.

.

.

Chapter 3 : Your Mask too Beautiful, Sweetheart

Seorang wanita cantik sibuk mengaduk kopi yang ada di depannya, bibirnya mengerucut menandakan kekesalan. Matanya terus beradu pandang dengan jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Makanan yang sengaja ia pesan sudah dingin, panasnya sudah memuai terbawa hawa dingin yang menyusup melalui celah jendela.

"Mianhae." lirihnya saat menghampiri wanita itu. Nafasnya tersengal-sengal seolah sedang menghirup udara terakhir di dunia. Wanita itu menghentikan adukannya pada cangkir kopi dan beralih menatap seorang wanita yang lebih muda darinya. Rona merah menjalari pipi chubby yang menarik matanya.

"Aigoo~~Kibummie." teriaknya tak memerdulikan tatapan pengunjung restoran Austria yang sudah melirik tajam ke arah meja mereka. Kedua tangannya memainkan pipi putih Kibum yang masih terdiam untuk menenangkan tabuhan jantungnya. Mulutnya ikut terbuka seolah membantu kinerja hidungnya dalam menghirup udara sebanyak mungkin.

"Jae unnie,, tenang sedikit. Kita bisa diusir dari sini." bisiknya lirih ketika keduanya sedang berpelukan erat untuk melepas kerinduan. Yeah, harusnya Kibum berpikir dua kali jika menemui sunbaenya di universitas ini. Sifat cuek Jaejoong lah yang membuat mereka menjadi sahabat dekat. Namun ucapannya tidak didengarkan oleh wanita yang masih bergumam tak jelas.

" Aku sudah menjadi member tetap di restoran ini, tenang saja. Mereka sudah tau sifatku," jawabnya enteng lalu mendorong tubuh mungil Kibum hingga terduduk di kursi kosong yang ada di seberang meja. Tangannya meraih poci bulat bening yang berisi kopi lalu menuangkan isinya pada mug bermotif sakura yang sengaja ia siapkan untuk hoobaenya.

" Gomawo unnie," ucap Kibum setelah wanita cantik yang duduk di seberang meja selesai mengaduk kopi yang sudah tercampur dengan 2 balok gula.

Tangannya meraih mug dan menyesap sedikit demi sedikit minumannya. Lumayan. Kehangatan mulai merayapi tubuh mulusnya yang bersembunyi di balik pakaian musim dinginnya.

Tidak ada percakapan serius diantara mereka selama menikmati jamuan makan siang yang bisa dibilang menguras tenaga Kibum. Hal ini dikarenakan Kibum harus menempuh jarak lumayan jauh dari tempatnya bekerja. Tentunya ia pasti akan mendapatkan omelan dari teman sesama waitress. Oh ayolah, Kibum meninggalkan café di saat jam makan siang, padahal jam makan siang merupakan surga dari tempatnya bekerja untuk mengeruk penghasilan.

Yah, beruntung teman-temannya memberikannya ijin karena ia jarang sekali menggunakan jam makan siang untuk keluar. Ada baiknya jika membawakan beberapa bungkus makanan pengganti makan siang untuk temannya.

" Jadi, apakah kamu tidak ingin menanyakan sesuatu kepadaku, Choi Kibum?" selanya ketika wanita yang berada di depannya meletakkan peralatan makannya. Kedua tangannya digunakan untuk menopang dagunya, menunggu sahutan. Kelereng matanya yang jernih menelusuri setiap inci tubuh hoobaenya semasa kuliah. Tidak ada yang berubah. Memang, sejak awal Jaejoong mengenal Kibum, wanita cantik itu selalu berpenampilan apa adanya. Bahkan ketika ia memiliki suami dengan harta melimpah, ia masih tetap saja memilih membantu di café milik sahabat di bangku kuliahnya.

Mendengar wanita berpakaian rapi itu mendaratkan pertanyaan yang cukup jitu, Kibum segera meraih gelas berisi air putih. Sedikit mencoba meredakan rasa kalut yang mulai berkecamuk di dadanya. Entah kenapa, rasa curiga terasa membuncah. " Apa benar Siwonnie sering keluar saat jam makan siang?"

" Ya, aku hanya mendengar dari beberapa staff di bagian pemasaran. Haihh, wajarlah suamimu yang tampan itu menjadi bahan gosip," serunya sambil mengibaskan tangan ramping di depan wajahnya.

" Aku sedikit curiga dengannya, Jae unnie," desis Kibum sambil tertunduk lesu. Beberapa helaian rambutnya bergerak menutupi wajahnya. Jaejoong berdecih. Ia paling tidak suka jika melihat Kibum yang sudah dianggap sebagai adiknya memasang tampang bermuram durja. Ia segera beranjak dari kursinya dan menepuk bahu Kibum pelan.

" Tenang, aku akan menjadi mata-mata untukmu. Kamu tidak menceritakanku pada Choi Siwon kan?" Kibum menggeleng lemah. Gelengan kepalanya disambut senyum terkembang di bibir tipis Jaejoong.

" Good job, Kibummie. Oh ya, aku sudah membayar bill-nya. Jangan lupa membawakan teman-temanmu makan siang. Annyeong…" Dengan menenteng mantel tebalnya, Jaejoong melenggang menjauhi mejanya dan menghilang di balik kerumunan pengunjung restoran.

.

.

.

Kibum POV*

Aku memasuki dapur makan setelah memeriksa bahwa Minho benar-benar terlelap dalam tidurnya. Aku hanya sekedar menghampirinya untuk membenarkan letak selimutnya serta memberikan kecupan ringan. Lelah… Mungkin itu menggambarkan kondisiku saat ini. Bukan fisikku tapi psikisku. Sudah lama aku berbagi pikiran dengan suamiku mengenai kegelisahan hatiku ketika isu affair itu terus berhembus di telingaku.

Setiap deburan rasa curiga membumbung tinggi, Siwon akan selalu bisa meredamnya dengan untaian kata bijaknya yang membuatku mengangguk patuh. Entah mantra apa yang digumamkan bibir jokernya. Aku seolah terhipnotis.

Sepertinya malam ini aku akan melewatkan kegiatan gilaku yang sering dilontarkan Nyonya Hwang yang tinggal di seberang jalan. Aku hanya bisa terkekeh setiap kali bertegur sapa dengan wanita tua yang sudah aku anggap seperti ibuku. Sapaan pertama yang diucapkannya adalah," Setiap malam aku selalu mendengar kuda melintasi rumahku."

Walaupun terkenal cerewet, Nyonya Hwang termasuk perhatian kepadaku. Acap kali aku disuruh untuk mengunjungi rumahnya. Sekedar menikmati secangkir teh. Aku pikir ajakannya cukup menarik. Sekarang setiap akhir pekan aku selalu menghabiskan waktu di rumahnya. Tentu saja Minho ikut. Anak itu sangat senang bermain di kebun belakang keluarga Hwang yang sangat luas. Siwon? Dia akan selalu sibuk sampai tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan liburan.

Sebagai catatan saja, Nyonya Hwang adalah janda tua. Mendiang suaminya meninggal sejak 10 tahun lalu. Aku tentu saja belum pindah ke rumah yang saat ini aku tempati. Dia memiliki darah Amerika – Korea, aku pikir dirinya lebih banyak mengaliri darah Amerikanya. Dia lebih suka dipanggil Nyonya Hwang, bukan Hwang halmeoni oleh orang lain. Tapi ia secara diam-diam menyuruh Minho memanggilnya dengan embel-embel halmeoni. Aku rasa ia mulai jatuh hati pada jagoanku.

Aku kembali mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan dapurku dengan nyala lampu sedikit meredup. Kedua tanganku menggeser mug berisi teh ginseng hingga menimbulkan suara gesekan pada meja kayu. Aku sibuk menginspeksi satu per satu benda yang berada di atas meja, hingga mataku bertubrukan dengan beberapa lembar surat yang selalu mengisi kotak pos.

Aku mendengar pintu depan terbuka lalu tertutup, dan aku langsung bangkit berdiri hendak menyambut kedatangan suamiku. Tapi, aku langsung menghentikan langkahku ketika melihat sosoknya yang berjalan tegas menaiki anak tangga tanpa menyerukan namaku. Aneh dan seperti bukan Choi Siwon yang kukenal. Meski begitu aku beranjak mengikutinya memasuki kamar tidur dan suatu gelombang kelegaan melandaku. Ia berbalik ketika menyadari keberadaanku yang mematung di ambang pintu. Ia tersenyum walau terlihat dipaksakan. Aku menghampirinya, menyambut uluran tangannya. Rasanya berbeda saat memeluknya dan membiarkan lengannya yang kuat mendekap tubuh mungilku dengan erat.

" Sarangheyo," bisiknya padaku sambil menuntunku menapaki anak tangga menuju dapur. Dengan kemeja yang sedikit berantakan, ia mendudukkanku di atas meja makan. Aku diam. Ekor mataku mengikuti gerakannya ketika meraih mug berisi teh milikku.

" Siwonnie?" tanyaku saat ia mulai menghindari tatapan mataku.

" Ne, Kibummie. Waeyo?" Tangannya meletakkan mug di atas meja dan langsung memelukku. Menenggelamkan kepalanya di dadaku seraya melayangkan ciumannya. Hidungnya seperti sedang menghisap kuat aroma tubuhku. Tangannya menjalar di punggungku, mengusapnya dengan penuh kelembutan. Tanpa terasa, dadaku menjadi sesak.

" Siwonnie… Aku tidak bisa bernafas jika kamu memelukku dengan cara seperti ini," protesku dengan wajah mulai memerah. Ia segera melonggarkan pelukannya dan meringis kecut.

Ia menatapku dalam-dalam dan berkata, " Mianhae. Aku hanya merindukan Kibum-ku," ucapannya telak. Aku tau dia sedang menyinggungku.

" Aku juga merindukanmu," cetusku sambil menahan gelombang emosi campuran antara rindu dan kekalutan. Toh akhirnya rasa rindu akan sentuhannya terasa sangat mendominasi.

" Apa kita akan pindah?" Ia terdiam sejenak, seperti sedang menahan keterkejutannya. Beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah. Aku meraih amplop berwarna cokelat besar dan mengulurkannya tepat di depan wajah tampannya.

Dengan sigap ia menerimanya dan mengecek isi amplop yang isinya beberapa lembar surat berisi iklan perumahan elit. Sedikit aneh memang, selama ini Siwon tidak pernah membicarakan rencana untuk pindah rumah. Dia juga tidak banyak mengeluh tentang kondisi rumah yang kami tempati saat ini.

" Seharusnya surat ini ditujukan ke kantorku," katanya sambil menenggak teh ginseng untuk terakhir kalinya. Dengan santai ia mengambil surat itu dan melemparkannya di dekatku. " Ini ada hubungannya dengan perusahaan."

" Oh…"

" Kamu tidak percaya padaku? Baca saja sendiri. Silahkan baca jika tidak percaya padaku." Seolah ia bisa membaca raut wajahku yang masih melukiskan gurat tanda tanya, kata-kata yang dilontarkannya sukses menampar wajahku. Tidak. Aku sebagai istri dari Choi Siwon tentu saja masih memiliki rasa percaya pada suamiku hanya saja, ini aneh. Aneh. Dan aneh. Aku tidak bisa menjelaskannya. Sepertinya aku harus mengunjungi psikiater hahh ~~

" Aku percaya padamu, Siwonnie." Aku menyela ucapannya sebelum ia kembali meluncurkan kata-kata yang menyinggungku. Akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan sikapnya. Terkadang ia bersikap seperti seorang pencemburu, dan terkadang bersikap romantis dengan memberikan sebuket mawar. Aku sering menemukannya sedang mengendap ke toilet hanya untuk sekedar menerima telepon di tengah malam. Biasanya Siwon akan mengangkat telepon masuk di depanku, entah itu dari teman ataupun relasi bisnisnya.

Jadi, kecemburuanku selama ini beralasan bukan? Ini bermula dari sikap aneh yang ditunjukkannya. Sifat yang sering berubah.

Kibum POV END*

.

.

.

Sedikit kebahagiaan terpancar di café pagi ini. Bagaimana tidak, Lee Sungmin mengumumkan dirinya menerima lamaran Cho Kyuhyun, pengacara muda yang karirnya tengah menanjak. Tentu saja, berita bahagia ini disambut senyum merekah dari sahabatnya ketika akan membuka café. Suasana café menjadi lebih hidup karena gadis cantik bergigi kelinci selalu menyenandungkan lagu cinta. Shindong yang berdiri di balik meja kasir sering menegur Sungmin. Yah,mungkin ini karena istrinya Shin Nari tidak pernah berbuat hal romantis padanya.

Kibum, Sungmin, dan Ryeowook sering menjadikan Shindong dan Nari sebagai bahan utama pembicaraan ketika mereka berkumpul di dapur. Nari akan lebih sering mengomel dibanding memuji Shindong, sang suami.

" Kibummie, kamu membawakanku majalah gaun pengantin yang aku pesan semalam?" celetuk Sungmin kala keduanya bertatap muka di pantry. Kibum yang sedang meletakkan beberapa piring dan gelas kotor di bak cuci langsung tersentak kaget. Ia membalikkan badannya dengan tatapan memelas.

Sungmin bisa membaca mimik wajah sahabatnya yang sedikit terkejut. " Arraseo. Lain hari saja," lanjut sang koki sebelum melanjutkan menghias tatanan cake yang dibuatnya. Badannya sedikit membungkuk untuk memberikan topping cokelat putih yang dihiasi potongan buah segar.

" Aku akan mengambilnya saat jam makan siang."

Sungmin meletakkan mangkuk berisi berbagai macam potongan buah dan menatap sahabatnya yang tengah memeluk nakas berwarna cokelat muda di depan dada. Kemudian senyum kecil terkembang di bibir plump miliknya.

.

.

.

Kibum menepati janjinya, saat jam makan siang, Kibum langsung bergegas mengganti seragam kerjanya. Ia keluar dari café yang tengah ramai pengunjung, tak dihiraukannya pekikan Shindong dari balik meja kasirnya. Yang terpenting baginya saat ini adalah majalah gaun pengantin yang tempo hari dijanjikannya pada Sungmin.

Diarahkan mobil audi miliknya menyusuri jalanan Seoul yang sedikit ramai. Jemari mungilnya bergerak secara konstan di tepian kemudinya, mengikuti alunan musik yang mengalun memenuhi mobilnya. Kibum menikmati perjalanan menuju rumahnya.

Audinya sudah memasuki kompleks perumahan yang dihuninya. Kibum memarkir mobilnya di tepi jalan. Tangannya meraih mantel yang sengaja ia letakkan di samping kursi kemudinya. Dengan beberapa kali tarikan nafas, Kibum berlari kecil memasuki pekarangan rumahnya sebelum guguran salju membekukan kakinya. Kedua kakinya menghentak sedikit keras pada permukaan teras rumahnya sebelum mendorong pintu rumahnya.

Tanpa melepas mantel yang masih membalut tubuh rampingnya, Kibum bergegas menapaki lantai yang dilapisi karpet menuju ruang kerja Siwon yang berada di dekat tangga. Kibum memang sengaja menyimpannya di ruang kerja suaminya. Lagipula Siwon tidak mempermasalahkannya.

Ketika pintu ruang kerja Siwon terbuka, Kibum berjalan menghampiri rak buku setinggi 3 meter yang ada di sudut ruangan. Wanita berparas bak puteri itu berjongkok di depan rak buku. Kibum lupa dimana tepatnya ia meletakkan majalahnya.

Obsidian indahnya perlahan mulai menginspeksi satu persatu buku yang berjejer rapi menghiasi rak berwarna coklat kehitaman itu. Meski ruangan sudah dipenuhi cahaya lampu, namun Kibum masih merasa kesulitan menemukan majalahnya.

" Ah, aku yakin majalah itu disimpan di rak ini." Jemari Kibum mengetuk badan rak berulang kali hingga sedikit menimbulkan suara bising. Obsidiannya. kembali melempar pandangan lesu pada deretan buku dan mendongak ke deretan rak paling atas.

Seketika bola mata Kibum membelalak lebar ketika melihat banda yang dicarinya berada di ujung rak paling atas.

Tangannya berusaha menggapai majalah dengan sampul berwarna abu-abu. Gotcha ! Benda yang dibutuhkan Kibum sudah berada dalam dekapannya.

DUAKKKHH ~

Suara itu berasal dari debum tubuh Kibum yang jatuh bertegur sapa dengan lantai . Bibir merahnya meluncurkan ringisan saat ia mulai beranjak bangun dari posisi jatuhnya. Kibum yakin tulang belakangnya mengalami cedera akibat bagian belakang tubuhnya terlebih dulu menyapa lantai.

Selagi tangan kanannya mengusap pinggangnya, Kibum menyandarkan tubuhnya pada rak lemari. Tanpa disangka, ada beberapa buku yang jatuh akibat kecerobohannya.

" Huhh.. Bagaimana aku bisa bekerja jika pinggangku sakit," gerutu Kibum sembari mencoba menegakkan tubuhnya yang terasa nyeri. Langkah kakinya sedikit tertatih untuk berjalan keluar dari ruangan tanpa sempat merapikan buku yang jatuh berserakan.

.

.

.

Kibum memutuskan untuk kembali bekerja meski ia lebih sering duduk di balik meja kasir. Yah, dengan kondisi pinggangnya yang masih terasa nyeri hingga membuat gerakannya terhambat. Kibum membiarkan Ryeowook dan Shindong menggantikan pekerjaannya. Lagipula hanya untuk satu hari saja.

" Kibummie, masih sakit ?" Sang koki cantik berjalan mendekati Kibum yang duduk mengisi kursi di balik meja kasir.

" Gwenchana. Nanti pasti sembuh, Sungminnie ~" Kibum menyunggingkan senyum tipisnya meski sebenarnya ia sedang mati-matian menahan rasa sakit di pinggangnya saat ini.

Perbincangan keduanya terpotong oleh kedatangan pria berbadan tambun yang menghampiri meja kasir dengan nafas terengah. Shindong mengusap peluh yang membanjiri seluruh wajahnya.

" Wae ? Bukankah masih ada pesanan yang belum kamu antarkan ke meja pelanggan ?" Sungmin menatap tajam Shindong yang memasang wajah lesu.

" Jinjjayo ? Hahh.. Aku lelah ~~ aigooo ~~" Kibum dan Sungmin saling melempar pandangan ketika melihat bos mereka terus saja mengeluh di depan anak buahnya.

Kibum mengulas senyum tipisnya sebelum beranjak dari kursinya.

" Kibummie, kamu mau kemana ?"

" Tentu saja mengantarkan pesanan pelanggan. Apalagi ?"

Sungmin menghela nafas berat mendengar penjelasan sahabatnya. Sungmin berjalan mengekor di belakang Kibum, sesekali tangannya mengusap bahu Kibum.

Kibum menarik kertas yang tertempel pada meja besi. Membaca deretan kata yang terukir pada kertas tipis.

" Fruit cheese cake and milkshake." Kibum melontarkan deretan kata itu dengan lantang yang disambut gelengan kepala dari Sungmin yang berdiri di belakangnya. Kertas yang sedari tadi dipegangnya langsung dilesakkan masuk ke dalam kantong apron. Di atas meja juga sudah tersaji pesanan yang ia sebutkan tadi. Tanpa menunggu teriakan dari Shindong, Kibum dengan sedikit menahan nyeri berjalan menuju meja pelanggan.

Kibum berhenti sejenak sebelum akhirnya bola mata indahnya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru café mencari meja pelanggan. Sebuah ukiran senyum memikat ditunjukkannya saat objek yang dicarinya sudah berada dalam bidikannya.

" Fruit Cheese cake and milkshake. Selamat menikmati." Usai menyajikan sepotong fruit cheese cake dan milkshake, Kibum tak lupa melemparkan senyum mautnya yang mampu membuat banyak beberapa pasang mata menatap kagum ke arahnya.

" Tidak mau menemaniku, Choi Kibum ?" Baru saja beberapa langkah Kibum berjalan menjauhi meja yang baru saja dihampirinya, langkahnya seketika terhenti. Tidak ada yang salah dengan tawaran yang dilontarkan atau dengan pelafalan namanya. Toh, dia memangsudah resmi menyandang marga nama suaminya, Choi Siwon. Hanya saja penekanan nada dalam pelafalan 'Choi Kibum' terdengar sedikit berbeda dan mengusik telinganya.

Kibum membalikkan badannya sambil mendekap nakas di depan dadanya. Kelopak matanya mengerjap berulang-ulang, mencoba menginspeksi pada pelanggan yang menyembunyikan wajahnya di balik majalah sport yang dibacanya. Kibum sedikit memiringkan kepalanya, mencoba mengintip rupa sang pelanggan yang masih saja bersembunyi.

Ketika majalah itu sudah ditutup dan diletakkan di atas meja, Kibum masih saja berdiri dengan wajah herannya.

Pria berkacamata dengan penampilan stylish itu menampakkan senyum tipisnya.

" Duduk dulu, Kibum-sshi." Pria itu berdiri dari duduknya dan berjalan ke seberang meja, menarik kursi dan mempersilahkan sang waitress menyanggupi tawarannya.

Kibum diam, ia tidak mengenal sama sekali sang pria asing. Namun akhirnya ia luluh dan duduk pada kursi yang sengaja diperuntukkan bagi dirinya.

" Ah, kamu benar-benar tidak berubah, Kim Kibum." Pria tadi mencoba meraih tangan Kibum yang terkulai di atas meja, namun dengan sigap Kibum menarik tangannya dan menyembunyikannya di bawah meja. Tatapan Kibum berubah menjadi sengit pada pria yang masih setia mengukir senyum di wajahnya.

" Hmm~ Sepertinya Kim Kibum tidak ingat sama sekali. Apa aku perlu mengingatkanmu, eh ?" Kibum semakin heran dengan sikap pria yang duduk di seberang meja.

.

.

.

Flashback ON *

Dengan balutan kemeja dan rok sebatas lutut yang memamerkan lekuk tubuh rampingnya, Kim Kibum berjalan seorang diri menyusuri jalanan sepi menuju apartemennya. Selain aktif sebagai mahasiswi di sebuah universitas ternama di Korea, Kibum juga aktif sebagai anggota sebuah organisasi mahasiswa. Tidak heran jika nama Kibum cukup dikenal di kalangan mahasiswa kampusnya. Selain memiliki kepribadian yang baik, Kibum juga memiliki paras cantik ditunjang dengan kemolekan tubuhnya membuat Kibum menarik perhatian. Wajar jika banyak pria di kampusnya menaruh hati padanya. Lagipula Kibum memang belum memiliki kekasih jadi hal yang pantas jika beberapa pria mengajaknya untuk sekedar berkencan.

Sayangnya, setiap ajakan yang diterima Kibum selalu ditolak dengan halus. Alasannya tentu saja Kibum harus fokus pada kuliah dan kegiatan organisasinya yang menyita waktunya. Belum lagi Kibum bekerja part-time di sebuah minimarket dekat apartemen sederhana miliknya. Kondisi keuangan keluarganya yang berada dalam tingkat menengah ke bawah, membuat Kim Kibum tumbuh menjadi sosok yang mau bekerja keras. Kibum hanya hidup seorang diri di apartemennya. Ibunya sudah meninggal saat ia masih duduk di bangku sekolah. Ayahnya ? Kibum bahkan tidak mau mengungkit lagi nama ayahnya. Meski ia tau selama hidup bersama bibinya, ayahnya rutin mengirimkan uang bulanan untuk pemenuhan kebutuhannya.

Hingga Kibum menginjak remaja, belum sekalipun ayahnya menampakkan wujudnya di hadapannya. Terakhir kali Kibum melihat ayahnya adalah saat pemakaman ibunya. Setelahnya, pria yang selalu bersikap tegas itu menghilang ditelan kegelapan malam.

Kibum terus melangkah tegas menyibak keheningan malam. Tidak ada aktifitas di sekitarnya mengingat hari sudah terlalu larut. Salahkan Kibum yang terlalu asyik menikmati kegiatan bersama teman-teman organisasinya. Jika Kibum mau menerima ajakan temannya, mungkin saat ini Kibum tidak akan berjalan seorang diri. Apalagi akhir-akhir ini banyak tindak kejahatan di sekitar apartemennya.

Langkah Kibum terhenti saat melihat sosok bayangan hitam yang terpantul dari lampu trotoar jalan. Kibum bergidik ngeri. Padahal sejak ia keluar dari kampusnya, Kibum sudah dikuntit oleh orang asing tersebut. Namun, gadis cantik itu ternyata terlambat menyadarinya.

Kedua bola mata Kibum membulat sempurna. Tangannya bergerak cepat merapatkan mantel yang membalut tubuhnya. Seiring dengan hembusan yang menerpa tengkuknya, Kibum segera berjalan cepat untuk menghindari sosok yang mengikutinya.

Derap langkah sepatu yang membalut kakinya terdengar berbunyi nyaring menyapa jalanan sepi.

Nafas Kibum tercekat ketika merasakan sebuah tangan mencengkeran lengannya dengan kuat. Sontak saja Kibum langsung membalikkan tubuhnya karena kuatnya tarikan orang asing itu.

" Heii, kenapa harus buru-buru ? Apa kamu tidak mau menemaniku, hmmhh ?" Kibum menahan nafasnya saat suara berat si pria membuat jantungnya berdetak semakin kencang. Kibum sedikit kesulitan melihat wajah pria asing itu akibat penerangan yang agak remang.

" Le – lepassh AWW – " Kibum memekik keras saat cengkeraman tangan si pria yang melingkupi lengannya semakin erat.

" Bukankah sudah aku katakan untuk menemaniku ?" Pria misterius itu menarik tubuh Kibum semakin merapat. Tangannya yang bebas bergerak mengusap peluh yang mulai mengalir sepanjang garis rahang sang primadona kampus.

Kibum hanya diam, bola matanya bergerak melirik tangan besar yang terasa asing baginya sedang mengusap peluh yang membanjiri wajahnya.

Sepintas, Kibum bisa dengan jelas menangkap senyuman lebar yang terukir di wajah sang pria. Sejujurnya senyuman itu terasa sangat luar biasa indah. Bahkan Kibum baru pertama kali melihat senyuman yang begitu mempesona di matanya. Namun dengan sigap, Kibum memejamkan matanya agat tidak jatuh dalam jerat senyuman yang begitu memabukkan.

Si pria yang melihat mangsanya sedang memejamkan matanya erat, semakin menyunggingkan senyuman lebarnya. " Terpesona dengan senyumku, chagiii ~?"

Kibum membuka kelopak matanya lebar-lebar ketika merasakan suara si pria teramat dekat dengan wajahnya. Dan benar saja, wajah keduanya hanya menyisakan jarak beberapa inchi.

DUAKKHH

Lutut Kibum menghantam kuat bagian vital si pria yang berada di antara kedua kakinya. Si pria menunduk sembari meringis kesakitan. Dengan peluh yang semakin membanjiri tubuhnya, Kibum membalikkan tubuhnya dan berlari sekuat tenaga sebelum pria kurangajar tadi kembali menangkapnya.

Belum ada 2 menit bagi Kibum untuk menghirup udara bebas, tubuhnya kali ini langsung menghantam dinding bangunan yang dilewatinya. Pria misterius itu mengunci pergerakan Kibum dan menghimpitnya di antara kedua lengannya. Kibum mulai meronta namun sialnya pria tadi malah semakin menekan tubuhnya merapat ke dinding. Sekedar menggerakkan kakinya saja tidak bisa.

" Aish, kenapa harus memakai cara kasar hmm ~~? Bersamaan dengan kata yang meluncur dari bibirnya, pria tadi dengan sengaja menghembuskan nafas hangatnya tepat di daun telinga Kibum. Ia bisa merasakan bagaimana tubuh mungil yang berada dalam kungkungannya bergetar hebat. Si pria malah senang jika melihat objeknya ketakutan dengan tekanan yang diberikannya. Hal ini malah akan semakin mempermudah pekerjaannya.

Si pria tadi memiringkan kepalanya, melesakkan kepalanya di antara perpotongan leher dan bahu Kibum.

" Ja – Jangan lakukan ituuuu hiks…" Isakan lirih akhirnya meluncur dari bibir merah milik Kibum karena ia merasakan benda basah yang menempel pada kulit lehernya.

Pria tadi menarik kepalanya yang sedari tadi bersembunyi di antara ceruk leher Kibum. Berusaha menghisap kuat aroma tubuh mangsanya yang sangat menggoda. " Apa ? Memangnya aku akan melakukan apa padamu ?"

" Hikss… Aku mo – mohon hiks…"

Seketika kebebasan langsung dirasakan Kibum saat kungkungan pria tadi sudah menjauhinya. Dan kini matanya disuguhi ada pria lain yang sedang memukul 'pria misterius' tadi dengan cara membabi buta. Tubuh Kibum merosot hingga jatuh terduduk, ia terlampau kaget menerima semua kejadian buruk yang dalam satu kedipan mata.

Selama beberapa saat Kibum hanya diam sembari menatap hampa baku hantam yang ada di depan matanya. Ia tidak bisa menggerakkan satu pun anggota tubuhnya meski otaknya sudah memberikan perintah.

Sebuah uluran tangan dapat dilihat Kibum di depan wajahnya yang masih diselimuti rasa takut.

" Hiksss… Lepaskan aku hikss… Aku mohon ~~" Kibum menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia terlampau takut untuk kembali merasakan sentuhan 'pria misterius' tadi. Namun hal aneh dirasakan Kibum saat pucuk kepalanya disentuh dengan cara yang teramat lembut. Sentuhan yang sejujurnya terasa menghangatkan tubuhnya.

" Ayo, aku akan mengantarmu pulang." Suara ini, suara ini berbeda dengan suara 'pria misterius' tadi. Kibum dengan segenap keberaniannya mendongakkan kepalanya dan berani menatap langsung sepasang iris mata yang sedang memandangnya.

Seolah tersihir dengan tatapan matanya, Kibum hanya mengangguk pelan dan membiarkan tubuh gemetarnya berada dalam dekapan hangat pria yang menyelamatkan nyawanya.

" Choi Siwon imnida."

Flashback OFF*

.

.

.

" Aku tidak percaya ucapanmu." Kibum mendesis pelan dan hendak beranjak meninggalkan kursi yang dihuninya sejak beberapa menit yang lalu. Ia sedari tadi diam membiarkan pria yang ada di seberang meja terus berceloteh. Dan memang benar, semua ucapan yang keluar dari mulutnya tentang kejadian beberapa tahun lalu pernah dialaminya.

" Kamu pikir aku sedang mengarang cerita, Kibum-sshi ?" Pria tadi melepas kacamata yang menyembunyikan kelereng hitamnya. Lalu ia mengukir senyum. Ya, senyum yang membuat Kibum terpaku dalam diamnya. Karena senyuman yang sedang diukir pria itu sama dengan senyuman 'pria misterius' yang berada di masa lalunya.

Pria itu mencondongkan tubuhnya dan kembali mengukir senyuman lebarnya. " Ne, aku adalah pria yang ada di masa lalumu."

" Lalu untuk apa kamu menemuiku ? Aku sudah menikah." Kibum melempar deathglarenya.

Tawa renyah langsung menyapa gendang telinga Kibum. " Bahkan aku tau jika kamu menikah dengan si 'pria malaikat'."

" Apa maksudmu ?" Kibum sedikit tersinggung dengan ucapan yang dilontarkan si pria tadi. Rasa tidak suka menyeruak memenuhi dadanya. Dan nyatanya memang Kibum menikah dengan 'pria malaikat' dan pria itu tentu saja Choi Siwon.

" Ternyata wanita secantik dirimu sangat mudah dibodohi. Jika tau begitu, lebih baik aku menolak taruhan Siwon di masa lalu. Lebih baik aku yang menikahimu. Dan aku dengar – ." Sejenak ia menghentikan ucapannya. Matanya bergerak menelusuri wajah cantik Kibum. " Kamu sangat memuaskan di atas ranjang." Senyum kemenangan tercetak jelas di bibirnya.

Wajah Kibum bersemu merah mendengar lontaran ucapan yang terakhir ia dengar. Siwon memang sering memujinya ketika bermain di 'atas ranjang'. Tapi bagaimana 'pria misterius' tadi mengetahui semuanya ? Kibum kembali diam. Mencerna kembali ucapan yang ditangkapnya.

" Apa maksud ucapanmu tadi ? Taruhan apa ?"

" kk ~ Aku sangat senang dengan dengan pertanyaanmu. Aih, seandainya dulu aku menolak tantangan Siwon, pasti margamu bukan Choi tapi Lee. Lee Kibum ? Bahkan Lee Kibum terdengar lebih bagus."

Pria tadi terus mengoceh tanpa memerdulikan raut wajah wanita dengan apron yang menghiasi baju kerjanya. " Jawab pertanyaanku." Kibum mencengkeram erat apron yang dipakainya.

" Ya, dulu aku dan Siwon bertaruh untuk mendapatkanmu. Dan aku tidak menyangka jika Siwon begitu mudah mendapatkan wanita cantik dan pendiam sepertimu. Hah.. Aku bahkan harus merelakan mobil Ferrari milikku karena kalah bertaruh."

Kibum menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan amarah yang meletup di dalam dadanya. Kepalanya terus mencerna setiap untaian kata yang didengarnya. Rasa bingung, kaget, kecewa, marah, dan malu semua bercampur menjadi satu. Seolah sedang mengaduk perasaannya.

" Aku harap kita bisa bertemu lagi lain waktu, Kibum-sshi."

Kibum masih diam. Mencoba memendam rasa sesak yang begitu menyiksanya saat ini. Si pria tadi menyeruput milkshake yang dipesannya dan mengenakan kembali kacamata hitamnya.

" Lee Donghae imnida."

.

.

.

Kibum tidak tau harus melakukan apa. Usai mendapatkan kenyataan yang mengejutkan tadi ditambah kedatangan 'pria misterius' di masa lalunya, Kibum lebih banyak diam dan memasang wajah lesu. Bulir air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata terasa sulit untuk menetes keluar.

Usai memastikan Minho terlelap dalam tidurnya, Kibum merangkak masuk ke dalam selimut tebalnya. Menenggelamkan tubuh gemetarnya di balik selimut. Jika benar suaminya – Choi Siwon – melakukan taruhan di masalalu dengan pria bernama Lee Donghae tadi, itu sama halnya pernikahan yang dijalaninya selama ini hanya pura-pura.

Kibum segera memejamkan matanya ketika mendengar pintu kamarnya terbuka. Kibum yakin suaminya baru saja pulang kerja. Namun ia enggan menyambutnya. Perasaannya masih terlalu kacau dan ingin menenangkan diri. Kibum ingin mencari kebenaran dari ucapan Donghae. Ia tidak mau tersulut api curiga lagi.

" Jaljayo, chagi." Kecupan hangat dilayangkan Siwon di dahi istrinya sebelum pria bertubuh kekar itu ikut menenggelamkan diri di balik selimut.

Sementara Kibum mati-matian menahan kantuknya akibat pikirannya yang terus berkecamuk hebat. Membiarkan malam sunyi melingkupi jiwanya.

_TBC_

Annyeong, FF ini comeback setelah 4 bulan hiatus *dilempar cobek sama readers*

Maaf ya ngarettt – reettt hehe… Author males ngetik dan kehilangan inspirasi ngetik *sembunyi di belakang Kibum*

Mungkin chapter ini agak aneh ? Author sih emang bingung mau ngetik pake plot yang kayak gimana. Soalnya agak hang sama ide awal pembuatan FF ini. Mianhae yaaaa…. *BOW*

Mianhae lagi, author belum bisa ngasih review corner. Ini aja author lagi sibuk ngerjain tugas kuliah hhehe ~~

Thanks To :

HANA | Little Fishy8694 | Kinanthi | Sibum shipper | Hyuni-Kang | Kazuma B'tomat | Shofiy Nurlatief Siti Afifah | Jung Jae Kyo | RistaMbum | Nina Snowon | Soldier of Light | Clouds54 | Kim Kwang Eun | Fireworks | Chorheya | Y | nana | Ichigobumchan | anin wonkyushipper | farchanie01| bumhanyuk | zakurafrezee | Shippo Baby Yunjae | Oryzasativa | yolyol | EvilKyung | ShippoChan | Resza mochi | Ichank Ronanur | kikihanni | guest | mutiara | winda1004 | lala13 | caxiebum | Lil'cute Bear | Kim ji yeon | Choi bila | Choikyuhae | XiahticLie | rikha-chan | XYlionite | LuvSiBum | Kim yoonhe |

Terimakasih untuk semua reviewer dari chapter 1 dan 2. Makasih udah mampir baca. hehe….

Follow author on twitter : dee_snowyworld