A Merely Boy and Demon
…
Il giudizio finale sta per essere emesso
Nessuno può emendarsi dal peccato che scorre nelle vene…*
…
Laki-laki berambut pirang panjang dan berkemeja putih dengan tali yang melintasi tiap sisi tubuhnya sampai ke celana ¾ nya. Kerahnya sedikit terbuka, dari dasi kupu-kupu yang sekarang bertanggar di sisi jendela. Dasi kupu-kupu berwarna merah kejinggaan, bersandar di kakinya.
Entah sejak kapan wajah berkulit kecoklatan itu terlihat semakin putih. Bibir yang dulu masih sering berwarna kemerahan, diantara pucatnya. Kini kehilangan warna. Wajahnya lelah, dan matanya tertutup. Tangannya menetap dikedua lututnya yang tertekuk seperti menyangga tubuh kecil kurusnya. Bahkan kerangka tulang pun terlihat lebih baik darinya. Inikah hidup tapi mati?
Iluminasi cahaya taman menggariskan tepi wajahnya. Melintasi penutup mata disebelah kanannya. Ia masih tidak tahu, kenapa laki-laki bodoh di hadapannya ini tidak pernah mau menunjukkan apa yang ada dibalik mata itu. Ia mengatakan kalau ia buta?
Sang Iblis melangkah mendekati remaja yang belum menggenapkan usianya. Dari bercak merah kehitaman dan darah yang menyerupai garis memalang di sepanjang pipinya. Ia tahu laki-laki pendek itu tidak lagi memiliki waktu. Kenapa ia memiliki waktu di seluruh dunia ini, yang tanpa batas dan tanpa henti? Kenapa remaja yang belum genap masa dewasanya, harus meninggal bahkan tanpa ia meraih ulang tahun ke 17-nya?
"Naruto…" panggil Iblis itu perlahan, sangat lirih. Tangannya menyentuh rambut pirang anak laki-laki di hadapannya dan sampai pada penutup matanya.
Apa yang ia sembunyikan di balik penutup matanya?
Sungguh hanya ada kegelapan kah… ?
…o0o…
Tu sei senza peccato?
Quanto sarà pesante il mio castigo?**
…o0o…
'Kreeekkk…', 'Kreekkk..' , 'Greekkk'
'Toplak…', 'Tap, tap, tap…'
Suara langkah kuda dan roda kereta yang bergerak. Di tengah-tengah ladang di pedesaan yang terpencil. Mereka harus menempuh kurang lebih 10 mil untuk sampai di kota terdekat. Iblis berambut hitam yang sedang menutup matanya memaksa remaja laki-laki untuk membeli pakaian. Ia melirik pakaian kumal laki-laki berambut pirang yang sedang menatap ke luar jalan. Kanan dan kirinya ada tanaman jagung dan gandum. Ia terlihat sangat senang melihat tanaman-tanaman yang membosankan bagi si Iblis.
Tanpa ia sadari bocah itu pun menatapnya, "Apa yang kau lihat, Dobe!"
"Umm… apa kita harus benar-benar ke kota untuk membeli pakaian?"
Mata kehitamannya menelisik tiap gerik bocah bodoh itu. Ia seperti gelisah, memangnya ada apa dengan pakaian baru? Ah… mungkin bukan pakaian baru, tapi tujuan merekalah yang membebaninya. Ke kota… ke tempat asing.
"Kau punya phobia pakaian bagus atau apa, Dobe?" katanya sewot
"Geeeezzz! Aku tidak perlu pakaian baru, yang kubutuhkan hanyalah-"
"Aku yang jadi temanmu… begitu kan?" Naruto mengangguk mendengar selaan sang Iblis, "Menjadi temanmu, Dobe! Bukan, orang menuruti perintahmu! Dan aku… aku tidak mau tinggal dan menggunakan pakaian kumuh seperti itu!"
Gigi Naruto bergemeretak karena menahan emosinya. Sungguh, Iblis dihadapannya ini sangat sombong dan licik! Apa ia salah memanggilnya untuk menjadi teman baginya? Tapi mau bagaimanapun juga ia tidak bisa mengelak kenyataan 'betapa kumuh dan buruk'nya, keadaannya ini. Ah … tidak, ini pula alasannya ia memintanya menjadi temannya, karena ia tahu tidak ada manusia yang mau berteman dengan monster pembawa sial seperti dirinya.
"Jadi, kau yang harus mengikutiku! Ke Mansion-ku, dan tinggal denganku." Ia menyeringai, "Lagipula, sebagai teman yang baik, akan ku tunjukkan bagaimana kehidupan itu, Naruto."
'Naruto…' ini pertamakalinya ia memanggil nama aslinya. Emosinya hilang entah kemana… mereka terasa sungguh berteman.
"Kau kenapa, Dobe?"
"Uh? Ah… tidak…" ia melirik jalanan di luar kereta kudanya, "Lalu aku harus memanggilmu apa dihadapan banyak orang, Teme?"
Alis si Iblis terangkat, "Kau benar-benar tidak ingat siapa namaku? Kau sudah mengucapkannya!" Naruto menggelengkan kepalanya, "Yah, sudahlah… panggil aku Sasuke, Uchiha Sasuke…"
"Mr. Uchiha?"
"Jangan panggil Uchiha! Itu akan jadi namamu, Naruto! Kau tidak memiliki nama keluarga kan?"
Senyum kecil merekah dibibirnya. Ia memang tidak memiliki nama keluarga karena ia tidak tahu siapa ayah dan ibundanya. Sejak kecil ia hidup di jalanan. Tidur di sembarang tempat dan makan apapun yang bisa ia makan.
"Iya… aku tidak memiliki nama keluarga…"
Sasuke melipat kedua tangan di dadanya. Tubuhnya ia sandarkan di bangku kereta. Ia menatap wajah Naruto, "Kalau begitu kau akan jadi Uchiha Naruto." Kata bernada puas.
"Uchiha… "
"Ada yang salah dengan namaku?"
Ia menggelengkan kepalanya , "Tidak… tidak ada yang salah… seperti mimpi yang terwujud, Sasuke."
"Hn?"
Naruto menganggukkan kepalanya. Senyuman kecil masih terpasang di bibirnya. Sekalipun ia menundukkan kepalanya, Sasuke tetap tahu senyuman itu ada di sana. Dasar Dobe!
…
"Aku suka dengan baju orange kumalku ini, Sasuke! Jadi tidak perlu ke toko pakaian!" seru Naruto yang mengelak untuk keluar dari kereta kuda. Mata Sasuke meliriknya dari atas sampai bawah.
"Aku yakin, kalau baju itu awalnya berwarna kemerahan." Katanya simpel, melihat beberapa sudut terdalam pakaiannya yang berwarna cerah orange kemerahan bukan orange yang hampir luntur.
Mereka sudah berada di tengah-tengah kota Kent, kota yang sangat sibuk. Sekalipun ini bukan hari libur, tapi kota besar memang berbeda. Tidak sia-sia mereka berjam-jam berada di dalam kereta kuda. Mereka berhenti di hadapan sebuah toko pakaian di Sydenham Road. Madam Jenkin's Tailor. Sayangnya, di siang hari yang cerah seperti ini si Dobe tetap tidak mau turun dari keretanya.
"Diam dan ikuti aku, Dobe!" Sasuke menarik Naruto keluar dari keretanya. Ia meminta Mr. Scarecrow untuk membantunya menarik si Dobe. Pengemudi kereta kudanya itu walaupun malas, tapi bisa diandalkan disaat-saat rumit seperti ini. Ia menggelitiki pinggang Naruto, sampai si bocah itu menahan tangis karena tawanya.
'Klinting'
Mereka memasuki toko. Sasuke mengerti kenapa Naruto tidak mau diajak ke kota khususnya ke toko pakaiannya. Bertolak belakang dengan sang Iblis yang rapi dan modis, Naruto terlihat seperti pengemis di jalanan. Yeah… dan semua orang memandang mereka berdua.
"Siapa pemilik toko ini?" tanya Sasuke dengan kepala sedikit menengadahkan wajahnya, dengan nada sombongnya ia menatap wanita yang matanya tertegun, "Permisi?"
Seorang wanita berambut coklat mendekatinya, "Maaf, tuan. Pemilik toko kami Mrs. Schuster ada di dalam."
Mata hitam Sasuke menyapu ruangan yang sangat besar dengan bermacam-macam pakaian untuk pria maupun wanita, "Tolong panggilkan, aku ingin berbicara langsung dengannya."
"Baik tuan." Kata gadis itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan pergi dari hadapan mereka.
Sasuke melirik Naruto yang berdiri di dekat pintu sambil menatap jas tebal berwarna orange. Father! Sebentar lagi memasuki musim semi (sekitar bulan Maret akhir) dan ia melirik jas setebal itu, pasti karena warnanya orange! Dobe!
"Andakah yang ingin menemui saya?" tanya seorang wanita bergaun kecoklatan dengan kerah berdiri dan pita orange besar di leher kanannya. Di kepalanya terdapat hiasan dari bulu sederhana dan manik-manik yang juga berwarna orange. Kenapa dunia terasa berwarna orange hari ini?
Sasuke mengangkat top hat nya dan menunduk sedikit, "Saya Uchiha, Mrs. Schuster." Ia kembali menegakkan tubuhnya, "Kami ingin anda membuatkan teman saya ini, pakaian yang tepat untuknya."
Wanita itu melirik Naruto, alisnya terangkat dari pikirannya Sasuke bisa tahu kalau wanita ini mempertanyakan hubungan keduanya.
"Pakaian untuk apa, Tuan?" tanyanya, dan Sasuke tidak perlu menjawab rasa ingin tahu wanita separuh baya ini kan?
"Untuk segala acara…"
Ia melirik Naruto yang masih menatap jas orange seperti alien yang tiba-tiba muncul sembari sesekali terbatuk. Ini akan jadi hari yang panjang.
…
Hari sudah gelap ketika mereka sampai ke Uchiha Mansion. Mansion yang sangat besar ini dibuat dalam waktu satu minggu? Mansion yang lengkap dengan air mancur dan kebun mawarnya? Sasuke meliriknya. Ia tahu kalau Naruto penasaran bagaimana caranya ia bisa membuat Mansion sebesar ini dalam waktu yang sangat cepat. Tentu dengan bantuan iblis tingkat bawahnya.
Naruto terkejut saat ia memasuki hall, mereka disambut 2 maid yang menunduk pada mereka dan mengatakan 'selamat datang tuan, makan malamnya sudah siap', Sasuke hanya berjalan hingga Mr. Scarecrow yang ternyata merangkap HeadButler mengatakan sesuatu pada tuannya.
"Baiklah, kalau begitu antarkan, Naruto ke kamar di sebelah milikku, Silverster."
Headbutler yang berambut silver seperti namanya, dan menggunakan masker berwarna biru itu mengangguk. Ia membawa beberapa tas berisi pakaian yang baru dibeli hari ini, dan ia harus mengambil beberapa pakaian lainnya tiga hari lagi. Ia menunduk, "Baik, Tuan." Naruto masih berada di sekitar pintu masuk, karena salah satu maid memberikannya sapu tangan untuk mengelap sesuatu dari wajahnya.
Lalu tiba-tiba Si Iblis itu berpaling, "Oh iya, Silverster!" pelayan itu menatapnya dengan serius, "Lain kali jangan pernah melakukan hal kurang pantas seperti tadi siang pada Naruto, ingat. Ia adalah tamu utama di rumah ini." perintahnya dan tanpa menunggu respon dari pelayannya, ia langsung naik tangga.
Silverster berbalik dan tersenyum saat melihat Naruto gugup berada dekat dengan salah satu maid, "Mr. Naruto… silakan ikuti saya." Panggilnya dan laki-laki berambut pirang itu mengikutinya pergi ke kamar mandi, "Apakah anda perlu saya bantu?" pintanya dengan sopan.
Naruto reflek menutupi tubuh kurusnya, "Oh, ah, ng… Aku bisa mandi sendiri Mr. Scarecrow."
"Baiklah kalau begitu, tuan… Handuk, dan pakaian ganti tuan saya taruh di sini." Katanya sambil menaruh kemeja di atas meja kecil di dekat pintu, "Tuan, meminta anda untuk turun langsung ke ruang makan. Salah satu dari maid di aula akan menunjukkan ruang makan Mansion ini… dan… oh, anda cukup memanggil saya dengan Silverster, Mr. Naruto."
Laki-laki yang lebih muda itu tersenyum di hadapannya, "Terimakasih Mist-ngg… Silverster… dan anda juga bisa memanggil saya dengan Naruto saja…"
"Maaf, Tuan… saya tidak diizinkan untuk itu oleh Tuan Sasuke." katanya menunduk kecil lalu keluar dari ruangan itu, meninggalkan Naruto dengan peralatan mandinya.
…
Naruto berjalan memasuki ruang makan didampingi oleh salah satu maid. Ia sudah menggunakan kemeja berwarna putih dan jubah hitam tebal. Di hadapannya Sasuke sedang duduk di ujung meja makan yang panjang dan di kirinya ada Silverster dan para maid serta juru masak berjajar di samping kanannya. Laki-laki berambut gelap itu terlihat sedang membaca sesuatu seperti buku dengan pena di tangannya. Silverster membisikinya sesuatu yang sepertinya penting.
Tiba-tiba Sasuke melihatnya, "Kau lama sekali, Dobe! Kemarilah, ini sudah terlambat satu jam untuk waktu makan malam!" perintahnya dengan suara penuh kekesalan.
"Hufh, iya iya… baiklah..." Naruto berdiam diri dan ia bingung, "Aku satu meja denganmu?" ia seorang fakir, tidak pernah ia duduk di atas kursi dengan makanan terenak di London di hadapannya. Ia merasa tidak pantas.
"Meja? Kau duduk di meja? Kami menggunakan kursi untuk duduk, Dobe!" katanya sambil menyeringai, "Kemarilah duduk di sampingku!" perintahnya sembari melirik kursi di sebelah kirinya.
"Geeeeeeh! Tentu aku tahu, kursi untuk duduk Teme! Aku tidak sebodoh itu!" Naruto duduk di kursinya, "Sebentar… jangan-jangan kau sedang bercanda, barusan?"
Sasuke menatapnya dan menyeringai, "Memang." Katanya mantap.
Demi seluruh malaikat di langit! Ia tidak habis pikir dengan iblis satu ini!
"Ehem," Silverster mengalihkan perang dingin sepihak di hadapannya, "Makan malam kali ini adalah daging panggang dengan jeruk nipis dengan applecake dengan topping lelehan coklat dan kacang almond sebagai desert-nya."
"Baiklah," kata Sasuke dengan sedikit keras, "Kalian semua keluar kecuali kau Silverster."
"Baik, Tuan." Kata seluruh pekerjanya bersamaan.
Iblis itu melirik Naruto, ia tahu mengeluarkan semua maid dan juru masaknya adalah hal yang benar karena sepertinya Naruto gugup saat menatap makanan di mejanya. Mungkin ini pertama kalinya ia memakan hal seperti ini? Dengan peralatan makan sebanyak itu.
"Naruto, apa yang kau tunggu, cepat habiskan makananmu." Sasuke memotong daging sapi panggangnya dan memakannya dengan garpu. Naruto baru tahu ternyata iblis juga perlu makan. Sasuke menahan dirinya untuk menjawab rasa ingin tahu Naruto. Tentu ia perlu makan, tapi bukan makanan manusia. Ia hanya makan karena akan terlihat aneh kalau ia tidak makan… benarkan?
Laki-laki dengan rambut pirang panjangnya itu menggaruk-garuk kepalanya, "Aku bingung, rasanya aneh sekali duduk di meja makan ini… kau tahu… ini pertama kalinya aku makan di meja seperti ini."
"Hn…" tentu saja aku tahu, kau pikir aku siapa… jawab Sasuke dalam hati.
Naruto dengan canggungnya memotong daging itu. Daging dengan keempukan dan kematangan yang sempurna. Ia memakannya dan terbelalak saat mengetahui rasanya. Tentu saja, ia pasti terkejut dengan rasa makanan dari juru masak terhebat di kota ini. Sasuke menyeringai, mudah sekali memang memuaskan 'temannya' ini.
Mereka makan dengan tenang setidak sampai desert sampai di hadapan Naruto. Laki-laki itu terkagum-kagum dengan bentuk applecake-nya. Lalu tiba-tiba ia terdiam seperti mengingat sesuatu.
"Hei, Sasuke," Iblis yang tidak peduli dengan desert-nya mengalihkan pandangannya dari catatan-catatan kecilnya ke pada Naruto, "Kurasa aku harus kembali ke rumahku besok."
"Hah? Kembali ke rumahmu?" entah kenapa emosinya meningkat tiba-tiba.
Naruto mengangguk, "Iya! Aku harus merawat tanaman dan ikan-ikanku… aku juga tidak bisa meninggalkan rumahku."
"Lalu aku harus tinggal di gubuk itu, Naruto?"
Alis Naruto terlipat, "Sasuke… itu bukan gubuk, hanya rumah kayu yang sangat sederhana. Lagipula kau tetap bisa berkunjung ke rumahku, karena tidak begitu jauh."
Sasuke mengangkat tangan kirinya dan mengibas-kibaskannya kebelakang, tanda ia memerintahkan Silverster untuk keluar dari ruangan itu, "Kau ingin mencabut perjanjian?"
"Oh! Bukan! Tidak begitu, Sas-"
"Kalau begitu tidak perlu kembali."
"Tapi Sasuke.. bagiku rumah it-"
"Aku sudah memerintahkan seseorang untuk menjaganya! Diam, dan makan desertmu!"
"Geeeezzzz!" Naruto menyendoki applecake-nya, wajahnya terlihat sendu sekalipun makanan hiper manis itu masuk ke mulutnya.
Sasuke menghembuskan napasnya, "Hei, Dobe!" Ia dilirik mata biru yang terlihat kesal tapi sepertinya tidak dapat berbuat apapun dan menggeser applecake-nya kehadapan 'teman' barunya, "Untukmu, aku benci makanan manis." Mata biru Naruto terbuka lebar, Sasuke melihat ada garis keabu-abuan di dalamnya. Lalu sedetik kemudian senyum lebar itu muncul di wajahnya.
…
'Trek'
"Puaaahhh, enak sekali!" kata Naruto dengan ceria, "Kalau kau tahu seenak apa rasanya kau pasti akan menyesal memberikan bagianmu untukku!"
"Hn…"
Suasana ruangan jadi hening karena Naruto tiba-tiba terdiam. Kepalanya tertunduk dan jemarinya memainkan peralatan makanannya. Wajahnya terlihat sendu, Sasuke tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, ia seperti sedang mengenang sesuatu…
"Do-"
"Kau tahu, Sasuke…" dan apapun perkataan yang melintas dikepala laki-laki yang namanya baru saja disebut terhenti, dan hanya menjawabnya dengan 'hn'. Mata biru itu tetap berfokus pada cangkir cantik di hadapannya, "Aku pernah memakan daging dengan rasa seperti itu sebelumnya."
Untuk kedua kalinya, hari itu Sasuke benar-benar tertegun dengan perkataan Naruto, "Hn?"
Laki-laki berambut pirang itu berpaling ke arah Iblis yang menyerupai manusia itu. Senyuman kikuknya muncul, ia seperti ragu mengatakannya tapi tetap harus mengungkapkannya. Tangannya melepaskan peralatan makannya dan ditaruhnya di atas pahanya. Mata birunya, tak juga bergeming menatap Sasuke.
"Dulu saat aku kecil… aku sering sekali memakannya, daging panggang, ayam goreng, udang, dan makanan enak-enak lainnya."
Hal yang menyenangkan seperti ini kan seharusnya membuatnya tersenyum lebar dan membuatnya bangga, tapi kenapa ia terlihat pedih?
"Kau… apakah ada nenek-nenek baik hati yang memiliki cucu yang telah meninggal dan mengingatkan dirinya akan cucunya dengan melihatmu?"
Kini senyum Naruto terlihat lebih ceria, "Itu bentuk candaanmu lainnya, Teme?"
"Hn…"
"Hahaha… aku beruntung kalau aku bertemu dengan nenek-nenek seperti itu..uhuk…uhuk…" sepertinya ia terlalu banyak memakan makanan manis, dan meneguk air mineral. Setelahnya, Ia menatap Sasuke dan ia tahu apa arti tatapan mata itu, "Aku baik-baik saja, Teme! Aku hanya terganggu dengan ucapanmu lalu tersedak."
"Hn…"
"Kau tahu?" matanya mulai melembut, dan mereka berdua saling menatap sampai Naruto kembali menunduk, "Dulu sewaktu aku kecil, saat aku belum memiliki rumah untuk tinggal dan makanan untuk perutku. Aku selalu tidur di jalanan dan mencuri untuk makan…" ia terdiam dan melirik Sasuke yang tetap tidak bergeming, "Sampai pada akhirnya ada seseorang yang mengatakan mencuri itu tidak baik…dan terkadang memberikanku makanan… walaupun kau tidak akan bisa memilih makanan pemberian, tapi Aku sudah cukup bahagia ada seseorang yang memberiku makanan… lalu suatu hari orang itu pun pergi dan aku kembali harus mencuri untuk hidup…"
Ia mengusap-usap tangan kirinya, lalu melanjutkan ceritanya, "Akan tetapi, perkataan orang itu terus terngiang di kepalaku seperti lebah. Aku bingung, apakah aku harus mati hanya karena aku tidak boleh mencuri makanan?" Naruto terdiam lagi… ia ingat betapa lapar perutnya dan ia terhenti di depan restoran mahal. Ia tidak boleh mencuri, tidak boleh mencuri. Begitu pikirnya berulang-ulang kali di kepalanya seperti mantra. Senyum pedihnya kembali muncul, "Pada akhirnya aku tetap tidak mencuri... kurasa itu lebih baik…"
"Kenapa kau masih hidup? Kau mengemis?" tanya Sasuke yang bahkan dirinya sendiri terkejut ingin mendengar kelanjutan ceritanya.
Naruto menggelengkan kepalanya, "Bukan, aku tidak mencuri… dan tidak mengemis… karena aku pernah mencoba mengemis, dan orang-orang yang melihat garis di pipiku serta mata kananku langsung mengusirku jauh-jauh… tidak sedikit pula yang melemparkan garam padaku…"
"Hn…"
"Suatu saat… aku melewati restoran mahal, selama apapun aku berdiri di hadapannya, tak seorang pun yang memberikan aku makanan. Yah… tidak lama, karena karyawan toko langsung mengusirku dengan air… lalu saat aku berlari dan memutari jalan. Pada saat itu aku menemukan sesuatu…" Naruto terdiam sebentar…
"Hn?" pancing Sasuke.
"Aku menemukan tong sampah pembuangan restoran mahal itu." Ia tersenyum dengan lebar, gigi-giginya ternyata sangat bersih. Kalau Sasuke tidak tertegun dengan hal yang ia dengar maka ia akan menanyakan kenapa gigi Naruto bisa seputih itu, "Karena perutku begitu laparnya… maka aku mengais tong sampah di dalamnya dan…" suara lirihnya berubah jadi ceria, "Kau tahu? Ternyata sisa makanan restoran itu pun sangat enak! Hari itu setelah aku makan sampai kenyang aku khawatir akan sakit perut."
Naruto mengusap-usap perutnya, "Tapi ternyata tidak, aku baik-baik saja! maka dari itu, keesokannya aku tahu dimana aku harus makan! Aku tidak harus mencuri dan mengemis… walaupun aku harus menghapal waktu tutup restoran-restoran di kota dan kapan waktu pengangkutan sampahnya… setelah itu selama beberapa tahun, aku bisa merasakan banyak makanan enak dan gratis!"
"Maka dari itu sekarang kau terlihat seperti orang terkena penyakit mematikan!"
Awalnya Naruto hanya tertegun dengan ucapan Sasuke, ia tidak memikirkan penyakitnya ataupun hanya sekedar tahu 'apa' penyakitnya karena ia memang tidak pernah tahu. Apakah mungkin Sasuke tahu? Naruto mengetuk-ketukan jarinya pada gelasnya.
Ia kembali tersenyum, "Yah, saat aku mulai besar…" lanjutnya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, "… mungkin sekitar 10-12 tahun usiaku, aku sudah mengurangi kebiasaanku mengais tong sampah, aku masuk hutan, mencari hasil hutan… memancing di sungai, mengumpulkan ikan... dan mencoba menanam tanaman seperti tomat, dan bayam." Ia menghembuskan napasnya, "Kalau dipikir tidak sekali atau dua kali aku sakit hanya karena memakan makanan 'baru' yang terlihat enak di dalam hutan."
"Kau makan sembarangan, Dobe."
"Hahaha… kalau aku tidak mendapatkan ikan, dan menemukan biji-bijian yang terlihat enak! walaupun bentuk dan warnanya mencurigakan..."
"Mulai sekarang kau akan selalu makan-makanan paling enak di London atau bahkan seluruh Britania Raya."
"Yey!"
"Dobe…" panggilnya lirih, Naruto yang tersenyum-senyum dengan cerianya menatap Sasuke dengan serius sambil terbatuk-batuk, tenggorokannya sakit, "Jangan pernah berkata kalau sampah itu lebih enak dari makanan di meja ini."
Nada suara Sasuke yang seperti tercekat itu aneh baginya, "Makanan saat itu enak karena aku sangat lapar. Walaupun sangat enak, tapi bagiku… makanan pemberian orang saat aku kecil, dan makanan dimana aku semeja denganmu lah yang paling enak, Sas-"
"Apakah sudah selesai, Tuan? Ini sudah waktunya, anda beristirahat." Kata Silverster menyela pembicaraan mereka. "Ah, maaf kalau aku mengganggu pembicaraan kalian, Tuan." Ia sudah berada di antara Naruto dan Sasuke.
"Hn… Dobe!" panggilnya, mengabaikan perkataan pelayannya, "Istirahatlah, dan minumlah jeruk hangat sebelum kau tidur."
"Eh? Oh… iya…" ia menunduk, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sasuke berdiri saat para pelayan mulai membersihkan meja dan mengambil buku catatannya, "Aku duluan.", ia berjalan keluar ruangan makan.
Naruto memejamkan matanya dengan paksa, mengeratkan genggaman tangannya dan mengejar Sasuke.
Ada yang harus ia katakan.
…
Mereka berada di lorong yang mengarah ke kamar. Semenjak kamar mereka berdekatan, Sasuke memalingkan tubuhnya dan melihat Naruto yang wajahnya pucat karena kehabisan napasnya. Laki-laki berambut pirang itu menjadikan dinding sebagai penyangga tubuhnya. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya, tenggorokannya semakin sakit.
Tapi ada hal yang harus ia katakan.
"Sasuke…"
"Hn…"
"Ka-kau sudah memberikanku tempat berlindung, dan juga makanan yang enak… aku…" ia menggaruk-garuk kepalanya, dan melangkah maju sebisa mungkin ke arah Sasuke, "Terimakasih…"
Dan mencium pipi kanan Sasuke dengan susah payah.
…
Tapi bohong.
(yang berharap Naruto kiss Sasuke angkat tangan! #dilempar reader #lol)
…
"Terimakasih…" dan ia tersenyum… senyum yang benar-benar sampai kematanya.
Sasuke tertegun, dan masih terdiam saat Naruto sudah memasuki kamarnya yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Sampai beberapa menit setelahnya ia baru memasuki kamarnya. Hari itu keduanya tidak menyikat gigi. Sasuke yang memang tidak memerlukan hal seperti itu, dan Naruto yang kehilangan kesadarannya sesampainya di tempat tidurnya.
…
Pagi itu, suhu tubuh Naruto yang sedikit lebih tinggi dari keadaan normalnya menjadi lebih tinggi karena Sasuke tiba-tiba mengatakan sesuatu pada sarapan pagi mereka berdua dengan Silvester yang berdiri di dekat pintu masuk menuju dapur.
"Apa!" teriak Naruto.
"Kenapa kau harus berteriak-teriak Naruto! Berisik!" bentak Sasuke balik, "Kubilang seminggu lagi kita akan mengadakan pesta untuk memperlihatkan Mansion pada bangsawan dan rekan kerjaku di sekitar tempat tinggal kita, Dobe!"
"Kau yang berisik, Teme!" bentaknya balik, "Lagi pula kenapa harus minggu depan! Kenapa aku harus belajar table manner dan berdansa dalam waktu satu minggu! ONE BLOODY WEEK!"
Sasuke menggebrak meja, "Kau yang berisik, Dobe! Dan rekan kerjaku meminta mereka menunjukkan Mansion ini! Kau mau apa!" memang sulit dipercaya tapi Sasuke memang benar-benar 'bekerja', ia menjual batu-batu perhiasan sekelas berlian! Saat Naruto menanyakannya (ketika mereka di kereta kuda) Sasuke tidak menjawab! Tapi ia menunjukkannya langsung. Laki-laki yang sebenarnya iblis itu tiba-tiba menggumamkan sesuatu dan tangannya seperti memasuki sekat terbuat dari karet dan saat dengan susah payah mengambilnya. Seperti sihir, ia mendapatkan bongkahan-bongkahan batu-batu itu!
"Aku… akan mempermalukanmu, Teme! Maka dari itu aku tidak usah ikut saja!"
"Maka dari itu kau harus belajar, Dobe!"
"Kan kau sendiri yang mengatakan kalau aku ini bodoh! Huh!" katanya sembari memalingkan kepalanya.
Iblis berambut hitam itu terdiam, dan Naruto meliriknya dari tepi matanya, "Bukankah kau yang menginginkanku menjadi temanmu, Naruto?" Naruto yang kali ini terdiam, "Aku ingin mereka semua tahu kalau kau temanku apa itu tidak boleh?" katanya dengan mantap. Iya, ia ingin melihat para manusia bodoh yang tidak punya hati itu terkejut dengan mulut mereka yang ternganga. Mereka akan melihat siapa Naruto! Dan dengan senang hati ia akan merasakan banyak 'emosi' yang menggelikan muncul di wajah serta pikiran mereka!
"Kau akan kupermalukan, Sasuke."
"Maka dari itu…" entah, berapa kali ia mengatakan hal itu, "Kau harus melakukannya dengan baik. Sekuat tenagamu, Dobe…"
"Hun… Baiklah… kalau begitu mulai kapan aku akan belajar?"
"Silverster!" Headbutler yang dipanggilnya mengangguk dan langsung berjalan menuju Naruto, "Ajari Naruto sekarang juga!"
"EEEEEhhhhh!" pekik Naruto.
…
Pagi itu, dan hari-hari berikutnya yang Naruto lakukan hanyalah belajar berjalan yang tegap, table manner, berdansa hingga bagaimana caranya memuji para wanita dengan baik. Ia berusaha dengan keras, dan di tutor langsung oleh Silverster, walaupun menurut Naruto, Headbutler itu lebih banyak mengajarinya sembari membaca buku entah tentang apa.
Uchiha Mansion sangat sibuk, dan beberapa kali dalam satu sesi pembelajaran ia melihat orang-orang yang mendatangi Silverster mengenai pesta itu. Ia pun jarang melihat Sasuke, temannya itu sibuk sepertinya. Mengurusi usahanya, mengurusi pestanya. Paling buruk dalam seminggu, ia hanya pernah melihat Sasuke ketika iblis itu berjalan ke kamar mandi.
Hari-hari itu sangat padat untuk Naruto. Berkali-kali Sasuke mendatangkan dokter untuk memeriksa kesehatannya tapi Naruto tidak mau. Ia takut, begitu dalihnya. Sebagian memang benar, ia memang takut, tapi sebagian lainnya ia merasa tidak perlu tahu… karena intuisinya mengenai kematian tidak pernah salah. Pada akhirnya dokter hanya memberikan vitamin untuknya. Yah… minimal, ia sudah tidak terbatuk-batuk lagi.
Kemudian… hari yang ditunggu itu datang juga. Pagi itu suhu tubuhnya jauh lebih tinggi dari hari-hari sebelumnya. Ia lupa meminum vitamin yang diberikan dokter, dan kemarinpun ia lupa makan malam karena terlalu lelahnya. Setidaknya, latihannya membuahkan hasil… walaupun sedikit.
Ia tidak begitu sadar saat seorang maid membantunya menggunakan pakaian baru yang sepertinya dipesan khusus oleh Sasuke untuknya. Warna hitam mendominasi pakaiannya. Kalau kepalanya tidak sakit, ia merasa seperti sedang menghadiri pemakaman seseorang. Setelahnya maid berambut coklat yang belum sempat ia tanyakan namanya ini merapikan rambutnya.
Naruto berjalan terhuyung-huyung dan sempat dipapah oleh maid itu untuk sampai ke aula. Ia melawati jalan yang memutar agar tidak bertemu dengan Sasuke di tengah-tengah aula dengan keadaan dirinya yang sedang dipapah. Sekalipun Sasuke terlihat dingin, tapi ia tahu… iblis itu sedikit peduli padanya, dan Naruto tidak mau membuatnya khawatir.
Pesta ini diadakan di aula utama Uchiha Mansion dan kebun belakang. Sasuke mengambil waktu pagi hari agar para tamu bisa menikmati pemandangan di sekitar Mansion. Naruto bahkan bisa melihat atap rumah kecilnya dari menara selatan rumah ini. Sesudah ini, mungkin Sasuke mau menemaninya ke rumahnya?
Ingatannya tidak begitu merekam banyak hal, dari Sasuke yang terdiam menatapnya, tamu-tamu yang terperanjat saat Sasuke mengenalkannya sebagai 'Naruto', dan anggur putih untuknya yang ternyata air mineral. Ia lupa Sasuke pernah mengatakan kalau karena kondisinya, ia tidak boleh meminum alkohol dulu. Yah… Naruto juga tidak begitu tertarik.
Semuanya mulai terlihat seperti lukisan blur. Saat ia berdiri sendiri karena orang-orang tetap tidak mau mendekatinya. Bahkan Lady Hinata yang turut hadir pun hanya bisa tersenyum kecil di samping ayah serta keponakannya. Sasuke berada tidak jauh darinya, sekitar tiga meter. Tapi masalahnya, ia bertolak punggung dengan Naruto. Sehingga ia maupun Naruto sendiri tidak menyadari 'wine' yang berada di dalam gelas Naruto tercampur tetesan berwarna merah.
Darah.
'Ssshh… tes, tes, tes.'
Laki-laki berambut pirang itu baru sadar air yang dipegangnya berubah warna saat ia hendak meminumnya. Seketika itu banyak orang bergumam di sampingnya, ia terdiam dan hanya mengelap darah yang mengalir dari hidungnya dengan tenangnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi karena sepertinya Sasuke mengatakan sesuatu, memegang tengkuk lehernya dan menaruh kepalanya di lekukan lehernya. Beruntung bagi maid, karena hari itu pun Sasuke manggunakan stelan warna hitam, jadi mereka tidak perlu bingung menghilangkan noda itu.
Pagi itu Sasuke memapah sahabatnya ke kamar Naruto. Meninggalkan para tamu, dan sebuah gelas yang cairan di dalamnya telah terdisfusi oleh darah.
...
tbc
...
A/N:
*The final judgement shall be delivered, Nobody can escape the sin that flows in their veins.
**Are you without sin? How heavy is my punishment?
*/**; Katayoku no Tori-Umineko ost.
Walaupun ini terlihat seperti kuroshitsuji, tapi ide ceritanya berbeda, dan saya malah tidak terinspirasi dari cerita itu. lalu Naruto menggunakan eyepatch bukan karena segel, tapi karena hal lain. Jauh sebelum ia bertemu Sasuke (alasan kenapa ia dibenci penduduk selain garis dipipinya).
Thanks for the review! Hime-san, kay-san, wia-chan, yuu-san, guest-san, Fayrin-san, dan Muaffi-san.
