"Uhhhh….."
Tubuhku terasa kaku. Kurasakan ikatan kuat yang mengikat kedua tanganku. Perlahan kubuka kedua mataku. Dan kulihat Hinata yang juga terikat.
"….?dimana ini?"Tanyaku dengan cepat. Sejenak ia menoleh kearahku. Lalu ia mengalihkan pandangannya.
"Kita ada di ruang bawah tanah….biasanya anggota klan kami yang bersalah dikurung disini…"Jawabnya dengan pelan.
"Apaa..?…..!"
Aku tak melanjutkan kata-kataku….kepalaku terasa sakit.
"Jangan banyak bicara dulu….kurasa kau masih terluka…apa kau tidak ingat?kau dipukuli habis-habisan oleh para pelayan tadi malam…"Lanjutnya dengan mendekatkan dirinya kearahku. Aku pun tertegun, pikiranku berusaha mengingatnya…..
"Ah…itu…"
Lampion Edo
Chapter 3
Disclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto
:::FlashBack:::
Derap langkah kaki membuat Naruto yang semula ingin kabur jadi membuatnya bertahan dalam lemari itu. Dirinya terpaku mendengar suara-suara pelayan yang sibuk mengobrak-abrik termasuk Hinata…..
Kriieeet….
"Hinata…apa yang terja…"
Kata-kataku terhenti ketika jari telunjuknya menyentuh bibir Naruto. Hinata memberi isyarat untuk diam. Naruto pun mengerti dan terdiam.
Mereka berduapun saling bertatapan…wajah Hinata yang berkeringat dingin itu membuat Naruto menjadi iba….
Ia sudah berusaha keras….ini bukan salah Hinata…..batin Naruto.
"….maafkan aku…ini diluar dugaanku…"bisik Hinata dengan sangat pelan.
"…."
"Tidak masalah...sekarang tutuplah lemari ini dan katakan pada mereka bahwa tidak ada apa-apa disini…"bisik Naruto dengan tersenyum lebar.
Hinata terdiam…tapi sesaat kemudian ia mengangguk pelan…"Baiklah..Naruto…"
"Hinata…..!apa yang sedang kau sembunyikan itu?"teriak ibu Hinata dengan emosi.
"…tidak sesuatu sungguh aku…."
"Minggir..!"kata ibu Hinata sambil berjalan mendekati Hinata. Wajah Hinata tampak memucat….ia merentangkan kedua tangannya berusaha mengahalangi ibunya ketempat persembunyian Naruto.
"Tidak ada apa-apa….!"Ucap Hinata dengan lantang. Naruto hanya menepok jidatnya sendiri. Tindakan Hinata seperti itu malah menguatkan bukti….
"Minggirlah…Hinata…!"
"Tidak..!"
"Minggir.."
"Tidak akan….!"
Jeritan Hinata itu membuat seisi ruangan terdiam. Pelayan-pelayan yang berada disekitar mulai berbisik-bisik…
PLAK….!
Tamparan panas itu diterima Hinata. Wajahnya berusaha tegar. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Mengalahlah….."Sahut ibu Hinata dengan aura hitam yang menyeramkan."atau kau mau mendapat lebih dari sekedar tamparan…?"
Hinata menundukan kepalanya…memegangi bekas tamparan ibunya yang mendarat dipipi kirinya.
Ibu Hinata yang merasa sudah tidak ada perlawanan lagi berjalan menjauhkan Hinata dari depan lemari dan menatap isi lemari…kedua bola matanya menunjukan ketenangan….
"Begitu….jadi anak Namikaze yahh…sejak kapan kau pindah kelemari putriku?apa anakku yang menyuruhmu tinggal disini?"
"Tidak..!Anakmu tidak bersalah…akulah yang mengingkan tinggal disini…!"Jawab Naruto dengan tegas.
"…kalau begitu….kembalilah kepada keluargamu…aku akan mengampunimu jika melakukannya….."balas ibu Hinata sambil menatap tajam kearah Naruto.
"Aku tidak akan kembali kesana…!sampai aku bisa mensejahterakan rakyat di pemukiman kumuh bagian utara sepenuhnya…"jawab Naruto dengan yakin.
Seisi ruangan pun terdiam…mencerna perkataan Naruto barusan…
"Ck…impian yang mengharukan….lalu bagaimana kau melakukannya..?"Tanya ibu Hinata dengan meremehkan.
"Mencuri…yah..aku mencuri…mengambil barang beharga para saudagar kaya di Edo secara diam-diam…lalu memberikannya pada warga pemukiman kumuh….dengan begitu, mereka tidak akan kekurangan…kehidupan mereka akan tercukupi…seperti kehidupan kita…" Jelas Naruto dengan enteng.
"…begitukah?kau pikir dengan begitu mereka akan bahagia?akankah mereka akan bahagia dengan harta duniawi saja?"Tanya ibu Hinata dengan mencemoohkan "padahal keluarga kalian...adalah keluarga yang keberadaanya sangat dihormati..bahkan kudengar keluarga kalian bersahabat dengan keluarga Raja …bukankah kau bisa meminta pada mereka?"
"aku tidak bisa melakukan hal seperti itu…karena hati nurani mereka tidak tergerak."
"…!"
"Yah…tidak tergerak…mereka bahkan tidak mengurus rakyat pemukiman kumuh…itu membuatku kecewa dan kuputuskan untuk merubah pemukiman kumuh dengan tanganku sendiri…."Lanjut Naruto sambil mengepalkan kedua tangannya kedadanya.
"….."
"….."
"Tunggu sampai ayahmu dan yang lainnya mendengar ini…."
….
….
….
:::FlashBack Off:::
"Setelah aku mengatakan itu….rasanya…aku…dipukuli..oleh…beberapa pelayan…"Kata Naruto sambil membenarkan posisi duduknya"lalu…kenapa…kau juga dikurung,Hinata….?"
"Kalau itu sihh…."
:::FlashBack Hinata'On':::
Suara para pelayan yang sibuk menghajar Naruto membuatku gemetar. Kulihat wajah ibuku yang tersenyum kemenangan.
"Ibu….berhentilah membuat Naruto babak belur…."pintaku dengan nada memohon.
"Apa kau juga minta dihajar?"Tanya ibuku yang membuatku terdiam membisu sambil menundukan kepala.
Melihat tingkahku…ibu mengangguk sekali lalu memandangi Naruto yang sudah tidak berdaya.
"Untuk ini aku ampuni…tapi lain kali jika kau melakukan itu…."
"Aku tidak perlu ampunan..!"Seruku yang membuat ibu menoleh kearahku.
"Aku tidak perlu itu…hukumlah aku….aku juga bersalah karena telah membohongi ibu dan menyembukan dia…hukumlah aku seperti dirinya…"Kataku dengan pelan.
…..
…..
….
"Dasar bodoh….yah…tapi mungkin sedikit hukuman akan memberimu pelajaran ….."
…..
…..
…..
…..
…
:::FlashBack Off:::
"dasar bodoh..!kau ikut hanya agar aku tidak kesepian kan? "Omel Naruto sambil berusaha memukul Hinata.
"Tentu saja…..Kita kan teman…bukannya teman itu selalu ada disaat suka dan duka?"jawab Hinata sambil tertawa kecil.
"Tapi ini sama saja seperti mengorbankan dirimu pada Harimau...! pokoknya tidak boleh…kau tidak boleh terluka!kau tidak boleh menderita gara-gara aku..!"Sahut Naruto dengan panik. Hinata yang mendengarnya hanya tersenyum..
"Tenang saja…aku akan baik-baik saja…apapun yang terjadi…aku akan bersamamu….bukankah kita ini…..Teman..?"
Naruto terdiam mendengar perkataan Hinata. Wajah Hinata yang polos membuat Naruto terhanyut. Kimono Hinata yang bewarna putih dan sedikit kotor akibat debu itu membuat kedua tangan Naruto tergerak secara refleks…
"Bajumu kotor….."Ucap Naruto dengan lirih yang sukses mendapat pukulan dari Hinata.
"Apa yang kau lakukan, dasar Mesum!"Gerutu Hinata dengan kesal.
"Hoi…aku gak mesum!aku hanya ingin membersihkan pakaianmu yang kotor itu….!"Jawab Naruto dengan merengut.
Keduanya pun terus bercanda dalam seharian ini…pikiran mereka berdua terhanyut oleh hari yang menyenangkan ini…sel kurungan yang kotor itu tidak mempengaruhi mereka berdua…..
Sosok pria bertudung hitam itu membuka pintu dengan kesal. Memasuki ruangan dengan wajah yang merengut.
"Berhasil?"
"Tidak…"
Lawan bicaranya menjadi lesu mendengarnya…memainkan buah cery ditangannya membuat wajahnya terhiasi lagi oleh wajah yang penuh kelicikan….
"Aku punya ide…Sasuke….."suaranya kini berubah menjadi dingin. Matanya menatap licik pada Sasuke.
"Katakan padaku….."jawab pemuda yang bernama Sasuke itu sambil memasang pendengarannya…
Pria yang dipanggil oleh Sasuke itu pun mendekat….membisikan rencananya ketelinga Sasuke….Sasuke mengangguk setuju…
"Ide bagus….."
Keduanya pun bersalaman, Sasuke segera mengenakan jubahnya lalu berjalan menjauhi pemuda tadi sambil tersenyum penuh kelicikan.
Kena Kau…Naruto..!
To Be Continued…..
Author : Cut!Terimakasih atas aktingnya Naruto..bagus sekali…..
Naruto : kau harusnya berterimakasih pada reviewner yang sudah sudi meriview fictmu ini…..*pergi*
Author : ahhh…benar juga….terimakasih para reviewner…baik yang sudah meriview maupun yang enggak meriview…terimakasih…maap author gak bisa ngasih gado-gado(?)
Reviewnya~~~*nyodorin kotak review*
