DEG
Jantung kedua makhluk yang masih berciuman itu berpacu dengan begitu kencang. Kedua belah pihak orang tua mereka masih memandangi mereka takjub, namun tak ada yang berusaha menghentikan bibir dua muda-mudi itu tetap saling menyentuh, tak melumat.
Namun bodohnya, kenapa kedua orang itu masih saja belum ada yang sadar untuk melepaskan sentuhan aneh pada bibir itu? Padahal keduanya tahu mereka sedang dilihat seluruh penghuni rumah. Termasuk orang tua mereka.
Eunhyuk memandangi mereka dengan wajah yang merona hebat, mungkin ia sedang membayangkan dirinya dan Donghae diposisi KyuMin? Sedangkan Donghae juga merona, namun ia tatapannya tak mengarah pada KyuMin, namun pada Eunhyuk, tepatnya bibir merah Eunhyuk yang… Eumh… Menggoda.
"Apa yang kalian lakukan?" Leeteuk yang pertama menyadari akan tindakan yang harus ia perbuat dalam situasi seperti ini. KyuMin tersentak, mereka sama-sama kompak menjauhkan tubuh mereka. Tiga orang tua lainnya saling memandang, lalu memandang ke arah KyuMin yang sudah berdiri saling membelakangi dan Sungmin yang salah tingkah.
"Kami… Aa.. Kami…," Sungmin menunduk, ia menggigiti bibirnya. Apa yang harus ia lakukan? Tak enak jika terperangkap dalam situasi begini! Bisa saja appanya yang kelewat over protective itu menghajar Kyuhyun lalu memarahi Sungmin. Yang ia lakukan hanya berdoa, berharap Tuhan memberikannya nyawa yang kedua.
"Aku jatuh. Buktinya kakiku," seolah tersihir, sekarang tatapan mereka terjatuh pada kaki Kyuhyun yang memang sedikit merah walaupun tak mengeluarkan darah. Lelaki itu berwajah datar saja. Dengan santai ia berlalu dari kerumunan dan pura-pura mencari obat merah. Keempat orang dewasa itu akhirnya bersikeras ingin mengobati luka Kyuhyun.
Sungmin mengangkat wajahnya, ia tahu barusan Kyuhyun menolongnya dari kedua orang tua mereka, ia melirik pada Kyuhyun dan berusaha membentuk huruf-huruf isyarat di tangannya pada Kyuhyun. 6 huruf, yang diawali 'g' dan diakhiri 'o'. Bibirnya juga menggumamkan sesuatu, "Gumawo."
"Hyuk, aku juga mau…," monolog Donghae yang masih melihat bibir Eunhyuk.
"Mau apa?" Donghae sedikit terjengkang. Ia kaget, bisa-bisanya suara sekecil itu didengar oleh Eunhyuk. Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya. Gawat, ia hampir saja ketahuan Eunhyuk.
.
.
Hai! Aku Sungmin! ^^ Di chapter kali ini, kami berempat akan mulai bersekolah di hari pertama! Sangat menyenangkan bukan? Tapi tentu saja kami juga dijahili kakak kelas menyebalkan. Dan hari ini akan bertambah satu cast utama lho! Siapa? Baca saja chapter ini! ^^
.
Chapter 2 : New Boy!
.
.
"Siswa-siswi kelas satu diharapkan segera berkumpul di lapangan! Diulangi lagi, siswa-siswi kelas satu diharapkan segera berkumpul di lapangan!" suara mikrofon yang dipegang seorang anak yang tinggi menjulang dengan tanda pengenal ketua OSIS menggema ke seluruh penjuru sekolah. Mau tak mau kerumunan siswa-siswi yang asik merumpi itu harus segera melangkah ke dalam lapangan.
"Ayo kita pergi ke sana, Hae, Min," ajak Eunhyuk. Orang yang diajak dalam perkataan Eunhyuk tadi menurut, mereka bertiga yang tadi sempat mengobrol akrab berjalan menuju lapangan. Akan tetapi… Bertiga? Mana yang satunya lagi? Sungmin merasa janggal. Ia berhenti dan melirik ke sosok yang sedang asik bermain benda kotak tak bernyawa yang bernama PSP.
"Kyu, ayo kita ke lapangan. MOS sudah mau dimulai," Kyuhyun hanya mengangguk tanpa mengidahkan pandangannya dari benda mati yang disayangnya itu. Sungmin sendiri sudah melesat ke dalam lapangan, membaur dengan murid-murid lainnya bersama Eunhyuk dan Donghae.
"Kita kelas berapa ya? Kita sekelas tidak ya?" Sungmin menggembungkan sebelah pipinya, takut ia tak sekelas dengan ketiga temannya. Ia bukanlah tipe orang yang sulit bergaul, namun ia telah nyaman dengan 3 teman barunya tersebut. Jika ia berbeda kelas dan ia disuruh untuk bergaul dengan orang lainnya lagi? Rasanya ada yang kurang.
"Aku mau sekelas dengan kau Minnie. Kau juga Hae~," Eunhyuk sepertinya mulai merajuk, belajar merajuk dari Sungmin yang manja. Walaupun tak seimut Sungmin, namun Sungmin sendiri terpesona dengan aegyo Eunhyuk, apalagi Donghae yang notabenenya kekasih Eunhyuk. Donghae mencubit pipi Eunhyuk yang sebenarnya ingin ia cium –namun tak jadi karena takut. Eunhyuk sedikit meringis.
"Kelas 1-A. Kita pasti sekelas. Aku yakin," Donghae menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum bangga. Namun senyum itu malah dianggap senyum misterius oleh kedua gadis yang sedang mengkhawatirkan masalah kelas mereka. "Bersama dengan Kyuhyun juga."
"Kau tahu darimana?" pertanyaan di benak Eunhyuk sudah diwakilkan oleh Sungmin. Sungmin sedikit curiga dengan Donghae. Walaupun Sungmin polos begitu, tapi ia sudah tahu mana yang mencurigakan dan mana yang tidak. Hei, Sungmin tidak sekekanakan yang ada di pikiran kalian kok.
Baru saja Eunhyuk ingin menanyakan hal yang tidak jauh berbeda dari apa yang ditanyakan Sungmin barusan, namun Ketua OSIS sudah membacakan kelas mereka. Dan yang jelas, dari absen kelas 1-A, ada nama Donghae, Eunhyuk, Kyuhyun, dan Sungmin. Donghae tersenyum.
"Kenapa perkataanmu tadi itu bisa tepat? Apa yang kau sembunyikan sih Hae?" Eunhyuk merenggut tak suka. Kenapa kekasihnya bisa tahu hal privat sekolah seperi ini? Ganjil bukan? Aneh kan jika Donghae yang bukan siapa-siapa bisa tahu informasi penting itu duluan daripada yang lainnya. Lagipula mengapa mereka berempat bisa sekelas? Jodoh?
"Jangan bilang kau ini mencuri data sekolahan!" Eunhyuk memelototi Donghae setelah mendengar tuduhan tak jelas Sungmin barusan. Benarkah apa kata Sungmin? Lagipula Donghae juga memangsedikit aneh dan sedikit nakal. Masuk akal jika Donghae mencuri data sekolah.
"Hahaha. Tidak, kalian salah. Sebenarnya aku ini anak kepala sekolah. Jadi aku meminta ibuku untuk memasukkan kita berempat di kelas yang sama dan ACnya paling dingin, hehehe," Donghae cengar-cengir. Sedikit bangga akan posisinya yang cenderung 'tinggi'.
"Waah… Enaknya...," kedua gadis itu kagum akan posisi Donghae yang menyenangkan. Bisa berbuat apa saja mungkin? Tapi kepala sekolah itu bijak, jadi tak aka nada kecurangan, buktinya nilai Donghae pas-pas an. (Itu aib Donghae)
"Hehe, iya dong… Ngomong-ngomong ayo ke kelas, sunbaenim sudah datang, tuh," Donghae menunjuk ke arah kedua sunbae dengan seragam SMA yang lengkap, berbeda dengan para siswa-siswi dengan tingkatan hoobae yang masih berbalut seragam SMP mereka dahulu.
Keempatnya –HaeHyukMin bersama Kyuhyun yang sedari tadi diam karena PSP kesayangannya itu– berjalan ke kelas mereka. Kelas itu terlihat rapi dengan murid yang masih bercengkrama ria. Juga AC mereka yang ada 2, menjadikan kelas berisi 29 orang itu menjadi dingin. Benar apa kata Donghae, AC mereka yang paling dingin. Asik bukan memiliki teman sepertinya?
Mereka berempat mengambil tempat duduk dipojok belakang, alasannya karena mereka takut jika dekat-dekat sunbaenim mereka yang kapan saja bisa mengerjai mereka. Eunhyuk dengan Sungmin, Donghae dan Kyuhyun masing-masing duduk sendiri karena Kyuhyun yang memaksa menyendiri –mentang-mentang muridnya berangka ganjil.
"Hai hoobaenim. Saya Lee SunKyu. Panggil saja Sunny sunbae. Yang ini Jungmoo sunbae," gadis yang satu angkatan lebih tinggi dari mereka itu tersenyum, sedikit beraegyo. Ada yang terpesona, ada yang tertawa mencibir, berkata ia sok manis padahal benar-benar manis.
"Menurutmu itu manis atau sok manis?" Eunhyuk menyandarkan dagunya di punggung tangannya, bertatapan dengan onxy Sungmin sambil menunggu jawaban yang akan dilontarkan gadis satu itu.
"Menakutkan," Eunhyuk tertawa setelahnya. Menakutkan? Apanya? Sunbae itu terasa tak ada apa-apa baginya. Ia hanya gadis biasa yang terlihat manis dan kelewat feminim bukan? "Menurutku ada makna kelicikan disitu. Ia tersenyum jahat!"
Eunhyuk menggeleng-geleng sambil menutup mata. "Ia manis kok."
"Tidak! Dia sok manis, kau yang manis, chagi," Donghae yang duduk di depan mereka tiba-tiba menyerobot. Kata-kata sindiran untuk si senior sekaligus kata pujian tak langsung untuk kekasihnya mampu membuat Eunhyuk merona. Sungmin tersenyum melihat adegan mesra live dihadapannya.
"Gombal," Eunhyuk memalingkan wajah cantiknya dan menutupnya dengan buku bersampul kuning yang menjadi catatannya. Ia berpura-pura tak terayu oleh ucapan kekasihnya barusan. Donghae sendiri terkekeh, beruntung memiliki yeoja seperti Eunhyuk yang manis.
"Ehem, jangan pacaran disini. Aku jomblo, belum pernah pacaran begitu, ditembak saja belum," Sungmin mengerucutkan bibirnya. Terasa sedikit iri juga didalam hatinya. Memang faktanya begitu, belum ada yang menyatakan cinta padanya padahal ia gadis yang manis begitu. Aneh? Memang!
"Masa belum pernah ditembak?" Eunhyuk menaruh buku yang ia gunakan untuk menyembunyikan wajahnya tadi. Meronanya sudah hilang, sekarang ia lebih ingin mengobrol dengan sahabat perempuannya.
"Iya, tapi pernah ciuman. Padahal kami yang pacaran saja belum pernah toh," Donghae menaikkan sebelah alisnya, bermaksud menggoda Sungmin. Wajahnya menyebalkan. Mungkin bahasa gaulnya, mukanya nyolot.
"Ehh! I… Itu kan…," Sungmin merampas buku Eunhyuk, gantian ia yang menyembunyikan wajah merahnya. Enak saja Donghae menggodanya! Eunhyuk dan Donghae malah tertawa tak jelas disitu.
"Chu chu chu~ Bibirnya Kyuhyun langsung merah loh~ Bibirnya basah, haha. Seperti apa ciuman mereka, Hae?" Eunhyuk terkekeh. Wajah sahabatnya semakin memerah. Ia tahu itu walaupun buku Sungmin sedikit menutup wajahnya.
"Sungmin ditimpa Kyuhyun dan mereka berciuman. Hahaha. Kenapa tidak pacaran saja?" Donghae dan Eunhyuk ber-tos ria. Mereka tertawa bersama-sama dengan kompak. Menggoda Sungmin yang semakin ingin menghindar dari situasi menyebalkan begini.
"Itu kecelakaan, Hyuk, Hae!" HaeHyuk malah semakin jahat. Menurut Sungmin mereka memiliki tanduk iblis dan ekor iblis saking jahatnya mereka. Apa yang bagus untuk menjadi bahan pengalihan pembicaraan ya? Setidaknya kan bagus jika mereka diam dan tak usah melihat rona merah Sungmin. "Ah! Lihat, Sunbaenim sudah menulis apa saja keperluan kita."
Berhasil! Sungmin menghela nafas lega. Akhirnya dua makhluk tersebut mencatat apa yang ditulis kakak kelas. Kelegaan Sungmin sayangnya hanya sebentar. Karena ternyata perlengkapan MOS mereka rumit dan cukup menyebalkan. Sepertinya mereka benar-benar berniat untuk mengerjai kaum hoobae yang tersakiti.
"Sunbae akan jelaskan. Yang perempuan ikat kepang dua rambutnya dengan pita. Yang laki-laki memakai topi badut! Bawa juga empeng yang diberi tali. Dan bawa makanan tebakan yang ada di kertas yang akan dibagikan pada kalian ini. Jangan lupa bawa papan bertuliskan nama kalian masing-masing yang diberi tali juga. Semua warna perlengkapan harus berwarna merah. Jangan sampai membeli warna lain. Mengerti?" Sunny menjelaskan dengan panjang lebar. Untungnya para murid mengerti dan sedikit yang bertanya.
"Apa itu empeng?" Donghae membalikkan lagi tubuhnya. Mencari jawaban dari para gadis. Ragu untuk bertanya pada Kyuhyun.
"Dot bayi," Eunhyuk menjawabnya santai. Yang mendengar jawabannya hanya ber-o-ria. Namun Sungmin mengerucutkan bibirnya. Empeng? Dot bayi? Untuk apa? Mereka harus menjaga bayi, kah?
Tiba-tiba kegaduhan tercipta. Seorang siswa laki-laki dengan keringat dimana-mana dan rambut yang kacau balau membuka pintu kelas dengan kasar. Semua masang mata meliriknya. Seolah ia adalah narapidana.
"Maaf aku telat! Hosh… Hosh…," nafasnya terengah-engah. Capek karena ia berlari sedari tadi. Bertanya dimana kelasnya kepada orang yang lewat, sehingga beberapa kali ia dikira stress.
"Oh, tak apa. Tarik nafasmu," Jungmoo menenangkan hoobaenya yang berkepala besar itu. Mengelus punggung hoobaenya agar tenang dan pernafasannya lancar.
"Kau telat kan? Letakkan tasmu," Sunny tersenyum lagi. Ia membantu lelaki itu melepas tas punggung nya dan menaruhnya di sebelah Donghae. Mau tak mau ia duduk di sebelah Donghae. Daripada duduk dengan Kyuhyun yang sepertinya tak suka kehadirannya?
"Aku boleh duduk disini?" lelaki itu masih bernafasdengan suara kencang. Jantungnya masih sakit karena lari tadi.
"Tentu," Donghae menyunggingkansenyum ramahnya, sekaligus menyodorkan tangannya tanda perkenalan. "Lee Donghae imnida."
Lelaki itu menjabat tangan Donghae. Telapak tangannya masih sangat basah. Donghae dapat merasakannya saat berjabat tangan dengan pemuda yang seangkatan dengannya tersebut. "Kim Jong Woon imnida. Panggil saja Yesung."
"Sudah selesai berkenalannya? Cepat lari lapangan 10 kali karena kau terlambat!" Sunny menyeringai. Belum apa-apa ia sudah menyiksa Yesung duluan. Licik bukan? Dengan langkah malas, Yesung terpaksa harus menuruti kemauan sunbaenya itu. Takut jika ditolak hukumannya malah lebih besar lagi, sebesar kepala Yesung mungkin. (?)
"Sudah kubilang apa. Dia itu menyeramkan bukan?" Eunhyuk yang masih sedikit takut dengan Sunny menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Sungmin.
"Kalian bilang apa? Kau, yang memakai jaket pink, lari lapangan bersama Yesung sebanyak 5 kali!"
.
.
"Gila! Kakak kelas macam apa itu?! Sok imut!" Sungmin sudah berada di luar kelasnya. Dengan jaket pink yang ia kenakan, ia berjalan malas ke arah lapangan yang menjadi tempat hukuman Yesung juga. Ia berlari dengan malas. Yesung yang melihat ada 'teman hukuman' melajukan larinya, menyusul Sungmin. Setidaknya bisa mengobrol sehingga tak bosan.
"Kau kenapa dihukum?" Yesung memulai percakapan. Sungmin menoleh, menghela nafasnya.
"Sunbae sok cantik itu, ia menghukumku hanya karena aku mengejeknya menyeramkan. Padahal itu kenyataan. Tak sadar diri!" Sungmin mengerucutkan bibirnya. Ia benar-benar sudah marah.
"Memang itu kenyataannya. Hahahaha!" Yesung tampak setuju. Ia tertawa puas setelah mengejek sunbae yang menurutnya jelek itu. Dalam hati, Sungmin yakin setelah ini Eunhyuk akan menarik ucapannya yang bernadakan 'Sunny manis' tadi. Benar-benar iblis dibalik topeng malaikat!
"Hahaha. Kau lihat saja, ia sok cantik. Lebih imut juga aku," Sungmin menunjukkan aegyo-nya. Yesung pura-pura muntah. Kebiasaan anak remaja laki-laki untuk mengejek perempuan. Sungmin mengerucutkan lagi bibirnya dan sukses membuat Yesung tertawa sejenak. "Ngomong-ngomong kenapa kau bisa terlambat begitu?"
"Rumahku jauh. Aku tak mau merepotkan orang tuaku dengan membeli apartemen atau sejenisnya. Jika saja ada rumah lagi di sekitar sini, aku pasti tak akan terlambat," Yesung tersenyum miris. Menunduk dan melihat sepatunya.
"Kalau begitu, tinggalah di rumah Donghae! Ada Donghae, Eunhyuk, aku dan Kyuhyun loh!"
"Eh?"
.
.
"Stt… Bahaya Hyuk! Bahaya! Mereka berdua malah jadi akrab!" Donghae mulai lagi bergosip dengan Eunhyuk. Gadis itu juga menyetujui perkataan Donghae. Namun Eunhyuk terlihat khawatir disitu.
"Kyuhyun dikemanakan? Padahal frist kiss Sungmin kan Kyuhyun!" Eunhyuk mendengus. Mereka mulai bergosipan. Apalagi Donghae, dia berniat akan mengintrogasi Yesung yang duduk di sebelahnya nanti.
"Apa yang si bodoh itu lakukan bersama si kepala besar?!" Kyuhyun mendesis. Tanpa sadar ia mengabaikan PSPnya. Game over. Sial. Ia terpaksa harus mengulang permainannya.
.
.
"Hm! Tapi soal Kyuhyun… Kemarin aku dan dia… Ngg… Dia ternyata tampan," Sungmin tersenyum-senyum kecil, memainkan jemari tangannya sambil masih berlari.
"Kau suka dia? Ehm!" Yesung menunjukkan wajah nyolotnya, sama seperti EunHae tadi.
"Eh? Tidak! Lupakan! Lagipula, kau mau tidak ikut tinggal dengan kami?"
"Apa kalian mengijinkan?" Sungmin mengangkat bahunya. Ia melaju menuju kelas terlebih dahulu. Maklum, Sungmin sudah menyelesaikan 5 putaran sedangkan Yesung baru 7 putaran.
"Aku duluan ya! Oh ya, namaku Lee Sungmin!"
.
.
"Min! Apa yang kau lakukan dengannya?" datang-datang, Eunhyuk langsung menanyai Sungmin yang sebenarnya ingin mendapat kesempatan untuk bernafas dulu. Bukankah melelahkan jika sehabis berlari kau malah ditanyai seseorang, padahal kau butuh kesempatan untuk bernafas dulu?
"Kami mengejek-ejek soal Sunbae jelek itu," jawab Sungmin sekenanya. Ia memutar tutup botol minumannya dan meminumnya. Ia sudah mencari-cari air sejak tadi ia berlari. "Ah, segarnya."
"Oh. Untunglah. Hae, kau dengar kan?" Donghae mengangguk. Eunhyuk juga mengangguk. Mereka saling mengangkat jempol tangan mereka dan berkedip. Sungguh membuat Sungmin penasaran dengan tingkah ajaib sepasang kekasih perpaduan antara ikan dan monyet ini.
"Oh ya. Dia terlambat karena rumahnya jauh. Bagaimana kalau dia tinggal dengan kita? Apalagi Donghae dan dia sifatnya sepertinya cocok. Ia ramah, berbeda dengan si pecandu game itu. Si gila game itu dingin, aku takut," Sungmin menjulurkan lidahnya pada Kyuhyun. Ya, kenyataannya Kyuhyun memang dingin dan membuat Sungmin kesal karenanya.
"Apa yang kau katakan hm, Sungmin-ssi?" Deg. Gawat, Kyuhyun mendengarnya. Walaupun ia tak melihat Sungmin, namun Sungmin ketakutan setengah mati. Baru kali ini ia tertangkap basah.
"Eeehh… Itu, aku hanya bercanda Kyu. Hehehe," Sungmin berusaha setenang mungkin agar tak dicurigai. Ia juga mengangkat tinggi-tinggi tanda peace di tangannya. Cengar-cengir nya dianggap senyuman bodoh oleh Kyuhyun.
"Dasar perempuan," gumam Kyuhyun pelan.
"Akhirnya aku selesai juga," sama seperti Sungmin barusan, Yesung yang duduk di sebelah Donghae meminum airnya. Pasti ia kelelahan dua kali lipat daripada Sungmin.
"Oh ya, kau mau tinggal di rumah kami?" Donghae langsung berbicara pada intinya. Yesung agak tersedak karenanya.
"Maksudnya?" Bodoh. Yesung tak mengerti juga? Sungguh, apa sih isi kepala besarnya?
"Tentu saja tawaran Sungmin tadi," Donghae menopang dagunya di sebelah tangannya. Menunggu jawaban dari teman barunya yang tampaknya mengasikkan.
"Bolehkah? Kita kan baru kenal, hehe," Yesung tampak salah tingkah. Ia menggaruk kepala belakangnya.
"Tentu saja! Kita teman, bukan?" Donghae tersenyum mantap. Ia yakin Yesung ini anak baik-baik. Yesung membalasnya dengan anggukan.
"Sekarang kita mulai pemilihan ketua kelasnya!" Jungmoo angkat bicara. Tangannya memegang spidol hitam yang akan ia goreskan pada papan tulis berwarna putih di depannya. "Siapa yang ingin mencalonkan diri atau pernah menjadi ketua kelas?"
Yesung mengangkat jarinya. Diikuti seorang anak perempuan yang juga nampak tak mau kalah. Namun setelahnya, tak ada lagi yang mengangkat tangan.
"Silahkan maju," Yesung dan anak perempuan itu berjalan kedepan dengan tenang. Siswa-siswi sekarang mulai membicarakan antara mereka berdua. Mau memilih yang mana.
"Menurutku si anak perempuan yang akan menang. Bagaimana menurutmu?" bisik seorang yeoja.
"Menurutku namja itu yang akan menang. Dia kan tampan," perempuan yang barusan memuji Yesung itu menangkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mulai malu-malu. Hah, dasar centil! Cabe-cabean mungkin?
Oke, kita abaikan remaja centil ini.
"Siapa yang memilih Yesung?" setengah kelas mengangkat tangan. Lebih tepatnya setengah kelas lebih. Jungmoo menghitung, dan hasilnya Yesung 19 orang sedangkan sang perempuan 10 orang.
"Yap, kau jadi ketua kelas. Sekarang kalian boleh pulang. Jangan lupa akan perlengkapan kalian besok!"
.
.
"Jadi aku boleh ikut kalian?" Yesung menenteng tas punggungnya, mengikuti arah Donghae, Eunhyuk, Kyuhyun, dan Sungmin.
"Iya, kau sebaiknya telepon orang tua dulu dan ambil semua barang kebutuhanmu," saran Donghae sepertinya masuk akal. Yesung menurut dan menelpon supir pribadinya untuk mengurus segala barangnya.
Mereka telah sampai di rumah Donghae yang menjadi rumah mereka saat ini. Tak ada yang menyambut mereka. Oh tentu saja. Orang tua mereka telah pergi sejak tadi pagi, mereka ada urusan bisnis dan tak mau mengganggu kehidupan sekolah anak-anaknya.
"Memangnya jika aku disini, aku tidur dengan siapa? Ada berapa kamar?" Yesung mulai khawatir. Takut teman-temannya ceroboh dan mereka akhirnya tidur bersempit-sempitan.
"Tenang saja, kamar ada 5. Kyuhyun tidur sendiri, Sungmin bersama Eunhyuk, kau denganku saja. Kamarnya luas kok, bagaimana?" Yesung mengusap dagunya, merangsang otaknya agar berpikir lebih jernih dan rasional.
"Oke, gumawo Hae. Oh ya… Ada satu masalah…," Yesung menggaruk kepalanya ceroboh.
"Masalah apa?" Donghae menepuk pundak sahabat barunya, mencoba membantunya.
"Toiletnya dimana ya?" GUBRAK!
.
Sore harinya…
"Barang Yesung sudah sampai. Ia benar-benar akan tinggal disini!" Donghae dengan semangat menceritakan kepada EunMinKyu. Para gadis bersemangat namun Kyuhyun masih saja cuek.
"Oh ya! Empengnya bagaimana? Kita sudah punya semuanya tapi tidak dengan empeng bayi itu kan?" suara tenang Yesung menyadarkan semuanya. Benar juga, jika mereka lupa, kakak kelas akan menghukum mereka bukan? Dan itu adalah hal yang dibenci mereka semua.
"Aku tidak bisa! Aku sibuk dengan tugas yang tadi sunbaenim berikan. Aku belum menyiapkannya!" Donghae berseru. Ia memukul dahinya. Bisa gawat jika ia lupa, untung penghuni baru ini mengingatkannya.
"Aku sendiri sibuk membereskan barang-barangku," komentar Yesung. Ia jadi merasa bersalah karena tak bisa membantu teman-temannya yang sudah berbaik hati memberinya tumpangan.
"Eunhyuk juga sedang memasak," Donghae memijat pelipisnya pusing. Tinggal Kyuhyun dan Sungmin yang bisa diandalkan, tapi Kyuhyun sepertinya tak mungkin. "Kau saja bagaimana Sungmin?"
"Eh? A.. Aku?" Sungmin tampak terkejut. Ia menunjuk ke arah dirinya sendiri, memastikan apa benar ia yang disuruh untuk membeli empeng seperti itu. Donghae dan Yesung mengangguk, sekarang harapan mereka benar-benar hanya Sungmin. Sungmin, jangan kecewakan teman-temanmu!
"Baiklah…," huft. Sungmin terpaksa menurutinya. Tak enak jika menolak, lagipula teman-temannya ini benar-benar sudah berbaik hati kepadanya. Ia juga harus membalas kebaikan mereka bukan? Sungmin sayang kepada teman-teman mereka.
"Gumawo Sungmin!" Donghae dan Yesung tersenyum, mengucapkan rasa terima kasih mereka secara bersamaan. Sungmin hanya membalasnya dengan senyum manis juga.
"Kyu…," panggilan Sungmin kepada Kyuhyun diabaikan olehnya. Haah… Sudah ia duga, dan tepat apa dugaannya. Kyuhyun masih fokus pada benda mati hitamnya itu, yang lama-lama Sungmin rasa ingin sekali melemparnya kelaut atau kemanapun asal benda itu lenyap.
"Kyu…," Sungmin mencoba sekali lagi. Tetap saja tak digubrisnya. Gawat, sudah pukul 5 sore! Yaampun anak ini! Jika Sungmin tahu jalan, ia juga tak akan mau meminta bantuan Kyuhyun!
"Kyu, aku tak tahu jalan ke arah toko, bisa tolong beritahu aku?" tuh kan, tetap tak digubris Kyuhyun! Hah. Sungmin hanya bisa pasrah. Ia terpaksa pergi sendiri, berusaha menemukan dimana toko yang menjual empeng tersebut.
Sungmin merogoh koceknya, uangnya masih banyak. Cukup untuk membeli 5 empeng bahkan masih bisa membeli 10 empeng lagi. Ia berjalan ke arah kiri, mencari toko dengan insting asal-asalannya. Dalam hati ia berdoa semoga ia tak tersesat.
.
.
"Dimana Sungmin? Ini sudah jam setengah 6 sore!" seru Eunhyuk yang baru saja selesai memasak. Sudah 30 menit, namun mengapa Sungmin belum terlihat juga sedari tadi? Eunhyuk melepaskan celemeknya. Ia berjalan ke arah Kyuhyun dan merebut PSPnya.
"Hei, kau lihat Sungmin?" deathglare yang sempat Kyuhyun layangkan pada Eunhyuk karena gadis itu berani mengganggu permainan indah Kyuhyun sudah dibuangnya jauh entah kemana. Sekarang yang terpenting adalah, dimana gadis itu? Mengapa ia tidak datang-datang? Perasaan kesalnya malah berganti panik.
"Kemana sih perempuan merepotkan itu? Hah!" Kyuhyun pasrah saja. Ia mengambil jaketnya dan kunci motornya, menyalakan motornya dan melaju untuk mencari keberadaan orang yang sekarang berstatus 'hilang' tersebut.
"Bodoh!" Kyuhyun mendesis, tatapannya menjadi mengerikan untuk saat ini. "Harusnya tadi aku mengantar dia!"
.
.
Pencarian Kyuhyun ternyata membuahkan hasil. Sekarang ia melihat Sungmin yang berada di taman, duduk di ayunan dan menggoyangkan kakinya. Hanya tempat ini yang Sungmin tahu. Selebihnya ia tidak tahu. Maklum, dia kan anak baru di Seoul.
Kyuhyun memarkirkan motornya asal. Ia lelah, namun bisa terbaca raut wajah kelegaan yang sekarang menjadi ekspresi wajahnya. Untung saja Sungmin masih belum terlalu jauh. Lelaki berukuran remaja SMA itu menghampiri Sungmin, yang ternyata Sungmin tak sadar akan keberadaan Kyuhyun barusan.
"Hei! Tersesat? Dasar perempuan," Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Nadanya terdengar merendahkan. Sekarang Sungmin tahu akan keberadaan Kyuhyun, tapi ia tak menoleh. Ia masih fokus memandangi kakinya yang bergoyang-goyang diantara angin. Bibirnya dikerucutkan.
Wajah letih Sungmin tercetak jelas, sangat cantik. Siapapun akan menilai bahwa Sungmin memang gadis cantik, karena itulah faktanya. Tetapi secantik-cantiknya dirinya yang letih sekarang, bukankah lebih cantik lagi jiika ia tersenyum? Jika ia bahagia bukankah lebih baik daripada bersedih begini?
"Kau tahu apa perasaanku? Takut. Tadi ada preman yang berusaha menggodaku, tapi untungnya aku pemegang sabuk hitam taekwondo dan berhasil menumbangkan preman jelek itu. Aku juga berusaha mencari toko itu, tapi terasa jauh. Sangat jauh bagiku~" kedua mata kembar hitam Sungmin mulai terasa panas, pandangannya mengabur.
"Bahkan aku merasa tak sanggup berjalan kerumah lagi. Sikapmu juga sedikit… Keterlaluan. Kau terlalu dingin. Mungkin kau tak suka padaku karena kemarin hal yang seharusnya tidak terjadi di depan pintu itu?" Sungmin tak bisa menahan lagi. Yah, walaupun mereka baru saja tinggal selama dua hari, tapi hal itu menyesakkan bagi Sungmin. Sampai ia berpikir yang tidak-tidak. Air matanya turun deras bersama apa yang selama ini mejadi uneg-uneg di hati kecilnya yang rapuh.
GREP
Tanpa diduga, Sungmin sudah berada di dalam rengkuhan tubuh Kyuhyun. Benar, Kyuhyun. Kyuhyun yang dingin dan cuek namun sebenarnya perhatian. Sungmin tersenyum tipis. Kyuhyun ternyata seorang gentle.
"Ayo kita ke toko itu," Kyuhyun memberi Sungmin sebuah helm setelah Sungmin tak menumpahkan air mata lagi. Sungmin tersenyum. Ia mengikuti Kyuhyun dengan langkah malu-malu, barusan ia ditenangkan Kyuhyun. Ajaib.
.
.
"Turun," Sungmin mengangguk. Ia melakukan apa perintah Kyuhyun barusan. Dengan perlahan ia turun dan masuk ke dalam toko itu bersama Kyuhyun. Mereka masuk bersama.
"Ahjussi, kami ingin membeli empeng," Sungmin meminta apa yang dicarinya sedangkan Kyuhyun tetap berada di sampingnya dengan santai, mengirim SMS pada Eunhyuk bahwa Sungmin sekarang sedang bersamanya.
"Empeng bayi? Oh, aku tahu! Kalian pasti pasangan suami istri yang anaknya sudah lumayan besar dan ingin dilatih agar bayi kalian tidak menyusui lagi kan?" Kyuhyun dan Sungmin melongo. Aneh-aneh saja apa tebakan ahjussi penjaga toko itu! Terlalu meleset tahu!
"APA?! KAMI? MENIKAH?! BAYI?!"
To Be Continued...
TBCnya greget lagi nggak tuh? Hehe. Untuk yang minta update kilat, ini saya turutin. Lumayan cepet kan 3 hari langsung update? Hehehe. Btw bocoran sedikit, ide ini saya dapat karena teman-teman saya membicarakan drama Full House itu bagus. Tapi saya malas nonton drama, jadi saya berpikir bahwa 'Rumah Penuh', artinya banyak yang menghuninya kan? Kalau begitu kenapa tidak yang menghuninya anak remaja SMA saja tanpa ada orang tua? Asik kan tanpa awasan orang tua? XD
Untuk KyuMin moments, sepertinya masih kurang ya? Saya sudah menyiapkan kejutannya tentang Kyuhyun kok di chapter akhir nanti. So, ikuti terus ya!
See you to the next chapter!~ (If you gimme some review :p )
