Detik-detik pun berlalu dengan cepat.

Matahari yang menyinari kota Edo pun berganti menjadi rembulan yang bewarna keemasan.

Hari yang telah ditunggu telah tiba

Hari dimana kami akan diadili…

Lampion Edo

Chapter 6

'Akhir Dari Segalanya'

Naruto©Masashi Kishimoto

"Cepatlah Sedikit..!"

Suara kesal yang keluar dari mulut pengawal itu membuatku sedikit risih. Didorongnya tubuh Naruto dengan cukup keras sehingga menimbulkan suara.

"…" Naruto terdiam..mulutnya sedikit terbuka…ia tampak ingin mengatakan sesuatu tapi seperti tidak ada keberanian untuk mengatakannya.

"Naruto…."

"Kau juga harus cepat, Hinata…"

Suara Neji yang menegurku membuatku segera tersadar dari lamunanku. Aku mengangguk pelan…sambil mencuri pandang pada Naruto.

Seharian kau tidak mengajakku berbicara…

Tidak menghiraukanku….

Apa salahku, Naruto?

Ku pejamkan kedua mataku…aku ingin mengingat semuanya…awal dari pertemuan kami…awal…dan kini adalah waktu akhir yang akan memisahkan kami….

Kekecewaan Hinata membakar hatinya. Kecewa pada sang waktu, kecewa pada takdir yang akan memisahkan kami, kecewa pada dirinya sendiri karena tidak sempat mengatakan perasaannya….

Waktu pun terus berjalan. Langkah mereka yang pelan tapi sampai kini telah sampai pada tujuan akhir…

Pengadilan.

Semuanya pun terdiam…menatap tempat itu dengan seksama…

"Tataplah 'langit' untuk terakhir kalinya, Naruto…kau mungkin tidak akan bisa melihatnya…." Pesan Neji dengan serius. Yang disambut anggukan sang penjawab.

"Aku tahu…"

Naruto menatap langit malam yang gelap itu dengan tersenyum kecil. Entah apa yang dipikirkannya…

Krrriiieeettttttt…..!

Pintu gerbang yang terbuka lebar membuat diriku menjadi tegang.. kami semua melangkah masuk kedalamnya…

-000000000000000000000-

Sasuke kini mempersiapkan semuanya, baju ninja telah dipasang…wajahnya yang tertimpa cahaya bulan membuat Suigetsu terkagum-kagum..

"Luar biasa, tuan…tuan tampak gagah memakainya…!"

"Jadi selama aku tidak pakai baju beginian aku tidak gagah?"Tanya Sasuke balik bertanya.

"Ah…maafkan aku…aku tidak bermaksud…"

"Tidak masalah…ayo kita pergi….selisih satu detik bisa menjadi berarti menang atau kalah…" Sahutnya sambil meninggalkan Suigetsu yang terbengong-bengong.

"..!"Kata Suigetsu akhirnya sambil mengejar tuannya dengan langkah yang cepat.

-00000000000000000000000-

"Naruto Uzumaki…dari klan Uzumaki…telah melakukan tindak kejahatan yang berupa pencurian terhadap para saudagar kaya…."

Semua hadirin yang ada di tempat itu menatap Naruto dengan tajam. Hinata menengok sesaat ke ayahnya Naruto, Minato

Wajah beliau tampak menggelap. Pengadilan di ruang terbuka. Wajahnya sedikit tertimpa cahaya bulan yang benderang dimalam hari. Namun Hinata merasa sorot kesedihan dari mata Ayah Naruto itu.

"Dan Hinata Hyuuga…dari klan Hyuuga telah melakukan tindakan yang berupa perlindungan terhadap pencuri….."lanjut Gaara dengan wajah datar. Semua hadirin pun balik menatap Hinata.

"Kesalahan yang mereka perbuat di tambah oleh penghinaan terhadap kinerja raja….nahh…..Minato Namikaze tolong beri keputusan…."

"Hukuman Mati untuk Naruto Uzumaki"kata Minato dengan dingin"dan hukuman pengasingan untuk Hinata Hyuuga.

Bagaikan tombak panjang yang menusuk Hinata, dadanya terasa sakit mendengarnya.

"Keputusan macam apa itu? Sangat kejam… ! padahal anaknya sendiri…"

"Bagaimana keputusan Juri?" Tanya Gaara lagi sambil menatap kelompok yang dipanggilnya.

"Kami setuju dengan keputusan Minato Namikaze-san…hukuman mati dan hukuman pengasingan..yah..hukuman yang cocok untuk kesalahan yang dilakukan mereka berdua…"

Hinata kini mulai pucat…ditatapnya Naruto yang menatap kearah lurus dengan tenang…

"Naruto? Bagaimana ini…? Temanmu tidak akan sem.."

"Jangan khawatir…aku percaya padanya…"jawabnya dengan berbisik pelan.

"Bukan saatnya untuk bersantai…ini masalah gawat aku tidak yakin…"

"Percayalah padanya…aku percaya padanya lebih dari siapapun….."Katanya lagi sambil tersenyum kearah Hinata. Senyum yang lembut tapi tersirat kesedihan yang mendalam..

Hinata terdiam seribu bahasa. Merenungi segalanya dan berharap ini semua hanyalah bohong…

Ia mempercayai temannya lebih dari diriku…

Rupanya memang…

Keberadaanku dihatinya hanyalah sepercik Api…

"Baiklah…jadi sudah diputuskan…keputusannya adalah…"

"Tunggu dulu..!"

Teriakan Hinata membuat Gaara menghentikan kata-katanya dipandanginya gadis Hyuuga dengan menyeritkan dahi. Tidak mengerti…

"Lebih baik dia saja yang mendapat pengasingan…!biarkan aku…"

"Apa yang kau bicarakan, Hinata..?" Potong Naruto dengan suara meninggi."Kau sudah gila ya?"

Hinata terdiam lagi…langkahnya mendekati Naruto dan menubruknya…

"..!Hi. hinata?"

"…."

Hinata terdiam….bulir-bulir air mata menetes dari kedua matanya. Wajah yang hangat namun penuh kesedihan menatap Naruto dengan pedih..

"Lebih baik aku mati…daripada aku hidup dan menanggung semua perasaan ini…."Ucap Hinata dengan lirih. Yang membuat Naruto terkejut.

"Apa maksudmu.."

"APA SELAMA INI KAU TIDAK MENYADARINYA..?APA KAU TIDAK MERASAKAN APAPUN…?"Teriak Hinata dengan derai air mata."Aku…"

"….."

"Aku menyukaimu, Naruto..!"

Keheningan tercipta….Naruto semakin bingung, menatap gadis itu dengan heran….

"Aku…"

"APA KAU MASIH TIDAK MENGERTI JUGA..? SEMUANYA TELAH KUKORBANKAN DEMI DIRIMU…..!TAPI KENAPA…KENAPA…!"

Gyuut.

Tangan yang dingin itu menarik Hinata menjauh dari Naruto. Ekspresi yang tak dapat ditebak dari Neji makin membuat hadirin tegang.

"Tenanglah…Hinata….."Ucapnya pelan sambil membetulkan posisi duduk Hinata. "Nah…Naruto…katakan jawabannya…."

Wajah Naruto menjadi tenang..mata biru sapphire itu agak menggelap…

"Naruto?"

"…Maaf Hinata…"

"!"

"Aku masih belum tahu perasaanku yang sebenarnya….tak kusangka kau akan mengatakan hal seperti itu…aku benar-benar terkejut..hahaha…"Katanya sambil tertawa garing pada Hinata.

"Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat…aku tidak pernah menganggapmu sebagai.."

JLEEEB…..!

Panah kayu itu menembus dada Hinata sebelah kanan. Darahnya memercik kemana-mana….teriakan para hadirin mulai bermunculan setelah bom asap muncul.

Mata Naruto terbelalak melihatnya. Dengan sekuat tenaga ia melepas kedua ikatan yang mengikat tangannya dan menghampiri Hinata.

"Hinata?Hinata..!bertahanlah…aku akan membawamu ketabib…! Kata Naruto yang disambut oleh tawa melengking dari Sasuke.

"Ck..!jadi kau yang menyebabkan semua ini…..!" bentak Naruto dengan marah pada pemuda uchiha itu. "Ini tidak seperti perjanjian awal..!"

"Huh?aku lupa…"katanya singkat" tapi hal ini membuktikan kalau kamu menyimpan perasaan padanya kan? Sebaiknya kau jujur padanya….."

"Bodoh! Jadi kau memanahnya hanya untuk pembuktian konyol begitu?dasar iblis..! kau bilang kau akan menyelamatkan kami dan tidak akan membuat Hinata…."

"Berhenti….jangan bicara lagi…pergilah menuju gerbang Edo bagian barat bersama Hinata….tabib handal akan mengobatinya segera…."Kata Sasuke sambil meninggalkan sebilah pedang bergagang hitam itu. Menghilang bersamaan dengan kabut yang menyelimuti mereka berdua.

"…"

Naruto terdiam…ditatapnya Hinata yang pandangannya mulai meredup…perasaanya jadi tercampur aduk.

" Sasuke ingin seperti ini…ingin…melihat…sebe..rapa besar cintamu padaku…sebe…rapa..kau..bisa bertahan….ia..ingin..menjukan…..!"Kata Hinata yang dipotong oleh batuk darahnya.

"Ia hanya ingin…menunjukan..pada..kita..bahwa…"

"Dunia ini..tidak hanya dipenu..hi oleh…kebahagia..an..yang kita..ingin..kan…."

Kata Hinata sambil menutup kedua matanya…nafasnya yang semakin melemah membuat pikiran Naruto makin panik. Dengan cepat di gendongnya tubuh Hinata…mengambil sebilah pedang yang ditinggalkan oleh Sasuke tadi dan menerobos penjagaan.

"UWOOO! SASSUKEEE…!"

Sasuke memasang kembali jubahnya tersenyum kearah Suigetsu lalu mengalihkan pandangannya kelangit-langit.

"Tuan gila..! masa' Hinata sampai di begituin..? keterlaluan..! tuan membunuhnya.."seru Suigetsu dengan kesal. Sasuke hanya tersenyum…

"Tekad bisa merubah segalanya…."

"…" Suigetsu terdiam bingung akan ucapan tuannya.

"Ayo pergi….mereka akan menunggu kita disana…"

Suigetsu terdiam kembalinya. Tanpa banyak bicara ia mengikuti tuannya menuju gerbang barat…menunggu kedua orang itu….

Pengadilan kini berubah menjadi padang darah. Naruto mengerang kesakitan saat sebilah pedang dari pengawal menusuk perutnya.

"Sialan..!minggir…!"teriaknya sambil menendang pengawal itu. Dicabutnya pedang yang menancap ditubuhnya dan menatap kondisi Hinata yang sudah sekarat itu.

Mata Naruto menjadi redup. Luka sabetan pedang telah banyak diterimanya…dirinya seakan mandi darah….ia pun terduduk lemas…kehabisan tenaga…

Direbahkannya tubuh Hinata diatas tanah lapang itu sambil menghirup udara malam seorang diri…

Cinta adalah pertemuan dan perpisahan.

Mimpiku yang tak'akan pernah tersampai karena hatiku yang lemah

Waktu pun berlalu dan terus berputar…

Ingin rasanya ku memutar waktu

Tapi semuanya adalah hal mustahil

Lampion edo yang masih bersinar pun akhirnya meredup…

meredup dalam keabadian kami….

The End

Hai~~akhirnya selesai juga~~~*nyeka aer mata*

Gimana? Gaje ya?ato malah garing?

Maaf~~

Review…?