A Merely Boy and Demon

The Full moon Slightly Chipped, that so me, so please…

Save me and hold me tight…

Just make me alright…

Andaikan saat itu ia tahu akan begini akhirnya… maka, ia tidak akan pernah mengabulkan permintaan dari bocah pembawa sial itu. Laki-laki yang memiliki senyum seluas langit, dan tatapan mata sekosong rongga.

Andaikan saat laki-laki dihadapannya ini tidak tersenyum padanya, atau ia menangis ketakutan, mungkin juga menyesalinya. Itu lebih baik. Segala hal lebih baik dari pada dirinya yang tersenyum.

"Sasuke…Uhuk..."

Darah yang mengalir… mungkin ia tidak akan pernah melihat darah ini mengalir. Kalaupun ia melihatnya, ia tidak akan memperdulikannya.

"Sasuke…"

"Diam Naruto! Kumohon, diam!" bentaknya, suara seraknya terlihat putus asa, tercekat.

Andaikan logika dan pikiran serta hatinya sejalan. Andaikan ia tidak menggenggam apapun. Andaikan ia bisa menguatkan hatinya sejak dulu, dan mengangkat besi tajamnya.

"Ku…mohon…"

Dan andaikan temannya itu tidak lagi tersenyum dengan tenangnya. Maka, ia akan lebih mudah melakukan pekerjaannya. Akan lebih mudah untuk…

…o0o…

Under the dark clouds wingless swan in my soul…

From the fortress a pessimist… *

…o0o…

Bulu mata lentik berwarna pirang kecoklatan terbuka. Ia terbangun mendengar suara seseorang yang sepertinya sedang bernyanyi. Bahasa yang tidak ia kenali. Tangannya menggenggam bantal kusam yang lama tidak ia cuci. Berwarna hijau kecoklatan yang telah pudar. Ia bangkit dan menatap pentagram yang garisnya sudah setengah terhapus. Ah… ia ingat, sebelumnya ia memanggil iblis. Entah berhasil atau tidak. Ia tidak tahu… tapi iblis itu memang datang, dan ia mengucapkan permintaannya.

Senyum kecil merekah di bibir pucat kehitamannya. Ia tidak akan sendiri saat ajal menjemputnya nanti. Ia menutup kedua matanya lagi pagi itu.

'Krieeettt', 'Ckraakkk'… 'Brakkkhhhh'

Tubuh kecil Naruto terperanjat dengan bunyi keras yang baru membangunkannya dari mimpi singkatnya. Ia ingat punya pintu yang harus diperbaiki. Kemarin seekor babi liar menabrak pintu rapuhnya. Babi hutan itu sukses membuat engselnya rusak dan keretakan yang hampir menyerupai lubang kecil.

Ia berlari menuju ruang dapurnya (itupun kalau ruangan untuk memasak, menyimpan hasil panen kebun, dan meja makannya bisa disebut dapur). Pintu yang rusak menjadi hancur. Engsel pintu sepenuhnya terlepas, kayu-kayu yang terpecah menjadi beberapa bagian, dan sosok tinggi besar di hadapannya menutupi jalannya mentari pagi.

"Siapa kau!" teriaknya sedikit panik, sambil terbatuk-batuk.

Laki-laki berjubah dan bermata kelam. Tingginya hampir dua kali darinya, rambutnya berwarna hitam dan kulitnya sangat pucat. Tidak terlihat tanduk, maupun gigi-gigi yang tajam dan telinganya pun normal.

Sosok itu mengibas-kibaskan bagian bawah jubahnya. Jubah biru tua dengan pengkait berwarna hitam. Benar-benar kontras dengan kulit pucatnya. Ia mendekati Naruto, yang tiba-tiba panik. Mungkinkah ia pemilik babi liar yang ia tangkap dan ia jual kemarin?

"Ka-kalau kau pemilik babi hitam kemarin, aku sudah menjualnya! Karena babimu itu merusakkan pintuku."

Mata tajamnya melirik Naruto yang terbatuk-batuk, "Hn… kau benar-benar dobe, Dobe!"

"Temeee!" dan darah yang mengalir dengan cepat ke kepalanya berkat naik pitam, "AH! Kau iblis yang kupanggil kemarin, uhuk, uhuk…" membuatnya bisa berpikir sedikit lebih jernih.

"Kau benar-benar… telmi." Sepertinya perjanjian yang ia sepelekan akan membuatnya kerepotan. Seharusnya ia tidak memenuhi panggilan laki-laki ini saja.

Alis pirang kecoklatannya mengkerut.

"Tell me… what?"

Iblis tampan itu menepuk dahinya lagi. Ini akan sangaaaatt memuakan, pikirnya.

"Yeah… kau memanggil iblis, aku datang dan membuat perjanjian untuk menjadi temanmu… lalu menemanimu saat kau mati… ingat?"

"Jadi kau iblis yang kemarin ku panggil?" lirik mata birunya.

"Kau pikir aku siapa!" bentaknya dengan keras.

Naruto terbatuk-batuk, "Ah… maaf… kupikir kau pegawai sensus penduduk yang selalu datang tiap tahunnya."

Iblis itu menahan untuk memutar bola matanya, "Apa penampilanku mirip dengan- ! ah, sudahlah, tidak ada gunanya." Ia terdiam di depan pintu yang rusak.

"Tidak…" ia terdiam lalu duduk di atas bangku di dekat meja kecil, "Aku hanya memastikan kau bukan pegawai sensus…"

"Untuk apa pegawai sensus datang tiap tahunnya?" pikirnya keanehan, apakah anak ini sebegitu penyindirinya jadi ia tidak pernah ke kota maupun pusat desa?

Senyum kecil, dan menyedihkan muncul lagi. Senyuman itu yang ia lihat saat laki-laki dihadapannya memintanya menjadi temannya, "Untuk memeriksa apakah aku sudah mati atau belum."

Iblis itu terbelalak, kalaupun ia memakai topeng, maka seluruh topengnya hancur pada saat itu juga. Memeriksa apakah ia sudah mati atau belum? Mati atau belum? Bukan sakit atau sehat? Atau membutuhkan bantuan atau tidak? Mati!

Ia menyeringai sejadinya saat Naruto mengambil gelas di rak kayu kecilnya. Sebegitu menderitanya kah bocah ini? huh? Menggelikan! Kasihan sekali! Pantas saja kau meminta 'seorang teman' pada iblis yang dipanggilnya.

"Kenapa kau memintaku menjadi teman? Bukan meminta seorang 'teman'?"

Naruto mengayunkan jemarinya seakan-akan memanggil Iblis itu untuk masuk dan duduk di bangku di sebelahnya. Iblis itu malas untuk masuk, lagi pula tubuhnya terlalu besar untuk duduk di kursi kayu reyot dan kecil. Ia akhirnya duduk di bawah tanah, dan diikuti oleh Naruto di kanannya. Punggungnya sudah menabrak dinding dan kakinya tak bisa seutuhnya diluruskan. Ruangan yang sangat sempit.

"Apa itu ada bedanya?"

Dan lagi ia penasaran, kenapa bocah disampingnya itu teramat sangat bodoh sekali?

"Kau tidak ingin meminta orang lainnya menjadi temanmu, tapi memintaku jadi temanmu?"

"Apa pilihanku, salah?" tanyanya dengan simple, dan terbatuk-batuk. Mungkin karena penyakitnya yang membuatnya bodoh. Atau kebodahannya yang membuatnya sakit?

"Tidak, aku hanya ingin tahu…" karena ini tugasnya, andaikan ia bisa membujuk bocah bodoh ini untuk memiliki teman lainnya saja, "Kau tidak ingin menjadikan manusia lainnya sebagai temanmu? Atau gadis cantik?" usia iblis itu memang lebih dari ribuan tahun, tapi bukan berarti ia lupa tentang masa pubertas remaja muda, apalagi seorang laki-laki.

"Oh… itu karena… aku tidak ingin kau mengubah orang lain untuk menjadi temanku. Aku ingin seseorang itu menjadi temanku karena ia sungguh ingin menjadi temanku bukan karena permintaanku padamu."

Lalu apa bedanya?

"Kau memintaKU menjadi temanmu, Dobe!"

Karena ia seorang iblis kah?

Wajah anak laki-laki disampingnya itu akhirnya menatapnya, birunya mata yang sebiru langit cerah, "Jangan panggil aku, Dobe! Temeee!" katanya sambil brengut, "Lagi pula apa itu Dobe!"

"Ah… kau tidak tahu arti dari Dobe?"

Anak laki-laki itu mengangguk dengan polosnya, dan si iblis menyeringai untuk yang kesekian kalinya, "Itu kata slang dari Dove…" lebih baik ia sedikit mempermainkan 'temannya' ini, lagipula apakah ada teman yang benar-benar jujur satu sama lainnya? Well, mungkin ada, tapi ia seorang iblis, dan iblis tidak didesign untuk jujur kan?

"Daouvvv… ng… …?" tanyanya dengan suara yang aneh.

"Hn… merpati."

Pertama kali semenjak kedatangannya, suasana ruangan itu menjadi sangat hening, dan si Iblis yang penasaran melirik laki-laki disampingnya. Che… sekalipun kulitnya berwarna kecoklatan tapi rona merah itu tetap nampak, padahal ia tidak sedang memujinya. Dasar Dobe.

Naruto menyibakkan dan mengeratkan ikatan tali rambutnya. Rambut pirangnya yang panjang. Lalu mengikat ulang eyepatch dari kainnya.

"Kau tunggu sebentar disini, tuan Iblis." dan tubuh kecilnya menghilang di balik pintu yang mengarah keruangan lainnya.

Si Iblis mengangkat alisnya, bukankah… anak itu sudah memanggil namanya? Che… anak bodoh. Semoga ia tidak melakukan hal yang lebih bodoh lainnya. Kenapa juga, anak bodoh yang sepertinya tidak terpelajar itu bisa memanggilnya? Seorang Iblis sepertinya? Mungkinkah tingkat 'kejahatannya' telah menurun?

"Teme!" serunya.

Laki-laki yang dipanggilnya menengok ke asal suara. Ia melihat Naruto membawa sesuatu yang kumal di tangannya.

"Ini… apa kau bisa mengecilkan tubuhnya seukuran manusia biasa?" Iblis itu menjawab dengan sekenanya, "Kalau begitu kau harus memakai ini!" ia menunjukkan sepasang pakaian laki-laki seukurannya yang terlihat sedikit 'lebih baik' dari pakaian kumal yang dikenakannya. "Karena kau sekarang temanku, dan harus tinggal denganku."

"Sebentar…" pintanya, dan Naruto mengangguk, "Aku harus tinggal di gubuk yang akan hancur kalau aku salah melangkah seperti ini?" wajah Naruto cemberut, dan ia terlihat sedikit sedih… mungkin juga marah, "Aku?" tanyanya sekali lagi. Mungkin saja, si bocah di hadapannya ini salah bicara.

Naruto mengangguk, "Iya… ingat kau berjanji akan menjadi temanku kan?... dan… dan…kau pun akan menemani ku saat aku mati, kan?" sang Iblis terdiam, ia tidak perlu membenarkan atau pun menyalahkan perkataannya, karena bocah itu pun pasti tahu jawabannya, "…Kau harus tetap disampingku…karena…" Ia terdiam lagi, bibirnya tersenyum tapi matanya menangis, "Karena… aku bisa mati kapan saja, Tuan…" ia tertunduk, dan suaranya lirih sampai hilang tak terdengar.

Saat itu, sang iblis baru sadar ia merindukan panggilan 'Teme'.

"Cih!"

Itu adalah ungkapan terakhir yang ditunjukkan oleh Iblis itu pada Naruto untuk hari itu. Untuk keesokaan harinya, untuk lusanya, hingga satu minggu setelahnya. Itu adalah perkataan terakhir…

Laki-laki kurus duduk di kursi dapurnya setelah ia merawat tanamannya, memberi makan ikan-ikannya dan pergi ke hutan untuk mengambil kayu. Sudah lama ia tidak ke hutan, dan baru sekarang ia menyadari kalau kayu di hutan semakin sedikit. Banyak pohon yang ditebang, padahal sekitar tiga hari yang lalu pohon itu masih segar di tempatnya. Hutan tidak gundul, tapi juga tidak rimbun.

Sudah seminggu…. Pula tuan Iblis itu tidak datang lagi…

Uhuk…uhukkk…

'Sruuupuuutttt…' Minuman jahe, memang paling enak di minum saat tenggorokannya sesakit ini. Ia hampir terlelap dengan rambut terjuntai di meja saat seseorang masuk ke dalam rumahnya. Tentu saja, dengan menghancurkan pintu, yang susah payah dibenarkannya.

Seorang laki-laki yang menggunakan jas dengan celana panjang hitam kebiruannya dan top hat. Sepatunya yang mengkilap dan rambutnya yang hitam terurai menutupi sebagian telinganya. Wajahnya yang pucat pasi kontras dengan bibirnya yang berwarna kemerahan. Ia lebih tinggi darinya. Matanya yang tajam itu… sepertinya ia mengenalnya. Dimana kiranya?

"Dobe…"

Lalu suara rendah dan nama panggilannya… Naruto tersentak, ia terbatuk dan bangkit dari kursinya setelah mengusap wajahnya.

"Teme!" dan meraih jas yang terlihat sangat mahal, "Kau kemana?"

"Lepaskan, Dobe! Kau akan menghancurkan pakaianku."

"Selama ini kau kemana!" katanya perlahan.

Laki-laki yang lebih tingginya beberapa inchi itu melirik ke arah luar jendela, "Kau lihat bangunan besar itu?" ia menunjuk pada sebuah istana yang menjulang tinggi, "Aku membangunnya, dan aku… ah tidak… kita akan tinggal disana!"

Mata birunya terbelalak.

"Jangan berdiam diri seperti orang bodoh," Iblis itu menarik tangannya, "Kita akan berbelanja pakaian untukmu." Aneh baginya Naruto tidak banyak memberontak.

Iya… Naruto tidak memberontak, asalkan si iblis itu tetap disampingnya.

Tbc

A/N: Fic ini ada di tahun 1851 tempat di Inggris. Azazel itu iblis yang ada di kaum yahudi (dengan bahasa Ibrani-nya) atau Iblis dari umat Islam (dalam Al-Qur'an-bapaknya setan-), dan mungkin Fallen Angel/Lucifer dari Nasrani. Tolong dibenarkan kalau salah. Saya pakai Azazel (lebih keren dan asing dari pada Lucifer atau Baphomet, bahkan Beelzebub) untuk membedakan tipe iblis 'Sasuke' dari pada saya pakai Iblis dan Setan/Jinn. -_-

Thanks for your review! Hime-san, Kay-san, Sana-chan, Aikha-san