.

.

.

Jemari langsingnya menelusuri permukaan wajah tampan suaminya yang sudah terlelap dalam buaian alam mimpi. Rasanya begitu sulit mempercayai ucapan yang terlontar dari bibir namja bernama Lee Donghae itu. Bagaimana mungkin namja yang sudah setia berada disisinya selama 5 tahun ini hanya mempermainkan ikatan suci dihadapan Tuhan ? Wajah penuh wibawanya membuat hati kecil Kibum memberontak. Ia tidak ingin menggubris kata-kata Donghae yang berkecamuk dalam tempurung kepalanya.

Ketidakhadiran Siwon dalam masa tumbuh kembang Minho tidak bisa dijadikan acuan jika suaminya terindikasi memiliki skandal dengan wanita lain. Justru karena peran kepala keluarga yang ditanggung Siwon, membuat suaminya bekerja keras. Membangun karir dari posisi terendah hingga mencapai puncak karirnya seperti sekarang ini. Embel-embel marga keluarga Choi yang tersemat didepan namanya membuat Siwon berada dalam bayangan kekuasaan keluarganya. Secara psikologis, Siwon lebih merasa terbebani serta berusaha membungkam bibir orang yang mencibir kemampuannya. Ia memiliki ambisi dan tidak ingin mengalami kegagalan.

Kibum paham betul watak suaminya, belahan jiwanya, dan juga malaikat hidupnya. Sosok tegas dan penuh wibawa yang suaminya tekankan ketika berada di lingkungan kerja, tidak akan terbawa ketika berada di rumahnya. Rumah adalah area khusus untuk urusan pribadinya, tidak aka nada pembicaraan yang mengarahkannya pada pekerjaannya. Lebih dari 10 jam Siwon menghabiskan waktunya dengan pekerjaannya. Seringkali pekerjaannya merebut waktu yang sengaja ia sisihkan untuk keluarga kecilnya. Namun, Siwon selalu menekankan jika keluarga adalah prioritasnya. Semua jerih payah kerjanya akan ia persembahkan untuk istri dan buah hatinya.

Ujung ibu jarinya menekan pelan bibir tipis Siwon yang terkatup rapat. Permukaan bibir lembut yang selalu membuatnya tergoda untuk menyentuhnya. Pipi Kibum bersemu merah ketika lintasan memori ketika bibirnya memagut lembut bibir suaminya. Dirinya selalu merindukan kecupan hangat dari sang suami.

Kibum menarik ujung ibu jarinya yang menempel pada permukaan bibir Siwon, melesakkannya kedalam selimut tebal yang membungkus tubuhnya hingga sebatas leher. Oh jangan lupakan sengatan hawa dingin ketika malam menyapa. Kehangatan seketika menyelimuti tubuh mungil Kibum jika ia berbaring dibawah selimut yang sama dengan suaminya. Hawa tubuh Siwon akan dengan mudah menyengatnya.

Sebelum benar-benar memejamkan sepasang kelopak matanya, Kibum memekik tertahan saat tangan besar Siwon – yang melingkari pinggangnya – menariknya semakin rapat. Hingga menyebabkan ujung hidung Kibum menabrak dada bidang suaminya.

"Kenapa belum tidur, Kibummie ?" Suara berat Siwon memecah kesunyian ruang kamar yang dihuni keduanya. Membiarkan suara derit kaki ranjang menyeruak ketika tubuh besar Siwon memperbaiki posisi tidurnya.

Kibum menggerakkan telapak tangan kanannya yang menempel pada dada suaminya. Kelima jari tangannya mengusap baju hangat yang membalut tubuh kekar Siwon hingga menukik turun, menjelajahi perut berotot itu lalu mengakhirinya dengan usapan pada punggung suaminya. "Aku kedinginan," sahutnya ringan sembari membenamkan seluruh wajahnya pada dekapan hangat suaminya. Hidungnya mengendus aroma maskulin yang menguar dari tubuh sempurna sang suami.

Wajah Kibum terangkat saat ibu jari Siwon menarik dagu lancipnya. Kedua insan manusia yang terikat dalam hubungan pernikahan itu saling membalas tatapan dengan penuh makna. Kehangatan, kerinduan, kasih sayang, dan juga gairah akan sentuhan pasangan hidupnya.

Siwon merundukkan wajahnya, mengikis jarak bibirnya dengan bibir istrinya yang selalu menggoda gairahnya. Ah, ia tidak akan pernah merasa bosan jika setiap hari harus dipaksa mencicipi bibir merah Choi Kibum. Bahkan kebiasaan yang rutin ia lakukan adalah mencium bibir istrinya.

Ciuman itu hanya berlangsung selama beberapa detik. Dan ketika helaan nafas berat Kibum menggelitik indera pendengarannya, Siwon kembali meraih dagu Kibum agar bisa menatap langsung wajah bidadarinya.

"Ada apa ? Apa Minho berbuat usil pada pengasuh Park lagi ?" tanyanya dengan dahi mengerut. Pasalnya sudah banyak ulah menggemaskan bocah bermata bulat itu yang sering diadukan yeoja yang sudah menginjak usia separuh abad itu. Tapi semua orang dewasa akan memahami jika anak seusia Choi Minho sedang dalam masa aktifnya. Ingin mengetahui apa yang ada disekelilingnya serta mencoba hal-hal baru.

Kibum menggelengkan kepalanya pelan sambil menyembulkan bibir bagian bawahnya. "Tidak. Aku sedikit kesal karena akhir pekan ini suamiku menghilang," adunya dengan nada suara rendah. Sebenarnya Kibum hanya ingin mengetahui reaksi suaminya ketika dirinya menyuarakan rasa tidak sukanya. Ucapan Donghae benar-benar tidak bisa menjauhi otaknya. Selalu saja ucapan penuh keyakinan dari namja dengan aura misterius itu membuatnya penasaran.

Siwon tergelak. Ekspresi menggemaskan istrinya pasti berasal dari kebiasaan sahabatnya di café – Lee Sungmin – yang sering memamerkan aegyo. "Maaf. Klien memaksaku untuk bertemu di hari libur."

"Apa klienmu tidak memiliki etika ? Apa dia tidak tau jika Choi Siwon memiliki keluarga yang membutuhkan perhatian ?" gerutunya kesal dengan nada setengah membentak. Kibum bisa membayangkan tipikal klien yang dihadapi suaminya pasti tidak memiliki keluarga yang harmonis. Bagaimana mungkin seorang klien dengan keras kepala serta keegoisannya mengajak bertemu seorang kepala keluarga saat akhir pekan. Sungguh kenyataan yang menggelikan.

Hanya saja apa yang Kibum pikirkan tidak sesuai dengan kenyataannya di lapangan. Kibum hanya seorang istri yang tidak banyak ikut campur dengan pekerjaan suaminya. Tidak memahami seperti apa jenis pekerjaan yang Siwon jalani. Yang ia tau adalah suaminya bekerja didalam sebuah gedung pencakar langit.

Tanpa sepengetahuan istrinya, Siwon menelusupkan telapak tangannya dibalik baju hangat yang dikenakan istrinya. Mengusap punggung halus itu dengan gerakan lembut sembari memantulkan tatapan seolah membenarkan ucapan istrinya.

"Klienmu sangat menyebalkan," semprot Kibum dengan nafas terengah. Kepalan tangannya menghujam dada bidang suaminya dengan tinju-tinju kecil.

Siwon merundukkan kepalanya. Bibir basahnya mengecup pelipis istrinya cukup lama lalu beranjak mengendus pipi mulus Kibum. Tak lupa menghadiahi kedua pipi tembam Kibum dengan kecupan-kecupan ringan. "Kamu tidak tau betapa aku merindukan sosok cantikmu saat berada didekat klien."

"Eh… ?" Kibum memundurkan wajahnya saat bibir suaminya berusaha menggapai bibirnya. Siwon terlihat kesal karena gerakan cepat Kibum yang menggagalkan niatnya untuk mencecap rasa manis bibir pasangan hidupnya. "Jinjjayo ?"

Siwon menganggukkan kepalanya lemah lalu melumat bibir menggoda milik Kibum. Menyesapnya lembut lalu mendorong masuk seluruh lidahnya untuk menjelajahi rongga hangat mulut Kibum. Ujung lidahnya bergerak lincah menggelitik langit mulut Kibum hingga membuat istrinya mengerang.

"Aku kehilangan quality time bersamamu diatas ranjang," gumam Siwon dengan gerakan bibir menggoda.

"Hanya karena itu ?" dengus yeoja cantik itu. Siwon menghadiahi bibir istrinya dengan kecupan bertubi-tubi. "Ah… Siwonnie ~~" pekik Kibum kaget saat merasakan gerakan tangan dibalik punggungnya. Bahkan ia merasakan kait branya sudah terlepas.

"Hmm ~~ Waeyo ?" Siwon pura-pura memasang wajah bingung meski tangannya sudah mulai menarik ujung baju hangat yang dikenakan Kibum.

"An – aniyoo ~~"

Siwon merendahkan tubuhnya dan menghadiahi Kibum dengan kecupan pada permukaan bibirnya. "Lain waktu, aku akan menyisihkan akhir pekan untuk dirimu dan Minho." Tangannya kemudian menarik ujung selimut hingga menutupi punggungnya yang kini sudah berada diatas sosok cantik Kibum. Sosok yeoja yang berbaring pasrah dibawah kuasanya.

.

.

.

Tiga gelas yang mengisi meja makan sudah dipenuhi cairan berwarna putih kental dengan uap mengepul. Semerbak aroma sup yang masih tersaji diatas nyala api sudah menggoda 2 namja yang duduk diam pada kursi kayu.

"Eommaaaa ~~" Lengking suara bocah penghuni rumah membelah kesunyian ruangan. Si namja dewasa yang duduk di ujung meja hanya tersenyum geli melihat kedua tangan buah hatinya sudah memegang peralatan makan.

"Minhonnie lapar, ne ?" Siwon mencubit gemas pipi kemerahan Minho. Lalu tangannya bergerak menaikkan resleting jaket yang dipakai Minho hingga sebatas leher. Tusukan hawa dingin sangat rentan menyerang anak seusia Choi Minho. Untuk itu Kibum sangat memperhatikan kondisi anaknya secara detail. Bisa dipastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi Minho tidak menyebabkannya terserang penyakit musiman.

Bocah berambut pendek itu menganggukkan kepalanya dengan cepat. Kepalanya kembali menoleh kearah dapur yang hanya dibatasi oleh lemari kecil yang digunakan untuk memajang hiasan. Sepasang mata bulatnya mengamati punggung eommanya yang sibuk berkutat dengan sarapan pagi yang akan mengisi perutnya.

Suara gesekan kaki kursi menarik perhatian Minho. "Eoddiceyo appa ?" Mulutnya mengerucut imut saat telapak tangan appanya sudah bermain dengan rambutnya.

"Membantu eomma memasak," jawabnya singkat yang disertai dengan kedipan mata.

Siwon melangkahkan kakinya mendekati Kibum yang masih sibuk mengaduk sup. Tangannya melingkar pada pinggang ramping istrinya sebelum akhirnya meletakkan dagunya pada bahu Kibum.

"Harum…"

"Masakanku ?" sahutnya sembari mengendus aroma sup buatannya.

"Bukan. Tubuhmu harum, chagi…" Siwon menggigit kecil kulit leher Kibum yang terekspos karena rambut panjangnya digelung keatas.

Kibum menggerutu kesal lalu menggerakkan sikunya untuk menusuk tulang rusuk Siwon. "Jangan berbuat mesum didepan anakku."

"Minho masih duduk nyaman dikursi."

"Jinjja ?"

Siwon menganggukkan kepalanya yakin.

"Appaaaaa ~~"

Dan ternyata bocah menggemaskan itu sudah berada disamping tubuh kedua orangtuanya yang tengah bermesraan di dapur.

.

.

.

Kibum sedikit merasa lega hari ini. Pagi tadi sebelum berangkat ke kantor, Siwon menawarkan diri untuk mengantarkan Minho ke rumah pengasuh Park. Ya, meskipun suaminya jarang melakukannya, tapi Kibum tetap berusaha menghargai niat Siwon yang ingin menunjukkan diri sebagai ayah yang baik. Seringkali Kibum menceritakan sindiran pengasuh Park yang mempertanyakan keberadaan ayah dari Minho. Mungkin karena merasa jengah menjadi bahan sindiran, Siwon ingin sesekali menunjukkan wajahnya didepan pengasuh tua itu.

Beruntung juga karena selama seharian bekerja di café, seluruh pengunjung tidak melakukan protes. Hanya sesekali ada keributan kecil akibat meja café yang sudah penuh. Hal yang wajar dan Shindong sudah merencanakan untuk merenovasi café menjadi bangunan 2 lantai. Pikiran untuk memperluas café yang dihimpit bangunan lain tidak bisa direalisasikan. Sehingga alternatif pilihan untuk berpindah lokasi café ditolak mentah-mentah karena namja bermarga Shin itu akan kehilangan banyak pelanggan. Jadi, ide untuk memperbaiki bangunan menjadi 2 lantai adalah tawaran yang bisa terlaksana dalam waktu dekat.

"Minnie-ah… Bisakah aku mengganti tuxedo untuk pesta pernikahanmu ?" Suara sang bos menginterupsi ketiga yeoja yang sibuk menaikkan kursi keatas meja. Ya, hari ini Shindong memilih menutup cafenya lebih awal. Jam 6 lewat 10 menit, Shindong membalik papan bertuliskan 'closed' didepan pintu café.

Sungmin yang sudah melepaskan seragam putih yang biasa ia kenakan dibalik meja dapur, melirik sekilas Shindong. "Waeyo ?" Tangannya tetap bergerak membalik kursi dan meletakkannya diatas meja.

"Nari tidak suka. Katanya perutku terlalu menonjol," gerutunya kesal.

"Bukankah tempo hari kamu mengatakan jika tuxedo itu sudah pas ?" Ryeowook menepuk punggung Shindong pelan.

"2 hari ini porsi makanku naik, dan akibatnya perutku terlihat buncit," ucapnya sembari mengelus perut buncitnya.

"Lebih baik kamu diet, bos," goda Kibum sembari mengedipkan sebelah matanya. Godaannya diiringi tawa geli kedua sahabatnya yang lain.

"Kamu tau sendiri jika Nari amat suka memasak dengan aroma menggoda. Sulit untuk diet…"

Setelah semua kursi dinaikkan diatas meja, Sungmin berjalan mendekati Shindong yang tertunduk lesu. "Bisa. Aku akan meminta pegawai butik mengirimkan tuxedo dengan ukuran lebih besar ke rumahmu. Mungkin lusa."

"Ah,,, syukurlah. Aku tidak perlu diet lagi."

"Aigooo ~~ Tapi kamu harus memperhatikan ukuran lingkar pinggangmu juga, Shindongie," tegur Kibum lalu meraih tas selempangnya.

"Arraseo."

.

.

.

Kibum berjalan perlahan memijak jalanan yang tertutup salju. Matanya melirik mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Ia tidak sabar untuk menemui Minho lebih cepat. Jarang sekali Kibum memiliki waktu untuk berbincang dengan buah hatinya ketika malam sudah menjelang. Biasanya Kibum menjemput Minho dari rumah pengasuh Park ketika bocah menggemaskan itu sudah terlelap dalam tidurnya.

"Choi Kibum."

Kibum membalikkan tubuhnya saat suara yang berasal dari balik tubuhnya menyerukan namanya.

"Lee Donghae ?" ucapnya agak ragu karena guguran salju yang menghalangi pandangan matanya. Terlebih sosok namja dengan balutan mantel gelap itu mengenakan topi yang membuat wajahnya tertutup bayangan gelap.

Namja itu tersenyum misterius. Kedua tangannya dilesakkan kedalam saku mantel. "Masih mengingatku dengan baik ?"

Kibum jengah. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk berbincang dengan orang yang tidak ia sukai. Ia ingin menemui anaknya.

"Aku harus pergi. Aku tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan namja sepertimu." Kibum membalikkan tubuhnya dan segera menerobos kerumunan manusia yang berada didekatnya.

Kibum merasakan sebuah tangan mencekal lengannya.

"Aku ingin menunjukkan sebuah rahasia padamu, Kibum."

Yeoja cantik itu menatap tajam sosok Donghae yang terlihat serius. Tidak ada ukiran senyum meremehkan terpatri dibibirnya seperti beberapa hari yang lalu.

"Aku tidak memiliki waktu, Tuan Lee," tolaknya dengan nada halus.

"Aku tidak menerima penolakan, Nona Kim." Cekalan tangan Donghae pada lengannya semakin keras dan membuat Kibum tanpa sadar meloloskan erangan kesakitan.

Dan tanpa banyak perlawanan, Kibum membiarkan namja itu mendorongnya masuk kedalam sebuah mobil mewah yang terparkir ditepi jalan.

.

.

.

"Kita tidak memiliki undangan untuk masuk ke pesta ini, Tuan Lee," bisik Kibum dengan mata mendelik kesal.

Sementara Donghae hanya tersenyum meremehkan ucapan Kibum. Kedua tangannya membuka kancing mantelnya lalu meletakkan mantelnya di jok belakang mobilnya. "Aku memiliki apapun yang aku mau, Nona Kim." Tangannya melesak kedalam saku jasnya dan menarik sebuah kertas tebal berwarna silver.

Kibum diam. Ia tidak menyangka jika namja menyebalkan seperti Lee Donghae memiliki akses untuk memasuki pesta mewah yang diselenggarakan di sebuah hotel ternama. Memang penampilan Donghae sejak pertama bertemu terlihat bukan berasal dari kalangan berada. Namun Kibum harus mengakui setelah melihat mobil mewah yang ditumpanginya saat ini, ia yakin namja yang duduk dibalik kemudi bukan tipikal namja rendahan. Terbukti jas mahal yang melekat pada tubuhnya serta parfum yang menggelitik indera penciumannya.

"Kajja…"

"T – tapi…" Kibum berujar dengan wajah ragu. Wajahnya menunduk melihat penampilannya saat ini yang mengenakan celana panjang berwarna biru tua serta balutan jaket cokelat tebal. Sangat tidak pantas untuk memasuki pesta. Setidaknya Kibum harus mengenakan gaun yang mengisi salah satu lemari pakaiannya.

"Wae ?" Donghae membanting punggungnya pada kursi mobil.

"Aku tidak memakai gaun. Apa pantas memasuki pesta dengan pakaian seperti ini, Tuan Lee ?"

"Kamu pikir aku mengajakmu kemari untuk membaur dengan orang sombong dengan pakaian mahal itu ?"

Kibum memiringkan wajahnya, bingung. Lalu untuk apa Donghae mengajaknya ke pesta ?

"Aku mengajakmu kemari untuk mengungkapkan sebuah rahasia."

Donghae terlebih dulu turun dari mobil lalu diikuti Kibum dengan raut wajah kebingungan. Dan setelah melewati pihak keamanan hotel yang meminta tanda pengenal serta kertas berisi undangan pesta, keduanya diijinkan memasuki area hotel. Hilir-mudik pasangan namja – yeoja dengan pakaian mewah membuat Kibum menundukkan kepalanya. Ia merasa malu karena pakaiannya yang tidak cocok untuk memasuki area pesta.

Siwon seringkali mengajaknya untuk menghadiri jamuan makan malam atau pesta yang diadakan relasi bisnisnya. Untuk urusan ini Kibum sudah tidak canggung dan terbiasa. Namun ketika dirinya dihadapkan pada suasana pesta mewah namun pakaian yang melekat pada tubuhnya mengundang tatapan heran dari banyak orang, ia tidak mampu mengangkat wajahnya lagi.

"Perhatikan jalanmu, Nona Kim," tegur Donghae yang berdiri didepan Kibum. Ia seringkali ditubruk Kibum dari belakang. Dan ia cukup yakin Kibum bersembunyi dibalik punggungnya untuk menghindari tatapan beberapa pasang mata yang ada di area pesta.

"Harusnya aku tidak mengikuti perintahmu, Tuan Lee," sambar Kibum tak kalah tajam. Ujung sepatunya sengaja ia gerakkan untuk menendang sepatu kulit Donghae.

Tanpa Kibum duga, Donghae membalikkan tubuhnya dan menatapnya tajam. Tatapan yang berbeda ketika pertama kali bertemu di café tempatnya bekerja. Sepasang mata yang membuat bibirnya terkatup rapat.

Kibum tidak berusaha melawan ketika pergelangan tangannya dicengkeram Donghae, lalu menariknya kasar menerobos kerumunan manusia dengan tatapan menusuk.

Dan ketika cengkeraman pada pergelangan tangannya terlepas, yeoja berparas putih bersih itu mengangkat wajahnya. Sekarang ia sudah berdiri di sebuah lorong panjang yang disamping kanan dan kirinya dijejeri dengan lukisan artistik. Keramaian pesta juga sudah tidak tertangkap matanya hanya samar suara musik lembut mengalun merdu.

"Silahkan berjalan menuju ruangan itu, Nona Kim. Kamu akan mengetahui apa yang aku maksud." Kibum mengikuti gerakan tangan serta tatapan Donghae yang tertuju pada sebuah ruangan yang ada diujung lorong. Sebuah ruangan satu-satunya diarea lorong dengan daun pintu bercat cokelat tua.

"Memangnya ada apa disana ?"

Kibum tidak bisa bertindak gegabah dan menuruti setiap ucapan namja berwajah tampan itu. Ia harus tetap waspada.

"Kamu akan segera mengetahuinya. Aku akan menunggumu di sini."

Keduanya saling berpandangan cukup lama. Kibum berusaha meneliti raut wajah serta ekspresi wajah stoic Lee Donghae. Tapi yang didapatinya hanya tatapan namja itu yang semakin mengerikan.

Kibum menghela nafas berat sebelum akhirnya melangkahkan kakinya dengan gesekan pelan mendekati ruangan itu. Entah kenapa detak jantungnya berpacu cepat. Ia merasakan hal buruk akan menimpanya. Ada sebuah bisikan yang memaksanya untuk berbalik arah, namun dorongan rasa penasaran membuat langkah kakinya terus mendekati daun pintu.

Hanya tersisa beberapa langkah, Kibum menyadari jika daun pintu tersebut tidak tertutup rapat. Ada sedikit celah yang membuat cahaya terang dari dalam ruangan membuat setitik cahaya kearah lorong dengan penerangan sedikit gelap itu.

Tenggorokan Kibum tercekat ketika ia sudah berdiri tepat didepan pintu. Mendapati pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Ia akan beranjak mundur namun tertahan oleh sebuah rasa ingin tau yang besar.

'YA TUHAN !' batin Kibum menjerit kencang. Tangan kirinya membungkam bibirnya yang tak kuasa ingin berteriak. Sementara tangan kanannya meremas ujung jaketnya. Kibum merasakan kepalanya dihantam sebuah benda tumpul saat melihat rahasia yang dikatakan Donghae tadi.

.

.

.

Guyuran air yang mengaliri seluruh tubuhnya seolah tidak mampu membuat syaraf tubuhnya melemas. Sekujur tubuhnya kaku dengan kepala yang mendidih. Kilasan kejadian yang ditangkap langsung oleh sepasang matanya, membuat Kibum menggeram kesal. Selama ini ia selalu ditipu dan diperdaya dengan sikap lembut suaminya.

Sosok Siwon yang selalu membuatnya nyaman ketika bersandar, sosok ayah yang selalu membuat Minho terkagum, dan sosok suami idaman yang selalu dielukan banyak yeoja. Segala hal yang terlihat langsung oleh mata tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Nyatanya, Siwon tidak sesempurna yang ia idamkan.

Kenyataan yang begitu pahit harus Kibum peroleh dari orang lain. Itupun didasari oleh paksaan Donghae yang menyeretnya menuju sebuah ruangan yang jauh dari hiruk-pikuk pesta. Bagaimana mungkin keburukan suaminya tertutupi begitu rapat selama ini ? Entah ini akibat Kibum yang selalu terperdaya ucapan manis yang terlontar dari bibir Siwon, atau mungkin Kibum sesungguhnya tidak peka dengan perubahan sikap suaminya yang selalu pulang larut malam.

Kebanyakan yeoja memang akan mudah terperdaya dengan ketampanan seorang namja, jika ia sudah benar-benar jatuh terjerat dalam pesonanya. Mungkin Kibum adalah tipikal yeoja polos yang sudah jatuh hati dengan sosok berjiwa malaikat yang ditampilkan Siwon sejak pertama bertemu.

Kibum menghempaskan punggung telanjangnya pada dinding kamar mandi, menengadahkan wajahnya hingga guyuran air dingin menerpa langsung permukaan kulit mulusnya. Berharap dengan hempasan air dingin yang menyengat kulit mampu membawa kesadarannya kembali. Kibum sudah terlalu lama tertidur pulas dalam bayang wajah malaikat Siwon.

Siwon bukan sepenuhnya malaikat. Topeng wajah mempesona dengan ukiran senyum menawan hanya sebuah jebakan agar mangsa terjerat dalam perangkapnya. Seorang namja tidak akan memperdaya lawan jenisnya dengan sebuah tantangan menggelikan.

Yang terngiang dalam otak cantik Kibum adalah mengenai status hubungannya dengan Siwon. Apakah selama ini pernikahan yang selalu ia jaga hanya didasari sebuah trik semata ? Atau memang Siwon terpaksa menikahinya karena merasa iba dengan statusnya sebagai seorang anak sebatang kara di dunia ?

Kibum memutar kran yang ada disamping tubuhnya, seketika guyuran air dingin berhenti membasahi tubuhnya. Sepasang kakinya menjejak keluar dari bawah naungan shower dan meraih handuk putih yang berada ditumpukan lemari paling atas.

SRAAKK

Kibum menggeser pintu kamar mandi kemudian sepasang matanya langsung membelalak kaget ketika sosok suaminya sudah berdiri ditepi ranjang. Dengan posisi membelakanginya. Punggung tegapnya masih dibalut jas berwarna abu-abu, jas yang sama persis ketika mendapati suaminya bersama yeoja lain. Amarah yang sebelumnya sudah mampu Kibum redam, kini mulai merayapi otaknya. Kedua tangannya terkepal erat disamping tubuhnya.

Gemuruh rasa marah karena melihat suaminya bermesraan dengan yeoja lain. Menyalahkan dirinya sendiri yang selama ini dengan mudahnya dibodohi oleh suaminya yang tampan. Kibum merasa dunia memusuhinya seorang, memojokkannya ke sudut terpencil yang tidak mampu dijangkau manusia manapun. Mungkin kebahagiaan yang hakiki tidak pernah hinggap cukup lama dalam kehidupan Kibum.

Siwon yang mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, segera membalikkan tubuhnya dan mengembangkan senyum ketika mendapati istrinya dalam balutan handuk. Tetesan air mengalir dari ujung rambut Kibum yang masih basah.

"Apa dirimu tidak kedinginan, Kibummie ?"

Kibum memasang sikap waspada saat Siwon beranjak melangkah mendekat kearahnya. Matanya menatap siaga saat melihat suaminya sudah membuka sepasang lengannya lebar-lebar, seolah menawarkan sebuah kehangatan.

Tidak. Kibum tidak tergoda dengan dada bidang yang berbalut kemeja biru muda itu. Dada yang selama ini nyatanya tidak dinikmati Kibum seorang diri. Entah sudah berapa banyak yeoja yang menyandarkan kepalanya pada dada suaminya. Yang pasti, dada bidang suaminya sekarang ini terlihat menjijikkan dan amat sangat mengerikan baginya.

Kibum memundurkan langkah kakinya memasuki kembali area kamar mandi saat langkah Siwon semakin mendekatinya. Ragu dengan pelukan yang ditawarkan Siwon. Dada yang akan menjadi sandaran kepalanya masih meninggalkan jejak yeoja lain, meski tidak kentara tapi melekat kuat dalam benak Kibum. Ia mengamati dengan jelas bagaimana sosok yeoja berambut pirang itu mengusapkan jemari lentiknya sembari membuka kancing kemeja Siwon. Terpatri dengan pasti jika hidung si yeoja ketika menyesap aroma maskulin yang menguak dari tubuh menggairahkan suaminya.

Siwon mengerutkan dahinya bingung dengan sikap Kibum yang tidak segera menyambut lengannya yang terbuka lebar. Biasanya Kibum akan menghambur dalam pelukannya hanya dalam hitungan detik.

"Kibummie ~~ Gwenchana ?" Siwon mengulurkan telapak tangan kanannya kedepan, berusaha menangkup pipi berisi istrinya. Tapi Kibum semakin beringsut mundur dan menatapnya dengan pandangan ketakutan.

"Nan ~~ Gwen – chana ~~" jawabnya terputus-putus. Suhu tubuhnya berubah seketika. Aliran hawa dingin yang melingkupi tubuhnya serta rasa takut dengan sosok asli Choi Siwon, membuat nyali Kibum menciut. Ia tidak bisa menerka seperti apa watak asli suaminya. Selama ini Siwon begitu lihai memainkan peranan sebagai suami yang setia, ayah yang begitu perhatian pada buah hatinya, dan pekerja keras dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dalam satu langkah kaki panjang, Siwon meraih lengan telanjang Kibum lalu menariknya masuk kedalam pelukannya. Kedua lengannya merangkul erat tubuh mungil Kibum hingga terasa menempel erat pada dadanya. Namun Siwon merasakan sebuah gerakan penolakan dari istrinya.

"Ada apa denganmu, Choi Kibum ?"

Gerakan tubuh Kibum yang meronta dalam pelukan Siwon terhenti ketika suara berat sang suami menyentak pikirannya. Ada gurat nada ambigu yang tertangkap pada indera pendengarannya. Kibum juga menyadari jika pelukan Siwon tidak seketat tadi. Dengan satu dorongan kasar, Kibum mampu melepaskan diri dari kungkungan kehangatan tubuh Siwon.

"Harusnya aku yang bertanya padamu, Choi Siwon. Siapa dirimu dan ada apa dengan otakmu ?"

Siwon tergelak dalam tawa sembari menutupi ledakan tawanya dengan punggung tangannya. "Aku suamimu, Choi Kibum. Memangnya siapa lagi ?"

Kibum berjalan mundur ketika Siwon mengambil selangkah kedepan, mendekati tubuhnya yang masih tetap memasang gerakan siaga.

"Aku tidak cukup baik dalam mengenalmu."

Siwon kembali merentangkan kedua tangannya. Dilangkahkan kakinya dengan mantap. "Kamu mengenalku dengan baik, Kibummie. Berhenti bermain-main dan memasang wajah serius seperti itu. Kemari…" Namja tampan itu menggerakkan lengannya seolah menarik istrinya agar mendekat kearahnya. "Aku akan menghangatkanmu…"

Kibum menggelengkan kepalanya kuat. Ia tidak mau merasakan dada itu lagi. Ia tidak mau berdekatan dengan sosok Choi Siwon. Sosok namja tampan didepannya bukanlah suaminya. Bukan sosok 'pria malaikat' yang selalu dipujanya.

"Aku melihatmu bersama yeoja lain. Beberapa jam yang lalu. Di ruangan yang jauh dari keramaian pesta," ucapnya tegas dan pasti. Kibum tidak mungkin salah mengenali postur tubuh suaminya.

"Choi Kibum…" gumamnya dengan nada rendah. Dan Kibum merasa seperti seekor tikus yang berada dalam perangkap pemangsa yang bersiap mengoyak tubuhnya. Diperhatikan setiap langkah yang diambil Siwon saat berjalan mendekatinya. Ekspresi suaminya tidak terbaca.

Dan ketika Kibum meyadari jika tubuhnya kembali terpenjara dalam kungkungan tubuh besar Siwon, ia kembali meronta dengan seluruh tenaga yang dimilikinya. Lingkupan rasa amarah yang menyeruak dari dalam dirinya memberikan suatu kekuatan lebih.

Siwon mengetatkan pelukannya. Ia tidak akan melepaskan lingkaran lengannya pada tubuh Kibum.

"Kamu mencurigaiku ?" bisiknya pelan. Hembusan nafas hangatnya menggelitik bahu polos istrinya. Dan Siwon manyadari ketegangan tubuh Kibum akibat ulahnya.

Mengendus aroma wangi tubuh Kibum sembari memejamkan sepasang kelopak matanya, namja pemilik dimple smile itu meletakkan telapak tangan kanannya pada belakang kepala Kibum. Menepuknya pelan diiringi dengan tekanan agar kepala Kibum bersandar pada dadanya seperti biasa.

Namun Kibum bersikukuh, kepalanya secara sadar menolak untuk kembali meyentuh dada bidang Siwon.

Menyadari usahanya sia-sia, Siwon menyerah dan mengelus punggung halus Kibum dengan sentuhan ringan. Kepalanya sedikit merunduk, mendekatkan bibirnya pada daun telinga Kibum. "Kenapa dirimu baru menyadarinya sekarang, heh ?" Selanjutnya kekehan mengerikan meluncur dari bibir tipis Siwon.

_TBC_

.

.

.

Ya… Ya… Ya… Watak Choi Siwon di FF ini jauh berbeda dengan FF lain buatanku. Sesekali harus menampilkan karakter baru dan tidak monoton pada tokoh yang berperan protagonis. Harap kalian bisa memahami jalannya cerita dengan baik tanpa membenci karakter tokoh FF ini. Ini hanya sebuah fiksi semata. Dan jangan sangkut-pautkan karakter Siwon di FF ini dengan isu yang beredar didunia maya.

Aku paham jika hari ini ada beberapa orang yang mengeluarkan sedikit sindiran pada Siwon ketika berada di bandara. Dan aku harap kalian bisa menyikapinya dengan kepala dingin dan jalan pikiran yang benar. Aku tidak membela siapapun, aku netral.

Hanya saja, aku memberikan peringatan agar kalian tidak berubah haluan membenci sosok orang lain hanya karena sebuah fiksi. Jangan sangkutkan fiksi dengan dunia nyata. Toh kita sama-sama tidak tau seperti apa karakter asli si tokoh ^^

.

.

Maaf jika ada typo *bow*

.

.

Ada yang sudah baca FF I Never Told U ? Sejujurnya aku merasa bersalah karena sudah merengek ah lebih tepatnya memaksa author Lovemin untuk membuatkan FF SiBum. Aku sepenuhnya sadar dia adalah seorang KyuMin shipper namun menikmati beberapa FF buatanku juga. Sayangnya aku terlalu memaksakan kehendak dan terus memintanya untuk membuatkan FF. Maaf unnieeee…

Mengenai kelalaian author Lovemin dalam mencantumkan kredit kepada Harlequin, itu diluar tanggungjawabku. Tapi aku juga bukan mau lepas tangan dan menyerahkan kesalahan pada author Lovemin. Sebaliknya, aku menyatakan bahwa sepenuhnya kesalahan pantas dilimpahkan padaku. Seandainya aku tidak keras kepala. Dan aku cukup bodoh mengetahui jam kerja unnie yang bisa dikatakan padat dan tidak memiliki cukup waktu untuk mengetik FF bodoh yang aku inginkan.

Untuk LOVEMIN unnie ~~ Kalo unnie merasa terbebani, lebih baik hentikan saja FF itu. Atau lanjutkan sesuai isi asli novelnya, karena jujur saja aku belum pernah membaca satupun novel karya Harlequen. Aku tidak akan memaksa unnie lagi. Cukup unnie menikmati FF SiBum buatanku saja.

FYI, ide FF His Pleasure sepenuhnya berasal dari Lovemin unnie ^^ Aku mengembangkan ide yang ditawarkannya.

Thanks all ~~