Hai, kembali lagi dengan saya newbie yang mau publish aja malesnya minta ampun XDv

Sesuai dengan judulnya yaitu Giotto- senpai, harusnya Tsuna manggil Giotto dengan embel-embel senpai ya. Tapi karena Tsuna belum diajar oleh Giotto, jadi Tsuna masih manggil Giotto dengan Giotto- san XD

Ya udah deh, selamat membaca ^^

Disclaimer : Akira Amano

Pairing : Giotto x Tsuna

Genre : Romance, Friendship

Warning : Typo (s), OOC, Alur kecepetan mungkin


Giotto- senpai!

'Jadi Giotto-san yang menjadi pengajarku. Tapi aku heran, kenapa seorang ketua OSIS seperti dia, mau menjadi seorang pengajar?' batin Tsuna. Saat ini dia sedang berjalan sendiri menuju rumahnya. Ketika ia melewati jalanan yang lumayan lengang, tanpa ia sadari dua orang preman menghadangnya.

"Anak kecil sepertimu kenapa baru pulang malam-malam begini?"

Tsuna yang sedari tadi menunduk pun, mendongakkan kepala. Ia terkejut ketika tahu ada dua orang preman didepannya.

"Waa, manisnya.."

"Dia cowok atau cewek sih?" kedua preman itu meneliti tubuh Tsuna.

"Hmm, cowok. Tapi wajahnya sangat manis." preman lain mengangguk.

Tubuh Tsuna sangat bergetar hebat. "Ma..maaf, aku tidak punya uang." Akhirnya Tsuna berani bersuara.

"Ngg? Tak masalah,sayang. Toh, kami tak membutuhkan uangmu." kedua preman itu saling menyeringai mesum kearah Tsuna. Tsuna yang merasa hidupnya terancam, perlahan mundur. Tapi kedua preman itu tidak tinggal diam. Salah satu preman menggiring Tsuna masuk kedalam gang buntu tak jauh dari sana.

"Dakk!" Tsuna didorong kasar ke jatuh terduduk.

"To... tolong, jangan lakukan ini.. A.. Aku akan memberi kalian uang.. Hiks hiks.." Tsuna menangis ketakutan.

Mukanya yang memerah dan airmatanya yang bercucuran, malah membuat kedua preman itu lebih bernafsu untuk "memangsa" Tsuna.

Tanpa menunggu lama lagi, keduanya langsung menyerang Tsuna. Jas sekolah Tsuna dibuka secara paksa lalu dilempar sembarang. Walau sudah semaksimal mungkin memberontak, tenaganya masih kalah jauh. Bahkan untuk berteriak pun ia tidak sanggup karena sebelumnya mulutnya sudah diikat dengan saputangan. Kemeja Tsuna yang tadinya rapi, dikoyak secara kasar hingga robek. Leher dan dadanya yang putih bersih pun terekspos terang-terangan. Namun, ketika salah satu preman mencoba mencium leher Tsuna...

"Bukk! Bukk!" tiba-tiba kedua preman itu tersungkur. Tsuna memejamkan matanya sehingga tidak tahu apa yang terjadi. Sesaat kemudian, seseorang membuka ikatan yang mengikat mulut Tsuna dengan sangat hati-hati.

"Kumohon lepaskan aku.. Kumohon.. Hiks hiks..." Tsuna menangis sembari terus memohon.

"Tidak apa-apa. Semuanya sudah aman, Tsuna. Ini aku." seseorang menghapus air mata Tsuna.

"Sepertinya suara ini... Aku pernah mendengarnya.."

Perlahan Tsuna membuka kedua matanya.

"Gi.. Giotto-san?"

"Kau tak apa, Tsuna?" ada nada khawatir dari suara Giotto.

Tsuna melihat tubuhnya sendiri. Kemejanya robek, dan ia sudah hampir setengah telanjang.

"Ku.. kumohon pergilah Giotto- san. Aku.. aku.. hiks.. hiks.." Tsuna mencoba memasangkan kancing kemejanya kembali. Tapi apa daya, tenaganya sudah sangat lemah. Lagipula beberapa kancing sudah terlepas dari kemeja Tsuna. Giotto menenangkan Tsuna.

"Tak apa, biar aku yang melakukannya." Giotto mengkaitkan kancing-kancing yang masih tersisa. Lalu memungut jas Tsuna dan memakaikannya ke Tsuna. Tsuna yang memang sudah sangat lemah, hanya bisa terdiam.

Setelah itu Giotto menggendong Tsuna dipunggungnya. Tak lupa memungut tas Tsuna.

"Biar kuantar kau kerumahmu."

"Tu.. turunkan aku. A.. Aku tidak ma.. mau pulang dalam keadaan seperti ini." Tsuna terengah- engah. Karena sudah tidak kuat lagi, ia memejamkan mata.

"Ya, baiklah. Tidurlah Tsuna, aku akan menjagamu." Giotto memegang erat Tsuna. Ia mulai berjalan. Ketika ia melihat kedua preman itu merintih kesakitan, ia menggeram marah.

"Berani-beraninya kalian menyentuhnya." Mata Giotto berubah. Sorot matanya kini sangat tajam. Mengartikan bahwa ia sangat marah.

"Kau, urus mereka." Giotto berjalan kembali.

"Baik." seseorang dengan kedua tonfa ditangannya, mengangguk paham.


Giotto dan Tsuna sampai disebuah rumah yang lumayan besar. Rumah Giotto.

Sambil terus menggendong Tsuna yang masih belum sadar, Giotto masuk ke dalam dan langsung membawa Tsuna ke kamarnya.

Sampai dikamar Giotto, perlahan ia menidurkan Tsuna ke ranjangnya. Ketika Giotto menatap baju Tsuna yang robek dan kotor, membuat Giotto berpikir akan suatu hal.

...

Tsuna membuka matanya perlahan. Ia memandang sekeliling.

'Ngg? Aku dimana?' batin Tsuna bingung. Sesaat ia teringat kejadian saat ia didesak oleh kedua preman tadi. Tsuna memejamkan mata. Tubuhnya menggigil ketakutan. Ia memeluk erat guling yang berada di sampingnya. Tanpa sadar, Tsuna menangis.

Di waktu yang sama, Giotto sedang berada di dapur. Memasak sup untuknya dan Tsuna.

"Kira-kira Tsuna sudah bangun belum ya?" batin Giotto sembari mengaduk sup ayam didalam panci."

Pasti dia sudah sangat lapar. Sebaiknya segera kuselesaikan masakanku."

Sembari membawa semangkuk sup disebuah nampan, Giotto masuk ke kamarnya. Nampak tubuh Tsuna tertutup seluruhnya dengan selimut. Giotto tersenyum.

Perlahan, ia berjalan menuju tempat menaruh nampan dimeja dekat tempat tidur.

"Hei Tsuna, kau sudah bangun? Aku buatkan sup hangat untukmu." Giotto mengguncang-guncang tubuh Tsuna perlahan. Tidak ada reaksi dari Tsuna.

Giotto naik keatas ranjang. Berniat membuka selimut yang menutup tubuh Tsuna. Namun, samar-samar terdengar suara isakan dari dalam sana.

"Tsuna?"

Perlahan, Tsuna menampakkan kepalanya.

"Gi.. Giotto- san? Hiks.. hiks.." Tsuna lalu mengelap air matanya.

"Kenapa menangis, Tsuna?" Giotto terlihat khawatir.

"A.. Aku takut.. Ba.. bagaimana.. kalau ke.. kedua preman tadi.." Tsuna terdiam. Ia memegang erat ujung selimut. Dan kembali menangis. Giotto terhenyak. Tak menyangka Tsuna begitu ketakutan. Ia lalu tidur disamping Tsuna.

"Tak apa. Mereka tidak akan pernah menyentuhmu lagi." Giotto mengusap lembut kepala Tsuna.

"Ba.. bagaimana kau yakin, Giotto-san?"

"Karena aku ada disampingmu."

Suasana sunyi sejenak.

"A.. Apa?"

"Sudahlah, lagipula ini sudah malam. Kau lapar kan? Aku buatkan sup untukmu." Giotto menunjuk semangkuk sup yang ia taruh dimeja tadi.

"Hah? Malam?"

Tsuna terdiam. "MALAMM?!"

"Su.. sudah berapa lama aku tidur?!" Tsuna kelimpungan. Dan...

"Gubrakk!" Tsuna terjatuh dengan tidak elitnya dari tempat tidur.

"TSUNA!"

"Ii.. iitai.."

Giotto menengok Tsuna. Dan alangkah terkejutnya ia begitu melihat posisi Tsuna sekarang. Muka Giotto memerah. Lalu tersenyum nakal.

"Kau mau menggodaku, Tsuna?" Giotto menatap Tsuna dengan pandangan menggoda.

"Hah?" Tsuna terdiam beberapa saat. Lalu menatap posisinya sekarang.

(Author membebaskan reader membayangkan posisi Tsuna itu. Intinya posisi yang membuat muka Giotto memerah dan menggodanya) :Dv

Buru-buru Tsuna berdiri.

"Lupakan.. Lupakan yang tadi, Giotto-san !" muka Tsuna memerah menahan malu.

"Hahaha, baiklah Tsuna."

"Ah iya! Ini beneran sudah malam?! Kaa-san bisa cemas menungguku. Dan.. dan... Gawat!" Tsuna panik.

"Gawat? Ada apa? Kenapa?" Giotto jadi sedikit panik.

"Reborn..." Tsuna gemetar.

"Reborn?"

"Pokoknya aku harus pulang sekarang. Ah ya, ngomong-ngomong ini dimana?" Tsuna melihat sekitar. Kamar yang luas dan bersih.

"Oh, di kamarku." Giotto tersenyum.

"Hiee?"

"KENAPA KAU MEMBAWAKU KE KAMARMU, GIOTTO- SANNN?!"

"Yah, sebenarnya aku mau mengantarmu pulang. Tapi karena kau bilang tidak ingin pulang, jadi aku membawamu kerumahku." jelas Giotto.

"Kenapa aku sampai tidak ingin pulang?" Tsuna bingung.

"Ah ya, benar." Tsuna menunduk.

Giotto menatap Tsuna dalam.

"Tak apa. Semuanya baik-baik saja. Toh aku sudah mengganti bajumu. Jadi kau tidak perlu pulang dengan seragammu yang sobek itu kan." jelas Giotto.

"Ngg? Benarkah?" Tsuna melihat pakaian yang ia pakai sekarang. Sebuah kaus hitam yang cukup besar untuk dipakainya.

"Hah? Kau yang mengganti sendiri bajuku, Giotto-san?" Tsuna melotot.

"Yah, tentu saja." Giotto tersenyum.

"Hiee?"

"HIEEE?!"

"Sudahlah, lagipula tidak enak kan tidur dengan pakaian yang kotor. Dan..."

"Kau mau menginap dirumahku atau bagaimana?"

"Ah ya! Ini jam berapa, Giotto-san?!"

"Hmm..." Giotto melirik jam dinding dikamarnya.

"Setengah sepuluh." Giotto menunjuk jam dindingnya.

Tsuna terkejut bukan main. "Setengah sepuluh malam?!"

"Aku benar-benar harus pulang sekarang. Atau aku akan mati ditangan Reborn." Tsuna melihat tas dan seragamnya di sisi tempat tidur. Buru-buru ia masukkan seragam dan jasnya ke tas.

"Giotto- san, aku pamit dulu. Konbanwa!" Tsuna berlari keluar kamar. Tapi buru-buru dicegah Giotto.

"Kau tidak mau memakan sup buatanku?" tanya Giotto.

"Maafkan aku Giotto- san, aku sudah berada diambang kematian sekarang." Tsuna membungkukkan badan.

"Kalau begitu..."

"Aku harus mengantarmu pulang."

To be Continued~