Disclaimer : Ide cerita murni dari pikiran saya. Fict ini sepenuhnya milik saya. Cast milik dirinya sendiri, dibawah naungan SM Ent, dibawah asuhan orang tua, dan milik Tuhan.

.

.

Close But Far Away

Chapter 1

CinJu's Fict

.

.

"Seandainya… Aku tinggal di Seoul bersama teman-teman, sekolah di sana, dan pastinya rumah itu banyak yang menghuni, pasti asyik!" seorang anak gadis remaja merebahkan dirinya di kasurnya yang berukuran single bed. Otaknya meneruskan pikirannya untuk berimajinasi lebih jauh lagi.

Dari tinggal di sana, memiliki banyak teman disana, jalan-jalan ke sana, dan masih lebih banyak lagi, pikiran polosnya terus berkutat seakan ia sedang bermimpi indah. Mimpi indah itu begtitu menyenangkan, bukan?

Dan tanpa ia ketahui, sebentar lagi impiannya yang menurutnya tidak rasional itu, impian yang hanya pikiran absurd yang ia pikirkan setelah selesai mengerjakan Ujian Nasional terakhir di SMPnya itu akan segera terwujudkan…

Masih kurang, impian itu akan terwujud bahkan dengan satu bonus, yaitu mendapatkan cintanya.

.

.

"Se… Seoul?!" yeoja bergigi kelinci itu melongo penuh. Untung saja ia tidak sampai kehilangan kesadarannya. Ia barusan melihat tiang besar bertuliskan 'Selamat datang di kota Seoul!' melalui kaca jendela mobilnya. Seoul, kota yang selama ini diimpikannya.

"Kejutan kelulusanku itu untuk berlibur di Seoul?" ulangnya sekali lagi, kini dengan jurus puppy eyes yang bersinar-sinar dan membuat siapa saja yang melihatnya tidak akan tahan untuk mencubit pipi mulusnya, termasuk ibunya sendiri yang sedang mencubit-cubit pipi anaknya itu.

"Iya Minnie," hup. Tubuh ibunya –Leeteuk, sekarang sudah berada di dalam rengkuhan Sungmin saking senangnya gadis ini. Ia sedikit terharu. Ralat, maksudnya sangat terharu.

"Gumawo eomma, appa," pekiknya senang dan masih memeluk Leeteuk karena tak mungkin memeluk Kangin yang sedang menyetir.

Tempat tujuan mereka telah sampai. Di sebuah rumah besar dan disana sudah ada sebuah mobil yang terparkir. Kangin ikut memarkirkan mobil mereka, dan menguncinya, lalu mereka bertiga melagkahkan kakinya ke dalam rumah itu.

"Teuki!" pekikan itu terdengar sangat membahana ke seluruh penjuru ruangan sehingga yang lainnya harus menutup telinga mereka jika mau telinganya selamat. Yang memekik tadi justru tampak tak peduli dan langsung saja menghambur ke dalam pelukan Leeteuk.

"Chulie! Kau terlihat makin cantik saja," gumam Leeteuk di dalam pelukan mereka. Heechul yang mendengarnya menarik kedua sisi bibirnya dan tersenyum dengan tulus dan rona malu-malu kucing di sana karena mendengar kata 'cantik' yang selalu sukses membuat rona kemerahan di pipi seorang Heechul yang menjunjung tinggi kecantikan ini.

"Yo, orang tertampan di Korea!" sapa Hangeng sedikit menyindir dan wajahnya terlihat senang tiada tara karena sahabat lamanya yang merupakan mantan geng nakalnya dulu kembali lagi.

"Yo, orang tertampan di Beijing!" setelah puas membalas sindiran Hangeng (senjata makan tuan tuh Hangeng!), Kangin ber-high five ria diikuti Hangeng dan ber-tos layaknya sahabat pada umumnya.

Dan mereka berempat terlalu sibvuk dengan dunia mereka sendiri, tanpa tahu Sungmin yang sudah keberatan karena mengangkat kopernya, koper ayahnya, koper ibunya, dan tas tangan ibunya yang mereka titipkan pada Sungmin yang sedang melongo sekarang.

"Eh, kau Sungmin?" seorang pemuda yang kelihatannya seumuran dengan Sungmin membantu mengangkat koper-koper dan tas berat yang sedari tadi membuat Sungmin kewalahan. Ia juga menyunggingkan senyum terbaiknya bersamaan dengan senyuman Sungmin.

"Iya, dan kau… Anak dari Hangeng ahjussi dan Heechul ahjumma?" Sungmin memiringkan kepalanya dan membuat pose tampak berpikir yang sangat imut dan dapat membuat lelaki itu tersenyum kembali. Namun tebakan Sungmin meleset.

"Bukan. Aku anak Luna dan Jungmo. Oh ya, aku Lee Donghae," Donghae menyodorkan tangannya untuk berjabatan dengan Sungmin sesudah menaruh koper-koper berat itu di tempatnya. Sungmin juga melakukan hal yang sama, dan mereka bersalaman dengan damainya.

"Lalu anak mereka dimana?" Sungmin duduk dan merenggangkan tubuhnya yang sudah lelah karena perjalanan berjam-jam untuk kemari. Mencoba mengakrabkan diri dengan sosok yang baru dikenalnya.

"Biasalah, maniak game itu pergi ke game center," Sungmin membulatkan mulut kecilnya tanda mengerti. Sedangkan lelaki di depannya dengan sopannya menuangkan teh manis ke dalam cangkirnya dan cangkir satunya lagi yang ia berikan pada Sungmin.

'Maniak game? Pasti ia sangat sombong dan pemalas, tahunya game saja!' Sungmin mengambil teh itu dan menyesapnya setelah hatinya tadi barusan membatin.

"Oh ya, namanya Kyuhyun. Cho kyuhyun. Ia anak yang sombong dan pemalas, cuman tahu game saja, itu kata orang tuanya," Bingo! Tebakan Sungmin benar 100%, gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum meremehkan. Ternyata sifat Kyuhyun memang sesuai dengan perkiraannya, toh.

"Oh, sudah kuduga. Ngomong-ngomong orang tuamu kemana?" benar juga pertanyaan Sungmin. Agak sedikit ganjil jika melihat anaknya tanpa orang tuanya padahal orang tua yang lainnya ada disini. Apa orang tua Donghae tak takut rumahnya dirampok?

"Tidak ada. Aku tinggal sendirian disini, orang tuaku mempercayakanku tinggal mandiri, aku pun malas tinggal bersama dengan mereka yang suka mengatur-ngaturku," Donghae melakukan rolling eyes sebelum menyesap lagi tehnya dan mencium aroma melati yang menguar dari teh itu.

"Memangnya kau tidak takut tinggal sendirian?" Sungmin mengernyitkan dahinya sedikit bingung dengan Donghae yang tampaknya tak ada rasa takut. Ditaruhnya teh itu ke atas meja tamu mereka.

"Siapa bilang aku tinggal sendiri? Nanti aku akan tinggal dengan Kyuhyun dan kau kok," Donghae menjawab dengan tenang-tenang saja, tanpa tahu bahwa Sungmin sedikit terkejut. Apa tadi yang Donghae bilang?! Ia akan tinggal dengan Kyuhyun dan… Sungmin?!

"Hah? Apa maksudmu, aku kan hanya libu– Appa! Eomma! Apa maksud kalian?" Kangin dan Leeteuk spontan menoleh ke arah Sungmin dengan dramatisnya. Oh ya, mereka lupa dengan anak mereka sendiri karena sibuk mengobrol yang tak penting dengan sahabat lama mereka masing-masing.

"Eh? Kau kenapa sudah ada di sini Minnie?" Sungmin mendesis. Di tepuknya jidatnya sendiri saking gemasnya dengan pertanyaan bodoh dari ibu kandungnya sendiri. Hei, ibu mana yang lupa dengan anaknya sih selain Leeteuk?

"Kopernya tadi ada di mana Minnie?" ini lagi! Pertanyaan Kangin lebih bodoh lagi. Bukannya memperdulikan Sungmin, malah menanyakan koper kesayangannya.

"Eomma, aku dari tadi sudah ada di sini bersama Donghae. Appa, kopernya di sana," jari telunjuk Sungmin sudah menunju pada koper-koper dan tas yang tadi ia letakkan bersama Donghae. Ekspresinya Sungmin? Jangan di tanyakan, sulit untuk menggambarkan ekspresinya. Yang jelas, ekspresinya seperti you don't say yang ada di meme comic.

"Oh, ini anakmu, Kangin? Manis juga ya, cocok untuk Kyuhyun, hehehe…" Sungmin semakin malas dengan godaan Hangeng barusan. Apalagi sekarang Hangeng sok seperti anak muda yang bertampang innocent. Benar-benar minta tampar!

"Kyaaaa…. Anakmu manis sekali Teuki! Kau benar Hannie, ia cocok dengan uri Kyuhyun," Heechul berjalan ke arah Sungmin yang sedang duduk manis di sofa merah itu. Ia merangkul Sungmin dan mencubiti pipi gembulnya yang manis dengan gemas.

"Kau tadi ingin bertanya apa, Sungmin-ssi?" pertanyaan Donghae yang rasional sekarang untungnya mengubah mood Sungmin dan membuatnya tidak memasang tampang you don't say lagi. Sekarang Sungmin membenarkan posisi duduknya walaupun masih ada Heechul yang gemas kepadanya.

"Appa, eomma, apa maksud kalian? Aku tinggal disini? Benarkah? Donghae yang bilang padaku," Donghae menelan ludahnya gugup, ia baru sadar bahwa tadi ia kelepasan. Ia menunduk sekilas dan jari telunjuknya danjari tengahnya terangkat, membuat tanda peace.

"Ehm… Kau tidak mau? Yasudah kalau begitu–"

"Tidak eomma! Aku mau! Aku sudah menantikannya sejak kelulusan SMP ini!~" walaupun tak sopan jika memotong pembicaraan ibunya, Sungmin tetap tersenyum dengan bahagia. Ah, akhirnya impian yang ia ucapkan secara asal di kasurnya waktu itu terjadi juga.

"Appa mendengar kau bergumam ingin ke Seoul waktu itu, jadi appa putuskan appa akan mewujudkan impianmu itu, nak," Sungmin semakin terharu dengan kesungguhan dan kasih sayang appanya, jadi ia segera memeluknya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang ayahnya.

"Gumawo…" meskipun suara Sungmin kecil,namun dapat di dengar oleh seluruh penghuni rumah. Mereka tersenyum melihat keharmonisan rumah tangga Sungmin yang dibimbing oleh Kangin.

Teng Tong~

Bel rumah mereka berbunyi, namun gadis itu memutar kenop pintu dan langsung saja masuk ke dalamnya dengan hati-hati dan belanjaan bahan makanan yang banyak. Dan seluruh pasang mata langsung memandang ke arahnya dengan rasa penasaran, terkecuali Donghae.

"Eh? Maaf aku menganggu, Lee Hyuk Jae imnida, panggil saja aku Eunhyuk, bangapta," gadis itu meletakkan bermacam-macam belanjaannya dan segera membungkuk penuh hormat pada seluruh penghuni, lagi-lagi kecuali Donghae.

"Kau siapa ya?" tanya Heechul sedikit frontal dan memandangi gadis itu dengan perasaan bingung. Seingatnya tak ada siapa-siapa lagi disini.

"Ehm… Aku…" Eunhyuk menggaruk tengkuknya sedikit malu, dengan pipi yang sudah penuh dengan semburat merah, malu untuk mengatakan siapa dirinya. Donghae yang mengerti keadaan, langsung menuju ke arahnya dan merangkul pinggang ramping gadis itu.

"Dia yeojachingu ku, ahjumma, ahjussi," Donghae memamerkan gadisnya dengan bangga, sedangkan para orang tua sibuk memanas-manasi mereka dengan godaan seperti anak muda. Namun yang terlihat, Sungmin sedikit menunduk dan memainkan jarinya.

"Dia juga tinggal disini, dan dia yang akan memasak makan malam untuk kita," Donghae menepuk-nepuk pundak kekasihnya dan kembali tersenyum bangga. Mesra sekali. Para orang tua jadi mengingat kejadian saat mereka dipertemukan dulu.

'Enaknyaaa… Aku saja belum pernah pacaran karena appa dan eomma melarang, mereka pasti sudah pernah berpegangan tangan, berkencan ke sana sini, berpelukan, dan…' Sungmin memberhentikan batinannya sejenak, oh tidak! Otaknya mulai rusak! 'Pasti mereka pernah berciuman! Aku iri tahu!'

Mendadak Sungmin kembali berfantasi dan memikirkan momen-momen yang ditunggunya, ia membayangkan dirinya dicium oleh pangeran tampan yang ditunggunya seperti di fiksi-fiksi yang pernah dibacanya. Dan refleks ia memegangi pipinya yang sekarang mulai memerah.

"Kau kenapa Sungmin?" pertanyaan Heechul refleks membuat Sungmin terpaksa menghentikan fantasi indahnya dengan sedikit kecewa. Namun Sungmin juga salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan muka yang masih merona dan raut wajah aneh.

"A… Anu… Ti.. Tidak! Donghae, kemarilah, aku ingin bertanya," Sungmin melakukan gestur pada tangannya yang mengisyaratkan 'datanglah!'. Donghae yang tidak tahu apa-apa langsung saja menurut dengan polosnya.

Sungmin menarik Donghae mendekat padanya dan membisikkan sesuatu pada telinganya dengan volume yang pelan, sangat pelan. "Kalian pernah berciuman? Apa sih rasanya?"

"Hahahahaha!" Donghae terlalu menikmati apa yang sedang mengocok perutnya. Ia sampai harus mememgangi perutnya saking lucunya apa yang ditanyakan Sungmin. "Ah… Kau coba saja praktek dengan Kyuhyun."

"Hah? Apa yang kau tanyakan Minnie?" Kangin mendelik curiga pada anaknya dan Donghae. Pikirannya mulai melayang lebih jauh lagi. Bagaimana jika ia bertanya yang aneh-aneh? Kiamat mungkin? Atau… Ah, ayah ini mulai tidak rasional!

"A… Tidak kok," Sungmin semakin salah tingkah. Ia menggigit bibir bawahnya. Apalagi yang menanyakan adalah ayahnya yang pemarah. Jika ayahnya tahu apa yang ia tanyakan pada Donghae barusan, bisa-bisa Sungmin langsung masuk kuburan saat ini juga! Aish, lebih baik ibunya yang bertanya, paling ibunya hanya mengomel saja.

"Iya, sebenarnya kenapa? Kenapa ada Kyuhyun juga?" Heechul mulai angkat suara. Gigitan di bibir Sungmin semakin kencang, ia semakin gugup. Ada 4 orang dewasa disini, memalukan sekali jika mereka tahu apa yang tadi ia tanyakan pada Donghae. Sungmin bodoh!

"Ah, tidak kok ahjussi, dia hanya mencoba melawak namun ia malu melawak di depan kalian," walaupun tidak cukup rasional, namun setidaknya perkataan Donghae membuat para orang tua cuek kembali dan mengobrol akan sahabatnya saja.

"Donghae-ssi, gumawo," bisik Sungmin dengan suara pelan dan mendorong Donghae ke arah kekasihnya.

"Ngg… Eunhyuk-ssi, Sungmin imnida. Bangapta," Sungmin membungkuk dan menarik seulas senyum manisnya. Eunhyuk juga melakukan hal yang sama, yang pasti keduanya mulai nyaman dan suasana canggung terhapuskan, terganti oleh suasana bersahabat.

"Kau ingin memasak? Wah, ingin membuat spaghetti ya?" tebakan Sungmin benar, karena barusan saja Eunhyuk mengangguk-angguk senang. Eunhyuk menarik tangan Sungmin ke arah dapur dan mengeluarkan isi belanjaan bahan makanannya.

"Kau bisa memasak? Selain spaghetti, aku juga ingin memasak Sushi roll untuk kita semua," Eunhyuk mengambil papan bambu pembuat sushi tersebut dan memamerkannya kepada Sungmin dengan gaya yang lucu yang membuat Sungmin terkekeh kecil.

"Aku bisa, tapi tidak terlalu hebat sepertimu, hanya bisa merebus atau menggoreng saja, hehehe," Sungmin cengar-cengir malu menyebabkan gigi putihnya terlihat. Lalu membantu Eunhyuk menggoreng crabstick untuk isian sushi mereka.

"Aku juga hanya bisa yang simpel-simpel saja sih, tapi ayo kita memasak, Sungmin-ssi," sekarang giliran Eunhyuk yang memamerkan gummy smile nya dan menggoreng telur.

"Panggil aku Minnie saja agar akrab, mulai dari sekarang kita kan adalah penghuni rumah ini, jadi kita otomatis akan menjadi sahabat, bukan?" Eunhyuk memandangi gadis ini sekali lagi. Terlihat kesungguhan Sungmin di dalam kalimatnya yang tadi. Mungkin, ia memang pantas menjadi sahabat gadis ber-gummy smile ini.

"Yap, kau benar Minnie. Panggil aku Hyukkie saja ya Minnie," Sungmin mengangguk-anggukan kepalanya, setuju. Tak ia sangka, ia sudah mendapat sahabat secepat ini. Apalagi ia seorang gadis yang tampaknya baik dan menarik.

"Ngomong-ngomong, kau bisa memasak untuk Kyuhyun loh," goda Eunhyuk sambil menaik-naikkan alis matanya tidak jelas. Sungmin hanya bisa tersenyum tipis dan melanjutkan acara memasaknya.

"Aku bukan siapa-siapanya dia, Hyukkie," Sungmin menggembungkan pipinya berpura-pura kesal, namun masih sibuk dengan peralatan dapurnya.

"Info saja ya, dia itu adalah seorang yang dingin dan terkenal tidak punya perasaan loh…," kedua mata Sungmin terbelalak, benarkah apa yang ia dengar dari Eunhyuk? Ah, lagipula itu bukan urusannya. Tapi tetap saja ia terlihat sedikit tertarik dengan bahan pembicaraan sahabat barunya ini.

"Lalu kalau dia dingin berarti cuek, dan kenapa dia mau-maunya tinggal disini? Disini kan ada kita…," alis Sungmin bertautan, hampir menyatu. Jari telunjuknya di letakkan di depan dagunya, terlihat jelas bahwa Sungmin ini masih anak polos yang baik-baik. –walaupun kenyataannya Sungmin sudah tahu apa itu ciuman.

"Kau mau tahu apa alasannya?" pertanyaan Eunhyuk Sungmin jawab secara kilat dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Eunhyuk menggeleng-gelengkan kepalanya, takut Sungmin pingsan jika mendengar alasannya.

"Jangan pingsan ya, itu karena ia dari dulu ingin sekali tinggal di dekat game center, padahal PSP dan PSnya sudah menumpuk," sepertinya firasat buruk Eunhyuk tak terjadi. Yang ada, Sungmin menghela nafas dan berdecak.

"Ck, tahunya main game saja. Pasti nilainya jelek!" tuduh Sungmin yang tidak-tidak. Padahal tebakannya jelas meleset.

"Kau salah, dia ranking satu di sekolahannya yang dulu, pasti nanti ranking satu lagi," Eunhyuk menghela nafasnya. Hampir saja ia mati ditempat karena membicarakan kejeniusan seseorang. Sekarang jelas kan bahwa Eunhyuk bukan orang pintar, namun sebaliknya? Nasibmu menjadi orang bodoh.

"Oh, memangnya dia punya bakat selain game?"

"Katanya sih ia tampan, jadi bakatnya ya pasti macarin orang," tuduhan Eunhyuk pada Kyuhyun membuat Sungmin lega. Setidaknya apa yang dipikirkannya tidak salah lagi seperti tadi.

.

.

Ditempat lain

"Kenapa telingaku menjadi panas begini ya?" gumam Kyuhyun dengan kekesalan yang ia tumpahkan pada game terbaru yang sedang fokus ia mainkan.

"Yo, kenapa kau Kyu?" Kyuhyun merasa pundaknya seperti ditepuk oleh seseorang. Ia menoleh, dan benar saja sekarang temannya yang berkulit seputih salju dan berpipi chubby namun terkesan dingin dan tentunya tampan menyapanya dengan cengiran innocent seakan tak bersalah padahal baru saja ia sedang menganggu fokus Kyuhyun sehingga terpampang nyata tulisan nista yang selama ini paling di benci Kyuhyun, tulisan 'Game Over'.

"Telingaku panas, lalu aku kalah sejak tadi, menurutmu kenapa Bum?" Kyuhyun masih memasang tampang kesalnya karena tadi permainannya diganggu oleh teman saingan game nya ini. Mungkin memang ia tulus ingin membantu Kyuhyun, tapi kalau ternyata dia itu ingin mengacaukan permainan Kyuhyun dan merebut high score yang harusnya ditempati oleh Kyuhyun? –Ingat, mereka saingan game yang ketat!

"Paling, hanya karena kau dibicarakan orang dan dia mengataimu yang jelek makanya kau sial. Biarkan saja, ayo kita rebut highscore game baru ini!" Kibum meletakkan soda kalengnya di tangan Kyuhyun dan mengambil soda miliknya sendiri dan membukanya, tentu saja untuk meminumnya dan memuaskan tenggorokannya yang sedari tadi meminta pasokan mineral.

Ia juga memasukkan dua koin pada slot game yang berada di depan Kyuhyun dan di depannya. Kyuhyun menengguk sekilas isi soda yang sedikit menggiurkan tonggorokannya itu dan fokusnya sekarang kembali pada benda mati yang dijadikannya sebagai alasan mengapa ia mau tinggal di rumah Donghae.

Highscore :

Snow99 (Kibum) : 236

Evil00 (Kyuhyun) : 225

Drrtt… Drrttt…

Ponsel Kyuhyun bergetar. Namun tak dipedulikan olehnya. Ia tetap fokus bermain pada benda mati yang mengeluarkan suara aneh itu.

Drrtt… Drrttt…

Drrtt… Drrttt…

Kyuhyun mem-pause gamenya dan menjambak rambutnya kesal. Kibum yang gamenya ikut ter-pause karena mereka berdua tadi melakukan battle menoleh pada Kyuhyun. Diliriknya pemuda jangkung itu, setelah melihat isi SMS dari ibunya, Kyuhyun semakin brutal menjambak rambutnya.

=SMS=

From : Eomma Galak yang Sok Cantik, Sok Muda

Kyu, cepat pulang, tidak ada penolakan! Atau kau tahu sendiri apa akibatnya, hehe.

"Kibum! Aku duluan!" mengabaikan scorenya, Kyuhyun langsung membenarkan jaketnya dan segera melenggang pergi (yang singgah sebentar ke café untuk membeli Ice tea langganannya), menyimpan beberapa koin game yang rencananya akan ia gunakan besok. Kibum menatap layar gamenya dengan seringaian licik.

Highscore :

Evil00 : 798

Snow99 : 564

Kibum tidak kecewa, malah ia menyeringai. Saingannya sudah pergi, jadi ia bebas. "Kau bodoh, Cho. Padahal kau nyaris tak bisa kukalahkan. Tapi kau malah pergi. Terima kasih untuk highscorenya."

.

.

"Siapa bilang? Kyuhyun tidak pernah pacaran kok," Eunhyuk dan Sungmin menoleh ke asal suara. Terlihat Heechul yang masuk ke dalam dapur dan membantu mengambil daging ayam yang akan ia masak untuk pelengkap spaghetti.

"Eh? Memangnya kenapa ahjumma?" Eunhyuk memotong-motong ayam itu dan mencincangnya menjadi adonan daging yang halus dan siap digoreng lebih lanjut. Sayangnya, saat ia bertanya tadi, jari tengahnya teriris secara tidak sengaja dan membuatnya kehilangan beberapa tetes darah.

"Hyukkie, jarimu kenapa?" Sungmin mengabaikan daging ayam yang hendak ia potong barusan, namun saat obsidian kembarnya mendapati Eunhyuk sedang meringis kesakitan dengan luka sayatan dan tetesan darah yang sedikit mengerikan baginya, ia langsung menuju ke tempat Eunhyuk, meniup sebentar sayatan luka baru itu dan mencucinya di atas aliran air.

"Eunhyuk! Masih sakit, nak?" Heechul mengambil perban dan obat merah untuk luka Eunhyuk, membalutnya dan membiarkan luka itu kering untuk sendirinya, sedangkan Sungmin menghela nafas lega karena setidaknya luka itu telah di sterilkan.

"Minnie, ahjumma! Darah itu sudah tidak ada? Hiks," rupanya sedari tadi Eunhyuk menutup kedua belah matanya, ia menangis dan membiarkan darah itu terus menyakiti dirinya, sungguh perih! Tapi mau bagaimana lagi? Itu sudah terlanjur terjadi. "Aku… Trauma pada darah."

Manik kembar Sungmin bertatapan langsung dengan Heechul. Keduanya sama-sama khawatir, mata mereka seolah mengatakan 'Bawa Eunhyuk keluar.' dan keduanya mengangguk, sama-sama setuju dengan usul mereka. Sungmin membawa Eunhyuk ke teras dan membiarkan Heechul yang menggantikan kedua anak gadis itu untuk berkutat di dapur, menyiapkan makan malam mereka plus Kyuhyun tentunya.

Sungmin menuntun Eunhyuk ke arah sofa yang untungnya pendarahannya tidak begitu parah. Cairan merah pekat kental berbau amis itu sudah sedikit mongering, untung tak luka tersebut tak begitu dalam. Sungmin mengelus perlahan pundak Eunhyuk dan merangkulnya. Masih ada beberapa tetes air mata, akhirnya Sungmin memeutuskan untuk memeluk sahabat barunya itu, menenangkannya dengan cara perempuan.

"Hyukkie? Kau kenapa? Kenapa menangis? Hyukkie…," pertanyaan Donghae barusan dianggap angin lalu oleh kedua sahabat yang bergender sama itu. Donghae menggembungkan sebelah pipinya, sedikit cemburu akan kekasihnya yang dipeluk Sungmin –padahal mereka sesama wanita.

"Kau… Memelukku?" tanya Eunhyuk dengan mata masih berkaca-kaca dan bekas air mata yang sudah mongering di pipi tirus putihnya.

"Kenapa? Kau tak suka?" Eunhyuk merasa tak enak dengan pertanyaan Sungmin barusan ini. Ia menggeleng, membalas perlakuan manis sang gadis kelinci tersebut, dan membenamkan wajahnya di pundak kecil Sungmin.

"Bukan begitu, hanya saja yang aku tahu, dari dulu teman-temanku hanya mengandalkanku di dalam bidang dance yang begitu terkenal untuk sekarang ini. Makanya aku selalu tak punya sahabat asli yang benar-benar menyayangiku...," Sungmin tahu Eunhyuk sekarang hanya mengambil jeda sebentar, mencari nafas diantara sesenggukan tangisan tadi, jadi ia terdiam, melepaskan pelukan mereka perlahan dan menunggu sampai Eunhyuk melanjutkan ceritanya. "Tapi sekarang, kau yang baru saja mengenalku malah…"

"Sttt…," Sungmin meletakkan jari telunjuknya yang panjang kurus tepat di depan bibir Eunhyuk. Ia menghapus jejak air mata yang kembali mengotori pipi putih sahabatnya. "Sekarang kau kan punya aku, kau juga punya Donghae yang mencintaimu dengan tulus."

Mau tak mau, Donghae yang sedari tadi menonton drama live di depannya ini menarik senyumnya lebar-lebar, akhirnya kekasihnya ini memiliki sahabat sungguhan juga. "Benar kata Sungmin, Hyuk. Aku mencintaimu, dan Sungmin menyayangimu. Aku yakin Sungmin itu sahabat aslimu," Kedua gadis itu hanya membalas perkataan Donghae dengan senyuman. Namun Donghae mengerti arti senyuman itu.

Memiliki sahabat terpercaya seperti Sungmin adalah keajaiban untuk kekasihnya. Bagi Donghae, kebahagiaan Eunhyuk adalah kebahagiaan dirinya juga. Kekasih yang baik bukan? Bahkan ia juga sudah lupa kemana rasa cemburu yang tadi sempat merasuki dirinya.

"Gumawo, Minnie," mereka berpelukan lagi, namun untuk yang satu kali ini, gadis ber-gummy smile itulah yang berinisiatifnya. Tentu saja pelukan Eunhyuk dibalas oleh Sungmin, pelukan yang benar-benar menyalurkan rasa hangat dan persahabatan kuat.

"Hei Hyuk, aku rasa kekasihmu juga mau dipeluk, ini Hae," Sungmin melepaskan pelukan mereka. Sedangkan Donghai menyeringai, jarang-jarang kan ia dapat kesempatan begini, hehe.

Teng Tong~ Teng Tong~

"Biar aku yang buka pintunya!" Sungmin tersenyum setelah tadi berteriak pada HaeHyuk, KangTeuk dan Hangeng di ruang tamu serta Heechul di dapur. Ia mengenakan sandal rumahnya, lalu berjalan kea rah pintu.

Ia membuka pintunya, siluet seorang lelaki jangkung dan berambut sedikit acak-acakan –karena tadi ia terlalu brutal dalam menjambak rambutnya– berdiri di hadapannya. Ia tinggi, memakai hoodie biru dan membelakangi tubuh Sungmin yang ramping dan sedikit lebih pendek darinya itu. Nampaknya sedang memencet ponselnya, mungkin sedang ber-SMS.

"Silahkan masuk," Sungmin mengucapkannya dengan pelan dan ragu-ragu, ia takut ia salah orang atau apa, walaupun kenyataannya itu adalah Kyuhyun yang sama sepertinya, merupakan penghuni di rumah Donghae juga.

Lelaki itu menganggukkan kepalanya. Ia menyimpan ponselnya dan berbalik, menyebabkan sekarang posisinya berhadapan dengan Sungmin. Namun saat melangkah…

Tali sepatunya terlalu panjang. Dan sialnya ia menginjak tali sepatu itu.

BRUK

Semua penghuni rumah, bahkan Heechul pun sampai datang ke arah mereka saking kencangnya suara terjatuh yang tadi itu. Dan mata mereka semua melebar, termasuk Kyuhyun yang jatuh.

"Sungmin...?!"

"Kyuhyun…?!"

Semua terlihat shock disaat yang bersamaan. Memang wajar melihat ekspresi mereka yang begini. Karena tadi saat Kyuhyun terjatuh…

Tubuhnya menimpa tubuh Sungmin…

Dan yang lebih parahnya lagi…

Karena 'kecelakaan' Kyuhyun itu, bibir mereka bersentuhan. Catat, bibir mereka bersentuhan…

DEG

To Be Contineud…


Hai, perlukah saya melanjutkan FF ini? Jika ya, cukup berikan saya review. Tolong hargai author yang merupakan manusia. Dan perlu perjuangan mengetik sepanjang ini dengan waktu bermain komputer yang terbatas.

Review = Saya akan melanjutkan FF ini :)