A Merely Boy and Demon
…
We set sail in the darkness after night, out to the sea.
To find me there, to find you there..
Love me now if you dare
…
"Lihat! Lihat! Siapa itu!"
Semua orang menatapnya, laki-laki maupun perempuan tertegun memandangnya. Wajahnya kemerahan, kulitnya pucat karena lamanya tak berjumpa dengan matahari. Rambutnya pirang, terikat ke belakang bagian kirinya, dan kanannya dibiarkan memenuhi pandangan mata. Tubuhnya kecil, andaikan ia tidak menggunakan jas untuk laki-laki semua orang akan mengiranya wanita. Ia tidak gagah seperti laki-laki, tapi tidak juga melekuk indah seperti wanita. Tubuhnya hanya kecil dan terlihat rapuh. Siapapun yang berjalan di dekatnya seraya ingin menaruh tangannya di pinggangnya, takutnya ia terjatuh, takutnya ia tersikut.
Jas hitamnya kontras dengan wajahnya, kontras dengan kulitnya dan terlebih lagi kontras dengan matanya. Matanya yang biru, menenggelamkan semua orang yang memandangnya. Ia terbatuk, sekali dan dua kali hingga seseorang akhirnya mendatanginya dan meraih tangan kirinya mengantarkannya pada khalayak ramai di bawah sana.
"Perkenalkan… ia adalah…" laki-laki itu melirik sahabatnya yang berwajah merah, tangannya panas. Sepertinya ia mulai demam, "Namanya, Uchiha Naruto… ia temanku," dan dirabanya punggung kecil itu, lalu ditepuknya.
Semua orang berbisik-bisik melihatnya, tidak sedikit yang terkejut dan kebanyakan dari mereka bersiap untuk pulang karena takutnya pada sosok cantik disebelahnya.
"Namaku Uchiha Na-Naruto… kurasa kalian semua sudah tahu." Tambahnya. Ia tidak bisa berpura-pura bodoh walaupun dirinya bodoh. Anak itu tahu, orang-orang sudah bersiap memakinya, sampai sahabatnya menengahinya.
"Sepertinya kalian sudah mengenal temanku ini…" ia melirihkan suaranya, dan memandang sahabatnya dengan lekat. Entah angin apa yang membuat sahabatnya jadi secantik ini. Ia tidak tahu, sedikit polesan, dan rambut yang diatur seperti ini mengesankan sahabatnya ini orang yang berbeda. Oh… setidaknya ia tahu, mata itu tidak palsu, "Ia adalah orang yang menyelamatkanku, saat aku hendak ke kota ini dan tersesat di dalam hutan. Ia merawatku dengan baik dan hanya ini yang kulakukan untuk bisa membalas jasanya."
Sahabatnya itu terdiam, dan wajahnya memerah. Ia tidak tahu kenapa sahabatnya begitu diam hari ini. Sepertinya bukan hanya dari suhu tubuhnya yang tinggi. Seseorang mendekatinya dan ingin menyelamatinya. Ia biarkan sahabatnya untuk menyingkir dari tengah aula mendekati sisi yang lebih sepi, namun tidak jauh dari dirinya.
Ia mendengarnya, seseorang berbisik… tidak hanya wanita tapi juga lelaki menatapnya dengan keanehan. Apakah tidak ada yang menyadari dari kalian sebelumnya bahwa ia tampan dan cantik pada saat yang sama ada yang iri padanya. Tidak sedikit yang mengira sahabatnya itu 'peliharaannya'. Bagi iblis sepertinya, bersama dengan seorang wanita atau laki-laki tidak ada bedanya, karena pada akhirnya mereka akan jatuh ke neraka.
Seseorang berbisik-bisik lagi, punggungnya ditepuk dan ia menunjuk jari pada arah sahabatnya. Tidak ada yang salah pada sahabatnya, kecuali tidak ada orang yang mendekatinya dan saat cairan di gelasnya berubah warna merah. Kemudian sahabatnya itu terlihat mengelap sesuatu dari hidungnya. Ia bergerak secepat ia bisa. Kekhawatiran memenuhi ubun-ubunnya dan wajah sahabatnya itu kosong.
"Kau tidak apa-apa?" ia menyentuh kedua lengannya, "Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau sedang sakit," sungguh, karena kini hatinya yang terlampau sakit. Ada apa dengan mu?
Tapi sahabatnya tetap terdiam, ia menyentuh tengkuk sahabatnya dipukul-pukulkannya perlahan sembari mengangkat wajahnya. Tidak bisa, darahnya tidak juga berhenti mengalir. Ia panik, tolong! Seseorang! Sahabatku! Temanku! Ia menaruh kepala sahabatnya di lekukan lehernya. Lupakan pestanya, lupakan orang-orang disana, dan ia memapah sahabatnya seperti tidak ada yang lebih penting dari apapun di dunia ini.
'Naruto!'
…o0o…
In my dream, I'm calling your name
You're my love.*
…o0o…
Sejak kejadian di kamar Naruto ia tidak pernah lagi melakukan hal yang berdekatan dengan kata 'menyentuh' tubuh sahabatnya itu. Sudah lebih dari satu bulan lamanya mereka tidak keluar dari Mansion bersama-sama. Ia tetap disibukkan oleh orang-orang yang ingin membeli perhiasannya, apalagi wanita-wanita menyebalkan itu. Pernah di suatu hari dua bersaudara Kirschbaum mendatangi Mansionnya. Ia harus mati-matian mengarantina si Dobe di kebun mawar agar tidak bertemu dua orang itu. Beruntunglah baginya karena seluruh maid lebih menyukai Naruto dari dua gadis menyebalkan itu. Ia akan selalu terkekeh kalau mengingat satu maid yang berambut coklat (entah siapa namanya-sepertinya sangat dekat dengan Naruto) menumpahkan perasan kunyit pada gaun indah mereka.
Mereka mengobrol, makan, dan kadang bermain bersama di saat senggangnya. Kalau Naruto jatuh sakit, mereka akan menghabiskan waktu mereka dengan bercerita dan bernyanyi atau bermain catur. Si Dobe memang bodoh dan presentasi kekalahannya jauh lebih banyak dari dirinya, tapi bukan berarti ia tidak pernah menang. Ia selalu dapat mengejutkannya. Lalu hal baru yang ia lakukan dengan Naruto adalah mereka melakukan acara amal dimana-mana. Setelah si Dobe ini tahu hartanya tidak akan hilang begitu saja, ia menyarankan untuk melakukan kegiatan amal. Iblis pun bisa berbuat baik ternyata, seandainya orang miskin dan anak terlantar yang mereka berikan rumah dan pekerjaan itu tahu kalau ia adalah iblis…
Lalu kini, permasalahannya adalah ia masih belum bisa mengingat kapan mereka pernah bertemu. Silverster tidak akan berbohong padanya. Tapi ia juga tidak pernah bertemu dengan seorang anak laki-laki yang menggunakan penutup mata seperti Naruto dulu. Selain itu… ada beberapa masalah lain lagi… pertama bagaimana caranya agar Naruto mau 'meminta' padanya untuk disembuhkan…
'Tok-tok-tok'
"Sasuke! keluarlah! Kalau kau tidak keluar aku yang masuk!" lalu pintu terbuka tanpa ia sempat menjawabnya, "Aku masuk! Karena kau tidak keluar juga!"
Senyumnya yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Naruto menggunakan kemeja putih dan celana ¾ berwarna coklat. Di tangannya ada sebuket mawar merah, dengan tangkainya yang memanjang dan masih penuh dengan duri. Ia berjalan mendekati Sasuke.
"Hei, Teme! Kau perlu mengganti suasana ruanganmu ini!" katanya sambil menaruh vas bunga yang ia pegang di tangan satunya. Ia menuangkan air dalam teko di atas mejanya, dan menata bunga mawar itu.
"Dobe… kenapa mawar merah?"
Mata birunya melirik ke arah Sasuke yang masih duduk di belakang meja bacanya, "Ng… karena tidak ada mawar warna biru atau hitam…?" Sasuke terdiam, dan ia menyusun kembali mawarnya, "Aku tidak bisa membayangkanmu dengan warna merah muda atau kuning… kalau kau harus jadi mawar… ya merah…"
"…"
"Kenapa? ada yang salah?"
"Kau... tidak tahu artinya?"
"Apa ada artinya?" Naruto memandang penuh Sasuke yang wajahnya kemerahan, "Kau sakit? Kenapa wajahmu memerah?"
"Tidak, aku…tidak apa-" ucapannya tersela teriakan Naruto yang terkena duri.
"Gaaaahhh! Tanganku berdarah…, bagaimana ini! bagaimana ini! Sasukeee! Bagaimana ini!" ia memasukan kelingkingnya ke mulutnya.
Sasuke tersenyum kecil, ini permasalahan keduanya… ada laki-laki polos dan bodoh yang bisa membuatnya bahagia, sedih, dan tenang pada saat yang sama. Laki-laki yang tidak mengerti perkataan 'ada udang di balik batu'.
…
Silverster menguap dan mengetuk pintu kamar Sasuke. Ada beberapa surat yang datang pagi ini untuk Uchiha Sasuke. Surat yang biasa ia dapatkan, kalau tidak pemesanan atau pertemuan, biasanya jamuan pesta, tapi hal yang menarik adalah capnya. Salah satu suratnya bercapkan 'Keluarga Hyuuga'. Untuk apa Viscount Hyuuga mengiriminya surat?
'Tok-Tok-tok…' tidak ada jawaban, pintunya sedikit terbuka dan ada suara Naruto di dalam. Mungkin ia sedang bertengkar mulut dengan Naruto seperti biasanya. Akhirnya ia memasuki ruangan itu dan menemukan dua orang sahabat baik sedang bermain dengan jari. Ehem.
"Maaf, sepertinya saya mengganggu." Lalu saat ia menunduk, wajah Sasuke yang pasif karena sedang mengulum jari kelingking Naruto tiba-tiba tersentak dan menepis tangan Naruto.
"Kami tidak berbuat apapun! Masuklah Silverster!" perintahnya, dibelakangnya Naruto membantahnya, 'Teme! Apa yang kau lakukan! Jelas-jelas kau sedang mengemut jariku tadi!' cih… Sasuke tahu kalau Silverster menyeringai sejadi-jadinya di belakang topengnya. Naruto dobe!
HeadButler itu memasuki ruangan dengan menutup wajah yang sudah tertutup topengnya dengan tempat surat yang di bawanya. Naruto masih sibuk dengan mawarnya dan Sasuke mengipasi tubuhnya dengan kertas seadanya. Matanya semakin menjulang membentuk grafik para bola, tinggi menunjukkan tingkat kemesumannya. Kasihan sekali iblis muda ini, seperti serigala yang digoda dengan domba yang menari-nari mengelilinginya, ckckckck… pikirnya.
"Oh… surat-surat lagi… ah, membosankan, kalau begitu aku akan membantu Maemunah sama Sukijem di kebun mawar lagi ya?" katanya sembari berjalan menuju pintu. Sasuke memanggilnya kembali dan Silverster hanya kebingungan dengan dua nama yang disebutkan bocah ceroboh itu.
"Tunggu, Naruto…" capai Sasuke menggenggam ujung kemeja Naruto, setelah ia mendengar 'Hehehe…' perlahan dari arah Butlernya, ia langsung melepasnya, "Ada… satu surat dari Hyuuga… mungkin ada hubungannya denganmu?"
Mata biru itu terbelalak, dan ia mendekati Sasuke, lalu duduk disampingnya. Ia mengambil surat kecil dengan lilin merah di belakangnya. Cap keluarga Hyuuga. Ia memberikan surat itu pada Sasuke…
"Kau saja yang membacanya…"
Dan itu yang dilakukan Sasuke.
…
Seminggu telah berlalu sejak mereka membuka surat dari Lady Hinata. Benar seperti perkiraan Sasuke, Hinata ingin mengunjungi Naruto. Tidak dijelaskan maksud dan tujuannya. Gadis itu hanya ingin menemui Naruto empat mata. Ia mengutuk kecerobohannya karena telah memberitahu Naruto akan perasaan gadis itu padanya. Bagaimana… bagaimana kalau seandainya Naruto menerima perasaan Hinata dan mereka melarikan diri bersama? Ah… tidak, karena Sasuke akan menemukan mereka dan menarik Naruto kembali… Selama ada perjanjian ini… Naruto tidak akan pergi kemana pun.
Tapi… bagaimana kalau Hinata ingin merawat Naruto yang saat ini masih terkapar lemah di kasurnya lagi? Lalu tinggal di Istana ini… lalu akhirnya Naruto mengerti atau jatuh cinta pada gadis itu, menikah di Uchiha Mansion, dan ia akan dikelilingi Naruto jr. (s). Oh… tidak, tidak… Naruto tidak mungkin membujuk Hinata untuk memutuskan pertunangannya dengan Daimyo dari Nippon… itu 'kan? Tidak-tidak, Naruto selalu berpikir kalau usianya tidak lama lagi, jadi tidak mungkin ia akan menikahi Hinata… karena itu artinya ia akan meninggalkannya? Atau malah ia akan menikahi Hinata untuk melanjutkan keturunannya? Ggaaaaaakkkhhhh! Kenapa ia tidak bisa mengandung bayi Naruto! Ah, iya… ia seorang iblis jadi sejak awal ia dan Naruto sudah berbeda jenis. Maka dari itu, Naruto pasti memilih Hinata! Kenapa ia seakan-akan bersaing dengan Hina-
"Kau sedang apa?"
Telinga tajam Sasuke berkedut, matanya melirik Naruto yang sedang menatapnya keanehan, "Kenapa kau muncul tiba-tiba dari belakangku begitu!" teriaknya panik, apa ia menggumamkan sesuatu yang aneh?
"Kau menyebut namaku, Sasuke?" *DEG*… "Memangnya ada apa?"
"Fuh…" ia mengelap keringat di dahinya, yang entah dari mana asalnya, "Tidak ada apa-apa…"
"Hn…? Tapi tadi kau begini-begini-begini-dan-begini?" katanya sembari mengangkat tangannya lurus-lurus ke atas, mengibaskannya ke depan, mengacak-acak rambutnya dan berjongkok lalu segera bangkit kembali, "Apa ini bentuk olahraga yang baru? Sayang sekali aku sedang sakit… jadi tidak bisa mengikutimu…" katanya dengan santainya.
"Aku tidak sedang-, hufhhh…" Ia melirik Naruto yang merapikan rambutnya kembali. Mereka berada di ruangan tamu, menunggu seorang gadis yang ingin datang dan mengunjungi sahabatnya. Sahabatnya semenjak dua bulan lalu. Ia berjalan mendekati Naruto dan menempelkan telapak tangannya di dahi Naruto, "Kau masih demam, apa sebaiknya Lady Hinata menemuimu di kamar saja?"
Pipi Naruto tiba-tiba merona… demi Aphrodite yang suka menggoda pria! Wajahnya… Sasuke menelan ludahnya, kalau Naruto ibarat sebuah kertas, ia akan merobek dan memakannya sampai tak tersisa!
"Tidak pantas, Sasuke… bagi seorang Lady untuk bersama seorang pria di kamar hanya berduaan, apalagi ia akan menikah." Jawabnya lirih.
"Che… aku tidak mengatakan kalian hanya berdua, Dobe!"
Naruto mengikat kencang lagi dasinya ia sengaja berpakaian rapi hari itu. Khusus untuk teman pertamanya. Ruangan itu terasa sempit baginya, dan waktu berdetak terlalu lama, Sasuke hanya terdiam duduk di sofa dengan secangkir teh dan koran di tangannya. Sesekali ia melihat Naruto yang seperti sedang menghitung jumlah garis di telapak tangannya.
Seorang maid berambut coklat mendatanginya dan menyisiri rambut panjangnya. Gadis yang sepertinya berteman baik dengan Naruto… Sasuke tidak tahu nama gadis itu…dan mereka nampak sangat akrab. Dilihat saja mereka benar-benar akrab. Naruto yang sedang disisiri rambutnya, dan ditepuk-tepuk kemejanya. Lalu gadis itu tersipu mendengar entah apa perkataan dari si Dobe.
Rasanya ruangan bertambah sempit, karena ia bisa melihat bibir tipis itu menyanyikan suatu lagu dengan lirih. Mereka benar-benar terlalu akrab. Si Naruto dan Maid cantik berambut coklat lembut yang berdada datar. Mungkin ini yang disebut dengan mencari cinta baru untuk menyembuhkan luka lama?
Umurnya memang sudah lebih dari 1000 tahun, tapi ia tidak mengerti perasaan manusia.
"Kalian sangat akrab ya?" tanya Sasuke tiba-tiba, ia sendiri terkejut mendengar nada suaranya yang terkesan sangat jengkel.
Gadis itu seperti tersadar akan sesuatu, "Maaf karena telah lancang…"
"Um? Kau tidak salah Kuu," Ia melirik Sasuke, "Apa ada yang salah kalau aku akrab dengan satu atau dua maid, Teme?" ia tidak menyangka kalau Sasuke memperhatikan status sosial, ia kira sebagai iblis… temannya ini tidak akan peduli ia berkawan dengan siapa.
"Ah… tidak," katanya sinis, "Aku hanya tidak menyangka… karena seingatku kau baru saja patah hati…"
Wajah Naruto mengkerut, sedih dan kesal sekaligus. Pipinya memerah, bukan karena malu, tapi marah yang luar biasa. Kemarahan yang disandingkan dengan keputusasaan. Ia membuka mulutnya lalu menutupnya lagi, begitu berulang kali hingga Sasuke yang melihatnya jadi merasa bersalah. Tapi tidak jadi, ia tarik kembali karena Maid dengan rambut dikepang dan dililit itu mengelus pundak Naruto lalu membisikinya sesuatu. Laki-laki berambut pirang itu tertawa kecil. Tawa yang membuat suara gemeretak gigi sang iblis tak terdengar.
Lalu mata biru itu meliriknya, "Kau cemburu, Sasuke? melihat temanmu…memiliki teman yang lainnya?" dan senyum lebar muncul di permukaan.
"Che… kalian, kalian… itu seperti… sepasang burung merpati bodoh yang terbang bersama-sama hanya untuk mencari makanan!" katanya sewot.
'Plak'
Suara dua telapak tangan bertemu. Naruto dan pelayan itu high five di hadapan Sasuke yang kebingungan kemudian tertawa kecil. si Maid itu bersandar pada pundak Naruto yang sedang duduk untuk menopang beban tubuhnya. Si dobe… si dobe itu mengedipkan matanya.
"Berarti kita sukses! Hack!" katanya disela-sela tawanya.
Apanya? Pikir Sasuke dalam otaknya yang kalut.
"Maaf, tuan…" maid cantik itu mengelap air mata di sudut matanya, "Kami sedang bermain 'crossdressing dan tipu Tuan Uchiha'…karena Tuan Naruto beranggapan anda terlalu cuek dengan kami pelayan anda, Tuan."
Che… pantas ia seperti antara pernah dan tidak pernah melihat maid cantik itu. Cih! Ternyata ia seorang laki-laki!
"Jangan marah, Sasuke!" ia memberikan jempol kanannya pada si iblis dan mengedipkan matanya, "Besok aku yang akan menggunakan gaun dan menipu Zack! Kakaknya Kuu!" wajahnya murung, "Sepertinya kita tidak akan berhasil, Kuu… karena wajahku tidak cantik…" ia menghembuskan napasnya.
Entah kenapa Sasuke sudah ada dihadapannya, menarik kerahnya dan berbisik yang terdengar seperti geraman, "Kau…tidak boleh berpakaian wanita! Menjijikan Naruto! Ingat kau menggunakan nama Uchiha!" Naruto tidak menepisnya tapi ia langsung melirik ke arah Hack. Laki-laki cantik itu tersenyum, senyuman yang sangat manis. Pada akhirnya tangan Sasuke itu ditepisnya. Naruto bingung… sepertinya Sasuke telah melukai Hack tanpa disengajanya.
Mata gelap itu tahu temannya merasa canggung dengan ucapannya. Ia ingin marah, tapi tidak meluapkan amarahnya pada Sasuke seperti biasanya… kenapa?
Pelayan itu tersenyum kecut dan menundukkan tubuhnya, setelah ia merapikan kemeja Naruto sekali lagi. Tepat saat itu Silverster memasuki ruangan dan menunduk sedikit, "Tuan Sasuke dan Naruto, Tuan Tokugawa dan Lady Hinata menunggu di hall."
Kepala Naruto langsung berpaling ke arah Hall yang ada di lantai dasar. Sasuke sedikit merapikan kemejanya, "Persilakan mereka kemari, Silverster." Headbutler-nya menunduk dan pergi ke hall. Beberapa menit kemudian Lady Hinata dengan gaun putih pucatnya dan renda biru tua di sekitar lehernya, bergandengan dengan seorang laki-laki dengan menggunakan hakama-Tokugawa Shikamaru-.
Mata Naruto menatap Hinata, dan ia mengingat perkataan Sasuke… Lady Hinata yang menyukainya. Lalu disebelahnya ada pria tegap dan sesekali menguap mengusap-usap rambutnya.
"Tokugawa-dono, dan Lady Hinata, selamat datang di Uchiha Mansion." Naruto berdiri di belakang Sasuke yang sedang menyapa kedua tamunya, "Silakan duduk." Dari kejauhan Silverster datang dengan Hack membawa minuman dan cake.
"Terimakasih telah menerima kedatangan kami, Uchiha-san," jawab Shikamaru sembari duduk, menatap Naruto yang menundukkan kepalanya. Tentu tidak memerlukan waktu lama baginya untuk mengetahui kalau si Dobe telah menyadari perasaan Hinata. Mungkin Sasuke yang membongkarnya?
"Ada apa gerangan anda sekalian mengunjungi kami dan ingin berbicara dengan Naruto saja?" tanya Sasuke dengan sopan tanpa menutupi rasa sinis yang terpancar ditiap katanya.
Shikamaru melirik tunangannya, "Entahlah, tanyakan saja pada Hinata. Sepertinya ia ingin mengatakan beberapa hal pada Naruto sebelum kami pindah ke negaraku dan tinggal permanen di sana."
Mata warna biru terbelalak, "Lady Hinata akan… pergi selamanya dari Inggris?"
Hinata mengangguk perlahan, "Shikamaru akan menggantikan ayahnya menjadi seorang Daimyo, jadi tidak mungkin kami akan tetap tinggal di Inggris, Naruto…" suaranya lirih, "Maka dari itu… aku ingin mengatakan sesuatu padamu, untuk terakhir kalinya." Ia melirik Shikamaru lalu tersenyum kecil.
Sasuke tidak melewatkan komunikasi melalu tatapan diantara mereka berdua. Sepertinya mereka sudah saling mengerti dan memiliki komitmen untuk menjaga pernikahan politiknya itu. Ia melirik Naruto yang sepertinya sedang kebingungan, mungkin kah… ia juga perlu komitmen untuk menjaga pertemanannya dengan Naruto? Father, ia seorang iblis… dan kalau ia mau ia tidak perlu menjadi temannya kan! Masih banyak orang bodoh dan tersesat yang sedang memintanya untuk mengabulkan keinginan mereka.
Sasuke berdiri, dan ia mengangguk pada Shikamaru, "Tokugawa-dono, mari kita pindah ke ruangan lain, dan akan saya tunjukkan koleksi lukisan di Mansion saya…" ia melirik Naruto yang masih memandang Hinata, "Atau… kita bermain catur? Anda bisa bermain catur yang ada di Inggris?" tanyanya dengan sopan.
"Tentu, saya bisa… walaupun baru beberapa bulan ini diajari oleh Neji-kun." Lalu mereka keluar bersamaan dengan Silverster dan Hack dibelakang mereka.
…
Waktu terasa sangat lama saat kau meninggalkan sahabatmu sendirian, ia tidak paham kenapa mereka berdua lama sekali berada di dalam. Apakah aneh merasakan kekhawatiran seperti ini? padahal mereka hanya berteman, dan Tokugawa dihadapannya ini apa tidak merasa khawatir melihat calon istrinya menemui cinta pertamanya?
Si Iblis itu terdiam.
Sasuke selalu tertegun setiap kali Shikamaru menggerakan kudanya, dalam sebuah rencana yang sangat rapi dan menghancurkan pertahanan bidaknya. Ia berkeringat, Sasuke sudah hidup ribuan tahun dan laki-laki dihadapannya ini mengatakan ia baru belajar catur ini beberapa bulan saja. Bukan berarti Uchiha kalah, mereka sudah tiga kali melakukan permainan cepat, dan ia dua kali menang. Tapi tetap saja, setiap langkah Shikamaru selalu membuatnya menelan ludahnya.
"Aku menyerah," kata Shikamaru menaruh kembali bidaknya sebelum ia menaruhnya pada kotak kecil. Ia menggaruk kepalanya dan menguap, "Aku akan kalah, dalam 8 langkah lagi… anda sangat kuat Uchiha-san." Katanya dengan nada terkagum pada Sasuke.
'Glup', Sasuke menelan ludahnya, ia tidak tahu langkah apa yang akan dijalankan dalam 4 kali kesempatan untuk mengalahkan pria dihadapannya ini, "Kurasa anda hanya sengaja mengalah padaku saja, Tokugawa-dono."
"Tidak… tapi anda memang akan menang lagi," ia menggerakan kuda Sasuke, dan ia memakan pion, lalu Queen Sasuke berhenti di samping kuda itu untuk menghentikan langkah lainnya. Sasuke terlalu cerdas untuk memakan umpan yang sangat kentara, "Lalu kuda anda akan kemari, dan kuda saya akan kemari, lalu saya akan menghindar dan anda menyerang saya dengan kuda anda yang satunya dari kanan anda."
Ah… checkmate…
"Kurasa mereka pun seharusnya sudah selesai berbicara…" kata Sasuke mengisi jeda… ia tidak ingin mengatakan suatu hal pada permainan mereka.
"Hm…" laki-laki berambut coklat itu melirik pintu di samping kanannya, "Sudah waktunya kami untuk pulang juga."
Mereka berdua berjalan menuju ruangan tempat Naruto dan Hinata berada dengan meninggalkan Ratu Hitam yang berdiri di samping kudanya. Ratu itu seperti sedang menatap dan akan menelan habis Raja Putih tidak memiliki ruang lagi untuk melangkah.
…
'Kiieeeeetttttt'
Pintu dari kayu mahoni berwarna hitam terbuka dan memperlihatkan sesosok gadis dengan gaun putih pucatnya duduk sendirian. Wajahnya pasif, tidak sedih dan tidak juga bahagia. Terdiam menatap tangannya yang berada di atas pahanya. Tubuh kecilnya terlihat lemah dan rambut panjang yang diurai menutupi dua laki-laki untuk menatap matanya.
Sasuke dan Shikamaru berdiri di hadapan gadis itu. Ia tidak bergeming sekalipun Sasuke yakin pasti ia menyadari kedatangannya keduanya. Apakah ada sesuatu yang terjadi diantara mereka? Cahaya matahari semakin terik diluar sana, dan udara semakin panas. Bukan hanya karena musim dingin telah lewat maupun karena matahari ditengah-tengah tahta tertingginya, tapi karena wajah putih dan pasif itu menyimpan kemarahan yang sangat besar.
Kemarahan itu cukup untuk membuat Tokugawa-dono untuk tersentak. Si Iblis yakin ini pertamakalinya Hinata terlihat marah seperti itu. Apa yang menyebabkan gadis tenang seperti Lady Hinata marah hingga wajahnya semerah ini? Saa…. Entahlah…
"Kemana Naruto?" perkataan ini yang muncul pertama kalinya dari mulut Sasuke. Ada perkiraan bahwa gadis ini sepertinya baru mengetahui Naruto sedang sakit, dan marah karena si Dobe terlihat baik-baik saja… Hinata menatapnya, matanya keabu-abuannya tetap tajam dengan aura kebenciannya yang tertanam, "Kalau Naruto melakukan suatu perbuatan yang lancang. Kami meminta maaf atas perbuatannya yang membuat anda marah Lady Hinata," katanya sambil menundukkan kepalanya. Mungkin saja Naruto langsung menanyakan perihal perasaan gadis ini dan menertawakannya? Mungkin saja…
Tangan gadis itu tetap terkepal, sepertinya ia tidak berusaha untuk bangkit atau ingin menjawab pertanyaan Sasuke. si Iblis itu tidak dapat membaca pikiran gadis ini begitu saja, karena sepertinya ia hanya sedang marah. Lagipula tidak semua orang bisa ia baca pikirannya, "Naruto… merasa kurang enak badan…" katanya dengan lirih, tapi Sasuke yakin, telinga manusia Tokugawa pun bisa mendengarnya.
"Kurang enak badan? Apakah Naruto mimisan? Atau ada hal buruk lainnya?" tanya Sasuke dengan panik. Tentu ia yakin Lady Hinata masih mengingat dengan baik saat Naruto mimisan ditengah-tengah pesta hampir dua bulan yang lalu.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dan berdiri menatap calon suaminya, "Shikamaru-kun, aku ingin berbicara sebentar dengan Sasuke… boleh?" tanyanya dengan lembut. Shikamaru menatapnya dan lalu menatap Sasuke. Ia seperti sedang berpikir tentang sesuatu, "Kau tidak perlu keluar dari ruangan ini… aku hanya memintamu untuk tidak ikut campur dan menengahi pembicaraan kami atau sekedar bertanya." Pintanya bernada tegas, sosok yang tidak terlihat dari wajah penakutnya.
"Hm… Baiklah," lalu ia membalikkan tubuhnya dan berjalan beberapa langkah tapi tidak keluar dari ruangan itu.
Sasuke kembali menatap Hinata, "Adakah yang bisa saya bantu, Lady Hinata?" tanya dengan sopan, dan terburu-buru karena ia ingin melihat keadaan sahabatnya.
"Kau itu…" gadis itu menelan ludahnya dan menggelengkan kepalanya. Ia seperti ingin menanyakan akan sesuatu yang dilarang oleh orang lain, "Maksudku… aku... uh.., apa kau berteman dengan Naruto, karena Naruto adalah Naruto?"
Oh… ini maksudnya pikir Sasuke, "Tidak… awalnya aku berteman dengan Naruto karena si Dobe itu yang menginginkannya… kau ingat? Ia telah menolongku dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku…" katanya mengingat-ingat scenario yang telah disetujui dirinya dan Naruto kalau ada orang yang menanyakan pertemanan mereka, "Ia memintaku membalas budinya cukup hanya sebagai temannya, tapi… aku rasa… aku hanya ingin menjadikannya temanku dan orang yang paling bahagia di dunia ini.." ia tersentak, karena tidak menyadari apa yang telah ia katakan dan terlebih lagi dihadapan gadis yang sendiri tidak begitu kenal.
"Kalau… kau bukan temannya… dan ia tidak melarangku…" air mata gadis itu tumpah. Perlahan tapi pasti membasahi pipinya, tanpa membuat gadis itu tersedu, tanpa membuat gadis itu mengedipkan mata. Ia menatap Sasuke dengan amarah yang meluap, "Dengar ini Uchiha Sasuke… aku tidak bisa membujuknya untuk melihat Nihon, aku juga tidak bisa membuatnya untuk menjauh darimu… dan kuharap semua perkataanmu itu sungguh-sungguh…"
"Lady Hinata…"
"Karena kau tidak mengingat apapun, Sasuke… aku tidak bisa melakukan apapun padamu. Tapi sungguh, andaikan Naruto tidak melarangku, walaupun mustahil, tapi aku akan mencoba membunuhmu." Gadis itu menutup matanya, tangisnya tak terperi dan Shikamaru sudah ada disisinya, memeluknya.
Tangan besar Shikamaru mengusap-usap punggung Hinata sambil membisikkan kata manis untuknya. Sasuke terpaku, apakah ada suatu hal yang ia lupakan tentang Naruto? Beberapa minggu yang lalu saat ia menanyakan hal yang sama pada Silverster, iblis tua itu pun mengatakan kalau ia pernah bertemu dengan Naruto? Kapan ia bertemu dengan anak laki-laki berpenutup mata, berambut pirang?
Semua yang ia temui hanya manusia-manusia yang memanggilnya, atau orang-orang yang memiliki 'aura' dan 'energi' tertentu ditubuhnya, yang tidak bisa ia ganggu maupun yang tidak akan pernah bisa melihatnya. Suara gadis itu terdengar semakin jelas, dan Tokugawa-dono menatapnya dengan rasa bersalah. Ia sepertinya tidak marah, atau kesal… tapi wajahnya aneh itu…
"Kami pamit untuk pulang Uchiha-san," kata Tokugawa-dono dengan sopannya, "Maaf telah membuat keributan seperti ini."
Mungkinkah, laki-laki ini telah mengerti permasalahan yang tidak sanggup dicernanya?
"Kami yang meminta maaf atas ketidaknyamanan anda, Tokugawa-dono dan Lady Hinata."
Gadis itu mengusap air matanya, dan menegakkan punggungnya. Layaknya seorang Lady yang telah diajarkan sopan santun dengan baik, "Aku sungguh meminta maaf, atas kelalaian saya, Tuan Uchiha… saya harap anda tidak marah atau memarahi maupun menjauhi Naruto…"
"Tidak… saya mungkin sudah melakukan sesuatu yang buruk?" ia menggigit bagian dalam mulutnya untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak perlu.
"Terimakasih telah menerima kami, Tuan Uchiha…" ia menundukkan sedikit tubuhnya dan diikuti oleh Shikamaru, "Semoga suatu hari nanti anda bisa mengingatnya dan saya mohon untuk tetap membahagiakan, Naruto apapun yang terjadi. Saya sedikit menyesal dengan kejadian hari ini…"
Sedikit?
"Saya benar-benar minta maaf…" ia menunduk lebih dalam lagi.
"Tidak perlu meminta maaf, Lady Hinata… anda tidak melakukan hal yang buruk. Saya yakin, ama-tidak, maksud saya…tindakan anda pasti demi kepentingan Naruto…" Sasuke mengingat-ingat perkataan Hinata sebelumnya, "Saya harap pun saya bisa membahagiakan, Naruto…"
"Aku tidak mengerti maksud kalian…" kata Shikamaru tiba-tiba, "Apa kita masih membicarakan 'Naruto' yang kutahu?"
Kini keduanya tersenyum dengan serentak, dan membuat Shikamaru tersentak, "Iya… kami…" keduanya saling menatap satu sama lainnya, "-membicarakan Naruto yang sama."
Naruto yang mereka sayangi.
…
Satu jam kemudian, akhirnya Sasuke memberanikan dirinya untuk mendatangi Naruto dengan alih-alih makan siang. Naruto yang tidak keluar juga dari kamarnya membuatnya khawatir, tapi pada saat yang sama ia ingin menghormati privasinya. Sebagai teman yang baik, disaat yang seperti ini… rasanya ia perlu memberikannya ruang untuk Naruto mendinginkan kepalanya… tapi… waktu menunggu ini… membunuhnya.
Setelah mondar-mandir di depan pintunya, seperti seorang suami yang menunggui istrinya melahirkan. Dalam satu tarikan napas, Sasuke mengetuk pintunya dan perlahan memanggilnya. Tapi tidak ada suara yang menjawab panggilannya. Mungkin kah Naruto sedang tidur? ah… tidak… ini siang hari, dan Naruto tidak suka tidur di siang hari… atau jangan-jangan ia sedang pingsan?
Bunuh diri?
Tidak… tidak… Naruto tidak akan sebodoh itu. Tapi ia seorang 'dobe'?
"Masuklah… Sasuke…"
'Huuuffffhhhhhhh….' Mungkin ini rasanya para suami yang mendengar suara tangis anaknya untuk pertama kalinya.
'Cklek…'
"Naruto…"
Ia melihat sosok Naruto yang sedang duduk di pinggiran jendela yang terbuka. Angin menyibakkan rambut panjangnya yang sebagian sudah terlepas dari ikatannya. Tangannya ia genggam dengan erat, dan tubuh lemahnya tersandar di dinding yang kokoh. Rupanya ia memang menyukai duduk di tempat itu sambil melihat indahnya kebun mawar yang ia rawat dengan para tukang kebun.
Sasuke berdiri di sampingnya saat Naruto tersenyum dan melambaikan tangannya pada dua orang di kebun. Seorang gadis manis yang ia lihat tadi pagi dan seorang laki-laki berumur 30an dengan rambut jabriknya. Sasuke sungguh tidak ingat pernah mempekerjakan orang-orang itu. perlukah ia tanyakan pada Silverster juga?
"Naruto… kau… apa kau baik-baik saja?"
Laki-laki berambut pirang itu menatapnya, "Ya, aku baik-baik saja… Sasuke… maaf… aku merasa tidak enak badan dan kembali ke kamar terlebih dahulu… apa mereka marah?" tanyanya dengan ragu.
"Tidak…" Sasuke bersandar di tepi pinggiran jendela di hadapan Naruto, "Tidak… mereka tidak marah Naruto… sekalipun mereka marah, kita… tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi 'kan?" Naruto tertegun mendengar perkataan Sasuke. Mau bagaimanapun ide tidak akan pernah melihat Lady Hinata itu sama dengan melihatnya mati.
"Hm…. Begitu ya…" Naruto terdiam, mereka terdiam dan suasana menjadi sangat hening. Bahkan mereka bisa mendengar suara tirai yang terkibas oleh angin yang berhembus sesekali dengan kencangnya.
Sasuke menatap raut wajah lelah Naruto, dan mengingat kalau si Dobe ini belum makan siang. Namun… di sudut hatinya (kalau ia memang memiliki hal yang disebut dengan 'hati'), ada pertanyaan yang ingin sekali ia lontarkan. Bukankah… teman itu harus saling mempercayai? Apakah ia cukup mempercayai Naruto, bahwa suatu saat nanti sahabatnya itu akan menceritakan padanya apa yang terjadi dengan Lady Hinata? Apakah si dobe ini cukup mengerti bahwa dirinya juga ingin mengetahui tanpa menanyakannya?
Naruto meliriknya, "Sasuke… kau menatapku... seperti aku ini belatung yang ada dimakan malammu."
Sungguh, iblis seperti dirinya tidak akan pernah memakan hal yang menjijikan seperti belatung dalam makanan, "Jangan menghancurkan pikiranku dengan hal-hal yang tidak-tidak dobe." Katanya dengan dingin.
"Hm... kalau begitu mungkin ini wajah seorang iblis kalau sedang konstipasi…"
"Che! Iblis sanggup mengeluarkan apa yang ia makan, utuh seperti semula."
"Benarkah!" kata Naruto dengan bintang-bintang di matanya.
Cih…
"Tentu tidak dobe!" ia melihat Naruto menghembuskan napasnya, "Kalau bisa pun aku tidak akan pernah melakukan hal yang menjijikan seperti itu!"
Si Dobe membuang wajahnya, dan menatap kebun di belakang lagi.
"Hei, Dobe…" suara bariton Sasuke terhenti, "Aku ingin menanyakan sesuatu." Katanya dan membuat tubuh Naruto tersentak.
"Kau mau tanya apa, Teme?"
"Kau ingat tadi pagi? Saat aku memarahimu karena kau akan menggunakan gaun wanita, dan mengatakan hal itu menjijikan?"
Wajah polos Naruto- dobe muncul dengan sukses, "Yang mana?"
"Che! Kau dengan si pelayan-shemale! Berambut coklat!" Sasuke melihat Naruto, sepertinya ia mengingatnya, "Saat itu kau ingin marah… tapi kau tidak jadi marah, kenapa, Dobe?"
"Oh…" ia terdiam sesaat, "Itu karena aku takut… kalau-kalau aku membelanya kau akan marah, Sasuke…"
"Ha?"
"Iya… kau akan merasa aku lebih memilih Hack, dan kau akan berkata 'Kau rupanya lebih memilihnya, sana berteman saja dengannya!' … aku takut kau akan berkata hal itu…"
"Dasar Naruto dobe! Itu namanya aku memutuskan perjanjian! Dan Aku tidak akan memutuskan perjanjian kita, mengerti!"
"Ah…"
"Lagipula, kita ini berteman Naruto!"
"Habis…"
"Kalau kau takut aku marah dan meninggalkanmu hanya karena kau tidak mengikuti perkataanku, itu bukan pertemanan Naruto! Kau seperti takut pada Tuanmu! Majikanmu! Dan aku bukan majikanmu! Aku temanmu, kau boleh sesekali menentangku, hell! Kau dulu sering menentangku Naruto!"
"Tapi kan… ini soal…"
"Che! Dobe! Ingat ini! aku tidak akan meninggalkan mu! Tidak akan!"
Naruto tertegun lalu ia tersenyum, sebelum senyum itu berubah menjadi seringaian jahil "Kalau begitu aku boleh menggunakan gaun kan?"
"Kalau itu tetap tidaaaakkk!" bentak Sasuke yang menampakkan urat kemarahannya.
"Teme! Kau bilang tadi aku boleh menentangmu!"
"Bukan dengan-"
'Tok-tok-tok'
"Tuan Sasuke?"
"Cih!" mata Sasuke melirik Naruto dengan tajam dan menjawab panggilan Silverster, "Masuk saja!"
"Teme… ku ingatkan ini kamarku." Kata Naruto dan tidak dihiraukan oleh Sasuke. Ini menginspirasinya untuk tidak menghiraukan Sasuke nanti!
Silverster memasuki ruangan tidur Naruto dengan beberapa surat di tangannya. Ia menunduk sedikit di hadapan para tuannya dan memperlihatkan surat yang mengejutkan Sasuke.
"Ada, apa… Teme?" tanya Naruto yang ikut-ikutan menelan ludahnya melihat wajah pucat Sasuke.
Surat dengan cap merah di dalamnya berlambangkan gambar yang tidak dimengerti Naruto artinya.
"Ini untukmu Naruto…"
"He? Aku? Capnya sepertinya berbeda dengan Viscount Hyuuga…"
"Bukan, memang bukan dari Lady Hinata, Dobe!" mereka kan baru satu jam yang lalu berkunjung kemari, dasar dobe!
"Lalu…"
Sasuke membaca nama yang tertera di surat itu.
"John Alexander Windsor…"
Naruto menelan ludahnya.
…
Tbc
…
A/N: *You are my love_by Yuki Kajiura. TRC ost.
kill me please (and then revive me), for my lateness! It…had been busy time for me, and I almost catch a cold… ( I need so much sleep).
Yep, mata kanannya Naruto beda warna… fungsinya... hampir nggak ada.
Thanks to: Muaffi-chan, Wia-chan, Hime-chan, Hyull-chan, Kay-chan, Haki-chan, Fayrin-chan, Mamitsu-chan, Yuu-chan, Yassir-kun (?), Yuzuru-san. Your review gives me strength to write...
See you next feverfic time!
