.
.
.
Beberapa hari ini pikiran Kibum dipenuhi dengan ucapan-ucapan yang Lee Donghae kemukakan mengenai suaminya. Si pria di masa lalunya kembali untuk mengungkap kembali kejadian yang hampir merenggut masa depannya. Tapi untuk apa Donghae membeberkan itu semua ? Jikapun benar Choi Siwon melakukan taruhan dengan Lee Donghae untuk mendapatkannya, itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Sekarang ia sudah menikah dan memiliki seorang anak yang lucu, hasil pernikahannya dengan ' si pria malaikat '. Bisa dipastikan Siwon mencintai Kibum. Tidak mungkin pria seromantis dan baik hati seperti Siwon akan mempermainkan ikatan suci yang disahkan dihadapan Tuhan.
" Kibummie !" Kibum terlonjak kaget dari lamunannya saat bahunya ditepuk sedikit keras. Segera saja kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati Sungmin sudah memasang wajah menyelidiknya.
" Minnie-ya ~ Wae ?" Tangannya yang meremas kain kering yang ia gunakan untuk membersihkan permukaan meja.
Sungmin mengulurkan tangannya, meraih kedua tangan sahabatnya yang mengepal erat. " Temani aku fitting gaun pengantin, ne." Kedua bunny eyesnya menatap Kibum dengan tatapan penuh harap. Selalu saja begini. Dan Kibum tidak akan bisa menolak jika Lee Sungmin mulai memasang wajah memelasnya.
Diiringi helaan nafas panjangnya, Kibum menganggukkan kepalanya mantap sebagai tanda menyanggupi permintaan sang sahabat. Sungmin meloncat girang dan menghambur memeluk tubuh Kibum dengan begitu erat.
" Gomawooo ~ Aku akan menghubungi Kyuhyun agar tidak mengirim halmeoninya yang cerewet itu." Sungmin berjalan meninggalkan Kibum sambil terus bergumam tak jelas. Kibum turut mengukir segaris senyuman melihat sahabatnya akan segera menikah dan membangun masa depan, sama sepertinya dulu.
Kibum menggelengkan kepalanya pelan sebelum kembali memutar tubuhnya. Setidaknya ia harus melanjutkan kegiatannya membersihkan permukaan meja dari noda bekas ceceran minuman atau makanan. Kebersihan menjadi prioritas utama di café yang dibangun oleh Shindong. Tak mengherankan jika banyak pelanggan yang sering berkunjung di café mungil itu.
Gerakan tangan kanannya yang mengusapkan kain kering di atas permukaan meja yang terbuat dari kayu terhenti saat mendengar suara sapaan, tentunya yang tertuju padanya.
" Choi Kibum." Sang waitress menatap kesal sosok Lee Donghae yang sudah mengisi salah satu kursi yang menghiasi meja yang tengah ia bersihkan. Pria dengan penampilan modis itu lalu melempar senyum lebarnya. Bahkan ketika menebar senyuman mautnya, tidak nampak sedikitpun jika pria yang duduk di depannya memiliki kepribadian yang mengerikan.
" Ada urusan apa ?" Kibum menyahut sapaan Donghae dengan ketus. Kain yang berada dalam genggaman tangannya ia hempaskan di atas meja. Donghae tersenyum tertahan melihat sikap Kibum ketika mengekspresikan rasa ketidaksukaan atas kehadirannya.
" Calm down, Nyonya Choi yang terhormat," Donghae berusaha mencairkan suasana canggung di antara dirinya dengan Kibum. Kedua tangannya diangkat di depan dadanya, mencoba memberikan penjelasan pada si wanita cantik. " Ini café kan ? Apa aku tidak boleh datang kemari ? Ck .. Padahal aku dengar waitress di café ini sangat ramah, terutama Kim ahh Choi Kibum."
Kibum merogoh saku kemejanya, mengeluarkan note kecil serta sebuah pulpen. " Baiklah. Tuan mau memesan sesuatu ?" Kibum berusaha memperlakukan Donghae layaknya pelanggan yang sering berkunjung ke café. Menarik segaris lengkungan yang menghiasi bibirnya meski dengan ketidakrelaan.
" Iced chocolate dan waffle."
Selesai mencatat pesanan yang diinginkan Donghae, Kibum bergegas membungkukkan tubuhnya dan menuju pantry. Menyobek selembar kertas yang melampirkan pesanan lalu menempelkannya di sebuah palang besi.
" Iced chocolate dan waffle, Min," teriak Kibum agak keras. Moodnya memburuk semenjak kedatangan tamu tak diundang. Jika manusia tak tau diri macam Lee Donghae terus menguntit gerakannya sepanjang hari di café, bisa dipastikan tidak akan ada senyuman manis yang terpasang di bibir merahnya. Kain putih – yang biasa ia gunakan membersihkan meja – diremasnya kasar sembari menggeram.
" Ne, Bummie," terdengar sahutan dari Sungmin yang sibuk menggerakkan tangannya di balik meja dapur.
10 menit berlalu….
Sungmin meletakkan pesanan yang diteriakkan Kibum di atas meja. " Apa pelanggan mengganggumu lagi, Kibummie ?" Tangan ramping Sungmin bergerak membersihkan ceceran cokelat cair yang tertinggal di tepian piring dengan sebuah tissue bersih. Kibum menggelengkan kepalanya pelan, tanpa sedikitpun menggerakkan bibirnya.
Semua orang di café sudah paham jika Kibum sering menjadi sasaran usil pelanggan, terutama pelanggan namja yang tidak memiliki pekerjaan lain selain 'cuci mata'. Mungkin hanya kebetulan saja jika kedua waitress yang bekerja di café milik Shindong berwajah cantik, sehingga mampu menarik pelanggan dari kalangan namja. Syukurnya, kedua waitress cantik tadi sudah memiliki stutus sebagai seorang istri. Hanya Sungmin seorang yang masih belum memastikan statusnya dengan sang pengacara muda, Cho Kyuhyun. Setidaknya dalam waktu dekat, sang koki akan menyandang status sebagai Nyonya Cho.
" Pesanan siap. Cepat antarkan…" Sungmin menggeser nampan berisi pesanan dari Donghae didepan Kibum. Sungmin segera kembali ke dapur karena Ryeowook baru saja menempelkan kertas berisi daftar pesanan pengunjung lain.
Kibum menghela nafas sejenak sebelum akhirnya berjalan santai menuju meja yang dihuni Donghae.
" " Iced chocolate dan waffle. Selamat menikmati…" ucap Kibum pelan – sambil berusaha menahan ledakan emosinya saat melihat tatapan Donghae yang sedang menggodanya –.
ARGHHTT ! Seandainya Kibum bisa dan leluasa meluapkan emosinya, sudah pasti nampan yang digenggamnya melayang menyentuh kepala Donghae yang terus mengumbar senyum padanya. Tanpa memerdulikan tatapan Donghae, Kibum segera menghampiri meja yang tepat berada di belakang Donghae. Jemarinya menari di atas note kecil, mencatat pesanan si pelanggan.
.
.
.
Sesuai janjinya beberapa hari yang lalu, Kibum memenuhi janjinya untuk menemani sahabatnya fitting gaun pengantin. Mereka sepakat memilih hari minggu agar tidak mengganggu pekerjaan mereka. Sungmin dan Kibum merasa tidak enak jika harus ijin setengah hari atau bahkan ijin seharian penuh. Bisa jadi pelayanan di café terganggu. Jadi, keduanya sepakat memilih hari libur sebagai saat yang tepat untuk pergi ke butik.
Kibum terus menggenggam tangan mungil Minho, menyalurkan kehangatan melalui genggaman tangan mereka. Meski sudah dilapisi dengan sarung tangan sekalipun, tusukan udara saat musim dingin sangat mudah menyerang daya tahan tubuh bocah seusia Minho. Lagipula kondisi jalanan agak ramai jadi sebagai sosok eomma yang baik, Kibum tidak akan berada jauh dari anaknya.
Berbeda dengan eommanya yang seringkali menundukkan kepalanya untuk mengamati kondisi buah hatinya. Choi Minho malah asyik melompat sambil terus mengoceh. Tidak heran banyak pasang mata yang ikut tersenyum melihat tingkah menggemaskan Minho. Sesekali bocah bermata besar itu akan menghentakkan kedua kakinya yang dibalut boots di atas jalanan yang tertutup salju. Atau menyapa pejalan kaki yang menatap kearahnya. Tanpa keduanya sadari, langkah kaki mereka sudah terhenti tepat di sebuah bangunan butik yang menjulang tinggi.
" Eomma ~~ Apa appa ada didalam ?" Pertanyaan polos anaknya membuat yeoja cantik itu mendengus kesal. Harusnya hari ini Choi Siwon – yang menyandang status sebagai suaminya – mengantarkannya ke butik. Tapi beberapa menit sebelum berangkat, namja tampan itu beralasan mendapat telepon dari kliennya. Akhirnya, rencana awal yang sudah disusun Kibum gagal. Akhir pekan seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Siwon untuk menghabiskan waktu bersama Minho. Jika sosok sang kepala keluarga jarang menampakkan diri di rumah, itu artinya keberadaannya didalam rumah yang ia huni tidak akan pernah dianggap.
Tangannya yang masih dibalut sarung tangan mengusap puncak kepala Minho pelan. Hatinya terasa sakit saat melihat Minho merindukan sosok appanya. " Appa sedang rapat di gedung yang tinggi itu, chagi ~~" ucapnya pelan sembari menunjuk sebuah gedung pencakar langit yang berada jauh dari pandangan matanya.
" Unggg ~~" Bibir Minho mengerucut lucu lalu mencoba mengikuti gerakan tangan eommanya yang menunjuk sebuah arah. Sayangnya, tubuh kecilnya tidak bisa menjangkau apa yang orang dewasa lihat. Salahkan tubuhnya yang tingginya hanya sebatas pinggang orang dewasa. " Aku tidak bisa melihat apapun eomma… mmm ~~~" Bocah itu masih belum menyerah. Kedua kakinya berjinjit sambil terus mengintip.
Kibum terkekeh geli melihat sifat menggemaskan buah hatinya. " Untuk itu… Minho cepat besar. Agar bisa melihat gedung-gedung tinggi, ne."
" ARRASEO ! Choi Minho pasti bisa. Fighting !" geram bocah itu sambil mengepalkan kedua tangannya didepan wajahnya yang nampak serius.
" Nah, jika Minho ingin cepat besar, sering-sering makan sayur."
Raut wajah penuh semangat yang diumbar Minho seketika sirna saat mendengar ucapan eommanya. Ugh ! Bocah itu amat membenci benda dengan aneka macam warna yang sering disodorkan eommanya setiap sarapan pagi dan makan malam. Bahkan Park adjumma sering membentaknya karena tidak mau menyuapkan satu sendok sayur kedalam mulutnya.
" Minho tidak suka sayur, eomma ~~~" Membayangkan satu suap sayur melewati tenggorokannya saja sudah membuat perutnya seperti diaduk-aduk.
" Ya ~~~" Dua jemari tangan Kibum mencubit pelan hidung Minho. " Tadi pagi kamu sarapan dengan sayuran juga loh, chagiii ~~~"
Mata bulatnya tertegun. Kedua telapak tangannya meraba permukaan perutnya. " Sa – sayur ?"
Kibum mengangguk pelan sembari mengulas senyuman indah di bibir merahnya. " Kajja,,, Minnie adjumma sudah menunggu didalam." Kibum kembali mengulurkan tangannya didepan wajah Minho lalu menggandengnya masuk ke dalam butik.
Kedatangannya langsung disambut 2 pegawai yeoja yang duduk di balik meja resepsionis. Tanpa menunggu lama, Kibum langsung digiring seorang pegawai menuju fitting room. Ternyata Sungmin sengaja memberitahu pegawai butik agar langsung mengantarkan temannya menuju fitting room.
Dan ketika pintu berwarna putih terang itu terbuka lebar – setelah sang pegawai mengetuk daun pintu terlebih dulu –, Minho langsung berlari menghambur memeluk Sungmin yang sedang mematut diri di depan sebuah cermin besar. Balutan gaun pengantin yang menjuntai membuat tubuhnya terlihat sempurna. Kulit tubuhnya yang halus terlihat lebih bersinar dengan gaun yang dibubuhi kristal swarovsky. Binar bahagia juga tertangkap jelas dari raut wajah Sungmin. Segaris senyuman tak pernah luput dari bibir plumpnya.
" Bummieee ~~" pekiknya setengah tertahan saat gerakan tubuhnya yang akan menyambut kedatangan sahabatnya langsung dihalau sang designer.
" Minnie ! Sudah berapa kali aku katakan. Jangan banyak bergerak. Aish… Berapa tadi ukuran pinggangmu ~~" gerutu seorang yeoja paruh baya dengan tatanan rambut digelung asal. Tubuhnya kembali merunduk untuk mengukur lagi ukuran pinggang Sungmin. Setelah memastikan ukuran pinggang Sungmin, sang asisten designer yang berdiri tak jauh dari sang calon pengantin terlihat sibuk mencatat di sebuah note kecil.
" Baiklah. Kalian bicara saja dulu. Aku akan memastikan bahan tambahan untuk gaun pengantinmu pada bagian produksi," ucap sang designer yang sering dipanggil Go Ara. Ia langsung berjalan melewati Kibum yang masih berdiri didepan pintu, tak lupa melemparkan senyum hangat kepada pengunjung butiknya. Sang asisten designer mengekor di belakang sambil terus membaca apa yang tertulis pada notenya.
.
.
.
" Minnie adjumma ~~~ yeppoo ~~~" goda Minho sambil terus berkedip imut. Tubuh mungilnya memaksa untuk berdiri menyela diantara Sungmin dan Kibum.
" Minho-ah ! Benarkah adjumma cantik ?" Sungmin terpaksa harus menahan pegal di kakinya karena gaun yang sedang dipakainya belum sepenuhnya selesai dikerjakan. Jadi, ia harus ekstra hati-hati agar gaun yang akan dikenakan saat sumpah setia nanti tidak rusak.
" Ne." Kedua ibu jari tangan Minho terangkat didepan wajahnya. Mengisyaratkan jika apa yang telah diucapkannya tidak bohong.
Kedua yeoja dewasa itu hanya bisa tertawa terbahak melihat tingkah menggemaskan bocah keturunan Choi itu. Pesona yang memancar dari dalam dirinya tak bisa dielakkan ada unsur gen Choi Siwon yang melekat ditubuhnya.
" Kyuhyun tidak ikut fitting ?"
Sungmin memutar bola matanya bosan. " Dia sedang menangani masalah kliennya yang akan disidangkan lusa."
" Suamiku juga. Padahal hari ini aku berniat mengajak Minho membeli sweater."
" Biarkan saja. Memang sudah tugas para namja untuk mencari nafkah," seloroh Sungmin. Meski terkesan sedang bercanda, Kibum bisa menangkap gurat kekecewaan dai perubahan mimik wajah sahabatnya. Setiap calon pengantin pasti ingin semua hal menjelang pernikahannya tertata rapi dan tidak ada cacat sedikitpun. Sayangnya, kesibukan Kyuhyun sebagai pengaca membuatnya mengabaikan urusan fitting pakaian yang akan dikenakannya saat pengucapan janji suci dihadapan Tuhan nantinya.
" Oh ya, tadi Wookie sudah mencoba gaunnya. Sekarang giliranmu, Kibummie ~~"
Sungmin lalu memanggil seorang pegawai yang kebetulan sedang lewat didepan fitting room. Dan menyuruh untuk membawakan gaun yang sengaja ia siapkan untuk sahabatnya saat pernikahannya nanti.
" Gaun ? Gaun apa, Minnie ?"
" Kamu akan segera tau nantinya ~~" Sungmin mengedipkan sebelah matanya dan mengalihkan perhatiannya pada Minho yang berjongkok didepannya.
Beberapa menit kemudian, seorang pegawai menenteng sebuah gaun putih dan menggantungkannya di dekat cermin besar. Kibum menatap kagum dengan rancangan gaun yang langsung menarik matanya saat pertama melihatnya. Ia kembali mengingat kenangan indahnya bersama Siwon saat mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan.
" Nah.. " Sungmin meletakkan kedua tangannya pada bahu sahabatnya lalu mendorongnya mendekati cermin. " Coba dulu gaunnya. Pasti pas untuk tubuh seksimu, Nyonya Choi."
Sebelum Kibum melemparkan protes, Sungmin langsung memberikan kepada pegawai butik untuk menarik tirai ruangan khusus untuk berganti baju.
" Minho-ah ! Mau permen ?" bisik Sungmin pelan.
Minho langsung berjalan mendekati Sungmin sambil menatapnya dengan pandangan memohon.
" Kajja… Adjumma punya banyak ~~" Minho meraih uluran tangan Sungmin lalu berjalan keluar dari fitting room.
.
.
.
" Min… Aku rasa gaunnya tidak cocok untukku ?" seru Kibum saat melihat pantulan dirinya dari cermin. Ia merasa gaun yang dipilihkan Sungmin terlalu berlebihan. Sebaiknya ia mengenakan gaun miliknya saat datang ke pernikahan sahabat baiknya.
Kibum terus melihat balutan gaun yang melekat di tubuhnya. Sejujurnya ia menyukainya tapi biaya yang dikeluarkan Sungmin untuk membelikannya gaun pasti membuat anggaran biaya pernikahannya membengkak.
" Min …. " serunya lagi saat sahutannya tak kunjung mendapat jawaban. Masih dengan mengenakan gaun, tangan kurus Kibum segera menyibak tirai.
" Min, aku ti – Donghae !" Kedua kelopak mata Kibum terbelalak lebar saat melihat namja yang akhir-akhir ini mengunjungi tempatnya bekerja, kini duduk santai di sebuah sofa yang disediakan didalam fitting room.
Kedua tangan Donghae langsung memberikan tepukan keras begitu Kibum keluar. Matanya berbinar cerah saat melihat yeoja cantik yang berdiri mematung – tak jauh dari posisi duduknya sekarang –. Sungguh cantik untuk yeoja yang sudah cukup lama membina kehidupan rumah tangga. Dan gaun yang melekat di tubuh Kibum malah membuat kesempurnaan tubuhnya semakin menonjol.
" Sempurna !" Donghae beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Kibum. Matanya menatap lekat wajah memesona istri dari Siwon. Wajah yang tak pernah berubah semenjak pertama kali ia bertemu dengan Kibum.
" Apa yang kamu lakukan di sini, huh ?" gertak Kibum. Ia masih mencoba menahan ledakan amarahnya ketika jemari tangan Donghae meraba punggungnya yang terbuka. Ya, karena gaun yang dikenakan Kibum saat ini cenderung menonjolkan keindahan punggungnya.
Donghae dengan balutan jas hitam yang membuatnya selalu nampak menawan, memaksa Kibum untuk membalikkan tubuhnya. Ia lalu berdiri berdampingan dengan Kibum hingga bisa melihat pantulan dari cermin. " Aku menggantikan peran suamimu," jawabnya enteng.
" Jangan bicara bodoh."
" Siapa yang bodoh ? Perusahaan memberlakukan aturan ketat. Tidak akan ada rapat atau pertemuan dengan klien di hari libur." Namja tampan itu membetulkan dasi yang membelit krah kemejanya lalu melingkarkan lengannya di bahu Kibum. " Kamu terlalu polos,Kibummie."
.
.
.
Mata keduanya saling bertemu pandang untuk kesekian kalinya. Tidak ada yang mau membuka mulutnya untuk bersuara. Setidaknya menghilangkan kecanggungan yang sejak awal sudah menyelimuti ruangan Siwon. Semenjak kemuculan Lee Donghae kedalam ruangannya, semua kegiatannya yang sudah lama ia susun tertunda untuk sementara waktu. Ia juga masih dalam kondisi terkejut saat suara ketukan menyapa daun pintu ruangannya.
Sudah sejak lama Choi Siwon dan Lee Donghae bersahabat. Hingga suatu hari, kecantikan Kibum tertangkap oleh indera penglihatan sepasang sahabat tersebut. Lalu muncullah ide gila yang sebenarnya diusulkan Donghae. Dan yang kalah harus memberikan barang berharganya sebagai hadiah untuk sang pemenang.
Siwon sudah lama tidak melakukan komunikasi dengan namja bermarga Lee itu, akibat kehilangan jejaknya sejak kejadian malam itu. Sosok sahabat baiknya langsung hilang saat Siwon akan memberikan kartu undangan pernikahannya dengan Kibum.
Tapi… Setelah beberapa tahun terlewati, Donghae kembali muncul secara tiba-tiba di ruangannya. Bahkan tidak memberikan kabar apapun. Yang membuat Siwon heran adalah Donghae bisa memasuki perusahaannya tanpa ada masalah. Padahal saat ini hari libur dan semua ruangan di perusahaan lengang, tak berpenghuni. Bisa dipastikan pihak keamanan perusahaan selalu menutup pintu masuk perusahaan jika bukan hari efektif kerja.
" Sepertinya kamu tidak suka kedatanganku, Choi Siwon ?" Donghae sedikit memundurkan kursinya lalu menaikkan kedua kakinya di atas meja kerja sahabatnya. Ia tidak terlalu peduli dengan tatapan risih Siwon dengan perilaku tidak sopannya.
" Bagaimana kamu bisa masuk ke gedung ini, Hae ?"
" Oh, jadi ini caramu menyambut sahabat lamamu ?" Ia lalu menurunkan kakinya yang bertumpu di atas meja dan mencondongkan tubuhnya – mendekati Siwon – yang ada di seberang meja.
" Selamat datang di Seoul, Lee Donghae. Dan aku pikir hubungan kita renggang sejak aku mendapatkan Kim Kibum, bukan ?" Wajah Siwon kini mulai menampakkan sosok aslinya. Seringaian terpasang di bibir tipisnya.
" Hah… Sambutanmu tidak menarik, Tuan Choi. Dan sepertinya kamu sedang sibuk dengan klien istimewamu." Kedua kakinya yang dibalut sepatu kulit menapaki lantai ruangan dan berhenti tepat di tepian jendela. Matanya mengedarkan pandangan ke luar, pemandangan kota Seoul dari ketinggian memang terlihat indah.
Tangan kanannya terulur kedepan, menyentuhkan ujung jemarinya pada permukaan jendela. " Aku pamit." Beberapa detik setelah menyelesaikan ucapannya, tangan Donghae bergerak menyibak tirai yang ada di dekatnya. Di balik tirai jendela nampak seorang yeoja dengan pakaian setengah telanjang sedang bersembunyi.
Siwon meremas tepian kursinya saat melihat ulahnya didalam ruangan mampu terdeteksi sahabat lamanya. Nampaknya Donghae teramat hafal dengan setiap gerak-gerik dan tabiat asli Choi Siwon.
" Ups… Aku tidak sengaja, Choi."
" Katakan apa maumu, Tuan Lee ?" Siwon berlari menahan langkah Donghae yang sudah berada di dekat pintu ruangannya.
" Tidak ada," sahutnya cepat lalu menepuk kasar tangan Siwon yang mencengkeram lengannya.
Masih ada banyak pertanyaan yang terngiang di otak Siwon mengenai kembalinya Donghae yang mendadak. Tapi ia cukup yakin jika sahabatnya itu sedang merencanakan sesuatu yang belum mampu ia ketahui.
Di sisi lain, kembalinya Donghae akan mempersulitnya. Semua sisi buruk yang selama ini tersimpan rapi bisa saja terkuak dengan munculnya namja yang berasal dari Mokpo itu.
_TBC_
.
.
.
Hahh… FF ini terakhir update urrrmmm ~~ 26 September 2012. Beberapa bulan yang lalu xoxo… Agak lama update soalnya bingung mau nentuin karakter tokoh. Banyak yang pengen SiBum happy ending, sedangkan akhir-akhir ini saya pengen SiBum broken, pisah, tidak bersatu, pokoknya tidak boleh bahagia #dijambakSiBumShippers ^^
Akhirnya setelah melului perenungan panjang sambil liat Running Man ==', saya memutuskan untuk merahasiakan alur ceritanya hehehe… Pokoknya ditunggu aja… Pasti nanti kalian bakalan gregetan pengen cakar Siwon dan Kibum lol ^^
" Ki – Kibummieee…." Tiba-tiba suara berat itu menyerukan nama sang yeoja yang tengah terduduk sendirian mengisi kekosongan rumah. Langkah kakinya terus menapak masuk kedalam rumah dan matanya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Hingga matanya tertumbuk pada satu titik dimana seorang yeoja yang dicarinya tengah terduduk lesu di sudut ruangan.
Seolah memiliki suntikan tenaga setelah melihat sosok pujaan hatinya, namja tinggi itu berlari menghampirinya dan langsung meraih tubuh mungil itu kedalam kedapannya.
" YA ! Choi Minho ! Apa yang kamu lakukan di sini, huh ? Peranmu di FF ini sebagai anak dari Choi Siwon dan Choi Kibum." Choi Siwon bergegas menuruni anak tangga dan langsung menarik tubuh Kibum menjauh dari pelukan Minho.
" M – Mwo ? Aish,,, Kenapa aku selalu mendapat peran sebagai anak kalian, huh ? Bukankah pasangan MinBum juga cocok T_T."
" Authornya seorang SiBum shippers, Minho-ah ~" bisik Kibum lirih.
" Tapi aku dengar authornya juga suka MinBum. Bukankah dulu author Snowysmiles pernah membuat FF dengan pair ChangBum ? Ck! Aku akan protes. Aku juga ingin dipasangkan dengan Kibum huweeeee ~~~"
" Aish, jinjja ?" Siwon melirik Kibum yang menundukkan kepalanya. " Apa saja yang kamu lakukan dengan Changmin di FF itu, hum ?"
" Tidak ada,"sahutnya lirih, hampir tak terdengar.
" Akhir ceritanya bahagia ?"
" Umm … Ummm …" Kibum masih diam sambil menganggukkan kepalanya pelan.
" Apa yang dilakukan Changmin di FF itu ?"
" Aku mencium bibirnya, hyung huweeee ~~ Bibir Bummie manis kkk ~~~" sahut sosok yang tengah menjadi bahan pembicaraan Siwon – Kibum. Bibirnya mengulas cengiran lebar sebelum akhirnya matanya berkedip manja kearah Kibum.
" YA ! Aku tidak akan membiarkan ada pair lain, hanya SIBUM !" seru Siwon dengan wajah berapi-api.
" Hyung, aku dan Kibum akan menjadi pasangan lagi di FF selanjutnya. Author sudah memberitahuku judul FFnya dan disana aku bisa bermanja-manja dengan Kibummie kkk ~~" goda Changmin lagi sebelum menghilang di balik pintu. Takut jika Siwon menghajarnya.
" Aku ingin menghajar author sialan yang memasangkan Kibum-ku dengan Changmin grrrhhh ~~~"
AAAAAA ~~ Kenapa semua orang bersikap sadis ? Heeee ~~ kenapa banyak readers yang ngambek juga di kotak review FF Complicated T_T
LEAVE UR REVIEW ! hug hug hug ^^
