KEY

Chapter 2: Real World

Disclaimer: Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP

"Semuanya, waktunya makan!" seruan Fujitaka-san membuyarkan konsentrasi Sakura, Syaoran, Touya dan Yukito.

Serentak mereka melepas kacamata videonya.

"Ayo ayo! Besok saja lanjut mainnya! Sudah malam" kata Fujitaka-san lagi.

Sakura mengerjapkan matanya hingga benar-benar tersadar. Dipandangnya sekelilingnya. "Huff…game itu benar-benar terlihat seperti kenyataan" kata Sakura.

"Ahaha, iya! Rasanya kita benar-benar sedang mengalaminya. Tanpa sadar jadi keasyikan" sahut Syaoran.

Sakura memutar buku panduan di depannya. Kemarin ia mendapat email dari sebuah perusahaan game terkenal. Mereka sedang mengadakan launching game terbaru dan memilih beberapa puluh orang dari seluruh Jepang untuk mencoba versi betanya. Nama game itu 'KEY'. Game itu berupa game online RPG. Para pemain mendapat satu peran dalam game dan menyelesaikan seluruh jalan cerita yang ada hingga ending. Jalan ceritanya? Semua tergantung pemain. Server akan memberikan alur cerita bagi semua pemain dan semuanya saling berhubungan ke satu alur cerita utama. Ending dari game ini akan tergantung dari tindakan yang diambil para pemain tersebut. Permainannya menggunakan komputer dan jaringan internet. Namun pemain diberi kacamata khusus sebagai layar dari game tersebut. Jadi pemain merasa seolah dirinya dan tubuhnya yang bergerak. Untuk mengendalikan karakternya, menggunakan keyboard komputer.

'Mainkan, nikmati dan lihatlah akhir dari semuanya' Sakura membaca tagline dari game 'KEY' dalam hatinya. Ia memiringkan kepalanya.

"Aku memang belum memahami game ini. Tapi kupikir aku akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan" kata Sakura dalam hati.

Syaoran bangkit dari kursinya dan menepuk bahu Sakura. "Yuk, kita makan! Yang lain pasti sudah menunggu kita" ajaknya.

Sakura mengangguk dan mengikuti Syaoran ke ruang makan.

"Kalian lama sekali! Aku sudah lapar, nih!" keluh Touya. Tadi ia dan Yukito bermain game 'KEY' di kamar Touya.

"Iya, maaf! Tadi aku sempat masih kebingungan membedakan dunia nyata dan dunia maya. Gamenya terasa nyata sekali" kata Syaoran.

"Huh…kalau begitu bagaimana kalau kau sekarang memanggilku Yang Mulia? Aku khan tokoh raja" kata Touya, sedikit sinis. Ia biasa bersikap seperti itu pada Syaoran.

"Kakak!" Sakura langsung memasang wajah kesal. Ia paling tak suka kalau kakaknya mulai bersikap begitu lagi.

"Sudah sudah! Ayo mulai makan! Sepertinya masakan Fujitaka-san ini sangat lezat" kata Yukito, lalu tersenyum ke arah Fujitaka-san.

"Ayo kita makan!" ajak Fujitaka-san.

Selesai makan, Syaoran membantu Sakura membereskan perlengkapan main game yang masih berserakan. Syaoran memasukkannya baik-baik ke dalam kotak.

"Terima kasih" kata Sakura.

"Aku juga berterima kasih karena bisa numpang main di rumahmu" kata Syaoran.

"Hmm… tapi kita harus berterima kasih pada perusahaan game yang menghadiahkan kita semua ini. Padahal aku iseng mendaftar di depan supermarket, waktu itu. Tak kusangka aku dapat empat sekaligus. Malah mereka meminjamkan netbook untuk main game" kata Sakura.

Memang, selain karakter game, perusahaan game yang mengadakan uji coba itu juga meminjamkan netbook untuk memainkan gamenya.

"Ya, mereka baik sekali Lumayan, kita bisa mengisi waktu liburan tanpa merasa bosan" kata Syaoran.

"Tapi lebih-lebih…" Wajah Sakura bersemu merah. "Aku senang…bisa menghabiskan liburan ini dengan…"

"Hei, ayo cepat pulang!" Touya mendadak muncul di depan pintu .

Syaoran dan Sakura langsung kaget.

"Sudah jam sembilan malam nih! Lebih baik kau cepat pulang!" kata Touya lagi sambil menatap Syaoran.

"I..iya" jawab Syaoran.

"Yaaahhh… Padahal aku masih ingin ngobrol" Sakura tampak kecewa.

"Jangan cemberut begitu" Syaoran menarik pelan pipi Sakura. "Besok sore aku datang lagi" katanya.

Sakura langsung gembira. Kalau begitu, sebelum makan malam, ya! Nanti kita makan bersama lagi di sini!" kata Sakura.

Syaoran mengangguk. "Oke" jawab Syaoran.

Syaoran meninggalkan rumah Sakura dan berjalan pulang. Ia melirik jam tangannya sekilas. "Wah, benar juga! Sudah pukul sembilan lewat!" katanya dalam hati. "Kalau main dengan Sakura, waktu terasa berjalan cepat"

Syaoran mempercepat langkah kakinya. Ia tak ingin ibunya marah.

"Ketemu" Tiba-tiba terdengar suara yang berat dan misterius. "Akhirnya kutemukan…"

Syaoran berhenti sejenak dan menoleh. Mendadak sebuah sinar ungu melesat ke arahnya. Refleks, Syaoran menghindar.

"Apa itu?" pikir Syaoran.

Sinar ungu itu melesat ke arahnya lagi, menghantam tubuh Syaoran.

"Uaahhhh!" Syaoran terlempar ke jalanan.

"Ketemu…" Suara misterius itu terdengar lagi. "Kau harus mati"

Syaoran menatap sinar ungu itu. Kini sinar itu melayang-layang, berputar di sekitarnya. "Apa itu sebenarnya?" tanya Syaoran dalam hati.

"Kau…harus mati!" Sinar ungu itu melesat lagi.

Syaoran bangkit. Dengan cepat ia menendang sinar misterius itu. Sosok di baliknya pun tampak sejenak, lalu mundur.

"Itu….singa?" Syaoran semakin terkejut.

"Tunggu saatnya" Sosok itu bicara lagi. Namun kali ini ia melesat pergi dan lenyap dari pandangan.

Syaoran masih terpaku untuk beberapa saat,. Ia menepuk pipinya. "Aku tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi, kan?" pikirnya. "Sebenarnya apa yang menyerangku tadi? Dan untuk apa?"

Sakura merebahkan diri di atas tempat tidur. Pikiranya melayang-layang. Liburan sekolah kali ini cukup lama, sebulan lebih. Tapi ia tetap bisa bermain dengan sahabatnya

"Aku senang sekali karena Syaoran mau ikut bermain denganku" gumam Sakura. "Apakah Syaoran juga merasa senang, ya?"

Layaknya di dunia game, Syaoran adalah sahabat Sakura sejak kecil. Mereka bersekolah di SD yang sama. Dan setelah lulus SD pun mereka satu sekolah di SMP bahkan satu kelas. Sakura tinggal bersama kakak dan ayahnya, sedangkan ibunya telah meninggal sesaat setelah Sakura lahir. Touya, kakak Sakura punya kesibukan sendiri. Fujitaka-san juga sibuk di kantor. Jadi Sakura biasa bermain akrab dengan teman-temannya, termasuk Syaoran. Tapi Touya memang sering bersikap sinis pada Syaoran.

Tadinya Sakura berpikir akan sulit mencari alasan untuk bertemu Syaoran pada liburan panjang kali ini. Tapi berkat game ' KEY', mereka jadi bisa sering bersama-sama.

Angin kencang berhembus memasuki kamar Sakura melalui jendela yang terbuka.

Sakura menggigil kedinginan dan bangun. "Aduh, aku lupa menutup jendela!" katanya.

Sakura segera meraih daun jendela dan menutupnya.

"Eh, siapa itu?" Pandangan Sakura terhenti pada sebuah sosok di atas atap rumah yang tak jauh dari sana.

Tampak sosok seorang pria dengan baju aneh serba berwarna hitam, mondar-mandir di sekitar atap , lalu melompat ke arah atap yang lainnya.

Sakura mengucek kedua matanya. "Mimpikah aku?" tanyanya dalam hati. "Bagaimana mungkin ada orang yang berpakaian aneh lalu nekat melompati atap seperti itu?" Saat Sakura membuka mata lebar-lebar lagi, sosok itu sudah lenyap.

"Sepertinya aku memang berhalusinasi" pikir Sakura lagi. "Mungkin lebih baik aku tidur…"

Ia pun menutup jendela kamarnya rapat-rapat dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. "Semoga besok menjadi hari yang lebih menyenangkan"

-Game World-

Sakura berjalan pelan. Syaoran berada di sampingnya, berjalan sambil menggenggam tangannya erat-erat. Sore itu, sesuai janji Syaoran datang ke rumah Sakura. Mereka kembali memainkan gamenya. Kini mereka berdua telah meninggalkan Clow Country dan berjalan menuju utara, menuju tempat Crystal Key berada. Mereka berjalan di tengah hutan.

"Sakura-hime apakah Anda lelah?" Tanya Syaoran, melihat Sakura yang sejak tadi diam saja.

Sakura memandang Syaoran dengan kesal.

"Eh maaf Sakura… Kamu ingin istirahat dulu?" tanya Syaoran. Ia tahu Sakura tak ingin dipanggil Hime olehnya.

"Tidak, nanti saja" jawab Sakura. "Kita harus segera menemukan Crystal Key, bukan?"

Syaoran tersenyum dan merangkul Sakura. "Santai saja" katanya. "Kita pasti akan segera menemukannya"

Sakura, di dalam game dan di dunia nyata jadi berdebar-debar. Syaoran merangkulnya! Walau hanya di dalam game, perasaan Sakura jadi tak karuan.

"Ah, di depan kita ada kota!" kata Syaoran tiba-tiba. Ia menunjuk ke arah di balik pepohonan. Ada sebuah kota yang dikelilingi tembok dengan gerbang yang besar. Gerbang itu tampak sedikit terbuka.

"Kita masuk?" tanya Syaoran.

Sakura mengangguk. "Mungkin Crystal Key ada di kota ini" sahutnya. "Kita harus mencoba mencarinya di sini"

Syaoran menggandeng tangan Sakura lagi. Ia berjalan di depan dan memasuki gerbang itu perlahan. "Permisi…" sapanya.

Mendadak terdengar suara teriakan. "Hentikan mereka!"

Dari atas pohon, turunlah beberapa orang dengan pakaian hitam-hitam, lengkap dengan pedang di tangan.

"Syaoran…" Sakura jadi cemas.

"Tertangkap juga…" kata seorang laki-laki bertubuh besar. "Kalian tak akan kubiarkan memasuki kota ini!"