Akhirnya ke masa remaja anak-anak ini!

Ochaken Present...

.

.

.

Chapter 4

This is Time to Meet

30 April 2007

"Gege, apa baba tidak apa-apa sekarang?" tanya Tao yang sedang melihat hujan di luar. Baju mereka basah karena kehujanan. Mereka baru saja lari dari rumah mereka atas perintah kedua baba mereka. Sudah berkali-kali seperti ini. Biasanya setelah beberapa saat, baba mereka akan muncul dan akhirnya menjemput mereka untuk pindah ke tempat lain, bahkan hingga ke luar negeri.

"Entahlah Tao. Baba tak bisa dihubungi," kata Kris yang juga khawatir.

Kris mengkhawatirkan keadaan babanya, tapi dia yakin babanya tidak akan kenapa-napa. Yang dia khawatirkan sekarang adalah bagaimana keadaan Tao. Tubuh pemuda itu basah kuyup dengan wajah sangat pucat. Betapa bodohnya dia karena tadi tidak membawa jas hujan sebelum lari, tapi mereka sangat panik tadi.

"Tao, ganti bajumu dulu..." kata Kris.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" pemuda itu memegang dadanya sambil terbatuk-batuk.

"Tao, kau tidak apa-apa?" tanya Kris yang semakin khawatir.

"Hmm... uhuk!"

Tao malah mendorong Kris menjauh darinya dan setengah berlari menuju kamar mandi. Setiap kali mereka pindah, mereka membeli dua rumah. Satu rumah untuk ditinggali dan yang satu lagi untuk keadaan darurat seperti saat pengejar mereka muncul. Saat menunjukkan rumah ini dulu, baba mereka sudah pernah menunjukkan letak-letak kamar mandi, bahan makanan yang tahan berbulan-bulan, dan yang lainnya yang kira-kira dibutuhkan untuk bersembunyi.

Kris langsung mengikuti Tao ke kamar mandi. Dia bisa melihat pemuda itu duduk di depan kloset sambil memuntahkan sesuatu yang tak bisa Kris percayai. Darah pekat itu keluar, mengeluarkan bau amis dan bau besi khas darah.

"Ukh..."

"Tao, kau merasakan sakit? Di mana yang sakit? Apa ada obat yang harus kau minum sekarang?" tanya Kris khawatir. Pemuda itu ikut bersimpuh di samping Tao membantu menyangga tubuh pemuda itu.

Tao tidak menjawab apa-apa . Setelah rasa sakit dan sesak di dadanya berkurang dan dia bisa menahannya, Tao mengambil gayung dan air lalu membersihkan wajahnya.

"Ini biasa ge. Gege tidak usah terlalu khawatir. Setelah minum obat yang biasanya aku akan baik-baik saja. Aku hanya kelelahan karena dikejar sejauh ini tadi," kata Tao.

Memang saat mereka kabur tadi, mereka benar-benar tidak siap. Mereka tak bisa membawa apa pun bersama mereka dan persediaan obat darurat Tao di rumah itu juga tidak terlalu banyak. Obat itu mungkin hanya cukup untuk seminggu. Kris sungguh harus mencari cara untuk menyelamatkan Tao. Sudah hampir enam jam sejak dia meninggalkan rumah dan baba mereka tidak datang. Kemungkinan besar kedua orang itu sudah ditangkap.

"Biasa? Kau sudah sering muntah darah seperti ini? Sebenarnya sekarang kau sedang sakit apa?" tanya Kris lagi.

"Bukan sakit ge, sejak kecil tubuhku sudah rusak dan kelihatannya sekarang semakin parah. Mungkin ini batasnya karena aku semakin sering mimisan dan muntah darah," kata Tao sambil menunduk. Dia tak mungkin berbohong pada Kris.

"Tao..."

"Untuk sekarang, aku pasti akan bertahan. Kalau aku pergi dari dunia ini sekarang, maka hidupku sungguh tak ada artinya," kata Tao.

Tangan Kris terulur untuk membawa pemuda itu ke dalam pelukannya. Dia bisa merasakan badan pemuda itu panas. Sudah dia duga, begitu kena hujan sedikit, Tao akan langsung demam. Semoga yang ini tidak parah karena akan sangat sulit untuk sembuh.

"Berjanjilah pada gege untuk selalu berada di samping gege. Berjanjilah," kata Kris dengan suara bergetar.

"Gege...?"

Kris harusnya paham, saat dia memutuskan jalan hidupnya untuk memberikan pada Tao kebahagiaan, Kris tidak boleh menuntut apa pun dari Tao, tapi kali ini saja... Hanya sekali ini saja dia ingin sekali Tao selalu ada di sampingnya. Bila Tao tidak ada, bagaimana cara Kris untuk hidup? Tao adalah alasan dan tujuannya. Kalau Tao tidak ada nanti, apa yang harus dia lakukan?

"Tao, gege tidak pernah minta apa-apa padamu kan? Sekarang, gege ingin kau berjanji kalau kau akan ada di samping gege," kata Kris lagi.

"Gege...gege maaf...maaf..."

Kris harusnya sudah tahu. Saat dia memutuskan bahwa Tao adalah tujuan hidupnya dan menyadari keadaan Tao, Kris harusnya tahu kalau suatu saat nanti Tao akan pergi. Tao tidak bisa melakukan apa pun untuknya.

"Maafkan aku ge... aku tidak bisa... maafkan aku," kata Tao dengan suara parau. Dia merasa sudah menjadi orang paling jahat di dunia karena membuat orang-orang di sekitarnya selalu merasa sedih.

Kris merasa ditampar mendengar suara Tao yang parau. Dia sudah janji pada Tao untuk memberikan kebahagiaan. Saat ini, sudah pasti Tao lah yang paling takut. Seharusnya dia tidak menunjukkan rasa sedihnya tadi. Harusnya dia mengatakan pada Tao bahwa segalanya akan baik-baik saja. Harusnya dia mendorong Tao untuk memikirkan hidupnya, bukan memikirkan kematian yang mendekatinya terlalu cepat.

"Sshhh... jangan menangis Tao. Gege yang bodoh karena meminta yang aneh-aneh. Apa pun yang terjadi gege tak akan pernah meninggalkan Tao. Gege kan pernah bilang kalau gege adalah malaikat pelindung Tao," kata Kris menenangkan Tao.

"Tapi..."

"Percayalah pada gege. Apa gege pernah berbohong?"

"Tidak,"

"Kau percaya pada gege kan?"

"Tao... Tao percaya pada gege...dulu maupun sekarang dan sampai kapan pun nanti, gege adalah orang yang akan Tao percayai dan sayangi," kata Tao sambil tersenyum.

"Gege mencintaimu Tao-er, sangat-sangat mencintaimu," kata Kris lembut.

"Tao juga," kata Tao dalam pelukan Kris.

'Aku sungguh mencintaimu Tao. Bukan mencintai seperti yang kau pikirkan. Aku tahu aku sungguh salah, tapi aku sungguh mencintaimu...maafkan aku Tuhan. Biarlah aku mencintai cahaya yang Kau berikan untuk hidupku yang gelap ini...'

Tengah malam...

"Engh...ungh...gege...dingin..." racau Tao dalam tidurnya.

Kris yang menjagainya semalam sangat bingung. Dia sudah menumpuk berlapis-lapis selimut tebal di atas tubuh Tao dan juga memakaikan jaket, sweater, kaos kaki, dan apa pun untuk membuat anak itu hangat. Kris yang melihat Tao saja sudah merasa kepanasan.

"Gege harus bagaimana Tao? Selimutnya sudah habis," kata Kris sambil mengusap dahi Tao yang berkeringat dingin.

"Dingin..."

"Tao..."

Kris perlahan-lahan membuka selimut itu selapis, demi selapis. Dia juga melepaskan jaket dan sweater Tao sebelum melepas kemejanya sendiri. Pemuda itu lalu membuka kancing piyama Tao.

"Gege?" tanya Tao yang terbangun.

"Sshh... gege tak akan melakukan apa-apa Tao. Gege hanya akan membuatmu lebih hangat," kata Kris lembut.

Kris lalu memeluk tubuh itu lembut. Kris sungguh miris saat merasakan betapa kurusnya tubuh pemuda yang dia peluk itu. Tubuh Tao sangat panas.

"Tao, kau merasa lebih hangat sekarang?" tanya Kris.

"Hmm," gumam Tao sambil semakin melesakkan badannya ke arah Kris. Kris sebenarnya merasa kepanasan, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia juga memeluk Tao semakin erat.

"Maafkan gege Tao. Sendainya boleh, gege lebih ingin gege saja yang sakit. Gege tidak sanggup melihatmu seperti ini," kata Kris.

"Kalau gege yang sakit, Tao juga tidak akan sanggup melihatnya ge. Gege sudah melakukan sangat banyak hal untukku, menangis dan tertawa bersamaku. Itu lebih dari cukup untukku. Kau benar-benar malaikat dari Tuhan yang dikirim mama untukku," kata Tao.

"Wo ai ni," kata Kris lembut.

"Wo ye ai ni ge," kata Tao lirih.

"Bukan yang seperti itu Tao. Gege mencintaimu sebagai seorang lelaki. Gege sungguh-sungguh mencintaimu dari lubuk hati gege yang terdalam. Rasa cinta yang lebih daripada rasa cinta gege untuk baba, mama, dan mei mei. Rasa cinta gege untukmu bahkan lebih daripada untuk diri gege sendiri," kata Kris membuat tubuh Tao menegang.

"Ge, kita ini lelaki," kata Tao.

"Aku tidak peduli Tao. Ini perasaanku. Walau kau tidak bisa membalasnya, gege tidak masalah. Gege malah lebih berharap Tao tidak membalasnya karena gege tahu perasaan ini salah. Maafkan gege," kata Kris.

"Kenapa aku ge...? Kenapa?"

"Karena hatiku mengatakan bahwa aku dilahirkan untukmu. Aku ada untuk mencintai dan menyayangimu, selalu mendampingimu, memberimu semangat dan dorongan. Sekeras apa pun aku berpikir kemungkinan lain, hatiku selalu menjawab bahwa kau adalah tujuanku. Kenapa aku lahir di dunia, kenapa kita bisa sampai bertemu, aku tak bisa memikirkan alasan lain selain untuk mencintaimu," kata Kris.

"Gege hanya akan merasa kehilangan..."

"Aku tahu dan anehnya aku tetap mencintaimu dengan sangat. Setiap hari aku semakin merasa mencintaimu. Perasaanku terasa semakin besar hingga aku sendiri juga tidak bisa mengontrolnya," kata Kris.

"Gege, aku tidak pantas untukmu," kata Tao sambil menangis.

"Akulah yang tidak pantas untukmu Tao. Aku ini lelaki gagal. Aku gagal melindungi kedua orang tuaku. Aku gagal berbakti dan membuat mereka bahagia. Aku gagal untuk membuatmu merasa bahagia...bahkan sekarang aku membuatmu menangis," kata Kris sambil menghapus air mata Tao.

"Gege, apakah ini tidak salah? Apa cinta kita tidak salah?"

"Tao?"

Kita? Apa Kris sedang mengigau atau dia salah mengartikan maksud Tao?

"Gege, aku juga mencintaimu...sangat... aku menyukaimu melebihi apa pun sampai-sampai saat melihatmu, hatiku rasanya mau meledak. Setiap mendengar suaramu, aku merasa pipiku begitu panas. Hanya memikirkanmu bisa membuatku tersenyum," kata Tao lagi.

"Tao..."

"..."

"Tao, wo ai ni. Wo ai ni... terima kasih sudah mencintaiku juga..."

"Aku juga ge..."

Kris merasa dunianya begitu indah saat memeluk tubuh mungil itu. Kepingan puzzle hatinya yang hilang terasa lengkap kembali...

...

Satu minggu kemudian di sebuah rumah di Jeju, dekat dengan rumah persembunyian Kris dan Tao

"Appa dan eomma menemukan satu orang lagi Baekki," kata Chanyeol sambil menggandeng tangan pemuda yang jauh lebih pendek darinya itu. Sebenarnya Baekhyun tidak pendek, hanya saja Chanyeol yang terlalu tinggi.

"Oh? Nugu?"

"Dia anak sahabat appa. Setelah berdiskusi, mereka sepakat untuk tinggal bersama kita di sini," kata Chanyeol.

"Dia sungguh punya kekuatan?" tanya Baekhyun.

"Ne, di dadanya ada lambang yang sama dengan milik kita bertiga. Kemampuannya sangat bertolak belakang denganku. Dia bisa mengendalikan air dan katanya dia sudah sangat ahli sama denganmu Baekki," kata Chanyeol sedih.

"Jangan sedih Channie, Lay Hyung juga belum bisa mengendalikan kekuatannya seratus persen. Kata appa, kemampuan Lay Hyung untuk menyembuhkan orang itu harusnya bisa juga untuk menyembuhkan penyakit. Bukankah sudah tiga tahun terakhir dia berlatih sangat keras. Apa kau masih juga tidak mau berlatih?"

"Tidak Baekki, aku lebih memilih menekan kekuatan ini daripada lepas kendali saat berlatih," kata Chanyeol.

Tak mereka sadari, pemuda yang tadi mereka bicarakan sudah ada di dekat mereka. Pemuda itu memiliki garis wajah yang tegas dengan mata yang teduh. Pemuda itu tersenyum saat melihat dua orang itu mengobrol bersama dengan akrab. Kelihatannya, keputusan kedua orang tua anak itu untuk hidup terisolir benar. Mereka tak perlu merasakan sedih dan takut seperti yang dia alami.

"Anyeong," sapa anak itu.

"Anyeong, siapa namamu hyung?" tanya Baekhyun ramah.

"Namaku Kim Joon Myeon. Panggil saja aku Suho," kata Suho.

"Ha ha ha... kau mirip sekali dengan Lay Hyung. Nama asli dengan nama panggilan kalian sangat berbeda," kata Chanyeol sambil tertawa.

"Lay?"

"Ah, hyung tidak tahu ya, Lay Hyung itu salah satu dari kita. Lay Hyung itu baik sekali. Hyung pasti akan langsung akrab kalau bertemu dengannya nanti," kata Baekhyun.

"Eoh? Memangnya ke mana dia?" tanya Suho.

"Di hutan, melatih kekuatannya," kata Chanyeol lagi.

"Lay Hyung benar-benar berlatih keras mengendalikan kekuatannya dan menambah kemampuan," kata Baekhyun.

"Kau mau melihatnya hyung?"

"Bolehkah?"

Di hutan, Lay berhadapan dengan bunga-bunga yang harusnya layu karena usia. Sudah berhari-hari dia berusaha, tapi bunga-bunga itu tidak bisa mekar lagi seperti sediakala. Dia berlatih dengan merawat tumbuhan dan hewan-hewan di hutan yang terluka. Yang paling membantunya adalah tumbuh-tumbuhan. Dia baru saja bisa menyatukan lagi dahan yang patah dan mengembalikan daun yang robek.

"Dia sedang apa?" tanya Suho bingung.

"Lihat saja," kata Baekhyun.

Suho melihat pemuda itu berlutut di depan bunga yang kelopaknya berguguran entah karena apa, kelihatannya karena dirusak binatang dan angin. Lay tersenyum sambil menyentuh kelopak bunga-bunga itu satu persatu dan menempelkannya hingga bunga mawar itu kembali mekar.

"Luar biasa," gumam Suho.

"Kekuatan kita ini kan menghabiskan stamina, jadi Lay Hyung berusaha keras melatih kekuatannya agar di saat darurat bisa dilakukan secara maraton," kata Baekhyun.

"Gawat! Hujan!" seru Chanyeol kaget.

Suho langsung membuat barrier dari air untuk memayungi mereka berdua. Suho lalu berjalan ke arah Lay yang tampaknya tak peduli pada hujan. Pemuda itu langsung menghamparkan payung air di atas tubuh mereka yang basah kuyup. Setelah memastikan hujan tak akan menembus barrier itu, Suho menggunakan kekuatannya untuk menarik air yang membuat tubuh keduanya basah.

Lay menoleh ke arah Suho yang ternyata sedang tersenyum lembut ke arahnya. Dia sedikit kaget melihat payung air transparan di atas kepalanya.

"Walau punya kemamuan penyembuh, tidak seharusnya kau membiarkan dirimu basah Lay. Air hujan itu jahat, walau mereka memang cantik," kata Suho.

"Siapa?"

"Aku juga akan menjadi anggota keluarga kalian setelah ini," kata Suho lembut.

...

"Sial!" gerutu Kris.

Pemuda itu terbang sambil memeluk tubuh Tao. Pengejar mereka bisa menemukan rumah mereka. Ini terlalu cepat. Apa mereka harus tertangkap sekarang? Tidak! Bagaimana nasib Tao nanti kalau mereka sampai tertangkap?

"Gege..."

"Tenanglah Tao, gege rasa kita sudah aman. Mereka tak akan bisa berpikir kalau kita kabur lewat udara," kata Kris lembut.

"Mereka sudah pergi?"

"Sudah, aku melihat rumah di sana Tao. Kita harus minta bantuan," kata Kris saat hendak turun.

"Ge, jangan... bagaimana mereka nanti kalau kita harus melibatkan mereka?"

"Tao..."

"Jangan..." lirih Tao sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.

"Bertahanlah Tao. Aku janji kau akan baik-baik saja," kata Kris sambil mendarat tak jauh dari rumah itu.

Pemuda itu lalu berlari ke arah rumah itu. Dia sudah sangat lelah karena sudah lama tidak terbang. Tapi, tetap dipaksakannya kakinya untuk berlari.

Baekhyun memekik kaget melihat kondisi dua orang yang bertemu dengan mereka di tengah jalan itu. Wajah keduanya pucat pasi karena kedinginan, terutama anak lelaki yang digendong.

"Suho Hyung!" seru Chanyeol meminta Suho memayungi mereka juga.

"Tolong...! Tolong kami..." lirih Kris sebelum jatuh berlutut dengan nafas terengah-engah.

Chanyeol langsung menahan tubuh pemuda itu sebelum benar-benar jatuh menghantam tanah.

"Baekki, tolong aku. Dia sangat ringan. Kau pasti kuat menggendongnya," kata Chanyeol.

"Ne,"

"Lay Hyung, segeralah masuk ke dalam dan siapkan kamar. Suho Hyung, bantu aku memapahnya," kata Chanyeol sambil berusaha membuat Kris berdiri.

Di dalam rumah...

"Kau tidak apa-apa?" tanya Suho khawatir.

"Ne, gomawo. Aku hanya kelelahan karena sudah lama tidak terbang seperti tadi," kata Kris spontan.

"Terbang?"

"Ah, lupakan..." kata Kris datar. Dia kaget kenapa sampai membuka aibnya sendiri.

"Kau bisa terbang...?"

"..."

"Apa kau punya tanda seperti ini? Yang akan bercahaya setiap kali menggunakan kekuatanmu untuk terbang?" tanya Suho sambil membuka dua kancing teratas kemejanya. Terlihat lambang berbentuk tetesan air yang sangat indah.

"Itu..."

"Apa tanda itu mirip dengan ini?" tanya Suho sambil menggunakan kekuatannya untuk menarik air di tubuh Kris dan membuangnya keluar jendela untuk memperlihatkan cahaya dari lambang itu.

"Yang kumiliki...seperti ini," kata Kris sambil menunjukkan lambang naga di pergelangan tangannya.

...

"Bagaimana Lay?" tanya Tuan Kim dan semua orang dewasa di sana.

"Ini bukan penyakit. Tubuhnya bermasalah sejak awal. Aku tidak bisa secara total menyembuhkan anak ini. Aku hanya bisa menyembuhkan demamnya," kata Lay sambil menggeleng lemah.

"Lebih baik kita panggil dokter atau kita tanya dulu ke anak yang membawanya," kata Tuan Park. Nyonya Kim dan Nyonya Byun mengangguk setuju. Kedua lelaki itu keluar, meninggalkan dua wanita itu untuk merawat Tao dan juga Lay yang sedang menyembuhkan anak itu.

"Ehm, maaf nak, siapa namamu dan anak itu?" tanya Tuan Park.

"Aku Wu Yi Fan tuan. Dia Huang Zi Tao. Kami diserang berulang kali dan kabur. Kedua orang tua kami kelihatannya berhasil ditangkap dan kami tak tahu lagi harus ke mana. Tolonglah kami," pinta Kris sambil menunduk.

"Wu Yi Fan? Kau anak Wu Siwon? Benarkah itu?" tanya Tuan Kim kaget.

"Ne,"

"Astaga, kau sudah besar sekarang. Kau melupakan ahjussi? Ahjussi yang dulu membantumu berlatih terbang?" tanya Tuan Kim semangat.

"Young Woon ahjussi?"

"Akhirnya kau ingat juga. Ini takdir kita bisa bertemu di sini," kata Tuan Kim senang.

"Ahjussi, aku tidak bisa terus berada di sini. Pengejar itu mungkin saja akan melakukan hal buruk pada kalian semua," kata Kris sambil menunduk.

"Pengejar? Karena inikah ayahmu dan Huang Zhoumi meninggalkan Canada tanpa kabar?" tanya Tuan Kim.

"Ne,"

"Young Woon-ah, sebenarnya Huang Zhoumi itu siapa? Kalau Wu Siwon memang teman kita sejak SMA," kata Tuan Park bingung.

"Zhoumi itu adalah dokter yang dulu menangani persalinan istriku. Dia dokter yang direkomendasikan oleh Siwon. Kurasa mereka berteman baik," kata Tuan Kim.

"Ahjussi, Tao harus secepatnya sadar dan meminum obatnya. Kalau tidak, dia bisa semakin parah," kata Kris panik.

"Obat? Anak itu sakit apa sebenarnya?"

"Tao bertubuh lemah sejak lahir dan hidup bergantung pada obat-obatan ahjussi. Kekebalan tubuhnya juga sudah dirusak virus. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana kalau begini terus," kata Kris dengan wajah menahan tangis.

"Kekebalan tubuh? Jangan-jangan..."

"Jebal! Jangan sebut nama penyakit itu..." lirih Kris.

"Kita akan lakukan yang terbaik untuknya. Jangan berwajah seperti itu Kris. Anak itu tidak akan senang melihatmu menangis," kata Young Woon lembut.

.

.

.

tbc

Ada Hunhan di Chapter depan

hehehehe

Mind to Review?