.
.
.
Sebuah mobil Ferrari memasuki area halaman dengan suara mesin halus. Nyaris tidak menimbulkan suara berisik seperti kebanyakan mobil yang berkeliaran di jalanan kota Seoul. Kemewahan yang ditampilkan mobil dengan kisaran harga 500 juta won itu berbanding terbalik dengan lingkungan sekitarnya. Halaman yang menjadi tempat parkir Ferrari itu terlihat penuh guguran daun kering.
Toh, si pemilik mobil terlihat acuh dengan keadaan yang menjadi tempat parkir mobil miliknya. Lee Donghae dengan wajah menggambarkan gurat kelelahan melangkah keluar dari mobilnya. Penampilannya yang jauh dari kata rapi – dengan t-shirt yang kusut – tidak menyurutkan langkah kakinya berjalan menapaki anak tangga yang berdebu.
'Penyusup,' batinnya dengan sapuan mata tertuju pada sisa puntung rokok yang jatuh tepat didepan pintu rumahnya. Donghae sudah berhenti menghisap rokok, beberapa tahun yang lalu.
Namja berwajah maskulin itu kembali bersikap waspada meskipun fisiknya lelah. Telapak tangan kanannya mengusap bagian belakang pinggangnya. Sebuah pistol bersembunyi dibalik t-shirtnya. Dan meskipun saat ini dirinya sudah berada dalam area kekuasaannya, bukan berarti Lee Donghae mengendurkan sikap waspadanya.
Menarik nafas selama beberapa saat, Donghae membuka pintu rumahnya tanpa rasa takut. Setitik cahaya remang tertangkap bola matanya ketika menjelajahi isi rumahnya.
"Puas bermain-main, Tuan Lee ?"
Suara sapaan dengan aksen khas langsung menyambut kedatangan Donghae memasuki tempat peristirahatannya. Kursi besar yang berada didekat jendela terlihat bergeser beberapa centi dari tempatnya semula. Dugaannya benar. Nyala sebuah lilin kecil menerangi sosok seorang namja paruh baya dengan aura kejam membungkus tubuhnya.
Sekilas, namja dengan potongan rambut pendek berantakan itu melirik asal suara. Dalam sekejap, bola matanya mengawasi seluruh penampilan namja tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak satupun tubuh namja berusia 60 tahun itu terlewat dari sapuan mata Lee Donghae.
Setelah memastikan dirinya berada dalam titik aman, Donghae mulai memberikan sedikit reaksi dengan bahunya yang sedikit terangkat naik. "Belum," sahutnya pendek. Dengan satu tarikan nafas panjang, Donghae segera mengalihkan pandangan bola matanya kembali kepada lawan bicaranya. "Aku tidak suka aroma cerutu mahalmu itu, Tuan Lee," sindirnya halus sembari membidik cerutu yang terselip diantara celah jari namja berusia lebih dari separuh abad itu. Donghae tidak peduli dengan rentang usia yang terpaut jauh diantara mereka, meskipun ia adalah garis keturunan si namja tersebut. Baginya, hubungan mereka tidak layak jika disebut sebagai keluarga. Donghae lebih menyukai sebutan rekan bisnis.
Menggeram dengan suara rendah akibat sahutan Donghae yang terlihat tidak sedikitpun memperlihatkan sikap hormat kepadanya, namja itu akhirnya membuang cerutunya ke lantai. "Berhenti mengurusi kehidupan orang lain, Donghae !" bentaknya dengan suara menggelegar. Tidak peduli dengan suara debum kursi yang berasal dari belakang tubuhnya. Ia sudah lelah membiarkan Donghae bersikap diluar kendalinya. Ia harus mengambilalih hidup anaknya seperti sediakala.
Donghae tersenyum tipis. Sudah menduga reaksi yang akan diterimanya karena bersikap kurang sopan dan juga melanggar larangan ayahnya. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya hanya terus melangkahkan kakinya melewati namja yang selalu dihormati sepanjang hidupnya. Tidak dihiraukan tatapan menusuk yang terus mengikuti gerakannya. Seumur hidupnya, baru kali ini Donghae bersikap diluar kendali ayahnya.
"Tindakan bodohmu membahayakan bisnisku," sambungnya lagi. Teriakannya yang penuh dengan rasa frustasi dan jengkel seketika mampu menahan laju langkah Donghae.
"Bisnis ? Hanya itu yang kamu pikirkan, Tuan Kangin ?" Donghae memutar tubuhnya lalu membalas tatapan ayahnya dengan kepala tegak. Persetan dengan rasa hormat yang selalu dijunjungnya didepan sang ayah.
Perasaan bersalah yang selalu menyelimuti dirinya sudah membuat Donghae merasa tertekan dalam kurun waktu cukup lama. Rasa bersalah yang selalu menghiasi mimpinya. Dan kali ini, sikap keras kepala ayahnya semakin menambah daftar beban pikirannya.
"Lawan bisnis tidak boleh mengetahui sedikitpun mengenai jejak kita. Aku sudah berusaha untuk menyembunyikan keberadaan kita agar tidak terlacak musuh, dan tindakan bodohmu hampir mengacaukan segalanya, Lee Donghae," erangnya dengan nada gusar.
Membuang jauh-jauh perasaan hormat yang selalu dipegangnya, Donghae memberanikan diri untuk menatap langsung sepasang mata didepannya. "Mereka mengincar nyawamu, bukan nyawaku," tegasnya dengan suara dingin.
.
.
.
Cast : Choi Siwon x Choi Kibum
and little Choi Minho
Rate : T
Genre : Hurt / Comfort, Family, Romance ^^
Desclaimer :
I own nothing, except this story.
All Super Junior members belong to GOD and their self.
If you don't like this story or couples, leave this site quitely.
! Genderswitch
.
.
.
Siwon berjalan menapaki setiap anak tangga dengan langkah pasti. Tidak terlihat ada keraguan dalam setiap langkah yang diambilnya. Tangan kirinya bersembunyi dibalik saku celana kerjanya, sementara tangan yang lain menggenggam paper bag berwarna hitam.
Ketika sepasang kakinya melewati pijakan anak tangga terakhir, namja dengan balutan jas rapi itu segera menyapu seluruh ruangan yang ditujunya. Hingga sapuan matanya terhenti pada sosok tak asing yang berada disudut ruangan. Sedetik setelahnya, Siwon mendapati Donghae sudah berdiri dari kursinya sembari melempar senyum kearahnya. Senyuman namja bermarga Lee itu seolah sudah mengetahui kedatangannya sejak jauh hari.
"Dirimu datang menemuiku bukan untuk menyambung persahabatan yang sudah lama putus, kan ?" ujarnya dengan nada santai. Sama sekali tidak terlihat ekspresi gentar pada sepasang obsidian jernihnya. Segaris senyuman masih tersungging pada bibirnya.
Siwon diam membisu pada posisinya. Ia menyadari jika sikap Donghae tidak pernah berubah, masih sama seperti dahulu. Selalu bisa menebak jalan pikiran lawannya dengan mudah. "Karena dirimu bisa menebak maksud kedatanganku –," Siwon melirik paper bag yang berada dalam genggaman tangannya.
SRAK
Paper bag yang dilemparkan Siwon mendarat tepat didepan Donghae. Nyaris menyentuh ujung sepatu Donghae. " – Jauhi istriku," sambungnya dengan suara tegas. 2 kata terakhir yang keluar dari bibir Siwon mengisyaratkan sebuah peringatan keras yang disertai dengan ancaman.
Donghae tersenyum sekilas mendengar nada bicara Siwon yang ditujukan padanya. Ia lalu mengalihkan bola matanya pada paper bag yang berada dibawah tatapan matanya. "Mengancam mantan sahabatmu sendiri ?" tanyanya dengan raut wajah sedih. "Sahabat yang dulu menolongmu, Siwon-ah," sindirnya dengan bibir menyeringai licik.
"Menurutmu ?" balas Siwon dengan penuh ketegasan.
Donghae lalu berlutut diatas kedua kakinya sembari menarik keluar benda yang bersembunyi didalam paper bag. Kelima jari tangannya meremas gaun pesta yang dikenakan Kibum tempo hari. Dirinya tentu saja mengingat dengan baik gaun yang dipilih oleh dirinya sendiri untuk dikenakan oleh yeoja secantik Kibum. "Gaun yang cantik," gumamnya lirih lalu membawa gaun yang berada dalam genggaman tangannya menempel pada ujung hidungnya. Dihirupnya dalam-dalam wangi tubuh Kibum yang masih menempel pada gaun itu.
"Aku yakin dirimu adalah dalang dibalik semua kekacauan ini, Lee Donghae," tegur Siwon keras. Wajahnya menampakkan ekspresi kesal yang sama sekali tidak disembunyikan. Sedikit terganggu dengan sikap Donghae yang mengendus gaun yang pernah menempel pada kulit Kibum.
Menghirup wangi tubuh Kibum yang tertinggal pada gaun untuk terakhir kalinya, Donghae mengalihkan perhatiannya pada Siwon. "Anggap saja aku tidak puas dengan taruhan bodoh yang kita lakukan di masa lalu, Siwon-ah." Donghae menyeringai penuh arti. Sebuah ide yang sudah lama tersimpan dalam pikirannya siap untuk memancing reaksi Siwon. "Aku menginginkan Kim Kibum," ucapnya penuh kepastian.
"Choi Kibum !" ralat Siwon dengan rahang mengeras. Emosi mulai menguasai dirinya dan Siwon hanya mampu mengepalkan tangannya disamping tubuhnya. Seandainya bisa, Siwon ingin sekali menerjang Donghae dan melayangkan beberapa pukulan. Sayangnya, ia sedang berada di sarang lawan. Setidaknya ia menyadari kehadiran 2 anak buah Donghae yang berdiri beberapa kaki dibelakangnya. "Aku yakin bukan Kibum alasan kekacauan yang telah dirimu lakukan. Ada sesuatu yang dirimu sembunyikan, Lee Donghae."
"Hmm… " Donghae mengetuk dagunya dengan ekspresi sedang berpikir. Lalu tubuhnya sedikit condong kearah mantan sahabatnya. "Aku akan mengambil seluruh kebahagiaanmu," bisiknya dengan seringaian yang terlukis pada sudut bibirnya.
.
.
.
"Hahhh… " Bibir pucatnya mendesah lega begitu membasuh wajahnya dengan air. Kibum menyadari jika kondisi fisiknya kurang sehat hari ini namun ia tetap memaksakan diri untuk bekerja. Selain karena tidak ingin membuat repot temannya karena ketidakhadirannya, Kibum tidak ingin terlalu larut dalam masalah rumah tangganya yang masih mengguncang psikisnya.
Sepasang mata bulatnya memperhatikan refleksi dirinya pada cermin. Pupil matanya membesar begitu menyadari jika luka lebam yang diperolehnya tempo hari masih menampakkan warna cukup jelas. Beruntung dirinya selalu menyimpan beberapa peralatan make-up pada lokernya.
Ujung jari telunjuknya sedikit menyentuh warna keunguan pada tulang pipinya. "Sepertinya hari ini aku akan menggunakan make-up sedikit tebal," keluhnya dengan bibir mengerucut.
Ttok… Ttok… Ttok…
Kibum terperanjat kaget mendengar suara ketukan dari luar toilet. Namun segera mendesah lega begitu menyadari jika ia sudah mengunci pintunya.
"Nuguseyo ?"
"Tentu saja ini Lee Sungmin !" sahutnya dengan suara ketus.
Menyadari mood si calon pengantin yang sedang buruk, Kibum mengurungkan niatnya untuk menggoda Sungmin. Ia lebih memilih segera mengoleskan lipgloss pada bibir pucatnya lalu merapikan peralatan make-upnya.
Ketika pintu toilet terbuka dari dalam, Sungmin segera melangkah mundur agar tidak menghalangi jalan sahabatnya. "Pendingin ruangan di gudang penyimpanan sedang diperbaiki, Shindong memintamu untuk mengawasi mereka," ucapnya sembari menunjuk 3 orang namja yang berjalan mengikuti Shindong masuk kedalam gudang penyimpanan makanan.
Kibum menggangguk paham. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Sungmin. "Ada apa ?"
Menghela nafas panjang, Sungmin tidak bisa menyembunyikan lagi penyebab moodnya yang buruk sejak pagi. "Berat badanku naik," gumamnya lirih sembari memainkan cincin pertunangan yang terselip di jemari tangan kirinya.
"Memangnya kenapa ?" tanya Kibum dengan wajah bingung.
Melemparkan tatapan kesal karena pertanyaan Kibum, Sungmin kembali menghela nafas panjang untuk kedua kesekian kalinya. "Jika dalam waktu 2 bulan berat badanku terus menanjak, maka aku tidak bisa memakai gaun pernikahan yang sudah dirancang khusus oleh butik."
Menahan tawa yang hendak meloncat keluar dari mulutnya, Kibum mulai mengambil beberapa langkah menjauhi Sungmin. "Mungkin kamu bisa menggunakan selimut sebagai ganti gaun pernikahanmu jika tubuhmu semakin gemuk, nyonya Cho kkk~~~" gurau Kibum lalu berlari terbirit menjauhi Sungmin yang terpancing dengan gurauannya.
.
.
.
Melangkah melewati pintu gudang, Kibum segera bergabung dengan 4 orang namja yang tengah sibuk berbincang. Kibum terus mendengarkan keluhan yang disampaikan Shindong berkaitan dengan pendingin ruangan yang tak berfungsi dengan baik.
"Nah, aku akan meninggalkan kalian dengan salah seorang pegawaiku. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan bertanya padanya," ucap namja bertubuh tambun itu lalu menepuk bahu Kibum pelan.
Setelah mendengarkan beberapa pesan dari Shindong, Kibum segera melangkah menjauhi dari ketiga namja yang mulai melakukan pekerjaannya. Sesuai dengan pesan dari bosnya, Kibum mengawasi perbaikan pendingin ruangan dalam diam.
"Apakah ada masalah ?" Kibum segera memperbaiki posisi duduknya begitu salah satu namja yang memperbaiki pendingin ruangan berjalan kearahnya.
Namja itu menganggukkan kepalanya tanpa suara. Tiba-tiba saja jari telunjuk namja itu sudah menempel tepat pada bekas keunguan pada tulang pipi Kibum. "Sudah berapa lama ?" tanyanya pelan.
Mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan padanya, Kibum masih terdiam hingga sepasang matanya terus mengikuti gerakan namja yang kini sudah duduk disampingnya. Dan Kibum langsung menghirup nafas dalam ketika Donghae menyamar menjadi petugas listrik.
"Sudah berapa lama ?" ulangnya lagi. Donghae melepas topi hitam yang digunakan untuk menyamarkan dirinya. Kemudian ia kembali menggunakan jemari tangannya untuk mengusap warna keunguan yang terlihat samar pada wajah Kibum.
Berkedip sesaat, Kibum akhirnya tersadar. "Kalian bukan petugas listik sungguhan ?" tanyanya dengan wajah terkejut. Yeoja cantik itu menatap Donghae dan 2 orang namja yang terlihat sibuk memperbaiki pendingin ruangan.
"Mereka anak buahku," sahut Donghae. Bersamaan dengan itu, 2 orang namja yang berdiri beberapa langkah didepan Kibum segera memutar tubuhnya lalu menganggukkan kepala singkat. Membenarkan ucapan bos mereka.
"Dan tentu saja mereka bisa memperbaiki pendingin ruangan itu," ucapnya mantap saat Kibum menatapnya dengan wajah kebingungan. "Karena mereka berdua juga yang sudah merusak pendingin ruangan di café ini," sambungnya.
"Lalu maksud kedatanganmu apa, Tuan Lee ?" Kibum sedikit menggeser posisi duduknya sedikit menjauhi Donghae.
Tersenyum tipis, namja tampan itu beranjak memperbaiki posisi duduknya agar semakin rapat dengan Kibum. "Sekalipun dirimu mencoba lari dariku, maka aku akan terus mengejarmu." Meraih telapak tangan Kibum dalam genggaman tangannya, Donghae sedikit menarik tubuh mungil itu agar semakin dekat dengannya. Satu tangannya yang lain melingkari pinggang Kibum hingga tubuh mungil itu berada dalam pelukannya.
"Tolong jangan bersikap seperti ini," tegur Kibum dengan tubuh sepenuhnya kaku. Ia merasa tidak nyaman berada dalam pelukan namja asing, apalagi ia sama sekali tidak mengenal Donghae dengan baik. Kebaikan Donghae memang sudah membuka matanya mengenai siapa sosok namja yang selama ini dinikahinya. Disisi lain, Kibum masih menyimpan kewaspadaan jika dirinya akan digunakan sebagai alat balas dendam Donghae kepada Siwon.
Meletakkan dagunya pada bahu Kibum, Donghae tampak tersenyum dalam kebisuannya. Sepasang tangannya menarik ujung lengan kemeja Kibum hingga sebatas siku. "Luka baru," bisiknya sembari menunjuk pada beberapa bekas yang tertinggal disepanjang pergelangan tangan Kibum.
Donghae manarik keluar gel yang ia sembunyikan dibalik saku jaketnya. Dengan penuh kehati-hatian, ujung jarinya dengan teliti mengoleskan gel dingin itu pada setiap luka memar yang menghiasi pergelangan tangan Kibum.
Setelah memastikan seluruh luka memar diolesi oleh gel dingin, Donghae segera menjauhkan tubuhnya dari Kibum. "Aku mengunjungimu hanya untuk mengobati luka memarmu," jawabnya lirih lalu beranjak dari duduknya. 2 orang namja yang merupakan anak buah Donghae memberikan isyarat jika mereka sudah selesai memperbaiki pendingin ruangan.
"Oh ya…" Donghae merogoh saku jaketnya dan menyodorkan satu kantung plastik berisi obat-obatan. "Aku sudah menyiapkan obat luar dan obat dalam untukmu."
Kibum menerima satu kantung obat-obatan itu dengan senyuman tipis dibibirnya. Ia masih ragu dengan keberadaan Donghae yang selalu menjadi malaikat pelindungnya. Ada satu sisi dalam dirinya yang terus mendorongnya untuk berpihak pada Donghae. Namun akal sehat Kibum menolak dengan keras. Donghae masih terlalu misterius baginya.
"Apakah dirimu tau penyebab kemarahan Siwon ?" tanyanya ragu.
.
.
.
Berkedip selama beberapa saat, Kibum menarik turun syal rajut yang melilit sekitar lehernya. Ia kembali mengamati secarik kertas kusut yang berada dalam genggaman tangannya. Sebaris alamat yang diberikan Donghae ketika menemuinya di café tempo hari.
Memutar tubuhnya, Kibum mengawasi selama beberapa menit daerah tempat tinggal Jonghyun. Ia masih mengingat dengan baik pesan Donghae agar selalu memasang sikap waspada. Kibum tidak ingin pertemuannya dengan sahabat lamanya memancing reaksi buruk dari suaminya. Tidak. Cukup sekali dan Kibum tidak ingin Jonghyun terseret dalam permasalahan rumah tangganya.
"Aman," gumamnya.
Kibum segera memutar tubuhnya dan mengetuk pintu kayu itu sebanyak 3 kali. Suasana rumah yang terlihat lengang membuat Kibum mulai berpikir jika keputusannya menemui Jonghyun salah.
CKLEK
"Kibummie ?" Jonghyun tersenyum sumringah melihat sahabat lamanya berdiri didepan pintu rumahnya. Kedua tangannya segera direntangkan lebar-lebar.
Perasaan bersalah langsung menyeruak dalam diri Kibum saat melihat senyuman yang selalu ditampilkan Jonghyun. "Mianhae ~~" ucapnya kemudian menghambur kedalam pelukan hangat yang selalu dirindukannya.
Memeluk tubuh mungil Kibum selama beberapa saat, Jonghyun menepuk pelan bagian belakang kepala yeoja itu. "Mau masuk untuk minum cokelat hangat ?" tawarnya. Walaupun cukup lama berpisah, namja dengan senyum hangat itu masih hafal segala hal yang Kibum sukai. Cokelat hangat adalah salah satu kesukaan sahabatnya.
Termenung sejenak, Kibum memilih menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku sudah lama tidak merasakan cokelat hangat buatanmu, Jonghyun-ah. Tapi aku tidak bisa terlalu lama berdiri didepan pintu rumahmu," bisik Kibum dengan tatapan sendu yang terlihat dari sepasang bola mata indahnya.
"Maafkan aku tentang kejadian tempo hari. Itu semua salahku yang mabuk pada saat pesta yang diadakan ibu mertuaku."
Jonghyun paham kemunculan mendadak Kibum didepan pintu rumahnya, disebabkan kejadian malam usai dirinya mengantarkan sahabatnya itu pulang ke rumah. Seharusnya ia bisa menjaga sikap dan mengantarkan Kibum kepada suaminya. Bukan malah membawa pergi istri orang dari kerumunan pesta. Walaupun tujuan Jonghyun baik, tapi Kibum adalah tanggungjawab suaminya.
"Aku seharusnya mengantarkanmu kepada suamimu. Siwon berhak marah karena aku sudah membawa kabur istrinya dari pesta," guraunya dengan nada setengah bercanda. Sejujurnya, Jonghyun tidak ingin mengungkit kejadian beberapa hari yang lalu. Tentu hal tersebut akan memperburuk suasana hati sahabatnya. Setidaknya bagi Jonghyun, kemarahan Siwon kepadanya cukup beralasan. Dan dirinya merasa maklum menjadi sasaran kemarahan Siwon. Jonghyun menyadari dimana titik kesalahannya dan menerima konsekuensi yang ditanggungnya.
Kibum ingin membalas gurauan Jonghyun yang ditujukan padanya. Kibum tentu ingin menampilkan senyuman yang selalu dijadikannya tameng ketika suasana hatinya memburuk. Tapi menampilkan senyuman didepan Lee Jonghyun hanya akan membuat suasana hatinya semakin buruk. Jonghyun adalah sahabatnya sejak lama. Meskipun Kibum dan Jonghyun berpisah hampir selama 10 tahun, bukan berarti keduanya tidak mengetahui pribadi masing-masing.
Justru karena Jonghyun adalah teman semasa sekolahnya dulu, Kibum merasa serba salah untuk merespon ucapan sahabatnya itu. Jonghyun merupakan tipikal namja yang mudah peka dengan keadaan orang-orang diselilingnya.
Kibum memutuskan untuk melangkah maju kedepan dengan perasaan mantap. Namun tindakan yang diambil ibu muda itu justru berbanding terbalik dengan reaksi Jonghyun yang segera melangkahkan kakinya mundur.
Meraih pergelangan tangan Jonghyun, Kibum menyodorkan bibirnya lalu mengecup singkat memar keunguan pada rahang namja tampan itu. Warna yang terlihat kontras dengan wajah pucat Jonghyun. "Aku minta maaf, Jonghyun-ah," bisik Kibum dengan suara bergetar.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Kibum menarik dirinya lalu melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah Jonghyun sesegera mungkin. Ia tidak mau membuat Jonghyun terseret kedalam badai rumah tangganya dengan Siwon. Lagipula, Kibum harus mewaspadai setiap langkah kakinya. Ia cukup waspada jika Siwon menyuruh beberapa orang untuk memata-matai setiap aktifitasnya diluar rumah.
Menapaki jalanan trotoar dengan langkah sedikit tergesa, Kibum menarik syal rajutnya hingga menutup separuh wajahnya. Ia sengaja meluangkan waktu sebelum berangkat menuju café untuk menemui Jonghyun.
Dan kali ini, Kibum harus berterimakasih kepada Donghae yang bersedia memberikan alamat rumah Jonghyun. Serta menceritakan segala detail akar permasalah penyebab Siwon melayangkan pukulan tanpa alasan kepadanya selama beberapa hari ini.
.
.
.
Melipat ujung lengan kemejanya sebatas siku, Kibum mulai mengoleskan gel yang diberikan Donghae padanya. Jika ia terlalu lama membiarkan bekas luka serta memar menghiasi tubuhnya, bukan tidak mungkin sahabatnya akan menaruh rasa curiga. Kibum tidak bisa menebak jalan hidupnya. Kebohongan yang ia sembunyikan dari para sahabatnya pasti akan segera terkuak. Namun untuk saat ini, Kibum merasa masih mampu untuk menghadapinya seorang diri.
Bukan maksud Kibum untuk menyembunyikan permasalahannya dari sahabat dekatnya. Tapi ibu muda itu merasa ada beberapa hal yang tidak harus ia bagi kepada sahabatnya. Salah satunya adalah kehidupan pribadinya. Tidak semua hal-hal yang bersifat pribadi layak untuk dibicarakan orang lain. Terkadang permasalahan yang ada dalam rumah tangga hanya membutuhkan penyelesaian dari 2 pihak, suami dan istri. Tidak ada campur tangan pihak lain.
Dan Kibum tidak mungkin membiarkan malaikat kecilnya mengetahui permasalahan antara dirinya dan Siwon. Choi Minho masih terlalu kecil. Kibum tidak mungkin perkembangan psikis buah hatinya terganggu. Ia mengetahui jika korban dari permasalahan rumah tangga adalah anak.
"Eomma ~~" Suara langkah kaki mungil Minho yang berjalan menuruni anak tangga membuat Kibum segera tersadar dari lamunannya. Ibu muda itu segera menarik turun lengan kemejanya agar luka memarnya tersembunyi.
Berjalan menjauhi meja makan, Kibum segera berjongkok ketika mengetahui Minho berlari kearahnya dengan senyuman lebar. Kedua tangannya mendekap erat tubuh malaikat kecilnya. "Kenapa jagoan eomma belum tidur, hmm ?" bisiknya lirih lalu mencium pipi tembam Minho secara bergantian. "Sudah jam 10 malam," seru Kibum sambil menunjuk jam dinding.
Minho menunjuk pintu rumah dengan bola mata berbinar. "Appa berjanji akan membacakan cerita superhero untukku, eomma."
Kibum menatap sekilas pintu rumah yang tertutup rapat. Bisa dipastikan harapan Minho untuk mendengarkan cerita superhero dari ayahnya akan pupus. Semenjak perselingkuhan Siwon terkuak, Kibum mulai menyadari jika suaminya selalu terlambat pulang ke rumah. Ia selalu mendapati suaminya menginjakkan sepasang kakinya ketika jarum pendek jam sudah lewat dari angka 12.
Sedangkan ia tidak mungkin membiarkan Minho menunggu ayahnya pulang hingga larut malam. Minho harus sekolah. "Bagaimana jika eomma yang membacakan cerita untukmu, chagi ?"
Minho mengerucutkan bibirnya lalu menghentakkan sepasang kakinya. "Minho ingin appa ! " sungutnya dengan wajah muram.
.
.
.
Menatap gemerlap malam Seoul dari ketinggian memang sebuah hal yang mengagumkan. Tidak banyak yang bisa ia lakukan saat ini selain menikmatinya. Melirik kebelakang melalui bahunya, Siwon menatap Jessica yang sudah terlebih dulu terlelap diatas ranjang.
Sepasang mata tajamnya kembali menikmati kesunyian malam dari balkon kamarnya. Merenungi semua permasalahan yang timbul setelah kehadiran Donghae dalam kehidupannya. Sahabat lamanya itu sudah membongkar aib yang selama ini mampu disimpan rapat oleh Siwon. Dan sejak saat itu, berbagai permasalahan muncul. Dan yang paling membuat Siwon termenung adalah sisi gelap dalam dirinya yang kembali muncul.
Siwon mengingat dengan baik emosinya yang langsung meledak saat mengetahui Kibum diantar oleh sahabat lelakinya. Bahkan ledakan emosinya tidak berhenti ketika ia puas melayangkan pukulan pada Lee Jonghyun. Siwon bahkan melakukan kekerasan fisik pada Kibum ketika yeoja itu dalam keadaan tidak sadar.
Selama 6 tahun mengikat simpul pernikahan dengan Kibum, selama itu pula Siwon mampu menekan dalam-dalam sisi gelap dirinya.
Dalam tempo kurang dari satu bulan, Siwon harus mengakui jika sahabat lamanya sukses memancing sisi gelapnya. Ada sesuatu yang membuat Siwon mulai berpikir jika menampilkan sosok kejamnya adalah hal tepat untuk menghadapi Donghae.
Siwon tidak mengetahui secara pasti apa yang membuat Donghae kembali. Siwon juga tidak tau apa yang diinginkan Donghae dari kehidupannya. Kibum ? Minho ?
"Minho…" gumamnya dengan tatapan menembus kegelapan. "MINHO !" ulangnya lagi. Kali ini Siwon segera berlari tergesa kedalam kamar lalu menyambar jaketnya dengan cepat.
_TBC_
.
.
.
Status :: kehilangan arah -_-
