Yeah! Chanbaek Shipper ayo merapat! Di chapter ini juga bakalan muncul Lay, Chen, dan D.O!

Ochaken present...

.

.

.

.

Chapter 3

Another Meeting

18 Agustus 2000, Jeju, Korea Selatan.

"Baekki! Baekki! Baekki, kau di mana?" seru seorang anak lelaki berambut coklat keriting sambil berlari-lari di taman.

"Baekki?" tanya anak itu. Tangisannya hampir saja meledak kalau anak lain yang dicarinya tidak segera memeluk anak itu dari belakang.

"Aku di sini Chanie," kata Baekhyun sambil tersenyum.

"Baekki!"

"Bukankah sudah kubilang kau tidak boleh terlalu terbawa perasaan. Kau mau membakar taman di rumah sampai habis? Kalau eomma dan appa melihatnya bagaimana?" tanya Baekhyun kesal.

"Mianhe Baekki, kau tahu aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku dengan baik. Aku baru bisa tenang kalau kau ada di sampingku," kata Chanyeol lagi.

"Arra...aku tidak marah Chanie, tapi kau benar-benar harus berlatih. Kekuatanmu harus dikendalikan," kata Baekhyun lagi.

"Baekki, bagaimana caranya Baekki mengendalikan kekuatan Baekki?"

"Aku juga tidak tahu. Aku hanya berpikir untuk mengeluarkan cahaya kecil, maka aku bisa mengeluarkannya. Saat aku tidak menginginkannya, cahaya itu akan padam. Kalau aku ingin yang lebih besar, aku berpikir lagi untuk mengeluarkannya dan cahayanya akan membesar," kata Baekhyun.

"Kenapa aku tidak bisa?"

"Kau pasti bisa Chanie, mau kutemani berlatih?" tanya Baekhyun lagi.

"Tidak, aku tidak mau kejadian yang dulu terulang lagi," kata Chanyeol sambil menyentuh lengan kanan Baekhyun yang masih dililit perban.

Dua bulan yang lalu, Baekhyun menawarkan diri untuk membantu Chanyeol berlatih. Sedikit berhasil karena Chanyeol akhirnya bisa mengendalikan kekuatannya saat melihat Baekhyun terluka. Tapi, Chanyeol harus berusaha sangat keras saat mengendalikan kekuatannya. Itu membutuhkan sangat banyak tenaga.

Chanyeol merasa bersalah saat melihat Baekhyun yang meringis saat dia menyentuh ringan luka itu. Luka itu pasti masih sangat sakit dan rasanya panas sekali. Padahal menurut dokter, luka bakar itu tidak parah dan harusnya bisa cepat sembuh. Apa karena api yang mengenainya tidak biasa, makanya lukanya semakin sulit sembuh?

"Kalian di sini? Appa mencari kalian kemana-mana dari tadi," kata Tuan Park.

Semenjak kematian Nyonya Park, Tuan Park tinggal bersama Nyonya Byun dan mengasuh dua anak mereka bersama-sama. Walau tak terikat pernikahan dan tak saling mencintai, mereka sadar kalau mereka harus bersama untuk anak-anak mereka. Anak-anak membutuhkan appa dan eomma yang lengkap dan menyayangi mereka.

"Appa!"

"Appa dan eomma membawa saudara baru untuk kalian," kata Tuan Park.

"Saudara? Eomma hamil? Itu oleh-oleh dari kepergian kalian ke China untuk kami?" tanya Chanyeol.

"Pabbo Chanie! Memangnya anak bisa secepat itu dibuat!" kata Baekhyun sambil menjitak kepala Chanyeol.

"Kami mengadopsi seorang anak di China. Kalian tahu kan kalau kami berusaha mencari-cari anak-anak seperti kalian di seuruh dunia ini. Barangkali dengan begitu kalian bisa saling berlatih bersama dan tidak perlu hidup terisolir seperti ini," kata Tuan Park lembut.

"Jadi?"

"Kalian lihat saja dia sendiri," kata Tuan Park sambil menggandeng dua orang itu ke tempat Nyonya Byun yang sedang mengganti pakaian anak itu dengan pakaian baru yang lebih hangat dan nyaman untuknya. Saat melihat kehadiran dua anak itu, anak lelaki itu malah bersembunyi di belakang Nyonya Byun dan membuat wanita itu tertawa.

Anak lelaki itu bertubuh sangat kurus dengan kulit putih. Wajahnya juga tirus. Rambutnya berwarna hitam dan kelihatan sangat halus. Melihat perawakannya yang lebih kecil daripada Baekhyun dan Chanyeol, mereka pasti tidak percaya kalau anak itu setahun lebih tua dari mereka.

"Lay, mereka adikmu," kata Tuan Park lembut.

"Baekki, Chanie, ini akan menjadi saudara kalian. Dia lebih tua setahun daripada kalian. Namanya Zhang Yi Xing. Kalian harus akur," kata Nyonya Byun.

"Nah, Baekki, tolong temani dia ya, eomma dan appa masih harus mengurus dokumen adopsi. Kalian baik-baik di rumah, jangan bermain-main yang berbahaya. Terutama kau Park Chanyeol," kata Tuan Park sambil menepuk kepala dua anak itu.

"Ne, appa," kata keduanya.

"Hai," sapa Chanyeol canggung.

"Aku Baekhyun, panggil saja aku Baekki. Dia Chanyeol, panggil saja Chanie. Lay Hyung, kau punya kemampuan apa?" tanya Baekhyun ceria.

"Ah, eum...aku...aku sendiri tidak tahu harus mengatakan ini kemampuan apa," kata Lay terbata-bata.

"Kau mau melihat kekuatanku? Aku bisa mengeluarkan cahaya," kata Baekhyun.

Baekhyun berkonsentrasi untuk mengeluarkan cahaya dari tangannya. Cahayanya lembut dan kecil, tapi cukup menyakitkan saat dilihat. Baekhyun bisa menempelkan cahaya itu ke tanaman yang ada di sana. Beberapa kali dia mengeluarkan cahaya dan menempelkan cahaya-cahaya itu di semak-semak.

"Hebat..." gumam Lay tanpa sadar.

"Terima kasih,"

"Eum, itu bagaimana cara mematikannya?" tanya Lay lagi.

Baekhyun kembali mengambil cahaya-cahaya itu dan menggenggamnya. Perlahan, cahaya itu padam dan akhirnya menghilang sama sekali.

"Chanyeol juga bisa, tapi masih belum bisa mengendalikannya," kata Baekhyun.

"Kemampuanku adalah mengeluarkan api," kata Chanyeol sambil tersenyum sedih.

"Kenapa sedih? Itu kemampuan yang bagus," kata Lay.

"Aku hanya bisa membuat orang lain terluka karenanya. Seperti itu," tunjuk Chanyeol pada lengan Baekhyun yang dililit perban.

"Itu kecelakaan," kata Baekhyun cepat sambil menyembunyikan lengannya.

"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kau terluka? Aku bisa mengobatinya," kata Lay.

"Hyung bisa? Tapi, dokter saja tidak bisa mengobatinya," kata Chanyeol tak percaya.

Lay menunjukkan suatu bekas luka di pergelangan tangannya. Gambar unicorn kelihatan sangat jelas di sana. Lay bisa melihat lambang cahaya yang mirip dengan bekas luka di tangannya itu di punggung tangan Baekhyun. Sekarang dia mengerti maksud Tuan Park. Yang terlahir seperti dirinya memang ada dan dua orang di depannya adalah salah satu yang sama dengannya. Di luar sana mungkin masih ada juga yang sama dengannya.

"Itu mirip dengan ini," kata Chanyeol sambil membuka kemejanya. Di dada pemuda itu, ada lambang burung phoenix.

"Tadinya aku tidak tahu apa ini, tapi setiap kekuatanku keluar, gambar di tubuhku ini selalu mengeluarkan cahaya," kata Baekhyun sambil melihat punggung tangannya.

"Kemarikan tanganmu Baekki," kata Lay sambil mengulurkan tangannya.

Baekhyun lalu menyerahkan tangannya yang berperban. Aneh sekali, saat Lay yang menyentuh tangannya, dia tidak merasakan sakit dan panas. Sebaliknya dia merasa luka di tangannya itu terasa sangat sejuk. Dalam hati, Baekhyun bisa menebak apa kemampuan Lay.

"Kalian yakin mau melihat ini? Ini luka yang cukup parah dan aku harus membuka perbannya kalau ingin menyembuhkan ini," kata Lay lagi.

"Aku sudah terbiasa melihatnya," kata Baekhyun sambil tersenyum.

"Aku...aku tidak berani. Mianhe Baekki, aku tidak bisa melihatnya. Aku tunggu di dalam saja ya," kata Chanyeol pelan.

"Ne, masuk saja Chanie, aku pasti sudah sembuh saat masuk nanti," kata Baekhyun.

"Lay Hyung, tolong ya," kata Chanyeol sebelum pergi.

Lay membuka perban itu perlahan hingga seluruhnya terbuka. Walau tadi Baekhyun bilang sudah terbiasa, dia ngeri juga melihat luka itu hingga akhirnya dia memalingkan wajahnya. Lay tersenyum melihatnya. Sudah berulang kali dia dibawa suster kepala yang merawatnya untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka parah dalam perang dan pemberontakan. Dia sudah sering melihat yang lebih parah daripada luka itu.

"Lay Hyung, kau sudah sering melihat luka seperti ini?" tanya Baekhyun.

"Sudah sering Baekki-ah, sangat-sangat sering malah. Pastor memintaku untuk ikut merawat orang-orang yang terluka karena perang atau pemberontakan. Walau takut, aku tidak bisa menolaknya. Kadang aku membenci kekuatan yang membuatku bisa mimpi buruk berhari-hari ini. Aku selalu takut di lokasi perang itu," kata Lay sambil menangis.

"Aku takut bagaimana kalau aku diserang? Aku tidak bisa menyembuhkan lukaku sendiri Baekki. Aku tidak bisa menyembuhkan penyakit. Aku tidak bisa mengembalikan sel tubuh yang sudah mati. Kemampuanku juga terbatas dan tidak sepraktis kelihatannya," kata Lay lagi.

"Sudahlah hyung. Kemampuan hyung itu sangat berharga. Bukankah hyung sudah berhasil menyembuhkan banyak orang dengan kekuatan hyung itu termasuk aku. Hyung nanti pasti punya banyak orang yang sangat menyayangimu," kata Baekhyun sambil memeluk Lay.

"Hmm, terima kasih Baekki," kata Lay sambil tersenyum.

"Ayo, masuk, Chanyeol pasti sudah menunggu kita di dalam dari tadi," kata Baekhyun sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.

"Ya,"

...

Waktu yang sama, Seoul, Korea Selatan

"Chen, bisakah kau hentikan itu? Ahjumma mau menjemur pakaian," kata seorang wanita dengan nada lembut.

"Itu tidak akan hujan ahjumma. Itu hanya petir dan mendung. Aku sendiri tidak tahu bagaiamana caranya mengusir petir itu. Aku juga lelah mendengar suaranya," kata Chen sedih.

"Arraseo, maafkan ahjumma. Cobalah untuk menghentikannya sekarang. Barangkali kau bisa," kata wanita itu lagi.

"Akan kuusahakan," kata Chen lagi.

"Ah, Chen, tuan besar mencarimu dari tadi," kata wanita itu sebelum lupa.

Chen tidak ingat sejak kapan dia tinggal di rumah ini. Yang dia ingat adalah dia bangun di suatu pagi dan tiba-tiba dia sudah ada di rumah itu. Dia bahkan tidak ingat lagi kehidupan yang dia jalani sebelum pagi hari saat dia bangun itu. Ada seorang lelaki kaya yang mengaku bahwa dialah yang merawat Chen sejak kecil. Lelaki itu bilang Chen tertabrak mobil dan tidak bangun selama seminggu hingga akhirnya melupakan masa lalunya. Lelaki itu meminta Chen untuk memanggilnya ahjussi, bukan appa. Chen tak keberatan, toh dia memang bukan anak lelaki itu.

Tok! Tok!

"Masuklah Chen," kata seseorang dari dalam ruangan itu.

"Ahjussi memanggilku? Maaf aku baru datang," kata Chen.

"Chen, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang. Kemarilah dan beri salam untuk keluarga Do," kata lelaki itu lagi sambil tersenyum.

"Anyeong haseo," kata Chen.

"Halo, kau yang bernama Chen? Anak yang tampan," kata wanita itu.

"Gomawo ahjumma,"

"Anak yang sopan," kata sang lelaki.

"Chen, tuan dan nyonya Do akan pergi selama enam bulan ke luar negeri dan karena hanya enam bulan, tidak mungkin anak mereka pindah sekolah, jadi anak mereka akan dititipkan di sini," kata lelaki itu.

"Ayo, beri salam ke mereka Kyungsoo," kata Tuan Do pada anak lelaki berwajah manis dan bermata bulat itu.

"Anyeong,"

"Sayang, kau baik-baiklah di sini bersama dengan ahjussi dan Chen. Jadilah anak yang baik selama kami tidak ada," kata Nyonya Do.

"Ne, eomma,"

"Jangan sampai telat makan, jadilah anak yang rajin. Jangan juga tidur terlalu larut. Eomma pasti kembali untuk menjemputmu. Maafkan eomma ya, sampai jumpa chagy," kata Nyonya Do dengan wajah sedih.

"Ne, eomma, cepatlah kembali untuk menjemputku," kata Kyungsoo.

"Appa dan eomma mencintaimu sayang," kata Tuan Do.

"Ne,"

"Kami titip anak kami ya. Kami pergi dulu," kata Tuan Do sambil membungkuk dan memeluk istrinya sambil membawa wanita yang kelihatannya tidak mau pergi itu keluar dari sana. Chen dan Kyungsoo bisa melihat mobil yang dikendarai dua orang itu pergi meninggalkan kediaman itu.

"Chen, ajaklah Kyungsoo ke kamarnya," kata lelaki itu.

"Ne,"

Chen lalu membawakan barang anak lelaki bernama Kyungsoo itu dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Di kamar Chen...

"Kyungsoo-ah, kau mau tidur bersamaku di sini? Ada satu single bed kosong di sini dan aku selalu merasa tidak enak saat sisi itu kosong. Aku merasa ada yang kurang," kata Chen.

"Tentu, tak masalah,"

"Gomawo. Mau kubantu membereskan bajumu?" tanya Chen lagi.

"Hmm, gomawo hyung,"

Chen membantu Kyungsoo memasukkan barang-barangnya ke dalam lemari. Tak sengaja, Chen melihat suatu lambang menyerupai tato di jari telunjuk hingga jari manis tangan Kyungsoo.

"Eum, Kyungsoo-ah, kenapa tanganmu itu?"

"Ah, ini? Ini tanda lahir. Agak aneh memang," kata Kyungsoo.

"Kyungsoo, apa tanda itu pernah...eum...mengeluarkan cahaya?" tanya Chen tiba-tiba.

"Cahaya? Tidak pernah hyung. Hyung terlalu banyak nonton TV," kata Kyungsoo sambil tersenyum.

'Tidak pernah? Berarti itu hanya kebetulan. Tapi...kenapa mirip sekali?'

Chen memandang tangannya yang dia balut dengan perban. Dia merasa risih setiap kali melihat tanda lahir di tangannya bercahaya aneh. Karena itulah, dia membalut tangannya. Hingga akhirnya dia tahu kalau itulah yang menyebabkan petir tak kunjung henti di sekitarnya, tapi dia tak bisa mengendalikannya.

Tanda yang bercahaya itu mirip sekali dengan tanda lahir di tangan Kyungsoo, hanya saja bedanya di tangannya, dari jari tengah hingga kelingking.

.

.

.

Tbc

Author update 3 chapter sekaligus buat minta maaf. Deep bow...

Dan maaf buat Taoris Shipper, di sini nggak ada moment Taoris... TTATT

Tapi, di chapter depan ada kok Taoris momentnya

Author harap kalian mau review walaupun review untuk 3 chapter ini dijadiin satu

Mau sendiri-sendiri juga Ok kok.

Terus ini tadinya harusnya udah ke publish berhari-hari yang lalu, tapi akun author mendadak di banded sama ffn, untung udah balik

hiks...