Sekarang giliran Hunhan dan Kai
Ochaken Present...
.
.
.
.
Chapter 5
We Still Together
30 April 2007, Seoul, Korea Selatan
"Luhan Hyung... kita harus segera lari dari sini. Mereka semakin mendekat," kata Kai panik saat melihat Luhan bersandar di tembok yang menghimpit jalan tikus tempat mereka berlari.
"Pergilah Kai...aku sudah lelah...biarkan saja semuanya berakhir seperti ini...aku tidak sanggup lagi. Setidaknya aku masih bisa mengulur waktu untuk membuatmu pergi," kata Luhan dengan tatapan mata kosong.
"Hyung..."
"Kalau hanya dirimu sendiri, kau pasti bisa teleport ke tempat yang jauh. Aku akan menggunakan kekuatanku untuk menghadang mereka," kata Luhan.
"Hyung, aku tidak mau. Kau bisa saja mati jadi bahan percobaan. Jangan seperti ini hyung," kata Kai sambil menggenggam tangan Luhan dan meremasnya lembut untuk memberikan kekuatan pada pemuda itu.
"Lebih baik hanya aku yang tertangkap daripada kau juga," kata Luhan.
"Mereka di sana!" seru beberapa orang berbaju hitam dari kejauhan.
"Pergi!"
Luhan menatap Kai sedih. Ada harapan yang besar di sana... harapan agar pemuda di hadapannya akan baik-baik saja di dunia yang keras ini. Agar Kai bisa tertawa bahagia. Dia sudah gagal menyelematkan Sehun...dia tidak mau gagal lagi.
"Kita berjanji akan hadapi ini berdua kan hyung. Ini janji kita pada Sehun. Kita akan terus menunggunya berdua," kata Kai tanpa mempedulikan pengejar mereka.
"..."
"Tak ada artinya kalau hanya aku yang selamat hyung. Walau kita tertangkap, kita masih bersama. Saat kita bebas, kita juga akan bersama. Aku sudah janji pada Sehun untuk menjagamu," kata Kai.
BWOSH!
Tiba-tiba terpaan angin yang sangat kuat menghantam mereka. Kai terbelalak kaget saat tahu siapa yang sudah menghempaskan angin kuat itu. Ini bukan hal yang baik.
"Ukh," Kai berdiri di hadapan Luhan, berusaha menghalangi Luhan melihat siapa yang menyerang mereka.
"Sehun..." lirih Luhan.
Air mata pemuda itu menetes. Dia ingat betul perasaan saat Sehun mengeluarkan angin seperti ini. Rasa aman yang tak pernah berubah. Pelindung kokoh yang menjaganya. Kai melihat Sehun hanya sendirian dan melakukan teleportasi ke sana. Itu jebakan.
"Kai!" seru Luhan panik.
Terlambat, orang-orang itu berhasil menangkap Kai. Mereka menyuntikkan sesuatu ke leher Kai. Mungkin semacam obat bius. Mereka juga menyeret Sehun.
'Aku akan melindungi Luhan Hyung. Biar aku yang menghadang mereka. Aku lebih kuat dari kalian. Bawa Luhan Hyung pergi Kai!'
'Aku berjanji pada Sehun akan melindungimu...'
"Bagaimana dengan yang itu?" tanya salah satu orang itu sambil menunjuk Luhan.
"Dia hanya orang biasa. Biarkan saja dia pergi. Toh, dia tak ada artinya," kata yang lain.
"Cepat angkut dua orang ini!" seru seseorang lain.
'Hyung, aku akan jadi lebih kuat lagi. Saat itu nanti, hyung tidak perlu merasa takut pada apa pun dan aku berjanji akan melindungimu hyung,'
'Sehun sungghuh-sungguh dengan ucapannya hyung,' kata Kai.
"Sehun...Kai..."
'Anak iblis!'
'Hyung bukan anak iblis. Hyung adalah seseorang yang istimewa,' kata Sehun.
'Kau penting untukku hyung,' kata Sehun lagi.
Tepat saat orang itu akan membuka mobil, pandangan Luhan menjadi benar-benar kosong. Tanda di pergelangan tangannya bersinar sangat terang. Pemuda itu menghempaskan mobil itu hingga menabrak dinding. Semua orang menjerit kaget melihatnya.
Kai yang masih tersadar langsung melakukan teleportasi ke tempat Luhan sambil membawa Sehun. Kemampuan Luhan masih tidak terkontrol. Dia melempar apa saja yang ada di sekitarnya ke arah orang-orang itu secara membabi buta.
"Ukh...aku di mana...?" keluh Sehun. Entah apa yang terjadi, tapi Kai bersyukur karena Sehun kelihatan sudah kembali menjadi Sehun mereka.
"Sehun... tolong hentikan Luhan Hyung!" seru Kai panik. Tubuhnya sudah benar-benar lemas karena pengaruh obat.
"Kai?"
"Cepat hentikan Luhan Hyung..."
"Luhan..."
Sehun menoleh ke arah Luhan yang kelihatannya tidak sedang dalam keadaan sadar. Pemuda menangis. Luhan menangis walau pandangannya kosong.
"Hyung! Hentikan..." kata Sehun sambil memeluk Luhan dari belakang.
"..."
"Hyung, ini aku Sehun...ini aku Sehunniemu. Berhenti hyung...Lulu Hyung, Luhannie Hyung, Hunnie Hyung...tolong berhenti," kata Sehun lembut. Pemuda itu berbisik tepat di telinga Luhan.
"Se...hun..."
"Ne, Hyung, ini aku Sehunniemu. Hentikan ini sekarang hyung," kata Sehun.
"AWAS!" teriak Kai panik.
DOR!
"Hyung!"
Sehun kaget karena Luhan masih bisa melindunginya. Peluru itu tepat mengenai bahu Luhan dan membuat pemuda itu langsung jatuh ke dalam pelukan Sehun.
"Kai, kau masih bisa membawanya pergi?"
"Aku tak akan meninggalkanmu lagi seperti dulu. Aku bisa, tapi kita tak akan tahu ke mana kita bisa pergi..."
"Ke mana saja Kai, yang penting pergi dari sini," kata Sehun sambil menggenggam tangan Kai.
Dalam sekejap mereka langsung berpindah tempat membuat pengejar mereka mengumpat-umpat karena kesal.
"SIAL!"
...
Kediaman Park, Jeju, Korea Selatan
BRUAK!
"Suara apa itu?" tanya Baekhyun kaget.
"Akan kulihat," kata Chanyeol sambil beranjak dari ruangan tempat mereka berkumpul.
Setelah merawat Tao, Lay langsung jatuh tertidur. Kris juga langsung tertidur karena kelelahan. Para orang tua pergi entah ke mana untuk membereskan beberapa hal, membeli obat, bahan makanan, dan pakaian. Mereka juga akan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada anak-anak itu.
Ini bukan hari yang menyenangkan untuk mereka, jadi, anak-anak itu memutuskan berkumpul di satu ruangan. Kris tertidur sambil memeluk Tao yang masih belum sadar. Lay sendiri tertidur di pangkuan Suho. Baekhyun tadi juga hampir tertidur di pelukan Chanyeol kalau saja tak ada suara tadi. Akan tetapi, suara itu tampaknya tidak membuat tiga orang yang sedang tidur itu terbangun. Hanya Lay yang terusik sedikit dan kembali tidur setelah menggeliat pelan.
"Aku ikut," kata Baekhyun.
"Aku khawatir mereka adalah pengejar atau orang jahat. Lebih aman kalau kau bersama Suho Hyung dan yang lain di sini," kata Chanyeol.
"Justru itu," kata Baekhyun takut.
"Ada tiga orang yang harus dilindungi di sini Baekki. Lay Hyung dan Kris Hyung tidak dalam kondisi bisa menggunakan kekuatan. Tao benar-benar butuh perlindungan," kata Chanyeol memberi pengertian.
"Jangan khawatir Baekki, hujan bilang yang datang tadi bukan sesuatu yang jahat. Walau hujan ini nakal, mereka tidak pernah berbohong," kata Suho menenangkan.
Dalam hati, Chanyeol benar-benar kagum dengan Suho yang bisa memanfaatkan air sebagai senjata dan juga sahabat terbaiknya. Pemuda itu bahkan bisa mencari informasi dari air dan memanfaatkan apa pun yang berbentuk seperti liquid. Pemuda itu bahkan bisa membantu Lay memompa darah untuk kembali mengalir ke jantung selagi Lay berusaha menyelematkan hidup dan menggerakkan jantung itu tadi.
Di luar...
"Di mana ini?" tanya Sehun lirih.
Mereka terjatuh keras sekali. Kai bahkan sampai pingsan karena jatuh. Biasanya Kai sudah menyiapkan medan pendaratan, tapi kali ini Kai benar-benar tidak menyiapkan apa-apa. Untung dia bisa menempatkan Luhan di atas tubuhnya, jadi pemuda itu tidak menghantam tanah. Kai bahkan tak bisa memperhitungkan di mana mereka akan keluar dari lubang teleportasi itu.
"Hyung... bertahanlah! Jebal!" kata Sehun sambil menangis.
Darah menggenang di mana-mana dan wajah Luhan benar-benar sangat pucat. Sebanyak apa darah yang sudah dikeluarkan pemuda itu? Baju dan wajah mereka berdua bahkan basah oleh darah.
"Kai, bangunlah! Bagaimana kita sekarang? Apa kau juga tidak baik-baik saja?" tanya Sehun sambil mengguncang tubuh Kai yang terbaring di tanah.
Tubuh Kai juga sama pucatnya dengannya sekarang. Kulit berwarna tan itu seolah kehilangan warnanya, walau pemuda itu tak sampai sepucat Luhan. Kai memaksakan diri untuk pergi sejauh-jauhnya dari tempat mereka tadi. Stamina pemuda itu pasti sudah habis sekarang. Kai bisa saja mati kalau tidak segera ditolong sekarang.
"Hei! Kau kenapa?" tanya Chanyeol kaget.
"Tolong! Tolong kami!" kata Sehun dengan wajah berlinangan air mata. Wajahnya yang sudah pucat semakin pucat karena kedinginan. Hujan mengaliri wajahnya, menyamarkan air mata, tapi Chanyeol melihat dengan jelas pemuda itu menangis.
Chanyeol merasakan deja vu. Dalam satu hari ini, ada berapa orang yang meminta pertolongan pada mereka. Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana? Perang dunia ketiga?
"Bawa temanmu masuk ke dalam. Aku akan membawa yang ini," kata Chanyeol sambil menggendong Kai di pundaknya.
"Hiks...gomawo...gomawo..."
"Sudah, berhentilah menangis. Kedua temanmu butuh pertolongan dan simpan tenagamu untuk menjelaskan semua keadaan yang sedang terjadi saat ini," kata Chanyeol sambil tersenyum.
Baekhyun kembali menjerit untuk ketiga kalinya. Yang mendatangi mereka kali ini lebih mengenaskan. Jeritannya yang keras membuat Kris dan Lay terbangun. Kedua orang itu sama kagetnya dengan Suho dan Baekhyun saat melihat Luhan dan Sehun yang berlumuran darah.
"Astaga? Apa yang sudah terjadi di luar sana? Apa Korea sedang perang?" tanya Baekhyun tak percaya.
"Sudahlah, bantu aku pindahkan mereka ke kamar lain. Kris kau temani Tao di sini saja," kata Chanyeol.
"Ne,"
Di ruangan lain.
"Baekki, ambilah handuk bersih yang banyak dan air hangat. Chanyeol, ambil kotak P3K di kamarku. Ada peralatan untuk menjahit luka dan operasi darurat," kata Lay tegas. Pemuda itu langsung melepaskan baju Luhan. Sehun hanya diam meringkuk di pojok ruangan. Dia sungguh tak mau kehilangan Luhan dan Kai.
Di ruangan lain, Suho sedang berusaha membuat Kai sedikit lebih hangat dengan menyelimuti dan mengeringkannya. Tadi, Lay sudah memberi pertolongan pertama untuk pemuda itu dengan infus yang dibeli untuk Tao.
"Kau bisa operasi hyung?" tanya Chanyeol.
"Cepat! Ini keadaan darurat!" bentak Lay membuat Chanyeol langsung lari terbirit-birit mencari kotak yang dia maksud. Lay tidak pernah membentak seperti itu sebelumnya.
"Hyung, ini handuk dan air hangatnya," kata Baekhyun sambil membawa handuk dan air dalam baskom.
"Baekki, potong handuknya agar menjadi perban panjang. Kita tidak punya perban," kata Lay.
"Ne,"
"Hyung, ini kotakmu," kata Chanyeol.
"Baekki, cahaya!"
"Arraseo hyung," kata Baekhyun sambil mengeluarkan cahaya.
"Terlalu terang," kata Lay lagi.
Ini situasi yang sangat menggemparkan dan Baekhyun maupun Chanyeol sangat kagum karena Lay masih bisa berpikiran logis dan mengambil setiap tindakan dengan tenang. Walau memang ketara sekali kalau Lay juga panik. Terlihat dari bentakan-bentakannya.
"Chanyeol, panggil Suho Hyung. Bawa di ke sini dan kau jagalah pemuda itu di kamarnya. Udara di sekitarmu itu hangat, berdiri atau duduk di sebelahnya akan sangat membantu. Bila dia sudah bekeringat, kau baru boleh pergi. Telepon juga eomma dan appa. Ceritakan semuanya dan minta mereka membeli obat," kata Lay cepat.
"Ne,"
"Aku di sini Lay," kata Suho.
"Hyung, berapa banyak darah tersisa di tubuhnya?"
"Masih dalam batas aman," kata Suho.
"Tolong kendalikan kadar air dan darah dalam tubuhnya. Ini pertama kalinya aku melakukan operasi," kata Lay.
"Lakukan itu Lay, pemuda itu butuh kekuatanmu. Kalau kita membiarkannya sampai eomma dan appa datang, anak itu bisa meninggal," kata Suho menenangkan.
"Kami percaya kau bisa hyung," kata Baekhyun yang masih berusaha membuat perban. Sedikit sulit karena tangannya bergetar. Belum lagi dia juga harus mempertahankan cahayanya agar konstan.
"Ne,"
...
Tiga jam kemudian
"Selesai," kata Lay lega. Walau dibilang operasi, Lay lebih banyak menyembuhkan luka dan jaringan yang rusak dengan kekuatannya. Barulah setelah jaringan yang terputus tersambung, Lay menjahit luka itu. Menyembuhkan jaringan betul-betul sulit dan lama. Untung kekuatannya bisa digunakan. Lay hanya berharap tak akan ada apa pun yang datang dalam waktu beberapa hari ke depan, setidaknya dalam waktu 24 jam.
Bruk!
"Lay? Kau baik-baik saja?" tanya Suho khawatir. Tubuh Lay disangga sepenuhnya oleh lengan kekar Suho.
"Ne, nan gwenchana. Aku hanya sangat lelah. Bagaimana keadaan pemuda yang satunya lagi?"
"Dia tidak apa-apa Lay. Tadi Chanyeol bilang padaku kalau nafas pemuda itu sudah stabil dan denyut nadinya juga sudah normal. Wajahnya juga sudah tidak pucat lagi setelah setengah isi kantong infus itu dia habiskan. Dia hanya belum sadar," kata Suho menenangkan.
"Syukurlah..."
"Tidurlah Lay, aku akan membawamu ke kamarmu. Kau juga Baekki, matikan cahaya itu. Kau pasti sangat lelah," kata Suho.
"Ne," kata Baekhyun sambil berbaring di lantai. Ini juga pertama kali untuknya menggunakan kekuatan secara maraton selama tiga jam. Biasanya dia hanya menggunakan kekuatannya untuk bermain atau menghibur orang di sekitarnya. Mungkin setelah ini dia akan berusaha untuk berlatih mengendalikan kekuatannya agar cahayanya bisa bertahan lama. Mungkin juga mencari pengembangan kekuatannya.
Saat Suho menggendong Lay keluar, Chanyeol masuk ke dalam. Pemuda itu duduk di samping Baekhyun.
"Lelah Baekki?"
"Sangat,"
"Kau hebat, aku benar-benar tidak berguna di saat seperti ini," kata Chanyeol.
"Tidak, yang hebat itu Lay Hyung. Kau juga bukan tidak berguna. Kau juga sudah berhasil menolong pemuda di kamar itu," kata Baekhyun sambil menunjuk tembok kamar.
"Hmm,"
"Anak yang satunya lagi..." gumam Baekhyun seolah tersadar dari hal yang dia lupakan. Ah, bukan seolah, dia memang lupa dengan keberadaan anak itu karena mereka sangat panik tadi. Baekhyun mengedarkan pandangannya ke sekililing kamar itu. Baekhyun merasa miris melihat anak itu duduk dengan tubuh bergetar di lantai.
"Uruslah dia... aku akan membersihkan semuanya," kata Chanyeol sambil membawa keluar baskom berisi air bercampur darah.
"Kau tidak apa-apa?"
"Hiks...hyung..."
"Hyungmu tidak apa-apa. Dia tidak apa-apa," kata Baekhyun lembut. Baekhyun sedikit meringis mendengar suara anak itu sangat parau. Apa sejak tadi anak itu terus menangis?
"Hiks...hiks...hiks..."
"Lihatlah, hyungmu tidak apa-apa," kata Baekhyun sambil membantu anak itu berdiri dan membawanya ke ranjang tempat Luhan terbaring.
"Hiks..."
"Dia hanya tertidur. Hyungmu tidak akan apa-apa," kata Baekhyun sambil mengelus rambut anak itu.
"Sungguh? Benarkah...hiks...hiks..."
"Ya, hyungmu sudah tidak apa-apa. Kau bisa menemuinya nanti setelah dia bangun," kata Baekhyun sambil tersenyum.
"Untunglah...untunglah...hyung...hiks...hyung..."
"Temanmu juga tidak apa-apa. Dia juga sedang tidur di kamar sebelah," kata Baekhyun lagi.
"Hiks...syukurlah...kupikir...kupikir aku akan ditinggal...hiks..."
"Ayo, bersihkan dirimu dulu lalu istirahatlah. Ini hari yang berat untukmu," kata Baekhyun lagi.
.
.
.
tbc
Author udah buat ini fanfic sampai seratus tujuh puluh enam halaman di word
dan author akan usahakan untuk update paling enggak sehari satu atau kalau nggak bisa juga kayak gini, author pasti bakal tetep update kok, cuman waktunya nggak tentu. Author lagi magang buat tiga perusahaan sekaligus. Syukurlah Author bisa ngikutin ritmenya karena kerja sama gilanya kayak pas author SMA.
ini masih jauh banget dari konflik utama soalnya mereka semua belum pas 12 orang
Ini cuman spoiler aja, tapi yang jadi kunci semua masalah nanti bukan hanya Tao, tapi...
tebak antara orang-orang di bawah ini :
Xiumin
Baekhyun
Chanyeol
Kyungsoo
hehehehe^^
P.S
Buat readersdeul dan juga para authornim yang berdomisili di Surabaya dan juga sudah berusia delapan belas tahun, author menawarkan partnership buat kerja. Tidak perlu ada pengalaman kerja karena author dan juga semua partner author yang lain akan membimbing hingga kalian bisa berdiri sendiri. Walau kesannya kayak menipu, tapi author serius buat ngajak partnership kerja ini. Buat keterangan kayak apa perusahaannya, gimana sistemnya jalani usaha yang author tawarkan, dan juga apa saja yang bisa didapat di usaha ini bisa PM author. Author bebaskan untuk mengajak siapa pun selama mereka adalah orang Indonesia dan memiliki KTP, berusia antara 18 - 65 tahun, dan memiliki niat menjadi enterpreneur. Tapi, author akan lebih memfokuskan buat teman-teman di Surabaya. Author juga tidak keberatan untuk bertemu muka seandainya dibutuhkan.
Buat sekilas tentang perusahaan ini, di sini anda diajak untuk membangun bisnis yang mudah dengan resiko kecil. Bila anda merasa ini tidak sesuai dengan apa yang anda inginkan, anda tidak perlu masuk. Anda juga bisa langsung berhenti sewaktu-waktu kalau anda sibuk dan memulai kembali usaha ini setelah anda memiliki waktu lagi. Karena anda ownernya di sini. Ini mirip franchise karena barang, harga, dll sudah disediakan perusahaan yang bersangkutan, tapi tidak butuh modal besar seperti franchise. cukup lebih kurang dua ratus ribu untuk modal awal dan anda bisa menjadi pengusaha setelah sepuluh bulan bekerja. Ini lebih mirip MLM, tapi dengan sistem yang mudah digunakan.
