Title : Tarot
Cast : Kyungsoo and member exo.
All kyungsoo pov, Happy Reading
Jadi, pada akhirnya, aku mengikuti kemauannya. Aku tidak melakukan itu untuknya, tetapi untuk Park Chanyeol.
Aku melihat sekilas ke arah gorden dan mulai mengambil kartu pertama kemudian meletakkannya di atas meja.
"kartu itu artinya apa?" Tanya Baekhyun sambil bersama sama memandang kartu tersebut bersamaku. Aku meramal Baekhyun dengan menggunakan metode Celtic Kuno.
*Celtic Kuno : Sepuluh kartu tertutup yang disebar mengikuti bentuk salib Celtic.
"kartu ini mempresentasikan dirimu, yang sedang diramal (The Querent)" Jawabku dengan hati-hati. Baekhyun mencondongkan kedua sikunya agar tubuhnya lebih dekat kearahku menunjukkan aku harus berbicara dengan suara yang lebih keras. "kartu ini adalah The Fool. The Fool menunjukkan seseorang yang bertindak duluan, buru buru beraksi dengan bodoh mengikuti kemauannya atas situasi saat ini."
"sekarang kita harus melihat dulu kartu yang lainnya, tetapi ini juga menunjukkan bahwa kamu sedang dalam masa masa labil dan bimbang. Kamu harus betul betul memikirkan tindakanmu karena ini yang akan melindungimu," kataku sambil membuka kartu yang berikutnya. The magician (Si Penyihir).
"kenapa kartunya berbalik arah?" Tanya Baekhyun.
"memang berbalik arahnya, membuat artinya menjadi berlawanan, kebalikan dari arti kartu itu sendiri," Aku mengamati Baekhyun beberapa saat sebelum mulai melanjutkannya lagi. "kau berusaha mengontrol situasi, bisa dibilang kau mencoba memanipulasi sesuatu untuk mendapatkan yang kau inginkan."
"terus?"
"kartu berikutnya bakalan mempresentasikan tantangan yang kau hadapi di situasi sekarang." Baekhyun terus memperhatikan kartu kartu tersebut sehingga ia tidak menyadari bahwa diam diam key masuk lagi kesini. Aku membuka kartu berikutnya, The Devil.
"Calon Ibu mertuaku!" Baekhyun kaget begitu melihat kartu tersebut.
"The Devil menggambarkan perang antara kebaikan dan kejahatan atau niat baik dan niat jahat. Lebih simpelnya, kamu akan mengalami masa perang batin memilih yang benar atau salah."
"Kartu ini mirip Park Il Hwa, Ibu mertuaku. Dia memang iblis!"
"Baekhyun!" Key tiba tiba menegur. Wajah baekhyun langsung menciut ketika melihat key yang sedari tadi berdiri di sudut booth mulai bersuara.
"Ups, Sorry key. Tapi benar, ibumu itu keras kepala. Dia jahat." Desis Baekhyun
"Ngaco! Dia itu perempuan sukses." Bela susan sambil berjalan menuju bangku yang ada didepanku.
Dibawah meja diam diam baekhyun menendang kakiku dan mulai membuat gerakan menodongkan pistol ke mulutnya secara samar. Aku mulai membuka kartu berikutnya, The Page Of Swords.
"kau harus hati hati, kau punya musuh. Dia berusaha menggagalkan usahamu." Kataku.
"musuh?" baekhyun melirik key yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku membuka kartu lagi, kali ini The Fours Of Cups.
Ini saatnya aku mengganti kata kata. Aku ingin mereka segera pergi. Aku ingin pulang. The Fours Of Cups menunjukkan peringatan yang 'bersahabat'. Artinya, diri kita yang menjadi penghalang untuk kebahagiaan kita sendiri. Sisi negative kita yang menjadi sumber masalahnya. Kalau bisa mengatasinya, semuanya akan baik baik saja.
Aku mulai berakting, memasang wajah kaget. Baekhyun dan key langsung memajukan posisi duduk mereka. "The Fours Of Cups membawa peringatan serius buatmu, ada yang tidak beres, sesuatu yang tidak seimbang."
"Ohmygod." Sahut Baekhyun mulai mengeluarkan air mata buayanya.
"Ini kan cuma permainan kartu, jangan dibawa serius!" kata key.
"Ini yang ada dibelakang kamu," kataku sambil membalik kartu berikutnya, The Two Of Cups. "ini masa lalu Baekhyun, kartu ini melambangkan cinta, pernikahan." Aku menatap baekhyun sekali lagi dan ia mengangguk setuju.
"Kartu itu menunjukkan bahwa buatmu, pernikahan dan hubunganmu sekarang adalah masa lalu." Kataku
"omong kosong! Itu tidak benar!" bentak key sambil berdiri dari kursi nya.
"ini adalah masa depanmu dalam waktu dekat," aku melanjutkan tanpa mempedulikan key sambil membalikkan kartu berikutnya yang ternyata The World. The world merupakan kartu yang positive yang artinya semua impianmu mungkin terwujud.
"ini betul betul jelek. Aku tidak pernah membacakan kartu yang begini kuat dan negative. Kartu ini merupakan peringatan untukmu, kalau kau meneruskan pernikahan ini, akan terjadi bencana besar." Kataku dengan ekspresi ngeri.
Baekhyun mulai menangis tersedu sedu, mengeluarkan air mata buayanya. "see? Karena perbuatanmu dia seperti ini," bentak key, "Dia hanya mempermainkanmu baekhyun!"
Waktunya aku mengakhiri ramalan ini, aku membuka kartu berikutnya, Death. Kartu Death menunjukkan berarti hidup kita akan mengalami perubahan drastis—intinya perubahan secara mendadak.
"ini sangat parah baekhyun," kataku sambil bangkit dari kursiku. "jangan, pernah kamu menikah dengan park chanyeol jika kamu tidak ingin menyesal seumur hidup." Ancamku, aku menunjukkan kartu The Death itu tepat di hadapan baekhyun.
"ini seperti mimpiku, seperti peringatan yang ada didalam mimpiku," kata baekhyun berbisik "aku tidak bisa key, aku tidak bisa menikahi adikmu, park chanyeol." Ujar baekhyun ketakutan.
"ini Cuma tipuan baekhyun! Kau dengar? Dia itu bukan peramal tetapi penipu!" teriak key marah.
"hey, aku bukan penipu. Kalau aku penipu, mungkin aku sudah mengambil dua puluh ribu won yang kamu berikan kepadaku tadi supaya aku memberikan ramalan yang positive untuk baekhyun."
"mwo? Kau menyogok kyungsoo?" baekhyun berteriak marah kepada key.
"kalian tidak usah bayar, bye." Kataku sambil membereskan barang barangku.
"kalau kau memang peramal, buktikan! Coba kasih tau satu hal yang tidak mungkin kamu ketahui." tantang key kepadaku.
"dengar ya key—"
"satu hal saja."
"saya tidak mau—"
"karena kamu tidak bisa kan? Kamu itu peramal palsu—peramal gadungan."
"Suamimu selingkuh dengan pengasuh anak di rumahmu dan kau pura pura tidak tahu karena kau takut dia bakal meninggalkanmu dengan anakmu kan?" semburku kesal.
Key membuka gorden di pintu booth ku dengan kasar dan melangkah keluar. Baekhyun menatapku. "aku tau onew itu memang bajingan, dia pernah menggodaku juga. Tapi dia menggoda pengasuh anak anak? Aku benar benar tidak nyangka." Bisik baekhyun.
Moodku mulai membaik. Aku akan mengambil pelajaran dari kejadian ini untuk di kemudian hari. Aku melanjutkan merapikan meja ku, aku melihat sebuah benda bersinar yang tergeletak di atas meja. Aku mengambil benda tersebut dan mendekatkan wajahku ke arah benda itu tanpa berkedip.
Empat maret—cincin pertunangan dengan mata berlian tiga karat.
Sesampainya dirumah, aku bersiap siap untuk liburan. Soal cincin, aku yakin baekhyun akan melacak keberadaanku dan mengambilnya kembali. Walaupun dia sudah menuliskan alamat dan kontak Park Chanyeol di balik salah satu kartu namaku dan menempatkannya di bawah cincin itu dengan pesan 'tolong kembalikan cincin ini ke:…' bukan berarti aku harus melakukannya kan?
Aku mulai menjalani perjalananku. Setelah lima jam menyetir di rute 57 dalam kegelapan, aku mulai mencari motel untuk menginap. Di Antara motel motel yang telah aku lalui akhirnya aku memilih motel yang paling aku sukai. Tidak seperti pencarianku untuk menemukan cinta sejati, menemukan motel butut ternyata sangat mudah.
Aku terbangun pukul 6, padahal aku bisa tidur lebih lama karena jarak Antara motel dengan Park Estate tidak lebih dari satu jam. Tetapi aku memikirkan surat surat tagihanku untuk segera dikirim. Setelah mendapatkan perangko untuk ditempelkan kepada surat tagihan tersebut.
Aku meninggalkan motelku dan segera berjalan menuju Park Estate. Namun keberuntungan tidak sedang mengarah kepadaku, mobil yang aku kendarai mogok di tengah jalan. Ugh, betapa sialnya diriku, batin kyungsoo.
Aku mengeluarkan tasku dan mengambil handphoneku dan kartu namaku yang sudah ditulisi nomor kontak Rumah Park Chanyeol. Aku menekan tombol nomor telepon.
"Park Estate, ingin berbicara dengan siapa?"
"Park Chanyeol, please."
"beliau sedang tidak ada ditempat, ada yang ingin disampaikan?"
"ani, aku menunggu sampai ia pulang saja."
Aku hampir menjerit kesenangan ketika tiba tiba pick-up berwarna putih datang ke arahku, aku melambaikan tanganku. Pick up butut itu dipenuhi oleh cowok cowok dan banyak peralatan. Ada tiga laki laki berdempetan di bagian depan truk itu, da nada 5 lagi di belakang, terjepit di Antara mesin pemotong rumput, penggaruk, tanah dan sekop. Ketika pick up tersebut semakin dekat, terlihat karung goni panjang yang memenuhi bagian tengah dari truk kecil tersebut.
"Aku Youngdo. Butuh tebengan?"
"annyeong, aku kyungsoo," sahutku, "ne, aku butuh tebengan."
Youngdo tersenyum kepadaku, "mau kemana?"
"Park Estate. Kamu tahu tempatnya?"
"tahu banget. Tidak jauh kok. Cepat naik."
Aku mengamati karung goni itu ketika pick up mulai bergerak. Aku ketakutan ketika melihat sepasang sepatu koboi di samping karung tersebut.
Tukang kebun / pembunuh yang paling muda tersenyum kepadaku. Dia maju ke arahku dan meraih ujung karung goni yang terletak dekat bagian mayat tersebut. dia ingin menunjukkan tubuh mayat tersebut kepadaku.
"tidak perlu." Ucapku sambil bergeser mundur.
Tukang kebun / pembunuh paling tua yang membantu naik berkata, "itu putri tidur."
Ternyata itu bukan mayat laki laki jangkung, tetapi mayat seorang perempuan yang tingginya keterlaluan. Si tukang kebun muda / pembunuh itu menarik karung goni yang menutupi muka mayat tersebut, aku reflek menutup mataku dengan jari jariku.
"mungkin kamu bisa berpura pura menjadi pangeran tampan dan memberikan sebuah morning kiss." Tukang kebun lainnya menggodaku. "Dia mengalami malam yang buruk yang panjang dan melelahkan."
Cowo yang paling muda mengarahkan HPnya dan mengarahkannya ke arahku. "kamu cium dia, aku foto." Cowok cowok yang lainnya menatapku, penasaran dengan jawabanku.
Para lelaki bergerak mengubah posisi mereka, aku sendiri tidak tahu kenapa akhirnya aku memutuskan untuk melakukannya.
Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya, mengamati garis rahangnya yang tegas, semakin dekat sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya ke wajahku dan melihat garis tipis yang terbentuk di Antara bibirnya.
Aku tersenyum malu karena para lelaki atau lebih tepatnya tukang kebun tersebut berteriak heboh. Aku tidak memberikan mereka sebua pertunjukkan, karena itu hanya ciuman kecil. Aku menarik tubuhku setelah berhasil memberikan morning kiss kepadanya. Si putri tidur terbangun dari tidurnya setelah ia mendapatkan morning kiss.
"nuguya?" Tanya si putri tidur.
"bukan siapa siapa, tadi mobilku mogok kebetulan ada pick up yang lewat jadi aku nebeng."
"Kemana?" Tanya nya lagi.
"Park Estate." Jawabku secukupnya—aku bukan tipe lelaki banyak omong.
"Untuk?"
"Masalah pribadi."
Deretan pohon mulai berganti dengan pemandangan tanah berumput yang luas dan terkesan mahal.
"jangan jutek gitu, manis. Aku hanya mencari bahan obrolan, Siapa nama kamu?" si putri tidur tersenyum padaku.
"maaf, sudah sampai aku turun dulu semua." Aku mengacuhkan pertanyaan si putri tidur. Aku hanya tidak mau dia tau namaku, aku hanya takut jatuh cinta lagi.
"gomawo, youngdo." Aku melompat turun dari pick up yang sedang berhenti. Aku membayar lima ribu won kepadanya. Dia mengabaikan uang yang aku berikan kepadanya. "kamu siapa sebenarnya? Orang dapur atau catering?" Tanya youngdo penasaran.
"aku? Umm, pembawa cincin."
Terlihat seseorang dari arah istana datang, membuat para tukang kebun panik. Para tukang kebun menyebar dan berlagak sibuk. Aku bisa merasakan bahwa yang datang ke arah kami adalah Park Il Hwa—mertua baekhyun atau lebih tepatnya orang tua Park Chanyeol dan Key.
Aku mundur beberapa langkah ketika Park Jongdae menunjuk nunjuk ke arah youngdo seperti sedang memarahinya, "terlambat, terlambat!" ia melihat ke arah jam tangannya, "harusnya tenda dan meja meja sudah di set sekarang. Apa kamu lihat ada tenda dan meja meja?"
"eomma, tenang dong!" kata key yang tiba tiba muncul dari belakang Il Hwa. Aku langsung bersembunyi dibelakang Youngdo dan peralatannya.
"Maafkan kami, mrs. Park," kata youngdo sambil membungkukan badannya, "kami akan bekerja lebih cepat untuk mengganti waktu yang sudah lewat."
"bayaran kamu akan saya potong," jawabnya. Aku ingin membela mereka tetapi aku tidak ingin mengambil resiko karena susan mengenaliku—aku pasti akan diusir, aku tidak datang buat gagal.
Para tukang kebun itu mulai menyebar, sementara Park Il Hwa mengawasi mereka sambil meneriakkan perintah. Ini kesempatanku untuk menyelinap di belakang pick up untuk masuk ke dalam istana. Istana adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan Park Estate. Dindingnya terbuat dari batu dengan dua menara kecil yang muncul dari atap.
Semakin dekat aku mulai memperhatikan detailnya. Kaca mozaik berwarna, patung patung perawan yang tersembunyi di dinding, dan pintu melengkung yang skala ketinggiannya membuat aku merasa sangat kecil. Pintu masuk utamanya ditandai dengan pengetuk pintu bulat dari logam yang cukup berat. Pada batas pinggirnya adalah kayu pinus yang diukir dengan sempurna, bunga bunga musim panas digantungkan dan ditanam dipinggiran teras besar.
Dengan mudah aku menuju pintu utama, tanganku sudah diposisi mengangkat pengetuk pintu, siap untuk mengetuk. Pintunya terbuka lebar dan segerombolan orang yang dipenuhi oleh taplak meja makan, lilin, dan sekeranjang bunga-bunga melangkah keluar dengan tiba tiba hampir menabrakku.
Aku memakai kesempatanku ini untuk mengintip bagian dalam istana ini, lantai marmer menyapaku bersinar dengan cantik memantulkan cahaya dari chandelier Kristal yang tergantung di atasnya. Tidak jauh dari situ terdapat tangga spiral indah yang terlihat seperti tangga menuju ke atas langit.
Seorang laki laki pendek, botak dan berpakaian jas berwarna biru gelap memandangku dengan saksama, memaksaku untuk menatapnya balik ke arahnya. Tadinya aku berpikir aku bisa menyelinap masuk untuk mencari chanyeol dan segera mengembalikan cincin nya, namun setelah melihat ukuran istana ini sepertinya bisa memakan waktu berjam jam untuk mencari chanyeol.
Laki laki botak itu memberikan isyarat untukku agar aku diam ditempat. Aku mengikuti instruksinya. "ada yang bisa saya bantu?" Laki laki botak bertanya sopan padaku setelah dia kembali ke posisinya sebagai penerima tamu.
"Saya ingin bertemu dengan Park Chanyeol," Kataku sambil memikirkan alasan kreatif untuk apa menemui chanyeol. "saya punya sesuatu untuknya."
"Anda pasti sudah kehilangan akal sehat. Saya sudah bilang pada Tuan Chanyeol untuk tidak mengadakan kontes tersebut, ide kontes tersebut buruk sekali—"
*Kontes membuat nama untuk wine merk baru—Park Chanyeol mengelola usaha Vodka
"Saya kemari bukan untuk kontes, Baekhyun yang mengirim saya ." potongku cepat. Laki laki botak itu berhenti mengoceh dan diam terpaku.
"Baekhyun? Baekhyun siapa?"
"Byun Baekhyun, tunangannya Chanyeol."
Ekspresi dimukanya mulai bersahabat setelah mendengar nama Byun Baekhyun. "Apa yang dia inginkan sekarang? semua orang sedang panik mencari cari dia."
Tiba tiba suara yang sudah tidak asing memotong pembicaraan kami berdua, "Anderson—"
T b c
