"Maafkan aku Giotto-san, aku sudah berada diambang kematian sekarang." Tsuna membungkukkan badan.

"Kalau begitu..."

"Aku harus mengantarmu pulang."

Disclaimer : Akira Amano

Pairing : Giotto x Tsuna

Genre : Romance, Friendship

Warning : Typo (s), OOC, Alur kecepetan mungkin, dan Sho-ai tentu saja.


"Hiee?! Ti.. tidak usah! Akan tambah runyam masalahnya kalau kau mengantarku pulang!"

"Loh, kenapa? Memangnya kau mau memberi alasan apa ke keluargamu? Apa kau akan memberitahu kalau tadi saat pulang sekolah kau hampir diperkosa preman? Lalu akhirnya ketua OSIS sekaligus pengajar barumu datang dan membawamu kerumahnya. Setelah itu kau tidur dikamarnya sampai kau bangun dan pulang. Seperti itukah?" jelas Giotto runtut. Tsuna mendelik.

"Yah.. yah.." Tsuna menggaruk-garuk kepalanya bingung.

"Tenang, aku akan datang untuk menyelesaikannya." Giotto menepuk pundak Tsuna.

"Yah, baiklah. Terima kasih, Giotto-san." Tsuna menunduk malu.

...

Perjalanan kerumah Tsuna dari rumah Giotto memakan waktu sekitar 10 menit.

Tsuna heran. Kenapa jam segini pintu rumahnya terbuka?

"Aku pulang.." perlahan Tsuna masuk. Diikuti Giotto.

"Juudaimeee!" teriak Gokudera mengagetkan Tsuna dan Giotto.

"Gokudera-kun?" Tsuna keheranan kenapa jam segini Gokudera masih dirumahnya?

"Siapa yang melakukan itu pada anda? Saya akan membunuh mereka! Saya akan siksa mereka sampai mati!" Gokudera berteriak. Matanya yang memerah menandakan ia benar-benar sangat marah. Yamamoto yang berada disampingnya, menarik pelan tangan Gokudera untuk duduk kembali.

"Go.. Gokudera- kun..." Tsuna menatap takut Gokudera yang tak seperti biasanya.

Melihat reaksi Tsuna, Gokudera tersadar.

"Ma.. Maafkan aku, Juudaime.." Gokudera akhirnya menuruti tarikan Yamamoto untuk duduk kembali.

Tsuna mengedarkan pandangan ke penjuru ruang tamu.

Ada kaa-san, Reborn, Gokudera, Yamamoto dan Hibari-san.

"Ngg?"

"Hibari-san?"

"HIBARI-SANNN?!" teriak Tsuna kaget.

"Hentikan kelakuan konyolmu itu. Atau... Kamikorosu." Hibari menatap tajam Tsuna.

"Hiee?"

"Tsuna, kau tak apa? Apa kau terluka?" Nana, ibu Tsuna terlihat sangat cemas.

"Tak apa. Aku baik-baik saja, Kaa-san."

"Hibari sudah menceritakan semuanya pada kami. Tadinya aku mau membunuhmu karena kau pulang terlambat. Tapi sepertinya aku bisa memberi keringanan padamu." Reborn yang sedari tadi diam, mulai angkat bicara.

"Reborn... Aku..." Tsuna menunduk sedih.

"Tak apa. Itu bukan karena kemauanmu kan?"

"Dan.." Reborn memandang Giotto yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Disamping Tsuna.

Giotto tersadar.

"Ah ya, perkenalkan, saya Giotto. Tenang saja, Tsuna bersama saya sedari tadi." Giotto menunduk hormat kesemuanya.

"Hmm."

'Jadi itu kenapa Gokudera tadi terlihat marah..' batin Tsuna.

"Jadi, kalian semua sudah tahu ya? Aku benar-benar..." Tsuna menggigit ujung bibirnya.

"Tsuna.." Yamamoto memandang Tsuna iba.

"Juudaime..."

"Aku... mau ke kamarku dulu. Oyasumi." Tsuna berjalan perlahan, lalu berlari ketika mencapai tangga.

"Tsuna!" Giotto memanggil Tsuna.

"Biarkan dia." cegah Reborn. Giotto menunduk. Lalu ia duduk di sofa yang masih terlihat kosong. Disamping Hibari.

"Jadi... kenapa kau memberitahu keluarganya?" Giotto bicara perlahan. Terdengar tajam. Pada Hibari. Hanya saja, seluruh orang yang ada disana mendengarnya.

"Aku hanya bicara fakta. Menyembunyikan sesuatu malah akan memperburuk keadaan." jawab Hibari. Tak kalah tajam.

"Ah begitu? Lalu kau tidak memperdulikan perasaan Tsuna?!"

"Tugasku sudah selesai." Hibari beranjak dari duduknya.

"Aku belum selesai bicara. Hibari Kyoya."

"Nana-san, masuk ke kamarmu. Sekarang." Reborn merasa suasana menjadi tegang. Hingga menyuruh kaa-san, satu-satunya wanita disana untuk pergi.

"Ba.. baiklah."

Hibari kaget. Tak biasanya Giotto memanggil nama lengkapnya. Seperti menahan amarah. Hibari pun duduk kembali.

"Jadi... yang lalu biarlah berlalu. Toh, pada akhirnya kalian bisa menyelamatkannya kan?" jelas Reborn.

Giotto menunduk. Hibari membuang muka.

"Intinya, siapapun disini yang sudah tahu permasalahannya, jangan ungkit-ungkit lagi di depan Tsuna. Gokudera, Yamamoto, bersikaplah seperti biasa padanya." jelas Reborn.

"Baik." Gokudera dan Yamamoto menjawab hampir bersamaan.

"Kalau begitu kalian berdua pulanglah." Reborn menyuruh Gokudera dan Yamamoto pulang. Mereka berdua mengiyakan, lalu pergi dengan wajah lesu. Bahkan Gokudera pun menahan tangis yang mungkin sedari tadi ia tahan. Bagaimana perasaan kalian jika orang yang sangat kalian hormati mengalami hal menyakitkan seperti itu?

"Tugasmu adalah membereskan kedua preman tadi. Dan memberitahu keluarga Tsuna kalau dia akan pulang terlambat.." Giotto menghentikan ucapannya.

"Bukan memberitahu kejadian apa yang menimpanya! Brakk!" teriak Giotto sembari menggebrak meja.

"Aku tidak melakukan ini karena perintahmu. Aku lakukan ini, atas keinginanku sendiri." Hibari membela diri. Tanpa intonasi, tanpa memandang Giotto.

"Wah, seorang Hibari Kyoya memiliki keinginan seperti itu? Haha, sejak kapan?" Giotto menyindir.

Hibari terdiam.

"Aku hanya merasa, jika keluarganya tidak diberitahu, Sawada Tsunayoshi malah akan merasa sangat bersalah dan malu. Dia sangat rapuh. Jika menyimpannya sendiri, itu malah akan memperburuk keadaannya." jelas Hibari. Ia lalu berdiri.

"Jika kau ingin melindunginya, lindungilah dia dengan caramu. Aku akan melindunginya, dengan caraku sendiri." Hibari berjalan keluar. Lalu menghilang tanpa ucapan pamit sama sekali.

Giotto terhenyak.

Reborn menatap Giotto yang kini terlihat menunduk sembari mengepal kedua tangan.

...

"Tsu-kun, ayo bangun!" teriak kaa-san dari bawah. Tak ada sahutan.

Sebenarnya Tsuna sadar. Bahkan tidak tidur semalaman. Hanya saja, ia malu untuk bertemu kaa-san, Reborn, Bianchi, Lambo, dan Ipin. Malu karena diantara mereka, tahu apa yang menimpanya kemarin.

"Tsu-kun!" teriak kaa-san lagi. Kali ini dengan nada khawatir.

"Cukup, Nana-san. Biar aku yang mengurusnya." sela Reborn. Kaa-san mengangguk.

"Tsuna, bangun." ucap Reborn. Berdiri didekat tempat tidur Tsuna. Seluruh tubuhnya tertutup selimut tebal. Reborn menghela nafas.

"Aku tahu kau tidak tidur. Jadi, cepat kau mandi lalu turun kebawah."

Dari dalam, Tsuna menghela nafas berat. Tanpa bicara dan tanpa menatap Reborn, Tsuna berjalan keluar kamar.

"Jadi..." Reborn terus menatap lekat Tsuna.

"Kau masih menangis... Tsuna."

...

"Aku berangkat." Tsuna pamit. Dengan nada datar. Tak seperti biasanya.

"Tsuna-san.." Ipin cemas.

"Ngg, Tsuna?" Lambo bingung melihat kelakuan Tsuna. Lalu...

"Hahahaha! Tsuna menangis! Tsuna cengeng! Tsuna cengeng!" Lambo yang memang tidak tahu apa-apa, melihat kedua mata Tsuna yang sembab.

"Lambo! Jangan nakal!" Ipin memukul kepala Lambo.

"Yaakkk!" Lambo kesakitan.

Bianchi terdiam sambil menatap sendu kearah Tsuna. Reborn telah memberitahunya apa yang telah terjadi kemarin.

"Tsu-kun... mau bawa bento?" tanya kaa-san lembut. Tsuna menggeleng.

"Terima kasih." jawab Tsuna pelan. Tsuna lalu keluar rumah. Kaa-san menunduk sedih. Bianchi memegang pundak kaa-san lembut. Mencoba menenangkan.

"Juudaimeee!" teriak Gokudera begitu melihat Tsuna keluar rumah bersama Reborn. Gokudera dan Yamamoto sudah terlihat menunggu Tsuna diteras rumah.

"Hai, Tsuna!" seperti biasa Yamamoto menyapa Tsuna dengan cengiran khasnya.

"Pagi, Gokudera-kun.. Yamamoto.." Tsuna sedikit bingung menyapa kedua temannya.

"Cepat, pergilah. Begitu kalian terlambat, matilah kalian ditangan ketua kedisiplinan itu." Reborn mengingatkan.

"A.. Apaaa?!" Gokudera baru ingat.

"Maa maa, gawat!" Yamamoto berkeringat dingin.

"Kalau begitu, ayo Juudaime.. kita berangkat sekarang!" Gokudera menarik tangan Tsuna lalu mengajaknya berlari. Diikuti Yamamoto.

'Jagalah dia.' batin Reborn.

Gokudera dan Yamamoto mengangguk. Seperti mendengar permintaan Reborn.

To be continued~

Kalau berkenan, bisa dong di Fav, Follow, atau Review- nya :D

Biar Author pemalas ini jadi semangat ^^/