Temen-temen yang nanyain kapan Kyungsoo ketemu sama Kai
Ini saatnya seluruh member EXO muncul berdua belas
hehehe
.
.
.
Ochaken
Present
.
.
.
"Chen Hyung, aku tidak mau. Kalau aku pergi dari sini nanti, bagaimana caranya appa dan eomma menjemputku nanti?" rajuk Kyungsoo yang hampir menangis karena tiba-tiba mereka mau diserahkan ke orang lain.
Dalam hati, Chen sudah tahu kalau orang tua Kyungsoo dari awal tidak berniat menjemput anak mereka itu. Chen juga tahu kalau orang yang merawatnya sejak dulu sebenarnya adalah makelar penjual anak. Kelihatannya kali ini ada yang mau membeli mereka berdua sekaligus.
"Chen tak bisa kulepas dengan mudah tuan," kata lelaki itu angkuh.
"Dia termasuk aset yang sangat sulit kudapat," kata lelaki itu sambil menyeringai karena orang-orang di hadapannya kelihatannya tidak akan menyerah dengan mudah untuk mendapatkan Chen. Mereka bahkan berani menawarkan lima puluh juta won untuk Kyungsoo. Harga yang awalnya tak disangka-sangka oleh lelaki itu.
"Kami akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Chen," kata lelaki yang tak lain adalah Kim Young Woon dan keluarganya itu dengan tenang.
"Kalau aku boleh tahu, untuk apa kau bersikeras mendapatkan Chen? Dia tak bisa keluar dari rumah ini karena kekuatannya. Kalian tidak lihat petir yang menyelimuti rumah ini?" tanya lelaki itu lagi.
"Anda tak perlu tahu. Yang pasti aku akan memastikan kehidupan yang layak untuk Chen. Aku tidak akan memperlakukannya dengan buruk dan aku akan mengangkatnya sebagai anakku sendiri," kata Young Woon lagi.
"Berapa yang akan anda tawarkan untukku?" tanya lelaki itu.
"Seratus ratus juta won," kata Kim Young Woon membuat lelaki itu sangat kaget. Kekuatan Chen itu hanya membuat petir menyambar di langit. Tidak sampai bisa membunuh orang dengan petir.
"Anda yakin? Harga Chen tak semurah itu," kata lelaki itu lagi.
"Dua ratus juta," kata Tuan Park yang ada di sana.
"Masih kurang," kata lelaki itu angkuh.
"Kumohon yeobo. Lakukan apa pun untuk ini. Tao membutuhkan Chen. Tao butuh Chen dan Kyungsoo. Berikan sebanyak yang dia mau," kata Nyonya Kim sambil memeluk lengan suaminya.
"Lima ratus juta won," kata Kim Young Woon tenang.
"Deal," kata lelaki itu senang.
Chen hanya diam mendengarkan semua itu. Dia tak merasa dendam, tak juga merasakan sedih seperti yang dirasakan oleh Kyungsoo. Dia hanya...entahlah.
"Kyungsoo-ya, kau bisa mengirim surat atau kita bisa minta ahjussi dan ahjumma tempat kita dititipkan untuk memberitahu orang tuamu. Bukankah appa dan eommamu meninggalkan nomor telepon dan alamat surat ke ahjussi," kata Chen.
"Bisakah?"
"Tentu saja. Kau ingat kan, appa dan eomma mu bilang untuk tidak merepotkan orang lain. Lagipula kan ada aku yang menemanimu. Jangan menangis," kata Chen lembut.
"Ne, mianhe Hyung," kata Kyungsoo sambil menghapus air matanya.
'Tao membutuhkannya. Tao butuh Chen dan Kyungsoo...'
Kata-kata berputar-putar dalam benak Chen. Siapa sebenarnya Tao? Kenapa dia membutuhkan dirinya dan Kyungsoo? Apa sebenarnya yang sedang terjadi di balik semua ini?
...
"Nah, Chen, Kyungsoo, kita sudah sampai. Kalian akan tinggal di sini bersama dengan anak-anak ahjussi dan ahjumma yang lain," kata Nyonya Byun lembut.
"Kyaaa! Ggamjong! Jangan mengagetkanku!" seru Baekhyun saat Kai tiba-tiba muncul di hadapannya.
CROT!
"Sehunie! Dingin! Nanti kulaporkan pada Luhan Hyung lho!" kata Lay yang sudah basah kuyup karena disiram air oleh Sehun.
"Biarkan! Tao Hyung sedang melihat ini dari kamarnya. Aku ingin dia senang Hyung. Kasihan Tao Hyung tak bisa keluar dari kamarnya," kata Sehun sambil mengejar-ngejar Lay.
"Xiumin, tolong aku!" seru Lay sambil berdiri di belakang Xiumin.
CROT!
"SEHUNNIE!" seru Xiumin sebal.
Tiba-tiba jalan di bawah anak itu berubah menjadi es dan membuatnya terjatuh. Semua yang ada di sana tertawa keras melihat Sehun terjatuh. Kai yang tertawa paling keras. Luhan yang tidak tega membantu Sehun berdiri dan menepuk kepalanya sekilas.
CTAR!
"Woa! Mau hujan!" seru Chanyeol panik.
"Tidak, tidak ada uap air yang memberitahuku akan ada hujan. Ini hanya petir, tapi awan kelabu itu seperti mau pertanda badai," kata Suho heran. Dia menggunakan kekuatannya untuk mengeringkan Lay dan Xiumin dan membuang air itu ke tanaman-tanaman.
"Kalian lihat mereka, mereka adalah anak-anak ahjussi dan ahjumma," kata Nyonya Kim sambil menggiring mereka ke arah anak-anak itu.
"Eomma!" seru Baekhyun senang sambil memeluk Nyonya Byun.
"Appa!" seru Chanyeol sambil memeluk Tuan Park.
"Bogoshipo," kata Baekhyun.
"Ne, ne. Kami juga merindukan kalian semua. Ah, ya, eomma dan appa berhasil menemukan mereka. Kyungsoo, Chen, kemarilah," kata Nyonya Kim sambil memanggil Chen dan Kyungsoo.
"Ah, Scorpio! Aku tahu sekarang kenapa ada petir tadi. Salam kenal, aku Baekki," kata Baekhyun sambi tersenyum lebar saat melihat lambang Chen.
"Ah, oh, apa?" tanya Chen kaget. Dia tak pernah diperlakukan seramah itu sebelumnya.
"Aku Chanyeol,"
"Hai, aku Lay dan ini Suho," kata Lay sambil tersenyum lembut.
"Aku Luhan, yang berkulit putih itu Sehun. Yang berkulit tan itu Kai," kata Luhan.
"Aku Xiumin," kata Xiumin sambil memeluk lengan Lay erat-erat.
"Kalian siapa?" tanya Baekhyun semangat.
"Aku Chen dan ini Kyungsoo," kata Chen sambil menoleh ke belakang ke arah Kyungsoo yang bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Kenapa sembunyi?" tanya Kai yang tiba-tiba sudah ada di belakang Kyungsoo.
"GYAA!" seru pemuda itu kaget hingga membuat Kai terpental ke belakang.
"Ha ha ha..."
"Kalian baik-baik dulu ya di sini. Eomma dan appa mau menjenguk Tao. Lay, Suho, kalian ikut kami," kata Nyonya Byun sambil menggandeng kedua anak itu.
"Yang bernama Tao itu tidak tinggal di sini?" tanya Chen bingung.
Dia agak heran karena orang-orang itu sering menyebut nama Tao, tapi anak itu sepertinya tak ada di antara mereka dan benar saja, saat memperkenalkan diri tadi Tao memang tidak ada. Tapi, Chen bisa melihat kalau seisi rumah itu sepertinya sangat menyukai dan menyayangi orang yang bernama Tao itu.
"Di sini kok. Itu di dalam," kata Baekhyun sambil menunjuk ke jendela kamar Tao yang tidak tertutup tirai.
"Kau mau lihat kan? Tapi siapkan mentalmu untuk tidak menangis ya," kata Baekhyun lagi.
Dari balik jendela itu, mereka bisa melihat Tao, dan cukup banyak orang lainnya di dalam. Orang-orang dewasa yang tadi membawa mereka. Setelah memeluk dan memberikan beberapa barang untuk Tao, mereka kembali keluar. Kelihatannya mereka kembali meninggalkan rumah karena deru mobil terdengar sampai ke halaman belakang rumah mewah itu.
"Appa, eomma, ahjussi, dan ahjumma memang jarang di rumah, tapi itu juga untuk kami. Mereka mungkin akan lama sekali tidak pulang," kata Chanyeol sambil memeluk bahu Baekhyun.
Chen melihat Tao lagi. Anak itu memakai piyama yang kelihatannya sangat kebesaran untuk tubuhnya yang kurus. Wajahnya sangat-sangat pucat dengan mata yang sayu. Kontras sekali dengan rambutnya yang hitam. Dia tersenyum saat Lay duduk di pinggir ranjangnya dan mengulurkan tangannya. Semua yang di luar menatap cemas ke dalam, tapi saat Tao melihat mereka, mereka mengepalkan tangan untuk menyemangati Tao dan tersenyum. Chen agak bingung saat melihat anak-anak yang berwajah sangat khawatir itu.
Lay menggulung lengan piyama itu hingga bahu dan memperlihatkan tangan yang pebuh lebam itu. Hal itu benar-benar membuat Kyungsoo dan Chen sangat kaget. Lay menggeleng sedih membuat yang lain semakin mengigit bibirnya. Lay lalu berjalan ke arah jendela dan menutup tirainya.
Baekhyun lalu menyeret mereka untuk duduk di bawah pohon besar. Semuanya berwajah sangat tidak enak saat itu membuat Kyungsoo kebingungan. Akhirnya Chanyeol menghela nafasnya dan berinisiatif untuk bercerita.
"Tao itu sedang sakit. Lebih tepatnya sakit seumur hidupnya. Penyakit yang kau yakin bukan hal yang ingin kau rasakan seumur hidupmu. Penyakit itu merusak sistem kekebalan tubuhnya. Hal itu membuat tubuhnya yang dari lahir sangat lemah menjadi lebih rentan lagi," kata Chanyeol.
"Tiga bulan yang lalu, dia sakit radang lambung yang parah. Kata Lay Hyung, Tao tidak boleh makan apa pun termasuk obat, karena obat-obatan yang biasa dia minum sejak lahir harus disuntikkan setiap hari. Setiap hari seperti itu selama berbulan-bulan sudah pasti tubuhnya babak belur penuh lebam," kata Chanyeol pelan.
"Waktu pertama kali dibawa ke sini, Tao hampir saja meninggal, tapi kami berhasil menyelamatkannya, tapi kenapa kekuatannya malah itu..." kata Chanyeol sambil menghantamkan tinjunya ke tanah.
"Kekuatan?" tanya Kyungsoo heran.
"Kau tidak tahu? Kau belum tahu kalau kami semua di sini bukan orang biasa? Kami punya kekuatan yang membuat kami berbeda. Kekuatan yang membuat kami merasa sangat menderita sebelum akhirnya kami datang ke sini," kata Sehun pelan.
"Kekuatanku adalah api, Baekki berkekuatan cahaya, Lay Hyung itu healing, Suho Hyung berkekuatan air, Kris Hyung yang menemani Tao di kamarnya dari awal itu bisa terbang, Kai bisa teleportasi, Luhan Hyung bisa telekinesis, Sehun bisa mengendalikan angin, dan Xiumin bisa mengendalikan es," kata Chanyeol, "Kelihatannya kekuatan Chen adalah petir. Aku benar kan?"
"Yah, aku memang bisa membuat petir menyambar-nyambar, tapi aku tidak tahu kalau itu ternyata bisa dikendalikan," kata Chen sambil menatap petir di langit.
"Kami semua juga belajar mengendalikan kekuatan kami untuk pertempuran akhir. Sebelum itu terjadi, kami harus menempa kekuatan dan juga menyembuhkan Tao," kata Baekhyun membuat Chen dan terutama Kyungsoo sangat-sangat bingung.
"Aku tidak mengerti," kata Kyungsoo pelan.
"Kyungie, lambang di tanganmu ini bukan lambang biasa. Ini sumber kekuatan kita. Lambang di jarimu ini adalah lambang bumi. Kau bisa mengendalikan partikel bumi seperti tanah, pasir, batu, magma, dan bagian lain dari bumi," kata Baekhyun sambil menyentuh jari Kyungsoo.
"Kelihatannya kau belum pernah menggunakan kekuatanmu," kata Chanyeol.
"Kita akan cari tahu cara untuk mengeluarkan kekuatanmu," kata Luhan sambil tersenyum.
"Ah, itu Lay Hyung!" seru Sehun sambil mendatangi Lay.
"Tao bagaimana?" tanya Luhan khawatir.
"Seperti biasa. Nanti kalau dia sudah bangun, jangan langsung rombongan masuk ke kamarnya. Buat giliran berdua bertiga dan kalian dua maknae nakal, jangan berisik di sana," kata Lay sambil mengacak rambut Sehun dan Kai.
...
"Hei, baby, akhirnya kau bangun juga. Kau mau minum?" tanya Kris lembut.
"Hmm," gumam Tao sambil duduk di atas ranjangnya.
"Ini," kata Kris sambil membantu Tao minum.
"Gege, aku ingin keluar," kata Tao sambil memeluk Kris.
"Gege tanyakan pada Lay dulu ya," kata Kris sambil mengelus pipi Tao yang semakin tirus. Memang kondisi Tao semakin baik, tapi karena tak ada satupun makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, Tao jadi sangat-sangat kurus. Kris lalu keluar dari kamar.
Tok! Tok!
'Aneh, kenapa Kris Ge mengetuk pintu?'
"Masuk," kata Tao.
Tao merasa asing dengan sosok yang masuk ke dalam kamarnya itu. Siapa dia? Yang pasti itu bukan Xiumin karena Tao sudah bertemu dengan Xiumin setelah pemuda itu sadar dari tidurnya.
"Siapa?" tanya Tao pelan.
'Suaranya indah,' batin Chen tanpa sadar.
"Namaku Kim Jong Dae, panggil saja aku Chen. Aku baru saja datang ke sini hari ini dengan Kyungsoo. Kau yang bernama Tao?" tanya Chen sambil tersenyum. Sudah lama sekali dia tidak tersenyum seperti ini. Memang aneh, tapi kelihatannya Chen mengerti kenapa orang-orang di rumah ini sangat menyayangi Tao.
"Selamat datang di rumah ini Chen Gege," kata Tao sambil tersenyum.
'Senyumannya manis sekali,' batin Chen lagi.
"Gomawo Tao. Tanganmu itu tidak apa-apa?" tanya Chen khawatir.
"Tidak apa-apa ge, ini hanya lebam. Yah, memang agak lama sampai bisa sembuh, tapi aku tidak apa-apa," kata Tao lagi.
"Kau tahu? Sebaiknya jangan memaksakan dirimu terlalu jauh baby panda. Kalau kau memang merasakan sakit, biarkan Lay menyembuhkannya," kata Chen lagi.
"Baby panda? Kenapa orang-orang di rumah ini suka sekali memanggilku baby panda?" tanya Tao sambil mempoutkan bibirnya.
"Karena kau memang imut seperti panda, Tao," kata Chen sambil tersenyum.
"Aku belum pernah melihat panda sebelumnya. Kudengar itu termasuk beruang dan menurutku beruang sama sekali tidak imut," kata Tao.
"Ada beberapa perbedaan yang membuat panda terlihat menggemaskan. Sama seperti kucing dan harimau yang satu spesies, tapi sangat berbeda. Bukankah kucing terlihat lucu sedangkan harimau lebih terkesan garang?" tanya Chen.
"Benarkah mereka masih satu jenis? Mereka sangat berbeda," kata Tao.
"Ya, kurang lebih seperti itu," kata Chen lagi.
"Gege seperti Kris Ge, tahu banyak hal. Dulu setelah Kris Ge selesai home schooling, Kris Ge pasti akan menceritakan banyak hal padaku, tapi dia tak pernah menceritakan tentang kucing dan harimau seperti yang gege katakan tadi," kata Tao.
"Kau dekat sekali ya dengan Kris Hyung," kata Chen sambil tersenyum.
"Hmm, Kris Ge benar-benar baik. Dia juga sangat-sangat sabar dan tahu banyak hal. Kris Ge selalu melindungiku dan menghiburku. Dia malaikatku," kata Tao dengan pipi bersemu merah.
"Kau mencintainya?"
"Apa sangat kelihatan?" tanya Tao lagi.
"Sangat. Pipimu langsung merah saat membicarakannya. Bagaimana perasaan Kris Hyung padamu? Dia tahu?" tanya Chen.
"Tahu, Kris Ge duluan yang bilang kalau dia mencintaiku. Awalnya aku benar-benar kaget dan merasa tidak pantas dicintai seperti itu, tapi Kris Ge terus meyakinkanku dan kupikir aku tidak bisa dan tidak sanggup untuk menolaknya," kata Tao lagi.
"Beruntung sekali Kris Hyung," gumam Chen tanpa sadar.
"Aku yang beruntung ge. Aku hanya menyusahkan Kris Ge," kata Tao sambil menunduk.
"Hei, baby panda, saat kau mencintai seseorang, satu-satunya yang akan kau pikirkan hanyalah kebahagiaan orang itu. Senyumannya adalah kebahagiaan nomor satu untukmu. Bukankah kebahagiaan Kris Hyung adalah kebahagiaanmu? Bagi Kris Hyung juga sama. Kebahagiaanmu adalah nomor satu untuknya," kata Chen membuat Tao tersenyum.
"Mungkin, tapi aku benar-benar tak pernah melakukan apa-apa untuk Kris Ge," kata Tao lagi.
"Kau mungkin tidak tahu dan jangan katakan pada Kris Hyung kalau kau mengetahui hal ini dariku. Kata Baekki, kau adalah orang yang membuat Kris Hyung bisa mencintai kekuatannya. Kau adalah orang yang mau dengan tulus berada di dekatnya dan membuatnya tertawa di saat dia merasa mamanya membencinya. Kau itu tujuan hidupnya. Hidup tanpa tujuan itu benar-benar tidak ada artinya Tao. Kau memberinya tujuan untuk menjalani hidupnya. Tanpa kau sadari, kau memberikan begitu banyak hal tak ternilai untuknya. Kalian itu saling membutuhkan," kata Chen lembut.
"Jeongmal?"
"Tentu saja. Kau pikir karena apa Kris sampai bisa mencintaimu? Baginya kau itu seperti cahaya dalam kegelapan," kata Chen sambil mengacak rambut Tao.
"Bagiku Kris Ge yang seperti cahaya. Dia malaikat yang dikirim Tuhan untukku. Dia seperti matahari dalam hidupku. Aku jarang sekali melihat matahari," kata Tao.
"Mianhe," kata Chen.
"Kenapa meminta maaf ge?" tanya Tao bingung.
"Karena awan mendung dan petir itu. Dulu juga aku sampai membuat Kyungsoo menangis karena takut petir. Sekarang aku membuatmu tak bisa melihat mataharimu," kata Chen yang merasa bersalah.
"Ha ha ha... itu kan dulu ge. Aku sekarang sering sekali melihat matahari. Bahkan ada sebelas matahari di sekelilingku sekarang. Lagipula petir itu juga cantik," kata Tao membuat Chen kaget.
"Menurutku, hujan itu seperti keajaiban. Air sebanyak itu turun ke bumi, membuat bumi yang panas kembali dingin. Hujan bisa memberi kehidupan di banyak tempat. Indah sekali melihat jutaan kristal air diturunkan dari atas sana hingga ke bumi. Walaupun aku tidak boleh merasakan hujan dan hanya boleh melihatnya dari dalam rumah, aku tetap merasa itu sangat indah," kata Tao.
"Petir dan awan mendung itu yang memberi tahu kalau hujan akan datang kan? Mereka mempersiapkan hujan yang akan turun. Mereka memberitahukan kalau keajaiban akan turun ke bumi. Di tengah awan kelabu ada petir yang bercahaya. Walau hanya segaris, tapi cahayanya sangat kuat di antara kelamnya awan kelabu," kata Tao sambil tersenyum.
"Karena ada petir gege, aku jadi bisa melihat cahaya di tengah awan kelabu," kata Tao lagi.
"Kau itu benar-benar polos," kata Chen sambil tersenyum.
"Ha ha ha..."
"Aku akan berlatih mengendalikan kekuatanku ini Tao. Nanti pasti kau bisa melihat matahari lagi. Aku janji," kata Chen.
"Ne, gomawo gege,"
"Gege keluar dulu ya," kata Chen.
Di pintu, pemuda itu berpapasan dengan Kris yang menatapnya dalam. Pemuda itu hanya balas tersenyum sebelum benar-benar menghilang ke dalam kamarnya sendiri.
"Maaf, Tao. Lay bilang kau belum boleh keluar. Udara di luar sangat dingin sekarang. Kata Lay, kalau kau sudah benar-benar sembuh, kau baru boleh keluar. Dui bu qi," kata Kris sambil memeluk Tao yang duduk di ranjang.
"It's Ok gege. Aku masih bisa keluar kapan-kapan. Lagipula di kamar juga menyenangkan," kata Tao sambil balas memeluk Kris.
"Kupikir kau bosan di kamar terus," kata Kris yang ikut naik ke atas ranjang.
"Tidak akan bosan kalau di kamar berdua saja seperti ini. Aku jadi bisa bermanja-manja tanpa perlu digoda oleh yang lain," kata Tao sambil tersenyum.
"Dasar... kau itu manis sekali sih. Gege suka sekali dengan Tao yang manja seperti ini," kata Kris sambil mencubit ujung pelan hidung Tao.
"Tao juga suka sekali dengan gege," kata Tao semangat.
"Hanya suka?"
"Ah, Tao benar-benar suka dengan gege," kata Tao lagi.
"Hanya itu?" tanya Kris sambil memandang Tao intens.
Tao yang ditatap seperti itu hanya bisa merona semerah yang dia bisa dan membuat Kris bersorak-sorai dalam hati karena baby panda tercintanya mengeluarkan ekspresi yang amat menggemaskan itu. Kalau tidak ingat pesan Baekhyun dulu, sudah dia makan Tao yang bersikap malu-malu di hadapannya itu.
"Em...itu...eum..."
"Itu apa Tao?" tanya Kris sambil memegang dagu Tao.
"Wo...wo ai ni...ge," kata Tao pelan membuat wajahnya semakin memerah.
Kris tidak mengatakan apa-apa. Dia memejamkan matanya sebelum mengeleminasi jarak di antara mereka berdua. Kris hanya menempelkan bibirnya pada bibir Tao, tidak lebih. Dia tidak mau menyakiti Tao nya yang polos. Lagipula terlalu berisiko kalau melakukan hal yang lebih daripada ciuman. Tao pun akhirnya memejamkan matanya sambil menikmati ciuman itu.
Tangan kiri Kris memeluk pinggang Tao agar lebih merapat ke arahnya. Tangan kanannya mengarahkan tangan Tao untuk memeluk lehernya. Setelah mendapat posisi yang pas, tangan kanan Kris berpindah ke tengkuk Tao untuk memperdalam ciuman itu. Kris melumat bibir Tao pelan dan lembut. Ciuman itu berlangsung sangat-sangat lama, sebelum akhirnya Tao kehabisan nafasnya.
Kris melepaskan ciuman itu sambil tetap memeluk Tao. Tao menundukkan kepalanya sedikit dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kris sungguh-sungguh ingin berteriak bahagia melihat pemandangan di depan matanya. Tao yang akhirnya menatap wajahnya dengan mata yang sayu, wajah yang memerah, dan bibir yang sedikit bengkak. Kris kembali melumat pelan bibir itu dan memeluk erat-erat tubuh Tao.
"Wah, akhirnya dicium juga kan," kata Sehun yang sedang mengintip dari balik pintu seperti dulu. Kali ini hanya dia, Luhan, Lay, dan Suho yang melihatnya. Chen dan Kyungsoo masih di kamar masing-masing. Kai juga di kamarnya. Tadi, saat Lay dan Suho ingin mengambil handphone Suho yang ketinggalan di kamar itu, mereka tidak jadi masuk karena melihat dua orang itu sedang berciuman. Sehun yang melihat wajah Lay dan Suho yang memerah langsung ikut mengintip. Luhan yang melihat tiga orang itu mengintip jadi ikut mengintip juga karena penasaran.
"Kukira Kris Hyung akan bermain kasar, ternyata lembut sekali ciumannya," kata Sehun sambil menjilat bibir bawahnya.
"Kris tak akan melakukan hal-hal yang membuat Tao terluka," kata Luhan yang berada di bawah Sehun.
Eh? Di bawah Sehun? Sehun yang baru menyadari hal itu langsung memerah sempurna wajahnya. Dia bisa melihat tengkuk Luhan yang putih dan juga aroma shampoo dari rambut Luhan yang basah. Sehun langsung pergi sebelum memikirkan hal yang semakin iya-iya...eh? Salah! Memikirkan hal yang tidak-tidak!
Lay yang merona wajahnya langsung menutup pintu itu dan pergi. Luhan hanya mengendikkan bahunya dan pergi juga meninggalkan Suho yang masih mematung di depan pintu itu.
"Sebaiknya kuingatkan Kris untuk mengunci pintu sebelum bermesraan di kamar. Kalau tidak, kegiatannya dengan Tao akan jadi konsumsi semua yang ada di rumah ini," kata Suho pada dirinya sendiri sebelum pergi juga.
.
.
.
TBC
Mian, chapter ini lebih sedikit seribu kata dibanding chapter lain. Ini cuman 3000 an kata
Di chapter depan, author bakalan buat moment-moment manis per couple sebelum masuk ke masalah-masalah inti
Author maunya ada Taoris di setiap chapter ditambah satu chapter utama yang full Taoris doang
Secara ini kan main pairnya Taoris
hehehe
Jadi, author berharap kalian ngevote couple mana yang akan keluar setelah Taoris Day
Per chapter nya dua couple ya. Taoris tambah satu couple... gitu maksudnya
Taoris Day sendiri bakalan author keluarin mungkin dua atau tiga hari lagi
Bisa juga besok kalau author mood buat dan bisa langsung jadi
Mulai Taoris Day sampai couple terakhir nanti bakalan selang tiga sampai empat hari per chapternya
Tapi sekali lagi kalau author mood banget pas buatnya pasti bakalan cepet jadinya
hehehe
Boleh request juga enaknya gimana, di mana, dan apa yang dilakukan oleh couple-couple itu
so... mind to review?
