A Merely Boy and Demon
…
Nobody reason, nobody is sure where is the end
Nobody reason, no one confess that it was wrong
…
"Silverster?" mata hitamnya berubah menjadi merah dengan titik tiga ditengahnya. Ia menunggu jawaban dari seseorang yang mengetahui apa yang tidak diketahuinya.
Laki-laki berambut putih itu melirik tuannya, atau bisa juga disebut saudara jauhnya. Usianya 800 tahun lebih tua dari Sasuke, rambutnya putih bukan karena ia tua, tapi karena 'memang putih'. Iblis yang sudah tidak peduli pada dunia manusia, baginya hidup berdampingan dengan bukunya-lah yang sangat penting.
Suasana ruang kerja Sasuke menjadi hening. Headbutler kepercayaannya memang terkesan aneh dan liar, tapi level kecerdasannya sebagai Iblis diusianya yang sekitar 2000 tahun sangat tinggi. Maka dari itu, Sasuke yakin Iblis dihadapannya itu mengetahui apa yang sedang terjadi pada Naruto.
Senyum kecil muncul dibalik topengnya, "Aku tahu, Sasuke." katanya simpel, "Bukankah kau yang dulu pernah menceritakannya padaku?"
"Kalau yang kau maksud 'dulu' itu saat aku membangun Mansion ini… aku masih mengingatnya dengan baik…" katanya dengan sinis.
"Ckckckckck…" ia berdecak sambil menggelengkan kepalanya, "Tidak… kau pernah bertemu dengan Naruto jauh sebelum ini… dan kau sepertinya lupa…"
"Ia… sungguh manusia?"
"Kau yang lebih tahu, Sasuke. Kau yang mengikat perjanjian dengannya…"
"Lalu mata itu?"
"Kau yang lebih tahu."
…o0o…
For the reason they don't know
…o0o…
...
Ruangan kamar yang elegan, dindingnya berwarna putih kebiruan dan lantainya berwarna biru tua. Di atas kasur yang tertutupi kelambu biru muda yang diikat pita biru. Seorang remaja berambut pirang tergeletak tak berdaya di tempat pesakitannya dan dengan setianya ditunggui oleh sahabatnya. Sahabat iblisnya.
Baru dua minggu lebih mereka ber'teman', tapi si Iblis itu tahu ada ikatan seperti benang merah yang menghubungkan jari kelingking mereka. Ikatan yang tidak akan pernah putus apapun yang terjadi. Ia duduk di kasur sebelah kanan bawah remaja yang terlelap. Seorang dokter baru saja keluar dari ruangan setelah memeriksa keadaannya. Ia diberi beberapa suntikan dan obat-obatan seperti biasanya. Wajah pucatnya telah kembali, dan Sang Iblis benar-benar merasa lega setiap kali ia melihat naik turun dada remaja itu.
"Ada yang kau sembunyikan, Dobe…" Sasuke menatap jemari tangan yang penuh luka. Tidak lentik dan sangat kasar. "Dokter mengatakan kau harus dibawa kerumah sakit… karena sepertinya kau menderita penyakit yang sangat serius…" ia kembali terdiam hingga lima menit berlalu, "Kenapa kau begitu keras kepala?"
Kenapa aku begitu peduli padamu?
Sejak awal, saat Naruto memintanya sebagai teman dan mendampinginya saat ia mati… Sasuke sudah mempersiapkan waktu 25 tahunnya untuk remaja kurus itu. Masa hidupnya yang melebihi 1000 tahun membuat 25 tahun, terasa hanya sekejap mata. Bahkan ia pernah tidur beberapa masa hanya karena ia bosan. Ia pun tidak pernah berpikir akan selalu ada disamping remaja itu.
Ia seakan ditipu saat mengetahui bahwa kemungkinan hidup Naruto tidak akan sampai pada musim dingin nanti. Ia tidak mengerti kenapa ia merasa kesal. Seakan melewatkan sesuatu yang penting dan akan kehilangan dalam sekejap mata ketika menyadarinya. Tapi… seharusnya bagi seorang Iblis sepertinya, Naruto bukanlah siapa-siapa… jadi mau ia mati pun… seharusnya ia tidak peduli. Seharusnya.
Tak disangka… mungkin ini adalah perjanjian tersingkat dan teraneh yang pernah dilakukannya. Pada umumnya orang akan meminta kekayaan, jabatan, dan tidak sedikit yang ingin menyakiti seseorang demi sebuah dendam. Tapi Naruto… ia hanya ingin memiliki teman. Ia sedikit tahu tentang Naruto dari apa yang dipikirkannya dan apa yang dilihat iblis itu. Yatim piatu, dibenci penduduk desa, dan tidak memiliki teman sama sekali, ditambah ia sangat miskin. Tidak berpendidikan dan sangat bodoh.
Mungkin memang lebih baik kalau si Dobe ini pergi dari di hidupnya saja. Walaupun nanti pada akhirnya mereka akan sama-sama jatuh ke neraka. Ia yakin, sesampainya Naruto ke neraka, bocah ini akan membencinya habis-habisan. tapi…-ia menghembuskan napasnya- … kenapa selalu ada 'tapi'?
Sasuke menatap wajah Naruto yang tidak menggunakan eyepatch-nya. Ia tidak melihat ada apa dibalik kelopak matanya, tapi saat memeriksa pergerakan bola matanya, Dokter terkejut melihat mata kanannya. Padahal ia memanggil dokter yang cukup jauh dari desa dan kota di sekitar sini. Memang apa yang salah dengan matanya?
Jemari panjang dan pucatnya meraba pipi kanan Naruto, lalu menyibakkan rambut yang menutupi dahi laki-laki yang sedang tertidur lelap. Wajahnya sudah lebih berwarna dari yang sebelumnya. Tiga garisnya tidak terlihat, sepertinya para maid menutup garisnya dengan dasaran. Ia sempat terkejut saat Naruto turun dari tangga karena bocah yang biasanya terlihat kumal dan berantakan. Saat itu terlihat sangat menawan. Ini bukan standar iblis tentunya. Sasuke tidak mengerti, tapi yang ia tahu… Naruto hanya menawan.
Ia masih ingat saat Naruto terbatuk-batuk. Tapi ia tidak begitu mempedulikannya, karena orang normal pun tak akan bersikap berlebihan saat terserang batuk kan? Dan Naruto pun tidak pernah memikirkan hal-hal seperti penyakitnya semakin parah atau bahkan nama penyakitnya itu sendiri. Maka dari itu, Sasuke tidak menyadari maksud dari 'menemaniku hingga aku mati nanti'. Dibalik kata itu ada ungkapan seperti…
"Aku tidak ingin sendiri saat aku mati… kah?"
Ia mengusap pipi kiri Naruto.
"Aku tidak ingin, tidak ada mengetahui perihal kematianku… kah?"
Ia menelusuri bibir pucat bocah di hadapannya dengan punggung jari telunjuknya kirinya.
"Atau… aku takut mati sendirian?"
Naruto menggerakkan kepalanya. Ia sepertinya terbangun karena inspeksi mendadak pada wajahnya.
"Naruto?"
…
Kepalanya sakit, dan berat. Walaupun tidak sesakit pagi tadi, tapi ia akan kesulitan kalau matahari tiba-tiba memasuki matanya. Ia masih ingat saat terakhir kali kepalanya sangat sakit dan ia pingsan di tengah hutan. Saat ia membuka matanya, ia yang hilang kesadaran dipagi hari tidak tahu kalau saat itu matahari tepat di atasnya. Alhasil ia terkejut betapa tajamnya sinar matahari dan kepalanya bertambah sakit. Maka ia terbiasa menutup wajahnya terlebih dahulu dengan kedua tangannya sebelum ia melihat dunia.
Tangannya meraih kepalanya dan mengusap-usap dahinya. Sepertinya ia sedang berada di atas kasur. Mungkin ia pingsan lagi? Atau ia terbangun dari tidur? Naruto tidak begitu ingat. Tapi lirih ia mendengar suara seseorang memanggil, manggil namanya sedari tadi. Sasuke kah?
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mengusap-usap matanya sebelum perlahan dibukanya. Cahaya tidak terlalu terang, itu artinya ia tidak perlu takut membuka kedua tangannya. Ia hampir membuka kedua tangannya saat telapak tangan Sasuke menggenggam pundak kirinya dengan erat dan mengoyang-goyangkan tubuhnya.
"Naruto?"
Saat itu ia sadar, eyepatch-nya tidak terpasang di mata kanannya. Ia segera bangkit dan menepis tangan sahabatnya. Kepalanya bertambah pusing sesaat karena gerak tubuhnya yang mendadak, "Aku baik-baik saja… Sasuke," katanya sembari menarik tangan kirinya setelah menepis Sasuke, lalu ditempatkannya di atas paha, "Mana penutup mataku?" tanyanya sedikit panik, "A-apakah kau melihat mata kananku?"
Sasuke meliriknya dan mencoba menebak apa yang ada di balik mata itu, "Iya aku melihatnya… jadi kau tidak perlu menutupinya lagi…" kemungkinan Naruto takut karena ada yang salah dengan matanya, seperti ada kelainan atau ia buta? "Aku tidak akan keberatan dengan matamu…" dan mungkin Naruto mau 'memperlihatkan matanya pada Sasuke?
"A-aku mohon kembalikan penutup mataku… karena kau mungkin bisa membenciku sama seperti kebanyakan orang… kalau aku tidak menggunakan penutup."
"Aku seorang iblis, Naruto… bukan makhluk lemah seperti manusia."
"Ta-tapi…"
"Dan aku adalah temanmu."
Naruto terdiam, ia seperti berpikir matang dengan ucapan terakhir Sasuke, sampai ia membuka mulutnya lagi, "Maaf tapi… kurasa aku belum siap memperlihatkan mataku ini." dan Sasuke tidak bisa memaksanya, ingat ia adalah seorang 'teman', sesama teman tidak boleh memaksa.
Ia memberikan penutup matanya, "Akan aku bantu," dan mengikatkan penutup mata dari kain tebal berwarna merah tua.
"Terimakasih…"
"Hn…" ia terdiam saat menautkan dua tali merah menjadi satu, "Kenapa kau takut menunjukkan matamu… bukankah sudah ku katakan aku ini…temanmu dan aku tidak masalah melihatnya."
"Bukan begitu, Sasuke… dalam ingatan kepalaku… saat orang lain melihat ini… dan tidak sedikit orang yang ketakutan, berlari atau marah besar padaku…" Ia terhenti seperti mengingat sesuatu, "…dan aku tanpa aku sadari merasa aman kalau aku menggunakan penutup mata ini."
"Aku tidak merasa takut, benci atau bahkan jijik melihatnya, Naruto."
Tanpa melihatnya pun Sasuke tahu bahwa Naruto sedang tersenyum, "Tapi… masih ada para pelayan dan aku pun belum siap…. Jadi,.."
"Aku mengerti, Dobe!"
"…"
"Tapi, berjanjilah, suatu saat nanti… kau akan melepasnya kalau hanya berdua denganku…"
"Suatu saat nanti."
Mereka berdua terdiam. Sasuke tidak akan menganggu Naruto dengan menanyakan banyak hal tentang kesehatannya. Ia akan menunggu saat yang tepat untuk itu. Termasuk membujuk Naruto untuk pergi menemui dokter dan melakukan pemeriksaan serta menjalani pengobatan. Sedangkan Naruto… ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada pagi hari itu.
Dan ia mengingat seseorang saat Silverster membawakan makan siang ke kamarnya. Sasuke masih ada di sampingnya, duduk dengan catatan-catatan kecilnya.
"Tuan Sasuke…" panggil Silverster setelah ia menaruh makan siang Naruto, "Ada surat dari Viscount Hyuuga."
"Lady Hinata!" teriak Naruto dengan kencang sesaat nama itu terngiang dikepalanya, "Aku melihat Lady Hinata! Setelah sekian tahun!"
Sasuke dan Silverster menatapnya dengan aneh. Bagaimana ia bisa mengenal Lady Hinata yang merupakan anak dari saudagar kaya, Viscount Hyuuga Hiashi?
"Kau mengenalnya, Naruto?"
"Tentu saja!" katanya dengan penuh semangat, "Karena…" ia sepertinya sedang menghitung, "Sekitar 6 tahun yang lalu… ia lah yang memberikan penutup mata ini padaku!" katanya dengan sumpringah.
"Kau bilang kau tidak memiliki teman?"
"Oh? Aku memang tidak memiliki teman, aku tidak sengaja bertemu dengannya saat ia tersesat di hutan."
"Hn?"
"Lady Hinata saat itu sedang berjalan-jalan di hutan sendirian… dan tersesat, jadi aku menolongnya…"
'Ia sedang melarikan diri, Naruto…' pikir Sasuke, "Hn…"
"Lady Hinata pun tidak takut dengan mata kananku… katanya… mataku ini cantik…" wajah Naruto menampakkan rona merahnya.
'Cantik?' pikir Sasuke keanehan…Sepertinya Dobe ada hati dengan gadis canggung itu?
"Aku tidak melihatmu mengobrol dengannya?"
"Ahhahahahahaha… mungkin ia sudah lupa… karena kami hanya sempat menjadi teman selama dua hari. Ia sampai di rumah dan keesokannya ia kembali lagi!"
"Apa dua hari bisa disebut pertemanan?"
"Tentu saja!" jawab Naruto, "Karena dihari kedua, keponakannya yang menyebalkan memaksanya pulang dan melarangnya untuk kembali!"
"Kalian tidak pernah berhubungan lagi semenjak itu?"
"Tidak…" kata Naruto dengan sendu.
Entah kenapa ujung bibir Sasuke terasa gatal… ada firasat apa ini?
"Mungkin… itu… yang disebut… pertemanan sehari…" kata Sasuke mencoba untuk menghibur Naruto.
"Hm! Walaupun aku tidak pernah mengobrol dengannya, tapi aku selalu memperhatikannya kalau bisa. Seperti mengendap-endap, saat ia latihan anggar (fencing) atau saat Lady Hinata bermain biola di balkon Hyuuga Mansion!"
"Stalker."
"Eh! Aku bukan stalker, Sasuke! Lagi pula apa itu Stalker?" ia berbalik menatap HeadButler yang semenjak tadi berdiri di samping kasur Naruto, membaca sesuatu dari kantongnya, 'sepertinya untuk menunjukkan ia dalam mode standby', "Silverster! Apa itu Stalker?"
Pelayan itu menatap Naruto dan melirik Sasuke yang menggumamkan sesuatu, "Ah…" dan ekspresi matanya menyerupai symbol irisan matematika ' ∩_∩ ' , "Itu… adalah orang yang melakukan suatu kegiatan yang muncul dari adanya ketertarikan atau rasa ingin tahu pada sesuatu… dan biasanya pada lawan jenis. Menurut kamus nasional Wikisedia (?) yang disebut dengan stalking adalah unwanted or obsessive attention by an individual or group toward another person."
"…" wajah Naruto seperti orang yang baru saja keluar dari ruangan ujian setelah tidur nyenyak di ruangan itu, "Oh… kurasa aku sedikit mengerti."
'Kau bisa mengatakan kalau kau tidak mengerti Dobe!',
"Hn… sudah lupakan, dan makan saja, Dobe!"
Naruto mendengus, ia lupa… kemana rasa sakit kepalanya? Dan menyendoki bubur dengan daun bawang serta kaldu ayam. Sasuke membaca surat dari Viscount Hyuuga dan langsung meminta Silverster mengambilkan kertas dan pena serta amplop dengan capnya.
"Aphah ithuh, Nyaasuhkeh?" katanya berusaha menelan buburnya.
Sasuke menatap Naruto, "Oh, kita diundang Viscount dalam memperingati ulang tahun anak bungsunya sekitar pada akhir Maret nanti, tapi kurasa kita tidak perlu mengikutinya."
"Apa minggu depan kau akan sibuk, Sasuke?" sebenarnya Naruto berencana mengajak Sasuke ke tempat favoritnya ditengah hutan.
"Iya aku akan sibuk."
"Oh…" dan kembali menyuapkan bubur pada dirinya sendiri. Ternyata ia cukup lapar.
"Tentu aku sibuk merawat orang yang sakit."
"Huh? Apa ada keluargamu yang sakit? Apa iblis itu bisa sakit?" tanyanya penasaran. Sasuke menghembuskan napasnya dan mendekatinya. Surat bercap merah dibaliknya itu dipukulkannya pada hidung Naruto.
"Dobe!" dan ia berpaling saat Silverster datang membawa permintaannya.
Sayangnya, Sasuke melewatkan wajah Naruto yang memerah, ketika ia menyadari apa maksud dari perkataan Sasuke, 'sibuk… merawatku kah?' pikirnya dengan sedikit tersipu.
Sasuke mulai menggoreskan pena-nya di atas meja dan Naruto berdehem untuk mendapatkan perhatiannya, "Aku ingin menemui, Lady Hinata… lagi… boleh kah?" tanyanya dengan ragu. Iblis itu menatap Naruto dengan jeli, ada rona merah… ah… crush? Mungkin Naruto sungguh ada hati dengan Lady Hinata? Tidak! Sesuka apapun Naruto pada Hinata, ia masih sakit.. jadi tidak boleh menghadiri jamuan seperti itu! Bagaimana kalau ia tiba-tiba pingsan? Ia harus banyak istirahat karena itu yang paling penting baginya, benar… menemui cinta pertamanya itu bisa kapan saja. pikir Sasuke sambil menggoreskan pena-nya, "Sasuke?"
Mata birunya…
Tetap tidak, Naruto sedang sakit! Ia harus banyak istirahat, lagipula kalau menemui cinta pertama itu kan seharusnya dengan keadaan sehat! Untuk memberi kesan baik pada gadis itu! dan Ia, sebagai temannya tidak akan membuat Naruto mempermalukan dirinya sendiri di hadapan gadis itu maupun keluarganya.
"Sas-"
"Baiklah, kita pergi."
"Yay!"
Dan Naruto tahu, sahabatnya itu peduli padanya.
…
Seminggu setelahnya, keadaan Naruto mulai membaik. Tiga hari setelah ia mimisan dan hampir terjatuh di pesta Uchiha Mansion, ia kembali demam tinggi. Sasuke yang memaksanya untuk memakan obat dengan teratur membuatnya berangsur-angsur pulih. Lalu seorang Uchiha Naruto… kalau tidak sakit… ternyata…
Sangat berisik!
Ia berjalan-jalan mengelilingi Mansion, kebun dan sekitar kota dengan Sasuke diwaktu senggangnya. Bernyanyi saat di dalam kereta ketika ia menemani Sasuke menemui rekan kerja. Tidak sekali ia membantu para pelayan bersih-bersih, bercanda dengan para maid, membantu juru masak di dapur, dan tidak ketinggalannya ia dengan senang hati memangkas ranting mawar yang terlalu panjang maupun mengambilnya untuk hiasan Mansion. Ia kesana berbicara, Ia kemari tertawa riang, tidak bisa diam atau bahkan sekedar mendengar perintahnya...
Struwwelpeter!
Ah… ini yang dimaksud dalam buku Hoffmann yang berjudul; 'Struwwelpeter'(Buku tahun 1844, di dalamnya mengulas perbuatan yang menyerupai tanda-tanda Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD/ADD).
Kadang ia berpikir kalau Naruto yang sakit itu lebih baik. Well, ini hanya pikiran ditengah-tengah kebisingan Naruto. Mungkin ini memang sikap alami Naruto kalau ia memiliki teman dan keluarga?
Sasuke tersenyum kecil.
"OHHHH!?" teriak Naruto, dan Sasuke kembali menghembuskan napasnya. Mereka sedang berada di dalam kereta kuda menuju Hyuuga Mansion. Undangan untuk mereka jam tujuh malam, dan Naruto memaksa Sasuke harus membelikan Lady Hanabi kado. Tidak boleh memerintah orang lain, dan setelah satu jam berkeliling kota terdekat untuk membeli kado. Akhirnya malam ini Sasuke bisa tidur setelah datang ke Hyuuga Mansion, memberikan kadonya, menyalami Lady Hinata dan pulang.
"Jangan tiba-tiba berteriak, Dobe! Kau pikir suaramu itu tidak keras!" bentaknya.
"Tehehehehehe… aku melihat kejadian langka barusan."
"Hn…"
Ia menunjuk bibir Sasuke dengan jari telunjuknya, "Kau-baru-saja-tersenyum! Teme!" dan sepanjang jalan ia bernyanyi tentang Sasuke yang tersenyum maupun membuatkan lirik untuk itu. Ia tidak akan kaget kalau nanti sesampainya mereka di rumah… ia akan berkeliling memberitahu seluruh makhluk yang ada di rumah dan kebun tentang hal ini! Termasuk laba-laba dan bunga mawar! Dasar Dobe!
"Hn…"
Mungkin ia tidak akan seceria ini pulang nanti. Sasuke yang ingat senyuman Naruto ketika ia menyebutkan Lady Hinata tidak sanggup mengatakan hal ini. Ia…tidak sanggup memberitahu hal yang sesungguhnya pada sahabatnya ini. Kertas undangan itu langsung ia bakar setelah ia keluar dari kamar Naruto. Satu informasi yang membuatnya ragu. Ragu, karena mungkin dapat membahagiakan atau membuatnya patah hati. Sasuke benar-benar tidak mengerti.
Dan dari segalanya, hal paling tidak ia mengerti adalah perasaannya yang menginginkan Naruto untuk melihat cinta pertamanya itu bertunangan di pesta ulang tahun adiknya secara langsung.
…o0o…
The rose that blooms in the battlefield for the reason they don't know
…o0o…*
...
Tbc
…
A/N: *Nobody Reason-Move, Initial D ost.
Alasan dan pangkal permalasahannya tentang mata itu ada di Flashback chap. Terakhir... nggak akan lama lagi *smirk*
Thanks to Wia-chan, Uzumaki-san, Yuu-san, Hyull-chan, Hime-san, Minyak-angin-san, Kay-chan, Hikari-san. ^^
See you tomorrow!
