Teman-teman yang terus menerus nanyain Xiumin
Sekarang Xiumin datang nih
Langsung aja ya
.
.
.
Ochaken
Present
.
.
.
Chapter 7
One Day
"Tao, boleh gege masuk?" tanya Suho dari luar kamar Tao.
"Ne,"
"Kau sudah baik-baik saja?" tanya Suho sambil menggeret kursinya untuk berada di dekat Tao.
"Ya, Lay Gege benar-benar merawatku dengan baik," kata Tao sambil tersenyum polos. Dalam hatinya, Suho merasa bisa mengerti kenapa Tao yang dipilih untuk mengendalikan waktu.
"Tao,"
"Hmm?"
"Gege sudah mendengar semuanya dari Chanyeol. Tapi, ada beberapa hal yang masih mengganjal. Kuharap kau tidak keberatan menjawabnya," kata Suho membuat Tao terdiam.
"Silahkan tanya apa saja ge," kata Tao sambil tersenyum kecil.
"Adakah cara agar kita bisa hidup?" tanya Suho yang kelihatan bingung menentukan kalimatnya, tapi Tao bisa mengerti apa maksud Suho.
"Aku mengerti ge. Ada satu cara yang bisa kupikirkan dan kelihatannya mungkin untuk berhasil. Tapi, gantinya, kalian akan hidup sebagai manusia biasa dan mungkin beberapa konsekuensi lain. Aku akan coba untuk cari tahu," kata Tao.
"Tao...kenapa 'kalian'?"
"Gege, kau memang terlalu pandai untuk bisa dibohongi. Gege pasti sudah tahu konsekuensi kekuatanku bukan. Aku tidak bisa menjamin keselamatanku sendiri, tapi kalau kalian, aku masih bisa menjaminnya," kata Tao lagi.
"..."
"Sudahlah ge, itu baru satu cara dan aku juga tidak ingin meninggal semudah ini. Aku akan berusaha mencari cara lain yang pasti berhasil dan kita masih bisa bersama," kata Tao menenangkan.
"Ne,"
"Apa ada hal lain yang ingin gege tanyakan?" tanya Tao lagi.
"Apa kau tahu di mana sisa tiga orang yang lain?" tanya Suho.
"Sayangnya aku tidak tahu ge. Kalau dipikir lagi, pertemuan kita bukan kebetulan. Ini nyaris seperti takdir. Mungkin kalau kita diam saja juga kita akan bertemu dengan tiga orang lainnya, tapi kita tak tahu itu kapan. Chanie gege dan Baekki gege bertemu sejak sebelum mereka lahir, Lay gege bertemu lima tahun kemudian, waktu pertemuan kita semua tidak jelas. Kita harus cepat mencari mereka," kata Tao.
"Karena kita berhadapan dengan iblis?"
"Ternyata Chanie Gege juga sudah tahu sampai di sana," kata Tao.
"Sebenarnya aku bahkan tak ada bayangan untuk bisa menang melawan iblis. Membayangkan akan melawannya saja aku tidak pernah," kata Suho.
"Yang akan kita lawan nanti adalah manusia hyung. Manusia yang melakukan perjanjian berdarah dengan iblis karena hati yang penuh kebencian. Mereka mungkin memiliki kekuatan yang lebih mengerikan daripada kekuatan kita," kata Tao.
"Aku tak bisa membayangkan ada orang yang menginginkan kemampuan itu sedang kita tersiksa karenanya," kata Tao lagi.
"Tak ada orang yang jahat dari awal. Keadaan memaksa mereka menjadi jahat, bahkan salah satu dari kita pun bisa. Karena itulah iblis membuat kita menderita. Agar kita kalah oleh kebencian dan kekuatan kita dimiliki olehnya. Dalam kasus mereka, mereka dimanfaatkan oleh iblis. Iblis menjanjikan pada mereka sesuatu dengan ganti kekuatan untuk membunuh kita," kata Suho bijak.
...
"Min Seok, ada tugas untukmu," kata seorang lelaki pada anak remaja yang mungkin masih berusia delapan atau sembilan belas tahun itu.
"Ne,"
"Bekukan orang ini," kata lelaki itu sambil menyerahakan foto seorang pemuda.
"Ne,"
"Bunuh semua yang menghalangi. Lakukan semua tugasmu dengan baik," kata lelaki itu lagi.
"Ne,"
"Waktumu untuk membekukannya adalah satu bulan. Walau aku bilang bunuh semua yang menghalangi, fokuskan pada misimu. Kalau kau bisa melakukannya dengan halus, lakukan dengan halus. Kematian seseorang itu harus cantik seperti kristal es milikmu," kata lelaki itu sambil tersenyum. Entah senyuman untuk apa.
"Ne,"
...
Min Seok sudah berdiri di dekat rumah itu. Dia berlari seolah sedang dikejar, bahkan menyuruh teman-temannya untuk berpura-pura menyerangnya. Sudah banyak luka di tubuhnya. Beberapa luka bahkan cukup dalam. Pemuda itu bahkan berani menyuruh temannya mengoleskan racun pelumpuh syaraf di pisau mereka dan melemparinya dengan menggunakan pisau itu. Hanya saja, tubuh Xiumin dan Min Seok berbeda...
Tak banyak yang mengetahui bahwa Xiumin memiliki alter ego yang lain yang berkebalikan dengan dirinya yang seorang pembunuh berdarah dingin. Sosok lainnya adalah sosok yang lembut dan ceria. Dia tak tahu apa-apa dengan perihal kekuatannya.
Min Seok tidak bisa terluka dan tidak pernah terluka...
Xiumin bisa terluka...
"Hosh...!" pemuda itu terengah-engah sambil menangis.
Entah bagaimana sosok polosnya bisa keluar di saat seperti ini. Teman-temannya tidak tahu dan terus berusaha menyerangnya. Mungkinkah Min Seok sengaja membuat Xiumin keluar?
"TOLONG! TOLONG AKU!" teriak Xiumin sambil berlari mendekati rumah itu. Saat menoleh ke belakang, pemuda itu tak lagi melihat pengejarnya.
"Astaga! Chanie! Baekki!" seru Lay saat melihat ada yang menangis dalam kondisi terluka berdarah-darah. Belum selesai masalah satu, sekarang ketambahan lagi yang lain.
"Hiks...hiks..."
"Kau kenapa?" tanya Lay lembut.
Belum sempat Xiumin menjawab apa-apa, pemuda itu pingsan tepat ke dalam pelukan Lay. Lay menduga ada racun yang dimasukkan ke dalam tubuh anak itu. Belum lagi luka di sekujur tubuhnya.
"Lay Hyung ada apa?" tanya Chanyeol.
"Baekki, cepat siapkan kamar!" seru Lay saat melihat dua orang itu muncul.
"Lagi-lagi..." gumam Chanyeol.
...
"Bagaimana?" tanya Suho.
Semenjak kejadian pertemuan bertubi-tubi mendatangi mereka, orang tua mereka sepakat untuk berusaha mencari lebih keras lagi. Mereka jadi terbiasa tanpa orang tua. Untungnya sekarang salah satu dari mereka muncul tiba-tiba. Yah, saat mengobatinya, Lay sudah merasa aneh karena tubuh anak itu dingin sekali. Auranya mirip dengan aura panas yang dikeluarkan Chanyeol, belum lagi lambang es di dadanya.
"Racunnya hanya untuk menghilangkan kesadaran dan melumpuhkan," kata Lay sambil menyelimuti Xiumin.
"Kemungkinan besar, mereka ingin menangkapnya hidup-hidup dan membawanya pergi seperti pengejar yang mengejar beberapa dari kita," kata Suho pelan.
"Dia akan bangun paling lama besok pagi. Aku akan ke kamar Tao sekarang," kata Lay sambil menarik tangan Suho untuk keluar.
Min Seok membuka matanya tepat setelah Lay dan Suho keluar.
"Kurasa aku akan melihat-lihat dulu. Rumah ini penuh orang yang menarik," kata Min Seok sambil memegang kepalanya yang diperban.
"Tak ada salahnya jalan-jalan sebentar sebelum bertugas," kata Min Seok sambil kembali membaringkan tubuhnya.
"Lagipula tak menarik membunuh target yang tidak punya hubungan apa-apa denganmu," kata Min Seok pelan sebelum kembali tertidur.
...
"Hai, Tao, bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Lay sambil mengelus rambut Tao yang berwarna hitam sekelam malam.
Sungguh berbeda dengan rambutnya yang semakin lama berubah warna menjadi semakin kuning terang karena terlalu banyak menggunakan kekuatan. Rambut Suho bahkan sudah perak sempurna sejak pertama mereka bertemu. Hal yang sama belum terjadi pada yang lain karena mereka sangat jarang menggunakan kekuatan. Paling hanya Luhan yang rambut dan matanya berubah menjadi sedikit pink dan Sehun yang warna rambutnya jadi putih tulang, walau matanya tetap berwarna coklat tua.
Semakin kekuatan mereka dipakai, mereka malah merasa semakin tidak mirip dengan manusia. Suho dan Lay memiliki warna rambut dan bola mata yang sudah jauh berbeda dengan warna awalnya. Kris juga rambutnya mulai berubah warna menjadi coklat muda. Entah kenapa hal ini terjadi pada mereka.
Yang warna rambut dan bola matanya masih tetap hanya Baekhyun, Chanyeol, dan Tao. Kai malah kebalikan mereka. Kalau biasanya semakin dipakai, warna kulit, rambut, dan bola mata berubah warna menjadi cenderung terang, anak itu malah jadi semakin gelap. Mereka bahkan menamai Kai ggamjong karena kulitnya yang eksotis itu. Sehun yang punya ide dan Kai membalasnya albino.
"Seperti biasa," kata Tao sambil tersenyum.
Dia suka sentuhan Lay. Bukan berarti dia tidak suka saat disentuh oleh Kris, tapi sentuhan Lay yang sangat lembut membuatnya seperti disentuh dan dibelai mamanya. Sentuhan Lay mirip sentuhan seorang ibu yang selalu dibayangkan oleh Tao. Tangan besar Kris dan tangan babanya tidak seperti saat tangan halus Lay.
"Masih merasa lemas ya? Kurasa itu karena obat-obatan itu membuatmu mengantuk. Kondisimu mulai membaik Tao. Wajahmu tidak sepucat kemarin," kata Lay senang.
"Kau pasti merindukan makan baby panda," kata Suho sambil menepuk kepala Tao pelan. Kalau sentuhan Lay mirip seorang ibu, maka sentuhan Suho seperti seorang ayah. Tao senang sekali bermanja ke mereka. Tak hanya Tao, tapi juga yang lain. Selain Kris tentu saja. Pemuda itu entah memang cool atau sok cool dan tidak suka bermanja-manja, padahal Lay dan Suho pasti tak keberatan kalau Kris juga ingin bermanja.
"Aku sudah terbiasa. Dulu saat sakit radang lambung juga, aku tidak bisa makan apa pun selama berbulan-bulan. Aku bahkan sampai lupa bagaimana rasanya makanan itu," kata Tao sambil tertawa.
"Ha ha ha... sebentar lagi juga kau pasti sudah boleh makan. Hari ini Kris Gege tercintamu tidak di sini?" tanya Suho jahil.
"Tidak, gege sudah bilang mau menemani Sehun dan Kai ke hutan untuk mencari bunga untuk Luhan Ge," kata Tao.
"Perhatian sekali dua anak itu pada Luhan," gumam Suho.
"Tiga sahabat terjebak cinta segitiga. Cinta yang rumit," kata Lay sambil meringis.
"Gege, gege mau memasukkan obat lagi kan? Lebih cepat, lebih baik. Lakukan sekarang saja," kata Tao.
Lay mengambil tangan Tao yang sudah penuh lebam. Lay bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya. Tao menolak Lay menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan Tao karena menurut Tao, Lay harus menyimpan kekuatan untuk saat darurat. Dia bilang dia masih bisa menahannya dan selama Lay masih bisa mencari pembuluh darah di tubuhnya, maka pengobatan lebam tak perlu dilakukan.
Pernah sekali Lay menyembuhkan semua lebam itu. Tao tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatap sedih ke arah Lay. Tampaknya Tao menyadari kesedihan Lay dari bekas penyembuhan itu. Saat menyembuhkan satu luka di tubuh Tao, Lay selalu merasa tergerak untuk menyembuhkan yang lain hingga meregenerasi organ yang bermasalah di tubuh anak itu. Lay masih belum bisa melakukan itu. Dan dia akan berakhir menangis karenanya. Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin inilah alasan Tao tak ingin disembuhkan lebamnya.
"Tao, aku tidak bisa mencarinya," kata Lay dengan suara bergetar.
"Apa bisa kalau di punggung ge?" tanya Tao sambil membuka selimutnya.
"Bisa," jawab Lay.
Harusnya Tao tak perlu bertanya pun, Lay juga pasti bisa melakukannya. Sudah beberapa kali Lay menyuntikkan obat melalui paha dan punggung. Rasanya jauh lebih menyakitkan daripada di tangan, karena itu Lay pernah tak mau saat Tao meminta Lay melakukannya di punggung.
"Tapi..."
"Tak apa hyung," kata Tao sambil membuka bajunya. Pemuda itu menatap Lay yang ragu-ragu. Dia tersenyum menenangkan.
Lay langsung merutuki dirinya sendiri. Harusnya Taolah yang dia kuatkan, bukannya dirinya yang minta dikuatkan seperti ini. Tao yang akan merasakan sakit setelah ini, bukan dirinya. Berapa kali pun melakukan ini, Lay yakin Tao tak akan pernah terbiasa dengan rasa sakitnya.
Suho langsung berjongkok di samping Tao dan menatap wajah Tao saat anak itu berbaring. Biasanya Suho di sana untuk menemani Lay dan Krislah yang menemani Tao. Sekarang, Kris tidak ada, jadi Suho yang di sana untuk mengalihkan Tao dari rasa sakit.
"Maaf ya, aku bukan Kris. Kalau Kris kau pasti sudah merona dan lupa sama sekali dengan rasa sakit itu," kata Suho sambil tersenyum. Sebenarnya Suho tahu, walau dengan Kris pun, rasa sakit itu tetap ada. Terlihat jelas dengan genggaman tangan Tao yang cukup kuat di sprei atau di tangan Kris.
"Hmm, gege mau menemaniku saja sudah bagus. Aku senang," kata Tao.
"Harusnya Kris menemanimu dulu baru pergi," kata Suho.
"Tidak apa. Aku tahu Kris Gege kewalahan menghadapi dua anak itu. Mereka berisik sekali kalau keinginan mereka tidak dipenuhi," kata Tao.
"Tao, tahan sakitnya sebentar ya," kata Lay sambil mengoleskan alkohol di punggungnya.
Tao hampir menggigit tangannya, kalau Suho tidak segera mencegahnya dengan memasukkan tangannya ke dalam mulut Tao. Suho sedikit meringis saat Tao mengigitnya keras-keras sampai berdarah. Biasanya yang Tao gigit adalah bantal dan kasur. Pernah sekali tangan Kris. Tapi, acara gigit menggigit itu hanya kalau bagian punggung yang disuntik. Bila tangan, Tao hanya mendesis kecil. Kalau di kaki juga tidak sampai seperti saat di punggung. Paling Tao hanya meremas selimut kuat-kuat.
"Lay, bisa lebih cepat? Tao sangat kesakitan," kata Suho.
"Sebentar, tinggal satu tabung lagi," kata Lay sambil memasukkan obat terakhir.
Tepat setelah Lay menarik jarum itu, Tao berdesis sambil menggigit tangan Suho lebih kuat. Pemuda itu memejamkan mata erat-erat saat Lay menuntup bekas lukanya dengan perban. Perlahan, Tao melepaskan gigitannya. Dia menatap nanar luka di tangan Suho.
"Mianhe gege. Harusnya gege biarkan aku mengigit tanganku sendiri," kata Tao pelan.
"Kalau aku biarkan kau menggigit tanganmu, aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa tanganmu itu sekarang. Bisa-bisa aku yang digigit oleh Kris," kata Suho sambil mengelus kepala Tao.
"Tao, di obat tadi, ada obat tidurnya. Saat kau bangun nanti, bekas luka di punggung itu pasti tidak akan terlalu sakit. Kau pakai piyama dulu ya," kata Lay lembut.
"Badanku lemas," kata Tao yang mulai diserang kantuk.
"Kubantu pakai ya," kata Lay sambil mengambil piyama Tao.
Suho menyangga tubuh anak itu hingga duduk dan memudahkan Lay untuk memakaikan piyama. Setelah piyama itu terpasang, Suho membaringkan Tao dengan posisi miring agar lukanya tidak semakin sakit. Mereka keluar diam-diam agar tidak menganggu tidur Tao.
"Hyung, tangan hyung kenapa?" tanya Baekhyun khawatir.
"Ini? Ini karena baru saja digigit Tao," kata Suho.
"Digigit Tao?" tanya Luhan kaget.
"Yah, Lay tak bisa mencari pembuluh darah di kedua tangan Tao. Kedua tangan itu parah sekali kondisinya. Obat yang diberi Lay tidak terlalu mempan untuk megobati luka itu. Jadi, Lay terpaksa menyuntikkannya ke punggung. Rasanya benar-benar sakit. Ini masih tidak seberapa karena aku tahu rasanya. Dulu aku pernah sekali disutik di punggung," kata Suho.
"Sampai separah itu?" tanya Chanyeol.
"Hmm, ah, kau tidak pernah melihatnya ya. Sudah tiga bulan menjalani pengobatan seperti itu karena lambungnya terluka dan tak bisa diisi makanan. Selang infus juga tak banyak membantu karena kalau terlalu lama diinfus malah akan semakin menyakiti tangannya," kata Suho.
"Boleh kami melihatnya? Tao memang tidak ingin kami tahu, tapi barangkali, kami bisa membuat luka itu sedikit lebih baik. Aku dan Chanie tahu beberapa tanaman obat di hutan yang bisa menyembuhkan lebam," kata Baekki.
"Lay, bolehkah?" tanya Suho.
"Hahhh...jangan sampai Tao tahu," kata Lay sambil tersenyum.
"Arraseo," kata tiga orang itu.
"Sebelum kalian masuk, sebaiknya kita obati tangan Suho Hyung dulu," kata Lay sambil mengambil tangan Suho.
"Jangan Lay. Tao benar, kau harus menyimpan kekuatan. Kalau dia saja menahan sakit sampai seperti itu, aku tidak bisa memintamu menyembuhkanku," tolak Suho.
"Aish! Hyung, Tao melarangku karena suatu hal yang hanya aku dan dia tahu. Aku menurutinya karena tidak ingin kami berdua semakin terluka. Kekuatanku sudah semakin besar dan menyembuhkan luka kecil seperti ini sama sekali tidak memakan tenaga," kata Lay sambil mengusap luka di tangan Suho beberapa kali hingga sembuh.
Suho bisa melihat cahaya di lambang Lay tak menyala terlalu terang, sangat redup malah. Itu artinya Lay hampir tak menggunakan kekuatan saat menyembuhkannya. Setelah itu, mereka masuk ke dalam kamar Tao. Pemuda itu sedang tidur karena obat. Tidurnya sangat nyenyak hingga tak menyadari ada yang masuk ke kamarnya.
Suho menyibak sedikit selimut Tao hingga sebatas perut. Pemuda itu menggulung perlahan piyama Tao yang kebesaran perlahan-lahan agar tidak membangunkan pemuda itu. Baekhyun menutup mulutnya saat melihat lebam-lebam di sekujur tangan itu. Beberapa masih berwarna kemerahan dan yang lainnya sudah membiru.
"Pasti sangat sakit," kata Baekhyun sambil mengelus punggung tangan Tao yang tak terdapat luka selain bekas luka sisa infus di sana.
"Hyung, bisakah aku menemaninya di sini? Kumohon..."
"Tapi..."
"Biarkan saja Lay. Tao juga harus tahu kalau sekarang ini selain Kris dan kita, ada banyak orang yang menyayangi dan mengkhawatirkannya," kata Suho bijak.
"Hah...kenapa aku tak pernah bisa menolak keinginan kalian?" keluh Lay sambil tersenyum.
...
"Baekki? Sedang apa di sini? Tidak biasanya," kata Kris yang baru saja pulang dari mengantar Sehun dan Kai. Karena sama-sama tidak familiar dengan daerah di sini dan juga karena terpisah dengan Baekhyun dan Chanyeol yang awalnya bilang mau menyusul, tapi tidak jadi karena menolong Xiumin. Karena tak ada dua orang itu, mereka jadi tersesat. Karena itu mereka jadi terlambat pulang.
"Biasanya aku tidak masuk karena Lay Gege bilang Tao tak ingin ada yang masuk," kata Baekhyun sambil tersenyum.
"Hmm, jadi sedang apa kau di sini?" tanya Kris lagi.
"Menemaninya tentu saja. Aku tidak tega membiarkannya sendirian. Lay Hyung dan Suho Hyung sedang merawat orang yang tadi terluka dan datang ke sini. Kemungkinan besar dia salah satu dari tiga orang yang Tao maksud," kata Baekhyun.
"Kelihatannya kita berkumpul di sini memang takdir," kata Kris sambil mengganti bajunya dengan baju lain yang lebih tipis. Kamar Tao memang lebih hangat dari kamar lain agar anak itu tidak masuk angin.
"Kau tahu Kris Hyung, rasanya aku bisa mengerti kenapa kau betah sekali melihat dan menjagai Tao, walau dia sedang tidur seperti ini," kata Baekhyun.
"Oh ya? Kenapa memangnya?"
"Tao memang manis saat tidur seperti ini," kata Baekhyun.
"Dia lebih manis lagi saat tersenyum dan tertawa. Kau pasti akan kaget mendengar suaranya yang asli. Sama sekali tidak bass. Kemarin suaranya serak karena masih demam. Kalau kau mendengar suaranya yang sekarang pasti kau akan merasa itu manis sekali," kata Kris sambil tersenyum.
"Kau benar-benar mencintainya ya?" tanya Baekhyun sambil tersenyum. Pemuda itu masih memandangi wajah tidur Tao.
"Tentu saja,"
"Baby panda, kau beruntung sekali memiliki seseorang seperti Kris di sampingmu," kata Baekhyun yang sedang duduk bertopang dagu.
"Baby panda? Kau bahkan sudah punya panggilan kesayangan untuknya. Apa kau tidak takut Chanyeol cemburu?" tanya Kris.
"Chanie? Kenapa tiba-tiba membawa-bawa nama Chanie?" tanya Baekhyun heran.
"Bukannya dia pacarmu?" balas Kris.
"Mwo? Bukan! Kami hanya...eum...keluarga. Semacam itulah," kata Baekhyun sambil menunduk.
"Sesulit itukah mengatakan suka padanya?" tanya Kris.
"Entahlah hyung... walau sejak kecil selalu bersama, ada banyak hal yang tidak kumengerti tentangnya. Aku bahkan tak bisa memahami sepenuhnya diriku sendiri. Lagipula aku hanya merasa nyaman saja saat bersamanya," kata Baekhyun pelan.
"Kau tahu Baekki, kau itu sebenarnya menyukainya," kata Kris.
"Mwo? Mustahil! Dia sudah kuanggap saudaraku sendiri," kata Baekhyun panik.
"Tapi, matamu mengatakan kalau kau menyukainya Baekki. Apa kau tidak mengerti? Walau kau tak mengenal orang lain selain dirinya, kau pasti merasakan perbedaan saat kau bersama dengannya dan saat bersama dengan Lay atau lainnya," kata Kris lagi.
"Itu karena kami kenal sejak bayi," kata Baekhyun.
"Kau menyangkalnya Baekki," kata Kris.
"Kalau...kalaupun aku ternyata menyukainya, belum tentu dia mau menerimaku. Salah-salah dia malah menerimaku karena kasihan. Siapa tahu dia itu straight," kata Baekhyun.
"Akhirnya kau mengaku juga kan kalau kau menyukainya," kata Kris.
"Kau menyebalkan hyung!"
"Chanyeol juga menyukaimu Baekki, dia hanya terlalu lemot untuk menyadari kalau dirinya sedang jatuh cinta. Kau harus lebih agresif," kata Kris.
"Hyung, saat kau dan Tao pertama kali pacaran, siapa yang pertama kali mengatakan suka?" tanya Baekhyun.
"Aku,"
"Sudah kuduga," kata Baekhyun.
"Baekki, saat kau menyukai seseorang dan berniat untuk menyatakan hal itu, seandainya kalian memang ditakdirkan untuk bersama, tak ada artinya siapa yang menyatakan perasaan pertama kali," kata Kris.
"Hyung,"
"Apa?"
"Kata-katamu bagus, tapi caramu mengucapkannya sangat dingin. Kau harus belajar untuk lebih lembut pada orang lain. Tak hanya pada Tao," kata Baekhyun sambil tersenyum lebar.
"Dasar!"
"Aku keluar dulu ya, hyung. Kan sudah ada hyung yang menemani Tao," kata Baekhyun sambil berdiri dari kursi.
"Ah, hyung, aku hampir lupa," kata Baekhyun sambil membalik badannya di depan pintu yang sudah terbuka.
"Apa lagi?"
"Gomawo atas nasihatnya dan jangan makan Tao ya, hyung," kata Baekhyun sambil menjulurkan lidahnya jahil.
"Dasar anak itu! Kalau mereka jadi nanti pasti kerjanya bertengkar melulu. Yang satu raja jahil, yang satu happy virus...ck!"
"Eungh...gege?" panggil Tao yang baru saja bangun.
"Baby? Sudah bangun? Maaf gege membangunkanmu," kata Kris sambil mengecup dahi Tao pelan.
"Tidak, aku memang sudah tidur lama. Mungkin..." kata Tao. Dia sedikit meringis saat mengubah posisinya jadi terlentang.
"Kali ini di punggung lagi?" tanya Kris sambil mengelus punggung Tao pelan untuk membuatnya lebih relaks. Pemuda itu lalu naik ke atas ranjang dan memeluk Tao dari belakang tanpa masuk ke dalam selimut yang dipakai Tao.
"Hmm,"
"Harusnya aku menemanimu tadi," Kata Kris sambil mengecup puncak kepala Tao.
"Tidak apa. Ada Lay Gege dan Suho Gege menemaniku tadi. Aku sedikit merasa bersalah karena menggigit tangan Suho Gege tadi," kata Tao.
"Lay akan menyembuhkan itu lebih cepat daripada saat kau menggigit tanganku dulu. Saat dia menjengukmu lagi, luka itu pasti sudah hilang tak berbekas. Jangan dipikirkan baby," kata Kris lembut.
"Aku membuat Lay Gege bersedih lagi," kata Tao pelan.
"Tao, Lay akan semakin sedih seandainya kau membiarkannya menyembuhkan lebam di tanganmu itu. Kau sudah melakukan hal yang benar, walau aku sedikit tidak setuju dengan tindakan yang melukai dan membuatmu sakit ini berlanjut sangat lama," kata Kris.
"Maaf,"
"Hei, baby, tak ada yang salah di sini. Semuanya akan baik-baik saja. Lay bilang keadaanmu semakin membaik. Mungkin minggu depan kau sudah mulai bisa memakan makanan halus, seperti bubur," kata Kris menyemangati.
"Aku seperti bayi ya? Gege kau tidak merasa repot?" tanya Tao sambil tersenyum.
"Aku tidak keberatan punya bayi manis bernama Huang Zi Tao yang membuat hidupku benar-benar indah. Lagipula merawat dan menjagamu masih lebih mudah daripada menjaga dua bayi raksasa itu," kata Kris yang mendadak kesal karena ulah Sehun dan Kai si Black 'n White Maknae itu.
"Maksud gege Sehun dan Kai? Mereka kelihatan dewasa," kata Tao.
"Kelihatan baby. Hanya kelihatannya saja. Aku salut dengan Luhan yang bisa menjaga dua orang maknae itu," kata Kris sambil tersenyum.
"Kurasa Luhan Ge lah yang dijaga oleh Kai dan Sehun. Saat bersama Luhan Ge, Kai dan Sehun benar-benar dewasa," kata Tao.
"Kau melihatnya dengan kekuatanmu?"
"Hmm, tidak sengaja. Kekuatanku keluar begitu saja dan kurasa tak akan keluar lagi untuk beberapa saat karena kondisiku seperti ini. Gege, ceritakan yang tadi lagi. Kenapa dengan Sehun dan Kai?" tanya Tao mengalihkan pembicaraan.
"Si Ggamjong itu seenaknya saja berteport ria sedangkan si Albino itu malah menghilang saat aku mencari Ggamjong. Kau tahu, aku berputar-putar di udara mencari mereka, ternyata mereka sudah pulang," kata Kris kesal.
"Ha ha ha...kau benar-benar baik ge. Walau kau bilang kesal, kau tetap mencari mereka berdua," kata Tao sambil tertawa kecil.
"Hmm, saat aku pulang, mereka malah sedang mesra-mesraan dengan Luhan dan bilang begini, 'Ah, Hyung kau sudah sampai. Kau lama sekali, jadi kami pulang duluan.' Kalau tak ada Luhan di sana, sudah kujadikan bakmie dua orang itu," kata Kris membuat Tao kembali tertawa.
"Sudah lama aku tak mendengarmu tertawa. Itu terdengar lebih baik," kata Kris.
"Kalau begitu lebih seringlah membuatku tertawa," kata Tao sambil membalik tubuhnya menghadap Kris.
"Kau tahu baby? Baekki, Chanie, Luhan, bahkan maknae-maknae itu semuanya sangat ingin menjengukmu di dalam sini. Aku tahu kau tak mau mereka khawatir, tapi kondisimu kan sudah lebih baik. Mereka juga harus tahu keadaanmu agar tidak khawatir," kata Kris hati-hati.
"Aku tahu, tadi Baekki Gege di sini kan," kata Tao.
"Kau pura-pura tidur baby? Sejak kapan kau jadi nakal?"
"Sejak kapan ya?"
"Aku senang kau seperti ini baby. Wo ai ni," kata Kris sambil mencium dahi Tao.
Tao memerah mendengar ucapan Kris. Walau tak bisa melihat Kris, dia yakin kalau Kris sungguh-sungguh dengan ucapannya. Tao bisa mendengarkan suara debaran jantung Kris karena posisinya yang berada tepat di depan dada Kris. Tao suka mendengarnya. Dia dengan sengaja menempelkan kepalanya ke dada bidang Kris. Tao memejamkan matanya sambil mendengarkan debaran jantung yang makin keras itu sambil menghirup wangi Kris yang amat maskulin baginya itu sementara detak jantungnya sendiri semakin menggila.
"Senang dengan apa yang kau dengar?"
"Hmm, wo ai ni Kris Gege," kata Tao.
"Wo ye ai ni Tao," kata Kris lembut.
Luhan yang awalnya hendak masuk ke dalam tidak jadi masuk saat melihat posisi kedua orang itu yang kelihatannya tidak bisa diganggu. Pemuda itu ingin pergi, tapi malah merasa penasaran dengan kelanjutan percakapan dua orang itu. Dia bahkan sudah berniat memarahi dua orang dongsaengnya itu karena merepotkan Kris, tapi tidak jadi karena Tao tertawa. Mungkin dia akan berterima kasih saja nanti pada dua orang itu.
Luhan yang merasa aneh karena pundaknya tiba-tiba terasa berat. Dia menoleh ke belakang dan melihat semua yang ada di rumah itu, tidak termasuk Xiumin yang masih tidur ikut mengintip bersamanya membuat Luhan spechless. Tapi, dia juga mengintip kan, jadi dia hanya membiarkannya.
"Omo! Mereka mau berciuman?" tanya Baekhyun pelan.
"Entah," jawab Chanyeol yang juga penasaran.
"Yah, tidak kissu..." kata Kai kecewa. Memang anak itu mengharapkan apa? Tao itu masih anak kecil umur lima belas tahun dan Kai sendiri masih empat belas tahun. Dia masih terlalu kecil melihat pertunjukan dewasa macam itu secara live.
"Yak! Ggamjong! Baby Panda itu masih polos. Mana mungkin Kris Hyung tega merusak kepolosannya," Kata Baekhyun.
"Ssst! Sudah, sebaiknya kita pergi," kata Luhan sambil menutup pintu.
"Yah, Hyung..." rajuk Kai.
"Kai! Sehun! Ikut aku..." kata Luhan sambil menyeret dua orang itu ke kamarnya.
'Mati aku...pasti Luhan Hyung marah,' batin dua maknae itu.
"Kalian hebat!" kata Luhan sambil memeluk keduanya bersamaan. Tentu saja hal itu membuat kedua orang itu sangat bingung. Mereka pikir Luhan akan memarahi mereka, ternyata malah memuji mereka.
"Hyung?"
"Kalian sudah membuat Tao tertawa. Itu hadiah untuk kalian. Tapi, kalau kalian membuat orang lain repot dan kebingungan seperti tadi, kalian akan mendapat hukuman," kata Luhan sambil mengacak rambut keduanya.
"Ne! Gomawo Hyung!" seru Kai sambil melompat ke dalam pelukan hyung tersayangnya itu.
'Hyung, seandainya saja aku sudah bisa jadi lebih besar daripada hyung, aku pasti akan memeluk hyung sama seperti saat Kris Hyung memeluk Tao Hyung. Aku janji,' batin Sehun saat melihat Kai memeluk Luhan.
.
.
.
To Be Continued
Otte?
Bagus nggak
Dulu pas SMP ada temen author yang sakit leukimia... sumsum tulang belakangnya diambil dari punggung... dia selalu pingsan habis disuntik punggungnya itu. Dia bilang rasanya sakit banget kayak mau mati. Makanya kubuat Tao sakit kayak gitu... biar dramatis maksudnya...
Fortunately setelah melewati serangkaian kemo, temen author sembuh dan sehat sampai sekarang.
Nah, mind to review?
Author baca lho semua komen kalian, walaupun author nggak bisa PM kalian satu-satu kayak dulu, tapi author suka banget baca review kalian
Terima kasih udah mendukung author
hehehe
