.

.

.

Dan ketika langkah kakinya berhenti tepat didepan pintu kamar Minho, Kibum merasakan lingkaran tangan yang melilit area perutnya. Sontak saja Kibum tertarik kebelakang mengikuti gerakan tubuh yang jauh lebih besar darinya.

"Kamu berselingkuh dibelakangku, Choi Kibum ?" geram Siwon diiringi dengan semakin eratnya lilitan lengan pada tubuh istrinya.

.

.

.

STORY ABOUT MY MARRIAGE

.

.

.

Cast : Choi Siwon x Choi Kibum

And little Choi Minho

Rate : T

Genre : Hurt / Comfort , Family, Romance

Desclaimer :

I own nothing, except this story.

All Super Junior members belong to GOD and their self.

If you don't like this story or couples, leave this site quitely.

! Genderswitch

.

.

.

Sebaris pertanyaan yang diucapkan tepat didepan telinganya langsung melecut iblis kecil yang selama ini terlelap dalam diri Kibum. Tanpa pikir panjang, sepasang tangan ibu muda itu segera menyentak dengan kasar lilitan tangan yang melingkari perutnya. Tidak peduli dengan lawan yang memiliki tubuh 2 kali lebih besar darinya.

'Selingkuh ?' batinnya sembari mengamati raut wajah suaminya yang keruh.

Dalam waktu relatif singkat, pikiran Kibum melayang pada sosok 2 orang namja yang akhir-akhir ini menempel padanya. Dugaan kuat, keberadaan 2 namja dengan klasifikasi wajah diatas standar tentu menimbulkan pemikiran negatif. Lee Donghae, namja misterius yang mengaku sebagai teman masa kuliah suaminya. Atau Lee Jonghyun, teman semasa duduk dibangku sekolah menengah atas yang baru hari ini dijumpainya – setelah perpisahan selama 11 tahun –.

Kibum mengangkat dagunya angkuh. Sedikit berbangga diri jika ternyata kehadiran 2 orang yang tak diduganya mampu memancing amarah Choi Siwon. "Seharusnya kalimat itu ditujukan kepadamu, Choi Siwon ?" sahutnya tegas.

BRAK

"Auhh..."

Telapak tangan Siwon mencekik leher Kibum lalu menekannya dengan erat pada dinding. Nyaris membuat pot bunga yang berada didekat kaki Kibum terguling jatuh.

Siwon menggeram marah. Ia tidak suka dibantah apalagi ditantang oleh istrinya sendiri. "Harusnya dirimu mengingat statusmu dulu. Aku memungutmu dari tempat kumuh dan memberikanmu kehidupan yang layak." Kelima jari tangan Siwon semakin mencengkeram leher istrinya tanpa peduli dengan pukulan yang menghujani lengannya.

Siwon melangkahkan kakinya mendekat, membuat jarak antara sepasang suami-istri itu merapat. "Jangan membuat ulah yang memancing emosiku. Dirimu tentu tidak ingin sesuatu yang mengerikan terjadi pada orang terdekatmu, bukan ?" ancamnya penuh dengan nada mengintimidasi.

Kibum yang berada dalam kuasa Siwon segera menggelengkan kepalanya cepat. Dirinya cukup memahami latar belakang keluarga suaminya yang memiliki koneksi hampir di seluruh Korea. Kibum juga tau, setiap orang mampu berbuat diluar perkiraan. Termasuk menyakiti orang lain.

Siwon mengukir seringaian tipis pada bibirnya saat melihat sorot mata ketakutan yang ia tangkap dari sepasang mata Kibum. "Jaga sikapmu, Choi Kibum," bisiknya tepat didepan wajah istrinya lalu melenggang menyusuri lorong lantai 2 rumah mereka.

"Eomma…" Kibum jatuh terduduk di lantai sembari terisak lirih. Ia teringat samar sosok cantik Leeteuk ketika masih kanak-kanak. Senyuman yang terus menghiasi wajah cantik eommanya membuat Kibum merekam dengan kuat rupa orang yang dicintainya.

Disaat seperti ini, Kibum merindukan kehadiran sosok ibu yang bisa dipeluknya. Kibum juga baru menyadari jika kesibukannya akhir-akhir ini sudah membuatnya jarang mengunjungi makam Leeteuk di Gwangju.

.

.

.

Suara alas kaki yang menggesek lantai dapur menjadi suara rutin di kediaman keluarga Choi. Hal itu menjadi rutinitas harian Kibum sebagai seorang ibu yang menyiapkan sarapan bagi keluarganya.

Kibum sedikit lega karena pagi-pagi sekali Siwon sudah meninggalkan rumah tanpa berpamitan. Insting seorang perempuan apalagi istri yang sudah 5 tahun membina rumah tangga tentu lebih peka. Tidak lain dan tidak bukan, tentu saja bertemu dengan kekasihnya.

Terlepas dari kejadian beberapa hari lalu yang membuat dirinya mulai menjaga jarak dengan Siwon, Kibum tetap menunaikan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu yang baik. Ia bersikeras tidak ingin membuat malaikat ciliknya terpengaruh dengan hubungan dirinya dan Siwon yang renggang. Tentu konflik kecil diantara orangtua akan menimbulkan dampak buruk bagi mental anak yang masih kecil.

Setiap orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Begitu pula dengan Kibum. Yeoja berparas menawan itu akan melakukan apapun agar malaikat kecilnya selalu tersenyum. Apapun.

"Minho chagi, eomma tidak suka melihat sayuran yang sengaja kamu sisihkan," seru Kibum dari balik meja dapur. Diam-diam, disela aktifitasnya membuat bekal makan siang untuk anak semata wayangnya, ibu muda itu menyempatkan diri untuk mengintip si bocah kecil yang duduk sendirian di meja makan.

Kibum meratapi nasibnya sendiri. Ia takut dengan bayangan perceraiannya dengan Siwon yang sudah didepan mata. Kibum tidak takut dengan statusnya kelak yang akan menyandang status janda. Ia juga tidak peduli jika kelak akan menjadi bahan ejekan. Yang Kibum pedulikan adalah Choi Minho.

Minho masih terlalu kecil untuk kehilangan kasih sayang dari orangtuanya. Meski Kibum yakin bisa memberikan perhatian penuh kepada Minho, tapi sosok ayah dalam kehidupan Minho tentu sangat penting. Kibum tidak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa depan. Satu hal yang pasti, impian yeoja cantik itu untuk membangun keluarga bahagia sudah diambang kehancuran.

"Eomma ~~" rengeknya.

Choi Minho, bocah laki-laki tampan dengan potongan rambut hitam pendek hanya bisa menunduk lesu. Diintipnya sekilas potongan sayur yang sengaja ia sisihkan di tepi piring makannya. Dalam hati ia merutuk sebal dengan kehadiran sayuran warna-warni yang pagi ini menemani sarapan paginya. Padahal ia membutuhkan waktu hampir 15 menit untuk memisahkan potongan sayur yang bersembunyi didalam adonan sup kepiting.

"Unggg ~~ Minho suka dengan sup kepiting buatan eomma. Tapi tidak dengan sayurannya," adunya dengan wajah mengernyit jijik ketika melihat potongan sayur yang ada didepannya.

Kibum mematikan nyala kompornya setelah memastikan menu makanan untuk bekal Minho selesai dibuatnya. "Hmm... Sebaiknya lain kali eomma mengundang Onew untuk mampir ke rumah kita. Temanmu itu sepertinya menyukai masakan eomma."

ONEW !

Mata bulat Minho menatap tidak suka setelah mendengar nama temannya itu. Lee Jinki atau Onew seringkali mengambil bekal makan siangnya dengan alasan makanan buatan Kibum enak. Karena sikap menyebalkan teman sekelasnya itu, Minho acap kali menahan lapar dan terpaksa menerima sandwich pemberian gurunya.

"Andwae !" Minho menjerit sambil meloncat dari kursinya. Kaki mungilnya yang dibalut sandal rumah segera berlari terbirit menghampiri eommanya yang tersenyum jahil. "Minho janji akan makan sayuran, tapi eomma jangan mengijinkan Onew hyung mampir ke rumah kita, ne ?" Bocah tampan yang memiliki garis ketampanan persis seperti ayahnya itu mendongakkan kepalanya. Mata bulatnya menatap intens sosok ibunya yang sedang menahan tawa.

Kibum mencubit pelan pipi tembam Minho. "Arraseo, jagoan. Sekarang habiskan sarapanmu lalu eomma akan mengantarmu ke rumah Park adjumma."

Menuruti ucapan ibunya, Minho kembali ke maja makan dengan wajah cemberut. Potongan sayur yang susah payah disingkirkannya harus masuk kedalam mulutnya.

Sementara Kibum hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Minho menyuap sayur memasuki mulutnya dengan ekspresi jijik. "Jangan memasang wajah seperti itu, Choi Minho," goda Kibum lalu kembali mengemasi bekal makan siang malaikatnya.

Kibum sedikit banyak merasa bersalah karena pekerjaannya yang menyita seluruh waktunya bersama Minho. Memang bekerja sebagai waitress tidak menghasilkan cukup banyak uang. Tapi Kibum memilih pekerjaan itu untuk meringankan beban Shindong yang merupakan sahabatnya. Lagipula uang bulanan yang masuk setiap bulan kedalam rekeningnya lebih dari cukup. Pendapatan Siwon mampu membiayai Kibum dan Minho.

Karena pekerjaan yang mengakibatnya Kibum selalu pulang ketika matahari sudah tenggelam itu pula, ia melewatkan banyak kejadian sebagai orangtua yang sesungguhnya. Kibum sangat ingin menggandeng tangan mungil Minho memasuki area playgroup. Duduk berjam-jam bersama orangtua murid yang lain sembari mengawasi tumbuh-kembang buah hatinya.

'Suatu saat…' batin Kibum dengan senyuman miris terpasang diwajahnya.

Suatu saat nanti Kibum berjanji akan meluangkan lebih banyak waktunya untuk menghabiskan hari dengan Choi Minho. Kibum berjanji.

.

.

.

Lengan kurusnya menyibak tirai ruang ganti. Senyuman lebar seketika tersungging dibibirnya yang terlapisi lipstik merah menyala.

"Bagaimana, oppa ?" Jessica bertanya sembari memutar tubuhnya yang dibalut gaun yang sudah dipesannya sejak jauh hari. Kedua tangannya direntangkan sehingga lekuk tubuhnya nampak dengan jelas.

Siwon tersenyum puas melihat tubuh kekasihnya yang begitu menggoda dibalik balutan gaun berwarna peach itu. Belum lagi ada beberapa titik yang membuat tubuh sempurna Jessica Jung lebih menonjol. Dan tentunya akan membuat mata banyak lelaki memandang kekasihnya dengan tatapan memuja.

Siwon bertepuktangan sembari berjalan menghampiri Jessica yang menatapnya lekat. "Sangat menggoda ~~ Tapi sayangnya aku tidak menyukai gaun ini." Raut wajahnya berubah masam lalu membiarkan jemarinya berjalan meraba bagian depan gaun Jessica. Sesaat gerakan tangannya terhenti untuk melirik ekspresi wajah sosok cantik yang sedang tercekat akibat gerakan jemarinya.

"Apa aku harus memilih gaun yang lain, oppa ?" tanyanya dengan nafas tersengal. Sentuhan tangan namja tampan didepannya benar-benar membuat Jessica melupakan cara bernafas. Choi Siwon terlalu menggoda bagi dirinya.

Menarik jemarinya menjauh, Siwon meraih tubuh yeoja berambut pirang itu kedalam pelukannya. Kedua tangannya menangkap pinggul Jessica dengan sigap. "Aku lebih suka melihatmu tanpa gaun ini, Jessie ~~" bisiknya dengan suara menggoda.

Yeoja bermarga Jung itu membalas godaan Siwon dengan gerakan telapak tangannya yang mulai meraba dada bidang kekasihnya. "Oppa, bahkan ini masih terlalu pagi untuk menggodaku. Apalagi kita sedang ada di butik." Jemari lentiknya terus bergerak naik lalu melingkarkan lengannya pada leher Siwon. Jessica menggigit bibir bawahnya begitu ia sadar namja tampan itu sudah memberikannya tatapan liar.

Memutuskan kontak mata yang terjadi diantara keduanya, Siwon berjalan beberapa langkah kebelakang.

"Waeyo, oppa ?" Sedikit terkejut dengan Siwon yang memilih menjauh darinya. Jessica takut jika ucapannya menyinggung perasaan Siwon. Bukan maksud Jessica untuk menolak apa yang Siwon inginkan, hanya saja ia sungkan dengan pemilik butik yang merupakan temannya. Ia tidak mau membuat kekacauan di pagi hari.

Mengabaikan pertanyaan Jessica, Siwon kembali berjalan mendekati sofa putih yang tadi disinggahinya. Diatas sofa dengan desain menarik itu ada sebuket bunga serta satu kotak persegi yang dihiasi pita.

"Untukmu, Jessie ~~" Siwon menyerahkan kotak beludru berwarna biru tua kepada kekasihnya. "Aku akan sangat senang jika kamu memakainya lusa, chagi," sambung Siwon begitu menangkap raut wajah terkejut dari Jessica.

Membuka kotak pemberian Siwon, Jessica langsung menutup kembali kotak itu. "AH ! Oppa… Aku sangat mencintaimu," pekiknya senang lalu menghambur memeluk Siwon yang sudah bersiap merentangkan kedua tangannya.

"Kamu menyukainya ?"

"Sangat… Sangat menyukainya," tukasnya. Jessica menyamankan dirinya didalam dekapan hangat tubuh Siwon yang menyalurkan kehangatan pada tubuhnya. Hingga satu pertanyaan muncul didalam pikirannya. "Lalu bagaimana dengan istrimu, oppa ?"

Hening selama beberapa menit. Siwon akhirnya melayangkan kecupan dikening Jessica selama beberapa detik. "Aku sudah memikirkannya." Tatapan matanya beralih melirik paper bag yang ia letakkan didekat sofa.

Siwon sudah merencanakan semuanya seminggu lalu. Mungkin sedikit menyenangkan jika dirinya bermain-main dengan Choi Kibum yang polos. Ia sudah tidak sabar melihat reaksi istri sahnya dengan rencana yang sudah disiapkan untuk membuat jantung Kibum berdebar.

.

.

.

"Aish… Aku sepertinya membutuhkan pegawai baru," gerutu Shindong sembari memainkan pen didalam genggaman tangannya. Setiap jam makan siang tiba pasti banyak pegawai yang berkunjung di cafenya hingga membuat suasana gaduh. Apalagi Shindong hanya memiliki 2 waitress dan 1 chef.

Sungmin yang berjalan keluar dari pantry dengan 2 piring spaghetti segera meletakkan masakannya pada meja persegi – dekat kasir –. "Ya, memang. Apalagi sebentar lagi chef Lee yang cantik akan segera menikah," dengus Sungmin cepat sembari membersihkan noda saus yang tercecer ditepian piring.

Shindong menggerutu pelan mendengar sahutan yeoja dengan pakaian serba putih itu. "Bocah sialan itu memilih hari yang salah untuk menikahimu, calon Nyonya Cho," cibir namja bertubuh tambun itu.

Selesai membersihkan noda saus, Sungmin meletakkan 2 piring berisi spaghetti itu di meja kasir. Mengabaikan bosnya yang memang tidak pernah bosan menggodanya. "2 piring Spaghetti sudah siap," teriaknya.

Lalu Ryeowook yang berada jauh lebih dekat dengan kasir berjalan terbirit. "Pegawai itu benar-benar gila," bisik yeoja bertubuh mungil itu. Kedua tangannya sudah bersiap memegang tepian piring datar berisi makanan pesanan pengunjung.

Sungmin memajukan tubuhnya penuh minat dengan keluhan sahabatnya. "Kenapa ? Apa mereka menyakitimu ?"

Menggelengkan kepalanya pelan, Ryeowook menolehkan kepalanya kearah Kibum yang sibuk berada ditengah kerumunan pegawai yang sibuk menggodanya. "Pegawai itu membuat Kibum risih dengan godaan mereka," bisiknya singkat lalu berjalan mengantarkan pesanan.

Sungmin menampar lengan Shindong dengan pukulan bertubi-tubi. Sesekali melayangkan tinju dengan kepalan tangannya. "Bos ! Lihat pegawaimu yang sering digoda para pegawai nakal itu," ejek yeoja cantik itu.

Mengusap lengannya yang menjadi sasaran amuk Sungmin, Shindong memperhatikan Kibum yang sibuk melayani pesanan para pegawai kantoran itu. "Sepertinya cincin yang melingkar di jari manisnya tidak memberikan efek apapun."

"Sepertinya kita perlu menempelkan papan pengumuman jika Kibum dan Ryeowook sudah menikah," dengus yeoja bermarga Lee itu lalu kembali memasuki pantry. Masih banyak pesanan makanan yang menunggu untuk dikerjakan.

Menggaruk hidungnya yang terasa gatal, Shindong malah menganggukkan kepalanya secara spontan. "Dan aku bisa membayangkan kemarahan suami mereka."

KLING

Suara bel yang diletakkan diatas pintu masuk café segera menarik perhatian Shindong. Mengingat jarak pintu masuk dan kasir cukup dekat.

Mengedarkan pandangan pada meja café yang penuh sesak. Shindong berniat menghentikan langkah kaki pengunjung itu yang berjalan melintasi kasir. "Tuan, maaf. Semua meja sudah penuh."

Menghentikan langkah kakinya sejenak. Pengunjung dengan tubuh tinggi itu menolehkan kepalanya kepada Shindong. "Hanya sebentar," balasnya sembari memperbaiki letak kacamata hitamnya.

"Baiklah," angguk Shindong acuh lalu kembali menekuni majalah yang sedang dibacanya.

Membiarkan bola matanya menyapukan pandangan keseluruh sudut café yang penuh dengan pengunjung, langkah kakinya berjalan semakin tegas menghampiri Kibum. Banyak pengunjung lelaki yang berusaha menarik perhatian yeoja dengan rambut hitam tergerai panjang.

"Kibum…" panggilnya. Kedua sudut bibirnya tertarik kesamping saat mendengar gerutuan kecil yang keluar dari bibir yeoja didepannya.

.

.

.

"Kibum…"

Sekilas Kibum melirik orang yang memanggil namanya melalui bahunya. Dengan ayunan telapak tangan kirinya, Kibum berusaha mengacuhkan sejenak sosok namja dibelakangnya.

"Maaf, pergilah meminta bantuan waitress lain, Tuan," desahnya frustasi. Tangannya sibuk mencatat pesanan 3 meja sekaligus. Kegiatan seperti ini sudah menjadi rutinitas hariannya.

Tidak beranjak dari posisinya, namja itu bersikeras memanggil nama Kibum untuk kedua kalinya sembari menepuk bahunya pelan. "Kibum…"

Kehilangan kesabarannya menghadapi para pegawai yang selalu membuatnya kesal, Kibum memutar tubuhnya dan mendapati sebuket bunga mawar putih sudah berada didepan wajahnya.

Kibum bersyukur bibirnya masih terkatup rapat dan kalimat makian masih tertahan diujung lidahnya. Jika bukan karena mawar putih yang merupakan bunga kesukaannya, sudah dipastikan beberapa detik lalu sosok cantik Kibum mengeluarkan makian.

"Nuguseyo ?" tanyanya penasaran. Pandangan matanya terhalang oleh buket bunga yang setara dengan lebar wajahnya. 'Tuan Lee…' batinnya menerka. Tuan Lee disini merujuk pada 2 orang namja yang akhir-akhir ini menemuinya. Dan secara kebetulan 2 namja itu memiliki marga Lee.

Lee Donghae

atau

Lee Jonghyun.

Tersenyum jenaka dibalik buket bunga, tangannya menyingkirkan benda yang menghalangi pandangan Kibum untuk melihat rupa wajahnya.

"Halo, Nyonya Choi. Aku diperintah oleh suamimu untuk mengantarkan bingkisan kepadamu," ucapnya tegas. Kedua tangannya mengulurkan satu buket bunga mawar putih serta sebuah paper bag didepan wajah Kibum.

Namja itu terus mengulas senyuman lebar meski Kibum tengah menatapnya tanpa berkedip.

Menulikan indera pendengarannya akibat bisik-bisik diantara para pengunjung, Kibum kembali memperhatikan struktur wajah namja didepannya. "Lee Donghae ?"

.

.

.

Menyodorkan segelas cappuccino didepan wajah Donghae, Kibum menatap curiga dengan keberadaan orang asing itu. Lee Donghae masih terasa asing bagi Kibum meski nyatanya mereka sudah bertemu lebih dari 2 kali. Lagipula, Donghae menampakkan diri secara tidak terduga dan keberadaannya yang tidak bisa terlacak.

Dan kali ini Donghae kembali muncul didepan umum. Lebih tepatnya Donghae seperti sedang mengumpankan dirinya untuk dijadikan pelampiasan Siwon.

'Tidak,' jerit Kibum dalam hati. Ia tidak mungkin membiarkan orang lain terluka karena dirinya. Walaupun Kibum belum sepenuhnya percaya jika Donghae sahabat dekat suaminya, ia harus menjaga jarak dengan namja lain. Shindong adalah satu-satunya namja yang tidak sedikitpun mengundang sisi lain dari Choi Siwon.

"Lebih baik Anda keluar dari café ini, Tuan Lee," ucap Kibum sopan. Diam-diam, bola matanya bergerak mengawasi sekitarnya. Ia takut jika ada sosok suaminya yang berpura-pura menyamar menjadi pengunjung café.

Menyesap sedikit minuman kesukaannya, namja bermarga Lee itu malah tertawa rendah. "Duduklah, Nyonya Choi. Sahabatmu sedang menatap kita dengan pandangan curiga karena dirimu tidak tersenyum manis kepadaku," jelasnya. Donghae mengangkat gelasnya diudara lalu melemparkan senyuman hangat kearah meja kasir yang menampilkan ketiga sahabat Kibum.

Kibum ikut menoleh kearah 3 sahabatnya yang memasang raut wajah penasaran . Mau tak mau Kibum menuruti saran Donghae. Sejak tadi Kibum memilih berdiri diseberang meja tanpa peduli dengan tatapan sahabatnya.

"Senang ?"

Segaris senyum tidak bisa lepas dari bibirnya. Menyembunyikan senyumannya, Donghae beralih menyingkirkan gelas cappuccino miliknya ketepian meja. Kemudian namja dengan balutan coat berwarna cokelat terang itu mengulurkan buket bunga yang sengaja ia beli.

Kibum menatap silih-berganti antara buket bunga dan wajah Donghae yang seolah memberinya isyarat untuk menerimanya. Melirik sekilas pada ketiga sahabatnya yang belum beranjak dari meja kasir, yeoja cantik itu menarik paksa buket bunga yang sudah menunggu sentuhannya.

"AH !"

Kibum melihat namja diseberang meja menjentikkan dua jari tangannya diudara. Seperti sedang teringat sesuatu.

Donghae meraih paper bag yang ia letakkan didekat kaki meja lalu menyodorkannya pada Kibum. "Suamimu tercinta membelikanmu gaun untuk pesta nanti malam."

"Aku tidak tertarik dengan pesta, Tuan Lee." Kibum meletakkan paper bag yang sempat singgah dalam pangkuannya lalu menggesernya kearah Donghae.

"Kibummie ~~" Donghae tidak bisa menahan tawanya saat Kibum berjengit kaget karena sentuhan tangan mereka. Rasanya menyenangkan saat melihat rona merah yang tercetak jelas dikedua pipi Kibum.

Merubah raut wajahnya menjadi lebih serius, Donghae memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Datanglah. Dan aku akan mengenalkanmu pada seseorang.

Terbersit pikiran aneh yang memenuhi tempurung kepalanya. Setiap kali Donghae menguak sisi lain dari suaminya, maka Kibum harus bersiap dengan kemungkinan terburuk yang selama ini tidak pernah dibayangkannya. Bahkan sampai sekarang Kibum belum bisa melupakan kejadian dimana suaminya tengah bermesraan dengan yeoja lain, didepan matanya.

"Aku tidak tau," bisiknya sedih. Melihat kenyataan yang tidak pernah diduganya sudah cukup membuat Kibum terpukul. Ia belum memiliki nyali untuk melihat kenyataan yang selama ini tidak disadarinya.

"Ritz-Carlton Hotel jam 9 malam, Nyonya Choi."

Donghae beranjak dari duduknya kemudian melemparkan ayunan tangannya diudara kepada ketiga sahabat Kibum. Sebelum akhirnya keluar café dan membiarkan tubuhnya terkena guguran salju.

Ia tidak memiliki banyak waktu. Siap ataupun tidak siap, Kim Kibum harus mengetahui semuanya. Donghae tidak bisa terlalu lama diam dan menyaksikan Kibum terus dibodohi oleh suaminya. Lagipula, hingga saat ini gerak-geriknya sudah tidak se-leluasa dulu.

.

.

.

Donghae keluar dari rest-room untuk para pegawai dengan pakaian khas pelayan. Ia sudah menyadap segala akses yang dilakukan Choi Siwon selama seminggu ini. Dan dengan bantuan beberapa anak buahnya, Donghae juga membuntuti kemanapun sahabat lamanya itu pergi.

Termasuk ketika Siwon menemani kekasihnya melakukan fitting gaun di sebuah butik pagi ini. Dengan bantuan beberapa pihak, Donghae berhasil mengintip isi paper bag yang dikirimkan Siwon untuk Kibum.

"Hei, kamu !" Seorang pelayan dengan setelan pakaian sama persis dengan Donghae berjalan keluar dari rest-room.

Dengan sigap, namja bermarga Lee itu memakai kacamata putihnya agar penyamarannya tidak mudah dibongkar. "Ne ?"

"Tugasmu adalah mengedarkan gelas wine kepada para tamu. Jangan membuat kesalahan, arraseo ?"

Menatap sekilas wajah lawan bicaranya, Donghae menganggukkan kepalanya patuh lalu berbaur dengan tamu undangan. Membawa nampan berisi beberapa gelas wine, Donghae melempar senyum ramah sembari menawarkan minuman yang sengaja disediakan keluarga besar Choi.

Sesekali Donghae melirik kearah pintu masuk yang dijaga beberapa petugas keamanan. Sosok yang dinantikannya belum kunjung menampakkan diri. Padahal Donghae ingin sekali membuat Siwon terkejut.

"Aku akan membuatmu terkejut, Choi Siwon," gumam Donghae diantara senyuman yang ditampilkannya.

Siwon boleh saja berpikir dirinya pintar dalam menyusun rencana. Tapi misi Donghae kali ini adalah membuka semua kebusukan yang diesmbunyikan oleh Choi Siwon.

.

.

.

"Anda istri dari Tuan Choi Siwon ?" tanya salah seorang petugas sembari meneliti kartu undangan yang disodorkan Kibum.

Kibum mengangguk singkat pada petugas keamanan yang mengeja namanya. "Ne."

"Tuan Choi banyak bercerita tentang Anda. Kalian pasangan yang luar biasa."

Kibum tersenyum kecut melihat acungan dua jempol yang ditujukan kepadanya. Ia tidak tau harus senang atau sedih. Senang karena suaminya tidak membuat dirinya terlihat sebagai istri yang buruk. Sedih karena selama ini pernikahan yang dijalaninya hanya sebuah kepalsuan.

Menyodorkan kedua tangannya dengan sopan, si petugas tadi memberikan isyarat pada Kibum. "Kami bisa menyimpan mantel Anda, Nyonya Choi," tawarnya.

Melepas mantel yang membungkus tubuhnya, Kibum menyerahkan mantel milik Sungmin dengan hati-hati. "Tolong jaga baik-baik mantel ini," pesannya singkat sebelum melangkah memasuki ballroom.

.

.

.

Kibum mendesah penuh kekecewaan mendapati ballroom yang penuh sesak dengan orang-orang yang tak dikenalnya. Bahkan ia sendiri tidak bisa menangkap keberadaan Siwon maupun ibu mertuanya.

Dengan terpaksa Kibum harus memasang wajah palsu dan melempar senyuman yang membuat otot wajahnya pegal. Ia benar-benar tidak mengenal satupun orang-orang dengan balutan pakaian hasil rancangan designer ternama.

"Wowww…"

Kibum menatap tidak suka pada tingkah seorang pelayan yang melewatinya. Ia tidak suka dilecehkan.

"Jangan bersikap tidak sopan kepada seorang yeoja," sungutnya kesal.

Memutar tubuhnya, si pelayan yang ternyata adalah Lee Donghae malah terkikik geli melihat bibir Kibum yang sudah mengerucut. "Well, harus aku akui jika pilihan gaun dariku memang pantas untukmu, Nyonya Choi."

"Bukankah gaun ini pemberian sua – " AH ! Kibum sangat benci memanggil status Siwon dalam kehidupannya. " – pemberian Choi Siwon," ralatnya.

Menggiring Kibum menjauhi kerumunan tamu, Donghae memaksa Kibum berdiri berhimpitan diantara dinding dan dirinya. "Selera fashion suamimu sangat buruk. Tapi jika gaun yang dipilihkan suamimu dipakai oleh kekasihnya, mungkin terlihat WOW…" Donghae bersiul sembari membentuk gerakan seolah sedang menggambarkan bentuk tubuh seksi.

Kibum mengernyitkan dahinya. Ia tidak paham. "Apa maksudmu ?"

Menjentikkan jarinya pada dahi yeoja dengan paras layaknya bidadari, Donghae menghirup aroma tubuh Kibum dalam-dalam. "Aku menukar gaun yang akan diberikan Siwon untukmu. Aku melihat dia membeli gaun dengan belahan dada rendah."

'Belahan dada rendah ?' Kibum dengan cepat menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya. Ia tidak pernah membayangkan akan memakai pakaian yang terlalu banyak menampilkan anggota tubuhnya.

"Dan gaun pilihanku lebih cocok untukmu, Kibummie ~ Setidaknya gaun pilihanku mampu menyembunyikan luka memar yang tertinggal dilehermu." Donghae menepuk pelan puncak kepala Kibum.

Menggerakkan kedua tangannya untuk menutupi lehernya, Kibum menatap Donghae dengan pandangan kaget. Padahal teman-temannya tidak menyadari bekas keunguan yang tertinggal akibat kuatnya cekikan Siwon 2 hari lalu. "Kamu mengetahuinya ?"

Donghae hanya menganggukkan kepalanya sekilas sebagai jawaban. Ia tidak ingin mengungkit kejadian yang dialami Kibum. Hal itu tentu akan memperburuk suasana hati Kibum.

Ia lalu merogoh saku celananya dan menyelipkan penjepit rambut diantara helaian rambut bergelombang Kibum. "Sempurna," puji Donghae senang.

Dibalik senyuman tulus yang ditampilkan namja bermarga Lee itu, ada sebuah dendam yang selalu menggelayuti dirinya. Perasaan bersalah karena sudah menjerumuskan Kibum kepada takdir hidup yang seharusnya bisa dicegah oleh Donghae di masalalu.

Untuk itu, Donghae harus sedikit mengurangi beban yang menggelayut pada pundaknya. Sedikit demi sedikit.

.

.

.

"Lihat kearah jam 9," bisik Donghae sambil berpura-pura menyodorkan nampan berisi wine kualitas terbaik. Tubuhnya sedikit membungkuk setiap ada tamu yang berjalan melewatinya. Namja dengan tatanan rambut basah itu tidak melupakan penyamarannya sebagai seorang pelayan.

Kibum sedikit menggeser kakinya kesamping. Ia berusaha memberi jarak aman antara dirinya dan Donghae yang ikut bergabung dengan keramaian.

Obsidian indahnya menangkap sekumpulan yeoja yang terlihat dari kalangan sosialita kelas atas. "Kumpulan yeoja itu,,," gumamnya pelan sembari memainkan bibirnya ditepian gelas wine yang dipegangnya.

Donghae tersenyum ketika seorang tamu menarik satu gelas wine tersisa dari nampan yang dibawanya. "Salah satu dari mereka adalah yeoja yang dirimu lihat sedang bercumbu dengan suamimu," bisiknya lagi.

'YA TUHAN." Membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan suara berisik, Kibum mencoba memperhatikan satu persatu yeoja dengan tampilan modis itu. Tidak ada satupun dari mereka yang Kibum kenali. Namun harus diakui, dari segi penampilan para yeoja itu sangat menarik untuk dijadikan teman menghabiskan malam.

Dan Kibum mengakui keunggulan para yeoja itu dibanding dirinya.

Menyadari jika nampannya sudah kosong, Donghae beralih memperhatikan sekitarnya. Ia harus tetap waspada karena ia belum menemukan keberadaan sahabat lamanya.

Tangannya yang dibalut sarung tangan putih beralih meraih gelas wine milik Kibum. Cairan berwarna bening itu hanya berkurang sedikit. "Kekasih Choi Siwon yang sesungguhnya adalah yeoja dengan gaun panjang berwarna merah itu." Donghae kembali menunjuk seorang yeoja dengan rambut pirang tergerai melewati bahu yang kini sedang berbicara dengan ibu dari Choi Siwon.

Terdiam sesaat, Kibum menarik satu kesimpulan yang mampu ditangkap otaknya. "Jadi Siwon tidak hanya memiliki 1 kekasih ?"

Menggelengkan kepalanya pelan, lalu menenggak habis wine dari gelas Kibum dalam sekali tegukan. "Yeoja yang sedang tertawa bersama ibu mertuamu adalah Jessica Jung, kekasih Siwon selama 2 tahun ini." Melirik kearah ujung tangga, Donghae kemudian menggunakan nampan kosong untuk menutup separuh wajahnya. "Sedangkan yeoja yang pernah bercumbu dengan suamimu beberapa waktu lalu – hanya digunakan untuk bersenang-senang."

Selesai menjelaskan semuanya dengan tergesa, akhirnya Donghae berjalan menjauhi Kibum. Ia sudah menyadari keberadaan Siwon yang mulai mencari kesegala arah untuk menemukan istrinya.

Kibum ingin bertanya lebih jauh namun sosok namja yang sedari tadi berdiri disisinya sudah ditelan kerumunan. Jujur saja, dirinya mulai merasa risih dan kurang nyaman berada dalam satu lingkup pesta dengan kekasih suaminya.

"Disini rupanya si angsa cantik."

Siwon berjalan membelah kerumunan tamu undangan kemudian mengulurkan satu tangannya untuk meraih tubuh istrinya. Tidak peduli dengan tatapan mata yang menghujani sepasang suami-istri itu dengan kekaguman.

Seolah mampu membaca gerak tubuh istrinya, Siwon semakin merapatkan pelukannya pada tubuh Kibum yang terasa pas dalam pelukannya. Bahkan ia tidak menyadari jika gaun yang dikenakan Kibum pada pesta malam ini berbeda dengan gaun pilihannya.

Well, kecantikan seseorang terkadang membutakan mata.

"Berhenti bersikap seperti ini. Aku ingin bertemu dengan eomma." Kibum berusaha mendorong sepelan mungkin tubuh besar suaminya. Ia tidak ingin membuat orang disekitarnya merasa curiga dengan hubungannya dengan Siwon.

Merendahkan kepalanya, Siwon mengecup sekilas pipi istrinya. "Eomma bisa menunggu, chagi ~~" bisiknya rendah. Siwon lalu merendahkan kepalanya hingga hidungnya menangkap aroma melati dari leher jenjang Kibum.

"Apa yang kamu laku – " Pertanyaan Kibum segera terjawab dengan bibir suaminya yang sudah bergerak menjelajahi lehernya. Lebih tepatnya mengecup setiap bekas memar yang meninggalkan bekas pada sisi kanan lehernya. "Hentikan !" bisik Kibum sambil meremas lengan berotot suaminya.

Bukannya mendengarkan peringatan dari istrinya, Siwon malah semakin merapatkan lilitan lengannya pada tubuh Kibum. Matanya terpejam semakin rapat dan terus menggerakkan bibirnya tanpa kenal lelah.

"Kalian berdua mengacaukan pesta," tegur seorang yeoja paruh baya yang saat ini sedang tersenyum geli melihat wajah memerah menantunya.

Kibum tertunduk malu mendengar teguran ibu mertuanya. Setelah lama tidak bertemu, kini dirinya malah membuat keluarga Choi menanggung malu akibat ulahnya ditengah pesta.

PLAK

Yeoja dengan balutan gaun sopan sepanjang lutut itu melayangkan telapak tangannya pada punggung anak tunggalnya. "Tahan, Choi Siwon. Kamu bisa melakukannya setelah pesta usai," desisnya lalu meraih pergelangan tangan menantu kesayangannya.

Siwon merapatkan bibirnya saat kehilangan leher yang baru beberapa menit dinikmatinya. Ia masih ingin merasakan kulit halus Kibum. Saat ini juga. Hal itu dibuktikan dengan helaan nafasnya yang memburu tajam.

"Kembalikan istriku, eomma," Siwon berusaha meraih lengan Kibum tapi tangannya langsung dihadiahi tamparan keras oleh ibunya.

"Jangan harap dirimu bisa berbuat konyol di pesta keluarga Choi. Lebih baik dirimu menjamu para tamu. Sedangkan eomma – akan menikmati waktu bersama menantu kesayangan," jawabnya mutlak.

Nyonya Choi lalu menuntun Kibum keluar dari pusat pesta dan menggunakan salah satu ruangan untuk berbincang. Meninggalkan Siwon yang masih terdiam ditempatnya sembari memperhatikan setiap jengkal tubuh Kibum yang mampu tertangkap retina matanya.

Dan juga… Jessica yang sedari tadi mengawasi tingkah Choi Siwon bersama istrinya ditengah keramaian pesta.

.

.

.

"Jessie ~~" panggil Siwon dengan suara melenguh berat.

Kelima jari tangannya meraih benda apapun yang bisa dijadikannya sasaran pelampiasannya. Sedangkan sosok lain yang sedang bersama penerus tunggal klan Choi, tidak bisa berhenti mengulum senyum kepuasan.

Jessica selalu senang setiap sosok tampan Siwon memanggil namanya dengan begitu menggoda. Kehangatan yang ditawarkan tubuh Siwon seolah membuat akal sehat Jessica menguap. Choi Siwon terlalu menggoda untuk diabaikan. Jangan lupakan kondisi finansial yang melatarbelakangi kehidupan Siwon cukup membuat yeoja berusia 24 tahun itu terpikat.

Ketampanan, kehangatan, serta kemapanan yang seolah menjadi tawaran yang sulit ditolak yeoja dimanapun jika berhadapan langsung dengan Siwon. Begitu juga dengan Jessica Jung.

Mengenal sosok Siwon saat berada disebuah club malam, maka hubungan yang semula hanya sebagai teman berlanjut hingga tahap yang lebih jauh. Mengenai status Choi Siwon sebagai seorang suami serta ayah, Jessica tidak terlalu memusingkannya.

Toh, cincin berlian yang dihadiahkan Siwon 4 bulan lalu ketika dirinya menginjak usia 24 tahun sudah menjadi jaminan kuat bagi Jessica. Bahwa… Cepat atau lambat, Choi Siwon akan menceraikan istrinya.

Dan memulai sebuah kehidupan baru dengannya.

"Oh ! Jessieee ~~" Otot leher Siwon semakin mengencang. Lelehan keringat yang membasahi tubuh berototnya membuktikan jika musim dingin tidak bisa menekan kegiatan 'panas' yang sedang dilakukannya dengan kekasihnya.

TTOK TTOK TTOK !

Ketukan dari luar pintu apartemen Jessica menginterupsi kegiatan sepasang kekasih itu. Sedangkan yeoja dengan penampilan berantakan itu hanya menggerutu sebal tanpa menghentikan aktivitasnya.

Jessica tidak peduli dengan anak buah Siwon yang berdiri diluar pintu apartemennya. Ia sudah susah payah menyeret Siwon keluar dari pesta yang diadakan oleh calon ibu mertuanya.

"Tuan Choi, Nyonya Kibum mabuk dan diantar pulang oleh namja yang sama ketika berada di café."

SRAK

Jessica meringis sakit ketika Siwon menyentak tubuhnya hingga terduduk di lantai apartemennya.

"Kita bertemu besok, Jess !"

.

.

.

"Lalalala ~~ yeah !" Kibum mengepalkan kedua tangannya diudara sembari menggoyangkan kepalanya. Bibir merahnya tidak bisa berhenti bernyanyi semenjak keluar dari ballroom hotel dengan kondisi mabuk.

"Seharusnya kamu tidak pernah bertemu dengan pamanku, Kibummie," ucap Jonghyun. Kepalanya terus melirik kesamping kursi kemudinya sembari sesekali menatap jalanan Seoul yang sudah sepi. "Pamanku itu pemabuk berat."

Lee Jonghyun menemani pamannya yang memiliki relasi bisnis cukup dekat dengan keluarga Choi. Jika bukan karena paksaan bibinya, Jonghyun lebih memilih menghabiskan malam dengan bergelung selimut. Namun bibinya memaksa namja pemilik wajah tampan itu untuk menemani pamannya di pesta. Bibinya kurang suka berada ditengah keramaian, untuk itu memilih keponakannya untuk menggantikan dirinya disamping pamannya.

"405… 406… 407 !" Jonghyun mengembangkan senyuman ketika melihat sebuah rumah minimalis yang nampak nyaman sebagai sebuah hunian untuk keluarga kecil. "Rumahmu terlihat nyaman, Kibum-ah," pujinya.

Tidak mendengar celoteh sahabatnya lagi, Jonghyun baru menyadari jika Kibum sudah jatuh terlelap disampingnya.

"Tapi bagaimana aku menjelaskannya kepada suamimu ?" tanya Jonghyun sambil menerawang jauh kedepan.

Ia tidak mau disangka sebagai selingkuhan Kibum. Jelas-jelas Kibum adalah sahabatnya sejak bangku SMA.

"Aiissshh…!" Jonghyun memukul dahinya karena kebodohannya. Seharusnya ia datang ke rumah Kibum tidak seorang diri. Setidaknya dirinya harus membawa orang lain agar tidak membuat suami Kibum berpikiran buruk tentang kondisi istrinya yang mabuk.

"KELUAR !"

Belum sempat Jonghyun menyadari suara teriakan yang tepat berada disisi mobilnya, Jonghyun sudah terlebih dulu mendapatkan hantaman diwajahnya.

.

.

.

"Eumm ~~ Jonghyun-ah !" Kibum merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil terkikik seorang diri. Kelopak matanya terpejam erat.

PLAK

Siwon menggeram marah melihat tingkah Kibum yang berada dalam pengaruh alkohol. Kekesalannya semakin memuncak saat mendapati sosok namja yang dekat dengan Kibum kembali muncul didepan wajahnya.

"Auhhh ~~ Pukulanmu terasa enak sekali, Jonghyunnie kkk~~" Kibum menepuk-nepuk kedua pipinya lalu berjalan sempoyongan kesembarang arah. "lalalalala ~~"

"Cukup !"

Siwon membanting pintu kamarnya lalu melepas simpul dasi yang mencekik lehernya. Langkahnya mantap mendekati Kibum yang terus merancau tak jelas. "I'll show you, Choi Kibum. You're mine !"

_TBC_

.

.

.

note : Maaf super-duper telat update. Maaf ceritanya semakin rancu huhu Maaaaaaaaaffffffffff *bungkuk*