Merely Demon

We'll say goodbye, lost Heaven.

How we longed for Heaven.

We're letting go of something we never had.

Tidak akan ada yang tahu perbedaannya. Laki-laki kah? Atau perempuan kah? Anak itu sangat manis, rambutnya bob pirang palsunya menutupi rambut aslinya yang liar. Hari itu kesalahan terbesar bagi orang tuanya yang mengajak anak polos itu untuk menjadi bagian dari pertunjukkan sang bundanya. Oh… bukan berarti menyalahkan bundanya yang sangat menyayangi bocah itu. Hanya saja takdir yang membawanya sampai kemari. Ke hari ini.

Merayap. Merayap dan terbatuk, terlalu banyak asap di tempat itu. Ia keluar dari tumpukan mayat dan darah. Ia hampir menangis, kalau-kalau tidak mengingat betapa galaknya ibundanya. Ia mengusap kembali airmatanya. Ia mendorong tubuh seseorang yang tidak dikenalnya. Rambutnya pirang, seperti ayahnya, tapi ayahnya tidak suka tidur di lantai karena ibu akan memarahinya. Maka laki-laki berambut pirang penuh darah yang tergeletak di hadapannya kini bukan ayahnya. Lalu dimana ayah dan bundanya? Apakah ceritanya telah berganti? Bukankah ia seharusnya muncul dari bangku penonton untuk membawakan bunga pada bundanya?

"Hn…"

Seorang laki-laki yang sangat tinggi berdiri di hadapannya.

"Tuan siapa?" lalu ia seperti mengingat sesuatu, "Perkenalkan namaku Henry Thomas Windfire, usiaku tujuh tahun. Aku anak dari Thomas Daniel Windfire dan Ellen Red Windfire." Lalu menunduk dengan sopan dan tersenyum, "Nama tuan siapa?"

Laki-laki sangat tinggi itu duduk di hadapannya. Tapi ia tetap sangat tinggi dan besar.

"Aku? Kau bisa memanggilku Uchiha Sasuke…"

"Namaku Henry… tapi dipanggil Tom."

Seringaian iblis itu memperlihatkan giginya yang sangat tajam, dan anak itu menatapnya kebingungan, "Kau tidak takut padaku, bocah?"

"Apa kau akan memakanku?" tanyanya dengan polosnya memperlihatkan sepasang mata biru yang sangat indah.

"Aku tidak memakan sampah sepertimu…"

Anak kecil yang sedang crossdressing itu mengangguk, "Aku mencari ayah dan ibu…"

Iblis itu menepuk-nepuk kepalanya, "Karena kau tidak takut padaku… aku akan memberimu hadiah. Hadiah… ini untuk mencari orang tuamu."

…o0o…

Time goes so fast

Heaven is lost

…o0o…

Ia tak pernah melupakan identitasnya, siapa dirinya, darimana dirinya ini, untuk apa ia dilahirkan…

Ada satu saat ketika air yang turun dari langit tidak jatuh dari langit. Mereka tersangkut di dedaunan, mereka terdiam di ranting pepohonan, di atap-atap rumah, dan tidak sedikit, air yang membasahi rambut. Rambut itu akan kering setelah air-air itu menguap. Lalu kembali lagi ke langit, untuk menunggu kapan mereka akan di jatuhkan.

Kenapa air harus berulang-ulang turun ke bumi?

Tidak adakah yang bisa menjawabnya? Pertanyaan ilmiah yang dapat dijawab dengan perkataan abstrak para filsuf.

Karena kita harus hidup. Karena itulah hujan itu terjatuh dari atas langit. Lalu… bagaimana dengan air yang tidak terjatuh juga dari langit? Apakah ada yang seperti itu?

Kalau pun, ada mungkin mereka iri. Kenapa yang lain dijatuhkan tapi mereka tetap tinggal di dunia atas sana? Kenapa menjadi pihak yang tertinggal itu selalu menyedihkan? Apakah kau akan kembali lagi? Apakah mereka akan kembali dalam bentuk sama. Seperti dirinya semula, seperti senyumanmu?

Apakah kau akan kembali padaku?

…o0o…

[I will no longer be loved

Or needed by you

And I'll be alone, just like this]

…o0o…

"Naruto…"

Tubuh kecil yang tetap terbaring di atasnya, warna kulitnya terlihat jauh lebih pucat dari siang ini. Ia kelelahan, dan penyakitnya semakin parah. Ia akan meninggal dalam sakitnya. Ia akan meninggal dan perjanjian mereka akan terpenuhi. Lalu ia akan jatuh ke neraka pada saat itu. Pada saat semua perbuatan manusia terbalaskan. Katakan padanya, adakah yang lebih adil dari Tuhannya.

Kau takut kah?

Kau takut kah?

Maka dari itu kau tidak mengakui Tuhanmu? Kau salah, dan kau takut?

"Naruto…"

Kerah yang sedikit terbuka, udara diluar jauh lebih hangat dari malam-malam biasanya. Pengaruh musim panas yang akan datang sebentar lagi. Maka dari itu pula, ia… semakin takut. Bukan pada kelemahannya, tapi pada kemampuan yang dimilikinya. Aku bisa membahagiakanmu, pikirnya. Aku bisa mengabulkan apapun yang kau mau, dengan konsekuensinya. Tapi, yang ia takutkan adalah semua itu membuat sahabatnya akan menderita nantinya.

Katakan padanya kalau ada neraka yang membahagiakan? Hidup dengan kekasihmu di neraka itu membahagiakan? Jangan bermimpi. Kalian tidak akan pernah dipertemukan di neraka. Karena dengan dipertemukan itu artinya kalian akan berbahagia; camkan ini, dan ingatlah. Tidak ada hal yang membahagiakan di neraka.

"Aku tidak akan pernah melihatmu lagi, Naruto…"

Karena yang mana pun sama saja.

"Karena itu aku ingin membatalkan perjanjian kita, kau jatuh ke neraka maupun surga pun… aku tidak akan mungkin bersamamu."

Dan pedang itu, diangkatnya tinggi. Setinggi bayangannya yang terbentuk di wajah yang pucat dan penuh asam garam kehidupan.

"Aku… ingin kau bahagia…" dan suara yang menghilang karena terlalu lirihnya, "Bukan kah aku sahabatmu?"

Saat itu ia lupa identitasnya.

"Suatu saat nanti, kau pun akan melupakanku…" tapi tangannya tak bergerak juga. Di atas kasur yang tidak seberapa besarnya, anehnya… benda itu mampu menopang berat badannya.

Sebagai seorang iblis.

"Aku akan membatalkan perjanjian ini, dengan membunuhmu… karena aku tidak bisa meninggalkanmu, karena aku tidak mungkin mengatakan aku membencimu, maka aku akan membunuhmu."

Lalu ia lupa apa yang seharusnya ia lakukan.

"Kau akan mati, Naruto… aku harap…"

Dan iblis tidak seharusnya berharap.

"Naruto…"

Apa yang akan dilakukannya jika kedua mata itu terbuka. Tanpa penutup matanya, tanpa penghalangnya. Saat kedua mata itu bertemu, tidak akan ada yang bisa berdusta satu sama lainnya. Saat itu mungkin pedang itu telah terhunus, dan mencabut kehidupan orang terkasihnya. Sahabatnya, satu-satunya.

"Sas'ke…"

Kalau begitu, tatap mata itu langsung, dan katakan kau menyayanginya. Oleh sebab itu kau akan membunuhnya.

Salah…

Salah…

"Apakah kau mimpi buruk? Kalau kau mimpi buruk…" bocah itu menggeser tubuhnya ke tepian, "Kau boleh tidur di sini, bersamaku…" dan menepuk ruang di sisi kirinya.

Benar… salah….

Kalau ia membunuh sahabatnya, bukankah janjinya akan terpenuhi? Adakah hal yang lebih tragis dari kau dibunuh oleh sahabatmu? Sahabatmu yang dengannya ia berjanji akan menemanimu hingga akhir hayatmu? Kalau begitu, perjanjian kalian akan lengkap, dan ia akan jatuh ke neraka.

Ini salah…

Seperti kepingan segi empat daun semanggi, yang menghilang di udara. Benda tajam yang akan membuatnya salah langkah itu kembali ke tempatnya.

"Sas'ke…" suaranya terlalu serak, sepertinya ia sehabis terbatuk-batuk, "Kalau tubuhmu sebesar itu, kasurku tidak akan muat! Kecilkan tubuhmu… aku ingin tidur lagi..."

Mata yang biasa tertutup itu setengah terbuka. Ia bisa menatapnya dengan jelas saat tubuhnya mengecil, seukuran sahabatnya. Tidak ada yang salah dengan bentuknya. Andaikan kegelapan tidak menelan ruangan itu, maka anak laki-laki itu akan tahu kalau sahabatnya tersenyum. Tersenyum karena penderitaanya seakan terangkat. Kegelapan yang tidak berarti bagi sang iblis.

"Beautiful…"

…o0o…

What did you say at that time?

Words that can't reach me dance in the air

…o0o…

Laki-laki berambut pirang itu membalikkan tubuhnya ke kiri, menyisakan ruang yang cukup untuk sahabatnya. Penawaran tanpa penjualan. Sang iblis merebahkan tubuhnya, menghadap atap dan dibelakangi sahabatnya. Ia tahu sahabatnya itu belum kembali masuk ke alam mimpinya. Mereka hanya berdiam seperti itu. Ia tahu, sahabatnya itu tidak terdidik dan tidak ada yang mengajarinya pengetahuan umum. Tapi bukan berarti ia bodoh.

Udara jadi sedikit lebih dingin, dan kulit manusia sahabatnya itu pasti tidak akan tahan. Tidak seperti dirinya, udara dingin ini bukan masalah baginya. Namun akan jadi masalah, kalau kesehatan sahabatnya memburuk dari yang sudah. Ia bangkit dan meninggikan selimut berwarna jingga kecoklatan menutupi pundak sahabatnya.

Ah… mata itu tertutup, sayang sekali, pikirnya.

Ketika ia akan kembali berbaring, dan meresume pikiran kalutnya. Sahabatnya itu berkata sesuatu. Sebuah kalimat yang tersusun dari beberapa kata frase dan klausula.

"Sasuke… biarkan aku… hidup seperti ini… biarkan aku berada disisimu lebih lama lagi…"

Dan lagi… andaikan ia yang menentukannya. Menentukan waktu sahabatnya. Maka, baginya… tidak ada hal yang disebut dengan perpisahan. Kita… akan selamanya bersama, dan kau akan tersenyum disisinya. Tapi sejak awal, kata 'selamanya' bagi mereka itu sesuatu yang mustahil.

"Hn…"

Apapun yang kau inginkan.

…o0o…

I know it, but I did it again today

Making a wish that can never be fulfilled

…o0o…

Pagi yang menyelinap masuk melalui cahaya mentari, membutakan penglihatannya yang damai dikegelapan. Saat ia terbangun, saat itu tidak ada hal yang lebih disyukurinya dari sahabatnya yang masih bernapas secara teratur. Mereka berhadapan, dan lagi warna wajahnya sudah kembali.

Tersenyumlah, tersenyumlah untukku.

Tangannya menyibakkan poni panjang yang menutupi sebagian dahinya. Tiga garis di setiap sisi pipinya, terlihat lebih jelas, mengingatkannya pada kucing kecil. Damai… wajahnya sangat damai… andaikan ia terbangun di tempat itu sedari dulu. Ia akan selalu melihat ketenangan ini.

Hingga mata itu terbuka, dan pantulan cahaya yang masuk ke dalam iris mata memperlihatkan warnanya. Warna yang jauh lebih indah dari apapun yang pernah Ia lihat. Pasangan yang tepat dari biru langit mata sebelahnya. Padahal saat itu, matanya masih terkantuk.

"Naruto selamat pagi…"

Kebahagian kecil itu membuatnya lebih ramah dari hari-hari biasanya.

Sepasang mata itu terbelalak dan si pemiliknya membalikkan tubuhnya secepat mungkin lalu membungkusnya dengan selimut tebalnya. Sang iblis tahu bahwa ini yang akan terjadi.

"Aku sudah melihatnya semalam, Naruto… warna matamu jingga kemerahan…" ia terdiam menunggu reaksi sahabatnya, saat tidak terlihat apapun, "Aku tidak takut… aku iblis…" ia bangkit dan menarik selimut jingga kecoklatan itu dengan paksa. Menggenggam wajah bergaris itu dengan paksa pula dengan tangannya ditiap sisinya, "Lagi pula…"

Kemudian terdengar suara air liur yang tertelan di tenggorokan sahabatnya. Mereka saling menatap, dengan separuh tubuh si iblis di atas tubuh sahabat manusianya. Keempat mata yang membukakan rahasia para pemiliknya.

"Lagipula… mata ini sangat indah, Naruto."

Kelopak mata itu terkedip, dan terbuka dengan cepatnya.

"Indah?"

"Ya… indah… aku pun memiliki mata merah," dan ia tunjukkan mata merah dengan bintik 3 bintik kecil di dalamnya, angka '666' yang terputar, "Tapi tidak seindah milikmu… untuk apa kau tutupi… perlihatkan pada dunia, Naruto…"

Kornea mata itu menghindari tatapan mata hitam yang sangat pekat. Ia terlalu malu untuk menatapnya secara langsung.

"Aku… takut kalau…"

'Ehem'

Laki-laki dengan rambut putihnya muncul di sisi kanan tempat tidur. Berdiri dengan sedikit menunduk hingga wajahnya seperti berada di antara celah kedua wajah sahabat yang saling berhadapan.

"Gyaaaaaaaaaaaaaa!" teriak Naruto karena terlalu terkejutnya.

Sasuke bangkit dan duduk di sebelah Naruto yang menutupi tubuhnya dengan selimut, "Apa yang kau lakukan di sini, Silverster! Tiba-tiba masuk ke kamar, Naruto!"

Headbutler itu meluruskan tubuhnya dan wajah tercengangnya yang terlihat dibuat-buat, ia menunduk, "Saya hanya ingin mengingatkan bahwa sarapan anda sekalian sudah tersedia dan ini sudah melewati jam bangun tidur anda, Tuan Sasuke…"

"Seharusnya kau mengetuk pintu!"

"Maaf atas kelancangan saya…" lalu ia melirik Naruto yang masih bersembunyi, "Sepertinya saya mengganggu aktivitas anda, Tuan…" dan wajah mesumnya kembali.

"Kami tidak melakukan apapun seperti yang ada dalam pikiranmu, Silverster!" kata Sasuke ketus.

"Aku tidak berpikir apapun, Tuan… memang apa yang anda kira saya sedang pikirkan?" godanya.

"Cih, keluarlah… nanti kami akan menyusul."

"Baiklah tuan… tapi…" ia menarik selimut Naruto dan menggenggam wajahnya, sama seperti apa yang Sasuke lakukan sebelumnya, "Tapi saya akan pergi setelah memastikan Tuan Naruto sudah bangun."

Mata Naruto tertutup dengan rapat, dan dengan susah payah ia memberontak. Pemberontakan yang tidak ada saat Sasuke yang melakukan hal itu padanya, "Aku sudah bangun! Aku sudah sadar! Kau keluarlah… Silverster!"

"Tidak… Tuan Naruto…" ia terdiam dan melirik Sasuke yang sepertinya bersiap menebasnya menjadi dua, "Kalau anda… tidak juga membuka kedua mata anda… saya akan buat mata itu terbuka seperti yang tertulis di dalam dongeng. Dengan dua pasang bibir yang saling ter-"

"Aku sudah bangun! Aku sudah bangun!" kata Naruto terburu-buru dengan mata yang dibukanya lebar-lebar.

Mata yang kanan irisnya berwarna jingga kemerahan, sedangkan yang kiri berwarna biru sedikit kehijauan dan keabu-abuan pada tepinya.

"Mata yang indah, Tuan…" dan entah suara apa itu seperti benda terbuat dari logam terantuk lantai. Mungkin ada hubungannya dengan Sasuke?... tapi Silverster tidak kecut pada iblis yang lebih muda darinya itu, "Dan lebih indah lagi kalau orang lain melihatnya saat senyum anda merekah, Tuan…"

'Kresssshhh'…

Entah dari mana pula munculnya gunting itu. Namun benda tajam itu sanggup memotong poni Naruto.

"Begini… kami jadi bisa melihat mata ini lebih jelas, Naruto… lalu… eyepatch ini…" Entah sejak kapan pula penutup mata yang diberikan Sasuke (pengganti dari Hinata yang ia simpan) terbelah menjadi dua. Padahal seingatnya kedua tangan Headbutler-nya masih menempel di pipinya, "…anda tidak memerlukannya lagi, Tuan Naruto…" lalu bibir yang tersembunyi di balik penutup wajahnya itu terangkat, "Sudah waktunya untuk bangun, Tuan…" kemudian kakinya keluar dari ruangan itu setelah menyalami Sasuke.

Naruto duduk di sebelah Sasuke yang sudah melipat kedua tangannya di dadanya, "Aku jadi penasaran apa yang ada dibalik penutup wajahnya itu…" ia melirik Sasuke yang diam tak bergeming, "Kau sudah pernah melihatnya, Sasuke?"

'Cirp…cirp…cip…'

"Lihat, Naruto…" katanya perlahan memalingkan wajahnya pada tirai yang tersingkap sedikit, "Matahari sudah tinggi... bukankah ada mawar yang perlu kau sirami, Dobe…?"

Sasuke bangkit dari tempat tidur dan berdiri di samping kanan Naruto. Ia mengulurkan tangan yang disambut dengan senyuman oleh sahabatnya. Naruto tahu perhatiannya sedang dialihkan dengan genggaman dipagi hari itu. Tak masalah baginya, lagi pula…

Rahasia itu… mungkin akan tetap jadi rahasia.

…o0o…

Don't let go

Hold my hand tight

…o0o…

Pagi itu Naruto keluar dari kamarnya tanpa menggunakan penutup matanya. Ia menundukkan wajahnya hingga salah satu juru masaknya - Iris (Ayame)- mendekatinya dan tersenyum memandangnya. Beberapa alis pelayan maupun maid terangkat saat melihat mata kanan Naruto. Sebagian besar dari mereka tidak mengetahui rumor tentang mata Naruto, karena Sasuke sengaja merekrut orang-orang dari tempat yang jauh, dan menganggap Naruto buta. Sisanya tidak bergeming, seperti ketakutan, tapi pada saat yang sama juga tidak. Naruto hanya tidak mengetahui saat para pelayan itu menatapnya dengan ketakutan, Sasuke sudah menakuti mereka terlebih dahulu di belakang Naruto. Sasuke dan aura membunuhnya, berkelibat dibelakang tubuh Naruto.

Beda lagi dengan tanggapan Hack, yang langsung memeluknya dan memuji mata kanannya. Indah… indah sekali Tuan… begitu katanya, dan ia diberikan senyuman tercantik yang pernah dilihatnya dari Hack. Berbeda dari kakak kandungnya yang wajahnya seperti perampok berperban, Hack sangat cantik dan delicate. Semua orang sering salah menganggapnya sebagai wanita. Sasuke menyebutnya sebagai 'Trap'. Ia pun teman Naruto, seseorang mengajarkannya untuk melindungi orang yang berharga untuknya.

Lalu bagi Naruto… Sasuke, orang-orang yang menerimanya di Mansion ini, John dan Lady Hinata-lah orang yang berharga untuknya. Tapi… dengan keadaannya yang sekarang ini, ia hanya merepotkan bagi banyak orang. Oleh karenanya, ia selalu tersenyum. Untuk Sasuke… untuk semua orang yang memandangnya.

"Sasuke…"

Mata hitam yang masih sibuk di depan dokumennya berpaling ke arah laki-laki yang menggenggam banyak tangkai mawar yang maih berduri. Laki-laki berambut pirang itu berjalan masuk dan mengganti mawar yang sudah layu. Tidak ada yang mengganti mawar itu selain dirinya. Ini seperti privillage yang diberikan Sasuke padanya.

"Hn…" iblis itu melirik bunga mawar merah itu. Diantara banyak mawar di kebunnya, kenapa Naruto selalu memilih merah untuknya?

"Aku ingin melihat rumahku… dan…" matanya melirik ke mawar-mawar yang sudah layu tapi tetap di pajang oleh Sasuke, "Aku akan menunjukkan tempat yang indah di tengah hutan… kau mau 'kan menemaniku? Eh? Apa kau sibuk?" tanyanya saat Sasuke hanya diam.

"Hn…" ia melirik dokumen-dokumennya, "Tidak… tapi ini masih akhir Mei Naruto…"

"Ini sudah akhir Mei, Sasuke…" balasnya dengan cepat, "Aku ingin melihat bunga-bunga yang mekar…"

"Hn… kau seperti perempuan, Dobe. Bagaimana kalau kau pakai gaun saja?" katanya dengan congkak.

"Teme!" Naruto mencoba untuk memukul lengan Sasuke, tapi tangan itu ditangkap dengan mudahnya olehnya.

"Lemah…"

"Gaaaaahhhh! Teeeemmmeeeeee!"

…o0o…

Say, "I'll keep going, together with you"

…o0o…

Benar seperti yang Naruto katakan, tempat yang mereka kunjungi ini memang sangat indah. Ada bunga-bunga berwarna putih bermekaran. Bunga yang ia tidak peduli apa namanya, tapi sanggup membuat sahabatnya itu tersenyum. Lalu air terjun kecil yang mengalir masuk ke hutan. Diantara suara burung dan gemercik air. Ada Naruto yang memeluk bunga yang dikumpulkannya di dadanya.

'Untuk Kuu (Hack)' katanya. Bunga putih itu untuk Hack, yang delicate dan untuknya… ia tidak perlu bunga lagi, karena Naruto akan selalu memberikan mawar merah untuknya. Setelah berjalan melihat-lihat rumah kecilnya dan menemui orang yang diperintahkannya untuk menjaganya. Bersusah payah, Naruto masuk ke hutan untuk melihat tempat ini.

Wajahnya terlihat pucat diantara air-air yang terpecik dibelakangnya. Angin yang berhembus mengibaskan rambut pirangnya, dan menyibakkan poninya. Mata berwarna jingganya terlihat sangat mencolok. Cantik. Kemeja putihnya tak mampu menyembunyikan keindahan bunga putih yang dibawa Naruto. Mata yang sibuk menatap bunga yang dipetiknya. Hingga ia teralihkan, sedetik kemudian menatap Sasuke kembali dan tersenyum.

Senyum yang lebih cantik dari apapun juga.

"Andaikan aku tidak sedang sakit seperti ini… aku ingin kita bermain air bersama Sasuke…" katanya dengan santainya.

Tangan Sasuke menepuk pundaknya, "Lain kali…" katanya perlahan.

Naruto mengangguk, "Lain kali…"

Langit hari itu sangat cerah, dan binatang-binatang keluar untuk menyapa mereka. Tanpa mereka sadari matahari sudah berada dipertengahan peredarannya. Sudah waktunya untuk makan siang dan pulang.

"Ayo pulang, Naruto…"

Mata birunya menatap lekat tempat kegemarannya itu. Saat ia lapar dan butuh makanan, ia akan memancing ikan di tempat ini. Tempat yang tidak banyak diketahui keberadaannya oleh orang lain dan menyimpan banyak kenangan baginya. Rasanya ia… tidak akan pernah mendatangi tempat ini lagi.

"Sebentar lagi, Sasuke…" katanya dengan lirih. Ada kata yang tidak terucap, 'Biarkan aku berada disini sebentar lagi, karena mungkin aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi'.

Tangannya dengan erat mencengkram pundak Naruto. 'Hn… aku akan selalu disisimu.' Katanya, tanpa ia berucap. Genggaman itu bukti yang lebih nyata dari apapun. Bahwa ia tidak sendiri. Bahwa ia tidak kesepian, kalau waktunya telah tiba, ia yakin… ia sudah sendiri lagi.

Terimakasih, karena telah meluangkan waktumu.

…o0o…

The hand that held mine was warm

And gentle

…o0o…

Satu bulan telah berlalu, dan musim panas telah datang. Kebahagian dan tawa membuatnya berlalu tanpa dirasakannya. Karena setiap ia mengingatnya, itu artinya… 'waktu' Naruto untuk tinggal sudah tidak lama. Waktu yang membuatnya ingin menggali tanah agar lubangnya cukup dalam untuk menyembunyikan Naruto di dalamnya. Agar malaikat pencabut nyawa tidak menemukannya.

Setelah perjalanan mereka ke hutan, Naruto kembali jatuh sakit. Ada kiranya tiga minggu ia hanya berbaring di tempat tidurnya. Hanya dirinya, dan Silverster yang diperbolekan untuk menjenguknya. Dokter mengatakan kalau salah satu penyakitnya menular, jadi lebih baik kalau ia tidak dijenguk siapapun saat kambuhnya. Lalu Sasuke? ia lebih berharap untuk tertular penyakit itu juga dan menghabiskan waktunya berdua dengan Naruto.

Bukan berarti Naruto hanya berdiam diri. Ia belajar membaca dan menulis jauh lebih keras dari siapapun yang pernah dilihatnya. Ketekunannya membuahkan hasil, setidaknya dengan terbata ia sudah bisa membaca buku-buku cerita kanak-kanak yang sering dibacakan orang tua pada anaknya sebelum tidurnya. Sasuke? Sasuke hanya duduk disampingnya dan mendengarkan suara khas bocah yang hampir dewasa itu terpatah setiap kali menemui gabungan huruf yang membingungkannya.

Lalu setelah sakitnya mereda, ia keluar dan kembali ke taman mawar favoritnya dengan Hack. Mereka terlalu dekat kalau Sasuke mau jujur. Jangan-jangan mereka memang memiliki hubungan yang istimewa? Bahkan sekalipun Sasuke melarangnya untuk keluar dari kamarnya, agar ia tidak kelelahan pun tetap tidak diindahkannya. Hanya untuk bermain di kebun mawar dengan Hack? Mungkin mereka memang sedang menjalin kasih? Pikirnya sembari melihat Naruto memetik setangkai mawar merah.

Pernah sekali Naruto mengatakan padanya, alasan ia memberikan mawar merah untuk Sasuke. karena itu memang warnanya. Ketika iblis itu menanyakan warna untuk orang lain, ia menjawab; untuk Hack mawar putih, untuk Lady Hinata mawar kuning, untuk Iris mawar jingga. Lalu saat Sasuke tidak sengaja terceplos nama Scherryel, bocah itu dengan senyum melekat di wajahnya menjawab; merah muda. Bodohnya, ketika ditanya untuk Silverster dan Zack, setengah tertawa ia menjawab; bangkai mawar.

Itu kalau mawar punya bangkai; dobe! (setiap yang hidup punya bangkai, Teme!) balasnya saat itu.

'Dan untukku' sambungnya, 'aku pun akan jadi salah satunya…hei, Sasuke… aku ingin kau menguburkanku di dekat air terjun.'

Si iblis tidak menanggapinya, karena ia lebih ingin memukulnya dari pada mengatakan padanya 'kau akan hidup ribuan tahun lebih lama, Naruto' karena ia tidak ingin berbohong pada sahabatnya.

Sahabatnya yang memakai masker seperti milik Silverster itu sedang dipeluk oleh Hack! Dipeluk! Mereka memang memiliki hubungan khusus! Cih! Ini membuat Naruto kesal, setidaknya kalau ia mau melarikan diri dari Scherryel ia memilih seorang gadis! Gadis lainnya! Gadis! Kalau ia memilih laki-laki kenapa tidak…

Mata gelapnya terbelalak, si shemale itu seperti sedang berteriak memanggil seseorang lainnya dan Zack muncul lalu memeriksa Naruto. Masker berwarna putih itu berubah warna. Merah. Merah. Iblis itu berlari sekuat tenaganya, keluar dari kamarnya menuju kebunnya.

"Naruto!" teriaknya dan laki-laki yang sedang dipeluk oleh Hack meliriknya.

"Sasuke… aku… sehikit mihmisan…" ia sepertinya tertawa, dan Hack tidak juga melepaskan pelukannya. Zack hanya berdiri disamping mereka, "Akhu… baik-baik saja."

Sedetik kemudian Sasuke mengeluarkan bentakan terkerasnya pada Naruto. Ia marah. Ia marah. Ia sangat kesal! Kenapa si Dobe itu tidak mengerti kata 'ia sedang sakit jadi tetaplah di kasur'. Penyakitnya tak akan sembuh, begitu kata dokternya. Maka dari itu, walaupun hanya sedetik, Sasuke berharap mereka bisa bersama lebih lama. Meskipun ia harus mengurung Naruto untuk itu. Ia tidak peduli.

"Hack! Lepaskan Naruto! Dan Zack, cari Silverster, suruh ia menemuiku." Hack tidak bergeming dan Naruto mengepuk-nepuk punggung laki-laki yang lebih tinggi darinya itu. Mereka tidak ada yang berusaha melepaskan skinship diantara keduanya, dan Zack sudah pergi entah kemana, "Kubilang kalian berdua berhenti berpelukan! Naruto, kembali ke kamarmu."

Naruto meliriknya dan tersenyum dengan lemahnya.

"Hack bisa tertular!" kata Sasuke dengan paksa.

"Kuu… sudah…ya, kau dengar? Kau bisa tertular." Tapi laki-laki yang lebih tua dan lebih tinggi darinya itu tidak juga bergeming.

"Sebentar lagi, Naruto… sebentar lagi… aku ingin memelukmu sebentar lagi." Pintanya memelas. Suara sedihnya membuat keinginan Sasuke untuk menegurnya terhenti karena memanggil Naruto tanpa 'Tuan'.

Mata kuyu Naruto yang sepertinya berkunang-kunang, memaksa Sasuke untuk menarik kerah belakang Hack dan memisahkan keduanya. Ia menggendong Naruto yang sepertinya hampir terjatuh dan membawanya masuk ke Mansion. Ke dalam kamarnya. Wajahnya sangat pucat saat si iblis mengelap darah yang ada di sekitar hidungnya, lalu membuang masker itu.

Silverster masuk membawa kain dan air untuk Naruto. Lalu beberapa obat-obatan yang sepertinya tidak diminumnya pagi ini. Dobe!

…o0o…

You always made me angry just like that

And in the end I would cry

…o0o…

"Maafkan aku, Sasuke…" katanya dengan lirih saat Silverster menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan mereka berdua.

Sasuke duduk terdiam disampingnya. Tidak marah, maupun melihatnya. Hanya duduk dan berdiam diri. Tangan Naruto merayap dan menyelinap ke telapak tangan sahabatnya. Menggenggamnya.

"Maafkan aku…"

Akhirnya kedua mata mereka saling bertemu.

"Hn…"

Hilang sudah rasa kesalnya dan Sasuke menggenggam balik tangannya.

Dobe…

…o0o…

But I loved

how your face looked when you said, "I'msorry"

afterwards

…o0o…

Seminggu setelahnya, datang seorang pelukis bernama Saine Whitemark dengan wajah mencurigakan ke Uchiha Mansion. Hack menyarankan Sasuke untuk membuat lukisan dirinya dan Naruto. Seakan-akan ia takut melupakan Naruto. Si Iblis itu tidak menentangnya, sekalipun ia bisa mengingat wajah Naruto… tapi, membuat lukisan keduanya pun tidak buruk…

Lalu datanglah laki-laki aneh yang kulitnya sangat pucat dan mengatai Naruto 'dickless' bahkan Sasuke tidak pernah melihat tubuh Naruto secara utuh! Che!... seringaian Silverster dibalik penutup wajahnya, dan amarah Naruto seperti bukti kalau Naruto memang 'dickless'.Mereka akan membuat banyak lukisan, dan sketsa. Hal ini membuat si Saine itu tinggal bersama dengan mereka. Mengganggu Naruto, dan menggambar. Hanya itu hal yang ia kerjakan.

Awalnya ia tidak berpikir hal apapun, karena Silverster pun tidak mengatakan apapun mengenai Saine. Sampai ia melihatnya berbicara dengan seseorang saat membeli barang-barang untuknya melukis di kota. Kata yang ia dengar dengan jelas adalah 'banyak benda berharga'. Ada apa kiranya? Yah… ini tugas Silverster untuk mencari tahu 'apa' yang dilakukan oleh si pelukis pervert itu.

Pertengahan minggu kedua bulan Juli, keadaan Naruto membaik dan ia sudah mampu berdiri. Remaja itu sedang duduk di bangku taman mawar dengan Hack dan Zack. Mereka bertiga sedang digambar oleh Saine (karena melukis membutuhkan banyak waktu dan Naruto tidak boleh terlalu lama diluar rumah). Saat Naruto-Hack-Saine, bercakap-cakap dengan cerianya. Saat itulah ide untuk pergi ke pantai itu muncul. Di awal musim panas, dan Naruto pun terlihat membaik. Setidaknya ia bisa berdiri sendiri. Sasuke mengizinkannya, dan mereka pergi ke pantai keesokkan harinya. Sasuke, Naruto, Silverster, Hack, Zack, Iris dan Saine, berangkat di pagi buta untuk melihat laut.

Sesampainya disana, matahari sudah cukup tinggi dan Naruto hanya duduk di bawah payungnya. Lengkap dengan kemejanya bersama dengan Sasuke dan Hack. Mereka bertiga sedang digambar oleh Saine, sedangkan yang lainnya menunggu dikereta kuda maupun menyiapkan makan siang dan tempatnya.

Saine menatap Naruto yang sedang tertidur di pundak Sasuke. Ia mengerti kenapa si dickless sangat disayangi oleh seluruh penghuni Mansion. Ia menatap wajah keduanya yang sedang menutupkan matanya, ia harus mengingat dengan baik setiap sudut wajah keduanya karena ada lukisan yang perlu ia selesaikan. Lukisan yang berukuran sangat besar. Ia tahu, ini akan jadi 'memori' untuk Sasuke dan semua penghuni Mansion mengenai 'Naruto'. Senyumnya, amarahnya, leluconnya, dan kebodohannya. Ia ingin menggambarkannya dengan baik. Bahkan termasuk kepedihannya yang sesekali muncul diwajah itu. Saine tidak terkejut dengan mata kanan Naruto. Ia akan berusaha melukiskan mata itu dengan warna yang tepat dan indah seperti aslinya. Itu kalau memungkinkan.

Saat matahari condong ke barat, tanda ini sudah waktunya bagi mereka untuk kembali ke Mansion. Senja di belakang mereka terlihat sangat indah, dan lebih indah lagi melihat dua orang sahabat yang sedang berjalan di hadapan tenggelamnya matahari. Yang lebih kecil digendong di punggung laki-laki yang lebih tinggi. Mereka berjalan sembari mengobrol kecil. Tawa dan amarah yang terselip diantaranya, membuat orang yang menatap keduanya tersenyum. Inilah kebahagiaan, begitu pikir lainnya dan berharap agar ini tidak cepat berakhir.

Naruto menopangkan tubuhnya di punggung Sasuke, kepalanya menyelinap ke dalam lekukan leher sahabatnya. Tangannya melingkar di dada Sasuke dengan bebasnya. Kedua kakinya ditopang oleh tangan Sasuke. Tidak ada seorang pun yang berani memasuki dunia kecilnya.

…o0o…

Don't let go

Hug me tight, that's right, with all your heart

…o0o…

"Sasuke…" panggilnya perlahan pada laki-laki yang duduk menghadap jendela kamarnya. Naruto berdiri dan melihat bunga mawar yang layu, ia mengganti bunga itu dengan mawar merah yang baru. Mawar yang dibawakan oleh Hack.

Mata gelapnya melirik Naruto, sedang tangannya menelusuri bingkai jendela yang tertutup. "Hn…"

"Aku… apakah waktuku cukup untuk melihat salju turun nanti?"

"Hn… dobe…"

"Aku ingin melihat salju, Sasuke…" karena salju terakhir membuatnya sedih, maka ia ingin salju yang akan datang membuatnya tersenyum.

"Bersama dengan seseorang dan meminum coklat serta marshmellow…"

"Kau masih mengingatnya…" Naruto memotong mawar yang segar dan menempatkannya di vas bunga.

"Aku tidak dobe sepertimu."

Senyum kecil merekah dibibirnya, dan ia terbatuk. Andaikan ia sedang sehat, ia pasti akan marah dengan ucapan sahabatnya itu, "Bukankah… sahabat tidak akan membohongi satu sama lainnya, Teme?"

"Hn…" rasanya Sasuke tahu apa yang akan dikatakan Naruto.

"Saat salju turun nanti, aku ingin menceritakan kisah yang belum kau ketahui…" ia terdiam, "…atau mungkin tidak kau ingat…"

"Hn…"

"Kau tahu… teman tidak menyembunyikan rahasia."

"Setiap manusia memiliki rahasianya masing-masing, Naruto."

Naruto berdecak, "Maksudku yang menyangkut temannya…"

"Aku iblis."

"Kau temanku." Jawabnya dengan singkat, saat Sasuke hanya terdiam, ia melanjutkan perkataannya, "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu…"

"Hn…" Sasuke tidak berpaling dari langit di luar jendelanya.

"Sampai saat itu, Sasuke…"

Sasuke melirik sahabatnya yang terdiam. Tangannya merangkai mawar, satu persatu dimasukkan ke dalam vas bunga. Musim panas telah tiba, pertengahan Juli sudah terlewat. Ia melirik kalender kecil di mejanya yang menunjukkan hari itu tanggal 19 Juli. Entah kenapa, rasa khawatirnya semakin menjadi. Penyakit Naruto terlihat seakan-akan membaik, seharusnya ia bahagia. Namun ada ketakutan yang semakin dalam. Sampai-sampai ia tidak ingin melepaskan Naruto dari pandangannya sedetik pun.

Bukankah sahabatnya itu semakin sehat? Bahkan dokter pun mengatakan demikian. Ia semakin sehat, ataukah… ini yang disebut dengan ketenangan sebelum badai besar?

Ia menatap sahabatnya, dan mengeser-geser letak mawar-mawar baru.

Naruto…

Tidak hanya hatinya yang merasa gusar, tapi perilaku aneh Naruto yang terasa semakin aneh ini yang membuatnya tidak habis pikir. Ia semakin rajin belajar menulis dan membacanya. Seperti ia mengetahui kalau waktunya tidak akan cukup untuk mempelajarinya, dan ia pun semakin tenang. Tidak seperti dulu yang selalu tanggap dengan perkataan sinis atau sindiran dari Sasuke. Ia seperti orang lain yang hanya tersenyum atau mengalihkan pembicaraan saat dirinya disinggung.

Laki-laki berambut pirang itu membalikkan tubuhnya dan menatap balik sahabatnya. Ia tersenyum dan mengibaskan setangkai mawar ditangannya. Kau… sungguh akan hilang dari hadapanku Naruto? Untuk selamanya? Pikirnya. Mata dinginnya tidak sanggup teralihkan dari senyuman tipis Naruto.

Bisakah kau tidak meninggalkanku? Selamanya disisiku?

Ia menurunkan pandangannya, karena ia tahu… ada hal yang tidak akan pernah ia miliki. Sehebat apapun dirinya, sekuat apapun tenaganya dan secerdas apapun dirinya. Ada hal yang tidak akan pernah sanggup ia kuasai. Ia bukan Tuhan, ia hanya iblis. Lalu… kenapa ia seperti ditakdirkan untuk bertemu dengan sahabatnya ini?

Naruto…

"Sasuke?"

Mungkin kau tidak memintanya, tapi… teman… memberi hadiah satu untuk lainnya kan?

"Apa dobe?"

"Apa kita bisa pergi ke tempat bersalju?" tanyanya sembari duduk di meja.

Sasuke kembali menatapnya, "Apa kita perlu melihat salju?" katanya dengan dingin. Naruto menggelengkan kepalanya dan angkat kaki dari kamarnya. seperti ini… inilah kenapa Sasuke merasa ada yang aneh pada sifat Naruto.

Tidak hanya pada pagi hari itu, tapi beberapa hari sebelumnya dan sesudahnya pun demikian. Sasuke mengambil papan dan selembar kertas kosong dari dalam lacinya. Ia bersandar pada kursinya. Kertas itu kosong, dan semenjak 'bakat' menggambarnya terkuak ia selalu menggambar wajah Naruto disaat senggangnya. Sekalipun bakatnya tidak sebesar milik Saine, tapi setidaknya ia bisa menggambar wajah Lady Hinata dan sketsa wajah John Windsor dengan tepat.

Ah… setelah mereka mengirimkan surat jawaban pada Windsor pada Mei akhir. Mereka mendapatkan surat lagi dari laki-laki paruh baya itu pada pertengahan Juni dan tentu saja, tulisan cakar ayam Naruto dipujinya habis-habisan. Sasuke termenung dihadapan kertas kosongnya. Kira-kira… apa yang akan ditulis oleh Windsor ya? Mungkin ia akan mengirimkan kartu pos dalam suratnya lagi?

Entahlah… -tangan Sasuke mulai membuat sketsa wajah Naruto yang sedang menatap bunga mawar di vasnya-. Lagi pula kenapa juga ia tidak bisa langsung mengingat kalau Naruto adalah 'Tom'? padahal ia tahu Tom adalah laki-laki. Ingatan awal yang mengelabuinya. Mungkin karena Naruto menggunakan gaun saat ia kecil, jadi ia tidak ingat kalau anak berambut bob itu Naruto…

Hatinya sakit mengingatnya…

'Sreeeettttt…'

Garis hitam memanjang, mencoret mata kanan Naruto yang hampir diselesaikannya. Ini semua salahnya. Andaikan Naruto tahu… apakah Naruto sudah tahu dan memaafkannya?

Apa itu 'cerita yang tidak ia ketahui atau ia lupakan'? mungkin ia sungguh mengingat kejadian masa lampau itu?

Naruto…

Malam harinya, Sasuke dengan piyama hitamnya masuk ke dalam kamar Naruto. Seperti biasa yang ia lakukan akhir-akhir ini. ia tidak bisa tidur dan kegelisahan akan kehilangan Naruto di keesokan harinya membuatnya terjaga. Bukan berarti ia butuh tidur. ia… hanya ingin ada disamping Naruto.

"Sasuke… kau mimpi buruk lagi?" Sasuke mengangguk mendengar suara mengantuk dari Naruto, "Hoaaaam… tidurlah…" dan memberikan ruang pada Sasuke.

Iblis itu terdiam menatap wajah lelah Naruto yang ada dihadapannya. Kelelahan memakan kesadaran Naruto, dan ia dengan sigapnya mengeluarkan papan dan secarik kertasnya. Entah sudah berapa banyak sketsa yang ia buat saat Naruto tertidur seperti ini. Kalau ia bosan ia akan berbaring, kalau Naruto tiba-tiba terbangun ia akan marah-marah, dan kalau Naruto mengigau ia akan mengusap-usap punggungnya. Lalu… kalau tiba-tiba ia menangis… maka Sasuke akan memeluknya. Agar ia tidak lagi bermimpi buruk. Bahagia… Naruto harus berbahagia. Dalam dunianya, dalam mimpinya.

Ia akan melindunginya. Ia akan ada disisinya, sampai ajal menjemputnya.

Sasuke menatap Naruto setelah tiga sketsa baru Naruto selesai, dengan kemampuannya ia menyimpan kembali papannya di tempat rahasia dibalik piyamanya. Ia merendahkan tubuhnya dan merebahkannya disisi Naruto yang tetap menghadap ke sisinya. Tangannya membelai rambut Naruto dan menyentuh pipi bergarisnya. Sahabatnya itu memang manis, terlepas dari gender 'laki-lakinya'. Pantas kalau semua orang yang melihatnya menggunakan gaun akan menatapnya iri. Iri karena bisa berjalan dengan gadis semanis Naruko.

Iblis itu menggeser tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Agar ia bisa merasakan hembusan napas perlahan yang keluar dari hidung sahabatnya itu. Ia tidak akan khawatir mengganggu Naruto, karena seorang iblis tidak perlu melakukan tindakan kemanusiaan seperti bernapas. Udara yang keluar dari hidung Naruto akan menjadi jaminan atas kehidupan orang yang ia sayangi ini. Hingga ia mampu menutup matanya, dan menyerahkannya pada kegelapan.

Sampai pagi datang, sampai Naruto membangunkannya. Sampai saat itu, ia akan tenggelam dalam kehangatan ini. Kehangatan yang tanpa disadarinya akan segera berakhir dalam waktu yang dekat.

…o0o…

I want to be in your arms

With our foreheads leaning against each other

We fall asleep

…o0o…

Hari itu sedikit mendung, dan Naruto sempat berdiam diri di kamarnya beberapa jam setelah pagi menyapa mereka. Sasuke menatap langit yang gelap di musim panas yang seharusnya sangat cerah. Hujan sepertinya akan turun. Ia menatap langit di luar jendelanya, dan memasuki kamar Naruto. Bocah itu sedang duduk di pinggiran jendelanya seperti biasa, tersenyum kecil melihat Hack yang sedang memetik bunga matahari. Sasuke duduk disampingnya, dan Naruto tahu itu. Hanya saja keduanya terdiam.

"Mawar merah…"

Mata biru dan jingga Naruto menatapnya.

"Aku pun akan memberikanmu mawar merah…"

Senyum kecil merekah di bibir yang berwarna kemerahan itu, "Sasuke…"

"Hn…"

"Bolehkah aku memelukmu…?" Wajah Sasuke berpaling ke arah Naruto, "Aku hanya ingin sesekali memeluk orang-orang disekitarku, Teme… lagi pula penyakitku sed-"

"Kemarilah!" perintahnya memotong apapun perkataan Naruto tentang penyakitnya.

Mendengar hal ini Naruto tersenyum dan mendatangi orang yang ia anggap sebagai kakaknya. Tubuh keduanya menempel dan Naruto memeluknya dengan erat. Perlahan, ia hirup bau tubuh Sasuke. Khas Sasuke… seperti hutan yang tenang dan memberinya ketenangan. Seperti air yang tidak berbau dan jernih. Naruto akan mengingatnya dan menyimpannya dengan baik. Kehangatan tubuh Sasuke dan lembutnya rambut hitam yang wangi. Sahabatnya itu memeluknya balik.

"Naruto…"

"Sebentar lagi Sasuke… sebentar lagi…" katanya dengan pelan, "Aku harus mengingatnya."

"Dobe…"

"Hei.. Sasuke…" Naruto mendengar Sasuke mengatakan 'Hn…', "Apakah kau ingin mendengar cerita yang ingin kuceritakan saat turun salju?"

"Apa aku perlu mendengarnya?" iblis itu pikir Naruto akan marah dengan pertanyaannya yang tak acuh.

"Aku hanya ingin menceritakannya, Teme…" katanya perlahan.

"Aku tidak ingin mendengar hal yang kau paksakan untuk menceritakannya dobe…" karena sama sepertimu yang tidak menanyakan 'kenapa aku berusaha membunuhmu?' maka dari itu aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan hal yang membuat suaramu begitu sendu dan sedih.

"Begitu kah? Bukan karena kau malas mendengarkan ku, Teme?"

"Hn… itu juga alasan lainnya."

Naruto tertawa renyah, disamping telinga Sasuke. Lalu melepaskan pelukannya. Ia menepuk pundak Sasuke dan tersenyum.

"Kita harus sarapan pagi, Sasuke…" katanya menggenggam tangan sahabat iblisnya dan menariknya perlahan, "Aku masih bingung kenapa kau harus makan disaat kau tidak perlu makan."

"Kau masih membahasnya, Dobe…"

"Andaikan aku tidak perlu makan…"

"Kau akan tetap makan sekalipun kau tidak perlu makan."

Mata biru dan jingga itu menatapnya, "Kau seakan-akan mengatakan kalau aku ini hidup hanya untuk makan saja?"

"Hn… jadi bukan?"

Mereka keluar ruangan dan berjalan menuju ruang makan, di sisi kanan dan kiri mereka telah terpasang sketsa maupun lukisan dari Saine maupun Sasuke. Genggaman tangan Naruto tidak juga terlepas.

"Tentu bukan! Aku hidup demi…" ia terdiam sebentar tanpa menghentikan langkahnya maupun hanya sekedar memandang Sasuke, "-aku hidup untuk bertahan hidup…"

"Che! Konyol!"

"Tehehehehe… aku serius Sasuke…"

"Hn…"

Sasuke tidak bodoh… tentu ia tahu arti dari 'Hidup untuk bertahan hidup'. Ia hanya tidak ingin membahasnya lebih lanjut.

"Seperti ini, Naruto?" tanya Hack mengenai kreasi rambut Naruto ke-9 . Bocah pirang yang melihat bayangannya di cermin berdecak. Ia menatap rambut yang sisi kanan dan kirinya di kepang lalu ditarik kebelakang, rambutnya terurai dan sedikit menyisakan di depan telinganya.

Ia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak suka… bukankah ini terlalu feminine untuk lelaki?"

"Anda, juga mengatakan hal seperti itu untuk model rambut yang sebelumnya, Tuan…" kata Iris menghembuskan napasnya, "Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba Tuan ingin mengubah gaya rambut anda…"

"Kan aku sudah bilang untuk mengganti suasana! Ini musim panas, Iris! Ah!" Ia mendapatkan suatu ide, "Aku ingin dikepang kebelakang saja… kecil-kecil dari atas sini.." katanya sambil menunjukkannya dengan tangan kanannya.

Saine meliriknya, guratan tintanya terhenti, "Hei, dickless, kau botaki saja rambutmu… toh, kau pun hairless disana." Tunjuknya pada daerah privasi Naruto.

Naruto menutup daerah disekitar selangkangannya, "Kaauuu!"

Pagi itu setelah sarapan, Naruto pergi bersama dengan Hack dan Iris. Si Dobe ingin agar rambutnya ditata dalam bentuk seaneh-anehnya dan Saine akan menggambarnya. Tidak masalah bagi Saine… selama tugasnya berjalan dengan baik dan Uchiha pun membayar mahal tiap karyanya. Saine tersenyum saat ia mengingat 'bonus' yang sedang dipersiapkan olehnya untuk kedua Uchiha ini.

Sasuke dan Silverster sedang berada di ruang kerja Sasuke yang tidak jauh dari tempat Naruto berada. Si iblis muda itu duduk di kursinya dengan surat-surat dan dokumen yang harus dibaca serta dibalasnya, sedangkan Silverster dalam keadaan 'standby'-nya.

"Silverster…" laki-laki yang dipanggilnya menatapnya, "Bagaimana dengan rencana kita nanti malam?" ia melirik ke kalender yang di dalamnya telah ditandai khusus dengan pena merah pada tanggal 23 Juli.

"Semuanya, telah siap…"

"Hn… lalu tentang Saine?"

"Oh?" si headbutler itu seperti teringat sesuatu yang sangat penting, "Ada hal yang menarik mengenai orang itu."

Mansion yang sangat besar dan berada di ujung desa dekat hutan. Tidak akan ada yang memperhatikan apa yang terjadi di balik dinding tinggi dan kokoh. Sama seperti saat ini. saat butiran-butiran kecil berwarna putih jatuh dari langit dengan lembayung merahnya. Salju yang bukan salju.

Mendung yang tidak jadi hujan, hanya seperti gertak sambal. Sasuke tidak akan bisa mengubah cuaca begitu saja, maka dari itu ia menggunakan media lain untuk menurunkan salju. Salju berbeda dari hujan. Orang tidak akan khawatir tentang hujan yang turun dicuaca yang panas. Berbeda dengan salju yang turun di musim panas yang sangat terik.

Kepingan-kepingan yang dibuatnya dari mesin penggiling. Ia menggiling permen berwarna putih agar terlihat sebagai salju. Perlu banyak permen mint berwarna putih itu, tapi bukan masalah bagi Uchiha untuk merogoh kantongnya. Ia pun dibantu dengan pelayannya yang telah menyiapkan perlengkapan lainnya. Kini tinggal bagaimana Naruto menatap langit yang hampir dipenuhi bintang-bintang ini dengan kedua matanya.

Masih ada yang menduganya?

Tentu semua orang tahu jawabannya, saat ia pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan menutup rapat tirai yang sedikit terbuka. Wajahnya terangkat dan mulutnya menganga. Ia berteriak dengan sangat keras, hingga terbatuk-batuk setelahnya. 'Salju!'

Hal yang mengejutkan adalah ia keluar dari kamarnya dan memeluk Sasuke sebelum mencium pipinya. Katanya sebagai ucapan terimakasih… Naruto tidak akan ragu… bukankah wajar seorang adik mencium pipi kakaknya?

Si dobe itu berlarian keluar mansion dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tumpukan permen mint yang menyerupai salju. Ia membaringkan tubuhnya dan menggerakan kaki dan tangannya hingga menyerupai kupu-kupu sambil bergumam 'salju' berkali-kali. Ia menatap orang-orang yang berada di atap. Sepertinya mereka menaburkan banyak serpihan permen itu dan diam-diam Silverster membantu menyebarkan salju buatan itu keseluruh penjuru mansion dengan 'tiupan kecil'-nya. Sasuke pun demikian, ia membuka jendela kamarnya dan meniupkan perlahan udara ke halaman mansion. Dalam sekejap angin dingin berhembus. Naruto berteriak 'Uaaa dingin!' berkali-kali sembari menebar-sebarkan salju palsu itu.

Matahari belum lama tenggelam dan Uchiha Mansion sudah dipenuhi dengan salju buatan yang sangat tebal. Mereka berdua candlelight dinner di bawah bulan yang bersinar dengan terang sekalipun mendung masih mengintai. Meja yang telah dipersiapkan para pelayan sedikit tertutup salju buatan yang sibuk dimakan oleh Naruto. Sasuke sudah mencoba melarangnya, tapi… Naruto dan lidah manisnya, sulit dihentikan. Walaupun akhirnya terhenti saat Silverster datang dengan makanan favoritnya.

Duduk bersama dengan seseorang sembari meminum coklat dan memakan marshmellow saat dikelilingi oleh salju. Keinginan Naruto.

Mereka duduk berhadapan, di meja kecil yang telah dibersihkan oleh Silverster. Naruto tidak berhentinya tersenyum. Senyum yang disukai oleh Sasuke. Andaikan senyuman itu tidak pernah terhenti.

Naruto menggenggam secangkir coklat panas dengan sepiring marsmellow. Marshmellow dengan berbagai bentuk yang indah, dilumuri coklat dan bermacam-macam selai di atasnya serta potongan buah-buahan sebagai desert. Sasuke melirik piring kecil dihadapannya, lidah iblisnya tidak akan mampu mengkover makanan ultra manis itu.

'Creeeekkk'

"Sudah kubilang aku benci makanan manis." Dan Naruto tersenyum lagi, kali ini diiringi tawa

"Kau tahu, Sasuke…?" perkataan Naruto ini membuat sahabatnya menatapnya dan menggumamkan kata 'Hn', "Kau ini Dobe!"

'Ctik'…

Tenang… tenang… Sasuke… ia memancingmu untuk memberitahu arti kata 'dobe' yang sebenarnya, pikir Sasuke.

Sasuke menyeringai, "Hn… lalu?"

"Do-" bibir Naruto sengaja dimajukan, "Be…" dan dibuat ceper… ingin sekali Sasuke mengambil balok kayu dan menempelkannya pada bibir Naruto.

"Hn…" katanya dengan tenang.

Bocah berambut pirang dengan kepangan kelabang di kepalanya menatap salju yang sudah berhenti turun dan memenuhi pekarangan, "Kau lupa boneka saljunya…"

"Che! Aku tidak sepertimu, Dobe!" dan ia menunjuk pada sudut taman, ada dua boneka salju, yang satu lebih besar dari pada yang lainnya, "Keinginanmu… tidak perlu menunggu musim salju…"

Naruto tersenyum, berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju dua boneka salju yang tertutupi air mancur. Ia berdiri di hadapan dua boneka itu dan menepuk-nepukkannya. Boneka yang setinggi tubuhnya itu terbuat dari marshmellow. Ia merapikan syal yang ada dileher boneka dengan hidung wortelnya.

Boneka yang lebih tinggi seperti mencerminkan Sasuke, dan yang lebih pendek adalah dirinya. Mereka bersama ditengah (anggap) musim dingin. Seperti mengisyaratkan kalau musim dingin ini ia tidak akan sendiri. Setidaknya, hatinya tidak akan sendiri, bila usianya tidak mencukupi. Sasuke menepuk pundaknya dan ia berpaling. Ah… ini saatnya minum coklat, pikir Naruto. Kemudian itulah yang dilakukan keduanya, sembari bercerita tentang kesehariannya, mereka tersenyum, mereka tertawa, bertengkar, dan mampu mengerti satu sama lainnya.

"Sasuke… aku…" Naruto menghentikan ucapannya, "Hn..." ia menggelengkan kepalanya saat sahabatnya sudah menatapnya, "Tidak…"

"Dobe…"

"Pernah kah kau berpikir kau ini hidup untuk apa, Sasuke?"

Iblis itu terdiam, "Hidup kami hanya untuk menejerumuskan manusia, bukan?" dan tawa kecil Naruto balasannya.

"Iya… apa dineraka nanti kita akan bertemu, Sasuke?"

"Apa kau sungguh ingin masuk neraka?"

Naruto menggelengkan kepalanya setelah ia berpikir beberapa saat, "Aku ingin bertemu dengan ibu dan ayahku… tapi aku pasti masuk neraka."

"Bukan kau yang menentukan kau akan masuk surga atau neraka."

Bocah itu terdiam lagi, "Sasuke… apa yang akan kau lakukan kalau aku pergi nanti? Apakah kau akan sedih?"

Tangan Sasuke sudah terkepal, ingin sekali ia menampar wajahnya dan berkata 'kau akan hidup sampai ratusan tahun, Naruto!', tapi ia tahu… bukan ia yang menentukan takdir 'usia'…

"Tentu… aku ini sahabatmu."

Kursi yang mereka duduki dibawah lentera itu terasa sangat sempit dan menyesakkan. Bocah pirang itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan melirik Sasuke dari bawah, "Kau benar-benar tampan, Teme…" lalu mengangkat tubuhnya, "Kalau kau tiba-tiba menghilang Scherryel pasti akan sedih…"

"Kau ingin agar aku berpura-pura sebagai manusia?"

"Tidak…" Naruto berpaling padanya dan tersenyum lagi, "Aku hanya ingin Sasuke tetap menjadi Sasuke… dan… taman ini, mansion ini, lukisan-lukisan tentang kita… tidak hilang."

"Ada Hack dan Zack, Dobe…"

"Kau tidak menghitung Silverster? Padahal ia sangat patuh padamu…"

Sasuke menghembuskan napasnya, si bodoh ini… pikirnya, "Ia iblis sepertiku, Do-be!"

"Aaahh… pantas aneh…" ia terdiam, "Hei, Sasuke…"

"Hn…"

"Mau kah kau tersenyum untukku lagi?"

"Kau bisa bayar pakai apa?" tanyanya sinis.

"Ng…" pikir bocah rambut pirang itu, ia tahu ia tidak memiliki uang sepeser pun, "Ngg… dengan tubuhku?"

"Che!" tapi Sasuke tidak mengatakan apapun lagi.

Mereka terdiam, dan Naruto menaruh kepalanya pada pundak Sasuke. Angin berhembus sedikit lebih kencang, sepertinya memang akan hujan, dan salju-salju buatan yang berada di atas atap maupun pepohonan beterbangan. Berwarna putih, ditengah-tengah langit yang hanya diterangi matahari. Berjatuhan perlahan ke atas kepala keduanya. Kelopak mata Naruto tertutup dan napasnya perlahan-lahan mulai stagnan.

"Sasuke…" panggilnya dengan suara lirih.

"Hn…"

"Aku ingin tidur… sebentar…"

"Hn…"

Taman mawar Uchiha Mansion tertutup salju buatan. Ia jamin, pasti keesokannya akan sulit dibersihkan dan berharap hujan turun dengan deras malam ini. Udara memang sedikit dingin, terlihat dari napas Naruto. Sahabat manusianya yang sangat ia sayangi. Ia menggerakkan tangannya perlahan agar tidak membangunkan Naruto dan menyentuh kelopak mata kanannya.

Bibirnya ia gigit, ini salahnya. Apakah Naruto tahu itu?

Bocah pirang itu tidak pernah menceritakan kenapa ia bisa 'memanggil'nya. Mungkin kah hal ini yang akan diceritakannya? Tapi… Sasuke tidak ingin mendengarnya. Ia takut, kalau Naruto akan menyalahkannya juga. Lalu… Naruto… kenapa dari ribuan iblis yang ada di dunia ini kau bisa 'mendatangkan'ku?

Seperti misteri yang tidak akan pernah terpecahkan dan Sasuke menutup kedua matanya, lalu menyandarkan kepalanya di atas kepala Naruto. Tangannya mengeratkan jubah Naruto agar tidak kedinginan, dan menggenggam tangan Naruto setelahnya. Hiduplah Naruto… dan aku akan disisimu, pikirnya.. sampai ajal menjemputmu.

Salju turun perlahan di atas mereka, memenuhi ruangan dijarak pandang mereka. Putih, seperti persahabatan mereka. Putih, seperti senyum Naruto yang hangat. Putih, seperti langit biru yang tercermin dari mata Naruto. Putih, seperti kemeja yang bernoda darah. Putih, betapa putihnya kulit Naruto… sepertinya hantu, atau sepertinya uap… yang akan menghilang kapan pun.

Naruto…

Sesosok hitam muncul dihadapannya. Mansion terlalu sepi terdengarnya. Padahal sebelumnya terasa riuh sekali. Sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu diluar sini?

"Sasuke…"

Panggil seseorang itu dihadapannya.

"Hn…" ia membuka kedua matanya. Si iblis berambut putih itu muncul, sepertinya bukan berita baik yang dibawanya.

"Ada perampok yang memasuki Mansion."

"Kalau begitu, amankan pelayan dan para maid, Naruto akan sedih kalau ada yang terluka. Aku yang akan melindungi Naruto."

"Baiklah…" Headbutler itu terdiam dan melihat sepasang sahabat itu lagi, "Lalu…mengenai Saine…"

"Biarkan ia melakukan hal yang suka."

Silverster mengilang dari hadapan mereka. Sasuke sengaja menunggu beberapa saat agar keributan di dalam Mansion menghilang, sebelum ia membawa masuk Naruto dan membaringkannya di tempat tidurnya. Hanya kumpulan perampok… pikirnya meremehkan manusia-manusia yang gila harta itu. Karena Sasuke lebih suka menghabiskan waktunya dengan sahabatnya ini.

Malam sudah mulai larut dan Naruto sempat terbatuk. Mereka sudah terlalu lama berada diluar. Naruto bisa kena flu. Alasan ini yang membuat Sasuke menggendong Naruto di punggungnya memasuki Mansion. Sepertinya Silverster sudah menyelesaikan pekerjaannya. Mansion yang sangat luas itu terlihat tenang, dan ia tidak perlu khawatir dengan keadaan Naruto, karena ia akan tidur di kasu Naruto. Untuk melindunginya.

Mereka memasuki Mansion yang sedikit redup dari biasanya. Pantas saja, karena beberapa menit setelahnya hujan turun dengan derasnya. Sasuke beruntung ia sudah membawa masuk Naruto. Bisa-bisa penyakitnya akan semakin parah. Tanpa disadarinya, mereka sudah sampai di depan kamar Naruto. Sasuke membawanya masuk, menaruhnya ke atas tempat tidurnya dan melepaskan jubah luarnya, lalu menyelimutinya. Ia akan mengganti piyama hitamnya dulu, dan kembali lagi ke kamar itu.

Ia bergegas keluar dari kamar Naruto tanpa menguncinya. Toh, ia akan masuk setelah mengambil sepasang piyama.

'krieeeettt…'

Kamarnya sangat gelap, tapi ia bisa mencium kehadiran manusia di kamarnya. Ia menghembuskan napasnya, setidaknya ia tidak merasakan keberadaan manusia di kamar Naruto. Orang-orang yang bersembunyi di kamarnya sungguh punya nyali dan otak. Mereka tahu dimana kamar Sasuke, dan menunggunya untuk dibunuh. Konyol sekali! Ia menepuk tangannya dan memberikan selamat bagi banyak orang yang berkumpul di dalamnya.

Ia menjentikkan jarinya, dan lampu minyak berbahan bakar paraffin yang tergantung dengan megahnya ditengah ruangan menyala. Bersamaan dengan lilin-lilin di sudut-sudut ruangan. Sasuke menyeringai, ia bisa melihat ada tiga orang yang akhirnya muncul dari kegelapan. Selesaikan ini, dan kembali ke kamar Naruto, pikirnya.

"Uchiha…" kata salah satu perampok itu, nampak terkejut dan ketakutan dengan 'demonstrasi' kecil-kecilan dari jarinya, "Kau… lebih baik serahkan harta yang kau miliki!"

Sasuke menyibakkan poninya, "Ha… penjual perhiasan bodoh mana yang menaruh barang dagangannya di rumahnya sendiri?" ia menghembuskan napasnya, saat salah satunya berteriak memakinya balik, "Tentu tidak ada di Mansion ini…" lanjutnya lagi. Yah… walaupun memang banyak benda berharga di rumahnya. Tapi 'pabrik perhiasaan'-nya tidak ada di dunia ini. Jadi, sampai kapanpun mereka mencarinya… mereka tidak akan pernah mendapatkannya.

"Kau! Pasti berbohong! Cepat serahkan semua uangmu!"

"Uangku pun tidak ada di rumah ini… kenapa aku harus menyimpan uang di rumah kalau ada tempat lain yang lebih aman dari rumah?"

"Cih! Jangan bohong! Atau kalau tidak! Kau akan kami bunuh!" kata seorang perampok yang berambut gondrong dan mengarahkan pistol padanya. Che! Benda kemanusiaan seperti itu mana bisa membunuh iblis sepertinya, bodoh.

"Kalian itu bodoh sekali… aku bosan!" dan dari tangannya yang tergenggam tiba-tiba muncul pedang yang serupa dengan yang ia gunakan untuk membunuh Naruto (rencananya).

"Da-Dari mana pedang itu! benar dugaan kami! Kau bukan manusia! Kau setan! Bagaimana bisa tiba-tiba memiliki tambang perhiasan! Dan kaya mendadak!" teriak salah satu perampok itu. Sasuke tidak memperdulikan ada perampok yang menarik pelatuknya dibelakang tubuhnya.

"Sudah? Ada pesan terakhir?" tanya Sasuke sambil mengangkat pedangnya dan menghadapkannya pada seorang perampok.

Sampai, peluru terlepas dari revolver dan menggaungkan bunyi di kamar itu.

'Akkhhh!'

Mata Sasuke terbelalak, karena seingatnya bunyi revolver yang memuntahkan isinya bukan seperti itu. Ia memang iblis, tapi ia tidak bodoh. Perlahan tapi pasti ia melirik kebelakang tubuhnya dan Naruto sudah menggenggam dadanya. Tubuhnya ditopang lututnya sebelum ia tersungkur ke lantai.

"Na-…"

Merahnya darah, muncul kembali. Bukan dari hidungnya, bukan pula dari batuknya melainkan dari dadanya. Naruto… napasnya, tersengal… seperti sedang menghadapi ajalnya. Ia tersengal, dan matanya menatap Sasuke yang terduduk menatapnya. Bibirnya terbuka, "Sah—huhh-huuk-keee…"

Darahnya mengalir, mewarnai kemeja putih Naruto.

Perampok itu menembaki Sasuke dari berbagai sudut, tapi berkat kekebalannya peluru revolver tidak mampu menyentuhnya dan terhenti ditengah-tengah sebelum terjatuh ke lantai. Kenapa ia tidak menyadari Naruto ada dibelakangnya? Ia tahu di kamar Naruto tidak ada orang lain… tapi ia tidak pernah menduga kalau Naruto akan keluar dari kamarnya dan melindunginya dari tembakan. Naruto… Naruto-nya… sahabatnya…

"Saahhh-huuuuhhh-keee…"

Untuk kedua kalinya, airmatanya terjatuh, dan dengan cekatan ia memeluk Naruto lalu memeriksa lukanya. Satu peluru bersarang di dadanya. Darahnya mengalir… terlambat… ia sudah terlambat kah?

"Na…ruto…"

…o0o…

Did you already know that we'll never see each other again?

…o0o…

"Naruto?"

"Iya, Sasuke?"

"Kau tahu artinya mawar merah?"

"Memang ada artinya?"

"Dobe…"

'Passionate Love… deep love… in love… love…'

"Sasuke?"

Hn…h…. Love… Robe… Do…be…*

…o0o…

Don't let go

Hold me tight, I love you

…o0o…

Seorang iblis yang sangat menyayangi sahabatnya. Kau tahu, dobe? Ia punya waktu ribuan tahun setelahnya lagi. Mungkin setengah tahun dengan dobe-nya akan musnah dari ingatannya suatu saat nanti. Kenangan yang akan terlupakan, atau jadi keeping-kepingan yang tidak berharga.

Maka dari itu, kenapa kau tidak memintaku untuk sembuh dari penyakitmu? Kenapa kau tidak meminta perpanjangan usia atau apapun itu! Usia… tidak ada yang tahu, mungkin kau akan hidup lebih lama lagi, Dobe! Kenapa kau malah memintaku menjadi temanmu! Bukankah… hidupmu yang menderita… karena hadiahku dulu? Kau melupakannya Naruto? Naruto…

Sasuke memeluk tubuh Naruto di lantai, napasnya masih tersengal. Seperti sedang menghadapi ajalnya. Para perampok yang tercengang dan ketakutan karena peluru mereka tidak mampu menghabisi iblis di hadapannya, berusaha untuk melarikan diri. Tragis untuk mereka, karena pedang Sasuke berputar dan menghujam mereka lebih cepat dari angin yang menyelinap masuk di musim dingin.

"Naruto! Naruto! Bangun! Kita akan ke dokter, sekarang juga!"

Bocah berambut pirang itu menggelengkan kepalanya, "Hi—hhaaakkk, Sahh—huhhhkk-heeee.." panggilnya sembari menarik napasnya.

"Jangan berbicara Naruto! Jangan!" ia menutupi luka Naruto dengan tangannya. Ia tidak bisa menyembuhkannya, mudah baginya untuk membunuh tapi tidak menyembuhkan manusia tanpa adanya permintaan dari manusia itu sendiri.

Tangan Naruto mencoba menggapai pipi Naruto, "Saahhh-uhhh-!" wajahnya terlihat kesakitan dan Sasuke dengan cepat menggenggam tangan Naruto.

"Saahhh…suuuhhhh-" ia menarik napas dan tersengal, "—Keeehhh…"

"Diam! Naruto! Diam ! Kumohon… hentikan Naruto!" kumohon jangan tersenyum lagi… kumohon… ini akan jadi berat untuknya.

"Sa…Suke…" tangannya mencoba melepaskan dari genggaman tangan Sasuke. Tangannya yang pucat itu sudah dipenuhi darah. Ia menggunakan tangan itu untuk menyentuh pipi Sasuke dan mengusap bibirnya. Ia tersenyum.

Naruto tersenyum…

…o0o…

Can't you smile for me just one more time?

…o0o…

"Tee-rimah—ih, Tu—hhan… Kauuhhh, beehh riihhh!" tangannya membelai wajah kaku Sasuke.

"Ku mohon… diam Naruto….!"

"Saaa—ssuuhhh-heee, sah—bat..-"

Saat itu, Naruto tidak pernah menyelesaikan perkataannya. Mulutnya tertutup, untuk malam itu, dan selamanya. Sasuke tidak akan pernah mendengar tawanya lagi. Tawa dari sahabat manusianya yang ia sayangi. Yang akan marah kalau ia diejek karena kebodohannya, yang berusaha lebih keras dari siapapun…

Naruto…

Tangannya memeluk sahabatnya… seerat yang ia bisa.. .dan berharap… mungkin Naruto akan bangkit lagi… mungkin Naruto bisa bersatu dengan tubuhnya…

… Naruto….

Ketika Silverster, Saine dan satuan polisi memasuki kamar Sasuke. Mereka menutup mulut mereka seketika. Mayat perampok yang bergelimpangan, dan ironisnya di tengah-tengah aliran darah para perampok, dua orang sahabat tertidur di lantai, yang lebih tinggi memeluk laki-laki berambut pirang panjang dengan erat.

Dua orang sahabat yang hati mereka bertautan satu sama lainnya.

Tak akan terpisahkan.

…o0o…

Before your warmth disappears

Hug me tight

…o0o…

"Hei… Naruto… apakah kau tahu, kalau kau akan meninggal hari itu? hingga kau bersama denganku seharian? Hingga kau membuat para pelayan kesayanganmu di sisimu berjam-jam?" Seorang laki-laki yang berdiri di depan makam bertuliskan:

'Uchiha Naruto'

Adik, Sahabat, dan Matahari kami.

10 Oktober 1834 – 23 Juli 1851

"Aku tidak tahu kalau Naruto lahir tanggal 10 Oktober…"

Seingatnya ada yang mengumamkan kata ini. Naruto memang tidak lahir tanggal 10 Oktober 1834, tidak ada yang tahu kapan lahirnya. Ia pernah berkata… kalau ia mati nanti, tuliskan tanggal 10 Oktober, karena ia suka angka 10.

Pemakaman Naruto berlangsung tujuh hari setelahnya. Ia menunggu pemeriksaan polisi dan kedatangan John Windsor serta Lady Hinata. Mereka adalah orang yang paling penting dalam masa hidup Naruto. Masa hidup yang terlalu singkat untuk seorang bocah yang selalu kesepian. Semua orang menggunakan pakaian berwarna hitam, hanya hari itu Sasuke menggunakan warna merah menyala, kau tahu kenapa? Karena Naruto pernah berkata, 'jangan hanya menggunakan warna-warna gelap! Lihat! Warna merah itu cocok untukmu~!' dan ia akan bertanya,

"Apakah itu alasanmu, selalu memberikanku mawar merah, Naruto?"

Tangisan mengiringinya, pemakaman yang berisi banyak orang. Penghuni Uchiha Mansion, Saine dan kakaknya yang juga polisi, John dan Michael Windsor beserta keluarganya, Lady Hinata dan Tokugawa Shikamaru, Lady Kirschbaum. Banyak orang lainnya, seperti anak-anak panti.

Sasuke berdiri di barisan paling belakang, disampingnya ada Silverster yang menggunakan jas serba hitam seperti lainnya. Mata Sasuke menatap upacara pemakaman itu dengan kosong. Ia tidak percaya kalau orang yang akan memasuki peti itu Naruto. Ia tidak melihat ada malaikat maut dimanapun. Karenanya, ini pasti lelucon Naruto. Tapi… kapan Naruto pernah membuat lelucon dimana ia berpura-pura mati? Ah… mungkin ide ini ia dapatkan dari Hack! Lihat, Hack, dan Iris menangis berjajar dengan Lady Hinata. Sekalipun wajah Lady Hinata ditutupi dengan renda hitam tapi, sesegukannya membuktikan tangis pedihnya.

"Lihat Naruto… permintaanmu terkabul."

Silverster melirik Sasuke yang sedari tadi menggumamkan sesuatu, "Hei, Sasuke…"

"Hn…"

"Kau sudah membaca surat dari, Naruto?" tanyanya untuk memastikan kalau Sasuke sudah mendapatkan surat terakhir dari sahabatnya.

"Hn..."

Mereka terdiam melihat upacara pemakaman lagi.

"Silverster," panggil Sasuke, "Apa Naruto… hanya hidup untuk bertahan hidup?"

"Hm?"

"Naruto pernah mengatakannya, ia hanya hidup untuk bertahan hidup."

"Pasti ada sesuatu dibalik kematiannya, Sasuke…"

Sasuke menyeringai untuk pertamakalinya setelah kematian Naruto, "Hidup untuk dibenci banyak orang karena aku mengutuknya, lalu saat ia tahu kematiannya mendekat, ia memanggilku untuk menjadi temannya. Cih! Mungkin ia sengaja, untuk memperlihatkan 'kehidupan' menyedihkannya padaku… untuk membuat seorang iblis merasa bersalah… lelucon! Konyol!"

"Kau hanya tidak tahu…"

"Apa yang aku tidak tahu!"

Silverster kembali terdiam, "Ia anak yang baik…"

"Tetap saja, ia akan masuk ke dalam neraka!"

"Sasuke… yang menentukannya bukan kita…"

"Tapi kita iblis! Manusia yang meminta dan mengadakan perjanjian pada iblis, Silverster!"

"Kita bukan iblis, Sasuke…"

Sasuke hampir tertawa kalau mereka tidak sedang berada di tengah-tengah pemakaman Naruto, "Heh! Lalu kita apa? Malaikat Neraka?"

"Kita Jin, yang disebut oleh Kitab Suci sebagai makhluk lain selain manusia."

"Tapi, Iblis!"

"Iblis adalah salah satu dari golongan dari kita. Tuhan memanggilnya Iblis karena kesombongan dan ingkarnya."

"…"

"Bukankah kita juga diperintah untuk beribadah pada-Nya?"

"Mustahil!"

"Oleh karena itu aku sudah tidak mau berhubungan dengan manusia lagi, Sasuke… aku tidak ingin manusia menyekutukan, Tuhannya…"

"Katakan terus, dan kau besok akan jadi seorang pendeta!"

"Aku tidak akan pernah jadi pendeta…"

"Bukan urusanku…"

"Sasuke… kau tahu apa artinya?"

Angin berhembus… sudah lama ia tidak mengunjungi makam Naruto. Apa untungnya baginya? Mengunjungi makan manusia? Tidak ada!

Tapi kakinya mendatangi tempat itu. Tempat dimana sahabatnya tertidur untuk selamanya. Tempat peristirahatan terakhirnya.

"Hei, Naruto… kadang aku masih menyesalinya… kenapa aku tidak mendengarkan ceritamu…" laki-laki berjas biru dan berkacamata itu terdiam sesaat, "Mungkin kah… kau akan mengatakan bagaimana caramu 'memanggil'ku, DObe?"

"Aku merasa… kau bukan 'hidup untuk bertahan hidup' tapi 'bertahan hidup untuk bertemu denganku' kan?" ia mengusap nisan Naruto seakan-akan membersihkannya dari debu yang menempel, "Silverster sudah menceritakannya sebagai gantimu…" Sasuke melepas kacamatanya dan melihat langit yang biru, "Terimakasih telah datang ke dalam kehidupanku, Naruto…"

Ia menaruh sebuket mawar merah di atas nisan yang sudah berumur ratusan tahun itu, "Aku merindukanmu…"

Sampai saat itu… tunggu aku…

…o0o…

[I will no longer be loved

Or needed by you

And I'll be alone, just like this]

…o0o…

But someday, we'll….

I love you, dear my friend.

End

A/N:*lost heaven-Laruku, *Departures_by Egoist Guilty Crown ost

ada 1 epilog yang memperjelas semuanya. (tanya bagian mana aja yang perlu dijelaskan, biar nggak ke skip)… ini Tragedy, dari awal.. begitu...

Here's the answers: Naruto's boy, alasan dia pake gaun ke Crystal palace, karena dia nggak mau jadi perhatian… (sekaligus iseng2)

Thanks to: Wia-chan, Haki-chan, yuu-chan, kay-chan, Muaffi-chan, Haruki-chan, Hime-chan, Fay-chan, Yuzuru-chan, Mifta (thanks a lotta) and Yassir-chan.

See you next tragedy time!