manja. " Kim Ryeowook Onnie kalau kau tidak bangun juga aku akan menangis dengan kencang. " Lanjutnya ketika tidak mendapat respon dariku.

Ck~ sialan, dia mengancamku dengan tangisannya. " Wae? " Tanyaku malas. Jangan salah sangka dulu, bukannya aku takut dengan ancamannya, aku hanya malas mendengarkan suara tangisnya yang terkesan manja dan merusak gendang telingaku. Aku juga malas berurusan dengan Haraboji Choi jika dia sampai mendengar tangis Yuri, sang cucu kesayangannya.

" Palli irona, pagi ini kau kau ikut sarapan dengan kami. Aku punya seseorang yang ingin kuperkenalkan pada kalian semua. "

" Aish... Aku malas dan masih mengantuk Yuri. "

" Ck~ cepatlah, atau Onnie mau aku mengadukannya pada haraboji. " Ancamnya

" Terserah! " Jawabku cuek.

" Huh.. dasar anak haram tidak tahu diri! Sudah untung aku yang membangunkanmu, bukan Haraboji. "

" Yak... Choi Yuri! Jaga omonganmu, aku ini masih lebih tua darimu! " Kataku kesal. Huuuhh... aku benar – benar bingung dengan kepribadian yeodongsaeng cantikku satu ini. Terkadang dia begitu kekanakan dan manja terhadapku, tapi terkadang omonganya seperti tidak punya sopan santun ketika berbicra padaku. Yah, itulah hasil campur tangan seorang haraboji Choi. Tapi walaupun begitu tidak menutupi hatiku walaupun aku terkesan cuek dan tidak peduli padanya diluar namun tulus dalam hatiku aku menyayangi dongsaeng cantikku ini. Bagaimana pun hubungan darah tak bisa diputuskan bukan?

" Onnie.. Kau marah padaku? Hiks.. hiks.." katanya mulai terisak.

" Hentikan isakanmu itu! Aku tidak marah. " kataku melembut.

" Jinja? "

" Ne.. "

" Okey..! kalu begitu Onnie cepat mandi lalu kita makan dibawah bersama ne.. " Ucapnya kembali ceria. " Oh ya.. Appa juga bilang katanya ada yang ingin dibicarakan dengan Onnie. " lanjutnya sebelum keluar kamarku dan menutup pintunya.

" Haaahhhh Sial, belum juga 2 jam aku tertidur sudah harus menghadapi mereka. " desahku frustasi.

Huh,, sungguh ini sesuatu yang luar biasa jika mereka mengajakku makan bersama. Dengan berat hati dan berat mata aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhku. Selesai mandi dan gosok gigi aku mengenakan baju yang cukup pantas menurutku. Sebuah blouse hijau muda dengan bawahan jeans warna biru dan dipadukan dengan blazer abu – abu terang dengan aksen warna hijau. Untuk sepatunya aku mengambil sebuah sepatu berwarna putih yang cukup sporty. Aku juga mengambil sepasang baju lagi, long coat berwarna putih dan sebuah high hels dan memasukannya kedalam ranselku semalam.

Antisipasi jika sesuatu yang buruk terjadi pagi ini dan aku tak pulang kerumah hingga bar buka. Fellingku mengatakan bahwa ini akan menjadi sesuatu yang buruk. Kumasukan pula handphone dan dompetku dalam ransel.

Kemudian aku duduk didepan meja riasku untuk menyisir rambut panjangku dan mengikatnya dengan sederhana saja. Kukenakan sedikit pelembab kewajahku agar tidak kering dan menggunakan bedak tipis. Tak lupa kupakai lotion di beberapa daerah tubuhku dan menyemprotkan parfum strawbery kesukaanku.

Sebelum aku melangkahkan turun ke lantai bawah, berjalan menuju mini kitchen untuk mengambil beberapa cemilan dan minuman dari kulkas dan memasukkannya lagi dalam ranselku.

Diruang makan aku mendudukkan diriki di kursi bersebelahan dengan Kibum Oemma. Walaupun sikapnya dingin dan lebih banyak diam, tapi entah mengapa aku merasa sedikit lebih nyaman ketika duduk di sampingnya. Mungkin karena dirinya juga seorang oemma yang memancarkan aura keibuan walaupun bukan untukku.

Ditengah keheningan yang tercipta datanglah seorang namja yang sangat tampan menurutku. Garis wajahnya tegas dan tatapan matanya tajam. Namja itu dengan sopannya membungkukkan badannya dan memperkenalkan dirinya dihadapan kami semua.

" Anyonghaseo, Chonun Kim Jong Woon imnida. Tapi aku sering dipanggi Yesung. "

TBC

Hum,,, dicahpter ini Min udah ngusahain biar bisa lebih panjaaaaaannnggggggg dari capter sebelumnya... hehehehe...

Semoga alurnya yang ini gak membuat chingudeul bosan ya...

Gomawo udah baca lagi kelanjutan fict nya Min..

Tungguin aja yah kelanjutan ceritanya.. Min usahain secepatnya ngepublis, soalnya ide ceritanya udah muncul bertumpuk – tumpuk hanya tinggal nungguin Min untuk menuangkannya aja...

Ok...! Fighting...