Chapter 2 : I Don't Know… Jealous?

.

.

.

Kibum POV*

Aku kembali melangkahkan kakiku mantap, meski terkadang otot kakiku membeku karena tusukan udara dingin yang sempat menyiutkan nyaliku untuk terus berlari menelusuri Peachtree seorang diri. Sarung tangan yang membungkus jemari tanganku lumayan memberi kehangatan meski anggota tubuhku yang lain nyaris mati rasa karena sengatan dingin yang menusuk hingga tulang sendiku. Huhh… uap dingin kembali berhembus keluar dari mulut dan hidungku. Benar-benar dingin pagi ini. Harusnya tadi aku meminjam jaket tebal milik suamiku, tapi niat itu aku urungkan karena hari ini aku sedikit ingin menjauhi Siwon sampai perasaanku kembali membaik. Ucapan Sungmin terus menari-nari menghiasi otakku, dan ucapannya yang mengalun indah itu seolah merangsang otakku untuk membayangkan suami tercintaku sedang bersetubuh dengan wanita lain. Dasar Lee Sungmin tukang kompor, tapi bagaimanapun juga ucapannya sedikit banyak ada benarnya.

Dan sekarang lihat akibat perbuatan sang koki cantik itu, aku terjembab di permukaan tanah yang sedikit basah karena menabrak pohon ek yang berjajar rapi menghiasi sepanjang Peachtree. Ah, lihat sekarang aku terlihat seperti wanita bodoh yang memiliki pikiran picik mengenai suaminya. Kalian boleh mengatakan jika aku seorang wanita posesif dan sensitive. Aku tidak peduli ucapan kalian, yang aku pedulikan saat ini adalah memar yang menghiasi dahiku. Pasti saat aku sampai rumah, dahiku sudah berwarna keunguan.

"Sakit kah?" sebuah suara bass mengalun lembut mengusik indera pendengaranku. Saat kepalaku mencari asal suara, aku mendapati Siwon sedang menatapku dengan raut wajah khawatirnya.

"Kenapa kamu ada di sini?" gumamku pelan di sela pelukan hangatnya yang menjalar di seluruh tubuhku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang memainkan rambut tergeraiku. Ia melonggarkan pelukannya dan mencengkeram erat lengan tanganku.

"Kenapa? Kenapa kamu akhir-akhir ini menjauhiku?" tanyanya sembari melempar senyum yang membuatku merasa bersalah. Bersalah karena berpikiran buruk mengenai dirinya tanpa ada bukti konkrit.

"Tidak. Aku tidak menjauhimu"

"Benarkah? Maaf jika aku tidak bisa menemanimu berlari seperti dulu. Tapi aku janji, di musim semi nanti kita akan pergi ke Amerika untuk menikmati festival musim semi di sana"

"Tidak perlu. Aku tau kamu sibuk"

"Tidak. Aku sudah memasukkannya dalam jadwalku, Kibummie. Apa ini sakit?" jari telunjuknya bergerak pelan menyentuh luka memar yang sudah terlihat jelas menghiasi dahiku. Aku menahan rintihanku saat permukaan jarinya mengusap pelan memar itu dengan gel.

Rasa bersalah terus menyeruak ketika menatap wajah khawatirnya saat mengobati lukaku. Aku salah, seharusnya aku percaya dengan Siwon. Tanganku bergerak menyusuri permukaan jaket yang dikenakannya, memainkan ujung jaketnya sembari menggigit kecil bibirku yang bergetar. Ibu jarinya meraih daguku, 3 detik kemudian aku merasakan kehangatan di bibirku. Aku sedikit berjinjit untuk mencari kenyamanan di sela cumbuan di pagi buta, bibirku terus terhisap dalam sapuan hangat lidahnya yang begitu memanjakan kerinduanku akan sosok romantis yang sudah 5 tahun aku nikahi.

Kibum POV END*

Siwon mengangkat tubuh Kibum hingga terduduk di meja makan yang terbuat dari marmer putih tanpa melepaskan tautan bibir mereka yang terus memanjakan hasratnya. Tangan Siwon melingkar erat di pinggang ramping istrinya, menariknya ke dalam dekapan hangatnya. Bunyi kecipak ciuman panas mereka menggema di ruang makan tanpa menyadari sepasang manik sedang mengamati aktifitas sepasang orang dewasa di depannya.

"Eomma..Appa.." lirihnya dari balik dinding yang membatasi antara ruang makan dan ruang tamu. Kibum langsung mendorong Siwon hingga terantuk lemari es yang tepat berada di belakangnya. Kibum langsung turun dari meja makan dan mengusap saliva yang tercecer di sudut bibirnya. Siwon mengusap punggungnya yang membentur benda mati dan merengut kesal menatap bocah kecil yang memberikan tatapan polosnya.

"Minho, sudah bangun?" tanya Kibum lembut sambil berjongkok di hadapan anaknya, kedua tangannya menangkup pipi Minho yang berisi.

"Eomma dan appa sedang apa?" pertanyaan Minho sukses membuat nafasnya tercekat. Tidak mungkin kan anak seusia Minho mengetahui jika kedua orang dewasa yang menghuni rumahnya sedang bercumbu panas. Belum saatnya anak seusia Minho mengetahui ini.

"Choi Minho, ayo kita mandi. Appa akan menjelaskan rahasia laki-laki padamu"

"Benar kah?" Mata Minho langsung berbinar menatap penuh harap pada Siwon. Kaki-kaki mungilnya berjalan pelan menyusuri lantai yang beralaskan karpet. Tubuh mungilnya merengkuh kaki ayahnya.

Siwon mengerlingkan matanya pada Kibum yang memberikan tatapan keheranan. Kemudian ia berjongkok dan menggendong anaknya berjalan menuju kamar mandi. Terdengar gelak tawa Minho mengalahkan suara shower. Sesekali Minho menjerit histeris hingga membuat Kibum yang sedang berdiri di balik meja dapur harus berlari pontang-panting menghampiri asal suara.

Kibum menatap kedua adam yang duduk menghadapnya. Mereka terus tertawa sendiri tanpa mengacuhkan keberadaannya.

"Kalian menertawakan apa?"

"Tidak eomma" sahutnya singkat, tapi manik matanya menunjukkan ada sesuatu yang disembunyikan.

"Arraseo. Kalian lanjutkan saja, eommamu yang cantik ini akan mencari appa baru ne?" Kibum memasang wajah kesal dan menggeser kursi kayu yang sedang didudukinya hingga terdengar gesekan yang cukup nyaring di telinga, kedua tangan mungilnya memegang erat pinggiran piringnya menuju bak cuci. Terkadang ia harus mengelus dada karena kedekatan Siwon dan Minho yang kelewat intens. Sebagai wanita yang melahirkan Minho, tentu Kibum merasa iri dan ingin merasakan kedekatan yang sama.

Terdengar derap langkah kaki tegas mendekati tempatnya berdiri, pikirannya sudah bisa menerka jika Siwon sedang berjalan ke arahnya.

Cupppp

Permukaan pipinya langsung menghangat setelah bersentuhan dengan bibir tipis milik suaminya. Kibum memutar tubuhnya dan langsung disambut dekapan erat Siwon seolah enggan melepaskan mangsa yang sudah ada dalam genggamannya. Indera pendengarannya menangkap suara renyah anaknya yang sedang berusaha menutupi tawanya dengan punggung tangannya. Kibum langsung memicingkan sebelah matanya lalu mendorong sejauh mungkin tubuh suaminya. Dilempar celemek yang menempel di tubuhnya ke sembarang arah dan menulikan telinganya dari gelayut manja Siwon yang mengekor ke manapun langkah kakinya bergerak.

"Minho, pasang earphone" teriak Siwon dari tangga rumahnya sebelum menyusul Kibum yang sudah masuk ke ruang pribadi mereka.

"Arraseo appa" Dan sesuai titah appanya, Minho bergegas masuk ke kamarnya dan meraih earphone yang tergeletak di meja belajarnya, kemudian manyambungkan ke iPad pemberian neneknya.

.

.

.

Dengan rambut ekor kuda yang terus bergerak mengikuti goyangan kepalanya, yeoja cantik dengan senyum mengembang sedang meletakkan beberapa piring berisi cake pesanan dari pengunjung. Tangannya merogoh kantung yang menghiasi celemeknya, mengamati daftar pesanan yang terukir dengan tinta hitam pada note yang ada dalam tangannya. sebelah tangannya menyentak bel mungil yang ada di ujung meja.

"Tiramisu, Fruit Cheese Cake, and Americano 2"

"Tiramisu, Fruit Cheese Cake, and Americano 2. Arraseo" sahut suara jernih Ryeowook yang berdiri di balik meja saji.

Kibum duduk menatap sepiring sandwich yang sengaja dibuat Sungmin selagi jam istirahatnya. Ryeowook datang menghampirinya dan menarik kursi kosong tepat di sampingnya, tangan kurusnya menarik piring sandwich di hadapan Kibum dan menjumputnya dengan sedikit bantuan garpu dan pisau. Terdengar kunyahan selada hijau yang masih segar serta tomat yang berbaur dengan gigi putihnya, Kibum menoleh dan melihat sahabatnya masih asyik mengunyah.

"Kamu pernah merasa cemburu dengan suamimu Wookie?" sela Kibum pada wanita dengan potongan rambut hitam sepunggung. Ryeowook meletakkan sandwich yang hendak menyapa mulutnya, tangannya diusapkan pada celemek yang masih dikenakannya. Lalu ia membalas tatapan penuh harap Kibum yang sedang meminta jawaban. Meski Kibum terlebih dahulu menikah darinya tapi rasa cemburu Ryeowook tidak sebesar Kibum. Suami Ryeowook, Kim Jong Woon atau biasa disapa Yesung bisa dipastikan tipe suami setia karena sudah saling mengenal sejak bangku sekolah dasar, lagipula keduanya selalu berada dalam satu sekolah dan jurusan yang sama.

Ryeowook tersenyum singkat dan mengusap bahu Kibum pelan,"Tentu aku sering cemburu dengan Yesung , Kibummie. Tapi aku tidak mau egois, hanya mengedepankan egoku, aku sudah lama mengenal suamiku, aku tau bagaimana pekerjaannya yang menuntut untuk bertegur sapa dengan wanita cantik di luar sana. Aku bisa saja egois menyuruh suamiku berhenti bekerja dan duduk santai di rumah, keluargaku masih bisa membiayaiku. Untuk apa menikah jika kita tidak bisa saling percaya, bukankah itu komitmen dasar dalam membina hubungan pada jenjang yang lebih serius?" Wanita itu menepuk punggung sahabatnya pelan mencoba mencari perhatiannya.

"Aku tau. Entah kenapa bayangan affair Siwon dengan eksekutif muda akhir-akhir ini berkeliaran hebat di pikiranku" Kibum tersenyum getir, memang perasaannya selalu kalut tapi tidak pernah sekalut ini.

"Sungmin unnie yang menceritakannya padamu?" tanyanya pelan namun langsung dibalas dengan pandangan heran Kibum. Bagaimana ia bisa tau. Apa Sungmin juga menceritakan hal sama Ryeowook?

"Sungmin unnie memang sedang mengalami masa pemantapan hati, Kibummie" sahut Ryeowook cepat untuk menjawab raut wajah sahabatnya yang sudah menuntut pernyataan darinya.

"Aku tidak paham"

"Sungmin unnie bimbang apakah sang pengacara tampan serius meminangnya yang memiliki perbedaan usia 2 tahun lebih tua. Terlebih profesinya yang tidak sepadan dengan lingkungan Cho Kyuhyun"

"Menikah? Kenapa dia tidak memberitahuku?"

"Aku juga tidak tau. Tapi aku beberapa hari yang lalu bertemu Kyuhyun sedang melamun di food court salah satu mall. Ternyata Kyuhyun sudah sejak lama menunggu jawaban Sungmin unnie, tapi belum mendapat respon. Terlebih, Kyuhyun akan bergabung dengan temannya dalam menangani klien penting di kota"

"Begitu ya"

"Aku tau suamimu mencintaimu. Aku bahkan iri denganmu, Kibummie"

"Sudah, lama-lama aku akan mengajak Nari kemari untuk memarahi pekerjaku yang suka bergosip" tegur Shindong dari balik meja kasir. Keduanya sepakat menoleh ke arah bosnya yang sedang menepuk pipi chubbynya.

Mereka lalu beranjak dari meja dan memilih menyibukkan diri daripada mendapat sindiran dari Shindong.

"Percaya pada suamimu Kibummie. Aku akan menjadi orang pertama yang memukulnya jika dia menyakitimu" bisik Shindong pelan saat Kibum berjalan di depan kasir. Kibum memandangnya sejenak dan mengangguk pelan.

.

.

.

Selagi menyetir menyusuri gang di belakang rumahnya, Kibum menyadari bahwa suasana lingkungan rumahnya sudah sepi. Tidak ada apapun yang bergerak di luar sini kecuali angin, sedikit hembusan angin yang menggugurkan bulir salju yang menutupi pepohonan, tidak ada mobil yang lewat, tidak ada anjing yang menyalak, dan tidak ada Siwon di samping kursi kemudinya. Segera, setelah membaringkan Minho di ranjangnya, Kibum beranjak memasuki kamarnya. Tetapi setelah ia membuka pintu, Kibum disambut dengan selusin mawar yang mengisi vas yang terletak di atas meja riasnya dengan ditempeli sebuah pesan bertuliskan : "Choi Kibum, bagaimanapun juga aku mencintaimu". Hati Kibum berdesir usai membaca pesan tersebut. Siwon sungguh sosok yang perhatian meski ia tengah sibuk bekerja. Kibum kembali mengingat berapa banyak pemberian Siwon selama ini. Semua barang yang menempel pada tubuhnya murni hasil perasan keringat suaminya, bukan berasal dari kekayaan keluarganya. Semua pemberian Siwon tanpa memperdulikan harga, seolah ia ingin menebus kesalahannya yang selalu tidak bisa menemaninya mengasuh anak semata wayang mereka, sekedar menjemput saja tidak bisa. Pada awal pernikahan mereka saja, Siwon ingin menebus seluruh waktu yang hilang karena kondisi keuangannya yang tidak tentu, ia tidak bisa memberi lebih banyak daripada pesan cinta atau bunga dari toko. Kibum masih ingat benar bagaimana raut wajah bahagia suaminya ketika mendapatkan promosi jabatan menjadi seorang manager di perusahaannya setelah lama mengalami waktu yang sulit. Tidak lama setelahnya, Siwon langsung membelikan hadiah mahal pertamanya, sepasang anting safir biru. Awalnya Kibum menolak karena sesungguhnya dirinya bukan tipe wanita yang suka dengan kemewahan.

Kibum menengok ke ranjangnya yang masih kosong,sepreinya tak tersentuh sedikitpun sejak pagi setelah sedikit membereskannya dari ulah nakal suaminya. Tangannya meraih baju jogging yang terselip diantara deretan baju yang memenuhi lemarinya, tak lupa jaket tebal selutut serta sarung tangan untuk membungkus tubuh mungilnya yang rentan terkena tusukan dinginnya salju. Kibum merasa sedikit gejolak untuk berlari di malam hari menyusuri Peachtree Street seorang diri. Kakinya saling menghentak di trotoar kosong. Dari kejauhan nampak sorotan lampu-lampu putih yang memancar menembus kegelapan serta guguran bulir salju yang turun. Kibum semakin cepat menyusuri jalanan setapak dengan kedua kaki melangkah mantap. Telapak kaki menapak di bumi bagai hentakan drum cepat. Ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan Minho seorang diri di rumah –meski sudah dikunci maupun terpasang CCTV-

Kibum menghela nafas lega saat melihat sepasang sepatu milik suaminya sudah mengisi deretan rak sepatu bagian atas. Perlahan air hangat mulai membalut tubuh kakunya, mencoba merileks-kan segala pikiran yang selalu menggelayuti benaknya. Kibum kembali menatap pantulan wajahnya dari balik cermin yang menghiasi meja riasnya sebelum menyusul Siwon yang sudah terlelap di balik selimut tebal. Kibum merangkak menyusup ke dalam selimut dan merebahkan tubuhnya dengan posisi berlawanan arah – memunggungi suaminya- setelah beberapa tarikan nafas, matanya mulai mengatup karena lelah.

Cupppp

Kibum yang masih berada dalam posisinya tidak berniat untuk menggerakkan tubuhnya saat pipinya mendapatkan kecupan singkat dari Siwon. Tangan kekarnya dengan leluasa bergerak bebas menyusuri pinggangnya dan akhirnya melingkari sekitar perutnya untuk menarik semakin erat dalam rengkuhan posesifnya. Kibum masih diam dan tidak membuka pelupuk matanya sedikitpun. Hingga akhirnya Siwon menggigit kecil cuping telinganya berkali-kali. Ia mencoba menggeliat pelan tapi rengkuhan Siwon terasa semakin kencang.

"Hmmhh" Kibum membalikkan badannya hingga saling berhadapan dengan suaminya yang menatapnya lembut.

"Kibummie" panggilnya pelan karena istrinya tidak menampakkan mata cantiknya.

"Ne" jawabnya singkat tanpa menggubris belaian lembut yang menyapa pipinya.

"Maaf karena aku tidak selalu berada di sampingmu untuk mengawasi tumbuh kembang Minho" Siwon menghentikan usapan tangannya dan menariknya pelan. Kibum membuka kelopak matanya perlahan, mata jernihnya menangkap raut sedih Siwon.

"Aku akan mengatur waktu agar kamu bisa menemani Minho bermain. Setidaknya Minho memiliki kenangan jika ayahnya pernah bersamanya saat kecil"

"Karena ini kah kamu menjauhiku?"

"Tidak"

"Terimakasih karena selalu berada di sisiku. I love You" Siwon menarik kepala Kibum ke dalam dadanya, tangannya mengusap pucuk kepala istrinya selembut mungkin, menikmati setiap hembusan nafas yang menggelitik permukaan kulitnya sebelum terlelap dalam mimpi indah.

"I love you too, Choi Siwon" gumam Kibum sebelum benar-benar terlelap.

.

.

.

Ada 4 orang yang duduk mengisi kursi kosong, semuanya terlibat aksi diam. Tidak ada yang berniat untuk membuka percakapan terlebih dulu. Seorang wanita dengan sweeter putih akhirnya angkat bicara karena jenuh.

"Kalian menahanku untuk tetap berada di café hanya untuk berdiam diri seperti ini?"

"Tidak. Kami ingin membicarakan mengenai hubunganmu dengan pengacara itu" sahut pria bertubuh subur sambil memainkan layar smartphonenya.

"Namanya Cho Kyuhyun, Shindongie" interupsi Ryeowook karena ini bukan pertama kalinya sang sahabat sekaligus bosnya malas menyebut nama kekasih Sungmin.

"Yeah, dia"

"Memangnya apa?" jawab Sungmin berusaha menutupi kegugupannya.

"Kenapa kamu belum menjawab Kyuhyun, Sungmin-ah?" tegas Kibum yang sudah tidak sabar. Ia juga ikut berbahagia jika sahabatnya mengikuti jejaknya. Dari keempat sahabat ini, hanya Sungmin yang belum meresmikan hubungan dengan kekasihnya.

"Berikan aku waktu untuk berpikir. Ini berhubungan dengan masa depanku" sela Sungmin sebelum sahabatnya menginterupsinya lagi dan memberondongnya dengan pertanyaan yang sudah bisa ia tebak.

.

.

.

Kibum meletakkan poci teh di kompor dan menunggu peluitnya berbunyi sebelum duduk di meja untuk meminum secangkir teh ginseng yang mengepul dalam lingkaran erat kedua tangannya. Hidungnya mengendus bau yang menguar bersama kepulan asap tipis yang berasal dari cangkir. Hangat. Begitulah yang dirasakannya. Di sela hawa dingin yang menusuk, ia senang bisa menikmati teh ginseng pemberian pengasuh Park. Matanya memandang sendu kursi kosong yang berada di seberang meja, biasanya kursi itu akan diisi oleh seorang pria tampan yang selalu tersenyum memandangnya dan melantunkan nada cinta.

Kibum meraih mawar pemberian suaminya tempo hari yang dipajang di atas perapian dan menumpuk beberapa batang kayu pada kobaran api yang sudah meredup. Terdengar suara khas mesin mobil suaminya memasuki halaman rumah mereka, Kibum berjalan menuju jendela dan mengintip keluar -yah, meski embun beku tipis menyelubungi sebagian jendela dan tumpukan salju yang teronggok di sudut jendela luar- matanya masih bisa dengan jelas melihat sosok suaminya sedang sibuk di balik kemudi. Dirinya tau jika Siwon mencintainya bagaimanapun juga tanpa memerdulikan pekerjaannya, begitu juga sebaliknya. Kegelisahan masih mendera batinnya, Kibum memutuskan untuk tidak bertatap muka dengan suaminya malam ini – lebih tepatnya akhir-akhir ini-

Siwon meletakkan sepatunya di rak paling atas kemudian memasukkan mantelnya ke lemari penyimpanan. Tangannya memijat bahunya yang terasa nyeri setelah seharian berkutat dengan berkas yang menumpuk di meja kerjanya, belum lagi ia harus mewakili perusahaannya memimpin tender proyek. Badannya seketika menghangat ketika memasuki ruang TV dekat dengan perapian. Ia tersenyum singkat dan melenggang mendekati salah satu sudut ruangan untuk sekedar mematikan nyala lampu ruang TV.

Perlahan ia menaikkan tubuhnya ke atas ranjang seolah takut membangunkan singa dari tidurnya. Siwon menyapu permukaan pipi mulus istrinya dengan setangkai mawar yang ia temukan tergeletak di bantalan sofa. Kibum merasa tergelitik dan akhirnya menyerah. Ia membuka matanya dan langsung disambut kecupan singkat di bibirnya. Kibum mendorong pelan tubuh suaminya dan berjalan menghampiri lemari untuk mengambil sepotong baju musim dingin untuk mengganti pakaian kerja suaminya. Tangannya melepas satu per satu benda yang menempel pada tubuh tinggi suaminya. Dasi, kemeja, sabuk, dan celana diganti dengan celana panjang berwarna hitam dan baju hangat yang menutup leher yang dibelinya sebagai hadiah natal tahun lalu.

Keduanya masih sibuk saling memandang dalam diam, tidak ada sepatah katapun yang terucap. Hanya nafas yang saling menyapa permukaan wajah mereka. Siwon tidak tahan lagi, ia benar-benar tidak kuat jika terus menatap mata cantik istrinya yang mengerjap pelan dan selalu sukses membuat jantungnya berdesir. Tangannya menarik selimut yang menyelimuti tubuh mereka dan menarik tubuh istrinya agar semakin erat tenggelam dalam dekapan hangatnya, agar istrinya tau bagaimana jantungnya melompat tak karuan setiap kali indera penglihatannya mendapati makhluk cantik berada di depan matanya.

Saat fajar, musim dingin yang kelabu yang menyusup masuk ke dalam kamar tidur melalui sepasang jendela Perancis, memendarkan bayang-bayang yang bergerak di dinding. Aroma mawar menyeruak, tubuhnya menggeliat pelan, tangan mungilnya yang menyelusup masuk di balik bantal merasakan ada beberapa helaian mawar tercecer di sekitar bantalnya. Seketika ia terbangun dan memeriksa weker yang menghiasi mejanya. Matanya terbelalak kaget. Kibum absen menjalani kegiatan paginya, jogging. Begitu terbuaikah dirinya dengan sentuhan hangat suaminya hingga bisa terlelap dalam tidurnya. Ia menengok ke arah suara gemericik yang berasal dari balik pintu putih, suara siulan bersahutan dengan suara berisik shower. Kibum tersenyum tipis.

Matanya mencoba membaca perlahan setiap kata yang terangkai di layar smartphone suaminya. Dari nomor tidak dikenal. Kibum masih berkutat dengan pesan yang masuk ketika Siwon masih berada dalam kamar mandi. Tangannya menarik laci mejanya dan menggoreskan tinta hitam di atas sebuah kertas putih. Saat pintu putih itu terbuka, saat itu pula benda mungil yang ada di genggamannya sudah kembali ke tempat semula. Siwon menyunggingkan senyum melihat istrinya sudah terduduk di atas ranjang dengan bergulung selimut, aih sungguh seperti melihat bidadari. Kibum beringsut mundur ketika Siwon mencondongkan tubuhnya, hendak menciumnya.

"Aku mau membangunkan Minho" sela Kibum sebelum suaminya protes.

Siwon tersenyum dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Tangannya menepuk permukaan bantal yang tertutup oleh helaian mawar,"Minho sudah aku antar ke rumah pengasuh Park". Kibum menatap suaminya tak percaya.

"Kapan? Kenapa kamu bertindak sesuka hatimu?"

"Pagi-pagi sekali. Aku hanya ingin menghabiskan hariku denganmu tanpa gangguan bocah nakal itu" telunjuknya menekan hidung istrinya yang sudah memerah.

"Kamu tidak kerja? Bukankah hari ini ada rapat?"

"Kenapa kamu cerewet sekali? Kamu selalu menggerutu jika aku tidak di sampingmu"

Tanpa peringatan, Siwon menarik tubuh Kibum dan langsung menindihnya. Kemudian memberinya ciuman bertubi-tubi tanpa mendapatkan sedikitpun perlawanan. Setidaknya ada hari dimana keduanya bisa menghabiskan waktu untuk menjalani kehidupan layaknya pasangan normal lainnya, hari dimana mereka bisa mencurahkan perasaan mereka. Kehidupan akan terus berputar layaknya roda waktu.

_TBC_

*author nangis guling-guling* maafkan author jika cerita di chapter ini sedikit aneh dan tidak ada greget. Kalian tau, author sedang fokus mencari ide untuk chapter depan. Sedikit sulit dan membingungkan. Semoga kalian menikmatinya. Dan sampai bertemu di minggu selanjutnya. Author tidak tahan untuk mempertemukan kalian dengan seseorang. Silahkan tebak. Clue?

Hemm… kalian bisa memilih bertemu dengan seorang wanita atau pria. Ya, memang ada 2 orang yang akan muncul di sini. Tapi hanya ada 1 orang yang muncul. Jika kalian mau mendengarkan author, lebih baik kalian memilih si pria. Uppsss,,,

So, tinggalkan jejak kalian di sini. Terima kasih untuk waktu kalian membaca FF ini. Ah, sepertinya author harus kembali berkutat dengan FF yang terbengkalai. Annyeong yorobeun….:)