A Merely Boy and Demon

watashi tsuite iku yo

donna tsurai sekai no yami no naka de sae

kitto anata wa kagayaite *

"Kau… tidak boleh memilih makanan, Naruto…"

Di dalam sebuah rumah kecil dengan asap yang mengepul dicerobongnya. Rumah kecil terbuat dari kayu, dan hanya bagian cerobongnya saja yang terbuat dari batu. Laki-laki yang memiliki luka sayatan di hidungnya tersenyum melihat anak kecil yang makan dengan lahapnya. Ia dulunya seorang prajurit pada perang Upper Canada Rebellion tahun 1837-1838 di Great Lakes Basin. Kecintaannya pada dunia mengajarlah yang membuatnya berhenti dan sekarang tinggal di pondok kecil pinggir hutan menjadi seorang guru bantu di sekolahan dasar.

Ia mengusap sisa makanan di bibir Naruto, "Tinggal lah bersamaku, Naruto."

"Benarkah? Kau tidak takut dengan aku? Orang lain menganggapku iblis…" katanya dengan murung menaruh sendoknya.

Menatap bocah kecil itu cemberut, laki-laki berambut coklat yang terlihat sabar itu tersenyum lagi, "Kalau kau masih mencuri, kau tidak boleh memakan roti buatanku." Mengalihkan perhatian anak kecil dihadapannya ini.

"Tidak boleh?"

"Iya, mencuri itu tidak baik, Naruto… bagaimana kalau milikmu yang dicuri?"

"Aku tidak memiliki apapun untuk dicuri?"

Laki-laki itu tertegun dan mengusap-usap kepala anak dihadapannya, "Kalau begitu hiduplah denganku. Kau memiliki mata yang sangat indah… dan aku tidak takut sama sekali meskipun kau memang iblis…" katanya mencoba mengambil hati anak laki-laki berambut pirang.

"Benarkah?"

"Tentu saja…"

Dan seperti sebuah dongeng pada umumnya, semuanya akan berakhir… sayangnya bagi Naruto masa indah itu hanya sesaat.

…o0o…

anata ga ite watashi ga ite
hoka no hito wa kiete shimatta

…o0o…

"Earl of Kent, Prince Alfred…"

Naruto mundur satu langkah berdiri di belakang Sasuke yang sedang mengobrol dengan Baron Rusell. Hyuuga Mansion memang sangat besar dan gelar kebangsawanan yang dimilikinya membuat orang-orang yang datang ke pestanya jauh lebih banyak dan lebih tinggi kelasnya. Ia tidak bisa membayangkan kalau dirinya suatu saat nanti bisa berada di tempat yang sama dengan Earl Alfred… ia bahkan tidak tahu siapa itu Alfred.

"Kau kenapa, Dobe…?" tanya Sasuke setelah ia menunduk dan melihat kepergian Baron Rusell untuk menemui Earl dan Viscount.

"Aku?" Sasuke menjawab dengan sekenanya, dan Naruto menggaruk pipinya yang sudah diberi alas bedak untuk menutupi garis di pipinya, "Aku baik-baik saja."

"Kau bersembunyi di belakangku, Dobe." Ia terdiam saat Naruto menyapu ruangan dimana orang-orang meliriknya lalu berbisik-bisik, "Kau takut pada mereka?" tanyanya mendapati orang yang melirik Naruto, gadis berambut coklat dan pirang. Sasuke mengenal gadis yang berambut coklat dan pirang itu, keduanya adalah pembeli tetap berlian yang dijualnya. Lady Scherryel Kirschbaum, dan yang berambut pirang Minourel Kirschbaum. Keduanya adalah sahabat pena Lady Hinata dari Jerman yang sedang mengunjungi Kent, mereka putri dari Marquis Kirschbaum.

"Ng… kau bisa bayangkan… bulan lalu kau dicaci maki dan sekarang menghadiri pesta yang didatangi oleh Earl!" bisiknya, sembari melirik seorang gadis berambut coklat.

Sasuke menghembuskan napasnya, "Aku tidak keberatan kalau kita sekarang langsung menemui Viscount Hyuuga, memberikan ucapan serta kado dan pulang." Ia sendiri juga merasa malas ditengah-tengah kumpulan orang sok penting seperti mereka. Toh… kalau Naruto sudah tiada… ia tidak perlu berpura-pura lagi menjadi seorang penjual batu permata. Mata kelamnya menatap Naruto yang pipinya merona kemerahan, 'Naruto tiada?'

"Unggg… aku juga ingin berbicara dengan Lady Hinata… dan memberikan selamat atas pertunangannya dengan seorang To-Tokugawa Shikamaru…"

"Kau tahu, Hinata akan bertunangan dengan seseorang, Naruto?" Sasuke benar-benar terkejut Naruto tahu pertunangan Hinata dan mengatakannya dengan tenang. Apakah mungkin ia curiga, pesta ulang tahun tapi dirayakan sebesar ini?

"Iya… aku tahu, kalau tidak salah ia seorang Dai-daimiou dari Nippon… atau Je-jepang?"

"Tokugawa Shikamaru…" Sasuke menunjuk laki-laki dengan tux hitam dan top hat-nya. Ia berdiri di samping Lady Hinata yang menggunakan gaun berwarna biru tua. Mereka hanya berdiam diri menatap Lady Hanabi yang sepertinya berbicara dengan seorang wanita berkimono, mungkin saudara Tokugawa-dono.

Sasuke melirik Naruto yang mencuri pandang pada dua gadis Kirschbaum. Lalu wajahnya memerah. Mungkin… ia salah berpikir…mungkin bukan Lady Hinata yang disukai Naruto? Ah… sudahlah, toh nanti ia akan tahu, "Kau tahu dari mana Lady Hinata akan bertunangan?"

"Gosip." Alis Sasuke terangkat dan wajahnya berkata 'huh?', Naruto tertawa tiga jari dengan suara yang pelan, "Aku 'kan Stalker!" lalu memasang pose 'v'.

Iblis berambut hitam itu menghembuskan napasnya, "Kau tidak seharusnya bangga dengan sebutan itu, Dobe."

Naruto memalingkan wajahnya saat seseorang memanggil Sasuke, dan kali ini seorang wanita cantik. Kenapa wanita selalu mencari Sasuke. Ia melihat Sasuke dari bawah dan atas. Tinggi – sekitar 6'1 kaki, setidaknya ia sudah tidak sebelumnya (11'3 kaki), Berat-proporsional. Saat Sasuke menjadi iblis pun ia tidak terlihat kurus maupun gemuk. Rambut dan mata sehitam malam, kulitnya pucat, lalu matanya tajam, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan wajahnya oval… ia menatap Sasuke seperti ilmuwan pada tikus percobaannya yang telah mati.

Hell! Ternyata Sasuke sangat tampan! Pantas saja banyak wanita yang melirik ke arah kami! Pikir Naruto, melihat lagi-lagi seorang wanita mendatangi mereka (baca: Sasuke). Ah, gadis itu… Scherryel, dan adiknya…Min-Min-Mi-entah siapa. Ia akhirnya sadar kalau iblisnya dikelilingi wanita. Beda level antara dirinya dan sahabatnya. Mungkin ini… rasanya, berteman dengan seseorang yang sangat tampan dan kaya? Berbeda dari dirinya yang tidak memiliki apapun, lagi bodoh dan penyakitan. Hahaha… memang kematian lebih tepat untuk menjadi pasangannya.

Ruangan yang besar terasa sempit. Begitu menurut Sasuke yang lelah diajak berbicara oleh gadis-gadis yang memintanya untuk berdansa. Apa mereka tidak kesulitan bergerak dengan gaun yang besar dan berat seperti itu. Ia tidak ingin peduli, karena ada hal yang lebih penting dari itu.

"Naruto?"

Lalu Sasuke sadar kalau Naruto sudah tidak ada diruangan besar itu.

Gelas yang tersusun dengan rapi menyerupai piramida. Puluhan jenis makanan, dan piring cantik, buah-buahan yang ditata artistik. Naruto mengelap iler imajinernya di dagunya. Kalau ia bukan seorang Naruto mungkin ia akan memilih untuk menatapnya dari pada memakannya dan lagi berkeliaran sendirian memancing orang lain untuk menatapnya. Apakah ia yang menggunakan tux-berwarna biru muda itu begitu aneh. Mungkin dalam pandangan mereka seperti monster berpakaian dan berdasi. Ia terkekeh, membayangkannya. Orang kaya juga bisa konyol!

"Mr. Uchiha…"

Ia membalikkan tubuhnya, seseorang…seseorang yang…seseorang yang ia kenal kah?

"Oh, maaf…" laki-laki berambut coklat itu menundukkan tubuhnya sedikit, "Perkenalkan nama saya Michael Windsor, Earl of Ulster."

"E-Earl… maaf atas tidak kesopanan saya," Naruto benar-benar tidak tahu kalau ia seorang Earl, karena biasanya Earl tidak berwajah terlalu ramah dan penuh senyum sepertinya, "Saya Uchiha Naruto."

"Tidak… mungkin saya yang mengganggu anda." Katanya dengan sopan, ia adalah orang pertama yang menyapa Naruto. Selain karena Naruto bukan siapa-siapa, ia pun memiliki reputasi yang kurang baik. Mungkin Earl ini tidak pernah mendengar satu atau dua isu tentangnya?

Seperti mendengar isi kepalanya, Earl berpakaian serba hitam itu tertawa kecil, "Kau pasti bingung, tiba-tiba saya mendatangi anda Mr. Uchiha."

"Ung… begitulah…"

"Aku mendengar beberapa hal darimu, dari gossip yang beredar di sekitar wilayah ini. katanya kau seorang monster? Tapi karena tidak memiliki bukti itu, tentu kerajaan tidak dapat berbuat apapun. Hahaha…" laki-laki paruh baya itu tertawa, "Lagi pula aku tidak melihat 'sisi monstermu', menurut cerita yang berkembang kau selalu menyebabkan kematian?"

Laki-laki berambut pirang itu menunduk, "Aku hanya selalu ada ditempat kejadian ketika ada kematian tragis, Earl."

"Selalu."

Naruto mengangguk, "Iya… dan itu permasalahan yang aku sendiri pun tidak mengerti." Lalu ia tertawa garing.

"Kalau berbicara seperti itu, kau seakan-akan membenarkan isu itu, Mr. Uchiha. Hahahaha… anda ini benar-benar orang yang menarik seperti yang saya dengar." Laki-laki berambut coklat dan bermata coklat madu itu tersenyum, "… dan anda juga unik seperti yang ia katakan." Ia menepuk punggung Naruto, "Tegakan tubuhmu pria muda, karena sekarang kau sudah bukan lagi 'hanya Naruto'." Lalu pergi meninggalkan Naruto dengan tumpukan makanan di piringnya.

"Heeee! Sejak kapan ada makanan di tanganku!" ia menghembuskan napasnya, "Sepertinya Earl itu yang menaruh seenaknya." Dan melihat apa saya yang ada dipiringnya. Udang, dan fishcake makanan favoritnya.

Naruto tersenyum, dari mana ia tahu kalau dua ini makanan kesukaannya?

Earl yang aneh.

"Cih! Kemana si Dobe bodoh itu!" kata iblis yang sedang kesal mencari seorang dobe. Ia sudah keluar Mansion dan menanyakan penjaga diluar, mereka tidak melihat laki-laki berambut pirang. Hyuuga Mansion dua kali lebih luas dari miliknya. Kalau sampai ia harus memutari Mansion sebesar ini!

Setelah menimbun makanan dalam perutnya, Naruto kembali berkeliling Mansion. Di bagian selatan Mansion ia tahu kalau ada rumah kaca di sini, tapi ia tidak akan menyangka kalau akan sebesar ini. Rumah kaca yang berisi tanaman dan pohon dari negara tropis di tengah-tengah kebun bunga mawar. Ia tidak menyangka suatu hari nanti ia bisa melihat Lady Hinata dari dekat lagi. Ini semua karena,

"Mr. Uchiha?"

"Lady Hinata dan Tokugawa Shikamaru-dono, Kami ucapkan selamat atas pertunangan anda." Kata Sasuke dengan tenang, setelah ia mengucapkan selamat ulang tahun pada Hanabi.

"Terimakasih atas kedatangannya Mr. Uchiha…" sahut Hinata yang disela oleh Shikamaru, "Kalau kau mau berbicara dengan Hinata untuk mencari temanmu, silakan saja."

Mata Hinata terbelalak, "Ada apa dengan Mr. Naruto?"

'Naruto' huh?

Sasuke menundukkan tubuhnya pada Shikamaru, ia tidak habis pikir dari mana laki-laki yang terlihat malas dan selalu mengantuk itu tahu apa yang sedang ia lakukan, "Teman saya mungkin… tersesat Lady Hinata, jadi saya berencana untuk meminta bantuan anda," dan Shikamaru menyapu ruangan. Kemudian menghembuskan napasnya. Sasuke benar-benar tidak mengerti orang macam apa dia. Tapi yang jelas ia memang bukan orang sembarangan.

"Baiklah kalau begitu, a-aku pergi membantunya dulu, Shikamaru-kun." Kata Hinata lalu pergi dengan Sasuke setelah Shikamaru mengizinkannya.

Mereka berdua mengelilingi Mansion dengan hening. Sasuke tidak tahu apa yang harus ia lakukan, mungkin menanyakan sesuatu padanya seperti, "Bagaimana ia bisa mengetahui kalau aku mencari Naruto?" Sasuke rasa ia tidak perlu menjelaskan siapa itu 'Naruto' karena sepertinya Lady satu ini masih menaruh perhatian khusus pada sahabatnya.

"Shikamaru-kun selalu seperti itu, terang-terangan dan sangat pandai." Jawabnya sedikit lirih, "Ia selalu tahu apa yang terjadi dan menerima hal itu, tidak mempersulit sesuatu, mungkin ini yang tepat."

Hn… bisa dibayangkan olehnya kenapa mereka berdua yang terlihat tidak serasi ini mau menerima perjodohan. Ia tidak akan terkejut kalau saat mereka pertamakali bertemu Tokugawa-dono itu berkata 'Kita sepertinya sengaja didekatkan, aku tidak tahu kau sudah memiliki orang kau suka atau belum, tapi kurasa lebih baik kita menerima perjodohan politik ini.' dengan tenang dan tanpa keraguan. Ia pun tidak akan kaget kalau Hinata menerima perjodohan itu karena takut pada ayahnya dan calon suaminya merasa malas kalau harus mengelak. Karena si Jenius itu tahu, orang tuanya pasti berusaha menjodohkan dengan orang lain lagi. Hal itu merepotkan, tapi lebih merepotkan lagi kalau calonnya lebih menyebalkan dan berisik dari Hinata yang sangat tenang.

Mereka sampai ke bagian selatan Mansion dan melihat ada dua orang yang sedang berdiri di koridor berlawanan arah dengan mereka. Laki-laki berambut pirang dan panjang, yang ia kenali sebagai 'Dobe' dan seorang gadis berambut coklat dan menggunakan gaun berwarna merah muda. Scherryel Kirschbaum, mau apa ia dengan Naruto! Dan lagi Naruto tertawa seperti itu, lalu… wajah bodoh itu… terlihat bahagia, tenang dan gelisah pada saat yang sama… tapi yang paling membuatnya tertegun adalah selapis rona kemerahan yang ada di pipinya.

"Naruto menyukai Scherryel." Kata Hinata mantap, dan ini membuat Sasuke menatapnya, "Aku selalu memperhatikan Naruto dari kejauhan… mungkin kau sudah mendengar cerita dari Naruto? Tentang kami dulu? Benar… aku tidak mungkin kan tidak menyadari mata berwarna biru yang selalu memperhatikanmu dari kejauhan." Sasuke terdiam, ia merasa ada emosi tersembunyi dibalik kata-kata gadis ini yang menyatakan 'tolong diam dan dengarkan aku', "Lalu… Scherryel berkunjung ke Inggris beberapa tahun lalu, dan mata biru itu terpana melihatnya."

Mereka terdiam melihat dua orang yang tertawa bahagia, "Bukankah Scherryel sangat cantik? Mata hijaunya… kadang aku iri dengan mata hijaunya. Sama seperti mata Naruto yang sangat cantik…" lanjutnya lagi.

"Kau yang membuat penutup mata untuknya." Sela Sasuke.

"Iya, aku yang membuatnya, itu karena warga desa terlalu kejam. Mata seindah itu, hanya karena warnanya berbeda dengan yang satunya bukan berarti ia iblis atau setan. Naruto hanya Naruto…ia special."

"Lalu kau membuat orang lain agar tidak dapat melihat mata itu lagi… seakan-akan kau mengatakan 'kalau orang lain membencinya, maka mata itu buatku saja…" ia terdiam dan menyadari Hinata menggenggam erat gaunnya, "Kau menyukainya." Ini bukan pertanyaan, dan Hinata pun tidak ingin menanggapinya.

Hinata tersenyum, "Shikamaru-kun bilang sepertinya Scherryel menyukaimu. Jadi… kumohon jangan sakiti hati Naruto.", ia menunduk perlahan, "Aku pergi dulu, sebelum ayah dan tamu lainnya mencariku, Mr. Uchiha."

"Hn… terimakasih, Lady Hinata."

"Bagaimana, Naruto? Apakah besok kau mau pergi dengan kami untuk merayakan hari ulangtahunku dan Hanabi?"

Scherryel yang berulang tahun tanggal 28 Maret satu hari setelah ulang tahun Hanabi (hari itu), mengajak Naruto untuk pergi ke pantai bersamaan dengan Keluarga Hyuuga. Naruto belum pernah ke pantai, ia ingin pergi sebenarnya… tapi kalau ia sendiri, ia merasa out of place nanti. Ia mengusap-usap bagian belakang kepalanya seakan-akan menelusuri rambut panjangnya.

"Kau bisa membawa temanmu… si Mr. Uchiha itu…" kata gadis itu dengan santainya.

"Oh, maksudmu Sasuke… tapi sepertinya Sasuke sibuk..." bukan sepertinya, tapi Sasuke memang selalu sibuk.

Gadis itu tersenyum lagi, "Kalau begitu kau saja, Naruto… kau tahu, keluarga Hyuuga semuanya terlalu tenang dan pendiam… karena kau orangnya menyenangkan, jadi aku ingin kau ikut denganku… bagaimana?"

"Ung… nanti akan aku tanya kan pada Sasuke dulu ya?" wajahnya sudah semerah udang rebus, 'menyenangkan katanya'…

"Kalau kau mau ikut besok subuh datang ke Mansion saja…ya?"

"Ngg…" wajahnya bertambah merah, "Baiklah, terimakasih… Lady Scherryel… aku pergi…dulu, takut-takut kalau Sasuke mencariku."

Naruto pergi dari hadapan Sakura dan berjalan menuju aula utama Mansion itu lagi. Ia berharap agar Sasuke tidak mencarinya dan marah padanya karena tiba-tiba menghilang dari sisinya. Laki-laki berambut pirang itu tidak menyadari ada seseorang yang berjalan dengan perlahan di belakangnya. Ia tenggelam dalam pemikirannya yang sedang aktif mencari alasan 'keluyurannya' pada Sasuke. Hingga sebuah telapak tangan mendarat mulus dikepalanya.

'Plak'

"Sakiiitttt! Mau apa ka-! Sasuke!" ia terkejut dan membalikan tubuhnya. "Kau!" mungkin Sasuke mencarinya?

"Hn…"

"Jangan hanya menjawab, 'Hn'! itu bukan jawaban! Lagipula kenapa kau memukulku!"

Kenapa aku memukulmu? Pikir Sasuke sambil menatap Naruto dengan kebosanan. Ia ingin sekali menjawab 'itu karena kau terlihat bodoh, apalagi kalau dihadapan seorang gadis. Berwajah merah malu-malu seperti seorang perawan yang hendak dilamar saja!' ia terdiam…

"Kau masih perjaka kan, Naruto?"

"Ha? Apa!"

"Perjaka?"

Wajah Naruto berubah letak total, seluruh bagian di wajahnya bergerak kesegala arah saking terkejutnya, "Tentu saja! kau pikir aku pelacur apa! Aku memang tidak memiliki teman! Tapi aku bukan murahan, Teme!" katanya sambil menutupi bagian tubuhnya. Oh… dan Sasuke percaya ia masih perjaka, "Lagipula mana mungkin seorang pria dan wanita melakukan hal 'itu' tanpa menikah terlebih dahulu!" ditahun 1851 ini, walaupun banyak orang yang semakin aneh… tapi Naruto tidak seperti itu! hish, ia tetap memegang adatnya.

"Hn…" tanggapnya dengan kebosanan, tapi ia menemukan hal yang menarik, "Kau tahu apa yang dimaksud 'itu'? kau kan bodoh? Kau tahu dari mana?"

Wajah Naruto kembali merah, bahkan jauh lebih merah yang pernah ia lihat. Ia terdiam dan gelisah, matanya kesana kemari kecuali menatap Sasuke.

"Kau pernah mengintip orang yang melakukan hal itu."

"Tidak! Aku tidak pernah melakukan hal tidak senonoh seperti itu, Teme!"

"Lalu?" telisiknya sembari menyeringai. Lord! Wajahnya sangat aneh, dan ia panik. Rasanya memang menyenangkan menggoda Naruto seperti ini.

Bibirnya mencibir, dan wajahnya semerah kepiting rebus, lalu matanya tidak pernah fokus, "I-itu… karena aku pernah bermimpi…"

Oh… ternyata ia memang 'laki-laki' jadi wajar ia bermimpi satu atau dua kali yang seperti itu diusianya.

"Hn… ternyata kau sudah bukan anak-anak."

"Tentu aku ini pria! Pria! Bukan bocah atau anak-anak, Teme! Hish!"

Mereka berjalan beriringan, dan seringaian tidak lepas dari bibir Sasuke.

"Hei, Naruto…"

"Iya…"

"Kau memimpikan seorang wanita atau laki-laki?"

"GGGGaaaaahhhh!"

Aula Hyuuga Mansion yang sangat besar itu jumlah orangnya semakin menipis, sepertinya waktu memaksa penghuni kerajaan ini pun untuk mengistirahatkan tubuhnya. Kebanyakan tamu seperti para Earl, Viscount, Marquess (untuk Jerman Marquis), Baron dan para Lady lainnya menginap di Mansion yang sangat besar ini. Sayangnya tidak untuk kedua Uchiha. Mereka harus pulang karena Silverster masih menunggu mereka di Uchiha mansion.

Naruto akhirnya bertemu dengan Hinata dan menyalami keduanya dengan senyum yang lebar. Ia pun sudah bertanya pada Sasuke, apakah besok ia boleh ikut ke pantai dengan para Lady Kirschbaum. Awalnya Sasuke bingung, ia berada diantara dua pilihan. Kalau 'iya', fungsinya sebagai teman yang baik tidak akan terlaksana, karena mengatakan 'iya' seperti mengatakan ia mendukung Naruto untuk mendekati Scherryel yang sepertinya memang menyukainyadan ingin memanfaatkan kepolosan Naruto. Tapi kalau ia menjawab 'tidak' dan mengatakan ia tidak memiliki harapan bersama Scherryel… ia pasti akan bersedih… kenapa berteman dengan manusia dan dobe sepertinya sangat sulit? Mungkin ke-dobe-annya menular?

"Hei, Sasuke…" panggil Naruto saat mereka berjalan keluar Mansion.

"Hn?"

"Aku ingin menemui, Lady Scherryel untuk memastikan kalau kita tidak akan tertinggal!"

Langkah Sasuke terhenti, "Sudah kukatakan sebaiknya kau tidak usah ikut, Naruto…" ia mencari alasan yang tepat, "Kau masih dalam masa penyembuhan, ingat? Lagi pula udara masih terlalu dingin untuk ke pantai,"

"Aku belum pernah ke pantai sebelumnya, Teme!"

"Aku tahu, kita bisa ke pantai musim panas nanti."

Naruto cemberut, bibirnya mengumamkan sesuatu yang tidak dapat didengar Sasuke, "Aku…ingin bersama dengan Lady Scherryel,…"

Tentu aku tahu kau menyukainya, Dobe. "Jangan terlalu percaya diri ia menyukaimu, Dobe… nanti kalau jatuh kau… akan sakit."

"Aku tahu! Tapi apa kau tidak melihat, bagaimana wajahnya saat ia mengajakku, Teme! Aku yakin ia menyukaiku!" ungkapnya dengan semangat.

"Hn… terserah kau saja, aku sudah mengingatkanmu." Biar saja ia paham kalau gadis itu hanya me'manfaat'kannya. Seorang teman boleh 'kan, melakukan hal seperti ini? Andaikan Naruto jauh lebih cerdas untuk memahami hal ini.

Naruto berlari memasuki Mansion kembali setelah mereka berjanji akan bertemu di depan gerbang Mansion. Ia bertanya pada maid dan pelayan yang masih melayani para tamu di pesta itu. Salah satu dari maid mengatakan kalau Scherryel sedang bersama dengan Minourel di balkon timur lantai dua, melihat gugus bintang musim semi.

Dua gadis itu sepertinya sedang berbicara mengenai hal yang tidak dapat dimengerti Naruto. Saat itu laki-laki berambut pirang itu sadar kalau dirinya memang terlalu bodoh, seperti yang sering dikatakan Sasuke. Scherryel yang menopang tubuhnya di kursi dan menghadap langit, serta Minourel, gadis berambut pirang panjang berdiri di hadapan teleskop.

"Kira-kira besok Sasuke akan ikut kita ke pantai tidak ya?" dan telinga Naruto menjadi siaga. Ia terhenti di depan pintu yang terbuka sebagian, lalu memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka berdua sesaat keduanya menyebutkan nama Sasuke. Intuisinya mengatakan hal ini bukanlah hal yang menyenangkan baginya.

Gadis berambut pirang dan bergaun ungu itu berjalan menuju kursi yang kosong di samping Scherryl. Ia mengambil cangkir yang sepertinya berisi Earl Grey, dan duduk sembari menyruput teh beraroma citrus itu. Langit malam itu sangat indah, dan dipenuhi bintang-bintang, sayangnya perkataan dari gadis berambut coklat itu mengancurkan hatinya.

"Tentu ia akan datang."

"Bagaimana kau bisa yakin, My Sista?"

Scherryel berpaling padanya dan menyeringai, "Aku sudah mengajak sahabat baiknya, kau tahu Naruto? Yang wajahnya seperti anak kucing kecil itu. Seingatku, Hinata pernah cerita kalau ia punya garis dipipinya yang menyerupai kucing."

"Oh… bocah berambut pirang itu ya?" Minourel menaruh cangkirnya, "Kau yakin ia bukan play toy-nya, Sasuke! habis… menolong seseorang yang tersesat di jalan dan tiba-tiba menjadi keluarga dari orang yang kaya raya! Kau percaya itu?"

"Mungkin memang benar… lagi pula jangan merusak fantasiku mengenai Sasuke dong! Ia itu kesempurnaan yang ada di bumi ini! Tampan, cerdas, dan kaya raya. Berbeda sekali seperti sahabatnya yang seperti kucing kecil yang polos."

Gadis berambut pirang terkekeh, "Kau tidak boleh berkata seperti itu, Scherryel… mau bagaimana pun juga kau akan berhutang padanya."

"Nanti kalau ia bisa menjadi batu loncatan yang baik dan membukakan jalan bagiku untuk mendapatkan Sasuke!" katanya penuh dengan keceriaan.

"Aku juga suka Sasuke… tapi," Minourel menyentuh bibir cangkir tehnya, seakan ingin mengelap jejak lipstiknya, "Memanfaatkan orang yang menyukaimu itu… kurang baik menurutku, Scherryel."

"…" Scherryel terdiam.

"Apalagi Hinata akan selalu ada di sampingnya."

Scherryel melirik kakaknya, "Jangan katakan hal itu, nanti aku bocorkan kalau kau memendam perasaan pada calon suaminya."

'Kreeeettttt' jendela kaca yang berdecit, membuat keduanya memalingkan wajahnya. Mungkin hanya angin pikirnya, dan tidak menyadari ada seseorang yang menjauh dari ruangan itu dengan bersusah payah memelankan langkahnya.

"Naruto?" tanya Sasuke yang melihat temannya seperti akan menangisi sesuatu dan kelelahan membuatnya terlihat lebih tua.

"Aku baik-baik saja…" ia terdiam, ia tahu Sasuke pasti khawatir melihatnya seperti ini, "Aku berkeliling mencarinya tapi tidak dapat menemukannya. Hoaaam… aku ingin menyentuh kasurku."

Sasuke menepuk kepalanya, dan mengusap-usapnya perlahan saat sahabatnya menyandarkan kepalanya pada pundaknya, "Hn…"

Keesokan harinya, Naruto jatuh sakit. Selama hampir 6 hari ia tidak keluar dari kamarnya dan Sasuke tahu ada yang salah dengan sahabatnya. Ia sudah menulis surat permintaan maaf untuk Naruto yang tidak dapat ikut ke pantai, pada Kirschbaum. Kesibukannya menjual perhiasan dan Naruto yang tidak ingin ditemui siapapun, membuatnya khawatir.

"Naruto…" panggilnya perlahan. Tidak ada jawaban dari dalam, tapi Sasuke tahu… kalau temannya itu tidak sedang tidur. "Aku masuk." Katanya sembari membuka pintu kamar Naruto.

Tubuh Naruto yang semenjak tinggal di Uchiha Mansion bertambah gemuk sekarang kembali kurus lagi seperti semula. Seakan-akan apa yang dimakannya tidak berefek apapun bagi tubuhnya. Wajahnya tirus, dan kemerahan. Sepertinya ia masih demam. Salah satu maidnya pun mengatakan kalau semalam ia kembali mimisan lagi. Itu artinya suhu tubuhnya sangat tinggi, dan ia meminta pada maid-nya apapun yang terjadi pada Naruto, ia harus mengetahuinya.

"Kau kenapa. Dobe?" ia duduk di sebelah Naruto yang membalikkan tubuhnya. Tidak mau menjawabnya, "Semenjak kau pergi untuk menemui Lady Scherryel-" tubuh Naruto tersentak, "-kau jadi seperti ini, para maid, juru masak dan tukang kebun khawatir padamu. Heck! Mungkin bunga mawar di kebun pun demikian."

"Kau mau menghiburku, Sasuke?" katanya dengan serak, Sasuke menyentuh lengan Naruto dan merendahkan tubuhnya untuk melihat ekspresi Naruto, Mata mereka berdua bertemu, "Kau pasti sudah tahu kalau Scherryel menyukaimu. Makanya kau mati-matian menolak agar aku tidak ikut ke pantai, ya…kan?"

Siapa yang mengatakan seorang Naruto, dobe? Mereka tidak tahu siapa Naruto kalau begitu!

"Hn…" ia tidak perlu membenarkan atau menolaknya, karena Naruto sudah tahu jawabannya. Lagi pula teman yang baik tidak membohongi temannya.

"Apa… apa kau menyukainya, Sasuke?"

*degh*

Sejak kapan ia punya jantung yang bisa berdebar seperti ini hanya karena temannya menanyakan apakah ia menyukai seseorang yang juga disukai temannya itu? lagi pula… kapan ia memiliki organ yang bersifat kemanusiaan itu?

"Aku seorang iblis, aku tidak mau merendahkan diriku hanya untuk gadis bodoh seperti dirinya."

Naruto tidak memalingkan tubuhnya, tapi Sasuke tahu kalau Naruto sedang tersenyum sedih, "Begitu…" ia terdiam, "… maaf."

"Untuk apa?"

"Karena aku telah merendahkan martabat keiblisanmu (?) karena memintamu untuk menjadi temanku. Aku yang bodoh, lemah, buruk rupa dan penyakitan… tidak ada yang menginginkank-"

'Greb'

Sasuke memeluknya, seperti seorang ibu yang memeluk anaknya setelah anak itu selamat dari kecelakaan. Kuat dan lemah pada saat yang sama.

"Hentikan Naruto… kau tidak bodoh, kau tidak lemah, kau sangat menawan dan aku-…" ia terdiam saat Naruto tidak berbuat apapun, tidak melepaskan dirinya tidak juga memeluk balik, "Kau memintaku untuk menjadi temanku, dan aku mengabulkannya, Naruto. Jadi jangan pernah mengatakan tidak seorang pun menginginkanmu."

"Itu karena perjan-"

"Aku bisa mengingkari perjanjian itu, kau bisa memutuskan perjanjian itu. tapi kita tetap bersama, dan kita tetap berteman, berada disisi satu sama lainnya, Naruto. Jangan berpikir hal yang tidak-tidak."

"Gadis itu menyukaimu karena aku tidak memi-"

"Lady Hinata menyukaimu sekalipun ia memiliki segalanya yang kau perlukan tapi kau menyukai Scherryel 'kan?"

"Hin-" matanya terbuka dengan lebar. "Kau bohong, Ia akan menikahi Tokugawa-"

"Maka dari itu kita berdua diundang di acara pertunangannya seminggu lalu, kau pikir karena mereka memang baru menyebar undangan seminggu lalu? Tidak Naruto… itu... kedatanganmu adalah hadiah dari Tokugawa pada Lady Hinata."

"Tapi aku tidak tahu ka-.."

"Maka dari itu, ia ingin agar calon istrinya melihat orang yang disukainya."

"Tapi-"

"Kau tidak akan selalu mengerti bentuk dari cinta, Naruto."

"…"

Tangan Naruto yang terdiam, ia gerakan dan meraba sisi tubuh Sasuke, punggung- hingga ia membalas pelukan Sasuke. Ia tersenyum, rasanya sakit hatinya mulai hilang, entah sihir apa yang digunakan sahabatnya itu. Ia menepuk-nepuk punggung Sasuke dan melihat keluar ruangan. Ia tidak sadar bunga-bunga mulai menampakkan kuncupnya dan sebagian kecilnya memekarkan bunganya.

"Aku ingin melihat salju, Sasuke…"

"Salju hanya ada di musim dingin, Dobe."

"Aku ingin duduk di sebelah boneka Salju, sambil meminum coklat panas bersama dengan seseorang."

"Bersabarlah sampai musim dingin nanti, Dobe."

"Atau kita menyerut es? Dan kita tebar kan? Tapi di musim semi ini, dimana kita temukan es? Atau kita ke kutub utara saja?"

"Terlalu jauh dan dingin, Dobe. Lagi pula salju akan turun ditiap musim dingin."

"Atau kita memotong kecil-kecil benda seperti kapas…ng… atau marshmellow, aku bisa langsung memakannya."

"Dobe…"

"Sasuke, rasanya aku tidak akan pernah melihat salju lagi."

"Dobe…"

"Sasuke…?"

…o0o…

yamete uso wa anata rashiku nai yo
me o mite korekara no koto o hanasou
watashi kakugo shiteru

…o0o…

….

Tbc

A/N: *I'll follow you/No matter how bitter it is, even within the darkness of the world/ Surely, you're shining

*You exist, I exist / And other people disappeared

*Stop it, telling lies isn't like you / Look at my eyes and let's talk about things from now on / I'm ready

#God Knows-Suzumiya Haruhi ost.

Here's the answer, Naruto bukan iblis atau apapun.

Thanks to: Yuu-chan, Hime-chan, Mamitsu-san, Haki-chan, Kay-chan, Ika-chan-san, yuzuru-san, Yassir-san, Wia-chan, Fayrin-san, Hyull-chan. :))

See you next killing time!