19 Juni 1995

"Kris, kau memang anak yang luar biasa, sama seperti namamu, Wu Yi Fan. Mama mungkin tidak bisa menerimamu Kris. Kau mau membantu baba kan?" tanya Tuan Wu dengan wajah sangat sedih.

"Kalau nanti mama melupakan Kris, baba janji akan menyayangi Kris ribuan kali lebih banyak daripada sekarang," kata Tuan Wu sambil memeluk tubuh anak berusia lima tahun itu.

"Tuan Wu, Kris mungkin masih belum mengerti. Lebih baik kalau memang nyonya menghendaki hal ini kita lakukan saja," kata pelayan pribadi keluarga itu.

Aku mengerti...

Baba, aku mengerti kalau aku ini aib keluarga. Anak aneh yang dianggap kutukan dari Tuhan. Semua orang sangat membenciku. Aku menyayangi mama, aku tidak ingin mama melupakanku...

Tapi, baba...

Kau mencintaiku sepenuh hatimu melebihi cintaku untuk kalian. Kau sungguh mencintaiku dan aku tidak bisa menolak permintaanmu. Kalau memang dengan cara ini aku bisa membuat kalian bahagia, maka aku tidak keberatan. Setidaknya ada hal yang bisa kulakukan untuk kebahagiaan kalian berdua.

"Baba," panggil anak itu.

"Kris,"

"Kalau aku merelakan mama, apa mama akan bahagia? Apa baba akan bahagia?" tanya anak kecil itu.

"Kami..."

"Kalau memang baba dan mama merasa bahagia dengan hal ini, Kris tidak keberatan. Kris akan terus menyayangi kalian," kata anak lelaki itu.

Tuan Wu tak kuasa menahan gejolak dalam hatinya. Betapa besar hati anaknya itu hingga merelakan sang ibu untuk pergi. Betapa tabahnya hati anak itu untuk menerima segala hal ini.

Di dalam ruangan.

"Apa anda yakin nyonya?" tanya sang dokter.

"Silahkan. Buat aku melupakan anak itu,"

"Apa anda tidak akan menyesal nantinya?"

"Tidak akan. Satu-satunya hal yang kusesali adalah karena aku melahirkan anak itu ke dunia ini. Hanya itu," kata wanita itu.

...

Lima tahun kemudian, Vancouver, Canada.

"Kris, kau sudah bisa mengendalikan kekuatanmu. Kau berhasil. Anak baba memang hebat!" seru Tuan Wu senang.

"Benarkah? Aku sudah bisa baba? Aku sudah tidak melayang lagi?" tanya Kris tidak percaya.

"Iya...iya... kau berhasil. Sekarang cobalah, apakah kau bisa terbang lagi?" tanya Tuan Wu.

"Aku tidak tahu..."

"Kris, coba pusatkan perhatianmu untuk melayang, sama dengan saat kau berusaha untuk terus berdiri di tanah. Cobalah," kata Tuan Wu sabar.

"Baba, aku tidak mau," kata Kris sambil menunduk. Untuk pertama kalinya dia menolak keinginan ayahnya. Dia merasa sangat bersalah.

"Kenapa?" tanya Tuan Wu lembut.

"Baba, aku benci kekuatan ini. Sekarang aku bisa mengendalikannya. Aku ingin hidup normal seperti orang biasa. Apa baba masih mau menerimaku kalau aku menjadi orang biasa?" tanya Kris sambil menahan tangisnya.

"Maafkan baba Kris. Baba tidak pernah menyadari kalau baba sudah menekanmu terlalu jauh. Tentu baba akan selalu menyayangi dan mencintai Kris walaupun nanti Kris menjadi orang biasa. Baba hanya ingin Kris dan mama hidup bahagia. Hanya itu yang bisa membuat baba bahagia. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan baba juga," kata Tuan Wu sambil tersenyum lembut.

"Baba, apa mama sehat-sehat saja sekarang?"

"Ya, mamamu sudah semakin baik sekarang. Kris, sebentar lagi kau akan menjadi seorang kakak," kata Tuan Wu.

"Kakak? Mama sedang mengandung? Aku akan punya adik?" tanya Kris kaget.

"Ya,"

Kris hanya diam. Dia menunduk seolah sedang memikirkan sesuatu. Tuan Wu bisa melihat hal itu. Dia jadi bertanya-tanya apakah anaknya khawatir perhatiannya untuk Kris akan berkurang.

"Kris, kau tidak senang?"

"Tidak, aku senang karena sekarang mama bisa punya anak selain aku. Akan ada yang bisa menemani mama saat baba harus mendampingiku seperti ini," kata Kris sambil tersenyum.

"Kalau begitu kenapa? Kau khawatir baba akan lebih menyayangi adikmu?"

"Tidak, baba. Baba sudah memberi terlalu banyak cinta untuk monster sepertiku. Aku akan lebih senang kalau baba lebih menyayangi adikku nanti," kata Kris membuat Tuan Wu langsung memeluk anaknya itu.

"Kris, kau bukan monster. Kau anak yang istimewa. Kau adalah anak baba dan mama. Darah baba mengalir dalam tubuhmu. Kau adalah orang yang penting bagi baba. Kau manusia, bukan monster," kata Tuan Wu.

"Baba, aku tahu mereka semua bilang kalau aku ini monster. Kenapa aku terlahir seperti ini? Kenapa aku selalu menyakiti baba dan mama?" tanya Kris sambil menangis.

"Ssshh...Kris. Hidupmu pasti ada artinya. Kau terlahir memiliki kekuatan seperti ini juga pasti ada alasannya. Jangan pernah menganggap dirimu ini monster. Kalau kau bisa mengendalikan kekuatanmu dan menganggapnya teman, kau mungkin akan mengerti alasan kenapa kau memiliki kekuatan itu," kata Tuan Wu lembut.

"Baba...maaf..."

"Tidak apa-apa Kris. Ini memang berat untukmu. Baba akan selalu ada di sampingmu. Baba akan menemanimu melewati semua ini," kata Tuan Wu.

"Baba, aku takut. Aku takut bagaimana kalau adikku nanti sama seperti aku? Bagaimana kalau nanti mama tidak menginginkannya sama seperti saat aku dulu? Aku tidak mau dia mengalami hal yang sama denganku. Aku tidak mau mama menangis setiap hari seperti dulu..." kata Kris sambil mengeratkan pelukannya.

Tuan Wu bisa memahami perasaan putranya itu. Lima tahun yang lalu, Kris melihat sang ibu menjalani terapi untuk melupakannya, melupakan masa-masa pahit bersama dengan dirinya. Kris juga bisa melihat perlahan-lahan mamanya melupakan dia. Dia melihat mamanya sudah bisa tersenyum lagi dan juga sudah kembali seperti mamanya yang dulu sebelum dia lahir. Menjadi mamanya yang ramah dan ceria.

Untuk bisa selalu menemani Kris, Tuan Wu berusaha menanamkan ingatan di hati istrinya bahwa sejak sebelum mereka menikah, Tuan Wu mengangkat Kris menjadi anak. Kris adalah anak sahabatnya yang meninggal dan Tuan Wu merawatnya sesuai wasiat. Betapa kerasnya usaha Tuan Wu untuk bisa membahagiakan keluarga kecilnya.

"Kris, mamamu menyayangimu. Walau pikirannya menolakmu, hatinya sungguh sangat mencintaimu. Mama selalu bercerita setiap pagi kepada baba. Mama selalu bermimpi sedang menggendong anak lelaki yang masih bayi. Semakin hari bayi itu semakin besar dan sehat. Saat kau sedang sakit, anak lelaki dalam mimpi mama juga sakit. Kadang kalau sakitmu lama, mama menangis. Hatinya sangat mencintaimu Kris," kata Tuan Wu.

"Benarkah?"

"Ya, ingatan mama tidak dihapus, hanya ditekan ke suatu titik di mana itu tidak akan mempengaruhi kehidupan pribadinya. Mama tidak melupakanmu. Mama masih punya ingatan akan dirimu dalam hatinya," kata Tuan Wu.

"Hmm...berarti, nanti kalau adikku lahir, mama akan sangat menyayanginya sama seperti mama menyayangiku?" tanya Kris sambil menyeka air matanya.

"Tentu saja," kata Tuan Wu sambil mengambil tissue untuk mengelap wajah anaknya yang basah oleh air mata.

"Kris, kau mau membeli ice cream? Hari ini kan Kris sudah berhasil mengendalikan kekuatan, jadi ayo kita rayakan dengan makan ice cream sama-sama. Kita kan sudah lama tidak makan ice cream berdua," kata Tuan Wu.

"Ice cream? Mau!" seru Kris dengan wajah berbinar.

"Kalau begitu, ganti baju dulu. Baba akan menunggumu di sini," kata Tuan Wu.

...

"Baba," panggil Kris dalam perjalanan pulang saat mereka melewati taman.

"Ada apa?"

"Anak itu menangis," kata Kris sambil menunjuk anak kecil yang sedang menangis di ayunan.

"Hmm, ayo kita ke sana. Mungkin dia tersesat dan tak bisa pulang," kata Tuan Wu.

Kris hampir saja menepuk bahu anak itu kalau tidak mendengar suara seseorang yang biasa mengejeknya menyeletuk.

"Lihat! Dua orang monster sekarang berteman!" seru anak itu sebelum berlari dengan teman-temannya sambil tertawa mengejek.

Kris langsung mengeraskan rahangnya dan membenamkan wajahnya di perut ayahnya. Walau sudah berulang kali mendengar ejekan itu, tetap saja hatinya akan langsung panas.

"Jangan nangis," kata anak itu sambil mengusap air mata yang masih meleleh di wajahnya.

"Maaf, karena Tao nangis kalian jadi ke sini. Karena Tao nangis, gege jadi ikut diejek. Maaf... gege bukan monster kok. Yang mereka ejek itu Tao," kata anak itu.

Tao mengusap-usapkan tangannya ke pipinya dengan kasar hingga pipinya yang tembam itu memerah. Walau begitu, tangisannya justru malah semakin keras. Anak itu akhirnya menunduk dan terisak.

"Hei, kau bukan monster anak manis. Di mana rumahmu, paman akan antarkan kau pulang," kata Tuan Wu sambil mengelus kepala anak itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya terus memeluk Kris.

"Jangan sentuh Tao!" seru anak itu panik sambil berjalan menjauh. Anak itu bahkan sampai terjatuh karena panik.

"Hei, tidak apa. Paman bukan orang jahat," kata Tuan Wu lembut.

"Jangan! Jangan sentuh Tao. Kalau paman menyentuh Tao, nanti paman mati sama seperti mama dan baba. Mereka bilang mama dan baba Tao meninggal karena menyentuh Tao. Tao tidak mau!" kata anak itu sambil terduduk di tanah.

"TAO!" seru seorang lelaki dari kejauhan. Wajahnya tampak lega saat melihat anak itu ada di dekatnya setelah berusaha keras mencari anak itu.

"Baba..." lirih anak itu.

"BABA!" seru anak itu sambil berlari memeluk lelaki itu.

"Tao," lelaki itu langsung menggendong tubuh mungilnya dan menenangkan anak itu.

"Untunglah... kenapa kabur lagi dari rumah? Baba khawatir sekali..."

"Hiks... maaf... Tao mau mencari mama...Tao mau mama..." racau anak itu.

"Sssh... sudah. Jangan menangis Tao. Ada baba di sini. Ayo, kita pulang. Kau tidak akan kenapa-napa," kata lelaki itu.

"Huang?"

"Lho? Wu?" gumam lelaki itu kaget.

...

"Tak kusangka kita bertemu lagi di sini. Kau pindah dari China ke sini?" tanya Tuan Wu pada teman lamanya itu.

"Yah, begitulah. Tadinya kupikir Tao bisa mendapat teman kalau di Kanada, ternyata malah lebih parah daripada di China. Sudah setahun ini dia jadi sering sakit. Aku khawatir sekali padanya," kata Tuan Huang sendu.

"Sebenarnya anak itu bukan anak kandungmu kan? Kudengar kau belum menikah. Dia anak angkat kan? Aku tahu siapa kau Huang," kata Tuan Wu.

"Ya, ibunya meninggal saat melahirkan dia. Ayahnya meninggal sebelum dia lahir. Kalau anak itu masuk panti sosial, tak akan ada yang bisa memberinya rasa aman dan cinta," kata Mr. Huang.

"Tao sebenarnya kenapa? Dia menolak keras untuk disentuh," Tanya Tuan Wu.

"Tao sakit sejak kecil. Sakit turunan dari orang tuanya. Dia terjangkit HIV/AIDS," kata Tuan Huang sedih.

"Bahkan yang lebih parah lagi, sejak kecil Tao gampang sekali sakit. Tubuhnya lemah sejak lahir. Walau pada awalnya aku mengangkatnya sebagai anak karena rasa belas kasih, sekarang aku sungguh mencintainya melebihi diriku sendiri. Kalau memang hidupnya tidak bisa lama, aku ingin dia memiliki kenangan bahagia," kata Tuan Huang.

Tanpa dua orang itu sadari, Kris berjalan masuk ke kamar Tao. Anak itu bisa melihat Tao meringkuk di dalam selimut dengan wajah yang basah. Anak itu bahkan menangis dalam tidurnya. Kris tahu betapa beratnya Tao menghadapi hidup. Dia tak percaya akan menemui orang yang mirip dengan dirinya. Dia memang dianugerahi kekuatan dan semakin kuat dirinya, semakin berat bebannya, tapi Tao... Tao tak bisa apa-apa. Dia tidak memiliki apa-apa, tapi masih harus menderita seperti ini.

"Aku mau mama..." igau anak itu.

"Sssh... Tao-er, kenapa menangis dalam tidurmu?" tanya Kris sambil mengelus kepala anak itu.

"Eungh...siapa?" tanya Tao yang terbangun karena merasakan sentuhan yang asing di kepalanya. Hanya baba angkatnya yang mau dan dia ijinkan menyentuhnya, jadi dia bisa membedakan rasa sentuhan itu.

"Kau sudah bangun?"

"Kau siapa?"

"Aku Kris. Aku malaikatmu Tao," kata Kris sambil tersenyum.

"Malaikat? Kau tidak punya sayap," kata Tao polos.

"Sayapku tidak bisa dilihat olehmu, tapi aku bisa terbang sebagai bukti kalau aku ini memang malaikatmu," kata Kris.

"Sungguh?"

"Ya,"

Kris berusaha memusatkan perhatiannya. Dia ingin terbang dan harus bisa melayang sekarang juga untuk anak di hadapannya ini. Dia harus bisa. Tiba-tiba, Kris merasa tubuhnya seringan bulu. Perlahan-lahan, tubuhnya terangkat. Dia berusaha untuk lebih berkonsentrasi agar kekuatannya tidak berlebihan dan membuatnya menabrak langit-langit kamar Tao. Dia melayang cukup tinggi, membuat Tao langsung berseru kagum.

"Woaa! Bisa terbang," kata Tao senang.

"Ya, aku bisa," kata Kris yang sangat senang karena mulai bisa mengendalikan kekuatannya sepenuhnya. Lebih dari itu dia senang karena akhirnya ada orang yang bahagia, benar-benar bahagia karena kekuatannya.

"Aku juga mau terbang," kata Tao.

"Nanti ya, kalau gege sudah lebih kuat, gege akan membawa Tao terbang ke mana pun. Nanti Tao bisa ke mana pun yang Tao inginkan," kata Kris sambil tersenyum. Senyuman yang belum pernah dia tunjukkan seumur hidupnya.

"Sungguh? Ke mana pun? Ke tempat mama juga?" tanya Tao.

"Kalau ke tempat mama Tao, gege tidak bisa," kata Kris membuat senyuman anak itu memudar.

"Tao..."

"Tidak apa gege. Aku tidak apa-apa," kata Tao.

"Tao, mamamu sangat menyayangimu. Di surga sana, mamamu selalu bercerita padaku kalau dia senang melihat Tao punya baba yang baik, tapi dia sedih karena Tao selalu menangis," kata Kris sambil duduk di samping Tao dan memeluknya.

"Mama bilang seperti itu?"

"Mama Tao juga menangis setiap kali Tao menangis. Mama Tao benar-benar sedih karena saat ini tidak bisa bertemu dengan Tao, jadi aku menggantikan mama Tao untuk berada di sampingmu," kata Kris lembut.

"Gege ke sini karena mama meminta gege?" tanya Tao lagi.

"Ya, aku di sini karena mama Tao yang memintanya. Jadi, sampai sekarang dan selama-lamanya, aku akan mendampingi dan menyayangi Tao," kata Kris lagi.

"Tidak akan meninggalkan Tao? Gege mau jadi teman Tao?" tanya Tao tak percaya.

"Ya, aku tidak akan meninggalkan Tao. Aku janji," kata Kris lagi.

.

.

.

TBC

hehehe

Gimana? Banyak yang minta supaya author langsung ke masa mereka gede aja, tapi author sudah buat plotnya perlahan-lahan supaya lebih mengena (maybe). Terus buat yang review di chapter 1 kemarin terima kasih banyak.

Author sudah baca review kalian semua.

Di chapter kedua ini, author berharap review yang lebih banyak. Kalau yang review sudah lebih dari sepuluh untuk chapter dua, baru author publish chapter 3 nya. OK?