A Merely Boy and Demon

Please don't say the words of the eternal spell

Please don't listen to your true wish

Please don't cry

"Uhuk…uhuk…"

Hari itu udara jauh lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. Di musim dingin yang anginnya menusuk tulang setiap kali berhembus melalui celah-celah rumah kecilnya. Rayap-rayap yang berjalan dan biasa berbaris di himpitan kayu-kayu rumahnya, kini tak nampak… mungkin menunggu lewatnya musim dingin. Seperti dirinya, Naruto terkapar di tempat tidurnya. Musim dingin selalu menjadi musim yang paling berat untuknya. Tumbuhan dan ikannya akan sulit bertahan hidup, walaupun akhirnya ia memasukkan semua peliharaannya dalam rumah. Ia pun kesulitan bila turun salju, dan tidak dapat pergi ke hutan untuk mengambil kayu bakar. Tidak jarang, badai salju turun tanpa sepengetahuannya. Badai yang memakan waktu, memakan pula kesempatannya untuk hidup

Tidak sekali atau dua kali, Naruto terkena frost bite hanya untuk sesuap nasi. Hanya untuk mengisi perutnya. Saat semua orang berada di dalam rumahnya yang hangat dengan perapian dan secangkir coklat panas. Maka saat itu Naruto akan berjalan keluar kota. Mencari sesuatu yang bisa diambilnya, kadang dari tumpukkan sampah, tapi tidak jarang memungut sesuatu yang terjatuh di taman atau jalanan. Selama ia tidak mencuri, selama ia tidak berbuat jahat dan selama ia bisa makan.

Saat itu penyakitnya semakin parah, batuknya tidak berhenti. Tanaman herbalnya tertidur ditumpukkan salju, hanya sedikit yang sempat ia panen dan keringkan. Ia tidak menyadari penyakitnya akan separah ini. Sudah dua hari ia bedridden dan tidak ada tanda-tanda untuk sembuh. Mungkin musim dingin ini memang saat terakhirnya. Saat terakhirnya melihat awan birunya, melihat tanamannya, melihat ikan-ikannya, melihat tempat favoritnya di hutan. Andaikan ia tahu siapa dirinya yang sebenarnya, ia ingin sekali melihat kedua orang tuanya, dan melihat orang itu. Laki-laki yang pernah ia temuinya beberapa kali selama masa hidupnya. Tapi sepertinya orang itu tidak pernah menyadari 'keberadaannya', tapi ia tahu… matanya sama dengan mata miliknya.

Mereka sama-sama kesepian.

Si bocah pirang itu bangkit dan terbatuk lagi, sungguh batuknya itu tidak bisa terhenti. Sekalipun terhenti, itu hanya saat tidurnya atau saat tidak sadarnya. Ia menatap cairan merah yang keluar dari mulutnya, dan ia kenali sebagai darah. Darah yang tidak jarang keluar dari hidungnya pula. Sakit apa dirinya? Bocah yang baru dua bulan lalu berumur 16 tahun itu tidak mengetahuinya. Dan tidak ingin mengetahuinya.

Penyakit ini mungkin yang akan mengantarkannya pada pintu kematian. Seburuk apa neraka? Ia merasa mungkin ia bisa mengatasinya, lihat? Apa bedanya dunianya dengan neraka?

Ia mengembuskan napasnya disela-sela batuk menggigilnya. Setidaknya, ia sempat melihat bunga-bunga berwarna merah muda yang ada di dekat danau di dalam hutan. Mengingatnya, saat itu ia berpikir inilah surga, dan mungkin lebih indah lagi. Sampai ia membuka matanya dan ia masih berada di rumahnya.

"Uhhhukk! Uuhhhuukkk!"

Batuknya semakin keras, dan keluar darah lagi. Tubuhnya semakin berat, kakinya mati rasa, setebal apapun ia menumpuk kain di atas tubuhnya tapi ia tetap merasa dingin. Dingin. Dingin sekali, sendi-sendinya kaku, dan sekujur tubuhnya beku. Inikah akhir hidupnya?

Ah, sepertinya belum, karena tidak ada apapun yang bersayap yang mendekatinya, atau seperti yang orang-orang katakan? Mereka membawa sabit besar. Malaikat kematian. Hei, Tuhan… seumur hidupku aku tidak pernah merasakan kebahagiaan –ah, tidak ia tidak perlu berdusta pada Tuhannya, karena Tuhan akan tahu-, seumurku hidup aku sendirian, tiada keluarga atau teman, dan saat lapar pun, semut tidak mau membagi makannya. Apakah aku bisa meminta sesuatu….katanya dalam hati.

Seperti Siti Maryam, seperti Holy Mary, seperti Virgin Mary. Ia berdoa, atas kesuciannya. Atas kejujurannya, dan atas kepasrahan takdir hidupnya.

Ia berjuang untuk hidup, sampai titik dimana kematian memakannya sedikit demi sedikit. Demi ia, yang tidak pernah ingkar atas perintah-Nya, ia berharap agar keinginan terakhirnya dikabulkan.

Mungkin kah?

"Uhuhhkk-"

Deru napasnya, menggebu, sakit sekali rasanya. Air matanya tak terhenti mengalir. Aku takut, pikirnya. Aku takut. Aku tidak ingin mati sendiri.

Ia menutup matanya, mati-matian menahan rasa sakitnya, dan berharap ketika ia membuka keduamatanya. Matahari sudah bersinar, dan ia bisa keluar rumah. Dalam keadaan sehat, dalam keadaan baik-baik saja.

Di dalam tidurnya, seorang anak laki-laki yang berharap semuanya akan baik-baik saja.

"Uhukk.."

…o0o…

My memories cruelly mocks me

…o0o…

Kenangan yang sangat jauh dan dirindukkannya, menenggelamkannya pada masa lalu yang singkat tapi baginya adalah segalanya. Hari-hari indahnya, hari-hari ia merasa sebagai anak normal lainnya. Dimarahi ketika ia pulang larut, dimarahi ketika ia tidak membersihkan tempat tidurnya, dimarahi ketika ia memilih-milih makannya. Hari seperti itu adalah hari yang merepotkan dan menyebalkan, tapi pada saat yang sama itu adalah hari yang terbahagia dari ingatannya. Minum coklat saat musim dingin, dan pergi ke pantai saat musim panas. Beberapa bulan yang membahagiakan.

Saat-saat itulah yang membuatnya hidup sampai saat ini.

Namun, tidak dapat ia pungkiri bahwa saat ini pun layaknya hari itu. Dimana ia bisa tersenyum dengan lebar, dimana ia tidak perlu takut seseorang akan memakinya. Memang, tidak mudah tinggal di tempat itu pada awalnya, tidak sedikit pula orang yang membencinya. Tapi nampaknya, dewi fortuna menyandinginya. Entah kenapa, pandangan orang-orang melunak beberapa hari setelahnya. Kadang ia berpikir, apakah ini semua jasa sahabat baiknya. Entahlah… tapi sungguh ia beruntung memiliki tempat untuk tidur dan tempat untuk makan bersama orang-orang yang ia sayangi.

Di rumah, itu… di ruangan itu, bersama dengan sahabatnya.

Sepucuk surat yang datang entah dari mana. Bahkan Sasuke pun tidak tahu siapa pengirimnya. Nama Windsor terlalu jamak kalau ia mau ber-persepsi. Tapi kalau ia menggaris bawahi kemungkinan, Windsor disini ada hubungannya dengan Michael Windsor. Orang yang ia salami di pesta Hyuuga sebulan lebih yang lalu. Laki-laki paruh baya yang aneh. Terlebih lagi ia seperti memperhatikan Naruto. Untuk apa Earl sepertinya memperhatikan Naruto? Bocah yang selalu dianggap sebagai monster dan pembawa sial. Sasuke tidak bodoh, jadi ia tahu faktanya bahwa Naruto selalu ada saat kecelakaan atau pembunuhan.

Tidak ada yang tahu, anak bermata biru dan berambut pirang itu anak siapa. Sepertinya pada warga desa pun terlalu takut untuk mendekatinya dan mencari tahu siapa dirinya, mereka terlalu takut untuk dikutuk. Ia pernah menemukan surat kabar yang menuliskan tentang 'monster' di hutan, yang bagai pengetahuan umum, bahwa itu mendeskripsikan Naruto. Disurat kabar itu telah menyatakan kalau Naruto hanyalah anak kecil biasa, tapi kematian tiga orang disekitar hutan itu yang menjadikannya luarbiasa kembali.

Lalu wajahnya yang manis (referensi: Naruko), tubuhnya yang kecil dan matanya yang cantik. Dari kawannya, Sasuke tahu… sebenarnya mereka itu laki-laki bejat yang ingin memuaskan nafsunya saat membaca perihal Naruto. Heh, malangnya, seperti terkena kutukan mereka pun mati misterius karena hal itu. seperti kereta kudanya terguling, dan si kuda yang mengamuk menghabisi nyawa tuannya? Seperti guyonan dan lagi ia tidak dapat berbuat apapun. Ini semua karena perjanjiannya dengan sahabatnya ini. ia tidak bisa merubah apapun selama yang ia inginkan hanya 'berteman'. Tapi… takdir macam apa ini? sang iblis yang jahat sepertinya dan selalu membisiki kejahatan pada manusia yang percaya padanya?

Apakah ini kesengajaan? Ataukah ini ketidaksengajaan?

Ia tidak tahu… tapi bocah dengan senyum terindah di hadapannya ini. Saat ini, untuk pertama kali dari masa hidupnya. Ia menyesal mengikat perjanjian dengannya. Karena pada akhirnya ia akan jatuh bersama dengannya. Ke neraka, katakan padaku, bahwa neraka itu indah. Akan kubuktikan, ah tidak… suatu saat nanti Tuhanmu buktikan bahwa kau akan berkata, 'andaikan aku tidak berkawan denganmu.' Lalu kami akan menertawakanmu.

"Naruto…" panggilnya perlahan, kepada bocah yang memegang secarik kertas, dengan tinta berjajar rapi di atasnya.

Lima menit semenjak bocah pirang menggenggam sepucuk surat itu. Ia hanya terdiam, dan sesaat kemudian air mata menjatuhi pipinya. Perlahan, tapi pasti menetes dari dagunya. Kapan Sasuke pernah melihatnya menangis? Tidak pernah… karena Naruto tidak pernah menangis dihadapannya. Bocah kecil itu… walaupun kecil dan payah, tapi ia tetap laki-laki.

Naruto mengusap airmatanya dengan tangan kirinya. Pegangan tangan kanannya gemetar. Seperti berita buruk? Atau ini berita bahagia? Atau jangan-jangan pengirimnya termasuk laki-laki bejat yang memiliki hobi buruk dan menaruh perhatiannya pada Naruto?

"Naruto…" panggilnya lagi dengan sentuhan tangannya di pundak bocah remaja itu. Silverster melirik sesaat dan kembali ke buku kecil berwarna orangenya. Buku misterius yang selama ini tidak seorang pun tahu apa isinya.

"Sasuke…"

Mata biru itu bertemu pandang dengan mata kehitaman. Airmata keluar lagi dari sarangnya, dan si pemiliknya berusaha mengelapnya kembali, apa yang membuatnya sesedih ini setelah membaca surat itu?

Secarik kertas itu ditunjukkannya pada sahabatnya, ia kembali mengelap airmatanya.

"Sasuke…"

Mereka saling menatap lagi, wajah konyol bocah itu terlihat sangat serius, seakan-akan ia mengatakan besok adalah hari kematiannya.

"Hn…"

Silverster menatap keduanya kembali.

"Aku tidak bisa membacanya."

Eh?

'Bluk' Buku orange Silverster terjatuh dan buru-buru diambilnya sebelum Sasuke sanggup melihat isinya.

"DOBEEEEE!" Sasuke mengambil paksa secarik kertas tebal itu. "Lalu kenapa kau menangis! Seakan-akan kau bisa membacanya dan berisi berita buruk, DObeeee!" katanya dengan sangattttttt kesal. Pantas saja, terasa ada yang aneh dengan 'Naruto membaca surat dari orang yang tidak dikenalnya'. Bukan bagian 'orang yang tidak dikenal' melainkan kata 'membaca'. Kapan Naruto bisa membaca? Tapi… kenapa ia bisa membaca nama Sasuke saat itu?

"TEME! Aku tidak tahu apa isinya! Tapi aku tahu siapa yang menulisnya!" bentaknya balik. "Dan aku menangisinya karena ternyata ia mengingatku! Ia pergi bukan karena membenciku!"

"Dobe!"

"Lagipula…" mata hitam itu menatapnya dengan tajam, "Ah, sudahlah… kau bacakan saja!"

Si Iblis itu berdecak, dan melirik isi dari surat itu. surat yang terdapat di dalamnya tulisan yang sangat rapi. Ia menyapu surat itu sebelum dibacanya, kalau-kalau ada hal yang tidak perlu dibaca? Senyum kecil merekah di bibirnya…

...

1 Mei 1851

Dear Naruto…

Naruto, bagaimana kabarmu? Aku bingung hendak memulainya dari mana… apakah kau masih ingat aku, Mr. Delphin? Sebelumnya aku meminta maaf karena tidak dapat memenuhi janjiku… kakakku Michael Windsor yang kau temui akhir Maret lalu menceritakan perihal dirimu. Sekarang kau bernama Uchiha… maaf, tapi rasanya aku ingin tetap memanggilmu 'Naruto'. Boleh kan?

Aku berbohong padamu, namaku bukan Delphin Meer, tapi John Windsor… aku melarikan diri dari satuan setelah perang berakhir dan pergi untuk mengabdi sebagai guru. Mungkin kau kesal karena aku sedikit ketat selama setengah tahun kita hidup bersama. Maaf, Naruto… aku tidak bisa membawa serta dirimu. Setelah aku dipaksa pulang oleh ayahku, beliau langsung membuatku keluar negeri. Katanya ini pelajaran baik bagiku, sekaligus untuk mempromosikanku. Akhir bulan lalu, kakakku berkunjung ke Amerika Serikat, dan ia menceritakan tentang seseorang yang menyerupaimu. Aku tidak bisa langsung ke Inggris, dan pertemuan kami pun sangat singkat.

Hei… Naruto, apakah kau hidup dengan baik? Apakah kau sehat-sehat saja? kau masih mencuri tidak? Aku dengar kau baru tinggal dengan Uchiha awal tahun ini… apakah kau masih tinggal di rumah itu? Aku pernah mendengar dari Marquess disana, katanya kau sudah pergi dari kota itu… apakah keadaan rumah kecil itu baik-baik saja? apakah kau memiliki teman? Kau… masih suka fishcake? Kau masih mengompol? Dan… apakah luka di pipimu sudah hilang… sekarang kau pasti sudah besar… aku… sudah memiliki istri dan dua anak di sini… kalau kau mau…

Naruto, aku merindukanmu… setiap kali anakku tertidur, aku selalu mengingatmu, dan berharap kedua anakku memiliki kakak yang bisa mereka andalkan… aku sungguh menyesal tidak dapat memenuhi janjiku… aku menyayangimu, Naruto… seperti anakku sendiri.

Aku merindukanmu… bisakah kita bertemu di musim dingin ini? Tahun ini, kami sekeluarga akan mengunjungi rumah kakakku untuk merayakan Natal… bisakah… kita bertemu sebelum itu? aku harap kau membalas surat ini, Naruto…

Jaga kesehatanmu,

Sincerely,

John Alexander Windsor

"…Windsor…"

Sasuke terdiam, melihat sahabatnya terpaku. Ia tidak menangis seperti yang dikiranya. Senyuman kecil muncul di ujung bibirnya. Saat Sasuke selesai membaca, ia langsung menatap keluar jendela. Langit yang biru, begitu pikirnya. Lalu, setetes air mata jatuh melintasi pipinya. Ia menangis dalam diamnya.

"Naruto…"

Ia tidak langsung menatap sahabat yang memanggilnya. Sasuke tidak bisa berbuat apapun selain menepuk punggungnya. Ia ingin memeluknya? Apa seorang teman boleh memeluk teman lainnya? Duh, kenapa ia bingung… tentu boleh! Kan mereka berteman… tapi… bukannya itu kebiasaan perempuan? Saling berpelukan ketika temannya bersedih! Mereka kan laki-laki… Father… Naruto manusia dan ia seorang iblis.. apa itu… tidak akan aneh?

Hish!

"Naruto…"

Temannya itu akhirnya berpaling menatapnya, dan tersenyum lagi. Kenapa ia selalu tersenyum seperti ini?

"Aku baik-baik saja, Sasuke-Teme!" ia mengusap air matanya, "Aku hanya bahagia… ternyata selama ini… ada orang yang selalu merindukanku… aku pikir… aku selalu sendiri. Yatim piatu yang tidak pernah mengingat masa kecilnya, memiliki mata dan luka yang aneh, monster pembawa sial bagi banyak orang… dan…" airmatanya jatuh kembali… "-dan seseorang yang tidak pernah diharapkan keberadaannya oleh orang lain…"

Apapun yang dipikirkan orang lain… Sasuke tidak peduli. Ia memeluk sahabatnya dengan erat.

"Naruto…" tangannya melingkari tubuh Naruto dan menyebut namanya berkali-kali dengan perlahan.

"-Aku bahagia Sasuke… aku bahagia… aku hanya berharap…" ia memeluk balik sahabatnya itu, Silverster sudah keluar dari tempat itu tanpa sepengetahuan mereka berdua, "Aku berharap… aku memiliki waktu yang cukup untuk menemuinya."

Naruto melepaskan pelukan Sasuke, dan mereka berdua saling berpandangan, "Hei, Teme… seandainya, aku tidak bisa hidup sampai musim dingin nanti… maukah kau… menggantikanku untuk menemuinya? Dan katakan kalau aku merindukannya juga? Dan aku sudah tidak mencuri lagi… aku bahkan bisa menanam dan memelihara ikan…"

"Tidak, Naruto…"

"Sasuke…"

Senyum lemah tapi memang ada, muncul di wajah Sasuke, "Kau yang harus menyampaikannya sendiri padanya. Hidup lah sampai saat itu, Naruto…"

Si pirang itu menggelengkan kepalanya, "Intuisiku mengatakan kalau aku tidak akan sang-"

"Persetan dengan intuisimu, Naruto! Katakan padaku, aku ingin sembuh dan berumur panjang! Maka aku akan mengabulkannya!" bentak Sasuke, ia tahu… memanjangkan umur seseorang itu mustahil bagi iblis sepertinya, karena itu kehendak-Nya. Tapi… mungkin… kalau Naruto mengatakan ia ingin sembuh… ia bisa bertahan hidup? Lagipula usia… siapa yang tahu?

Tangan kurus Naruto, meraih pundak Sasuke, "Kau tahu, Sasuke…" ia menatap keluar jendela lagi, "Kadang aku bingung… apakah aku ini hidup hanya untuk dicaci dan dibenci banyak orang? Aku yang bodoh ini… tidak mengerti… tapi… bukankah something happen with a reason? Karena pasti ada alasannya kenapa aku hidup. Lalu… apakah aku harus takut untuk mati? Tidak, Sasuke… bukan kematian yang kutakutkan… tapi…" ia menarik tangannya kembali.

"Cukup Naruto… cukup!"

"Hm…"

Mereka terdiam, Naruto menatap keluar lagi dan sahabatnya menundukkan kepalanya. Sasuke tahu dengan pasti kalimat apa yang tidak diselesaikan oleh sahabatnya. Kalimat yang membuatnya berada disisi Naruto saat ini. Alasan itulah. Lalu, apa yang bisa ia lakukan sebagai sahabatnya ini?

"Hei, Dobe…" panggilnya dengan lirih, dan Naruto menatapnya. Perlahan ia mengangkat kepalanya, "Aku akan mengajarimu membaca dan menulis…"

Mata biru Naruto terlihat kebingungan.

"Kau masih harus menulis balasan surat itu kan?"

Wajah Naruto terangkat, dan senyuman kembali muncul. Senyuman terindah yang pernah dilihat Sasuke. Senyuman yang ingin dijaganya dengan baik. Senyuman dari sahabat satu-satunya.

"Akan aku perlihatkan kalau tulisanku lebih indah dari pada milikmu, Teme!" katanya dengan congkak dan ia turun dari pinggiran jendela, berjalan menuju tempat tidurnya.

"Buktikan-buktikan, Dobe." Katanya dengan ringan, sebelum ia mengingat sesuatu. Sesuatu yang ia dapatkan dari koran yang dibacanya lebih dari seminggu lalu, "Hei, dobe… apa kau sudah sehat?"

Naruto yang duduk di atas kasur menatap surat itu yang ia ambil dari lantai, "Oh… iya… sedikit demam dan lemas, kenapa?" tanyanya dengan curiga, "Ah! Aku tidak mau menemui dokter, dan mendapatkan jarum di tubuhku? No! it's a no-no!"

"Kadang aku bingung… apa kau sungguh orang Inggris? Grammar-mu buruk sekali dobe!" (A/N: Tos, Naruto!), Sasuke melihatnya menjulurkan lidahnya, "Oh… aku lupa, kau kan si dobe yang bodoh."

"Kadang aku pun bingung… mungkin 'dobe' itu berarti bodoh…"

"Perasaanmu saja," Sasuke ikut duduk di sebelahnya, "Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat, Naruto…"

"Hm? Kemana?"

"Kau akan tahu nanti.." Sasuke mendengar Naruto menggumamkan sesuatu yang tidak perlu ia tanggapi karena baginya kekanakan, "Oh…iya Naruto..." Sasuke menatap secarik kertas yang Naruto ambil dari lantai sebelum ia duduk di kasur, secarik kertas yang dilupakan keduanya. Mata biru itu teralihkan dari secarik kertas yang dirabanya, "Aku tidak tahu kalau kau mengompol?"

Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan jas hitam dan top hat hitamnya pula berdiri mengantri di hadapan sebuah bangunan yang sangat besar bersama dengan seorang gadis. Gadis itu menggunakan gaun merah kejinggaan. Mereka berdua mengunjungi sebuah bangunan yang terbuat dari kaca dan sangat indah di Hyde Park. Bernama…

"Crystal Palace…" gumam gadis berambut pirang panjang dan ikal itu. poni rambutnya menutupi mata kanannya, dibelakang kepalanya ia menggunakan pita yang senada dengan gaunnya. Selapis warna merah menghiasi bibir pucatnya, dan mata biru yang disandingi rambut pirangnya. Gadis itu terlihat sangat cantik, terutama karena disampingnya ada seorang laki-laki tampan yang beraura 'hitam' dan kontras dengan gadis yang memiliki senyum manis di wajahnya. Semua orang yang berjalan disamping mereka berdua memandang keduanya. "Woaaaaaaa…. Indahnya…"

Laki-laki disampingnya menghembuskan napasnya, "Dobe… sekarang kau wanita… tolong dijaga keanggunanmu, dan… bisa kau jalan sedikit lebih anggun lagi?" ia mengeluarkan uang ₤5, biaya masuk tempat itu ₤3 untuk laki-laki dan ₤2 untuk perempuan.

The Great Exhibition in Crystal Palace. Bangunan yang kira-kira panjangnya lebih dari 500 meter dengan lebar yang lebih dari 100 meter. Tempat ini baru dibuka tanggal 1 Mei lalu, oleh Queen Victoria. Tempat yang dipenuhi pameran baik kesenian hingga mekanik dari beberapa negara di dunia. Keduanya memasuki bangunan indah itu. Mereka melihat air mancur, dan tidak jauh dari itu ada sebuah pohon elm besar yang berdiri dengan gagahnya. Mata biru gadis itu menyapu tempat yang ramai dengan pengunjung.

Hari itu tanggal 15 Mei, dua minggu setelah dibukanya Crystal Palace. Kemarin, setelah keadaan Naruto dipastikan membaik mereka merencanakan untuk pergi ke tempat itu keesokannya. Sasuke membatalkan semua janjinya, dan tidak sia-sia baginya, karena Naruto tersenyum dengan cantik. Bukan dengan bahagia atau indah, tapi dengan cantik. Yup, berkat kekonyolan Naruto ditambah dengan maid Shemale favorit sahabatnya itu. Akhirnya Naruto memutuskan pergi dengan menggunakan gaun. Sasuke bisa menyetujuinya pun entah bagaimana. Ketika ia sadar, Naruto sudah tersenyum mengenakan gaun yang akan dipakainya.

Pasti ada sihir yang tidak diketahuinya.

"Kau ingin agar orang-orang tidak memperhatikanmu, Naruto?" bisiknya perlahan, dan gadis shemale itu sudah melirik pria yang tangannya bersanding di pinggangnya.

"Ng… iya?" katanya mulai ragu, karena semua orang malah memandangnya? Apakah ia terlihat aneh? Tapi Kuu (Hack) mengatakan kalau ia cantik dan tidak terlihat sisi kejantanannya –geeeh, kenapa ia bangga! Ia kan laki-laki!-

"Dobe…"

"Teme…"

Sasuke mengeratkan pegangan di pinggang Naruto saat sahabatnya itu tertabrak seorang laki-laki yang sepertinya sengaja, "Kau… berhati-hatilah…"

Mata birunya melirik wajah pasif Sasuke, "Aku akan menggunakan ini," ia menutupi sebagian wajah tanpa garis kucingnya dengan kipas berwarna kemerahan yang dihiasi renda-renda berwarna putih. Yah… walaupun sia-sia karena pada akhirnya saat mereka berkeliling Naruto akan membuka wajahnya dan berteriak, "Waaaahhhhh, lihat! Lihat Sasuke!" lalu bertanya, "Apa itu?"

Ini adalah hari dimana seorang Uchiha menggunakan suaranya sampai ia rasa pita suaranya akan putus karena terlalu seraknya. Terimakasih, kepada Tuhan yang manapun, yang telah menciptakan makhluk se-dobe Naruto. Laki-laki shemale yang tidak pernah mengerti sesuatu dengan satu baris kalimat. Bocah yang tidak pernah mengerti kalau temannya mengatakan 'aku tidak mau berbicara lagi' dalam setiap kalimat ketusnya.

Mereka berdua mengelilingi tempat yang sangat luas itu. Setelah beberapa saat mengelilingi pameran yang berisi arsitektur dan model kapal angkatan laut, mesin uap, kertas dan gambar cetak, kain sutra, mesin-mesin yang diperagakan, dan banyak lainnya termasuk seni-seni dari berbagai negara seperti india salah satunya. Tapi hal yang paling berkesan bagi Sasuke adalah mesin hitung dari Israel Staffel karena saat itu Naruto berkata, "Woaaa! Lihat Sasuke! ada mesin yang bisa berhitung." Dan ia menimpali, "Hn… bahkan mesin yang dibuat manusia itu lebih cerdas dari isi kepalamu, Dobe."

Saat itu ia tertawa kecil melihat wajah cemberut Naruto, dan menggumamkan entah seribu kata kebencian macam apa atas ucapan sinisnya. Lalu selain mesin hitung itu, hal yang mengesankan saat mereka melihat seni pahatan patung dari Amerika Serikat. Mereka melihat seorang wanita yang sedang berdiri bertelanjang dengan tangan yang dirantai oleh seniman pahat Hiram Powers.

Naruto saat itu menutup matanya dengan kipasnya dan berkata, "Oh, My God! Sasuke! Mataku! Mataku! Apa itu!"

Sasuke yang sedang melihat ke arah lain melihat patung yang ditunjuk oleh Naruto, "Oh… itu patung, wanita bertelanjang Naruto… kau bisa lihat ia memiliki da-"

"BukanituyangakutanyakanTeme!" katanya dengan cepat dan wajah yang memerah, "Kenapa patung itu ada di situ?"

Iblis itu menatap patung wanita, "Ah, ini symbol atas anti perbudakan, Dobe…" ia pernah membacanya entah dimana.

"Tapi kenapa bertelanjang seperti itu!"

"Che! Kau seorang wanita sekarang, jangan bersikap memalukan seperti ini!" lalu Sasuke menarik tangan Naruto untuk pergi dari tempat itu karena banyak orang sudah menatap mereka berdua keanehan.

"Uah…uah… aku mimisan, Sasuke!"

Sasuke menepuk dahinya sambil menghela napasnya sebelum ia membawa Naruto ke tengah Crystal Palace. Mereka duduk dibawah pohon elm itu dan Sasuke mengelapi hidung Naruto dengan sapu tangan yang ia bawa. Ia sudah mengantisipasi kalau-kalau Naruto nantinya kelelahan dan akan mimisan atau pingsan.

"Che! Kau mimisan hanya karena melihat patung, Naruto… payah sekali,"

Naruto menepuk-nepuk lehernya sembari menengadahkan kepalanya agar mimisannya berhenti, "Pertahanan hatiku belum sanggup melihat wanita bertelanjang Sasuke."

"Hn… perjaka memang beda." Katanya sinis.

Naruto memalingkan wajahnya pada Sasuke dengan sapu tangan yang menutupi hidungnya, "Biha, hau hihak membahahnyah, Heme!" (bisa kau tidak membahasnya, Teme), katanya dengan kesal.

Mereka duduk terdiam di tempat itu. Mata Sasuke melihat orang-orang yang berlalu lalang. Pasangan, wanita, dan pria… serta anak-anak yang tertawa dengan bahagia. Andaikan, hari itu Windsor tidak dipaksa meninggalkan Naruto… mungkin sekarang ini Naruto akan melihat pameran ini dengan keluarga barunya. Mungkin juga ia akan berlari mengelilingi tempat ini dengan seorang anak laki-laki di pundaknya. Ayah dan ibu angkatnya dibelakang mereka dengan seorang anak bungsu yang iri melihat kedua kakaknya berlarian.

Mereka akan tertawa dan seperti keluarga bahagia. Tidak seperti Naruto yang sekarang. Naruto yang beranggapan bahwa usianya tidak lama lagi. Naruto yang dibenci penduduk desa, dan Naruto yang berteman dengan seorang iblis?

Naruto…

"Hei, Sasuke…" panggil Naruto perlahan, dan walaupun Sasuke tidak mengalihkan perhatiannya, tapi ia tahu sahabatnya itu mendengarkannya, "Terimakasih."

Ingatan Sasuke terbang pada sebuah ungkapan yang sama 'Terimakasih…' oleh seorang gadis kecil bergaun merah muda dengan pita besar di dadanya. Rambut gadis itu pendek sekali, model bob dengan jepit bunga di kanannya. Ia mengucapkan terimakasih untuk apa? Dan Sasuke mengingat matanya yang berwarna biru itu… kedua mata yang sangat indah itu…

"Naruto…"

Mereka berdua saling menatap.

"Apa kau memiliki saudara perempuan?" karena menurut Silverster mereka berdua pernah bertemu, mungkin ini ada hubungannya dengan seorang gadis manis yang tiba-tiba muncul dari ingatannya ini?

Shemale berambut pirang itu meliriknya, "Aku? Aku tidak tahu, Sasuke… bukankah sudah kuceritakan kalau aku tidak mengingat apapun sebelum usiaku tujuh tahun? Yang kuingat aku hanya terbangun di dalam hutan dan sangat lapar."

'Terimakasih, atas hadiahnya… tuan…'

Lagi… ingatannya menampilkan sesosok gadis kecil yang usianya memang sekitar tujuh tahun.

"Kau tahu dari mana kalau usiamu saat itu tujuh tahun?"

Naruto seperti tersentak, "Ah, benar juga… dari mana ya? Insting?" dan mengelap kembali hidungnya sebelum ia memberikan sapu tangan berisi darahnya pada Sasuke.

Hari itu, mereka hanya duduk terdiam di bawah pohon elm. Naruto bersandar pada sahabatnya dan mengistirahatkan tubuhnya yang ternyata kelelahan. Sasuke… ia tidak pernah membalas kata 'terimakasih' Naruto. Jauh di lubuk hatinya, sama seperti ia yang membenci Naruto menggunakan gaun, ia pun membenci kata 'terimakasih'-nya dengan nada itu.

Kata yang mengingatkannya pada seorang gadis kecil yang pernah ia beri 'hadiah'.

Malam itu, saat Naruto beristirahat setelah makan malam mereka. Silverster melaporkan bahwa Mansion mereka dimasuki oleh pencuri. Walaupun tidak ada yang hilang, tapi ini merupakan sebuah peringatan untuk Sasuke. Tidak sedikit klien dan pengusaha perhiasan berlian lainnya yang curiga dari mana asal 'perhiasan' yang didapatkannya. Dimana tambangnya, siapa saja pekerjanya… dan perancangnya. Ini semuanya misteri bagi banyak orang. Tentu saja, karena ia mempekerjakan iblis bawahannya.

Lalu… ingatannya melayang pada gadis kecil yang dulu sepertinya pernah diberinya sesuatu, karena ia mengatakan 'hadiah'. Ia terdiam di depan Silverster yang sudah mengeluarkan bukunya lagi (mode standby). Saat itu… ia ingat sepuluh tahun yang lalu sepertinya. Ia membuat perjanjian dengan seorang gadis penyanyi di sebuah Opera besar. Ah tidak… gadis itu bukan pemeran utamanya, ada gadis berambut kemerahan cantik yang dibencinya. Katanya… ia mengambil perannya. Lalu… gadis itu menginginkan pergelaran Opera hari itu hancur.

Gadis itu ingin membunuh si wanita berambut kemerahan dengan seluruh keluarga serta fans-fansnya. Lalu… ia membantu gadis itu untuk mendapatkan peledak, dan bagaimana caranya menyusun rencana itu dengan menyuruh orang lainnya. Sasuke ingat ia berdiri disamping gadis yang tidak seberapa cantiknya saat mereka harus memastikan bom-nya diletakkan tepat dibawah tempat duduk ditengah-tengah kursi penonton dan di bawah panggung.

Kemudian… gadis kecil bermata biru dengan seorang laki-laki dewasa yang matanya sama birunya dengannya muncul melewati mereka berdua, dan duduk tidak jauh dari panggung. Di atas panggung ada banyak orang yang masih memeriksa tata panggung sebelum pentas. Gadis yang berambut merah…itu…menyapa gadis kecil dan laki-laki… sebelum si prianya menggendong gadis kecil bergaun merah muda dan menaruhnya di panggung.

Dan ledakan… saat Opera itu berlangsung…

Seorang gadis yang hidup ditengah-tengah orang mati.

Gadis yang dilindungi oleh ayah dan keluarga lainnya.

Gadis yang ditemukan dibawah kursi dan bertumpuk mayat keluarga di atasnya.

Gadis yang Sasuke temukan dan berkata 'terimakasih' setelah ia diberikan hadiah karena ia masih hidup dan satu-satunya yang hidup saat itu.

Gadis yang memiliki mata yang sama dengan Naruto…

"Sasuke?" panggil Silverster.

Airmatanya terjatuh, untuk pertamakali dalam seumur hidupnya… airmatanya terjatuh. Ia mengingatnya. Mengingat…kejadian lalu… mengingat siapa 'Naruto', mengingatnya…

Apa yang harus ia lakukan?

"Sasuke…"

"Aku mengingatnya, Silverster… aku mengingatnya…" katanya terpaku, airmatanya mengalir begitu saja, "Aku mengingatnya…"

Aku harus apa? Pikirnya.

"Seumur hidupnya, Naruto berada dalam penderitaan. Seumur hidupnya! Aku harus apa… Silverster, kalau ia mati nanti ia akan jatuh ke neraka karena bersekutu dengan iblis…"

"Sas-"

"Di Neraka tidak ada yang namanya kebahagiaan! Apapun bentuknya! Karena tempat itu adalah tempat pembalasan! Tidak akan ada kebahagiaan! Tidak ada…"

"Hufh…" Silverster menghela napasnya.

"Naruto… aku…" ia menyapu mejanya dan membuang apa yang ada di atasnya. Ia berteriak, dan berteriak. Sungguh beruntung karena ia sedang berada di ruang kerjanya yang jauh dari kamar Naruto.

Di sebuah kamar yang gelap, dengan sesosok tubuh kecil berpiama di atasnya. Laki-laki yang tertidur dengan pulasnya, ia tersenyum selagi tubuhnya menyerupai posisi bayi ketika dalam kandungan. Hari yang melelahkan, tapi baginya ini hari yang luarbiasa. Ia hanya tidak menyadari ada seseorang yang berencana lain terhadap hidupnya.

Terhadap kebahagiaannya yang sebelum tidurnya mengingat-ingat interaksinya dengan sahabat baiknya, 'Jadi… begini ya… rasanya punya saudara…' pikirnya. Memiliki kakak laki-laki yang akan melindunginya, dan yang akan dilindunginya.

Sebuah pedang panjang ada di tangannya. Sebenarnya ia tidak butuh pedang panjang untuk membunuh orang. Tapi ia perlu 'medium' lainnya untuk membunuh orang yang mengikat perjanjian dengannya.

Laki-laki yang sangat tinggi, dan pedang panjang ditangan kanannya. Ia berjalan tanpa suara sedikitpun. Matanya kelam, dan napasnya menderu. Kepalanya penat setelah tangisnya.

Tapi… ini yang harus ia lakukan. Agar sahabatnya tidak jatuh ke neraka. Agar perjanjian mereka batal.

Ia harus menghianati Naruto.

Ia akan membunuhnya.

Dan pintu yang tidak berdecit seperti biasanya, seperti menenangkan hatinya yang perih.

Naruto…

Maafkan aku… aku tidak bisa memenuhi janjiku.

Pintu itu tertutup pun tanpa bersuara.

…o0o…

The promise that could not be kept is burnt deep into my chest

…o0o…

Tbc

A/N: Op1 and End1-Umineko ost.

John Alexander Windsor itu Iruka…

Crystal Palace itu beneran ada… ternyata… *ngelirik FF kiss me good night*… kayaknya juga dulu pernah baca manga tentang maid juga… dan ada tempat ini… lupa…

Thanks to: Haki-chan, Hime-chan, Yuu-chan, Kay-chan, Fay-chan, Yassir-chan (panggil saya Tanpopo-sama *insert evil laugh of Queen here), Aikha-chan, Wia-chan (nampar Wia, katanya minta ditampar), dan Haruki-chan… for review…

Ya, chapter kemarin bengkok banget bahasanya, segalanya bengkok (setelah dibaca ulang). Men-go-men-go~