Ada reviewer yang bilang kalau author cuman nyampah-nyampahin ffn aja
Mungkin ada kesalahan yang sangat fatal yang sudah author lakukan sampai dia mereview seperti itu. Dia nggak pakai akun buat nulis reviewnya, jadi author nggak bisa PM dia. Author nggak sebut namanya karena itu juga cuman penname.
Author nggak marah kok
Author juga bakal tetep nulis di sini
Author juga manusia yang bisa salah dan author minta maaf sama reviewer yang bersangkutan karena sudah membuat dia merasa tidak nyaman saat membaca fanfiction yang sudah author buat
Jadi, buat anda yang baca lanjutan ff ini, tolong jelaskan kurangnya author di mana dan author akan mencoba untuk memperbaiki seluruh kekurangan author kalau author bisa. Karena di review anda, ada kata-kata seperti "rpf". Jujur aja author nggak ngerti.
Kalau masalahnya ada di pairingnya, maaf, author nggak bisa ngerubah soalnya di plot awal udah ditetapkan seperti ini.
Dari awal author juga sudah nulis kalau nggak suka Taoris, nggak baca juga nggak apa-apa.
Anda dan saya tidak dirugikan apa-apa
Sekali lagi author sungguh minta maaf ya
TTATT
Masalah update jadi berantakan... bukan mau nyalahin ffn, tapi kemarin-kemarin author udah update, cuman nggak ada notification ke email author kalau ff udah terupdate. Di cek di akun dan ffn juga nggak terupdate. Habis itu ff author yang I Remember dan Walk with Me juga dihapus ffn dan yang lebih mengharukan lagi, author nggak diijinin update sama ffn.
Setiap hari author coba update tetep nggak bisa
Baru pas kemarin bisa update ff ini lagi
Nah, sekarang langsung lanjut aja
.
.
.
Ochaken Present
.
.
.
.
The Past
"Ungh..."
"Sudah bangun baby panda?"
"Ukh... gege?"
"Ya, kau merasakan sakit?" tanya Kris.
"Ini di mana?" tanya Tao sambil memegangi kepalanya yang pusing. Dia bisa merasakan kalau dia demam. Bagus, berapa bulan dia akan demam kali ini? Begitu kira-kira pikirnya.
"Ceritanya panjang," kata Kris, "Kau akan kaget sekaligus senang mendengarnya nanti."
"Hmm?"
"Kenapa? Kepalamu sakit? Atau sendi-sendimu terasa ngilu?" tanya Kris lagi.
"Hmm..."
"Jangan khawatir Tao, kata Lay, itu hanya efek dari demam," kata Kris lagi.
"..."
"Kau lapar?"
"Ngantuk..."
"Kau sudah tidur lebih dari seminggu dan masih mengantuk?"
"Seminggu?"
"Jangan dipikirkan dulu. Tidurlah. Nanti sore kau gege bangunkan," kata Kris sambil mengecup dahi Tao lembut.
Saat Kris keluar dari kamar itu, semua memandang dengan tatapan yang kurang lebih, 'Apa hubunganmu dengan anak itu sebenarnya?' atau 'Apa yang baru kau lakukan?'
"Kalian mengintip?" tanya Kris dingin.
"Jangan salahkan kami. Salahmu tak menutup pintu," kata Chanyeol.
"Hmm,"
"Jadi...?"
"Jadi apa?"
"Kalian pacaran?" Tanya Suho tenang.
"Tidak, hanya dua orang yang saling mencintai," kata Kris tak kalah santai.
BRUSH!
"Uhuk! Mwoya?" seru Lay kaget.
"Hyung! Harusnya aku yang berteriak seperti itu!" seru Chanyeol yang tak kalah kesal karena wajahnya basah disembur teh oleh Lay. Pemuda itu langsung mengambil tissue dan membersihkan wajahnya.
"Kau...tidak bohong kan?" tanya Lay sambil menatap mata Kris dalam-dalam.
"Tentu saja," kata Kris.
"Alasannya?" tanya Baekhyun.
"Apa itu penting?" tanya Kris sambil memutar bola matanya. Baekhyun benar-benar tak menyangka pemuda yang menangis memohon bantuan itu ternyata sangat dingin. Apa sikap hangatnya hanya untuk Tao seorang.
"Hmm,"
"Perlukah alasan untuk mencintai seseorang? Kalau kukatakan aku tidak punya alasan untuk mencintainya bagaimana? Aku terjatuh begitu saja dalam pesonanya dan aku tak ingin keluar dari sana," kata Kris membuat yang lain langsung terdiam.
"Kau lebih melankolis daripada kelihatannya kawan. Apa dalam duniamu hanya ada Tao?" tanya Chanyeol berusaha mengubah suasana yang tidak enak menurutnya itu.
"Ya, hanya ada Tao dalam duniaku. Untuk pertama kalinya aku menganggap hidupku berharga adalah pada hari aku bertemu dengannya," kata Kris.
"Kurasa banyak di antara kita yang ingin mendengar ceritanya bukan? Ini akan jadi pembicaraan yang panjang dan menyenangkan. Karena mulai sekarang kita akan bersama-sama, tak ada salahnya untuk mulai memahami satu sama lain," kata Suho.
"Ne, kami ingin mendengarnya," kata Baekhyun.
"Sebagai gantinya, kami akan bercerita tentang diri kami juga," kata Luhan yang sudah bisa keluar dari kamarnya lebih cepat dari perkiraan Lay.
"Arraseo..." kata Kris.
"Baiklah, bisa mulai dengan bagaimana kau bertemu dengan Tao," kata Baekhyun
"Aku masih sepuluh tahun saat kami bertemu. Orang tuanya meninggal sejak saat dia masih bayi dan diadopsi menjadi anak oleh lelaki bernama Huang Zhoumi. Hari itu untuk pertama kalinya aku berkata pada babaku bahwa aku membenci kekuatanku. Aku merindukan mamaku," kata Kris. Tak seorang pun menyela ucapannya walau kelihatan sekali kalau mereka penasaran dengan keadaan Kris saat pemuda itu masih sepuluh tahun.
"Mamaku tidak bisa menerima keadaan anaknya yang aneh. Baba memintaku merelakan mama untuk menjalani terapi untuk menghilangkan eksistensi dan kenangan tentangku dari pikirannya. Akan tetapi, kata baba, kenangan itu tetap ada dalam hatinya. Mama melupakanku saat aku masih lima tahun. Sejak saat itu, hanya baba seorang yang kukenal, yang tak keberatan ada di dekatku dan memberiku kasih sayang. Aku menghormati dan mencintainya. Baba jugalah orang yang tak kenal lelah mengingatkanku untuk menerima dan mencoba mencintai kekuatan yang kuanggap kutukan ini," kata Kris dengan tenang.
Baekhyun berani menjamin kalau dia yang mengalami hal itu, dia pasti lebih memilih untuk mati saja. Orang yang sangat dia cintai, ibunya sendiri yang harusnya memeluk dan merawatnya malah menolaknya. Baekhyun tak bisa membayangkannya.
"Hari itu, untuk pertama kalinya aku bisa menapakkan kakiku sendiri di tanah. Untuk pertama kalinya tubuhku tidak melayang. Baba mengajakku makan ice cream sebagai hadiah," kata Kris sambil tersenyum. Dia ingat, saat itu, dia dan babanya membeli satu cup besar ice cream coklat dan langsung menghabiskannya di sana sekarang juga.
"Di perjalanan pulang, ada seorang anak lelaki menangis tersedu-sedu di atas ayunan. Saat aku mendatanginya, ada anak lain mengatai kami monster. Dia memang anak jahil yang gemar mengganggu. Aku langsung berlari memeluk babaku dan ingin menangis di sana, tapi Tao malah menangis semakin keras dan meminta maaf. Dia pikir aku diejek karena berada di dekatnya," kata Kris mengingat kejadian delapan tahun lalu itu.
Sehun langsung memeluk pelan Luhan untuk menguatkan hyungnya itu. Dia ingat bagaimana masa lalu Luhan, bagaimana mereka bertiga bisa bertemu. Agaknya kejadiannya sedikit mirip dengan pertemuan Kris dan Tao.
"Tao menolak untuk disentuh saat pertama kali kita bertemu. Dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri. Dia menganggap dirinya sendiri sebagai monster yang membunuh kedua orang tuanya. Dia bilang, menyentuhnya bisa mengakibatkan kematian. Untungnya baba Tao datang dan bisa menenangkan Tao," kata Kris sambil tersenyum miris.
"Baba Tao, Huang Zhoumi, menceritakan seluruh masa lalu Tao, penyakit yang dideritanya sejak kecil, bagaimana rapuhnya tubuhnya karena lahir prematur. Sejak kecil hidupnya bergantung pada obat, setiap saat menerima pendangan merendahkan dan caci maki dari semua orang," kata Kris sambil menggigit bibirnya sendiri untuk menahan tangis dan amarah yang menguasainya.
Semua mengepalkan tangannya seolah ikut merasakan penderitaan pemuda itu. Seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa mereka perlakukan sebagai penjahat. Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran orang-orang itu?
"Pada saat itu, Tao sungguh sudah tak ingin hidup. Dia menginginkan mamanya. Hal yang tak mungkin bisa dikabulkan kecuali kalau Tao ingin menyusul mamanya. Saat itu, tiba-tiba saja aku mengatakan padanya bahwa aku adalah malaikat yang dikirim mamanya untuk menggantikan mamanya yang pergi saat dia masih bayi," kata Kris.
"Saat itu, untuk membuktikan ucapanku, aku berusaha bisa terbang di hadapannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada seseorang yang merasa bahagia karena kekuatanku. Untuk pertama kalinya ada yang membutuhkanku dalam hidupnya," kata Kris. Dia tak lagi kuasa menahan air matanya. Setitik air mata mengalir di sana.
"Untuk pertama kalinya aku merasa kalau hidupku berharga. Aku merasa menemukan arti hidupku yang dianggap kotor dan aneh oleh orang lain. Bahkan, orang yang seperti aku pun masih diberi kesempatan untuk membuat orang lain bahagia," kata Kris lagi.
Semuanya diam, membayangkan bagaimana perasaan Kris. Tao begitu berharga untuknya, tapi semua yang ada di sana juga tahu bagaimana kondisi anak itu. Lemah dan rapuh. Selama seminggu lebih dia tertidur, bergantung pada obat dan nutrisi dari selang infus di tangannya. Itupun tak hanya satu selang. Berbagai obat mengalir dari selang-selang yang berbeda ke dalam tubuhnya.
"Dan akhirnya aku menyadarinya, seiring berjalannya waktu yang kami lalui bersama-sama, hanya ada kami berdua di sana...aku sadar kalau aku mencintainya. Aku mencintai kepolosannya, tawanya, wangi tubuhnya, segalanya... sudah menjadi candu untukku, dia menjadi hidupku. Bila dia pergi, kupastikan dia membawa diriku serta," kata Kris.
Tak ada yang membantah. Beberapa di antara mereka mengerti dan beberapa tidak mengerti. Sehun termasuk yang mengerti. Bila Luhan pergi di hari itu, bila Luhan harus meninggalkannya untuk selamanya sepuluh hari yang lalu, Sehun pun sudah bertekad untuk menyusulnya saat itu juga. Luhan adalah hidupnya, orang yang mengatakan pada dirinya bahwa hidupnya berharga. Walau dia tidak tahu apakah dia dan Luhan lebih beruntung daripada Kris dan Tao, cintanya bertepuk sebelah tangan, sedang cinta Kris pada Tao berbalas.
"Baiklah siapa yang mau cerita selanjutnya? Sang tuan rumah?" tanya Kris sambil menepuk pahanya sendiri keras-keras membuat yang lain bangun dari lamunan mereka masing-masing.
"Aku tidak memiliki kisah sepertimu Kris. Yang aku tahu adalah sejak kecil tinggal di sini bersama dengan eomma dan appa dan juga dengan Chanyeol. Aku tidak tahu siap appaku dan juga kenapa eomma enggan membicarakannya. Lalu, saat aku masih sembilan tahun, Lay Hyung datang ke rumah ini menjadi kakakku dan Chanyeol. Lalu beberapa saat yang lalu, tiba-tiba kalian semua datang," kata Baekhyun.
"Yah, hampir mirip dengan Baekhyun, tapi aku memiliki sebuah kisah yang sediki tidak menyenangkan. Aku pribadi membenci kekuatan ini. Sudah banyak barang yang hancur karena kekuatanku. Aku bahkan melukai seseorang yang penting untukku," kata Chanyeol sambil mengeraskan rahangnya.
"Itu kecelakaan," sambung Baekhyun cepat.
"Setiap malam aku mendengarnya menangis menahan sakit. Luka itu sangat panas dan tak bisa sembuh dengan cepat. Aku curiga luka itu tak bisa sembuh seandainya Lay Hyung tidak datang dan menyembuhkannya," kata Chanyeol.
"Chan..."
"Aku belum minta maaf... selama bertahun-tahun, aku tidak berani minta maaf... maafkan aku," kata Chanyeol sambil menatap Baekhyun.
"Sudah kukatakan itu hanya kecelakaan. Semuanya terjadi terlalu cepat. Aku tidak pernah menyalahkanmu Chanie," kata Baekhyun sambil memeluk tubuh Chanyeol.
"Lay, kau yang menyembuhkannya?" tanya Suho
"Begitulah, itu luka yang...eum...sedikit tidak biasa untuk ukuran sebuah luka bakar ringan," kata Lay, "Bukan luka yang terlalu besar, tapi memang aneh karena selama dua bulan luka itu tidak juga mengering."
"Tapi, kau bisa menyembuhkannya kan," kata Suho lagi.
"Saat itu kekuatanku tidak seberapa. Justru aku bisa menyembuhkannya karena itu bukan luka yang parah. Itu hanya luka bakar yang aneh. Api yang mengenainya seolah menghambat sel-sel untuk beregenerasi kembali," kata Lay.
"Sebenarnya, aku pernah mengatakan hal ini pada Baekhyun. Aku pun tidak menyukai kekuatan yang ada dalam hidupku ini," kata Lay membuat yang lain kaget.
"Aku tinggal di biara gereja sejak bayi. Kata suster kepala yang merawatku, seorang malaikat Tuhan mengirimku untuk menjadi anaknya yang seorang biarawati dan tak boleh punya anak. Dia mengatakan aku adalah bayi merah yang tampan sejak pertama kali melihatku. Dia benar-benar memperlakukanku sebagai anaknya. Tali pusarku pun masih disimpannya dan dia anggap sebagai penggantiku saat aku dibawa ke sini," kata Lay.
"Aku sadar dari ceritanya, aku bukan anak yang dikirim seorang malaikat, tapi hanya seorang anak yang tak diharapkan orang tuanya. Dari beberapa cerita yang dia sampaikan dengan halus itu, aku bisa menangkap bahwa aku sudah dibuang beberapa saat setelah aku lahir, bahkan dengan tali pusar dan darah yang masih menempel. Kadang aku bertanya dalam hati kalau pada akhirnya mereka tidak menginginkanku, kenapa tidak langsung membunuhku sekalian?" kata Lay dengan suara bergetar.
"Karena bagiku hidup selanjutnya hampir seperti neraka. Sebelum datang ke sini, sejak usia empat tahun, aku sering dibawa ke tempat di mana pemberontakan, perang, perselisihan terjadi. Itu misi yang mulia untuk mereka yang memang mendapat panggilan hidup, tapi bagiku itu hidup dalam neraka,"
"Perang tidak berakhir saat malam. Mereka semakin menjadi. Pernah satu kali kemah tempatku tidur terkena peluru nyasar. Aku sering melihat pelecehan, bahkan sampai ke hal yang parah di depan mataku. Aku pernah melihat rumah-rumah penduduk sipil di serang. Mereka menangis dan menjerit,"
"Tugasku adalah mengobati dan menyembuhkan. Kekuatanku tidak sestabil saat ini waktu itu. Aku sering gagal dan mereka menganggapku penipu bahkan penyihir. Yang paling parah adalah saat seorang tentara musuh justru mengincarku,"
Lay menangis menceritakan semuanya. Baekhyun ingin memintanya berhenti, tapi dia tidak bisa. Ini cerita yang tak pernah dia ketahui dan saat ini Lay memutuskan untuk membagi perasaannya. Dia hanya bisa memeluk pemuda itu.
"Aku sendiri heran bagaimana bisa setelah itu aku masih bisa hidup. Masih bisa kembali ke China dengan selamat dan akhirnya berhasil diadopsi oleh keluarga ini. Suster kepala diam-diam menyerahkanku ke keluarga ini untuk menyelamatkanku," kata Lay.
"Di sini, di rumah ini, ada orang yang mendampingiku untuk mengeksplorasi dan membuatku mencintai kekuatanku sendiri," kata Lay sambil tersenyum dan menyentuh lengan Baekhyun yang memeluknya di bagian yang dia sembuhkan.
"Tangannya seperti uluran pertolongan. Sekarang, aku sungguh tak menyesal sudah mencintai kekuatanku dan melatihnya baik-baik," kata Lay.
"Hyung,"
"Gomawo Baekki, Chanie, bertemu dengan kalian adalah saat yang paling menyenangkn untukku," Kata Lay.
"Aku juga hyung,"
"Penyihir... monster... dulu aku pernah dibilang sebagai anak iblis," kata Luhan pelan.
"Orang tuaku tidak menyayangiku, tidak pula membenciku. Mereka tidak membuangku, tidak juga merawatku. Lebih tepatnya aku dibiarkan begitu saja..."
"Lihat anak itu! Lagi-lagi sendirian. Berbahaya kalau anak kita dekat-dekat dengan orang seperti itu. Ayo, kita pergi saja," kata seorang ibu saat melihat Luhan yang waktu itu berusia enam tahun sedang berdiri sambil membawa bola.
"Hyung...Luhan Hyung!" seru Sehun menyadarkan Luhan dari lamunannya.
"Ah, maaf. Jadi, bagian mana yang ingin kalian ketahui dari masa laluku?" tanya Luhan sambil tersenyum.
"Kau bisa mulai dari mana saja," kata Suho lembut.
"Tak ada yang istimewa dalam hidupku sebelum aku bertemu dengan Sehun dan Kai. Saat itu, aku pergi ke Korea karena babaku pindah. Aku masih tujuh tahun saat bertemu dengan Sehun dan Kai yang menjadi tetanggaku," kata Luhan.
"Dengan cepat aku menjadi akrab dengan mereka. Aku juga bisa berteman dengan yang lain juga. Saat itu, aku tak menyadari apa yang kumiliki dalam diriku sendiri. Tapi, kelihatannya orang tuaku tahu kalau aku memiliki kekuatan itu karena terkadang kekuatan itu keluar di saat aku tidak sadar. Mereka pasti takut dan bingung bagaimana mau memperlakukanku," kata Luhan lagi.
"Aku tidak keberatan karena aku yakin dalam lubuk hati mereka masih menyayangiku dan sama sekali tidak berniat mengacuhkanku. Aku juga tidak kesepian karena punya banyak teman. Tapi...segalanya berbubah pada hari itu..."
"Hari itu?" tanya Chanyeol lirih. Sangat lirih hingga hanya Baekhyun yang duduk di sampingnya yang bisa mendengarnya.
"Hari di mana kami hidup sebagai buronan. Saat aku sudah lima belas tahun, entah dari mana asalnya, ada orang-orang yang mau menculik Sehun dan Kai,"
"Jangan! Jangan bawa mereka!" seru Luhan.
"Minggir anak kecil!"
"JANGAN!" Luhan tidak sadar saat dia menghempaskan lelaki itu ke tengah jalan dan sebuah mobil menabraknya. Lelaki itu meninggal di tempat. Mereka serta merta langsung menyerahkan Luhan ke polisi. Mereka lupa bahwa Luhan berusaha menolong anak mereka.
Di kantor polisi...
"Aku sungguh tidak melakukannya baba, mama... aku tidak tahu..."
"Sudahlah,"
"Karena itu terbukti sebagai kecelakaan, anak anda akan kami lepaskan. Kelihatannya ini hanya salah paham semata," kata polisi yang berjaga.
"Ne, kamsahamnida," kata mereka sambil menarik Luhan keluar.
Di luar kantor polisi.
"KAU PUAS! APA SEKARANG KAU SUDAH PUAS MENCORENG NAMA BABA DENGAN LUMPUR?!"
"Maafkan aku baba..."
PLAK!
"MEMANGNYA SEMUANYA AKAN SELESAI DENGAN KATA MAAF? KAU MEMBUNUH SESEORANG LUHAN! KAU MEMANG IBLIS! SEANDAINYA AKU MEMBUNUHMU DARI DULU!" maki lelaki itu.
"Mulai sekarang, jangan pernah lagi muncul di hadapan kami. Kau bukan anak kami lagi. Aku tidak memiliki anak sekarang..." kata lelaki itu sambil masuk ke dalam mobil.
"Baba..."
"Pergilah kemana pun yang kau inginkan anak iblis..." desis sang wanita.
Luhan berjalan di bawah hujan. Dia mencoba kembali ke rumahnya. Mungkin kalau dia bisa menjelaskan segalanya, baba dan mamanya mau menerimanya kembali.
Di dekat taman tempat kasus itu terjadi, Luhan tak sengaja menyenggol seorang anak karena pandangannya yang memburam.
"SHIT! Iblis pembunuh! Apa yang kau lakukan padaku?"
"Kau mau cari gara-gara?" tanya anak lain dalam gerombolan itu.
"JANGAN DIAM SAJA IBLIS!"
Mereka mulai memukul, menendang, bahkan memukul dengan kayu dan melemparinya dengan batu. Kadang Luhan mementalkan pelan batu dan kayu yang memukulnya.
"HENTIKAN!" teriak Sehun lantang. Sehun lalu membuat angin yang tajam dan menggores tangan anak-anak itu. Masa bodoh kalau dulu mereka adalah temannya.
"AKH! Apa ini? Sakit!" pekik mereka.
"Sebaiknya kalian pergi," kata Kai dingin.
Semua anak itu langsung lari pontang-panting meninggalkan tiga orang itu di bawah derasnya hujan. Sehun langsung berlari memeluk Luhan yang menatap nanar padanya. Tubuhnya yang kurus pucat penuh lebam dan luka. Tubuh pucat nan rapuh itu bergetar takut. Bibirnya bahkan berwarna biru karena kedinginan.
"Hyung..."
"Hiks...Hunnie...kenapa aku tidak mati saja? Kenapa aku terlahir sebagai anak iblis? Aku tidak mau...hiks..." tangis Luhan dalam pelukan Sehun.
"Hyung bukan anak iblis. Hyung adalah seseorang yang istimewa," kata Sehun.
"Kau penting untukku hyung," kata Sehun lagi.
"Hiks...Hunnie..."
"Hyung, aku akan jadi lebih kuat lagi. Saat itu nanti, hyung tidak perlu merasa takut pada apa pun dan aku berjanji akan melindungimu hyung,"
"Hiks... aku...aku sudah tak bisa lagi ada di sini," kata Luhan.
"Kalau begitu, kita pergi hyung. Kita pergi bertiga dari sini. Kau tidak sendirian hyung. Ada aku dan Sehun untukku," kata Kai lembut.
"Sejak saat itu, kami pergi bertiga, menghindari pengejar-pengejar yang mencari kami. Sehun pernah tertangkap, untunglah kami bisa berkumpul lagi di hari kami bertemu kalian," kata Luhan mengakhiri ceritanya.
"Kisahku tak sesulit kalian. Aku bisa mengendalikan kekuatanku dengan bebas sejak kecil sesuai kehendakku. Kedua orang tuaku menerimaku dan aku menjalani hidup seperti anak-anak biasa. Hanya saja, berbeda dengan kalian yang kurang lebih sudah bisa menemukan jawaban mengapa kalian memiliki kekuatan, aku sampai sekarang masih tidak mengerti," kata Suho sambil tersenyum.
"Kau pasti akan bisa menemukannya hyung. Kita juga menemukannya perlahan-lahan dan tidak semua dari kita sudah menemukannya," kata Lay.
"Kurasa hanya Lay dan Kris yang benar-benar mengerti kenapa mereka memiliki kekuatan itu karena mereka mengerti cara mencintai kekuatan mereka," kata Luhan.
Mereka tidak menyadari kalau Tao mendengarkan mereka sedari tadi. Pemuda itu menutup pelan pintu kamarnya dan menguncinya. Pemuda itu terduduk sambil bersandar di pintu. Dia memandang pilu lambang jam pasir di tangannya. Dialah sang time control. Penguasa waktu yang mengatur jalannya waktu. Sosok tak kasat mata yang mengaku sebagai penjaga waktu selalu mendatangi mimpi dan khayalannya saat pikirannya kosong. Membebekarkan kenyataan di masa depan. Dulu dia hanya menganggap itu sebagai khayalan dan imajnasinya saja.
Kenapa Tao baru sadar kalau dia punya kekuatan ini?
"Tao, aku adalah sang penjaga waktu. Aku datang untuk memberitahumu bahwa kau memiliki kekuatan tak terbatas ruang dan waktu Tao. Kau bisa mengendalikan segala hal yang berhubungan dengan waktu," kata suara itu bergema.
"Sebenarnya aku ini siapa?"
"Tao, menjadi penguasa waktu bukanlah hal yang mudah. Aku akan mendampingimu. Kau ingin tahu kenapa kau dilahirkan bukan? Gunakan kekuatanmu untuk mengerti," kata penjaga waktu.
"Aku tidak mengerti..."
"Tao, pada setiap waktu ada kejadian yang terjadi. Kau bisa membelokkan semua itu. Kau bisa melihat semua kejadian di masa depan dan masa lalu. Kau bahkan bisa mengehentikan waktu seseorang. Kau bisa memutar balik waktu mereka. Kau punya kuasa yang luar biasa,"
"Aku tidak mau..."
"Tao, aku akan memberi tahu padamu suatu kenyataan. Kau adalah satu dari dua belas penjaga bumi Asia Tenggara hingga China, Jepang, dan Korea. Kalian bertemu di sini bukan karena suatu kebetulan. Temukan sisa tiga orang lainnya dan kau akan menemukan alasannya,"
"..."
"Hidupmu setelah ini akan semakin sulit Tao. Akan ada lebih banyak penderitaan yang kau alami di masa depan. Tapi, kau tidak sendirian Tao. Kau memiliki sebelas orang teman yang berjalan bersama denganmu," kata penjaga waktu dengan nada lembut.
"Tao, sebelum kita bertemu lagi suatu saat nanti, aku ingin mengingatkanmu. Jangan pernah gunakan kekuatan memutar balik waktu hanya untuk hal yang sepele. Setiap kau menggunakan kekuatan, semakin kuat kekuatanmu, semakin lemah tubuhmu. Bila tubuhmu tak kuat lagi menahannya, jiwamu akan bersatu dengan waktu," kata penjaga waktu itu.
"Jaga dirimu baik-baik Tao. Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti," kata penjaga waktu sebelum akhirnya suara itu menghilang sama sekali.
Tao memejamkan matanya, membiarkan air mata mengaliri wajahnya dari mata yang tertutup kelopaknya itu.
'Tao, semakin kuat seseorang, konsekuensi hidupnya akan semakin besar. Penderitaan yang ditanggung juga akan semakin besar. Kau sudah menderita sampai seperti ini, pasti dalam hati dan tubuhmu ada kekuatan yang besar,' kata Kris.
"Gege...kekuatan ini terlalu besar. Aku bahkan bisa melihat bagaimana aku meninggal nanti di masa depan. Aku melihat bagaimana kalian meninggal nanti. Aku takut..."
KREK!
"Tao? Kau mengunci pintunya?" tanya Kris kaget.
"Gege?"
"Hei, Tao? Buka pintunya," kata Kris lembut.
Tao tidak boleh ragu. Justru karena dia tahu, dia harus mengubahnya. Takdir kejam yang membentang di depan matanya memang sudah terpampang jelas, tapi akhir dari takdir itu pasti akan diubahnya. Tao akan berjuang dengan teman-temannya.
CKLEK!
"Gege,"
"Kenapa kau mengunci pintunya? Jangan membuatku khawatir. Kau melepaskan infusnya? Dasar! Jangan seenaknya Tao! Tubuhmu itu masih lemah," kata Kris berusaha menahan emosinya. Dia tak ingin menyakiti Tao, walau dia yakin setelah ini Tao pasti akan menangis karena kata-katanya.
"Gege, aku tidak apa-apa. Sudah berapa lama tepatnya aku tertidur?" tanya Tao lembut sambil menyentuh pipi Kris dan membuat pemuda yang dia sentuh itu kaget setengah mati. Selama delapan tahun ini, untuk pertama kalinya dia melihat Tao bisa menatap lurus ke depan dengan kuat.
"Ge?"
"Kau tidur selama sepuluh hari Tao," kata Kris yang masih shock.
"Aku sudah tidak apa-apa. Aku tahu semuanya. Aku juga mendengar semua percakapan kalian tadi. Ada hal yang harus kusampaikan pada kalian semua," kata Tao sambil menarik tangan Kris untuk keluar dari kamar itu.
"Anyeong," sapa pemuda itu membuat Kris makin kaget. Sejak kapan Tao menguasai Bahasa Korea.
"Ah...anyeong," sapa yang lain kaget.
Dari cerita Kris, mereka menganggap kalau Tao itu anak yang sensitif dan polos, tapi Tao yang bangun dari tidurnya ini terasa agak berbeda. Anak itu kelihatan kuat.
"Luhan ge, apa tanganmu sudah bisa digerakkan?" tanya Tao pada Luhan. Luhan agak kaget saat Tao menyapanya. Apa Kris memberitahu Tao mengenai semuanya.
"Ah, ya,"
"Lay Ge, Baekki Ge, Chanie Ge, Suho Ge, boleh kupanggil kalian begitu?" tanya Tao dan mendapat anggukan dari keempatnya.
"Terima kasih sudah menyelamatkan hidupku," kata Tao sambil tersenyum.
"Ah, ya..." kata mereka canggung.
"Ada beberapa hal yang harus kukatakan pada kalian," kata Tao serius sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
Lay bisa melihat kalau anak itu sebenarnya belum sembuh. Wajahnya masih pucat dan kadang nafasnya tersengal. Kelihatannya anak itu memaksakan diri untuk duduk di sana dan menyampaikan sesuatu. Apa pun yang akan dia sampaikan kelihatannya sangat penting.
"Aku tahu... aku tahu siapa diri kita yang sebenarnya. Siapa orang-orang yang mengincar kita. Semuanya," kata Tao membuat yang lain sangat-sangat kaget.
"Pertama, mengenai diri kita, kita adalah penjaga yang diciptakan Tuhan untuk melidungi bumi Asia Tenggara hingga Jepang, Korea, dan China. Lambang yang kita miliki ini adalah buktinya," kata Tao sambil menunjukkan lambang di pergelangan tangannya.
"Lambang itu?" kata Chanyeol tak percaya.
"Ada apa dengan lambang itu Chanie?" tanya Baekhyun.
"Apa yang anak itu katakan benar hyung. Awalnya aku juga tidak percaya, tapi ramalan kuno dan kehadiran sang time control...aku..."
"Baiklah, setiap lambang kita mewakili suatu kekuatan. Kalian tentu sudah tahu kekuatan kalian masing-masing dan juga subkekuatan dan pengembangannya. Lambang ini, time control, artinya aku memiliki kemampuan mengendalikan waktu. Aku bisa menghentikan waktu secara basic dan waktu seseorang di dunia ini. Aku bisa mempercepat, memperlambat, memutar balik waktu. Aku juga bisa melihat masa lalu dan masa depan, juga mengajak dan mengirim orang ke suatu masa. Aku juga bisa mengurungnya di ruang dan waktu. Aku bisa memutar waktu seseorang," kata Tao.
"Keren..." kata Kai refleks. Dia merasa kekuatan teleportasinya tak ada apa-apanya dengan kekuatan time control milik Tao.
"Masih ada tiga orang lagi di luar sana dan kita harus menemukan mereka bertiga secepatnya. Sebelum semuanya terlambat," kata Tao.
"Tiga? Kau tahu siapa saja mereka?" tanya Suho.
"Nama mereka, Kim Min Seok, pengendali es, Kim Jong Dae, pengendali petir, dan Do Kyungsoo, pengendali bumi," kata Tao sedikit terbata.
"Jangan memaksakan dirimu Tao, tubuhmu itu belum sembuh benar. Aku akan pasang infusnya lagi," kata Lay sambil mengambil infus yang baru.
"Hah...hahh...ne, mianhe. Kalau kita sampai terlambat sedikit saja menemukan tiga orang itu, mereka bisa saja memanfaatkan mereka. Kalau hal itu terjadi, bukan tidak mungkin kita harus melawan mereka," kata Tao sambil memegang dadanya pelan.
"Sudah, ceritakan kelanjutannya nanti saja. Sekarang kau istirahat lagi saja. Kami akan secepatnya berusaha mencari tiga orang itu," kata Suho yang merasa khawatir.
"Ne," kata Tao pelan. Apa berbicara dengan penjaga waktu juga termasuk menggunakan kekuatan? Kalau iya, dia harus sangat bijak menggunakan kekuatannya. Nyawanya yang dipangkas di sini kalau dia menghamburkan kekuatan.
Kris langsung menggendong Tao kembali ke kamar diikuti oleh Lay untuk kembali memasangkan infus. Kai dan Sehun juga kembali mengantarkan Luhan ke kamarnya. Baekhyun juga ikut ke dalam kamar Luhan, entah untuk apa. Hanya tinggal Chanyeol dan Suho di sana.
"Bicaralah," kata Suho tenang.
"Apa maksudmu hyung?"
"Keringatmu bilang ada hal yang ingin kau bicarakan denganku. Karena itu kan kau tidak mengekori Baekhyun seperti biasa," kata Suho sambil tersenyum.
"Hyung, kemampuanmu memang praktis dan berbahaya. Aku akan hati-hati saat di dekatmu," kata Chanyeol sambil berdecak kesal.
"Kita pindah tempat saja. Lebih aman di dekat sungai kecil yang itu," kata Suho dan langsung diikuti dengan berdirinya mereka berdua untuk ke sungai. Yah, semakin banyak air, semakin mudah bagi Suho untuk mengetahui apakah ada musuh atau tidak.
"Jadi, apa yang mau kaukatakan padaku?" tanya Suho.
"Tergantung apa yang hyung ingin tanyakan," kata Chanyeol kalem.
"Baiklah, bisa beritahu aku bagaimana Tao bisa mengetahui semua kenyataan? Aku mencari tahu lama sekali dengan melatih sedikit-sedikit kekuatanku untuk bisa berbicara dan mendengar suara air, tapi tak juga mengetahui hal-hal yang dia katakan tadi," kata Suho.
"Time Control adalah kekuatan paling besar di antara kita berdua belas yang menjadi guardian. Menurut buku ini, setiap belahan bumi dibagi dan dijaga masing-masing dua belas penjaga, tapi hanya satu bagian yang mendapat sang penguasa waktu," kata Chanyeol sambil mengeluarkan buku usang berwarna kecoklatan.
"Buku apa itu?"
"Ini buku peninggalan sebuah suku yang menyebut diri mereka suku api. Suku ini dikutuk iblis karena mengetahui rahasia kelemahan iblis dan akhirnya menghilang. Katanya, buku ini dimantrai dan disegel agar tidak dimusnahkan oleh iblis. Buku ini konon hanya bisa ditemukan, dibuka, dan dibaca oleh reinkarnasi ketua suku api. Kekuatanku adalah api. Lucu sekali bukan? Kupikir ini bukan kebetulan semata," kata Chanyeol.
"Lanjutkan," kata Suho.
"Di buku ini, sebagian besar memuat tentang kekuatan kita, subkekuatan, dan juga pengembangan yang Tao beritahukan tadi. Kita adalah kelemahan terbesar iblis itu. Misi kita di dunia ini menurut buku itu adalah menghancurkan sang iblis atau kita yang dihancurkan oleh sang iblis. Tentu saja kalau kita hancur, dunia akan ikut hancur. Setidaknya kalau hanya kita berdua belas yang hancur, maka separuh Asia akan lenyap. Entah lenyap itu maksudnya apa, tapi kupikir itu bukan hal yang bagus," kata Chanyeol.
"Tapi, bila sang waktu berhasil digenggam oleh iblis, kekalahan semua penjaga itu sudah pasti," kata Chanyeol lagi.
"Jadi, ini ada hubungannya dengan lemahnya tubuh Tao?" tanya Suho.
"Kau memang pintar hyung," kata Chanyeol.
"Tao pasti sudah megetahui segalanya dari sang penjaga waktu. Time control adalah penjaga yang jarang sekali muncul atau lebih tepatnya, sekalinya muncul mereka akan dengan cepat juga meninggalkan dunia karena berbagai hal. Iblis sudah berulang kali membunuh sang waktu, tapi dia tidak berhasil menggenggamnya," kata Chanyeol.
"Aku mulai mengerti, tapi bukankah penjaga waktu itu Tao?" tanya Suho.
"Tao adalah sang penguasa waktu. Karena penguasa waktu sangat jarang muncul, dibutuhkan penjaga yang mengendalikan arus waktu agar tetap berjalan. Penjaga waktu tak bisa mati, bahkan tak berwujud. Bisa dibilang dia adalah waktu itu sendiri yang berjalan begitu saja dan tak pernah berhenti. Dia adalah senjata Tao. Penjaga waktu itu pasti sudah memberi informasi pada Tao," kata Chanyeol.
"Kekuatan Tao sangat mengerikan. Itu kekuatan yang amat besar. Bukan sesuatu yang bisa kupercaya untuk dikendalikan manusia. Kita yang kemampuannya terbatas saja kesulitan mengendalikan kekuatannya," kata Suho khawatir.
"Kekuatan kita pada dasarnya bukan bagian dari diri kita. Ada tempat lain di tubuh untuk kekuatan ini. Tempat yang tidak ketahui ada di mana. Untuk menemukan kekuatan ini, kita harus mencarinya. Untuk mengendalikannya, kita harus berteman dengannya. Berbeda dengan Tao, kekuatan itulah yang memujanya. Waktu justru menyerahkan dirinya dalam genggaman Tao. Dia benar-benar bisa mengendalikan kekuatannya," kata Chanyeol.
"Syukurlah,"
"Tapi, seiring dengan kekuatan yang besar, tanggung jawab dan konsekuensi dari hal itu juga semakin besar," kata Chanyeol.
"Apa maksudmu?"
"Tubuh fana kita, suatu saat akan mati dan menyisakan jiwa kita. Entah sejak kapan, kita selalu bereinkarnasi ke tubuh baru dan kembali menjadi penjaga. Selama ini, waktu belum pernah sekalipun bisa mengontak penguasanya. Hanya Tao seorang yang bisa dia ajak bicara dan mengendalikan kekuatan time control miliknya secara bebas. Itu berarti, tidak ada orang yang bisa mengendalikan kekuatan itu sebelumnya," kata Chanyeol.
"Di buku ini dikatakan kalau saat sang penguasa waktu meninggal, dia akan bersatu bersama waktu dan bisa dibilang itu adalah akhir dari keberadaan kita sebagai penjaga," kata Chanyeol lirih.
"Maksudmu, seandainya Tao meninggal, maka kita semua juga akan meninggal?" tanya Suho tak percaya.
"Menurut buku ini kurang lebih seperti itu,"
"Ini..."
"Lalu, setiap kali Tao menggunakan kekuatannya, tubuhnya akan semakin lemah. Setiap kekuatan yang dia keluarkan akan mendatangkan rasa sakit pada dirinya sendiri. Hanya sebatas itu yang ada di buku ini hyung. Mungkin apa yang didengar oleh Tao dari sang penjaga waktu masih lebih lengkap," kata Chanyeol lagi.
"..."
"Mungkin inilah maksudnya dari pepatah jangan pernah bermain-main dengan waktu karena dampaknya akan sangat besar. Memang lebih baik manusia tidak pernah tahu bagaimana masa depannya..."
.
.
.
.
T to the B to the C
To be continued
hehehehe
gimana?
Mind to review?
author buat poling ya...
Siapa sebenarnya yang jadi kunci pertarungan nanti? Yang pasti Tao jelas banget jadi kunci. Nah, berapa dan siapa kunci yang lainnya?
Dari sini, kalau kalian mencermati kekuatan masing-masing anak itu, kalian pasti bisalah menebak siapa kuncinya
silahkan pilih :
Xiumin
Baekhyun
Chanyeol
Kyungsoo
atau kalian malah punya pemikiran selain nama-nama di atas?
Terus enaknya siapa yang jadi lawannya EXO di sini nanti?
SHINee
BAP
BTS
Silahkan dipilih ya^^
Suju nggak bisa dipilih soalnya udah jadi mama sama papa nya mereka
