KEY

Chapter 5: Latihan (?)

Disclaimer: Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP

Pagi telah tiba. Sambil sarapan, Sakura menceritakan mimpinya semalam pada Syaoran. Ia bercerita, bagaimana Sakura yang lain mendatanginya dan memberikan senjata padanya. Sakura menunjukkan pistol yang diberikan kembarannya itu. Ia juga menceritakan segala hal yang didengarnya kemarin. Tentang kenyataan bahwa orang dari perusahaan game KEY memang terlibat dalam hal ini.

"Aku tahu ini sulit dipercaya," kata Sakura. "Aku sendiri tadinya tak percaya, tapi pistol ini benar-benar ada di sampingku sewaktu aku bangun," katanya lagi sambil menunjukkan pistol yang diberikan kembarannya itu. "Syaoran…percaya padaku, kan?"

Ya, dalam hati Sakura sempat ragu menceritakan semuanya. Ia sendiri merasa apa yang dialaminya semalam adalah hal yang tak masuk akal. Bagaimana mungkin pemberian seseorang di dalam mimpi bisa muncul begitu saja di dunia nyata? Tapi Sakura percaya, Syaoran pasti tak akan meragukan dirinya. Ia harus menceritakannya, karena semua ini berhubungan dengan semua pemain dalam game yang harus mereka lanjutkan itu.

"Aku percaya padamu," kata Syaoran.

Jawaban itu melegakan Sakura. "Memang aneh sih…kalau sesuatu dalam mimpi bisa terwujud ke dunia nyata seperti ini…" katanya kemudian.

Tiba-tiba saja Syaoran bangkit dari kursinya dan masuk ke kamarnya. Lalu ia keluar, dengan membawa sebuah pedang.

"Syaoran…itu…" Sakura menatapnya dengan terkejut.

"Aku juga mendapat mimpi yang sama denganmu," sahut Syaoran.

Syaoran pun menceritakan mimpinya. Dimana ia juga mendapatkan mimpi yang hampir sama dengan Sakura. Ia bermimpi bertemu dengan kopian dari dirinya dan ia memberikan senjata… berupa pedang.

Sakura mendengar cerita Syaoran dengan takjub. "Ternyata mimpi kemarin memang bukan mimpi biasa," katanya setelah Syaoran mengakhiri ceritanya.

Syaoran mengangguk. "Sekarang sudah jelas apa yang harus kita waspadai," sahutnya.

"Iya…" sahut Sakura. "Ternyata perusahaan game KEY ini sendiri terlibat dalam kemunculan monster-monster itu di dunia nyata. Untungnya kita sudah mendapat senjata untuk melawan mereka. Entah apa lagi yang akan kita hadapi nanti."

"Tapi…walaupun aku sudah mendapat senjata, aku masih belum bisa memakainya," kata Syaoran kemudian.

"Ah…" Sakura pun sadar. Ia juga belum bisa menggunakan pistol yang diberikan oleh tiruannya itu. "Benar juga…" sahutnya.

"Bagaimana kami harus berlatih?" tanya Sakura dalam hati. "Kami harus segera menguasai senjata ini. Entah kapan kami akan diserang lagi…"

'Ting tongg…'

Mendadak terdengar suara bel dari pintu depan.

Sesaat, Sakura dan Syaoran saling pandang. "Siapa yang datang?" tanya mereka dalam hati.

Bel pun terdengar lagi.

Mereka pun segera menuju pintu depan dengan waspada. Ya, mereka tak tahu siapa yang datang. Bisa saja kan sewaktu-waktu musuh menyerang?

Dengan ragu Syaoran membuka pintu. Dan ternyata yang datang adalah Tomoyo.

"Tomoyo…" Sakura jadi lega. "Syukurlah yang datang bukan monster ataupun orang dari perusahaan game," pikirnya.

"Kalian kenapa?" Tomoyo heran melihat ekspresi Sakura dan Syaoran. "Kelihatannya tegang begitu.."

"Ng…panjang ceritanya," jawab Sakura. Ia segera mempersilakan Tomoyo masuk. Kemudian mereka bertiga duduk di ruang tamu.

"Ada apa? Apa kalian bertemu sesuatu yang menakutkan?" tanya Tomoyo.

"Kira-kira begitulah," jawab Syaoran. "Ini tentang game KEY."

"KEY? Game yang kita mainkan itu ya?" tanya Tomoyo.

Syaoran mengangguk.

"Eh tunggu!" Sakura tersentak mendengar nama game itu disebut lagi. "Tomoyo…kenapa kamu tak pernah cerita padaku kalau kamu juga main game KEY?"

"Ng?" Tomoyo tampak heran.

"Kalau aku tahu kamu juga main,kan kita bisa main sama-sama!" kata Sakura.

"Tidak bisa." Tomoyo menggeleng. " Semua player dalam KEY memiliki alur ceritanya sendiri. Jadi walaupun kita saling terhubung, tetap tak bisa selalu bersama-sama."

"Oh iya.." sahut Sakura. Semua player dalam game mendapat cerita yang berbeda. Ia adalah putri dari kerajaan Clow dan Tomoyo adalah putri dari Kerajaan Kyoto. Sudah pasti walaupun mereka bertemu, tak akan bisa selalu bersama-sama.

"Tapi aku sudah tahu lho kalau Sakura adalah pemain game KEY. Aku masuk ke situs resminya," kata Tomoyo.

"Situs resmi game KEY?" tanya Syaoran.

"Ya. Di sana ada daftar semua player yang bermain dalam game ini. Aku sudah lihat nama kalian berdua. Tapi aku sengaja diam saja. Kupikir nanti kita pasti bertemu," sahut Tomoyo.

"Ng…kami tak tahu game ini ada situs resminya," kata Sakura.

"Aah, kalian harus melihatnya! Di sana ada juga peta dan beberapa petunjuk tentang kota-kota yang ada dalam game," kata Tomoyo.

"Kalau begitu, nanti akan kulihat," kata Syaoran.

"Ya. Dan sekarang kami harus menceritakan hal penting padamu," kata Sakura.

Tomoyo adalah sahabat Sakura sejak kecil. Ia juga sekelas dengan Sakura dan Syaoran. Tomoyo adalah anak dari pemilik perusahaan besar Daidouji. Ia sering mengajak Sakura dan Syaoran dalam acara-acara yang diselenggarakan perusahaan. Tomoyo juga suka mendandani Sakura. Kalau sudah ada acara, pasti ada saja pakaian atau pernak-pernik yang ia buat untuk Sakura. Tomoyo adalah orang yang paling dipercaya oleh Sakura, selain Syaoran. Dan sebaliknya, Tomoyo juga mempercayai Sakura.

Sakura akhirnya menceritakan semuanya pada Tomoyo. Semua, mulai dari peristiwa setelah mereka tiba-tiba berhenti dari game hingga peristiwa di dalam mimpi. Tomoyo mendengarkannya sambil mengangguk-angguk.

"Oh jadi begitu. Pantas saja tiba-tiba aku disconnect dari game dan tidak bisa log-in lagi," kata Tomoyo setelah Sakura selesai bercerita.

"Tapi kamu tidak diserang, kan?" tanya Sakura. "Tadi aku baru sadar,entah siapa saja yang diserang oleh mereka. Bisa saja semua player dalam game itu."

"Hm…sejauh ini tak ada berita tentang orang yang cedera atau bahkan sampai meninggal karena monster aneh sih…" jawab Tomoyo. Ia memang selalu mengikuti berita. Dan memang sejauh ini tak ada peristiwa kematian aneh yang diberitakan di sekitar Jepang.

"Bisa saja semuanya ditutup-tutupi," kata Syaoran. "Kalau memang perusahaan game itu sendiri adalah pelakunya, mereka bisa menggunakan banyak cara agar semua tak terekspos media."

Sakura menoleh pada Syaoran. Ya. Ia benar…

"Bisa saja sih… mereka bisa menggunakan uang atau dengan ancaman," kata Tomoyo.

Sakura menghela nafas. "Bagaimana kami akan menyelesaikan semua ini?" tanyanya dalam hati. "Apakah benar, semua akan baik-baik saja kalau kami melanjutkan game ini?"

Mendadak terdengar suara dering handphone. Tomoyo buru-buru meraih handphone dari tasnya. Itu suara handphone miliknya. Ada pesan yang masuk. Tomoyo pun membacanya.

"Ah, dia datang!" kata Tomoyo tiba-tiba setelah membacanya.

"Siapa?" tanya Syaoran.

"Kurogane," jawab Tomoyo. Kalian sudah bertemu dengannya kan?"

"Kurogane-san? Kamu mengenal Kurogane-san?" Sakura terkejut.

"Dimana dia sekarang?" tanya Syaoran.

"Kurogane sudah di depan pintu rumah ini. Hm… dia adalah saudara jauhku sekaligus tetanggaku. Tentu saja aku mengenalnya," kata Tomoyo.

"Eh, sudah di pintu depan?" tanya Sakura. "Kalau begitu, aku akan bukakan pintu!" Ia segera berjalan ke pintu depan dan membuka pintu. Benar saja, Kurogane sudah ada di sana. Sakura pun mempersilakan Kurogane masuk.

Kali ini Kurogane tak lagi memakai pakaian anehnya. Ia hanya memakai pakaian biasa. Sebuah kemeja lengan pendek berwarna hitam dan celana panjang hitam. Tentunya aneh kalau pagi-pagi begini ia pergi ke jalan dengan pakaian seperti semalam.

Sakura kembali menceritakan mimpinya semalam. "Kami memutuskan untuk melanjutkan game ini," kata Sakura akhirnya.

"Hm…keputusan yang bagus," kata Kurogane. "Tapi ternyata benar bahwa perusahaan game juga terlibat dalam hal ini."

"Ya. Katanya Lock Reed berhasil mendapatkan wujud nyata dan ia telah menguasai perusahaan game yang membuat KEY," kata Syaoran.

"Tapi kalau kalian berani bicara begitu, berarti kalian sudah siap, kan? " tanya Kurogane.

"Siap?" tanya Sakura.

"Siap untuk bertarung dan menerima semua resikonya," jawab Kurogane. "Kalian harusnya sudah tahu bahwa ini tidak mudah."

"Hm… ya. Tapi kurasa setelah ini aku harus belajar banyak. Aku masih belum bisa menggunakan senjata," jawab Sakura.

"Bagaimana kalau aku membantumu berlatih?" usul Tomoyo tiba-tiba.

Sakura langsung menoleh ke arahnya. "Eh, kau mengerti cara menggunakan pistol dengan peluru energi?" tanyanya. Ia ingat dengan kata-kata tiruan dirinya semalam. Pistol itu tidak akan kehabisan peluru karena menggunkan energi sang pemakai sebagai pelurunya. Dan Sakura belum memahami hal itu.

"Hm…" Tomoyo terlihat serius sampai-sampai Syaoran dan Kurogane ikut memperhatikannya. "Aku…aku juga tak mengerti cara menggunakan pistol itu," sahut Tomoyo akhirnya.

"Yaaahh!" Sakura dan yang lainnya langsung tampak kecewa.

"Tapi.." sahut Tomoyo cepat-cepat. "Tapi aku bisa membantumu belajar menggunakan pistol! Kita bisa ke tempat latihan khusus untuk para bawahan ayahku. Mereka pasti mau mengajarimu."

"Berlatih menggunakan pistol biasa, ya?" tanya Sakura.

Tomoyo mengangguk. "Sampai kamu bisa menggunakan pistol unik itu, kupikir tak ada salahnya belajar menggunakan pistol biasa dulu," katanya.

Sakura pun akhirnya mengangguk. "Baiklah!" katanya. "Aku akan berlatih!"

Tomoyo tersenyum. "Nah, ayo kita berangkat!" ajaknya. "Kita bisa ke sana sekarang."

"Kalau begitu aku juga…" kata Syaoran. Ia menoleh pada Kurogane. "Aku punya permintaan."

"Permintaan apa?" tanya Kurogane.

"Aku ingin Kurogane-san mengajariku menggunakan pedang," sahut Syaoran.

Kurogane tampak diam sejenak. Ia melihat semangat yang menyala-nyala di mata Syaoran. "Baiklah," katanya pada akhirnya. "Tapi kau harus siap menjalani latihan yang keras."

Syaoran mengangguk pasti. "Aku tak akan ragu," katanya dalam hati. "Karena aku sudah memutuskan utnuk melanjutkan game harus melindungi Sakura."

TO BE CONTINUED