KEY
Chapter 3: Kyoto
Disclaimer: Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP
Sakura mencengkeram erat baju Syaoran. Ia tak berani bergerak atau berkata-kata sedikitpun. Orang-orang yang mengepung mereka siap menyerang. Syaoran pun hanya diam, berusaha tetap tenang.
"Usaha kalian sia-sia saja" kata orang bertubuh besar tadi. "Apapun yang kalian rencanakan untuk membunuh Tomoyo-Hime, pasti akan kuhentikan"
"Maaf, sepertinya Anda salah paham" sahut Syaoran. "Kami cuma seorang pendatang dan sama sekali tak bermaksud jahat"
"Jangan bohong!" kata orang tadi. "Aku tahu tujuan kalian!"
"Ada apa ini?" Mendadak seorang wanita datang, dikawal beberapa orang.
Orang bertubuh besar itu terkejut. "Tomoyo-Hime…Kenapa Anda ke sini?" tanyanya.
Sakura dan Syaoran juga terkejut melihat siapa yang datang. Mereka sangat mengenalnya. Tomoyo-Hime di dunia nyata adalah teman sekelas mereka!
"Kurogane, lepaskan mereka!" kata Tomoyo pada orang bertubuh besar itu.
"Tapi mereka adalah pasukan itu…" kata orang yang dipanggil Kurogane itu.
"Bukan. Aku tahu mereka adalah orang baik" kata Tomoyo. Ia menoleh pada Sakura dan tersenyum. "Benar kan?"
Sakura membalas senyum itu dan mengangguk.
"Namaku Tomoyo. Aku adalah pemimpin kota ini. Salam kenal!" Tomoyo memperkenalkan diri.
Tentu saja Sakura dan Syaoran sudah mengenalnya. Tapi mereka ingin memainkan game dengan serius tanpa mencampurinya dengan urusan dunia nyata.
"Namaku Sakura dan ini Syaoran. Kami dari Clow Country" Sakura memperkenalkan dirinya dan Syaoran.
"Salam kenal" kata Syaoran.
"Sakura-Hime dari Clow Country bukan?" tanya Tomoyo.
Sakura sedikit terkejut karena Tomoyo mengetahui bahwa dirinya adalah seorang putri. Ia pun mengangguk.
"A…anda Sakura-Hime dari Clow Country?" Kali ini Kurogane dan pasukan lainnya yang terkejut. Mereka buru-buru memberi hormat. "Maaf atas kelancangan kami"
"Tidak apa-apa. Lupakan saja yang tadi. Yang penting, sudah tak ada salah paham lagi" kata Sakura.
"Kalau begitu, ayo masuk ke kota!" ajak Tomoyo. "Kalian kuundang masuk ke istana"
"Ah, terima kasih!" kata Syaoran.
"Terima kasih, Tomoyo!" kata Sakura.
Tomoyo tersenyum. Mereka berjalan menuju istana.
…
"Maaf atas sambutan yang tidak menyenangkan tadi" kata Tomoyo. "Terima kasih atas kunjungan kalian ke kota ini"
"Tidak apa-apa. Aku juga berterima kasih padamu karena sudah mempercayai kami"kata Sakura.
Mereka berada di ruang makan istana. Tomoyo menjamu Sakura dan Syaoran sebagai tanda penyambutan kedatangan mereka di negeri itu. Kurogane, pengawal betubuh besar itu juga berada di ruangan tersebut. Tapi ia tidak ikut makan, hanya berjaga di sebelah pintu saja.
"Tentu saja aku percaya padamu. Kyoto dan Clow Country adalah dua negeri yang memiliki hubungan baik. Beberapa kali raja Touya berkunjung ke sini dan bercerita tentangmu. Aku juga pernah datang ke Clow Country dan melihatmu sekilas, Sakura" kata Tomoyo.
"Benarkah?" tanya Sakura. "Tapi kenapa aku tak pernah melihatmu datang, ya?"
"Hm… Waktu itu kamu terlihat buru-buru keluar istana. Aku juga hanya melihatmu sekali itu saja" jawab Tomoyo.
Sakura menghela napas. Ia memang tak terlalu tahu dengan urusan istana. Toh dia memang jarang dilibatkan oleh kakaknya. Setelah urusan selesai, baru Sakura mendapat laporan dari pegawai istana lainnya.
"Oh iya, kalau boleh tahu, kenapa seorang putri seperti Sakura bepergian keluar hanya berdua saja? Tidak ditemani pengawal kerajaan?" tanya Tomoyo.
Sakura tertunduk diam, tak tahu harus bercerita dari mana. Wajahnya menampakkan kesedihan.
"Clow Country diserang" Akhirnya Syaoran yang menjawab. "Seorang penyihir bernama Lock Reed disegel di kuil yang terdapatdi Clow Country. Kemarin segel itu melemah dan terlepas. Penyihir itu mengacau di kota. Untuk menyegelnya kembali, ada satu benda yang harus kami cari"
"Benda apa itu?" tanya Tomoyo.
"Crystal Key" jawab Sakura. "Katanya Crystal Key akan menolong kami mengalahkan Lock Reed"
"Kami harus membawa Crystal Key ke Clow Country. Yukito, pendeta tinggi di Clow Country melindungi kota dengan cara melenyapkan Clow Country…hingga saat itu tiba" kata Syaoran.
"Jadi begitu…" sahut Tomoyo. "Sayang sekali, aku tidak tahu dimana Crystal Key berada. Mendengarnya saja baru kali ini. Tapi aku berjanji, akan membantu kalian menemukan benda itu"
"Terima kasih" kata Sakura.
"Tomoyo-Hime, jangan melibatkan diri dalam masalah orang lain! Jangan lupa dengan keberadaan 'mereka'!" Tiba-tiba Kurogane angkat bicara.
"Mereka?" Sakura bertanya-tanya.
Mendadak Kurogane menarik pedang yang disarungkan di pinggangnya, lalu melesat ke arah Sakura dan Tomoyo. "Menunduk!" serunya.
Tomoyo segera menundukkan kepalanya. Seorang pengawal melindunginya. Syaoran mendekap Sakura lebih dulu, dan menunduk bersama-sama.
Terdengar suara kayu yang patah dan jatuh ke lantai. Kurogane melesat keluar. "Souma, lindungi Tomoyo-Hime!" teriaknya.
Pengawal di sebelah Tomoyo mengangguk. "Ya!" serunya.
Syaoran mengangkat wajahnya. Ia melihat ke lantai. Sebuah anak panah yang terpotong jadi dua tergeletak di sana. "Panah? Apakah tadi Kurogane menghentikan panah ini?" tanya Syaoran dalam hati.
Beberapa saat kemudian terdengar keributan di luar. Terdengar beberapa orang yang sedang beradu pedang.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Sakura.
"Klan Kumo, ini pasti perbuatan mereka lagi…" gerutu pengawal yang dipanggil Souma tadi.
"Klan Kumo adalah salah satu suku yang mendiami negeri ini. Saat ini mereka terus menerus menyerang dan berusaha membunuhku, untuk merebut kekuasaan negeri ini" jawab Tomoyo.
"Berusaha membunuhmu?" Skaura terkejut.
Tomoyo mengangguk. Namun sebelum sakura sempat bertanya-tanya lagi, mendadak tubuhnya menghilang.
"Eh… Tomoyo?" Sakura tambah bingung.
Syaoran menoleh ke sekelilingnya dengan waspada. Bukan hanya Tomoyo, Souma pun ikut hilang. Bahkan pertarungan di luar juga tak terdengar lagi.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" tanya Syaoran dalam hati.
"Matikan komputernya!" Tiba-tiba terdengar seruan Kurogane.
…
-REAL WORLD-
Mendengar seruan itu, Syaoran segera log out dari game dan membuka kacamatanya. Sakura mengikutinya.
"Jangan diam saja! Kalian bisa mati!" Kurogane berseru lagi.
Syaoran dan Sakura menoleh ke arah jendela kamar. Jendela itu sudah terbuka. Kurogane tampak di luar, berlarian di atap, menggenggam sebuah pedang. Beberapa sinar ungu berwujud singa sedang menyerangnya.
"Kurogane? Kenapa kau bisa di sini?" Sakura kebingungan.
Kurogane tak sempat menjawab. Ia berkonsentrasi melawan kawanan singa itu. Tapi seekor singa lolos dari hadapannya dan melesat menuju jendela kamar Sakura.
"Sakura, tunggu di sini!" Syaoran menyambar sapu yang ada di kamar Sakura dan berdiri di jendela, siap menghadapi singa itu.
"Syaoran!" Sakura berseru cemas.
Syaoran menghantam singa itu dengan gagang itu mundur, tapi menyerang lagi. Syaoran memancingnya menjauhi kamar Sakura dan menghadapinya.
Sakura tersentak. "Aku pernah melihat singa seperti itu!" pikirnya. "Itu seperti singa yang muncul di Clow Country sewaktu segel Lock Reed terlepas!"
Dua ekor singa lenyap tertebas pedang Kurogane. Masih ada tiga ekor lagi yang harus dihadapinya. Sementara Syaoran mulai terdesak. Sebuah gagang sapu tak bisa melukai singa dengan sinar ungu itu. Pukulan malah membuat singa itu semakin ganas.
Sakura semakin bertanya-tanya dalam hati. "Kenapa monster dalam game bisa muncul di dunia nyata?"
