Menyadari usahanya sia-sia, Siwon menyerah dan mengelus punggung halus Kibum dengan sentuhan ringan. Kepalanya sedikit merunduk, mendekatkan bibirnya pada daun telinga Kibum. "Kenapa dirimu baru menyadarinya sekarang, heh ?" Selanjutnya kekehan mengerikan meluncur dari bibir tipis Siwon.
.
.
.
STORY ABOUT MY MARRIAGE
.
.
.
Cast : Choi Siwon x Choi Kibum
and little Choi Minho
Rate : T
Genre : Hurt / Comfort, Family, Romance ^^
Desclaimer :
I own nothing, except this story.
All Super Junior members belong to GOD and their self.
If you don't like this story or couples, leave this site quitely.
! Genderswitch
.
.
.
"Ssshh – " Bibirnya meluncurkan ringisan samar saat tengah berada di ruangan khusus pegawai café. Kibum baru saja tiba di café dan bergegas memasuki area ruangan pegawai untuk berganti pakaian.
Mungkin karena terlalu terburu-buru dan ingin segera membantu Ryeowook serta Sungmin – yang terlihat menurunkan kursi yang diletakkan diatas meja –, Kibum secara tidak sengaja menubruk pintu kayu. Bukan karena akibat benturan yang diterima bahunya ketika menabrak pintu tersebut, hanya saja benturan ringan itu secara tidak sengaja mengenai bekas memar yang menghiasi bahunya.
Kalian tentu bertanya darimana asal luka memar yang meninggalkan jejak dibeberapa anggota tubuh yeoja cantik itu, bukan ?
Semenjak Kibum mendapati suaminya tengah bercumbu dengan yeoja lain, semenjak itu pula perangai asli seorang Choi Siwon terlihat. Bahkan sejak malam itu, Kibum sudah menerima satu tamparan keras yang menyebabkan bekas kemerahan disatu sisi pipinya.
Kalian tidak akan pernah berpikir jika sosok Siwon yang selama ini terkenal hangat dan penuh kasih sayang, ternyata menyembunyikan wajah aslinya dibalik topengnya lebih dari 5 tahun ini.
"Kibummie… Bisakah kamu membantuku untuk membersihkan meja ?" teriakn Ryeowook yang melengking seketika membuat lamunan Kibum buyar.
"Ne," sahutnya dengan terburu-buru. Kemudian Kibum menepuk kedua pipinya lalu ia berlari kearah kaca besar yang berada didekat loker. Sepasang matanya menatap pantulan dirinya yang terlihat sedikit pucat hari ini. Namun bukan itu yang dipikirkan Kibum saat meraba bekas keunguan yang menghiasi dahinya.
Beberapa hari yang lalu Kibum mendapati Siwon pulang larut malam dalam keadaan mabuk berat. Beruntung saat itu Minho tidak terbangun dengan suara gaduh yang ditimbulkan ayahnya ketika berjalan menaiki anak tangga – menuju kamar mereka –. Bibir Siwon tidak pernah berhenti merancau selama Kibum memapah tubuhnya menuju kamar mereka. Hingga Kibum berhasil merebahkan tubuh besar suaminya diatas ranjang, yeoja itu tetap melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik. Kedua tangannya dengan terampil melucuti kemeja serta celana kain yang membalut tubuh sempurna Siwon, lalu menggantinya dengan pakaian hangat. Dan saat Kibum akan membasuh wajah suaminya yang terlihat kacau dan meninggalkan jejak lipstik, yang didapati Kibum adalah dorongan kuat dari Siwon yang membuatnya jatuh terjungkal. Hingga tanpa sadar membuat kepalanya terantuk meja kecil yang ada disisi ranjang.
"Kibum !"
Sungmin terlihat berdiri diambang pintu ruangan khusus pegawai. Satu tangannya masih memegang handle pintu sembari melayangkan tatapan heran pada Kibum.
Menyadari tatapan sang koki cantik yang tertuju padanya – melalui pantulan cermin didepannya –, Kibum segera menundukkan sedikit wajahnya lalu menarik poni pendeknya hingg menutupi dahinya.
"Kamu sakit ?" tanyanya dengan raut wajah nampak gelisah melihat gelagat aneh sahabatnya.
"A – aniyo. Hanya saja aku sedang merapikan rambutku." Kibum berusaha serapi mungkin menyembunyikan bekas luka didahinya dengan helain poni pendeknya. "5 menit lagi aku akan keluar, Sungminnie," sambungnya lagi. Secara tidak langsung Kibum memberikan isyarat bagi Sungmin untuk membiarkan Kibum berada dalam ruangan seorang diri.
Meski sedikit terkejut dengan jawaban Kibum. Pada akhirnya Sungmin menurut. "Arraseo. Aku menunggumu," jawabnya sebelum menghilang dibalik pintu.
Kibum menghela nafas lega. Ia merasa kesulitan jika harus menyembunyikan masalah rumah tangganya jika orang disekitarnya terlalu memperhatikan kondisinya seperti ini. Kibum sudah merasa nyaman dan akrab ketika berada didekat Sungmin, Ryeowook, dan Shindong. Rutinitas mereka yang selalu bertemu dalam satu lingkup ruang kerja yang sama, tanpa sadar menimbulkan ikatan yang semakin kuat sebagai teman sejak semasa kuliah.
Begitu juga dengan Jaejoong. Kibum memang jarang bertemu dengan yeoja berparas cantik itu karena lokasi kerja mereka yang terbentang jauh. Tapi baik Kibum maupun Jaejoong tidak memutus komunikasi. Keduanya sering bertelepon setiap akhir pekan. 2 kali dalam sebulan, setidaknya kedua yeoja cantik itu akan bertemu di sebuah café.
"Jika terus seperti ini, kemungkinan besar mereka akan mengetahui masalahku," gumamnya lirih setelah menyelesaikan tatanan poni yang mampu menutupi bekas benturan didahinya.
.
.
.
"Aku memesan segelas cappuccino hangat."
Kibum menganggukkan kepalanya pelan saat salah seorang pengunjung langsung menghampirinya – yang berdiri dibalik meja kasir – untuk memesan segelas minuman hangat. Yah, cuaca dingin Seoul yang menusuk tulang memang memaksa setiap orang untuk menghangatkan tubuh masing-masing. Salah satunya dengan minuman hangat yang sedikit mengalirkan rasa panas kedalam anggota tubuh.
Dengan cekatan, tangannya meracik cappuccino sesuai dengan pesanan sang pengunjung. Hingga takaran cairan berwarna cokelat pudar itu hampir memenuhi gelas, Kibum meraih tutup gelas yang berbahan dasar plastik – ramah lingkungan –.
"2.000 won, Tuan." Kibum meletakkan segelas cappuccino hangat didepan si pengunjung. Tidak lupa bibirnya melengkungkan seulas senyuman ramah.
Kibum menatap bingung ketika sosok pengunjung didepannya yang memakai mantel hitam serta topi – bahkan menutupi separuh wajahnya – terlihat menengokkan kepalanya keseluruh sisi café.
"Tuan, gwenchanayo ?" tanyanya dengan wajah khawatir.
Tepat ketika wajah pengunjung tadi bertatapan langsung dengan wajahnya, Kibum langsung tertegun. Ia dapat dengan mudah mengenali sosok didepannya ini. Dia… Lee Donghae.
"Nona Kim, aku tidak akan terlalu lama berada di sini." Donghae dengan sengaja memutus ucapannya kemudian kembali menengokkan kepalanya kebelakang. Seolah sedang melakukan transaksi haram dengan Kibum. Setelah memastikan kondisi sekitarnya aman, Donghae merogoh saku mantel hitamnya lalu menarik sobekan kertas dari dalam sakunya. Dengan sengaja ia menggenggam sobekan kertas itu bersamaan dengan uang untuk membayar segelas cappuccino pesanannya."Aku harap kita bisa berbicara selama beberapa menit." Satu tangan Donghae yang bebas meraih telapak tangan kanan Kibum lalu meletakkan uang serta sobekan kertas tadi.
Kibum menggenggam uang kertas serta sobekan yang sengaja Donghae sembunyikan. Hanya sebuah anggukan samar ia berikan sebelum Donghae keluar dari pintu café. Kepalan tangan kanannya – yang masih menggenggam uang serta sobekan kertas – ia sembunyikan dibalik saku rok yang ia kenakan. Sesegera mungkin Kibum berjalan terbirit ke gudang penyimpanan bahan makanan. Tentunya setelah memastikan tidak ada order yang harus ia tangani.
Ketika membuka sobekan kertas yang sudah berbentuk gumpalan, mata indahnya mencoba membaca satu persatu huruf dalam keadaan pencahayaan remang. Disana tertulis alamat sebuah café mewah yang beberapa kali menghiasi halaman sebuah majalah langganannya. Dibawah alamat cefe tersebut juga tertera beberapa digit nomor telepon. Tidak dijelaskan siapa pemilik nomor, namun bisa dipastikan jika nomor itu sengaja ditinggalkan agar Kibum mau menghubungi jika berniat untuk bertemu namja tampan itu.
CKLEK
Saat terdengar suara pintu gudang terbuka, Kibum dengan cepat kembali melesakkan sobekan kertas itu kedalam saku roknya.
"Kibummie ?" Ryeowook yang berdiri diambang pintu menatap sahabatnya dengan wajah setengah terkejut.
Ya, karena Kibum berdiri diantara himpitan rak dengan tinggi menjulang. Ditambah penerangan di gudang penyimpanan hanya berasal dari celah kecil sehingga ada sedikit sinar terang keadaan luar menelusup masuk.
Mendadak Kibum panik dan bingung akan memberikan alasan apa agar yeoja bertubuh mungil itu mau mempercayainya. Lagipula Kibum jarang sekali masuk area ruang penyimpanan bahan makanan. Biasanya Sungmin dan koki lain yang sering keluar masuk gudang untuk mengambil bahan makanan.
"Ah ~ Wookie," serunya dengan ekspresi wajah sedikit merengut. Kedua kakinya menghentak lantai gudang hingga menimbulkan suara ketukan samar.
"Sedang apa di gudang ?" Ryeowook melangkahkan kakinya masuk kedalam gudang. Tak lupa menutup pintu dibelakangnya. "Dan lagi, kenapa tidak menyalakan lampu ?" Tangannya terulur meraba dinding terdekat, mencoba mencari saklar yang menghubungkan dengan lampu penerangan gudang.
TAP
Satu lampu yang berada tepat di tengah ruang gudang menyala.
"Ssstt…" Kibum meletakkan jari telunjuknya tepat didepan bibirnya. Ia lalu berjalan menghampiri Ryeowook yang menaruh rasa penasaran dengan sikapnya. "Aku sedang ingin makan cokelat gratis. Moodku akhir-akhir ini sedang buruk, Wookie-ah."
Good job, Choi Kibum !
"Heungg ~~ Hanya karena itu kamu sampai mengendap masuk kedalam gudang ?"
Kibum menganggukkan kepalanya dengan gerakan konstan. Beruntung sekelebat ide melintas diotaknya. Meskipun sebelumnya ia berpikir jika alasan konyol yang dibuatnya kemungkinan besar tidak akan dipercayai istri dari Kim Jongwoon tersebut.
Tiba-tiba saja Ryeowook menggenggam pergelangan tangan Kibum kemudian menariknya menelusuri deretan rak dengan aneka macam bahan makanan. "Aku pikir hanya diriku yang sering mengambil cokelat dari gudang. Ternyata dirimu juga, Kibummie ~~"
Ryeowook melepaskan genggaman tangannya lalu berjalan mendahului Kibum menuju sebuah deretan rak yang berada di pojok ruangan. "Kata Sungmin, ini adalah cokelat terbaik yang dimiliki café ini." Tangannya mengulurkan sepotong cokelat kedepan mulut Kibum.
"Benarkah ?" Kibum mulai membuka mulutnya dan menerima suapan sepotong cokelat yang diulurkan Ryeowook.
Satu potong cokelat juga melesak memasuki rongga mulut yeoja bertubuh mungil itu. "Ne. Sungmin sering membacakanku dongeng ketika ia sedang bertengkar dengan Tuan Cho. Dan kamu tentu tau isi dongeng dari Nona Lee, bukan ?"
Kibum tanpa sadar menganggukkan kepalanya. Ia cukup paham jika profesi koki yang dijalani Sungmin selama beberapa tahun telah membuatnya mengenali setiap jenis bahan makanan. Tidak heran jika berada didalam pantry seorang diri, untuk mengusir rasa sepinya Sungmin sering berceloteh tentang nama beraneka macam bahan makanan.
.
.
.
Di sebuah ruangan kerja yang dilengkapi dengan bar mini, sepasang anak manusia terlihat sibuk bermesraan. Tidak peduli dengan lalu-lalang manusia yang diluar sana sibuk memantau arus perekonomian.
"Aku sudah mem-booking sebuah restoran untuk makan malam kita, chagi." Siwon membelai lembut rambut kecoklatan seorang yeoja yang tengah duduk diatas pangkuannya. Selama seminggu ini, Siwon sudah menduduki jabatan yang sejak lama ditawarkan eommanya. CEO untuk Choi company.
Senyuman merekah terukir pada bibir pink menggoda Jessica Jung. Yeoja yang selama 6 bulan belakangan ini menjadi kekasih gelap Siwon. Jemarinya yang lentik mengusap kemeja Siwon yang terbuka – karena 3 kancing teratas kemeja sengaja ia buka –. "Terimakasih, oppa ~~" ucapnya manja. Tubuhnya sedikit ia majukan lalu mengecup lama bibir tipis Siwon.
"Sama-sama. Apapun akan aku berikan untukmu, Nona Jung." Kelima jari tangan Siwon merayapi lengan Jessica dengan gerakan menggoda. Satu sudut bibirnya tertarik kesamping.
Jessica balas menggoda namja tampan didepannya. Bibirnya yang berjarak begitu dekat dengan wajah Siwon segera mengecup seduktif daun telinga sang kekasih. "Sekarang ?" bisiknya sambil menggerakkan tangannya sendiri untuk menurunkan resleting gaunnya.
Siwon tidak bisa menyembunyikan seringaiannya. Bibirnya mengecup bahu mulus Jessica. "Tentu. Aku ingin mendapatkan hadiahku saat ini juga."
.
.
.
Donghae tersenyum sekilas menatap layar smartphone yang berada dalam genggaman tangannya. Sudah berulangkali kepalanya tertunduk untuk memastikan jika pesan singkat yang diterimanya sejak 3 jam yang lalu bukan imajinasinya semata.
Donghae berpikir akan sulit membuat Kibum keluar dari café mungil itu. Sebagai catatan, Donghae sudah cukup paham mengenai jadwal kerja yeoja berparas menawan itu.
Nyatanya, hanya berselang satu jam setelah kunjungannya ke café milik Shin Donghee, smartphonenya berbunyi yang menandakan ada pesan masuk. Dan jika namja bermata cemerlang itu tidak salah menghitung waktu, maka tepat jam 4 sore inilah Kibum akan menemuinya.
"Tuan… Nona Kim sudah memasuki pelataran café." Salah seorang namja dengan balutan tuxedo rapi menghampiri Donghae yang duduk di sebuah sofa beludru berwarna merah terang.
Sesaat, Donghae tersenyum tipis lalu menggerakkan jemari tangannya untuk mengusap permukaan bibirnya dengan gaya menggoda. "Baiklah. Aku akan menjemput puteri kecilku. Kalian siapkan semuanya," titahnya dengan nada tegas.
.
.
.
Kibum sengaja meminta ijin untuk pulang lebih awal dengan alasan ada pertemuan keluarga. Sebenarnya, Kibum sudah tidak sabar untuk bertemu Donghae. Ia masih merasa penasaran dengan rahasia yang dimiliki oleh namja itu mengenai suaminya.
Kibum merasa tertampar keras mengetahui perselingkuhan Siwon. Selama ini Kibum selalu beranggapan jika Siwon adalah suami paling setia yang berada di dunia ini. Dari gerak-geriknya pun tidak terlihat namja berparas rupawan itu menunjukkan rasa ketertarikan dengan yeoja lain. Tumpukan pekerjaan kantor saja sudah merenggut perhatiannya.
Kibum melirik smartphonenya yang sengaja ia letakkan diatas dashboard mobil. Sekilas merasa ragu untuk menemui Donghae lagi. Kibum masih penasaran dengan rahasia suaminya yang mungkin saja akan Donghae kemukakan padanya.
Dari dalam mobil, Kibum melihat 2 orang namja dengan balutan tuxedo rapi berjalan kearah mobilnya terparkir. Hingga satu ketukan menyapa jendela mobilnya.
Kibum membuka jendela mobilnya dan membiarkan satu dari 2 orang namja itu menundukkan tubuhnya. "Annyeonghaseyo, Nona Kim. Tuan Lee sudah menunggu Anda. Kami akan mengantarkan Anda kepadanya."
Kibum menurut. Setelah menarik resleting jaketnya, yeoja dengan polesan make-up minim itu berjalan dibelakang keduan namja dengan tinggi menjulang.
Selama 5 menit, Kibum membiarkan 2 namja dengan ekspresi wajah minim itu membimbing langkahnya menemui Lee Donghae. Tepat ketika lift yang membawa ketiganya ke salah satu lantai – pada gedung pencakar langit – berdenting, kedua namja tadi langsung menyingkir dari pintu lift.
Karena saat pintu lift terbuka lebar, sosok Donghae dengan balutan jas rapi sudah berdiri menunggunya.
"Selamat malam, Nona Kim," sapanya ramah lalu mengulurkan sebelah tangannya.
Kibum meraih uluran tangan namja bertubuh kekar itu. Tanpa menyadari jika lengan jaketnya tertarik hingga menampakkan bekas keunguan yang tertinggal di pergelangan tangannya.
Warna yang cukup kontras pada kulit tubuh Kibum itu membuat rahang Donghae mengeras dengan sendirinya.
.
.
.
"Kamu beruntung Siwon tidak mematahkan tanganmu menjadi beberapa bagian." Donghae mengulas senyum tipis. Tangannya masih dengan setia mengusapkan gel dingin pada bekas keunguan yang tertinggal di pergelangan tangan Kibum. Kibum hanya diam sambil mengamati bagaimana sentuhan jari Donghae yang seringan kapas ketika mengoleskan gel tersebut pada lebamnya. Untuk saat ini, Kibum mengambil kesimpulan jika menilai seseorang tidak bisa diukur melalui polah perilakunya. Mungkin sebaliknya, melalui bagaimana cara seorang namja memperlakukan yeoja dengan begitu sopan dan menghargainya.
"Aku rasa dirimu sudah mengetahui jika Siwon memegang sabuk hitam taekwondo, bukan ?"
Kibum menganggukkan kepalanya patuh. Membenarkan ucapan Donghae mengenai suaminya. Ia sendiri melihat jejeran medali serta piala kejuaraan taekwondo yang dipajang di ruang keluarga mansion Choi.
Selesai membalurkan gel dingin – yang beberapa saat yang lalu dibawakan salah seorang pengawalnya –, Donghae meraih segelas teh yang menebarkan aroma melati yang harum kepada Kibum. "Minumlah selagi hangat, Nona Kim."
"Apa minuman ini aman ?" tanyanya sembari menatap cangkir yang berada didepan matanya. Sekilas ia melirik kearah pengawal yang sebelumnya mengantarkan satu set teko beserta 2 cangkir berisi teh.
Donghae tertawa terbahak mendapati sikap waspada Kibum kepadanya. "Apa aku terlihat begitu jahat dimatamu, Kibum-ah ? Minuman ini aman. Kamu bisa mempercayai ucapanku." Dengan gerakan tangan, namja dengan tampilan menawan itu memberikan isyarat kepada pengawal yang berdiri didekatnya untuk mengulurkan cangkir berisi teh kepadanya.
Kibum dengan terpaksa menerima uluran teh yang disodorkan Donghae. Tapi ia tetap memegang cangkirnya tanpa berniat menyesap minumannya. Ia menunggu hingga satu tegukan teh mengaliri tenggorokan namja itu.
"Aman," ulangnya setelah cairan manis mengaliri tenggorokannya. Satu senyuman kembali menghiasi bibirnya.
Kibum menurut. Ia meneguk beberapa kali cairan teh hingga membuat lambungnya merasakan sengatan hawa hangat. "Jadi – " Kibum mengulurkan cangkir miliknya kepada Donghae. " – apa yang akan dirimu bicarakan malam ini, Tuan Lee ?"
"Awalnya aku memang ingin sedikit berbicara denganmu. Tapi melihat kondisimu saat ini, aku memilih menunda pembicaraan kita. Aku akan menemuimu beberapa hari lagi."
Donghae beranjak dari duduknya lalu memberikan gerakan kepala kepada beberapa pengawalnya yang berada didalam ruangan.
Baru 2 langkah berjalan menjauhi sofa, dengan gerakan tiba-tiba Donghae berbalik arah lalu meraih kedua pipi Kibum, hingga membuat kedua matanya bertatapan langsung dengan obsidian jernih itu. "Istirahatlah…" gumamnya lembut sebelum akhirnya meninggalkan satu kecupan ringan pada puncak kepala Kibum.
.
.
.
Hubungan Kibum dengan suaminya menjadi sedikit renggang, ah lebih tepatnya Kibum sengaja menjauhi serta menjaga jarak. Beruntung keberadaan Minho yang selalu mengekor langkah kakinya sedikit membantu Kibum untuk mengelak, atau sekedar menghindari tatapan mata Siwon ketika berada didekatnya.
Perasaan kurang nyaman saat berada dalam satu atap bersama Siwon, yang sudah tertangkap basah tengah bercumbu dengan yeoja lain, membuat Kibum muak. Ingin sekali dirinya meninggalkan rumah yang selama ini memberinya kehangatan.
"Eunggghh ~~" Bibir merahnya melenguh pelan. Pejaman matanya terusik saat merasakan gerakan pelan merambati permukaan kulitnya.
"Tidurlah. Aku hanya mengobati lukamu," bisiknya. Jari tangannya mengusap gel dingin – yang tidak sengaja tertangkap matanya – ketika hendak berbaring disisi istrinya, Choi Kibum.
Siwon terus memberikan tiupan udara kosong yang berasal dari mulutnya saat jari tangannya mengusapkan gel pada bekas yang tertinggal didahi istrinya. Sepasang matanya tidak sengaja menangkap bekas keunguan lain yang tertinggal dibagian tubuh mulus Kibum.
"Tidurlah…" bisiknya lagi. Kedua lengannya merengkuh tubuh Kibum yang 2 kali lebih kecil darinya. Mendekap erat salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang menemaninya mengarungi kehidupan.
Sementara Kibum yang setengah terjaga ketika mendapati perlakuan Siwon, hanya mampu bergumam tanpa mengeluarkan suara. Usapan yang diterima tubuhnya serta hembusan nafas teratur yang membelai puncak kepalanya, semakin menariknya untuk terlelap.
.
.
.
Kibum masih melakukan rutinitas hariannya seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Ia masih merasa risih setiap kali sahabatnya berada didekatnya. Karena Kibum takut luka lebam yang masih sering diterimanya akan menimbulkan kecurigaan pada sahabatnya.
"Kim Kibum ?"
Kibum menoleh sekilas kearah sebuah meja. Atau lebih tepatnya pada sosok si pengunjung yang tengah menatapnya dengan pandangan tertegun. Atau mungkin tatapan yang sama ketika dirinya bertemu dengan Donghae untuk pertama kalinya. Dan sialnya, namja yang saat ini memanggil namanya juga menduduki kursi yang saat itu Donghae gunakan.
Namja dengan tatapan mata memancarkan kilatan perasaan senang langsung berdiri dari duduknya. "Kamu Kim Kibum, kan ?" tanyanya dengan intonasi suara menuntut jawaban cepat.
Sementara Kibum masih dengan dahi berkerut bingung masih berusaha mengingat rupa fisik namja didepannya. Kibum tidak terlalu memiliki ingatan yang baik jadi ia berusaha keras menelusuri rupa serta bentuk tubuh lawan bicaranya.
Namja dengan balutan t-shirt polos itu terlihat gemas dengan ekspresi Kibum yang sedang berpikir. Bibir merah merekah Kibum sangat menggoda bagi siapa saja yang kini menatapnya.
"Kamu tidak ingat denganku ?" Jari telunjuk si namja menunjuk wajahnya sendiri. Merasa kesal sekaligus senang disaat yang bersamaan.
"Nuguya ?" Akhirnya Kibum memilih menyerah. Ia tidak pandai mengingat memori yang terjadi beberapa tahun silam. Lagipula Kibum tipikal yeoja yang tidak terlalu suka untuk menghafalkan struktur wajah orang lain. Kecuali orang itu memang memiliki hubungan dekat dengannya.
Namja itu mendengus kesal kemudian berdecih pelan. "Arraseo. Lihat aku baik-baik, ne," semburnya. Kemudian namja itu menepuk pipinya dengan kedua telapak tangannya. Pipinya yang semula tirus dengan sengaja digembungkan sehingga terlihat chubby.
Kibum mengerjapkan sepasang kelopak matanya beberapa kali. Agak aneh dengan tingkah namja yang tiba-tiba saja mengetahui namanya. 'Apa dia ingin melawak didepanku ?' batinnya.
Namja itu lalu memakai kacamata tebal yang selalu dibawa kemanapun ia pergi. Dengan wajah sengaja dibuat lucu, ia kemudian mengacak tatanan rambutnya yang semula rapi menjadi berantakan. "Annyeong, Kibum-ah," sapanya dengan suara lucu.
Kibum tercengang. Suara lucu yang baru saja didengarnya mengingatkannya pada teman masa sekolahnya dulu. Belum lagi lingkaran hitam dibawah mata si namja semakin membuatnya yakin.
"Lee Jonghyun !"
.
.
.
"Yah… Dasar pikun," seru Jonghyun dengan diiringi kekehan tawa yang membuat sepasang dimple nampak dikedua sisi pipinya. Namja itu tidak pernah berubah sejak dulu. Bahkan semakin terlihat tampan dan dewasa.
Kibum merengut kesal. Sejak dulu ia selalu mendapatkan cemoohan yang sama dari sang sahabat. "Ish… Seharusnya kamu sejak tadi menyebutkan namamu, Jonghyun-ah. Bukan malah bermain tebak-tebakan seperti anak SD."
Dulu, sekitar 11 tahun yang lalu, saat Kibum masih duduk dikelas 2 SMA, ia memiliki seorang teman akrab yang selalu menemaninya berburu buku baru di perpustakaan. Kebanyakan siswa di sekolah menyebut keduanya sebagai perpustakaan berjalan. Yah, karena Kibum maupun Jonghyun dipastikan selalu mendekap minimal sebuah buku setiap berada di area sekolah.
Kibum tertarik dengan segala hal. Ia menyukai segala jenis ilmu pengetahuan baru yang didapatnya. Sedangkan Jonghyun, karena ayahnya memiliki toko elektronik, namja dengan potongan rambut rapi itu menyukai dunia ilmu teknologi. Tidak jarang karena kemampuan Jonghyun yang cukup baik meski usianya masih muda, ada beberapa teman yang meminta bantuan Jonghyun untuk meretas website tertentu.
"Bagaimana dengan mimpimu ?" tanyanya setelah menyuapkan sesendok pie apel kedalam mulutnya. Kedua pipinya terlihat menggembung karena suapan pie dalam porsi besar.
"Mimpiku ?" Sekali lagi Kibum harus mengingat ucapannya dimasa lalu. Kedua alisnya terangkat naik hingga membuat ujung alisnya hampir bersentuhan.
Jonghyun tersenyum maklum melihat ekspresi yeoja yang duduk diseberangnya. Setelah menelan pie melewati rongga tenggorokannya, namja tampan itu sedikit berdehem pelan. "Iya. Dirimu selalu mengatakan akan menikahi pangeran tampan. Apa sudah terwujud ?" tanyanya dengan ekspresi serius.
Kibum terdiam sejenak. Jemari tangan kirinya memainkan cincin yang melingkari salah satu jari ditangan kanannya. Simbol bagi setiap insan manusia yang sudah memasuki sebuah jenjang yang lebih serius. Pernikahan.
Namun jika ditanya impian di masa lalunya mengenai pengeran tampannya, Kibum berharap bisa mengulang waktu untuk satu kali saja. Ia ingin mengganti harapannya di masa lalu. Kibum tidak mengharapkan pangeran tampan untuk membimbingnya di masa depan. Ia hanya menginginkan pengeran yang mau menerima kondisi Kim Kibum apa adanya, tanpa pamrih apapun.
"Heiii ~~"
Kibum menggelengkan kepalanya pelan saat telapak tangan Jonghyun berada didepan wajahnya.
"Ya ?" tanyanya bodoh. "Kamu tadi menanyakan apa ?" sambungnya lagi.
Jonghyun tersenyum singkat. Tangannya meraih tangan kiri Kibum yang sengaja diletakkan diatas tangan kanannya – yang dihiasi cincin pernikahan dengan Siwon –. "Aku sudah tau jawabannya, Kibummie. Dan aku menebak jika kehidupanmu sangat bahagia dengan si pengeran tampan itu." Jemari tangan namja itu mengusap permukaan cincin yang melingkari jari manis sahabat karibnya ketika SMA.
Kibum beralih memandang cincin yang tersemat di jari manisnya. Benda yang membuatnya terikat dan terjebak pada perangkap seorang manusia titisan iblis. 'Aku juga berharap hidup bahagia dengan pangeranku, Jonghyun-ah,' rancau Kibum dalam hati.
.
.
.
"Oppa ~~ Cepat lepas bajumu…" panggilan Jessica yang berasal dari dalam kamar mandi langsung membuyarkan tatapan Siwon pada layar smartphonenya.
Genggaman tangannya pada gadget canggihnya semakin erat ketika mendapatkan kiriman foto lain yang membuat hatinya berdenyut sakit. Diam-diam, Siwon membayar jasa mata-mata untuk mengawasi gerakan istrinya ketika berada diluar rumah. Siwon memang sudah lama memasang sikap siaga jika kelak Kibum akan melakukan tindakan yang tidak pernah diduganya.
Sejenak Siwon mengusap wajahnya dengan gerakan kasar lalu menenggak segelas wine yang berada dalam genggaman tangannya. Ditatapnya lagi foto Kibum bersama seorang namja yang terlihat berpegangan tangan yang kini menghiasi layar smartphonenya.
PYARR
Suara bantingan gelas bergema hingga menelusup masuk kedalam kamar mandi.
"Aku pulang, Jess !" teriak Siwon yang dibarengi dengan suara bantingan pintu apartemen.
.
.
.
Kibum berjalan tergesa memasuki halaman rumahnya yang tertutup tumpukan salju tebal. Sebelumnya ia menyempatkan diri untuk mampir ke rumah pengasuh Park untuk menjemput Minho seperti biasa. Namun jawaban mencengangkan diterimanya. Siwon sudah terlebih dulu menjemput Minho.
Kibum merasa heran luar biasa dengan sikap suaminya yang tiba-tiba saja memiliki waktu luang untuk menjemput Minho. Selama ini saja Siwon selalu pulang ke rumah melewati jam 9 malam.
CKLEK
Saat pintu rumah terbuka, Kibum mendapati suasana rumah yang lengang. Tidak ada aktifitas yang menunjukkan ada orang lain selain dirinya yang menginjakkan kaki di rumah sederhana tersebut.
Setelah melepas mantelnya lalu menggantungkannya kedalam lemari penyimpanan yang berada didekat tangga – menuju lantai 2 –, Kibum mengintip area dapur. Ia tetap tidak menemukan tanda-tanda jika Siwon maupun Minho berada disana.
Kibum memilih melangkahkan kakinya menapaki satu persatu anak tangga dengan langkah pelan. Berusaha tidak menimbulkan suara gaduh apapun.
Dan ketika langkah kakinya berhenti tepat didepan pintu kamar Minho, Kibum merasakan lingkaran tangan yang melilit area perutnya. Sontak saja Kibum tertarik kebelakang mengikuti gerakan tubuh yang jauh lebih besar darinya.
"Kamu berselingkuh dibelakangku, Choi Kibum ?" geram Siwon lalu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya.
_TBC_
.
.
.
Thanks To ::
ailiii08 | ChoiMerry-Chan | JSJW407 | KyuminShipper | elbongbong | CloudOna | Fuyuki Fujisaki | chaerashin | guest | cindyshim07 | Uchiha'4'Sora | Sibumxoxo | sibumaddict | qyukey | wonnie | kinanchoi | najika bunny | saltybear | runashine88 | Choi Haemin | guest | Bummie8687 | tarry24792 | Heewonbum | dirakyu | aniimin | sellinandrew | guest | snower0821 | OktavLuvJaejoong | bang3424 | cho | zoldyk | YunJaeKyuMin4eve | meyy-chaan | anin arlunerz | kyurielf | voldevee | zakurafrezee | kyuminbutts | yolyol | is0live89 | ^^
Annyeong… Akhirnya update lagihhh ~~ *tepuk tangan* ^^
Untuk sementara chapter ini memakai sudut pandang Kibum yah ^^
Mengenai alur cerita serta karakter tokoh Siwon pada FF ini yang jauhhhhhhhhh berbeda dengan karakternya pada FF lain, aku mau minta maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud untuk membuat kalian membenci Siwon. Memang untuk karakter Siwon disini memang agak antagonis *padahal mukanya manis* :p ~~
Bagi kalian yang tidak menyukai tipikal cerita dengan latar belakang perselingkuhan, maaf ya. Yang tidak suka genre hurt / comfort yang cenderung melukai perasaan salah satu tokoh cerita, sekali lagi aku minta maaf. Aku juga tidak munafik, hidup tidak selamanya lurus. Setiap manusia memiliki permasalahan sendiri. Sengaja angkat topik cerita dengan background yang udah sering terjadi, tapi memberikan segi pandangan yang berbeda. Aku lebih fokus melihat arti perselingkuhan dan efek dari masalah tersebut dengan meletakkan posisi sebagai Kibum.
Kalian akan tau seperti apa kepribadian asli seorang wanita ketika ia merasa 'sesuatu' yang menjadi miliknya terancam !
Terimakasih jika ada dari kalian yang mau mengikuti FF ini. Aku menaruh harapan besar jika FF ini berbeda dengan FFku yang lain. Aku bosen dengan FF romance. Pengen FF genre hurt / comfort bahkan angst -_- tapi aku belum pernah sekalipun mewujudkan impianku itu. Tidak mudah.
Oh iya, wordpress pribadiku udah tidak disegel lagi. Silahkan berkunjung. Belum sepenuhnya aku perbaiki karena aku bingung tentang cara penggunaan WP heungg ~~ *ditoyor* tapi berharap dengan WP pribadiku itu bisa membagi beberapa fakta tentang SiBum ^^
Wordpress :: www. snowyprince. wordpress. com (hilangkan spasi, ne ^^)
